#Bimbingan orang Tua
Jakarta, awal Juni 2008...
Aku dipanggil ke ruangan bos. Beliau yang gemar menggambar membeberkan cita-citanya memiliki sebuah galeri lukisan. Aku yang waktu itu jadi teknisi komputer diminta ke Jogja membantu persiapannya agar bisa launching bareng hari kemerdekaan RI. Beneran tugas berat mengingat bakal galeri itu adalah lahan kosong bersemak ditambah bangunan hancur sisa gempa.
Kirain cuma bantu pekerjaan fisik instalasi kabel dan sejenisnya. Ternyata persiapan pameran juga harus ikut. Dua bulan adalah waktu yang teramat pendek untuk orang teknik harus belajar seni. Apalagi bos punya ambisi membawa pelukis-pelukis papan atas di pameran pembukaannya. Sesuatu yang lumayan berat untuk galeri baru mengingat mereka lebih selektif dalam memilih tempat memamerkan karyanya.
Dengan segala kekurangan disana-sini, target bisa aku capai. Aku sudah bisa bernafas lega dan bersiap angkat ransel kembali ke Jakarta. Namun ransel yang baru aku packing harus dibongkar lagi setelah bos nelpon minta aku bantu staf lokal sampai manajemen dan marketingnya jalan.
Beberapa pameran berlalu. Even makin ramai dan penjualan juga meningkat. Namun bertahan beberapa bulan di Jogja membuatku enggan kembali ke ibu kota. Aura Jogjakarta terasa lebih menarik ketimbang aurat Jakarta. Kabar baik yang sebenarnya buruk membantuku. Manager lokal dianggap tak mampu mengelola galeri dan pilih keluar. Semua bebannya aku tangani walau tanpa pengangkatan resmi. Wacana jadi orang Betawi pun terhapus dengan sendirinya dari catatan.
 |
| Mengejar setoran 16 jam kerja sehari |
Jogjakarta, dua tahun berlalu...
Begitu banyak suka duka berkumpul disana. Terlebih saat pasar lukisan mulai lesu di akhir 2009. Goyang kanan goyang kiri untuk bisa bertahan membutuhkan kesadaran dan kesabaran yang tiada habisnya.
 |
| Pasukan tukang impor dari Tegal |
Menyingkronkan pola bisnis profesional dengan pola hidup seniman juga butuh kemampuan yang tidak ada di sekolahan. Jam kerja tidak menentu. Nelpon seniman di bawah jam 12 siang jangan harap selalu diangkat. Tapi kalo jam 2 malam sekalian malah bisa ketemu.
 |
| Toast... es teh manis |
Melayani kolektor bukanlah hal mudah. Apalagi kalo tamu dari luar negeri. Minta diantar cari hiburan malam sudah jadi langganan. Untung punya istri setia yang mau ikut kemana-mana. Bisa dijadikan alasan untuk menolak secara halus kalo mereka sudah ngajak minum lebih dari sekedar bir. Ibue juga membantu banget jadi penerjemah, mengingat kebanyakan kolektor dari seputaran China yang ngomongnya Mandarin. Sangat berguna mengingat kemampuan bahasa mandarinku tak pernah lebih dari kata wo aini dan ni homo doang...
 |
| Di penghujung lelah... |
Sampai akhirnya Citra lahir ke dunia. Saat itu aku mulai berpikir untuk meninggalkan galeri, walau secara finansial enak. Ga enak gimana hidup di Jogja tapi gaji standar Jakarta. Ditambah dari seniman yang suka ngasih angpao saat lukisan mereka laku.
 |
| Potong tumpeng... |
Namun hidup kan bukan sekedar uang. Teramat banyak sisi lain yang harus dipikirkan. Misalnya acara menemani tamu jalan malam. Tak mungkin aku ajak ibue jadi translater lagi setelah punya bayi. Maksa jalan sendiri modal bahasa tarzan mungkin bisa. Tapi aku kan harus memikirkan juga perasaan yang di rumah. Biarpun ibue percaya kepadaku, yakinkah kalo dalam hati kecilnya tidak ada pertanyaan, "ikutan ngejablay enggak, ya..?"
 |
| Ruang pameran |
Lagi mikirin itu, dewa penolong kembali datang. Ada masalah dengan manajemen Jakarta yang sebenarnya sepele. Tapi karena sudah niat cabut, tak perlu banyak cingcong aku cuma jawab telpon bos dengan kata, "siap bos, aku keluar kerja.."
 |
| Art shop |
Tamianglayang, kemarin sore...
Ibue Citra sms katanya habis lewat galeri dan kondisinya kosong melompong. Tanya ke staf yang terakhir aku kesana masih bertahan, katanya memang ditutup pertengahan agustus lalu. Sempat aku tercenung agak lama mendengar berita itu. Begitu banyak kenangan disana. Bahkan sampe sekarang KTP ku masih numpang alamat belum sempat urus surat pindah.
 |
| Art space |
Dua bulan aku persiapkan, dua tahun aku numpang hidup dan ternyata butuh waktu dua tahun pula sampai aku mendengar berita dukanya. Aku memang tak percaya numerologi seperti kata ibue Valeska yang mengatakan angka 4 merupakan angka sial karena dalam bahasa China "si" juga berarti mati.
 |
| Staf artspace |
Tapi tetap saja aku pernah heran dengan faktor numerologi kebetulan yang menyelimuti galeri itu. Jauh sebelum pergi ke Jakarta, aku sudah pake nomor hape berbuntut 777. Mendarat di Jogja aku suruh tukang beli hape flexi dan dapat nomor 6561777. Besoknya baru aku tahu kalo alamatnya di Jl. Sukonandi no 7. Telpon Telkom yang lama dicabut aku aktifkan lagi, ternyata nomornya 545577. Pasang satu line lagi untuk fax dikasih nomor 583377.
 |
| Saat galaw melanda |
Entah masih kebetulan apa bukan, yang jelas si bos kemudian ngasih nama galerinya sebagai Tujuh Bintang Art Space. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, si bos punya nama Sapto alias tujuh. Makanya aku jadi suka mikir kalo ada yang menganggap aku masih saudara si bos. Jangan-jangan karena aku dan bos memang mirip bagaikan pinang dibelah tujuh. Sayang si bos kebagian kerennya aku kebagian ancurnya...
Tujuh Bintang Art Space Jogjakarta
Takkan hilang dalam kenangan
Mohon maaf bila loadingnya berat kebanyakan gambar
Edisi penuh kenangan soalnya...
Read More