#Semua Umur
Masih saja ada yang penasaran dengan ucapan Ncit Ncip tentang rusa di jurnal Kebun Buah Mangunan. Padahal di situ sudah aku tulis, kesalahan sebut itu gara-gara lagu Si Kancil yang tiap hari suka dinyanyiin mereka.
Aku memang menjauhkan anak-anak dari sumber penyakit modern bernama tipi. Sebagai sarana hiburan aku siapkan PC berikut proyektor untuk muter pilem atau musik yang aku donlot dari yutub. Sengaja pake proyektor untuk menjaga kesehatan mata mengingat anak sekarang kalo nonton maunya ditodong. Beda dengan jaman aku kecil dulu, nonton tipi hitam putih 14" saja nurut menjaga jarak 3 meter.
Tontonan mereka aku seleksi biar tidak kaya anak tetangga yang baru pinter bicara kalo nyanyi lagunya waterpan. Makanya Ncit dan Ncip aku carikan lagu-lagu jadul macam Si Kancil itu.
Masalah saat ini tak cuma anak-anak mengkonsumsi lagu dewasa. Lagu anak-anak pun rasanya kurang layak untuk mereka. Beda banget dengan dekade 80 atau 90an dimana lagu anak sempat booming dan beneran sesuai.
Perubahan tren itu dimulai dengan rilis film Petualangan Sherina. Sejak saat itu yang disebut lagu anak adalah lagu yang penyanyinya masih anak-anak. Liriknya memang masih tentang kehidupan anak. Namun cengkoknya terlalu berat dicapai anak-anak umumnya tanpa pelatihan vokal.
Definisi lagu anak buat aku adalah lagu riang, berlirik sederhana dan notasi nadanya mudah. Lihat saja lagu Burung Kakak Tua atau Balonku. Anak baru belajar bicara pun tak kesulitan menyanyikannya dengan baik. Bandingkan dengan lagu Jagoan atau Lihat Lebih Dekat. Orang tua saja kadang keteteran menjangkau nadanya.
Ini yang aku anggap kekeliruan orang tua. Mereka memaksa anak-anak untuk menikmati keindahan seni menurut kacamata orang tua. Padahal apa sih yang paling indah dari dunia anak selain kepolosan dan keriangan mereka..?
Jujur aku miris melihat acara musik anak saat ini. Lebih banyak diisi dengan acara yang sebenarnya tidak bisa dinikmati anak karena secara psikologi tidak sesuai. Bangga amat mereka melihat anak-anaknya lihai bergangnam style, nyanyi ala boyband maho dan semacamnya. Mikir engga sih, bahwa memaksakan anak mengikuti selera orang tua itu sama saja dengan memundurkan jaman.
Tak habis pikir ketika anak TK disuruh nyanyi lagu Pelangi malah berheadbanger sambil teriak-teriak, "pelangiii... di seberang sana aku berdiri... pelangi..."
Ini kebalikan dengan anak SD jadul yang ditanya mau nyanyi apa mereka bilang, "apeeel..."
Gurunya yang kaget dikira nyanyi lagunya Gombloh dibuat lebih kaget ketika mereka mulai berdendang, "apelangi pelangi... alangkah indahmu..."
Intinya
Cuma pengen nanya doang
Kapan dunia anak kembali diserahkan kepada anak-anak lagi..?


















