Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

26 Maret 2013

Lagu Anak


#Semua Umur

Masih saja ada yang penasaran dengan ucapan Ncit Ncip tentang rusa di jurnal Kebun Buah Mangunan. Padahal di situ sudah aku tulis, kesalahan sebut itu gara-gara lagu Si Kancil yang tiap hari suka dinyanyiin mereka.

Aku memang menjauhkan anak-anak dari sumber penyakit modern bernama tipi. Sebagai sarana hiburan aku siapkan PC berikut proyektor untuk muter pilem atau musik yang aku donlot dari yutub. Sengaja pake proyektor untuk menjaga kesehatan mata mengingat anak sekarang kalo nonton maunya ditodong. Beda dengan jaman aku kecil dulu, nonton tipi hitam putih 14" saja nurut menjaga jarak 3 meter.

Tontonan mereka aku seleksi biar tidak kaya anak tetangga yang baru pinter bicara kalo nyanyi lagunya waterpan. Makanya Ncit dan Ncip aku carikan lagu-lagu jadul macam Si Kancil itu.

Masalah saat ini tak cuma anak-anak mengkonsumsi lagu dewasa. Lagu anak-anak pun rasanya kurang layak untuk mereka. Beda banget dengan dekade 80 atau 90an dimana lagu anak sempat booming dan beneran sesuai. 

Perubahan tren itu dimulai dengan rilis film Petualangan Sherina. Sejak saat itu yang disebut lagu anak adalah lagu yang penyanyinya masih anak-anak. Liriknya memang masih tentang kehidupan anak. Namun cengkoknya terlalu berat dicapai anak-anak umumnya tanpa pelatihan vokal.

Definisi lagu anak buat aku adalah lagu riang, berlirik sederhana dan notasi nadanya mudah. Lihat saja lagu Burung Kakak Tua atau Balonku. Anak baru belajar bicara pun tak kesulitan menyanyikannya dengan baik. Bandingkan dengan lagu Jagoan atau Lihat Lebih Dekat. Orang tua saja kadang keteteran menjangkau nadanya.

Ini yang aku anggap kekeliruan orang tua. Mereka memaksa anak-anak untuk menikmati keindahan seni menurut kacamata orang tua. Padahal apa sih yang paling indah dari dunia anak selain kepolosan dan keriangan mereka..?




Jujur aku miris melihat acara musik anak saat ini. Lebih banyak diisi dengan acara yang sebenarnya tidak bisa dinikmati anak karena secara psikologi tidak sesuai. Bangga amat mereka melihat anak-anaknya lihai bergangnam style, nyanyi ala boyband maho dan semacamnya. Mikir engga sih, bahwa memaksakan anak mengikuti selera orang tua itu sama saja dengan memundurkan jaman.

Tak habis pikir ketika anak TK disuruh nyanyi lagu Pelangi malah berheadbanger sambil teriak-teriak, "pelangiii... di seberang sana aku berdiri... pelangi..."

Ini kebalikan dengan anak SD jadul yang ditanya mau nyanyi apa mereka bilang, "apeeel..."

Gurunya yang kaget dikira nyanyi lagunya Gombloh dibuat lebih kaget ketika mereka mulai berdendang, "apelangi pelangi... alangkah indahmu..."


Intinya
Cuma pengen nanya doang
Kapan dunia anak kembali diserahkan kepada anak-anak lagi..?

Read More

22 Maret 2013

Java Heat


#Bimbingan Orang Tua

Maap bila jurnal kali ini rada panjang dan berat kebanyakan gambar...


Semalem cari-cari donlotan di piratebay, nemu pilem yang judulnya Java Heat. Aku pikir itu film Hollywood biasa. Ternyata rada menarik karena mengambil lokasi di Jogja.

Penggemar The Twilight Saga tentu tahu Kellan Lutz. Penonton Iron Man 2 juga pasti ngerti Mickey Rourke. Keduanya jadi pemeran utama bersama bintang lokal Ario Bayu, Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan.

Inti ceritanya tentang penculikan putri Sultan yang dengan tujuan utama mencuri perhiasan yang merupakan artefak kraton. Letnan Hashim bersama agen FBI Jake Travers bersama-sama membongkar kasus pencurian yang berkedok terorisme itu. Dan pakem Amerika tentang teroris belum juga bisa lepas dari militan bertampang Arab dengan senjata AK47.


Laga di Plengkung Gading


Biar begitu, secara umum ceritanya seimbang dimana dalang teroris ternyata orang Amerika juga dan tokoh yang menggulung mereka adalah polisi muslim. Keseimbangan cerita juga berlaku dimana Letnan Hashim yang menjadi icon polisi baik disandingkan dengan komandan korup yang berusaha menguasai artefak kraton itu di akhir cerita.



Film ini menggunakan bahasa Inggris yang diselingi bahasa Indonesia dalam beberapa percakapan. Ada yang menarik tentang bahasa film ini di awal cerita. Disitu dikatakan bahwa sang Jendral orangnya nasionalis banget. Namun ketika si Letnan menyapa pake bahasa Indonesia, komendannya langsung menghardik, "in english..."
#Katrok...

Ada satu hal yang bikin heran.
Aku buka di IMDB, film ini akan tayang perdana tanggal 18 April 2013 mendatang. Tapi tanggal 9 Maret 2013 versi bajakannya sudah diaplut orang dengan kualitas BlueRayRipp. Mentang-mentang film tentang Indonesia kali ya..? Tak cuma APBN yang bisa bocor di tengah jalan. Film belum launching pun sudah bocor duluan.
#Mantaaap...

Bocor duluan


Banyak tempat-tempat keren yang ditayangkan baik dalam adegan maupun spot numpang lewat. Dari obyek wisata terkenal seperti Borobudur, Ratu Boko sampai yang biasa namun eksotis seperti Kampung Code atau Pasar Satwa.

Pasar Satwa

Perempatan Tugu

Untuk alur cerita dan aksi laga, sineas Hollywood memang tak perlu diragukan lagi. Tapi bagi penonton Indonesia apalagi yang tahu Jogja, ada beberapa plot yang terasa kurang pas. Namun bukan masalah. Toh pilem ini cuma hiburan dan bukan catatan sejarah.

Tokoh polisi yang bermain peran adalah Detasemen 88. Seragam harian Densus 88 beneran seperti di film atau tidak aku ga tau. Yang jelas seragamnya beda dengan polisi umumnya sementara polisi lainnya yang jadi figuran seragamnya sama dengan yang sering kita lihat.

Seragam Perwira, Bintara dan Perwira Tinggi Den 88


Satu keganjilan terlihat ketika Jake Travers ditangkap dan akan dideportasi. Rute sebenarnya dari Polda DIY yang berada di ringroad utara ke Bandara di Jl Solo total melalui jalanan kota. Disitu digambarkan melalui pesawahan yang sepintas lokasinya mirip daerah Gunungkidul. Ajaibnya lagi di pesawahan Gunungkidul yang terpencil ada rambu penunjuk arah bandara.
#Hehehe

Katanya rute antara polda - bandara

Penunjuk jalan pinggir sawah


Bandaranya beneran di Adi Sutjipto. Sayang pesawat yang digunakan sebenarnya tidak melayani penerbangan reguler. Padahal dalam film ditayangkan antrian penumpang. Pesawat berregister PK-TWN memang beneran milik Transwisata yang khusus melayani carteran. Seharusnya pake Garuda saja biar tidak kelihatan janggal. Atau kalo tetap pake Transwisata, antrian penumpang yang mau naik pesawat lebih bagus kalo ditiadakan biar kesannya bener pesawat carteran...

Bandara Adi Sutjipto


Adegan penganggu lainnya...
Terlalu banyak spot yang menggambarkan Letnan Hashim terus terusan merokok. Bahkan sedang dirawat di rumah sakit pun tetap saja ngebul. Lebih parahnya dokter yang menjahit lukanya juga ikutan merokok.

Berbagai macam sarana transportasi dari becak, ojek, andong sampai kereta api banyak ditampilkan. Sayang kebablasan sampai bajaj juga nongol disitu. Padahal di Jogja boro-boro bajaj, angkot saja tidak ada.

Rokok dan bajaj


Saat Travers masuk ke club yang menyajikan tarian striptease, dia diikuti oleh polisi dan teroris Achmed. Polisinya sih rada bener pake pakaian preman. Tapi si Achmed rada kacau masuk kesitu pake baju koko plus kopeah haji.
#Ustadz gaul...

Pak Ustadz di club


Paling keren adalah prajurit kraton
Berseragam lurik, blangkon plus keris tapi membawa senjata api modern macam Steyr AUG atau MP5. Bahkan dalam penyergapan di lokasi spa, mereka menggunakan peluncur roket berpenjejak sasaran yang dikendalikan menggunakan ipad.


Prajurit gaul

Penyerangan di Sosrowijayan


Editornya juga kurang teliti. Salah satunya dalam pertempuran di Borobudur. Senjatanya menyalak normal padahal pakai peredam yang seharusnya cuma bunyi cess...

Tembak-tembakan di Borobudur


Hubungan fungsional maupun struktural pasukan kraton dengan polri tak dijelaskan dalam film. Bisa jadi mereka dianggap milisi atau keamanan non pemerintah dalam opini ala Amerika. Untuk menghormati kraton, logonya memang dibuat berbeda dengan lambang Ngajogjokarto Hadiningrat.

Logo kraton

Penyergapan di kilometer nol

Dan yang paling asik dari semua cerita diatas adalah plat nomor di kendaraan tahan peluru milik prajurit kraton sebagaimana terlihat di gambar terakhir...
#Ngakak...


Intinya
Ini bukan review
Film ini dianggap bagus atau jelek aku ga tahu
Yang jelas pengen nulis ini karena aku kenal lokasinya
Itu saja...


Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena