10 September 2012

Cewek Tambang

#Bimbingan Orang Tua

Masih saja ada teman yang nanya, "kenapa sih lu betah amat di hutan...?"

Kata-kata di tengah hutan seringkali diartikan hidup seperti orang primitif yang jauh dari fasilitas modern. Memang benar banyak sekali pernak-pernik kota yang hilang disini. Sarana transportasi dan komunikasi minim. Air bersih susah didapat. Warung, ATM apalagi tempat dugem jauh dan butuh waktu tempuh berjam-jam.

Namun terisolir dari peradaban bukan berarti kita hidup dalam kebiadaban. Fasilitas hidup minimal disediakan perusahaan. Mess lumayan nyaman ber-AC walau listrik sering mati. Kebutuhan makan, minum sampai cuci baju tak perlu mikirin lagi biarpun ga bisa milih-milih. Sinyal hape yang luplep disubsidi silang dengan internet yang lumayan ngebut. Tipi satelit tersedia walau remotenya lebih banyak dikuasai ibu-ibu. Yang suka olah raga bisa main bulu tangkis atau pingpong. Kalo mau olah raga ekstrim bisa manjat-manjat tower atau ngedorong buldozer mogok.

Pertanyaan teman yang tak pernah terlupakan adalah tentang cewek. Dikiranya kehidupan tambang itu teramat gersang hanya diisi segelintir manusia bergagang yang kasar dan legam. Di sini lumayan rame dengan jumlah karyawan hampir 500an orang. Karyawan cewek juga ada walau tak banyak.

Staf HRD

Staf Logistik

Jangan dikira cewek-cewek tambang semuanya tomboy dan macho. Banyak yang tetap feminim sebagaimana layaknya cewek kota yang cenderung narsis. Sebagian jadi staf kantor dan kebanyakan justru di lapangan sebagai operator alat berat atau dump truck raksasa. Penjelasan lebih lanjut tentang ini pernah aku ceritakan di jurnal Cewek Operator.


Operator Excavator

Operator Articulated Dump Truck


Operator Artic


Setelah dikasih tahu di sini banyak yang manis-manis, pertanyaan selanjutnya tak pernah jauh dari, "banyak yang alus-alus gitu, kenapa suka ngomel-ngomel pengen pulang sih..?"

Justru disitu masalahnya
Kerja di tengah hutan yang cuma bisa ketemu istri 3 bulan sekali
Liat celeng dibedakin saja bisa keliatan cakep
Apalagi yang jelas-jelas menarik hati

Iman sih tahan
Tapi si amin...?
Read More

09 September 2012

Ayah Mbeek...

#Semua Umur

Manusia kadang aneh. Suka mengharap sesuatu tapi setelah keturutan minta balik kanan maju jalan. Contohnya ibue Citra saat bludrek menghadapi anak-anak berantem mulu, sering nelpon bilang "anaknya bawa satu sana, yah..."

Makanya rada seneng dia waktu mbahnya anak-anak datang ke Jogja kemudian bawa Ncit ke Cilacap. Baru siangnya dibawa, malemnya sudah nelpon nyuruh aku buruan balik buat jemput Ncit. Katanya di rumah jadi sepi. Ncip juga bawaannya bete mulu ga ada temen ribut. Ibue bukannya lebih santai malah tambah repot ga bisa beres-beres rumah.

Waktu ada mbaknya, biarpun apa-apa rebutan tapi kan bisa disambi masak, nyuci dan sebagainya. Ga ada temen bermain, jadi ibunya terus yang direcokin. Si Ncip yang dasarnya kuat nenen makin menjadi-jadi. Katanya bisa maghrib sampai tengah malem ga mau copot. Mana giginya tumbuh makin banyak lagi. Makin lengkap sudah pengabdian cinta ibue ke keluarga.

Citra sendiri ga pernah rewel jauh dari orang tua. Asal ada kambing, dijamin ga bakalan ribut minta pulang. Makanya kalo jalan kemana-mana ga pernah bisa cepet-cepet ngejar waktu. Ibue kan senengnya lewat jalan alternatif yang melewati pedesaan ketimbang lewat jalan utama yang rame. Asal lihat ada kambing di pinggir jalan, langsung deh tuh anak teriak-teriak, "ayah, mbeeek.. ayah, mbeeek..."




Begitu pula kalo di telpon. Ga tau bapaknya kangen pengen ngobrol nanya sudah makan apa belum dan sebagainya. Tetap saja kata-kata pertama yang muncul bukannya "halo.." 
Melainkan, "ayaaah mbeeek..."



Jadi mikir...
Harus rajin mandi neh keknya
Apakah parfumku baunya prengus ya..?


Read More

08 September 2012

Cipta Bisa Jalan


#Bimbingan Orang Tua

Ibue kirim email, ngasih tau kalo Cipta dah bisa jalan. Seneng juga mendengarnya walaupun rada telat bila dibanding kakaknya. Adi dulu mulai jalan di umur 10 bulan. Citra malah 8 bulan udah bisa lari. Mungkin pengaruh badannya yang bulet makanya baru jalan di umur 11 bulan.

Berarti perhitungannya tidak terlalu meleset. Setiap cuti, si Ncit seneng banget dolan ke Selo yang merupakan pos awal pendakian Merapi. Kalo lihat rombongan pendaki dia suka nunjuk-nunjuk ke atas pengen ikut. Terakhir kesana aku sempat bilang ke si Ncip, "cuti depan udah bisa jalan ya, biar bisa ikut mbak Ncit ke Merapi..."

Berarti minggu depan rada pontang-panting neh. Jemput anak wedhok dulu ke rumah mbahnya di Cilacap baru ke Merapi. Padahal kalo pulang kampung jarang bisa sebentar. Maklum ibue Citra anak satu-satunya, makanya mbahnya suka rewel kalo sudah urusan cucu.

Peralatan ke gunung milikku juga sudah banyak yang rusak dan harus diperbaharui. Apalagi besok mau bawa anak-anak. Berarti harus nyiapin peralatan ekstra seperti tenda, sleeping bag dan ransel khusus buat angkut anak-anak saat mereka minta gendong. 

Rada mumet juga ngatur pengeluaran buat cuti besok. 
Semoga sih Citra tidak nagih dan bisa diajak ke tujuan lain yang murah meriah. Soalnya bulan ini harus bayar pajak mobil segala, sementara tagihan kartu kredit sisa cuti kemarin masih bengkak.

Kenapa ya kalo ke anak susah banget untuk nolak..?
Apa karena inget proses bikinnya yang...

Au ah mulai ngaco...





Read More

07 September 2012

Karma Nyolong

#Bimbingan Orang Tua

Gara-gara jurnal Nyolong Ayam kemarin, aku kok jadi inget kalo punya track record teramat panjang dalam urusan colong menyolong. Kisah paling jadul yang masih bisa aku inget, sekitar usia aku masuk SD. Di kampungku pada jaman dahulu kala, anak laki-laki tidurnya di masjid atau mushola. Sudah masuk sekolah masih tidur di rumah, bakal jadi bahan ejekan teman-teman sebaya. Dibilang banci lah atau masih nenen lah dsb dsb...

Awal mula anak-anak diajarkan tidur di masjid, mungkin biar mereka lebih banyak waktu untuk belajar mengaji. Tapi entah gimana jalan ceritanya, saat aku masuk ke fase itu, ngaji cuma antara maghrib sampai isya saja. Selepas isya kadang-kadang saja tadarusan. Selebihnya diisi acara ngisengin teman yang tidur duluan. Atau nongkrong di depan masjid bikin barbeque singkong, dapet nyabut di kebun orang dekat rel. 

Kalo musim buah, acaranya ganti. Mulanya sih hanya mungutin buah yang jatuh. Tapi namanya anak-anak yang jiwanya belum stabil. Yang semula berangkat ke masjid cuma bawa sarung dan kopeah saja, lama-lama bawa ketapel juga.

Lewat musim buah, kolam ikan disatronin. Pokoknya terjadwal selalu bergilir. Sehingga tidak sampai bikin kehebohan di masyarakat karena singkong sekebon habis misalnya. Dalam satu periode, satu kebon paling-paling ilang satu pohon. Beneran niat iseng doang tanpa motivasi ekonomi untuk memperkaya diri seperti anggota hewan yang terhormat.

Istilah tepatnya mungkin kenakalan kolektif yang selektif. Sasarannya cuma milik orang-orang yang pelit. Warga yang baik hati ga bakalan kita sentuh. Kenakalan mereka beda dengan anak sekarang yang tendensinya duit buat mabuk atau beli rokok.

Budaya nyolong kreatif itu lenyap dengan sendirinya seiring punahnya tradisi tidur di masjid. Biar begitu, efeknya kadang masih aku rasakan sampai saat ini. Mungkin ini yang disebut karma masa lalu. 

Dulu aku suka nyolong singkong
Sekarang sering kecurian
Terutama hati...
#Hiks...

image credit to kaskus

Read More

Melewatkan Kesempatan

#Semua Umur

Pepatah mengatakan, kesempatan kadang tidak datang untuk kedua kalinya. Peribahasa tersebut seolah menegaskan bahwa kita tak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan yang lewat. Namun benarkah harus selalu begitu..?

Tak perlu menggunakan contoh buruk. Untuk sesuatu yang baik pun kadang kita harus menggunakan logika dengan hasil akhir kesempatan itu harus kita biarkan lewat. Yang pernah aku alami mungkin seperti yang aku ceritakan di jurnal RIP Tubi. Kerja enak, hasil lumayan namun aku tinggalkan setelah mencoba mengingat kembali efeknya dalam jangka panjang. 

Contoh lainnya seperti yang dilakukan teman kerjaku disini. Bulan lalu dia terima beberapa panggilan kerja. Salah satunya datang dari perusahaan migas di Timur Tengah dengan tawaran kontrak 3 tahun, gaji 16 ribu USD perbulan, apartemen, transportasi, akomodasi dan boleh bawa keluarga dengan tanggungan perusahaan termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Sebuah tawaran yang menggiurkan untuk kebanyakan orang.

Namun setelah berpikir beberapa hari, temanku itu menolak dan memilih tawaran kerja di Jawa dengan gaji hanya 10 juta. Pertimbangannya sangat sederhana namun masuk di akal. Katanya, kalo dia terima tawaran itu, mungkin seumur-umur dia harus kerja di luar negeri. Dengan pengalaman kerja di perusahaan internasional, saat maksa pulang pasti ada rasa ga nyaman bila harus jadi manager safety lagi. Paling tidak harus diatasnya. Masalahnya ada apa tidak perusahaan yang mau mengangkat dia jadi direktur HSE.

Aku bilang disana itung-itung cari modal buat buka usaha nanti, dia malah nyengir. Katanya dia tahu siapa dirinya. Belasan tahun jadi karyawan teramat sulit mendadak jadi pengusaha. Terbiasa kerja nyaman dengan gaji lumayan, harus banting setir menghadapi dunia usaha Indonesia yang carut marut dibawah rongrongan birokrasi yang bertele-tele rasanya pasti berat.

Aku pikir ada benarnya juga. Sudah puluhan temanku yang dulu pamitan mau jadi TKI dengan alasan mau cari modal. Sekembalinya ke tanah air ga bisa berbuat apa-apa selain bangun rumah dan beli kendaraan. Mencoba usaha lagi seperti sebelumnya, mentalnya sudah berubah total tidak seulet dulu. Biasa kerja tiap bulan dapat gaji besar, harus ngumpulin recehan dengan segala keruwetan katanya cape. Walau tidak semua, kebanyakan endingnya senada. Uang habis dan dia kembali ke luar negeri.

Kembali ke soal temanku tadi...
Saat aku tanyakan adakah alasan lain, dia cuma bilang kendala bahasa. Memang bahasa Inggrisnya lumayan. Tapi karena sebagian besar karyawan di sana berbahasa Arab, mau ga mau dia juga harus belajar bahasa itu untuk keperluan safety talk, semacam acara pengarahan tentang safety saat apel pagi karyawan.

Mendengar jawaban itu, aku bilang saja, "Ngapain bingung. Hari ini bacain Al Fatihah, besok Al Ikhlas, besoknya surah Yasin..."
Belumselesai aku ngomong, dia sudah potong dengan ucapan pendek, "kehed..!!!"

Ada pendapat lain..?


Read More

06 September 2012

Malam Jumat Keringetan

#Dewasa

Masalah memang suatu hal yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Memahami itu, kita seringkali menyiapkan banyak hal sebagai persiapan. Sehingga saat masalah itu tiba-tiba datang, dampaknya tidak terlalu merugikan kita.

Contoh mudahnya dalam pekerjaanku. Di musim pancaroba yang cuacanya tak menentu seperti sekarang ini, jaringan antar site seringkali terganggu. Entah angin, petir, hujan atau sekedar radio terbakar karena kabel konslet selalu saja ada. Selain menyiapkan peralatan cadangan, aku juga sengaja menelatkan mandi. Memang benar dari sononya aku males mandi. Tapi suer dalam kasus ini, itu masuk dalam persiapan tempur juga.

Sayangnya masalah yang datang seringkali meleset dari apa yang kita persiapkan. Seharian ga ada masalah, begitu sudah wangi baru datang laporan, "internet ke tambang putus, pak..."

Mending kalo rusaknya di ruangan server atau sekedar sikring putus. Cukup dikerjakan dengan santai tanpa ngos-ngosan. Kalo kejadiannya seperti barusan. Gangguannya ada di atas tower. Rasanya kok nyebelin banget. Lebih sebel lagi kalo ingat tadi mandinya kaya orang kesurupan. Air terakhir yang nyisa setengah bak aku habisin.

Ceritanya sih lagi bales dendam ke temen di mess yang kemarin sore ngabisin air. Memang kemarin seharian meeting dan ga keringetan yang artinya ga mandi pun ga jadi soal. Sayangnya menu makan malem kepedesan. Perut mules tingkat kabupaten, langsung ngacir ke kamar mandi. Begitu selesai ngebom, baru ketahuan kalo ga ada air secuilpun. Untung biasa jadi Mc Gyver. Celingukan ke dapur cari solusi, nemu deh di atas dispenser masih ada air setengah galon. 
#Biadabh...

Mungkin memang bawaan orok kalo aku ga boleh jahat ke orang lain. Baru iseng sedikit saja, akibatnya sudah balik ke diri sendiri. Badan keringetan habis manjat-manjat tower begini, kalo ga mandi mana bisa tidur...?

Kalo sudah begini
Suer jadi kepengen banget pulang
Sama-sama naik-naik dan keringetan
Tapi kalo di rumah pasti langsung pules
Mandi, keramas dll urusan besok pagi dah...

Beneran malam jumat galaw
#Sungguh...

Read More

05 September 2012

Salam Terong

#Bimbingan Orang Tua

Carut marut urusan dapur di site seperti yang aku ceritakan di jurnal Juragan Dapur ternyata nyampe ke Jakarta juga. Bisa jadi gara-gara kata kunci terong jadi trending topic pada status pesbuk karyawan site. Rasanya nyebelin banget karena jadi bahan ledekan temen-temen di pusat. Kalo nelpon atau ditelpon orang Jakarta, kata pertama bukan lagi "haloow..." tapi "salam terong..."

Sebelumnya sempat ngetren kata kunci "indosiar" dan FPI alias forum penggemar indosiar gara menu tetapnya ikan. Pagi sore siang malam ikan, ikan dan ikan maning ikan maning. Semenjak ada suksesi penguasa logistik, ikan menghilang dan terong jadi menu wajib. Teman-teman mempropagandakan kalo terong bikin lemes, malah dibalas dengan ceramah terong baik untuk kesuburan sperma.

Aku sendiri tak pernah mempedulikan kandungan gizi terong. Biarpun bergizi kalo tiap hari ga pernah ganti tetap saja bosen. Nanya teman yang tahu gizi sih katanya ga bener kalo terong bikin lemes. Kalo bisa bikin otak lebih damai atau perasaan lebih nyaman memang ada benernya, mengingat terong mengandung asam folat yang berfungsi meningkatkan kadar serotonim.

Namun apapun itu, tetap saja mitos terong bikin lemes tetap melekat di benak teman-teman. Sampai-sampai pagi tadi ada yang nyabutin akar Pasak Bumi di hutan khusus buat aku. Rada terharu sih punya anak buah perhatian walau alasannya rada nyebelin. "Bapak kan bentar lagi cuti. Kalo ga didoping pasak bumi tar nyampe rumah lemes ga bisa kikuk-kikuk loh..."
Hayyah...

Apapun orang bilang tentang efek terong vs pasak bumi itu aku ga mikirin amat. Fakta yang sudah jelas di depan mata, mengkonsumsi terong terus menerus itu bisa menyebabkan darah tinggi. Terbukti kemarin sudah ada karyawan yang marah-marah menggebrak meja makan, "terong lagi terong lagi..!!!"

Nah kan...
Apa aku bilang...



Read More

04 September 2012

Anti Mabuk


#17++

Memang susah kalo ngomongin kebiasaan umat manusia. Sesuatu yang bagi orang lain terasa aneh ga masuk logika, buat seseorang malah jadi solusi ampuh mengatasi masalahnya. Salah satunya adalah cara mengatasi mabuk atau muntah-muntah ketika naik kendaraan.

Yang paling umum adalah minum obat anti mabuk semacam antimo. Yang agak menyiksa tetangga adalah pake minyak angin atau minta jendela mobil dibuka. Ada juga yang lebih manusiawi dengan cara menempelkan koyo di puser.

Sindrom semacam ini bukan cuma milik ibu-ibu saja. Stafku cowok muda nan ganteng dan tegap pun punya masalah sama. Mungkin karena sejak kecil hidup di tengah hutan makanya suka bikin repot kalo diajak pergi agak jauh. Paling parah waktu aku usulkan ikut Pelatihan IT ke Jogja. Berbagai dalih dia ajukan untuk menolak secara halus tugas itu. Dan ternyata mentok di pertanyaan, "tar kalo dipesawat aku mabuk gimana, pak. Emang boleh buka jendela..?"
Ceritanya ada di jurnal Pelatihanphobia

Dibilang milik orang hutan juga ga selamanya benar. Waktu di Jogja aku punya staf yang 100% cewek kota nan gaul, tapi bermasalah juga ketika harus naik kendaraan. Untung kemana-mana pake kendaraan sendiri, sehingga saat perut mulai berontak dia bisa minta sopirnya berhenti sejenak cari angin.

Rada riweuh ketika dia harus mengunjungi calon mertuanya di Sumatra sana. Tiap hari di kantor uring-uringan masalah itu doang. Sampe akhirnya aku suruh dia pake daster. Tar kalo muntah-muntah bilang aja lagi hamil muda. Kirain mau dikomentarin koplak, eh malah beneran beli daster. Daripada malu-maluin, katanya...
Ceritanya ada di jurnal Beli Daster

Nah, untuk kasus sore tadi lebih ajaib lagi. Ada ibu-ibu yang mau ke Banjarmasin naik bus ribut nyari pisang. Entah dihipnotis siapa atau tersugesti apa, katanya biar ga mabuk dia harus pegang pisang. 

Mikir anehnya sih iya
Tapi berhubung otakku suka ngeres, jadi kemana-mana tuh ngebayanginnya
Gimana ceritanya kalo si ibu sampe salah pegang
Apa gak pisangnya yang muntah-muntah..?

Hadeuh
Vyekkk...

image credit to kaskus




Read More

SMS


#Segala Umur

Kerja di perusahaan yang terlalu banyak bos seperti disini, perintah simpang siur sudah jadi langganan. Bos besarnya sih cuma satu. Tapi sekali kasih perintah, interpretasi bos-bos kecil di bawahnya suka beda-beda. Apalagi kalo sudah ada persaingan ga sehat diantara mereka. Karyawan juga yang dibikin bingung.

Salah satu kasih perintah agar lari ke utara. Baru ancang-ancang, datang satunya lagi nyuruh ke timur. Nurut salah ga nurut salah. Minta agar masing-masing bos koordinasi seringkali jadi tambah salah. Paling parah kalo kekacauan perintah itu menimbulkan masalah dan sampai ke big bos. Kebanyakan mereka sibuk cuci tangan dan melemparkan masalah ke bawah. Payahnya si bos juga lebih gampang mendengarkan omongan saudara atau keponakannya ketimbang berpikir obyektif tentang profesionalisme kerja.

Cape menghadapi kasus-kasus semacam itu, aku berusaha meminimalisir potensi masalah. Paling efektif namun terasa afgan adalah mengadu domba kroni-kroni yang intervensi. Bukan seperti divide et impera nya kompeni. Tapi mengunakan ilmu air bak tai chi master. Daripada aku babak belur jadi kancah Perang Saudara, mendingan tekanan itu diterima semua namun dibelokan perlahan agar konfrontasi terjadi di luar. Aku cukup jadi penonton saja.

Mudahnya mereka berkelit saat ada masalah, aku akalin dengan tidak ada perintah lisan. Kondisi sinyal hape yang ilang-ilangan aku manfaatkan. Sejelas apapun modulasinya asal itu bernada perintah, aku akan bilang, "suaranya putus-putus. Sms atau email saja deh..."

Mungkin disini satu-satunya tempat dimana aku jadi hobi main sms. Dalam kondisi normal aku lebih suka nelpon ketimbang sms. Sepintas memang lebih murah. Tapi kenyataannya untuk menyelesaikan satu obrolan bisa sms sampai berkali-kali. Padahal kalo nelpon ga sampai satu menit dah beres masalah.

Lagipula dengan nelpon kita bisa yakin apa yang kita sampaikan sudah sampai ke tujuan dan dimengerti secara benar. Bagaimanapun juga bahasa tulisan seringkali lebih sulit untuk dipahami daripada bahasa lisan. Apalagi kalo baca sms anak sekarang. Buset deh, mending dicium Agnes Monica ane, gan...

Jangankan sms dari temen, dari yayang pun ga pernah aku urusin kalo formatnya bikin mata keriting. Atau yang jawabnya pendek-pendek kayak gini.

"Kamu sayang aku, gak..?"
"Y"
"Aku sayang banget tau..?"
"O"
"Jutek amat. Yowislah, padahal mau ngajak belanja.."
"Ih maaf, beib. Barusan hpnya dipake mainan adek. Yuk ah..."

Duh...
Ngelanturnya jauh amat yak..?



Read More

Pancaroba

#Bimbingan Orang Tua

Pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, antara musim penghujan dan musim kemarau atau sebaliknya. Biasanya terjadi antara bulan Maret sampai Mei dan September sampai November. Masa pancaroba biasa ditandai dengan cuaca tak menentu, hujan mendadak di tengah cuaca panas dan tak jarang disertai badai atau petir.

Kabut

Di tengah belantara seperti ini, pancaroba membuat alam terasa unik. Serangga hutan menjadi ramai bersahut-sahutan. Bisa jadi musim ini memang musim kawin sehingga mereka saling berlomba menarik perhatian pasangan. Lumayan menghibur di kala sepi saat deru alat berat terdiam di jam istirahat.

Pagi datang dengan angin dingin membawa kabut tebal menyelimuti bumi. Kemana mata memandang hanya kesejukan yang ada. Namun sayang tak bisa bertahan lama. Begitu kabut menghilang, terik matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Area tambang yang gersang makin membakar kulit dan batok kepala. Tanpa perlu ke salon, rambut sudah dicat secara alami.

Gersang

Saat haus mulai mencekik tenggorokan, hujan deras turun tanpa aba-aba. Merubah jalanan berdebu jadi kubangan lumpur. Membuat para pekerja berlarian mencari tempat berteduh. Wajah-wajah legam bermandi keringat semakin basah kuyup kena hujan dan tak jarang ada yang nyungsep sampai belepotan.

Cuaca yang tak menentu semacam itu sangat tidak mengenakan. Orang jadi gampang sakit sementara beban pekerjaan makin meningkat. Apalagi kalo angin kencang dan petir mulai datang. Aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Tak peduli siang ataupun tengah malam harus siap turun lapangan saat ada gangguan.

Berteduh


Kalo sudah begini yang ada di kepala cuma dua kata, pengen pulang
Kayaknya lebih indah menikmati pancaroba bersama keluarga
Itung-itung menghormati musim kawin serangga...

#Nunggu tanggal 13 kok lama amat yah..?



Read More

02 September 2012

Nyolong Ayam

#Bimbingan Orang Tua

Aku paling tidak suka kalo ada orang yang intervensi langsung ke anak buahku. Main perintah tanpa koordinasi atau marah-marah saat ada kesalahan. Dalam prinsipku, apapun yang mereka lakukan dalam pekerjaan, hanya aku yang boleh menentukan hitam putihnya. Pasukanku bermasalah, secara struktur kesalahan terbesar ada padaku. 

Berulang kali pernyataan seperti itu aku sampaikan, namun masih saja ada yang lancang melangkahi. Paling jengkel kalo yang melakukan itu orang dari Jakarta yang tak tau menahu situasi di site. Mentang-mentang pinter berpendidikan tinggi lalu sok tahu atur ini itu. Mereka ga mikir kalo di lapangan banyak kondisi yang tidak sesuai dengan diktat kuliah. Banyak hal yang menurut manual book merupakan sesuatu yang tabu, disini justru harus dilakukan atau sistem tidak akan jalan.

Aku sendiri sering ribut dengan orang-orang semacam itu. Mereka suka menggunakan mindset Jakarta saat baca laporan kerjaku di site. Seperti misalnya aku pernah ditegur karena pasang wifi saja bisa seharian baru kelar. Mereka ga mikir menerobos hutan waktu hujan tuh jalanan kayak kubangan lumpur. Bisa nyampe lokasi saja saja sudah untung.

Melihat kenyataan itu, aku jadi pengen mengutip opening line Flag of Our Fathers (2006) :

"every jackass thinks he know what war is - especially those who've never been in one... We like things nice and simple, good and evil, heroes and villains... There are plenty of both. Most of the time, they are not who we think they are."

Terjemahan kasarnya menurut google kira-kira sebagai berikut :

"Tiap orang yang sok jago mengira bahwa dia tahu seperti apa perang itu - terutama mereka yang belum pernah ikut di dalamnya... Kita selalu menyukai hal-hal yang baik dan sederhana, baik dan buruk, pahlawan dan penjahat... Ada banyak contoh dari keduanya. Tapi kebanyakan, mereka tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan tentang mereka"

Orang-orang pinter semacam ini kayaknya selalu ada dimana-mana. Saking sebelnya, sering aku tantang mereka turun ke lapangan. Jangan cuma bisa ngomong dari Jakarta tanpa mau belepotan lumpur atau mandi debu di site. Persis seperti umpatan Gatot Subroto kepada kepada Perdana Menteri Amir Syarifudin di masa perjuangan dulu. "Orang partai taunya cuma omong saja. Ketika Belanda melanggar perjanjian, lari terbirit-birit. Tentara juga yang dibikin repot..."

Dalam banyak hal, aku bisa membela anak buah dengan mudah. Tapi dalam beberapa kasus, kadang aku bingung juga. Semenjak ada perombakan kabinet seperti aku ceritakan di jurnal Juragan Dapur, anak-anak suka ngumpetin cemilan, gula atau kopi dari dapur buat stok malem takut kehabisan. Aku ga bisa menyalahkan orang aku juga butuh kopi untuk teman begadang.

Nah kemarin, dari ruang server terdengar suara ayam. Di situ memang banyak ayam milik salah satu keluarga bos. Katanya sayang limbah dapur dibuang begitu saja makanya trus bikin kandang ayam dan kelinci. Yang punya sih entah dimana dan kayaknya ga mikirin berapa banyak ayamnya sekarang. Makanya warga mess suka kepikiran nangkep satu buat iseng bakar-bakaran.

Waktu aku cek ke ruangan, ada ayam jago muda dalam dus bekas mie instan. Sialnya saat itu rombongan bos dari Jakarta nongol. Biarpun ngumpetin ayam beda kasus dengan ngumpetin gula kopi, aku mana mau mengorbankan anak buah. Bilang ada ayam nyelonong ke ruang server yang selalu tertutup mana percaya mereka. Apalagi tahu kalo ayamnya diikat tali rafia. Aku bilang saja, "mau minta ibu dapur bikin sop untuk makan malam bos..."

Alhamdulillah percaya. 
Namun ada tapinya. "Tau rombongan segini banyak lu tangkep ayam cuma satu..."

Jadilah aku ketiban sial harus nguber-uber ayam di belakang mess sambil mikir, "siapa yang punya dosa sampai aku harus begini..."

Padahal suer, aku ga begitu doyan daging ayam...

Read More

Kamu Bebek


#Semua Umur

Ada temen yang balas komen berbau komplen gara-gara aku sebut bu. "Aku masih abg, belum ibu-ibu..."

Ya mana aku tahu orang belum kenal deket. Lagian di blognya ga pajang foto diri. Lihat foto profil gambarnya kartun. Aku berani nebak itu cewek karena jurnalnya tentang jalan-jalan dan belanja. Jarang kan, cowok cerita soal belanjaan.

Soal panggilan ke temen, aku memang suka sembarangan tergantung apa yang melintas di benak. Namun dari sekian banyak sebutan, aku ga suka banget pakai kata kamu. Kesannya anjrit anjrit gimana. Daripada bilang kamu, aku lebih seneng sebut namanya langsung. Pake istilah anda juga ga pernah. Ga asik terlalu formal. 

Balik ke soal panggilan bu...
Dengan teman-teman yang sudah akrab, entah gimana awalnya aku sering nyebut sebagai ibue anu. Mungin kebawa kebiasaanku yang lebih suka istilah ibue Citra ketimbang istri. 

Lingkungan juga mendukung kebiasaan tersebut. Di Kotagede aku termasuk warga anyar yang baru dua tahun tinggal disana. Tetangga satu komplek ternyata banyak tidak tahu namaku. Ketauan pas ada temen yang nanya rumahku ke tetangga. Yang ditanya malah bingung dan bilang ga kenal. Begitu bilang "yang anaknya bernama Citra" langsung semuanya paduan suara, "ooo itu yang dekat belokan..."

Di kompleks aku lebih dikenal sebagai bapakne Citra, mungkin karma dari dosaku dimasa lalu. Soalnya jaman sekolah, aku suka manggil temen dengan nama bapaknya.

Menyebut teman akrab berkelamin beda dengan membawa nama anak kayaknya lebih nyaman buatku. Terasa akrab dan relatif bebas dari konotasi miring. Aku kalo komen suka sembarangan soalnya. Dengan yang bersangkutan ga ada apa-apa, orang lain yang melihat malah mikir yang enggak enggak. Coba bandingkan rasa dalam hati saat baca komen, "waaa ibue nana, apa kabar..?" dengan "waaa ria, apa kabar..?"

Contoh lain pernah ada temen yang nanya ada apa antara aku dengan si Cemutz. 
Ternyata dia sering merhatiin kalo aku suka manggil Cemutz,  "beb..." 
Padahal suer, aku sebut beb karena memang aku suka manggil dia bebek. 
Salah sendiri bikin blog dikasih judul Kandang Bebek...

Apalah artinya sebuah nama
Gitu aja kok respost...

image credit to kaskus



Read More

RIP Tubi

#Bimbingan orang Tua

Jakarta, awal Juni 2008...
Aku dipanggil ke ruangan bos. Beliau yang gemar menggambar membeberkan cita-citanya memiliki sebuah galeri lukisan. Aku yang waktu itu jadi teknisi komputer diminta ke Jogja membantu persiapannya agar bisa launching bareng hari kemerdekaan RI. Beneran tugas berat mengingat bakal galeri itu adalah lahan kosong bersemak ditambah bangunan hancur sisa gempa.

Kirain cuma bantu pekerjaan fisik instalasi kabel dan sejenisnya. Ternyata persiapan pameran juga harus ikut. Dua bulan adalah waktu yang teramat pendek untuk orang teknik harus belajar seni. Apalagi bos punya ambisi membawa pelukis-pelukis papan atas di pameran pembukaannya. Sesuatu yang lumayan berat untuk galeri baru mengingat mereka lebih selektif dalam memilih tempat memamerkan karyanya.

Dengan segala kekurangan disana-sini, target bisa aku capai. Aku sudah bisa bernafas lega dan bersiap angkat ransel kembali ke Jakarta. Namun ransel yang baru aku packing harus dibongkar lagi setelah bos nelpon minta aku bantu staf lokal sampai manajemen dan marketingnya jalan.

Beberapa pameran berlalu. Even makin ramai dan penjualan juga meningkat. Namun bertahan beberapa bulan di Jogja membuatku enggan kembali ke ibu kota. Aura Jogjakarta terasa lebih menarik ketimbang aurat Jakarta. Kabar baik yang sebenarnya buruk membantuku. Manager lokal dianggap tak mampu mengelola galeri dan pilih keluar. Semua bebannya aku tangani walau tanpa pengangkatan resmi. Wacana jadi orang Betawi pun terhapus dengan sendirinya dari catatan.

Mengejar setoran 16 jam kerja sehari

Jogjakarta, dua tahun berlalu...
Begitu banyak suka duka berkumpul disana. Terlebih saat pasar lukisan mulai lesu di akhir 2009. Goyang kanan goyang kiri untuk bisa bertahan membutuhkan kesadaran dan kesabaran yang tiada habisnya.

Pasukan tukang impor dari Tegal

Menyingkronkan pola bisnis profesional dengan pola hidup seniman juga butuh kemampuan yang tidak ada di sekolahan. Jam kerja tidak menentu. Nelpon seniman di bawah jam 12 siang jangan harap selalu diangkat. Tapi kalo jam 2 malam sekalian malah bisa ketemu.

Toast... es teh manis

Melayani kolektor bukanlah hal mudah. Apalagi kalo tamu dari luar negeri. Minta diantar cari hiburan malam sudah jadi langganan. Untung punya istri setia yang mau ikut kemana-mana. Bisa dijadikan alasan untuk menolak secara halus kalo mereka sudah ngajak minum lebih dari sekedar bir. Ibue juga membantu banget jadi penerjemah, mengingat kebanyakan kolektor dari seputaran China yang ngomongnya Mandarin. Sangat berguna mengingat kemampuan bahasa mandarinku tak pernah lebih dari kata wo aini dan ni homo doang...

Di penghujung lelah...

Sampai akhirnya Citra lahir ke dunia. Saat itu aku mulai berpikir untuk meninggalkan galeri, walau secara finansial enak. Ga enak gimana hidup di Jogja tapi gaji standar Jakarta. Ditambah dari seniman yang suka ngasih angpao saat lukisan mereka laku.

Potong tumpeng...

Namun hidup kan bukan sekedar uang. Teramat banyak sisi lain yang harus dipikirkan. Misalnya acara menemani tamu jalan malam. Tak mungkin aku ajak ibue jadi translater lagi setelah punya bayi. Maksa jalan sendiri modal bahasa tarzan mungkin bisa. Tapi aku kan harus memikirkan juga perasaan yang di rumah. Biarpun ibue percaya kepadaku, yakinkah kalo dalam hati kecilnya tidak ada pertanyaan, "ikutan ngejablay enggak, ya..?"

Ruang pameran

Lagi mikirin itu, dewa penolong kembali datang. Ada masalah dengan manajemen Jakarta yang sebenarnya sepele. Tapi karena sudah niat cabut, tak perlu banyak cingcong aku cuma jawab telpon bos dengan kata, "siap bos, aku keluar kerja.."

Art shop

Tamianglayang, kemarin sore...
Ibue Citra sms katanya habis lewat galeri dan kondisinya kosong melompong. Tanya ke staf yang terakhir aku kesana masih bertahan, katanya memang ditutup pertengahan agustus lalu. Sempat aku tercenung agak lama mendengar berita itu. Begitu banyak kenangan disana. Bahkan sampe sekarang KTP ku masih numpang alamat belum sempat urus surat pindah.

Art space

Dua bulan aku persiapkan, dua tahun aku numpang hidup dan ternyata butuh waktu dua tahun pula sampai aku mendengar berita dukanya. Aku memang tak percaya numerologi seperti kata ibue Valeska yang mengatakan angka 4 merupakan angka sial karena dalam bahasa China "si" juga berarti mati.

Staf artspace

Tapi tetap saja aku pernah heran dengan faktor numerologi kebetulan yang menyelimuti galeri itu. Jauh sebelum pergi ke Jakarta, aku sudah pake nomor hape berbuntut 777. Mendarat di Jogja aku suruh tukang beli hape flexi dan dapat nomor 6561777. Besoknya baru aku tahu kalo alamatnya di Jl. Sukonandi no 7. Telpon Telkom yang lama dicabut aku aktifkan lagi, ternyata nomornya 545577. Pasang satu line lagi untuk fax dikasih nomor 583377.

Saat galaw melanda

Entah masih kebetulan apa bukan, yang jelas si bos kemudian ngasih nama galerinya sebagai Tujuh Bintang Art Space. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, si bos punya nama Sapto alias tujuh. Makanya aku jadi suka mikir kalo ada yang menganggap aku masih saudara si bos. Jangan-jangan karena aku dan bos memang mirip bagaikan pinang dibelah tujuh. Sayang si bos kebagian kerennya aku kebagian ancurnya...


Tujuh Bintang Art Space Jogjakarta
Takkan hilang dalam kenangan
Rest in peace
Sayonara
Hiks..




Mohon maaf bila loadingnya berat kebanyakan gambar
Edisi penuh kenangan soalnya...


Read More

01 September 2012

Juragan Dapur

#Bimbingan Orang Tua

Masih berkaitan dengan apa yang aku ceritakan dalam jurnal Perang Saudara. Bulan puasa kemarin, terjadi kudeta kekuasaan dalam hal pengelolaan ransum karyawan. Melihat siapa yang jadi pemenang, aku sudah langsung berfirasat buruk yang ternyata benar. Terjadi perombakan tata cara dan susunan menu dengan tujuan akhir pemangkasan anggaran besar-besaran.

Waktu masih puasa efeknya tidak begitu terasa. Begitu lebaran lewat, kericuhan mulai terjadi. Niat berhemat memang keturutan, karena sebagian karyawan jadi enggan makan siang di kantin. Bagian HRD jadi kalangkabut. Biasanya jam 1 siang karyawan sudah kembali bekerja, sekarang bisa molor gara-gara sebagian orang memilih pulang atau makan di luar. Lalu orang dapur yang bingung banyak makanan terbuang karena kantin sepi pengunjung.

Untuk karyawan lokal mungkin tidak terlalu bermasalah. Soalnya mereka cuma dapat jatah makan siang doang. Buat karyawan penempatan yang tinggal di mess dan dapat jatah makan 3 kali kaya aku, beneran jadi pusing dengan menu yang ala kadarnya itu itu saja. Seperti saat ibu dapur kelabakan jatah gula yang semula 10 kilo perhari cuma dikasih 4 kilo. Biasa ngopi saat melek malem tentu terasa banget efek kelangkaan ini. 

Protes secara frontal bisa fatal mengingat aku tidak punya backing. Paling banter aku suka komplen setengah becanda. Aku bilang saja ke bos logistik baru itu, "bu, beliin cermin dong..."
"Buat apa..? Kaya cewek aja suka ngaca, lo..."
"Habisnya di dapur cuma ada kopi doang ga ada gula.."
"Apa hubungannya..?"
"Kalo ngopi aku mau sambil ngaca biar terasa manis..."
#Haaah..?

Perombakan kabinetnya memang lumayan gegap gempita. Menu dirubah sesuai selera dia. Begitu semangatnya sampai turun tangan ikut masak di dapur. Celakanya dia hobi banget dengan yang namanya cabe. Padahal aku paling anti pedes. Jadinya setiap jam makan aku dihadang dilema cinta, antara pilih kelaparan atau mules-mules.

Hal ini juga sempat aku komplen. Masih dengan gaya bahasa yang diamplas biar ga terkesan anarkis.
"Bu, kalo ke pasar bisa titip belikan pempers gak..?"
"Buat apa kaya anak kecil saja kamu..?"
"Ya habis ibu masaknya pedes mulu. Daripada aku ga bisa kerja kudu bolak balik ke wc terus, kan mending pakai pempers..."
#Haaah..?

Kayaknya akibat keseringan aku gituin, tadi pagi si ibu berbaik hati beliin aku sesisir pisang. Aku pikir dia mulai insyaf dan berniat memperbaiki gizi mengingat aku dah lama banget ga pernah nemu buah di meja makan. Dengan senang hati aku ucapkan terima kasih sambil bilang, "tumben ibu baik..."

Entah becanda atau tersinggung aku keceplosan bilang tumben, si ibu sambil ngeloyor jawab gini. "Tadi saya di pasar lihat pisang jadi inget kamu. Kamu shio monyet kan..?"
#Haaah..?

Kali ini gantian aku yang melongo...
Sungguh therhlahlu...




Read More

Perang Saudara


#Bimbingan Orang Tua

Salah satu hal yang menyebalkan ketika kerja di perusahaan keluarga adalah perang saudara. Entah itu kakak, adik atau sekedar keponakan owner seringkali bersaing menjadi yang paling unggul di mata bos. Mending kalo bersaing sehat dengan cara menunjukan kinerja profesionalnya. Bila yang terjadi adalah saling menjatuhkan, siapa lagi yang jadi korban kalo bukan karyawan.

Karyawan seringkali terpecah belah ikut salah satu kubu agar punya backing saat terjadi masalah. Aku yang tak pernah mau larut dalam perseteruan itu cuma nyengir ketika mereka mulai menebar provokasi. Namun jangan anggap berusaha netral itu enak. Tidak punya sponsor dari pihak keluarga besar sama artinya tidak punya pembela. Makanya suka dijadikan kambing hitam oleh salah satu atau beberapa pihak.

Memang tidak semuanya begitu. Ada juga saudara bos yang berpendidikan dan mengerti pola kerja profesional. Tipe ini yang suka membantuku menghadapi bos saat aku dijadikan kambing kurban. Mereka juga sering mengeluh akan perilaku saudara-saudaranya yang suka mengacak-acak sistem dan struktur organisasi perusahaan. Namun dalam beberapa hal, tetap saja mereka lebih pro ke keluarga besarnya.

Bos besar sendiri secara umum orangnya baik dan merakyat. Setiap datang ke site, sementara rombongan penggembira tidur di hotel, beliau selalu pilih tidur di mess. Ikut makan dan nongkrong bareng karyawan rendahan seperti aku. Akibatnya aku selalu ditempatkan dalam dilema. Ketika kabur tak tahan dengan suasana kerja yang memanas, aku bisa luluh dan balik lagi hanya dengan pertanyaan, "kamu sudah tidak mau bantu saya lagi..?"
#Hmmm...

Disisi lain, aku beruntung bisa membentuk tim solid dengan anggota unit kerjaku. Sehingga saat dijadikan korban pelengkap penderita, tim IT kompak mogok bareng. Matiin saja router atau salah satu server lalu jalan-jalan ke kota menunggu kegiatan perusahaan terganggu. Biasanya big bos langsung manggil sehingga aku bisa menyampaikan masalah sebenarnya. 

Sayangnya status rakyat kecil memang sulit untuk memperoleh keadilan. Penyelesaian yang paling menyebalkan adalah ketika owner menjawab, "ya memang kamu gak salah. Tapi bagaimanapun juga dia kan abang gua..."
#Prekkk...

Pernah dalam satu kesempatan aku santai berdua dengan big bos. Pelan-pelan aku mecari kata yang tepat untuk menyingkirkan keluarga yang rese dari site. Karena ga mungkin frontal, aku pilih gaya bahasa yang paling halus. "Bos, pak itu kan sudah tua. Kasihan kalo ditempatkan di hutan seperti ini. Apa ga sebaiknya ditarik ke Jakarta saja biar lebih nyaman..."

Eh, malah dijawab gini. "Dia sengaja gua taruh di Kalimantan karena gua jadi pusing kalo dia di Jakarta, tau..?"
#Woekkk...

Kepiye jal..?




Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena