#Bimbingan Orang Tua
Masih ada saja yang menanyakan, kayak apa sih rasanya lebaran jauh dari keluarga..?
Buat sebagian teman mungkin luar biasa. Tapi buatku tak lagi terlalu aneh. Pertama mengalami sekitar duapuluh tahun lalu waktu aku masih gabung di sar bhara. Lebaran lebih banyak kujalani di jalanan bergabung dengan pos operasi ketupat polri.
Awalnya sih berniat pulang, toh ini tugas sukarela yang ga gajian. Namun melihat tingginya angka kecelakaan yang terjadi sementara kebanyakan petugas dan relawan bolos di hari H, rasanya tak tega juga. Jadilah bertahun-tahun aku baru pulang beberapa hari selewat lebaran, setelah pasukan di pos kembali lengkap.
Waktu kerja di PLN dan Telkom, ndilalah lebih sering di unit kerja perbaikan gangguan. Namanya hidup di kota kecil, hubungan dengan pelanggan sudah seperti teman baik yang akrab. Pelanggan ada masalah kadang tidak laporan ke kantor, tapi lebih suka titip pesan atau nyamperin ke karyawan. Memang pernah aku berdalih lagi lebaran dan akan diperbaiki besok. Namun aku suka luluh kalo sudah dengar, "justru itu, mas. Masa lagi lebaran rumah saya gelap-gelapan.."
Enak ga enak kembali ke bagaimana kita menyikapinya. Aku lebih suka melihat nilai lebihnya. Seperti sekarang, setiap cuti pasti harus pulang kampung atau jalan-jalan. Keluar kota di masa lebaran sangatlah tidak mengenakkan. Di mana-mana macet, serba ngantri dan pengeluaran relatif membutuhkan dana ekstra.
Urusan sungkem kan ada telpon. Silaturahmi tidak semestinya hanya dijadikan wacana saat lebaran saja. Lebaran hanya dua hari sementara kita menjadi makhluk sosial selama 365 hari dalam setahun. Lagian situasi lebaran saat ini sudah berbeda dengan waktu aku kecil dulu dimana sampai seminggu orang masih saja keliling kampung untuk bermaafan. Sekarang, hari kedua kebanyakan sudah pada sibuk pelesiran ke tempat wisata.
Satu-satunya alasan yang masih agak relevan adalah kesempatan berkumpulnya keluarga besar yang terpencar ke segala penjuru. Berkunjung ke saudara jauh bisa aku lakukan di hari lain. Namun seluruh keluarga bisa ngumpul itu sangat susah. Memang ada kesempatan lain saat ada saudara yang hajatan. Namun sayangnya, orang Jawa suka banget ngawinin anaknya di bulan syawal.
Semua itu hanya masalah menyikapi keadaan biar ga terlalu sedih. Bukan tentang suka atau tidak suka. Aku suka banget dengan lebaran kok. Minimal karena di bulan ini ada yang namanya THR.
Yang non muslim juga pada suka. Buktinya mess sampai kosong penghuni padahal sebagian warganya bukan muslim. Satu-satunya orang yang ga suka lebaran cuma juragan bokep sebelah kamar. Kalo lagi cerita tentang jablay, dia suka ngomong pake logat Batak, "tidak suka lebaran, enak yang sempitan..."
Halah...
Sabar ya, nak..
Bulan depan ayah pulang...









































