21 Agustus 2012

Tidak Pulang


#Bimbingan Orang Tua

Masih ada saja yang menanyakan, kayak apa sih rasanya lebaran jauh dari keluarga..?

Buat sebagian teman mungkin luar biasa. Tapi buatku tak lagi terlalu aneh. Pertama mengalami sekitar duapuluh tahun lalu waktu aku masih gabung di sar bhara. Lebaran lebih banyak kujalani di jalanan bergabung dengan pos operasi ketupat polri. 

Awalnya sih berniat pulang, toh ini tugas sukarela yang ga gajian. Namun melihat tingginya angka kecelakaan yang terjadi sementara kebanyakan petugas dan relawan bolos di hari H, rasanya tak tega juga. Jadilah bertahun-tahun aku baru pulang beberapa hari selewat lebaran, setelah pasukan di pos kembali lengkap.

Waktu kerja di PLN dan Telkom, ndilalah lebih sering di unit kerja perbaikan gangguan. Namanya hidup di kota kecil, hubungan dengan pelanggan sudah seperti teman baik yang akrab. Pelanggan ada masalah kadang tidak laporan ke kantor, tapi lebih suka titip pesan atau nyamperin ke karyawan. Memang pernah aku berdalih lagi lebaran dan akan diperbaiki besok. Namun aku suka luluh kalo sudah dengar, "justru itu, mas. Masa lagi lebaran rumah saya gelap-gelapan.."

Enak ga enak kembali ke bagaimana kita menyikapinya. Aku lebih suka melihat nilai lebihnya. Seperti sekarang, setiap cuti pasti harus pulang kampung atau jalan-jalan. Keluar kota di masa lebaran sangatlah tidak mengenakkan. Di mana-mana macet, serba ngantri dan pengeluaran relatif membutuhkan dana ekstra.

Urusan sungkem kan ada telpon. Silaturahmi tidak semestinya hanya dijadikan wacana saat lebaran saja. Lebaran hanya dua hari sementara kita menjadi makhluk sosial selama 365 hari dalam setahun. Lagian situasi lebaran saat ini sudah berbeda dengan waktu aku kecil dulu dimana sampai seminggu orang masih saja keliling kampung untuk bermaafan. Sekarang, hari kedua kebanyakan sudah pada sibuk pelesiran ke tempat wisata.

Satu-satunya alasan yang masih agak relevan adalah kesempatan berkumpulnya keluarga besar yang terpencar ke segala penjuru. Berkunjung ke saudara jauh bisa aku lakukan di hari lain. Namun seluruh keluarga bisa ngumpul itu sangat susah. Memang ada kesempatan lain saat ada saudara yang hajatan. Namun sayangnya, orang Jawa suka banget ngawinin anaknya di bulan syawal.

Semua itu hanya masalah menyikapi keadaan biar ga terlalu sedih. Bukan tentang suka atau tidak suka. Aku suka banget dengan lebaran kok. Minimal karena di bulan ini ada yang namanya THR.

Yang non muslim juga pada suka. Buktinya mess sampai kosong penghuni padahal sebagian warganya bukan muslim. Satu-satunya orang yang ga suka lebaran cuma juragan bokep sebelah kamar. Kalo lagi cerita tentang jablay, dia suka ngomong pake logat Batak, "tidak suka lebaran, enak yang sempitan..."
Halah...

Sabar ya, nak..
Bulan depan ayah pulang...









Read More

19 Agustus 2012

Banjir SMS

#Semua Umur

Tidak ada suasana berbeda di sini. Sepanjang malam harus bolak-balik ke rumah genset yang sejak sore ngadat mulu. Tak ada sedikitpun aura malam takbir selain diisi suara serangga hutan dan gerimis kecil. Alhasil, lebaran kali ini diawali dengan acara bangun siang.

Ngintip meja makan, menu masih sama seperti biasanya, indosiar forever. Mau mandi rasanya males, udara masih saja terasa dingin. Jadilah acara lebaran cuma ngeringkuk di bawah selimut sambil sesekali nengok hape yang sejak sore kebanjiran sms. Cuma dilihat pengirimnya doang lalu tutup lagi.

Aku memang tak pernah kirim sms-sms semacam itu. Balas sms juga engga. Rasanya ada yang kurang pas dengan sms lebaran masal. Buatku, makna terpenting dari kata maaf adalah ketulusan hati dan nilai tindakannya. Tak aku temukan nilai itu ketika aku cuma nyomot kata-kata puitis dari internet atau cuma forward sms masuk lalu pencet send all. Satu klik, musnah segala dosa selama setahun ke semua nama yang tercantum dalam phone book. Semudah itukah..?

Jaman instan tak selamanya harus dijalani secara instan, karena menurutku basa-basi jarang bisa menyentuh hati. Walau panas setahun bisa pupus oleh hujan sehari, pantaskah berbuat salah setahun hanya dimohonkan ampunannya saat lebaran saja..?

Untuk orang-orang terdekat, aku sudah nelpon kemarin sore. Sengaja dilakukan kemarin, takut hari ini jaringan telepon kelebihan beban. Mungkin ada yang komentar, boros dong kalo nelpon sana sini. Justru disitulah nilai ketulusan Idul Fitri bisa sedikit diwujudkan. Apalah artinya meluangkan waktu barang 5 menit dan isi pulsa 300 ribu setahun sekali untuk orang-orang tersayang.

Maaf kalo ada yang kurang sependapat. Aku lagi cerita pengalaman dan pendapat pribadi kok. Bukan lagi menghujat pola pikir orang lain. Pokoknya minal aidzin walfaidzin, deh...

Eh, ga semua sms aku cuekin ding...
Sms lebaran dari ibue Citra sempat aku balas
Beneran bikin terharu dan kebelet pulang
Isi smsnya gini, "mohon nafkah lahir batin..."
#Koplak...


Read More

18 Agustus 2012

Barang Tuhan Bagi Rata


#Semua Umur

Selama ini bila mendengar kata batubara, orang akan mengatakan duit yang ga ada serinya. Anggapan semacam itu membuat banyak orang beramai-ramai memasuki bisnis batubara. Dari yang bermodal kuat buka produksi sampai makelar modal dengkul yang tak jarang berakhir penipuan. Tak kurang-kurang kalangan selebriti juga banyak yang ikut terjun. Belum lagi di lapangan, Mulai dari bos alat berat sampai kelas preman kampung ikut berebut. Tak salah kalo ada yang mengatakan batubara merupakan akronim dari barang tuhan bagi rata.

Tapi namanya roda dunia selalu berputar mengikuti hukum ekonomi. Ketika semua orang ikut menggali tanpa kendali, semenjak awal tahun harga batubara semakin menurun. Dari harga 120 USD per ton tahun lalu, kini sudah menyentuh angka 80 USD.

Produksi batubara nasional 3 bulan pertama tahun ini mencapai 102 juta ton lebih. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 90 juta ton. Di perusahaan tempatku bekerja saja, 3 bulan lalu produksi sudah melewati angka 300 ribu ton perbulan dari angka 50 ribu ton di tahun sebelumnya. 

Dampaknya lumayan hebat. Batubara menumpuk di stockpile karena bila maksa dijual harganya sudah dibawah biaya produksi. Aktifitas tambang mulai diturunkan, bahkan dihentikan sama sekali. Nasib ribuan karyawan dari ratusan perusahaan tambang tergantung kekuatan modal perusahaan. Sudah banyak perusahaan tambang yang merumahkan sebagian karyawannya.

Semua ini mungkin hanya sementara. Namun kuharap bisa sedikit membuka mata hati pengusaha dan penguasa. Setiap hari jutaan ton batu bara diangkat dari perut bumi Kalimantan. Namun pengembalian ke masyarakat lokal teramat minim. Pembangunan tidak merata, listrik byarpet, BBM susah didapat dan infrastruktur lainnya teramat mengenaskan bila dibandingkan dengan pulau Jawa.

Tak terbayangkan apa jadinya dengan Kalimantan bila batubara sudah habis dikeruk. Jika saat masih menghasilkan duit saja kehidupannya serba susah. Mengherankan sekali bila kita tak bisa berkaca kepada China yang memiliki cadangan batubara terbesar nomor 3 di dunia. China tak mau menggali batubaranya sendiri dan lebih suka beli ke Indonesia yang cadangan batubaranya hanya di urutan ke 16.

Demi keuntungan jangka pendek kita mau saja dipaksa secara halus untuk menjual murah batubara kita ke China. Kepikiran tidak bila suatu saat cadangan kita habis dan bisnis batubara dikuasai Amerika, Rusia dan China. Apa mungkin kita bisa beli dengan harga murah bila mereka sudah jadi pemain monopoli..?

Aku pikir ada baiknya juga bila perusahaan batubara banyak yang gulung tikar. Tak masalah aku harus pulang kampung daripada miris melihat kehidupan masyarakat lokal pemilik kekayaan sebenarnya hidup apa adanya. Sementara juragan-juragan tambang hidup mewah di Jakarta.

Kapan penguasa negeri ini menyadari semua ketimpangan itu..?



Read More

17 Agustus 2012

Mulai Bandel

#Semua Umur

Sepertinya ada yang keliru dalam prakiraan cuaca. Dulu ibue begitu sering laporan via telpon kalo anak lanang kesayangannya sering diisengin kakaknya. Baru saja merem, sudah dibangunin. Atau kalo lagi nonton sondesip, adiknya dinaikin dan disuruh mengembek. Tapi yang jadi korban cuma senyam senyum doang seolah tidak merasa teraniaya. Sehingga ibue suka kasih kesimpulan kalo si Ncit sukanya pecicilan kaya bapaknya dan Ncip kalem kaya ibue seperti aku ceritain di jurnal Anak Ayah. Halah...

Satu dua bulan belakangan ini ceritanya berbeda. Ibue lebih sering curhat soal Cipta ketimbang kakaknya. Katanya Ncip sudah ga sepenuhnya jadi anak ibu yang kalem dan mulai bandel seperti bapaknya. Kalo nenen bisa berjam-jam ga mau copot sampai ibue susah ngerjain yang lain. Udah gitu ga mau diam kebanyakan gaya. Suer, aku baru denger ada bayi netek bentar-bentar ganti posisi. Telentang, tengkurep, nungging dll dll

Citra yang dulu jadi jagoan kini mulai digangguin. Bisa jadi ada dendam terpendam dan sekarang posisi dibalik. Lagi nonton sondesip pake proyektor, CPUnya dimatiin. Pindah ke laptop ibue, monitornya ditutup atau modemnya dicabut trus didudukin.

Apa-apa ga mau gantian. Ncit main apa suka direbut. Topi, buku, pensil sampai dot juga diminta. Kalo dikasihin ya terus digeletakin dan ngrebut mainan lain yang lagi dipegang kakaknya. Dibelikan dua biji juga percuma karena niatnya memang gangguin doang. Untung Ncit rada sabar mau mengalah ke adiknya. Tapi kalo udah bete digangguin terus, tetap saja keluar juteknya. Terakhir waktu nelpon ke rumah kemarin sore, si Ncip lagi mewek katanya jenongnya digetok kaleng susu gara-gara gangguin mulu.

Rebutan topi

Hobi ngeluyur dan ga betah di rumah juga mulai kelihatan. Asal pintu terbuka, langsung nyusul mbaknya keluar rumah dan ikutan manjat pagar. Ibue meleng dikit, kompakan deh berdua main di jalan ngemut kerikil atau ngacak-acak tempat sampah. Paling susah kalo diajak kemana-mana. Bisa cape ibue ngejar-ngejar mereka. Untung ibue cerdas sampai dapat ide satu kereta dorong dipake berdua.

Setroli berdua

Kondisi dalam rumah jangan tanya lagi. Pokoknya kapal pecah juga kalah berantakannya. Ibue lagi beres-beres ruang tamu, kamar diacak-acak. Kamar tidur diberesin, gantian kamar mandi disatronin sabun sampo dll masuk bak semua. Dalam urusan ngerjain ibue berantakin rumah saja mereka bisa akur ga pake berantem.

Tapi ada juga sih masanya mereka ga nakal. Kalo si Ncit antengnya saat nonton sondesip, si Ncip beda lagi. Dia kalemnya kalo ibue lagi nyuci. Entah nurun dari siapa ada bayi punya hobi nonton mesin cuci.

Apa yang anda pikirkan..?

Jangan nakal mulu ya, nak...
Bulan depan ayah pulang...

Read More

16 Agustus 2012

Seting Domain DotCom di Blogger

#Semua Umur

Penggusuran Blogger Multiply memang menyakitkan bagi MPers. Namun selalu ada hikmah dibalik musibah. Paling tidak ada dua hal positif yang aku rasakan. Pertama, MPers yang sekian lama meninggalkan dunia blog pasca serangan pesbuk kembali aktif ngeblog. Mereka sibuk angkat junjung perabotan di Multiply ke rumah baru atau ke rumah yang semula jadi rumah kedua. Kuharap ini bisa berlanjut dan tak sekedar euforia sesaat yang kembali surut beberapa waktu kedepan.

Hikmah kedua, beberapa pengungsi yang kembali mengatakan akan menggunakan label dotcom dengan berbagai motivasi. Ada yang merasa sakit hati nebeng di hosting gratisan dan takut tergusur lagi seperti di multiply. Ada pula yang beralasan biar keren tidak pakai domain gratisan lagi. Ada lagi yang tertarik pengen punya alamat email sendiri biar ga nebeng ke yahoo atau gmail.

Tipe pertama biasanya sewa domain berikut hostingnya untuk aplut mesin wordpress. Tipe kedua memilih bayar domain saja dan hosting di blogger. Mereka percaya perusahaan sekelas google tidak akan berbuat neko-neko seperti multipy. Apalagi blogspot adalah pionir di dunia blog.

Sudah dua malam ada saja teman yang gagal nyeting domain berbayar di blogger minta bantuan lewat chat. Mereka mengikuti panduan di jurnal lamaku berjudul Pasang Domain .com di Blogger tapi malah jadi bingung. Baru aku ingat kalo tampilan di Masterweb dan Blogger sekarang berbeda dengan waktu aku posting itu 4 tahun lalu.

Untuk teman-teman yang berminat mendotcomkan bloggernya, caranya adalah sebagai berikut :

  • Pastinya sudah punya blog di blogger.

  • Cek dulu nama domain yang diinginkan sudah ada yang pakai atau belum. Mengenai nama ini tidak terbatas pada dotcom saja. Tak masalah pakai TLD lain seperti dotnet, dotbiz atau yang paling murah tarifnya yaitu .web.id Yang penting jangan pilih domain gratisan atau yang dibenci banyak provider seperti .tk atau .co.cc
  • Pesan domain yang dimaksud dan lakukan pembayaran melalui transfer bank. Aku sendiri daftar domain di Masterweb. Silakan klik link tersebut untuk mengecek dan memesan domain yang dimaksud. Jangan lupa minta fasilitas spanel. Bisa juga pake cpanel, tapi aku rekomendasikan spanel saja biar lebih simpel pengaturannya.
  • Setelah proses pendaftaran selesai, silakan login ke spanel menggunakan username dan password yang diberikan pihak masterweb. Spanel bisa diakses di alamat domain.com/spanel (contoh : rawins.com/spanel)
  • Setelah masuk, klik Domain - Kelola Domain & DNS - namadomain - Sunting DNS.



  • Tambahkan CNAME yaitu nama yang akan dipergunakan. Domain utama saat ini tidak bisa dipergunakan di blogger dan harus pakai subdomain. Itulah sebabnya kenapa aku gunakan nama blog.rawins.com karena rawins.com saja tidak diperkenankan. Bila ingin menggunakan domain utama, berarti harus menggunakan www. Masukan www atau nama lain yang diinginkan di bagian Host menu Tambah CNAME dan di bagian Nama Asli isi dengan ghs.google.com



  • Klik tombol Tambah Record CNAME dan jangan lupa klik tombol Selesai agar perubahan tersimpan di server. Sampai disini proses di Masterweb sudah selesai. Tapi harus diingat bahwa cache server membutuhkan waktu sebelum perubahannya bisa terdata di DNS. Waktu tunggunya tergantung tingkat kesibukan server. Bisa beberapa menit bisa juga sampai sehari.


  • Pindah ke blogger. Buka dashboard dan klik setting.




  • Di bagian basic, lihat di publishing. Klik edit yang ada di sebelah kanan nama blog.



  • Pada advanched setting masukan nama yang sudah diseting di masterweb tadi, misalnya blog.rawins.com. Klik simpan dan seting sudah selesai.



Sabar sedikit bila sementara blog tidak dapat diakses. Kecuali sudah sehari semalam masih saja muncul Not Found, silakan cek ulang kedua setingannya atau bisa hubungi aku siapa tahu bisa bantu.

Tidak begitu sulit dan biayanya juga relatif murah. Harga domain pertahun mulai 30 ribuan sampai 100 ribuan saja masa sih tidak mampu. Bukan semata-mata untuk keren-kerenan. Namun sebagai perhargaan terhadap diri sendiri. Untuk sesuatu yang nyata-nyata bermanfaat apa salahnya kita keluar duit sedikit biarpun bisa gratisan. Siapa tahu kalo merasa keluar uang, semangat ngeblog jadi terus membara dan tak mudah padam.

Silakan cek domain yang diinginkan di Masterweb
Semoga sukses belum ada yang ambil








Read More

Dua Kemenangan

#Segala Umur

Dua kemenangan datang hampir bersamaan. Peringatan atas kemerdekaan negeri ini dan perayaan kembali ke fitrah bagi yang menjalankan ibadah puasa. Dua ritual yang berlainan namun memiliki kemeriahan yang hampir sama gegap gempitanya walau berbeda tradisinya.

Perayaan agustusan yang resmi adalah upacara bendera dan mengenang detik-detik proklamasi. Diramaikan dengan berbagai acara lomba khas seperti panjat pinang, makan kelereng dan sebagainya. Kelompok kesenian dari yang tradisional sampai grup dangdut kebanjiran job.

Perayaan lebaran yang resmi adalah shalat ied dan saling bermaafan dengan sesama. Diramaikan dengan acara khas yaitu mudik dan piknik. Seniman juga sama kebanjiran job di bulan ini karena syawal katanya bulan baik untuk kawinan.

Agustusan tahun lalu di tambang

Secara logika ketika dua kemenangan besar disatukan, meriahnya bisa dua kali lipat. Tapi kali ini sepertinya tidak. Hiruk pikuk persiapan agustusan tak terlihat sama sekali. Waktu turun ke kota kemarin, boro-boro banyak yang pasang lampu hias. Orang bendera saja cuma terlihat satu dua.

Apalagi di tambang yang notabene terisolir dari peradaban. Di mess hanya tersisa beberapa orang karyawan yang tak diijinkan pulang kampung. Jangankan yang muslim, karyawan non muslim pun ikut ribut berpartisipasi dalam acara mudik. Pokoknya agustusan kali ini benar-benar tenggelam dalam euforia lebaran.

Agustusan tahun lalu di tambang

Berarti kemenangan lebaran yang unggul dong..?
Aku rasa tidak sepenuhnya. Walau mudik selalu dikaitkan dengan lebaran, aku tak melihat banyak kemenangan disana. Lihatlah ke sekeliling. Menjelang lebaran, sepertinya orang lebih mementingkan persiapan seremonial yang sebenarnya tak perlu ketimbang menyelesaikan ujian tahap akhirnya. Lulus ga lulus tidaklah dianggap penting. Pokoknya pulang kampung dan baju baru. Adakah yang bisa kasih data, berapa persen pemudik yang masih menjalankan puasa..?

Kesimpulannya..?
Hampir tidak ada kemenangan
Yang ada justru kekalahan kuadrat
Semoga tidak terlalu banyak yang seperti ini
Read More

15 Agustus 2012

Nonton Sepur

#Semua Umur

Mungkin sebagian orang akan mengatakan norak ketika aku bilang mau nonton sepur alias lihat kereta api. Sampai ada temen yang komen ndeso waktu aku aplut fotonya di pesbuk. Apapun komentarnya, begitulah kenyataannya. Setiap kali pulang cuti, acara nonton sepur tak pernah terlewatkan.

Mungkin sudah tertanam dalam pikiran sebagian besar warga Jogja bahwa refreshing adalah tentang suasana. Jadi dimana tempat bukan masalah yang penting nyaman dan bikin hati senang. Bisa jadi pemahaman semacam itu yang jadi salah satu alasan kenapa Jogja menjadi tempat tujuan wisata walau secara lokasi banyak yang biasa saja.

Kolong jalan layang Lempuyangan merupakan tempat favorit untuk nonton sepur. Setiap sore tempat itu rame pengunjung. Anak muda asik berdua-duaan di rel yang tidak terpakai. Anak-anak bermain gembira bersama teman sebaya. Orang tua asik ngobrol di angkringan dengan pengangkring lain.

Lokasi favorit lain adalah stasiun Purwosari. Mungkin ada yang bertanya, ngapain mau nonton sepur saja harus jauh-jauh ke Solo. Jawabannya kembali ke soal suasana. Jangankan cuma nonton dari pinggir rel deket rumah, orang nonton di stasiun Tugu atau Solo Balapan saja terasa kurang nendang.

Nongkrongers di pelataran stasiun Purwosari bahkan lebih meriah ketimbang Lempuyangan. Salah satu daya tariknya adalah sepur kluthuk Jaladara alias kereta uap wisata hasil kerjasama Pemkot Solo dengan PT KAI. Rasanya eksotis banget lihat kereta jadul masih bisa jalan di jaman modern kayak gini.

Fly over Lempuyangan

Nonton sepur itu murah meriah. Ga pelu bayar tiket, penat otak bisa terlepaskan. Beneran nyaman, pesen kopi 2000 perak bisa nongkrong bareng teman berjam-jam tanpa perlu takut diusir. Jangan anggap obrolan di angkringan itu cuma ngalor ngidul gak jelas doang. Tak jarang diskusi keren aku dengar disana.

Bandingkan dengan jalan ke mall. Anak-anak dilepas di time zone. Mengisi perut masuk ke mekdi. Hampir tidak ada orang ngobrol dengan orang lain. Dengan yang satu meja saja lebih banyak diselingi ngetik di gadget. Duit keluar banyak, semuanya memperkaya orang yang sudah kaya. Jajan di angkringan berarti berpartisipasi memberdayakan golongan ekonomi lemah.

Sepur Kluthuk Jaladara di stasiun Purwosari

Alasan itu juga yang menjadi latar belakang kenapa aku putuskan menetap di Jogja. Sebenarnya dulu aku cuma ditugaskan beberapa bulan saja untuk kemudian balik ke Jakarta. Gimana ga betah kalo biaya hidup lebih murah. Punya duit 20 ribu saja berani ajak cewek jalan. Nongkrong di alun-alun jajan jagung bakar dah cukup. Beda banget dengan di Jakarta. Di dompet nyisa 500 ribu, mikirnya agak panjang ketika cewek ngajak jalan-jalan minggu.

Tak salah kalo cewekku yang di Jakarta sampe benci kalo dengar ada yang ngomong Jogja. Gara-gara aku kesengsem Jogja, dia harus putus cinta dan patah hati. Salah sendiri ga mau diajak ke Jogja. Heheh...






Read More

14 Agustus 2012

Gedong Cilongkrang

#Semua Umur

Melanjutkan cerita tentang foto jadul tanah kelahiranku dari website KITLV.

Dari sekian banyak bangunan peninggalan Belanda yang kini kondisinya mengenaskan, masih ada satu yang terawat dan jadi rumah dinas sinder perkebunan PTPN. Sampai sekarang gedung itu masih kokoh sebagaimana layaknya bangunan Belanda.

Foto ini aku ambil saat lebaran tahun lalu

Masyarakat sekitar menyebut rumah itu sebagai Gedong. Waktu aku kecil bangunan di sekitar situ banyak sekali. Namun hanya rumah sinder itu yang disebut gedong. Mengapa bisa begitu tak jelas awal mulanya. 

Ada yang bilang kalo rumah itu lumayan angker. Banyak cerita tentang kolintang dari gedung sebelah suka bunyi sendiri di malam-malam tertentu. Penampakan hantu bule juga sering terdengar dari mulut ke mulut. Tapi itu cerita lalu. Sudah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman, aku tak lagi tahu riwayatnya kini.

Bouw van Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis

Tidak ada penjelasan kapan gedung itu dibangun. Dalam foto yang merupakan koleksi dari Rens-Holle, A.M. itu cuma disebutkan bahwa foto-fotonya diambil antara bulan 6-1921 sampai dengan 4-1927. Namun bila melihat tulisan dibawah atap, kemungkinan bangunan itu diresmikan pada tahun 1926.

Tak jelas apa maksudnya Annd Huize Emka 1926. Aku cari artinya di google, annd diartikan panas sepanjang tahun. Huize adalah rumah. Emka tak jelas apa maksudnya dan angka 1926 bisa jadi merupakan tahun pembangunan atau peresmiannya. Buat yang lihai bahasa Belanda mungkin berkenan bantu mencarikan maknanya.

Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis

Dari semua koleksi foto yang ada, semua keterangannya mengarah pada kata Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis. Memang ada kesalahan disini dimana lokasi sebenarnya adalah di desa Cilongkrang yang masuk kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Meluwung sendiri adalah desa tetangga yang berjarak 3 km dari situ. Mengapa dikatakan masuk Banjar, Ciamis, Jawa Barat, penjelasannya sudah aku tulis di jurnal Station Et Tjilongkrang.

Foto berikutnya berlabel Rubberproducten voor Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis. Disitu diperlihatkan semacam balon raksasa yang dikatakan sebagai produk dari perkebunan karet tersebut.

Rubberproducten voor Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis

Kita bisa lihat interiornya dalam foto berlabel Kamer, vermoedelijk in Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis. Kamer ini maksudnya ruang tamu dan bukan kamar tidur. Aku bisa mengenalinya dari bentuk pintu yang tertutup tirai. Waktu SD pernah kesitu ketika belajar bersama dengan anak pejabat perkebunan yang tinggal disitu. Satu satunya pintu berbentuk bulat hanya pintu depan sedangkan pintu ruangan lain bentuknya persegi sebagaimana lazimnya.

Kamer, vermoedelijk in Huize Emka van de Cultuur Maatschappij Meloewoeng te Bandjar bij Tjiamis

Melihat kenyataan ini, aku kembali bertanya-tanya kenapa gedung kuno lainnya dibiarkan hancur sementara gedong bisa bertahan. Kalo alasannya pemerintah tidak ada dana untuk memelihara semua bangunan lama, kan tidak salah kalo semua bangunan cagar budaya dimanfaatkan oleh pihak lain dengan syarat tidak merubah arsitekturnya. Daripada pemerintah membangun gedung baru untuk instansi pemerintahan misalnya, yang hanya baru wujudnya namun baru berapa tahun sudah rusak.

Ga tau kalo itu memang disengaja biar pejabatnya secara rutin dapat uang saku. Bila bangunannya awet kan jadi jarang dapat proyek. Tapi sudahlah, aku malah jadi berburuk sangka. Yang pasti aku suka sedih kalo melihat bangunan bersejarah dibiarkan mangkrak jadi rumah hantu.

Ket :
Semua foto jadul diatas merupakan milik KITLV



Read More

ATM Mumet

#Bimbingan Orang Tua

Satu hal yang menyebalkan jadi orang pedalaman adalah sulitnya mencari ATM. Butuh perjalanan panjang hanya untuk ambil duit yang tidak seberapa. Walau statusnya ibu kota kabupaten, yang ada hanya ATM BRI. Tak heran kalo antriannya suka mengular sampai ke pintu gerbang. Sudah gitu listrik sering banget mati. Atau koneksi internetnya putus. Tak jarang secara teknis mesin berfungsi normal tapi duitnya habis.

Biar urusan dapur tidak terganggu, untuk pembayaran gaji aku pakai rekening istri. Baru nanti ibue Citra transfer ke rekeningku untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Urusan makan minum sih aku ga begitu ribet karena semua tersedia di mess. Kebutuhan yang paling penting disini adalah sabun. Secara pekerjaan, aku kerja di tempat yang kotor berdebu atau berlumpur saat hujan. Secara biologis, jauh dari istri juga butuh untuk keperluan lain yang tak perlu diceritakan.

Bulan ini istri sudah transfer sejak awal bulan. Namun sampai tanggal segini aku belum juga bisa terima uangnya. Setiap ke ATM ada-ada saja masalahnya. Terakhir kemarin sore yang juga berakhir menyebalkan. Sudah antrinya panjang, setiap orang yang masuk ATM pasti lama banget baru keluar. Tebakanku sih internetnya lagi lelet sehingga prosesnya butuh waktu lebih panjang.

Saat masuk ATM baru ketahuan biang keroknya. Beberapa kali melakukan penarikan selalu mendapat pesan transaksi gagal. Kalo sudah begini bisa disimpulkan kalo duitnya habis. Pantesan orang pada berlama-lama didalam. Bisa jadi karena nyoba berkali-kali sebelum akhirnya menyerah.

Cuma herannya, tak satupun dari mereka yang bilang ke pengantri lain kalo ATM nya error. Ngomong dong, atau kasih tau satpam disitu biar tempel pengumuman. Mau gak mau aku jadi misuh misuh berburuk sangka bahwa keramahtamahan Nusantara sudah punah. Orang sudah tak lagi mau peduli ke orang lain. Yang ada hanya keinginan sama rata sama rasa. Dia sebel, orang lain juga harus merasakan yang sama.

Merasa tak mau masuk golongan orang-orang cuek, begitu keluar aku bilang kalo ATMnya error. Eh, sampe dua kali aku ngomong, pengantri berikutnya tetap maksa masuk. Orang-orang yang antri juga tetap damai berdiri tak ada yang terpengaruh.

Kenapa ya..?
Apa aku salah omong..?
Atau dianggap suara tanpa wujud..?

Bodo ah...
Gak lagi-lagi...


gambar dari kaskus




Read More

Station Te Tjilongkrang

#Semua Umur

Gara-gara nemu foto jadul secara tidak sengaja saat googling, sudah sejak lama aku jadi suka mengubek-ubek website-website Belanda yang banyak menyimpan koleksi serupa. Mencari-cari foto jaman kolonial yang tempatnya aku kenal untuk kemudian aku bandingkan dengan kondisi sekarang. Kalo pas kurang kerjaan, aku suka iseng-iseng mewarnai foto lecek itu agar kelihatan lebih asik.

Terlepas dari masa lalu Belanda selama 3 abad lebih di Nusantara, aku tetap berterima kasih ke negeri itu yang menyimpan begitu banyak jejak masa lalu negeri ini. Satu sisi mungkin miris dengan banyaknya artefak Nusantara yang diangkut ke Museum Leiden. Namun di lain sisi kita harus memahami kenyataan bahwa disana semua peninggalan leluhur kita terawat dengan baik. Bandingkan dengan pengelolaan oleh pemiliknya yang terkesan ala kadarnya. Begitu banyak museum yang lebih cocok dijadikan rumah hantu karena tak terawat. Boro-boro diurus, yang ada malah koleksinya dicuri oleh orang dalam dan dijual ke pasar gelap.

Kembali ke soal foto jadul
Sasaran utamaku untuk berburu adalah website Tropen Museum dan KITLV. Dan dari sekian banyak foto jadul yang aku comot dari sana, ada satu foto yang jadi favoritku yaitu Trein op het station te Tjilongkrang bij Tjiamis. Itu adalah foto Stasiun Cilongkrang yang ada di tanah kelahiranku.

Memang di situ dikatakan sebagai stasiun Cilongkrang di Ciamis, padahal lokasinya di Cilacap. Mungkin terbawa suasana jaman kolonial dimana perkebunan karet onderneming Cilongkrang, waktu itu segala urusannya banyak dilakukan melalui Banjar yang sebelum jadi Kota memang masuk kabupaten Ciamis. Misalnya urusan surat menyurat tidak ikut ke kantor pos Majenang tapi ke Banjar. Juga urusan telekomunikasi dimana kantor telpon disitu nyambungnya ke kantor telpon Banjar. Cerita lain tentang kampungku pernah aku tulis di jurnal Cilongkrang Riwayatmu Kini.

Trein op het station te Tjilongkrang bij Tjiamis koleksi KITLV

Aku yakin foto yang diperkirakan dibuat tahun 1921 - 1927 itu memang stasiun kereta api di kampungku. Memang di Ciamis ada daerah yang bernama Cilengkrang, tapi lokasinya tidak dekat jalur kereta api. Lagipula aku masih bisa mengenali bentuk stasiunnya, walau di sekitarnya masih tampak lengang tanpa ada bangunan lain. Aku juga yakin jalan tanah yang ada di depan stasiun merupakan jalan raya yang sekarang menjadi penghubung Banjar - Cilacap.

Benar-benar kenangan berharga dari masa keemasan kampungku dan masa kejayaan kereta api sebagai tulang punggung transportasi darat Bandung - Cilacap yang waktu itu menjadi pelabuhan utama di selatan Jawa. Lebih terasa berharga lagi setelah melihat kondisi stasiun Cilongkrang yang kini betul-betul tinggal kenangan. Benar benar menyedihkan sampai aku enggan menceritakannya. Lihat saja fotonya dan biarkan dia bicara lebih banyak tentang masa tuanya.

Riwayatmu kini...

Kapan kita bisa memulai belajar menghargai sejarah bangsa ini dengan sebenar-benarnya..?
Ada yang punya hobi atau kenangan serupa kah..?


Read More

Salam Pramuka..!


#Semua Umur

Sekian puluh tahun tak pernah mengenakan seragam coklat berdasi merah putih, namun setiap masuk tanggal 14 Agustus selalu saja ada sms masuk dari teman-teman seperjuangan di masa lalu. Kenangan lama yang membekas terlalu dalam sulit untuk dihilangkan oleh perputaran waktu.

Jujur waktu itu tak pernah terpikirkan apa manfaatnya ikut Gerakan Pramuka. Pertama gabung waktu SD tak lebih karena pemaksaan sepihak dari sekolahan. Setiap ada acara kemah di kecamatan pembina selalu memilih anak-anak yang dianggap mampu untuk berlomba. Karena tidak didasari minat, begitu masuk SMP dimana ekstra kulikuler diperbolehkan memilih, aku tak ikutan sama sekali.

Mulai aktif beneran setelah masuk STM. Itupun pada awalnya bukan murni ketertarikan akan kegiatannya. Melainkan karena status ABG yang mulai suka dengan lawan jenis. Tau sendiri yang namanya STM murid hampir seribu orang tapi ceweknya hanya belasan. Di lain pihak ada SMKK yang kondisinya berkebalikan. Dan waktu itu gugus depan STM ku sering mengadakan latihan bersama dengan gudep SMKK. Jadilah aku ikut serta agar ada alasan untuk sering-sering ke SMKK.

Saking aktifnya aku ngapel ke sanggar SMKK, oleh pembina diartikan lain. Dianggap aku anak rajin makanya diangkat jadi pengurus di gugus depan. Telanjur basah dan merasa bertanggungjawab akan tugas yang dibebankan, aku jadi sekalian terjun secara total. Jadilah aku seorang pramuka mania yang sulit untuk dipisahkan lagi. Apalagi setelah merasakan kerasnya pelatihan di Pramuka Bhayangkara. Aku sampai dianggap militan oleh teman-teman.

Segala tempaan pramuka baru terasa manfaatnya setelah aku lepas seragam. Aku yang semula minderan jadi pede abis saat menghadapi banyak orang. Hasil yang paling terasa mungkin saat akan gabung di kerjaan baru. Segala wawancara dengan HRD bisa aku jawab dengan tenang tanpa gugup walau banyak bohongnya. Pokoknya salah satu kunci sukses wawancara dengan HRD adalah, lebih baik kepedean daripada minder.

Setiap masuk ke lingkungan baru, aku tak pernah merasa kesulitan bersosialisasi dengan penghuni lama. Berbagai kondisi alam pun bisa aku adaptasi tanpa kesulitan. Termasuk di kerjaan sekarang dimana aku harus masuk hutan dengan segala keterbatasan fasilitas. Naik turun gunung, menerobos semak belukar, menghadapi serbuan serangga hutan dengan asupan gizi kurang tak sampai membuatku mengeluh. Dan yang paling terasa adalah saat air bersih susah didapat. Aku bisa menjalaninya sambil meneriakan lagu lama masa pramukaan. Tidak mandi sudah biasa...

Mungkin itu saja
Dirgahayu Pramuka Indonesia
Semoga tetap jaya dalam mendidik anak-anak bangsa

Salam
Pramuka...!!!



Read More

13 Agustus 2012

Mengisengin Foto Gagal

#Semua Umur

Selain kesalahan seperti dalam jurnal Foto Gagal kemarin, aku juga sering mengalami kegagalan teknis yang benar-benar teknis. Memang dominan unsur human error yang ga sempat ngecek seting kamera walau alasannya takut kehilangan momen. Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah lupa mengaktifkan lampu flash atau blitz saat motret dalam kondisi gelap.

Dalam situasi tertentu, aku memang suka mematikan flash. Misalnya motret pemandangan sore hari yang remang-remang. Pake lampu flash membuat fokus kamera cenderung dekat dan sasaran yang jauh disana malah jadi gelap. Ingat kebiasaan sering motret gerak cepat secara spontan, sebaiknya seting kamera dikembalikan ke posisi auto sebelum dimatikan. Sayangnya aku mengidap penyakit yang belum juga ketemu obatnya. Penyakit lupa, tidak ingat dan lupa inga... eh yang terakhir enggak ding.

Pernah dapat hasil foto kaya gini..?


Dicoba menambah brightness pake foto editor malah jadi pecah gambarnya. Tapi sebaiknya jangan langsung tekan tombol delete. Kalo memang lagi kurang kerjaan, rusakin saja sekalian. Dengan utak-atik dikit, seringkali kita dapatkan foto yang lebih dramatis ketimbang foto normal yang cerah.

Aku biasanya pake gimp untuk ngoprek. Buat temen-teman yang kurang familiar dengan linux bisa pakai sotosopnya windus. Langkah paling sederhana yang suka aku lakukan adalah sebagai berikut :

  • Buka fotonya di sotosop.
  • Klik Image - Adjustments - Levels atau tekan Ctrl + L. Klik saja Auto lalu Ok.
  • Klik Image - Adjustments - Curves atau tekan Ctrl + M. Pada bagian Preset pilih Lighter lalu Ok.
  • Klik Filter Gallery lalu klik Distort dan pilih Diffuse Glow. Atur-atur nilai Graininess, Glow Amount dan Clear Amount sampai nemu efek yang diinginkan.


Hasilnya menjadi kayak gini


Tapi suer ini cuma utak-atik iseng tanpa ada dasar skil edit foto sama sekali. Jadi maaf kalo dianggap terlalu newbie di mata temen-temen sotosop expret. Yang punya tips-tips lain bagi-bagi dong biar aku bisa belajar lebih banyak.

Intinya sih cuma satu. Jangan putus asa dan main hapus ketika mendapatkan foto gagal. Apalagi kalo momen yang direkam merupakan sesuatu yang jarang atau susah didapatkan. Foto jelek pun bisa jadi keren asal mau usaha sedikit. Minimal keren menurut diri sendiri, biarpun kata orang lain ancur.

Kan katanya kegagalan adalah adalah keberhasilan yang tertunda. Sesuatu yang rusak, bila dirusakin sekalian tak selamanya berdampak negatif. Analoginya mungkin sama dengan cewek yang bermoral rusak. Kalo ditambahin cowok yang rusak juga, tar hasilnya jadi positif. Positif hamil maksudnya...

Dah ah...
Dah mulai ngaco...

Read More

12 Agustus 2012

Bermain Air

#Semua Umur

Ngomongin soal Citra dan kerepotan ibue memang tiada habisnya. Salah satunya adalah kesukaan anak itu bermain air. Sejak masih bayi, kalo dimandiin senengnya minta ampun. Setelah bisa merangkak, mulai deh ibue perlu tenaga ekstra untuk ngawasin. Meleng dikit dah nyampe kamar mandi dia ngubek-ubek closet.

Sejak kecil Citra sudah kelihatan minatnya menjadi pecinta hujan. Asal tau gerimis mulai turun, buruan merangkak memukul-mukul pintu minta dibukain. Ibue seringkali harus mengalah membiarkannya mandi hujan ketimbang nangis guling-guling di lantai. Susahnya kalo pas hujan pertama yang suka bikin demam. Namun dalam jangka panjang ada bagusnya juga dia suka mandi hujan. Minimal kekebalan tubuhnya meningkat dan ga gampang sakit akibat cuaca.

Sayangnya kegemaran bermain air ini merambah kemana-mana. Tidak ada hujan atau ga bisa masuk kamar mandi, kran di teras dipake mainan sampai banjir kemana-mana. Ditutup dari stop kran di meteran PDAM, ganti dispenser jadi sasaran sampai ibue ga pernah berani nyolokin listriknya. Efeknya lumayan ajaib. Mungkin satu-satunya di dunia ada dispenser air minum yang posisinya di balik. Krannya menghadap tembok...

mandi hujan

Masih mending saat di rumah sendiri. Kalo lagi dirumah orang lain jadi repot juga. Seperti bila pulang kampung ke tempat mbahnya. Sekali lepas pengawasan, menghilang dia dari rumah pindah ke comberan atau ke kolam lele peliharaan mbah kakung.

di kolam lele

Agak kacaw waktu cuti kemarin. Diajak nonton pameran lukisan di galeri, diajak masuk ruang pamer ga mau. Aku pikir aman-aman saja dibiarkan bermain di halaman sementara aku dan ibue lihat lukisan. Kebetulan orang-orang di sekitar galeri sudah kenal baik. Tapi begitu aku keluar, tuh anak sudah buka baju dan berendam di ember.

art performance

Terserah kamu deh, nak...
Siapa tahu hobi bermain airmu membuat masa depanmu selalu di lahan basah. Jangan kaya bapakmu yang kerja di tempat gersang melulu sampe males mandi kebawa jadi hobi...
Read More

Foto Gagal

#Semua Umur

Hidup jauh dari keluarga sementara anak lagi lucu-lucunya merupakan siksaan tersendiri buatku. Teknologi komunikasi yang katanya bisa mendekatkan jarak dan waktu kadang tak bisa difungsikan dengan maksimal. Anak-anak masih susah diajak ngobrol lewat telpon. Mencoba memanfaatkan video chat juga lebih banyak gagalnya. Setiap kali ibue buka laptop, langsung diserobot Citra untuk nonton sondesip di yutub.

Pengobat kangen alternatif yang paling efektif adalah foto. Makanya setiap kali cuti, aku tak pernah jauh dari kamera. Bentar-bentar jepret sana jepret sini mengabadikan tingkah polah anak-anak.  Ibue juga rutin mengirim foto mereka melalui email atau dipajang di pesbuk. Sampai-sampai di laptop lebih banyak foto keluarga ketimbang data kerjaan.

Pada waktu memotret anak-anak, aku cenderung asal jepret dan tak pernah pilih-pilih momen. Sepertinya foto anak dalam kondisi spontan apa adanya kelihatan lebih asik. Mencoba mengatur gaya agar terlihat manis justru membuat hasilnya terasa kaku dan tak jarang malah berpose siap grak kaya hansip bikin foto KTP.

Apalagi untuk anak yang ga mau diam seperti Citra dan Cipta. Hadeuuuh minta ampun dah. Paling sering kejadian, saat tahu mau difoto anak malah lari atau membuat gerakan spontan yang tak terduga. Foto-foto ngeblur jangan tanya berapa banyak. Kalo tidak dibuangin mungkin sudah penuh di hardisk.

Ini seringkali susah untuk diantisipasi. Spontanitas itu lebih banyak terjadi saat tombol ditekan. Hasilnya kadang jadi nyebelin. Orang lain eksen pasang tampang paling manis, tau-tau anak meronta atau bikin gerakan ajaib seperti ngupil misalnya.

Teman kita Syam dari Makasar mungkin pernah merasakan itu waktu main ke Jogja beberapa waktu lalu. Udah siapin kamera dengan segala teknik fotografi tingkat dewanya, eh yang jadi modelnya malah ngeloyor pergi tanpa rasa dosa.

Cucian delo...

Ini beberapa contoh foto gagal yang dimaksud

Pengen pulaaaang...

Angkat barbel popiye..?

Gau mau ah ga ada mbeknya...

Capedeh...

Beli jajaaan...

Eh, adalagi foto gagal jenis lain yang tidak disebabkan oleh gerakan refleks anak. Tapi karena tukang fotonya yang asal jepret takut kehilangan momen sampai tak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Baru ketauan setelah buka hasilnya di PC. Anak berpose keren, eh bekgronnya jemuran celana dalam. Foto gagal tipe ini aku kasih contoh yang rada senonoh saja ya.

Anak dijual..?

Ada punya koleksi foto setipe..?
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena