Tampilkan postingan dengan label tentang kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang kita. Tampilkan semua postingan

16 Maret 2020

Bekerja Dari Rumah Untuk Pemula

Pertanyaan : Apakah bekerja dari rumah merupakan strategi penghematan biaya yang baik untuk perusahaan pemula?

Jawaban :

Saya asumsikan, anda sedang membuat perusahaan rintisan di rumah.

Berkantor di rumah memang dapat mengurangi beban biaya operasional. Hemat ongkos tidak perlu bayar ojek untuk ke kantor. Jam makan tak usah ribet cari warteg, masakan istri lebih enak, bisa lebih murah dan terjamin kebersihannya. Kerja pakai kolor doang bukan masalah. Dan yang paling saya sukai saya tak harus mandi pagi-pagi sekali.

Nyaman tapi beresiko banyak biaya siluman. Misal pengeluaran listrik yang menjadi salah satu komponen dalam menentukan HPP. Kita sulit mendapatkan angka real-nya berapa karena tagihan jadi satu dengan listrik rumah. Memasukan total tagihan listrik rumah jadi pengeluaran perusahaan bukan sesuatu yang disarankan.

Status perusahaan rintisan yang baru dimulai bisa dibilang menuntut kita bekerja 24/7 dengan fokus penuh. Masalah di rumah bisa menjadi penganggu. Lagi konsentrasi penuh bikin proyeksi rugi laba, anak nangis minta diantar ke warung. Anak sudah tidur, ganti istri senyum senyum kasih kode ibadah malam. Alamat kerjaan tertunda sampai besok pagi karena setelah itu bantal jauh lebih menggoda ketimbang laptop. Sepele namun cukup mengganggu.



Di kantor pun, bila ada pekerjaan software development, programmer saya karantina ke ruangan khusus yang tidak dimasuki staf lain yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan coding mereka. Ada masalah dengan software, silakan hubungi staf helpdesk atau business analyst. Apalagi cuma mau numpang ngopi, cukup dengan saya saja yang ahlinya.

Itu hanya gambaran umum. Hemat atau tidak, tergantung tipe bisnis dan apa yang anda kerjakan. Perhitungkan saja secara detil segala komponennya lalu perbandingkan mana yang benar-benar lebih efektif secara accounting.

Terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

11 Maret 2020

Mengapa Musibah DIjadikan Ajang Bisnis

Pertanyaan : 
Mengapa di Indonesia, musibah dijadikan ajang menaikkan pendapatan bisnis?

Jawaban :

Mengikuti harmonisasi alam

Ketika terjadi sesuatu yang merugikan, alam akan menyeimbangkan dengan menimbulkan keuntungan. Misal gunung meletus yang menyebabkan banyak kerusakan diimbangi dengan banyaknya pasir yang bisa ditambang. Debu vulkanik juga menyuburkan tanah secara jangka panjang.

Sebaliknya, ketika manusia meraup keuntungan terlalu banyak, alam akan kasih sesuatu yang merugikan. Misal hutan ditebangi untuk diambil kayunya, alam akan memberikan kerugian dengan banjir.

Antar manusia pun sama. Contohnya, ada yang ugal-ugalan lalu terjadi kecelakaan lalu lintas yang berakibat luka dan rusaknya kendaraan. Kerugian buat korban, tapi keuntungan untuk produsen obat-obatan atau bengkel.

Tidak ada yang salah mendapatkan keuntungan dari musibah. Hanya saja, sebagai mahluk sosial semestinya kita mengedepankan empati, mengingat kerugian seringkali menimpa mereka yang tak kebagian keuntungannya. Hanya soal moral…

Sepertinya begitu, terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

09 Maret 2020

Pengalaman Berteman Seorang Ateis

Pertanyaan : Bagaimana pengalamanmu berteman dengan seorang ateis/agnostik?

Jawaban :

Tak ada bedanya dengan berteman sama orang beragama.

Karena baik buruk moral dan perilaku seseorang tak ada hubungannya dengan dia beragama atau tidak. Melainkan murni dari cara seseorang memandang seberapa pentingnya memanusiakan manusia lain sebagai sebenar-benarnya manusia.

Kira-kira begitu
Terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

08 Maret 2020

Teknik Pemasaran Di Pedesaan

Pertanyaan : Bagaimana teknik pemasaran yang baik di pedesaan?

Jawaban :

Harus dilihat pasarnya ke mana. Kultur masyarakat pedesaan di pesisir berbeda dengan pedalaman.

Masyarakat pesisir cenderung lebih terbuka dengan pendatang dan lebih mudah menerima hal baru. Hanya saja menjadi nelayan membutuhkan investasi lumayan besar untuk peralatan. Sebagian besar menjadi buruh nelayan sehingga taraf perekonomian umumnya relatif di bawah standar.

Memasarkan suatu produk di sana, mesti melihat kondisi cuaca. Ada masa paceklik ketika angin laut memburuk. Dalam kondisi itu, masyarakat umumnya tidak punya uang dan kehidupan sehari-hari ditopang oleh warung yang bisa bayar belakangan, ngutang ke tengkulak atau rentenir. Siapkan modal cadangan untuk antisipasi. Ambil keuntungan lebih di musim angin bagus, karena masyarakat nelayan biasanya royal saat punya uang.



Sedikit berbeda di pedalaman. Masyarakat agraris cenderung lebih tertutup dengan hal baru. Perlu pendekatan personal lebih banyak untuk bisa diterima. Kabar baiknya, bila sudah dipercaya mereka tak mudah pindah ke lain hati.

Kasus gagal panen tetap ada, namun selama belum terlalu parah dalam artian tidak berlarut-larut sampai 2 atau 3 kali masa tanam, tidak sampai bikin paceklik. Berbeda dengan nelayan yang segera menguangkan hasil laut, masyarakat petani lebih suka menyimpan gabah untuk cadangan makan sehari-hari dan sebagian jual selewat masa panen agar harganya lebih bagus. Mereka relatif lebih punya uang namun tidak terlalu royal dalam pengeluaran.

Strategi pemasarannya bagaimana?

Pahami saja kulturnya lalu sesuaikan dengan produknya. Musim paceklik ya jualan sembako dan harus siap dibayar tempo. Jual jaring mana ada yang beli. Contohnya begitu.

Semoga membantu, terima kasih
Salam, rwn.

Repost dari Quora

Read More

04 Maret 2020

Ngemplang Kredit Online

Pertanyaan : Kenapa saat ini begitu mudahnya orang mengajukan kredit online? Bukankah risikonya lebih besar untuk ditinggal kabur pengemplangnya?

Jawaban :

Ada yang berbeda antara bisnis jadul dengan kekinian. Bila dulu umumnya bisnis itu berbasis produk, saat ini bisnis berbasis data tengah merajalela.

Dalam bisnis digital berbasis data, produk hanya umpan yang harus dibikin semudah dan semenarik mungkin. Sebagian digratiskan bahkan kalau perlu disubsidi dengan target dapat pelanggan sebanyak mungkin.

Sedikit keluar topik…



Saya contohkan ojek online. Mitra ojol dapat bonus yang yang menurut website Infojek mencapai 200 ribu bila sehari mencapai 30 transaksi. Asumsikan per transaksi 10 ribu, artinya omset mitra 300 ribu. Setoran tukang ojek ke aplikator 20%, berarti hanya 90 ribu tapi berani bonus 200 ribu, itu untung dari mana? Selain itu penumpang juga sering dapat promo kan?

Itu yang saya maksud, produk hanya umpan kecil untuk mendapatkan umpan besar yaitu DATA. Baik data driver maupun penumpang termasuk kebiasaannya pergi dari mana, kemana atau sukanya pesan makan apa dll dll.

Ok, kembali ke pinjaman online…

Setiap instal aplikasi dari playstore, anda tentu sering mendapatkan permintaan agar aplikasi tersebut bisa mengakses apa yang ada dalam ponsel. Telepon, sms, file media, lokasi, speaker, kontak dsb dsb.


Dengan modus itu aplikasi pinjol bisa mendapatkan info lokasi tepat anda sesuai GPS dan seluruh kontak yang tersimpan di ponsel. Ketika anda kabur dari kewajiban, bagian penagihan bisa nelponin seluruh nomor tersimpan di kontak untuk mencari dimana anda berada. Tidak terlacak karena anda ngumpet di planet Mars misalnya. Tetap saja anda malu ketika gebetan jadi tahu bahwa anda ngemplang pinjaman yang tak seberapa.

Selain aplikator merasa aman dengan cara itu, anda tak bayar pun bukan sebuah kerugian besar, karena tujuan mereka adalah data. Ingat bagaimana ojol bakar uang untuk mengumpulkan data penggunanya.

Bila anda mau baca-baca review di playstore atau surat pembaca, akan banyak pengguna pinjol yang komplain sudah setor data lengkap tapi tidak di-acc juga. Atau di-suspend-nya padahal tak merasa melakukan kesalahan. Ini terjadi karena aplikator memang sudah tak perlu lagi adanya anda. Data anda saja yang dibutuhkan.



Ngumpulin data doang dapat duitnya darimana? Ingat kasus facebook kena denda pengadilan sampai 70 trilyun gara-gara dianggap menyalahgunakan data penggunanya untuk pilpres Amerika?

Nah, begitulah cara mereka dapat duit. Data pengguna dianalisa, dipilah-pilah kemudian dijual kepada pihak yang membutuhkan. Dan dalam kasus di atas, facebook hanya sedang sial saja. Kasus lain yang tidak muncul ke permukaan jauh lebih banyak.

Jadi berbahaya dong ngutang ke pinjol?

Itu mah terserah anda. Pinjem duit ke tetangga juga beresiko dibacok. Kalaupun kepepet dan harus berurusan dengan pinjol, jangan cari yang abal-abal. Pilih yang resmi minimal terdaftar di OJK dan baca-baca dulu reviewnya.

Kira-kira begitu
Terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

Susah Diajak Menjaga Kebersihan

Pertanyaan : Dari kecil kita diajarkan, "kebersihan pangkal kesehatan", "kebersihan bagian dari iman", kenapa orang Indonesia masih susah diajak menjaga kebersihan? Giliran banjir, yang disalahkan pemerintah?

Jawaban :

Orang dan pemerintah Indonesia tidak salah. Yang salah adalah slogannya.

Menurut Wikipedia, iman adalah "keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan."

Jadi arti "kebersihan sebagian dari iman" adalah "keyakinan dalam hati, perkataan di lisan dan amalan anggota badan tentang kebersihan cuma separo", tidak sepenuh hati, lisan dan amalan. Wajarlah kalau masih ada yang suka buang sampah sembarangan, biarpun sebenarnya sudah masuk kategori kurang ajar.

Kira-kira begitu, terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora


Read More

03 Maret 2020

Hebatnya Setan

Pertanyaan : Apa hebatnya Syaitan sehingga sering ditakuti?

Jawaban :

Kehebatan setan?

Dia mampu membuat manusia tidak jujur bahwa sebenarnya manusia sangat sayang terhadap setan namun enggan mengakui dan bertindak seolah-olah sangat takut atau benci setan.

Setan tak pernah membuat manusia menjadi jahat. Manusialah sejahat-jahatnya mahluk. Saking jahatnya sampai tidak mau mengakui dan lebih suka melempar kesalahan kepada setan.

Manusia sadar bawa istri orang ngamar ke hotel itu salah, tapi tetap saja dilakukan dengan sungguh-sungguh tanpa paksaan pihak manapun. Begitu digrebek Satpol PP, dengan mudahnya bilang digoda setan. Padahal apa susahnya ngaku jadi anggota dewan yang sengaja menjebak PSK?

Dengan sadar menyebar berita bohong habis dianiaya orang sampai banyak orang penting pasang badan, begitu ketahuan habis operasi plastik langsung konfrensi pers menuduh setan sudah menggodanya.

Sekedar contoh…

Bahwa tanpa eksistensi setan, manusia akan merasa telanjang dengan kesalahan-kesalahan pribadinya. Setan yang tak tahu apa-apa selalu dijadikan kambing hitam oleh mahluk berjudul manusia.

Untung Tuhan maha adil. Sehingga setiap tahun setan dikasih cuti dari dunia manusia selama satu bulan penuh untuk membuktikan tanpa keberadaan setan pun manusia tetaplah jahat.

Kenapa saya anggap manusia lebih jahat dari setan?

Karena saya tak pernah merasa digoda setan. Pikiran saya lebih sering tergoda oleh manusia khususnya yang seperti ini…




Kira-kira begitu. Terima kasih
Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

Memulai Bisnis Tanpa Modal

Pertanyaan : Bagaimana cara memulai suatu bisnis dengan tidak bermodalkan uang ?

Jawaban :

Tanpa modal uang secara langsung, bisa.!
Tanpa modal sama sekali?
Tak akan bisa...

Saya pernah jatuh bangkrut. Aset keluarga nyaris habis sampai tidur harus uyel-uyelan berempat, cuma mampu ngontrak satu kamar itu pun bayarnya belakangan. Merasa seiman dengan pemegang kunci surga, saya berusaha santai karena ini ujian, bukan azab.

Yakin masih sehat dan kuat, berkelilinglah saya dari rumah ke rumah menawarkan tenaga. Apa sajalah saya mau jabanin, potong rumput, benerin genteng atau ngosek wc sekalipun. Hasilnya? Cape bro jalan kaki seharian. Dapat kerjaan juga kagak, tetap saja keluar modal 5 ribu perak buat isi perut di angkringan.

Ingat sedikit paham soal listrik dan komputer, saya kepikiran teman-teman yang main di situ. Akhirnya ada yang kasih satu dua kerjaan freelance. Tapi sebelum itu, saya harus keluar duit juga buat beli hp nokiyem 100 ribuan agar bisa menghubungi mereka.



Susahnya, di jaman ini orang royal beli hp mahal tapi mendadak miskin kalau urusan pulsa. Misal ada kerjaan mereka jarang mau nelpon atau sms, maunya Whatsapp. Nah, musti keluar modal lagi kan buat beli android?

Gelap mata dikejar urusan perut keluarga, saya kepikiran miara tuyul, ngepet atau apa kek. Saya samperin temen yang suka urusan mistis. Dapatlah info yang A1 tentang proses yang senjelimet Javascript.

Jebul yang seikhlasnya itu bayar jasa si mbah doang. Uba rampe yang setelah saya kalkulasi melebihi nilai UMR itu wajib bayar di muka. Plus ketika saya tanya apakah tingkat keberhasilannya 100%, teman tanpa rasa dosa menjawab, "namanya juga usaha, hasilnya tergantung sing gawe urip. Kalau gagal ya coba lagi…" #Tapedeh

Gagal di aliran sesat, saya minta kerjaan ke kyai. Malah dikasih wirid panjang yang harus dibaca sehari 1000 kali minimal selama 40 hari. Saya tanya, untuk makan keluarga saya sebelum tamat tirakat bagaimana orang buat makan besok saja belum ada. Beliau jawab, "doa itu cuma pendorong. Kuncinya harus usaha sekuat tenaga dan jangan lupa sedekah tiap hari biar dorongannya tambah kenceng…" #Nah

Sebenarnya ceritanya masih sangat panjang. Tapi segini cukuplah untuk anda dapat menyimpulkan sendiri, bisakah memulai usaha tanpa modal sama sekali..?

Semoga membantu. Salam, rwn

Repost dari Quora

Read More

01 Maret 2020

Arti Kata Tutuk

Pertanyaan : Apa arti kata tutuk?

Jawaban :

Dalam bahasa Jawa, secara harfiah tutuk itu berarti mulut. Namun kadang dipakai untuk bahasa kiasan juga, misal : "tutuke boten pareng saru" (bicaranya tidak boleh tak sopan)

Yang hampir mirip adalah kata thuthuk (dikasih penekanan pada t) yang artinya pukul namun dalam penggunaannya lebih lebih identik dengan jitak, memukul dengan ruas jari ditekuk. Misal : "thuthuk sisan ndase…" (jitak sekalian kepalanya)

Bila proses mukulnya menggunakan alat, cenderung digunakan untuk alat yang bagian pemukulnya relatif kecil, misal thuthuk palu (pukul pakai palu). Alat pemukul yang relatif besar atau lebar, lebih banyak menggunakan istilah antem.

Ada lagi kata tutug (terdengar mirip tutuk karena g dibaca agak lemah) yang artinya selesai. Misal : "Le mangan wis tutug durung?" (makannya sudah selesai apa belum)

Ini cuma kondisi umum. Beda dialek kadang beda penggunaan.
Kira-kira begitu. Terima kasih

Salam, Rwn

Repost dari Quora
Read More

27 Februari 2020

Pendapat Tentang Pesepeda Berkelompok

Pertanyaan : Bagaimana pendapat Anda tentang pesepeda yang seringkali mengambil separuh jalan secara berkelompok sehingga berpotensi timbulnya kemacetan maupun kecelakaan?

Jawaban :

Saya lebih suka mengalah dan kasih sein kanan. Umumnya mereka paham dan mau kasih jalan. Merasa tidak perlu ngotot atau ngomel karena saya paham "penderitaan" pesepeda.

Kelompok pesepeda dalam acara tertentu umumnya sudah mengajukan ijin ke pihak berwenang. Semestinya aparat lalu lintas ambil langkah antisipasi.

Khusus pesepeda anak sekolah yang sering menghabiskan jalan sampai berjajar 4, biarpun saya tahu mereka tidak ada ijin yang berwajib, saya tetap tidak bisa ngomel. Karena jaman sekolah saya pun begitu…

Terima kasih
Salam, Rwn

Repost dari Quora
Read More

25 Februari 2020

Umur 49 Tahun Masihkah Diterima Kerja

Pertanyaan : Saya berumur 49 tahun, berpengalaman kerja 12 tahun, dan saya berbisnis tetapi karena gagal ingin bekerja lagi tetapi setelah lama melamar tidak pernah dipanggil. Apakah masih ada kesempatan kerja untuk saya?

Jawaban :

Faktor usia memang masalah tersendiri ketika melamar pekerjaan. Posisi jabatan senior lowongannya tidak banyak. Posisi junior, perusahaan lebih pilih pekerja muda yang lebih energik dan update dengan situasi terkini.

Skill pun seringkali bukan nilai tawar yang efektif mengingat perkembangan jaman khususnya di bidang teknologi terlalu cepat.

Saya cukup lama di IT, lepas dari sana 2 tahun saja rasanya sudah ketinggalan jauh. Belum lagi faktor daya ingat yang saya rasakan menurun. Apa yang dulu setiap hari saya kerjakan, ketika ada yang nanyain, saya mendadak ngelag panjang sebelum akhirnya googling.

Makanya ketika bisnis saya jatuh di awal 2017, alih-alih melamar kesana kemari, saya pilih pulang kampung yang biaya hidupnya rendah sehingga bisa dicukupi dengan kerja serabutan. Yang saya lakukan hanya say hello dan hahahihi ke teman teman lama di whatsapp.

Beneran cuma ngobrol ngalor ngidul tanpa pernah terang-terangan minta dicarikan pekerjaan. Saya sok jaim ini karena ingat kelakuan sendiri. Dulu, beberapa teman yang rutin chat mendadak saya kurangi responnya gara-gara dia sering mengeluh serba kekurangan, carikan kerjaan, minta modal atau bahkan minjem duit. Saya justru respek dengan teman yang saya tahu nganggur tapi ceritanya selalu optimis dengan yang dia alami.

Hasilnya ada saja teman yang nawarin walau cuma kerjaan freelance dan beberapa malah proyek terima kasih. Tetap saya jalani karena targetnya, saya punya sarana untuk otak agar tetap hangat dan hubungan dengan relasi tetap baik.

Setelah 3 tahun lebih, alhamdulillah saya dilamar untuk posisi yang menarik. Direkomendasikan ke perusahaan oleh teman yang selama ini suka nyuruh kerja bakti. Dasarnya apa, saya tidak tahu. Suer…

Terima kasih, semoga membantu.

Salam…

Repost dari Quora

Read More

Mengapa Kejawen Tidak Masuk Agama Resmi

Repost dari Quora

Pertanyaan : Mengapa aliran kejawen tidak dimasukkan ke dalam agama resmi negara Indonesia? Bukankah kejawen telah lama ada?
-----

Bagi Kejawen, agama itu sekedar ageman (syariat). Yang utama adalah ugeman (hakikat). Tidak ada ketentuan baku tentang syariat sepanjang tidak melenceng dari hakikat.

Diibaratkan orang bepergian, penganut Kejawen bebas pilih moda transportasi apa pun yang penting sampai ke Jakarta. Berbeda dengan kebanyakan konsep agama (khususnya garis keras) yang justru sibuk memperdebatkan "kendaraan" yang dipergunakan sampai kadang lupa sebenarnya mau pergi kemana.

Ketiadaan bentuk ibadah baku dan kitab suci yang disepakati itu yang membuat kejawen dan semacamnya misal kaharingan tidak dianggap agama. Biar berkeadilan sosial, negara memberi ruang kepada mereka dengan istilah kepercayaan.
Read More

22 Februari 2020

Mengapa Lebih Memilih Menyewa Mobil

Repost dari Quora

Pertanyaan : Mengapa banyak orang menyewa mobil ketika pada akhirnya mereka tidak akan punya mobil?

-----

Lebih ekonomis

Secara umum lebih ekonomis kecuali beberapa kasus, misal urusan cari duit harus pakai mobil atau duit memang bukan masalah.

Saya berkaca dari tetangga atau teman yang maksa ngutang mobil tapi keluar paling seminggu sekali. Sehari-hari lebih banyak menggunakan sepeda motor dengan alasan biar irit. Padahal dipakai atau tidak, pajak harus tetap dibayar. Ganti oli pun ada patokan waktu bukan cuma jarak tempuh.

Okelah, bayar cicilan, operasional atau service bukan masalah karena sudah dianggarkan. Tapi untuk kalangan tertentu ada hal yang susah diukur. Teman yang hobi ngemol, ketika hujan misalnya, mereka akan diam di rumah males jalan pakai mantel. Ketika ada mobil, cuaca bukan lagi alasan untuk ngerem hobi nambah pengeluaran itu.

Saya dan istri sama-sama hobi travelling. Sayangnya saya kerja jauh, dapat cuti 2 minggu tiap 2 bulan sekali. Beneran butuh mobil 2 bulan sekali, sewa mobil jauh lebih ekonomis. Toh selama saya tidak di rumah, kegiatan istri paling ke pasar atau tempat senam yang masih bisa dijangkau dengan sepeda motor.



Tapi itu dulu…

Negara api menyerang ketika istri hamil padahal anak baru berusia beberapa bulan. Sialnya waktu itu belum ada taksi online yang murah meriah. Jadilah saya harus menyerah dengan satu pertanyaan sederhana, "ke pasar bawa bayi 2 biji caranya gimana..?"

Jadi…

Buat ibu-ibu yang pengen punya mobil tapi suaminya tipe pelit macam saya, rajin-rajinlah ajak suami beribadah dan hamillah dalam jarak dekat. Karena saya masih mampu menolak bila alasannya untuk kepentingan istri. Tapi tidak bila untuk anak…

Kira-kira begitu…


Read More

02 Juli 2019

Tahan Lama Di Ranjang

Situasi sulit sejak tiga tahun belakangan ini, semestinya mulai membaik sejak tahun lalu. Namun status tahun politik membuat banyak hal khususnya terkait bidang ekonomi jadi melambat dan cenderung berjalan di tempat. Cari info proyek kesana kemari lebih banyak mendapat jawaban, "nanti lah nunggu pilpres selesai..."

Bukan hanya proyek baru. Yang sudah berjalan pun banyak yang mendadak "pending". Memang masih banyak pekerjaan yang bisa terus jalan, namun jumlahnya tak sebanding dengan permintaan. Alhasil banyak yang musti bertahan dalam posisi gigit jari.

Banyak teman yang sampai depresi akut. Kapasitas otak kadang tak lagi mencukupi untuk membagi ruang berpikir tentang cara berkelit dari berbagai kejaran masalah. Sekedar bertahan untuk hidup menjadi prioritas membuat upaya bangkit kembali seringkali menjadi angan yang sulit diwujudkan.

Apalagi bila terus terbelenggu masa lalu alias gagal move on. Di saat susah masih saja kepikiran masa lalu yang bahagia. Melihat anak-anak harus pindah ke sekolah gratisan tak berkualitas, sementara di atas kertas tertulis deretan angka lumayan panjang yang tak bisa ditagih, rasanya tak cuma sakit. Tapi musti ditambah pake kata banget banget dan kebangetan.

Dalam kondisi begini, solusinya hanya teori Darwin. Pilihannya hanya "ndableg" atau jadi korban seleksi alam. Lupakan perasaan dan pikiran yang hanya menambah energi negatif. Biarkan saja orang mau bilang atau bergosip apa. Lebih baik tutup mata tutup telinga termasuk ketika ada yang nagih utang. Kalo ada yang ngotot, kasih saja nasehat dengan tak kalah ngotot, "ketimbang marah-marah gitu, lebih bermanfaat bantu doain cepet dapat kerjaan lagi biar bisa bayar utang. Kalo kondisinya tak juga berubah, berarti Tuhan belum berkehendak duitmu balik. Berani po melawan kehendak Tuhan..?"

Perubahan mindset juga harus ditularkan ke keluarga. Anak-anak musti bisa cuek bermain tanah liat atau beluluk sementara teman sebayanya sibuk dengan hape. Istri belajar senyum dengan uang belanja 200-300 ribu seminggu tanpa mengingat-ingat dulu sebulan pengeluarannya 10-20 juta. Hanya itu step awal untuk bertahan hidup agar lebih banyak bagian otak yang bisa dipakai untuk memikirkan cara bangkit kembali.




Berat banget memang...
Tapi nyatanya bisa. Anak-anak sudah berhenti bertanya kapan ikut robotik atau balapan sepatu roda lagi. Time Zone atau Trans Studio sepertinya sudah terhapus dari kamus mereka. Ibunya pun tak jauh berbeda. Telah mampu melupakan dompet penuh kartu dan kegiatan gesek sana gesek sini. Segala hal yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil mampu dijalani, sekarang bisa dinikmati dengan penuh senyuman. Soal senyumnya manis atau kecut itu beda kasus...

Cara menyikapi masalah sudah berbeda, cenderung santai dan bernada optimis. Misalnya ketika bilang, "ayahnya si Dudut sekarang tahan lama di ranjang..."

"Wah pasti seneng dong..?"
"Engga lah. Kasian..."
"Kok bisa..?"
"Lha ga dapat-dapat kerjaan. Akhirnya siang malem pagi sore kerjaannya tidur terus. Piye jal..?"

Wis lah pokoknya kisruh pilpres dah rampung
Yakin saja semua segera membaik
Amiiin...



Read More

27 Juni 2019

Sapi Trip #2

Melanjutkan tentang Perjalanan Mengurus Bantuan Sapi...

Sampai Purwokerto sekitar jam 4 sore dengan kepastian jam pulang belum ada gambaran. Namanya rombongan santri ketemu kyai, acara lain-lain bisa lebih banyak daripada tujuan sebenarnya. Apalagi ketika sampai maghrib pak kyai belum juga pulang sementara tamu lain yang mau sowan cukup banyak. Ditambah ketua rombongan bilang, "nanti kasih kesempatan tamu lain dulu. Kita maleman aja lah biar santai ngobrolnya..."
#NahLoh...


Sampai saat bakda isya, pak kyai bilang, "pada makan dulu ya, saya harus pergi isi pengajian..."

Baru mau teriak "yess..!" komandan pasukan keburu menjawab, "terima kasih sekali, bah. Bukan menolak rejeki, tapi kita baru saja makan..."
#BelumRejeki

Yoweslah...
Singkat cerita kita pamitan dan segera loading penumpang untuk persiapan pulang. Sesaat menjelang berangkat, sesuai SOP, sopir wajib mengingatkan penumpang untuk berdoa, memeriksa apakah ada yang ketinggalan dan sebagainya. Sudah check and recheck langsung konfirmasi akhir, "kita pulang sekarang ya..?"

Eh jawabnya, "cari makan dulu lah. Laper, bro..."
#Yaoloh...


Jam 22:30 tiba di kediaman pak ketua. Tuan rumah yang baik selalu menawari kopi terhadap tamunya dan tamu yang baik tidak boleh menolak tawaran mengisi perut. "Sebentar saja lah, sekalian ngobrolin rencana selanjutnya...

Sebentarnya orang Ciglagah...
Yang katanya cuma bahas bakal lokasi kandang sapi, obrolan simpang siur ke urusan proyek, korupsi kepala desa, pilpres, sidang MK dan banyak lagi. Ketika jam dinding menunjukkan angka 2, pembicaraan beralih, "mancing gurame di kolam, yuk..."

Jebul bukan basa basi...
Segera saja teman-teman pindah lokasi nongkrong ke tepi kolam ditemani bulan separuh dan mungkin juga demit pinggir sungai yang mulai terkantuk-kantuk, untuk membuktikan diri bila mereka pejuang mancing yang pantang menyerah. Diawali mengurai senar yang kusut dimainin kucing, gonta-ganti umpan dari pelet, keong, cacing, bekicot dan entah apa lagi.

Satu jam berlalu belum juga ada yang menyambar umpan, salah seorang nanya ke pemilik kolam, "kolamnya dalam gak..?"
"Paling sedengkul..."

Kata sedengkul direspon cepat dengan buka celana. Bermodal kancut dan seser di tangan, teman melompat ke kolam lalu teriak, "dengkulmu ambles..."

Ternyata dalamnya memang sedengkul tapi nyeburnya pake egrang. Kebayang kaya apa rasanya menjelang subuh begini merendam perut di cuaca orang keluar rumah saja harus pake jaket. Dan yang lebih tak terbayangkan lagi adalah, begitu nyebur ikan berlompatan ke darat. Alhasil, kesunyian malam terpecahkan oleh yang mungutin ikan sambil misuh-misuh, "ngapain nyebur bawa seser coba? Tau begini, tadi lemparin blarak ke kolam selesai urusan..."
#Kapok...


Dan eh...
Ternyata urusannya belum kelar sampai di situ. Sambil menyiangi ikan, teman yang punya kolam diinterogasi, "kolam dikasih apa sih..?"

"Pakan ikan, daun keladi."
"Semprul ga ngomong dari tadi..!"
"Emang kenapa..?"

Ga jawab...
Mungkin sibuk berdoa agar guramenya tambah nikmat karena dibakar sambil garuk-garuk selangkangan yang gatal dijamas rendaman daun keladi...
#Amiiin...



Read More

26 Juni 2019

Sapi Trip #1

Beberapa hari lalu...
Dikontak teman dari Banser Gandrungmangu, "mas, hari rabu besok tolong antar ke Purwokerto mengurus sapi bantuan untuk GP Ansor Kertajaya. Jemput di Pasar Kunti jam 8 pagi..."

Pamitan ibue Ndut sekalian konfirmasi kendaraan dipake apa engga. Mungkin terbiasa tiap hari kamis musti mengantar keponakan kontrol ke RSUD Banyumas, ibue nanya, "pulangnya jam berapa, sampe malem ga..?"

"Katanya sih sebentar. Tapi berhubung urusannya sama pasukan ureng-ureng, anggap saja pulangnya minggu depan."
"Kok bisa..?"
#LiatSajaBesok...


Dan beneran...
Sesaat menjelang detik-detik proklamasi, rencana berubah, "jemputnya ke Ciglagah habis dhuhur saja, mas..."

"Habis dhuhurnya gapapa, offroad ke Ciglagahnya itu yang repot..."
"Santai, mas. Info terkini jalan sudah diurug, garansi bisa lewat..."

Ternyata benar...
Jalan yang rusak parah waktu musim hujan kemarin sudah diurug tanah. Di jalanan datar perjalanan bisa lancar biarpun debunya menyesakkan nafas. Masalah terjadi di batas desa. Jembatan dibangun cukup tinggi, jalan naiknya terlalu terjal plus belum diaspal alias masih tanah urug. Naik pelan-pelan ban selip, kasih ancang-ancang agak kencang mobil kandas.

Dua kali kolong mobil nyium beton ujung jembatan tanpa berhasil naik, aku kasih pilihan putar balik kembali ke rute semula dengan resiko nambah perjalanan 30 kiloan atau cari sukarelawan untuk angkat mobil ke atas jembatan. Opsi kedua yang dipilih. Betul-betul pasukan santri fast response. Gak pake lama setelah dikontak, bantuan berdatangan walaupun yang dikirim kebanyakan anak-anak balita.
#Yungalah...


Sampai titik penjemputan, apa yang dibayangkan beneran terjadi. Manifest penumpang yang info awalnya 4 orang, mendadak bengkak jadi 7 orang ditambah 2 balita dan bagasi tambahan satu tandan pisang.

Ga pengen komen apalagi komplen, karena yakin jawabannya tak bakalan jauh dari "ada yang mau ke kota apa salahnya ikut nebeng pelesir" atau "numpang sowan ngalap berkah ke pak kyai masa ga boleh ikut..?"

Wis pokoknya atur-atur sendiri saja lah gimana caranya, mau dipangku mau dilipat yang penting muat. Sopir taunya mancal gas sambil komat kamit tidak ada razia atau pecah ban bawa beban overweight di jalanan berbatu.
#Bismillah...


Read More

10 Juni 2019

Barokah Trip

Pasca mandeknya kegiatan di Batik Tour, acara berebut peruntungan kue wisata pada libur lebaran kali ini tak bisa ikutan. Jangankan cari tamu untuk dipandu pelesirannya, sekedar ngojek narik pemudik yang turun di terminal atau stasiun pun tidak. Beneran full time di kampung bersama keluarga.

Ada sih beberapa trip pendek mengantar saudara atau tetangga. Di kampung sini nyantri di pondok pesantren lumayan ngetren. Kebetulan beberapa ponpes melarang santri datang atau pergi sendiri tanpa didampingi keluarga. Sehingga setiap musim liburan, pihak keluarga harus menjemput dan kembali mengantar ketika usai. Oleh karena itu, kayaknya libur lebaran kali ini adalah musim liburan yang barokah biarpun di pesantrennya cuma sampai tempat parkir doang.

Sayang ada yang kelewat...
Perasaan, persiapan kendaraan dan uba rampe buat di jalan sudah siap sebagaimana mestinya. Lupa kalo ini bukan wisatawan hepi-hepi yang cenderung suka musik-musik ceria sepanjang perjalanan. Baru saja jalan beberapa meter sudah ada rikues, "mas, lagunya Nisa Sabyan ada..?"
#Dyaaaarrr... 

Langsung ikutan rikues sekhusyuk-khusyuknya kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi, semoga mereka segera dapat hidayah agar berubah haluan jadi NellaLover atau Vianisty. Untuk menghibur diri sebelum doa diijabah, dalam hati aku bernyanyi, "satu satu aku sayang ibu... dua dua juga sayang ibu, tiga tiga sayang semua ibu... satu dua tiga sayang Nissa Sabyan..."
#Mumet

Change..!!!
Kata Rhenald Kasali
Maka berubahlah, merubah mindset bahwa yang dilayani kali ini adalah manusia-manusia relijius. Biasanya sapa perdanaku, "Selamat pagi bapak ibu dan semuanya. Saya Rawin yang akan mengantar anda berkeliling kota Yogyakarta. Mohon diperiksa perlengkapan anda, hp, kamera, topi dan lain lain apakah ada yang tertinggal di hotel. Air minum ada pintu, termasuk tisu dan tas plastik untuk tempat sampah bla.. bla.. bla..."

Berarti kali ini harus begini...
"Bismillahirahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin. Nahmaduhu wanasta’inu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a’maalina. Min yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu falaa haadiyalahu. Allohumma solli wasalim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’ina amma ba’du. Pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT bla.. bla.. bla... "

Dan kayaknya begitu selesai mengucap salam, penumpangnya sudah pada baris di pinggir jalan nyetop bus umum...
#Kapok...



Read More

12 Juli 2018

Ngapak Ora Penak


Sudah sebulan anak-anak di kampung berbaur akrab dengan budaya dan tradisi Banyumasan ndeso, namun tidak ada perubahan yang berarti dalam hal bahasa atau dialek yang mereka ucapkan.

Jadi kepikiran kebiasaan yang berlaku ketika ada perpindahan antar budaya semacam itu. Orang berlidah Jogja yang sudah bertahun-tahun bermukim di daerah Banyumas sangat jarang yang "kegowo kelu". Bahasanya tetap "bandhek" walau pun setiap waktu ngobrol dengan lawan ngapak. Sebaliknya, orang Banyumas yang pindah wilayah umumnya cepat beradaptasi ikut bahasa setempat walau terkadang "medhok" nya tidak mau hilang.

Dulu kupikir berkaitan dengan gengsi, mengingat ada yang mengidentikan "ngapak" sebagai bahasa ndeso dan "bandhek" adalah bahasa kaum ningrat. Orang Jogja biar puluhan tahun tinggal di Cilacap, gengsi kehilangan identitas keningratannya makanya tidak mau ngomong ngapak. Sebaliknya orang Cilacap baru beberapa hari di Jogja, gengsi dianggap ndeso, lalu ngomongnya maksa di o o in. Beli french fries di warung, ke SPG bilangnya, "tuku kentong goreng, mbok..."

Namun melihat apa yang terjadi pada anak-anak, sepertinya fenomena itu bukan soal borjuis vs proletar. Sebulan lebih mereka di Cilacap, belum mampu merubah "tai ayam" menjadi "tembelek". Kebalikannya si Ncip yang dulu dibesarkan di Cilacap, seminggu di Jogja sudah cukup untuk menyulap "tembelek"-nya menjadi "telek".

Anak-anak yang belum mengenal gaul tidaknya suatu budaya mengalami kesulitan beradaptasi secara cepat, bisa jadi karena menjadi "Banyumas" itu memang susah. Apalagi bila tidak dibatasi di lingkup bahasa saja, tetapi bagaimana menjadi "egaliter" di kala orang mulai membuat kasta secara sosial, bagaimana menjadi "blakasuta" di jaman kepalsuan dianggap kekinian, dst dst...

Jadi kepiye, lik..?
Lah mbuh nyong be mumet koh...
Anggap bae ora ngapak ora kepenak...

Read More

11 Juli 2018

Penipuan Susu

Pagi-pagi sudah dicolek lagi soal susu...

Nek miturut pendapatku yo, kisruhnya urusan persusuan di dunia medsos dimulai dari segelintir orang bego yang merasa tertipu karena kebodohannya lalu berpikir semua orang sama bloon dengan dirinya. Orang-orang yang jarinya lebih cepat ketimbang otaknya ini, jangankan mau kroscek cari informasi pembanding wong nemu tulisan ga jelas, baru baca judulnya thok langsung sibuk komen, like, share dan langsung merasa sudah berbagi kebaikan yang layak memperoleh kapling surga.

Kembali ke susu...
Bukan cuma susu, namanya beli sesuatu kan harus baca daftar isi apapun judul produknya. Yang dinamakan Susu Kental Manis kayaknya sudah dari dulu banget nama tertera di kalengnya cuma Kental Manis. Penjelasan produk itu mengandung susu ada di komposisi. Minuman sari kedelai juga tidak mengandung susu tapi adem ayem saja orang menyebutnya sebagai Susu Kedelai. Kasus sebaliknya seperti yang pernah rame di jurnal beberapa tahun lalu, ada yang ngeyel ketika dibilangin susu beruang itu susu sapi.

Pentingnya membaca komposisi sebelum secara sepihak menyalahkan orang lain bisa dirasakan ketika lewat Blitar dan beli keripik buah-buahan di pinggir jalan. Pandangan pertama adalah heran campur bingung melihat kemasan begitu besar namun harganya murah pol. Begitu buka alumunium foil kemasannya yang gembung langsung misuh-misuh lihat isinya cuma nyempil di pojokan.

Penipuan..!
Sabar dulu. Lihat dong netto-nya berapa gram dan timbang, kalo tidak sesuai bolehlah bilang produknya bermasalah. Yang mereka jual kan keripik dengan berat tertentu tak peduli seberapa besar kemasannya. Tak perlu juga bikin meme bertuliskan "siapa bilang udara itu gratis", karena bisa jadi kemasan digembungkan sebagai pengaman biar kripiknya tidak remuk saat ditumpuk-tumpuk dalam gudang.

Kalo susu kan susah ngecek beneran mengandung susu apa engga.? 
Pakai cara sederhana kan bisa. Jalan-jalan ke pabriknya atau ke daerah penghasil susu. Bisa ketauan mereka beli susu perah dari peternak atau tidak. Walaupun mungkin di produk, kadar susu sangat sedikit ketimbang kandungan gula, tidak bisa dong dibilang tidak mengandung susu. Itu bukan pabriknya yang nipu, tapi konsumennya yang pemalas.

Wegah, ngapain harus ngecek ke pabrik kaya orang kurang kerjaan..? 
Lah, males baca tapi rajin share apa bukan orang kurang kerjaan..?
Itu sejenis dengan yang pagi-pagi nulis panjang lebar gini tapi ga jelas maunya apa, haha..

Luweh...
Tak nyolekin susu maning ah...

Read More

09 Juli 2018

Banyak Anak Banyak Rejeki


Berbagi cerita dengan teman yang berpuluhtahun tak jumpa, anak menjadi salah satu tolok ukur kisah kesuksesan. Dari sekian panjang daftar pertanyaan, salah satu yang masuk kategori wajib ain adalah "anakmu berapa" tidak ada yang nanya "istrimu berapa". Padahal katanya kesuksesan pria itu didukung oleh wanita hebat di baliknya, bukan anak yang banyak.

Atau mungkin yang dimaksud wanita hebat adalah yang bisa beranak banyak, sehingga jumlah anak menjadi indikator kehebatan seorang wanita. Ini bisa dilihat dari kebiasaan kebanyakan orang yang mengucapkan selamat atas kehadiran bakal anggota keluarga baru dengan mengusap perut hamil si ibu, bukannya burung si bapak yang sudah susah payah menanam benihnya.

Tapi ya ada yang berpikir sebaliknya, katanya kebanyakan anak itu masalah. Ini adalah tipe manusia kekinian yang sudah melupakan filosofi leluhur yang secara gamblang bilang "banyak anak banyak rejeki..."

Semakin banyak anak semakin banyak rejeki yang harus dicari, maknanya kan gitu. Salahnya dimana coba..?

#RajinBikinAnakYuk

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena