#Bimbingan Orang Tua
Desember kelabu untuk warga hutan...
Biasanya bulan-bulan segini merupakan masanya pesta buah gratisan. Entah kenapa kali ini pohon-pohon di hutan ngambek ga ada yang berbuah.
Padahal di sini buahnya asik-asik dan banyak yang tak pernah aku temukan di Jawa. Duren saja ada bermacam-macam bentuk, aroma, warna dan rasa. Ada sih nama lokalnya. Tapi males repot, aku sebut saja semuanya dengan satu kata, duren.
Yang agak repot justru membedakan daerah sasaran penjarahannya. Batasan antara hutan beneran dengan hutan milik warga lumayan susah.
Ini terkait dengan tradisi lokal tentang kepemilikan tanah. Misalkan dulu nenek moyangnya pernah bikin ladang atau tinggal disitu, biarpun sudah ditinggalkan puluhan tahun dan kembali jadi hutan, secara adat tanah tersebut milik keluarga atau ahli warisnya.
Secara adat saja
Secara administrasi tetap dianggap hutan negara. Namun pemerintah mengakui kepemilikan itu dengan status hak guna pakai dan bukan hak milik. Dasarnya hanya Surat Kepemilikan Tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Desa.
Biar ga salah masuk ke tanah orang, aku selalu ajak teman dari warga setempat. Itu pun tak menjamin akurat.
Tahun lalu teman bilang di tanah keluarga dia banyak duren dan cempedak yang berbuah. Semangat 45 dong manjat bawa karung.
Baru saja nangkring di dahan, entah darimana nongolnya tau-tau ada orang teriak-teriak pake bahasa yang susah dimengerti. Teman yang nunggu di bawah bukannya bantu nerjemahin malah ngacir duluan. Acara selanjutnya ya terjun bebas dan ikutan kabur.
Sampe mess buruan tuh temen diinterogasi
"Tadi yang teriak-teriak orang gila ya..?"
"Bukan, pak. Dia teriakin kita maling nyolong buah dia..."
"Eh, lu bilang itu tanah keluarga elu..?"
"Kayaknya sih iya, pak. Tapi ga tau juga sih. Makanya saya lari..."
#Monyong...































