#Semua Umur
Waktu di rumah kemarin...
Setiap nemu barang berbentuk ransel, Citra langsung pake kemudian ngajak salaman sambil bilang, "sayim, ayah. Tita mau koyah..."
Kirain cuma iseng saja. Ternyata ibue kemarin nelpon kalo Citra demo mogok macem-macem dengan tuntutan pengen sekolah.
Karena itu keinginannya sendiri, aku minta ibue jalan-jalan nyari sekolahan atau PAUD yang deket-deket rumah. Soal biaya berapapun masih bisa diusahakan. Namun aku minta yang biasa saja tak perlu terlalu keren.
Secara pribadi, aku kurang setuju dengan kebanyakan pola pendidikan anak usia dini saat ini. Bagaimanapun juga dunia anak adalah dunia bermain. Keinginan mendidik anak sejak dini seringkali kebablasan dengan memberikan kurikulum diatas kemampuan anak secara umum.
Aku bisa melihat dari tetangga yang anaknya masuk playgroup unggulan. Setiap hari orang tuanya repot karena si anak uring-uringan mengerjakan PR yang levelnya terlalu tinggi di atas kemampuan otaknya. Tidak salah mengajarkan anak umur 3 tahun membaca dan berhitung, tapi jangan dipaksakan sebagaimana layaknya anak usia sekolah.
Dengan bejibunnya playgroup semacam itu, jadi banyak SD unggulan yang mensyaratkan tes baca tulis dan berhitung untuk calon siswanya. Mereka berasumsi ujian ini untuk menyaring calon murid berpretasi. Sepertinya mereka lupa bahwa calon siswanya adalah anak kecil yang belum menemukan jati diri.
Berbeda dengan ujian penerimaan mahasiswa, dimana pendaftar sudah dewasa mengerti batas kemampuan diri serta segala persiapan yang diperlukan untuk masuk ke fakultas idaman.
Kenyataan bicara
Masuk sekolah keren kebanyakan bukan keinginan anak. Melainkan orang tua yang terlalu berambisi agar anaknya pintar tanpa mengukur batas otak si anak. Iya kalo anaknya memang cerdas dan bisa mengikuti kurikulumnya. Kalo dari sononya pas-pasan, apa tidak kasihan seperti maksa gayung harus muat air seember.
Yang lebih parah, ada sebagian orang tua yang maksa anaknya masuk sekolah unggulan hanya demi gengsi. Tak lolos tes baca tulis, pake jalur khusus dimana gepokan duit boleh bicara. Biar bisa pamer di arisan ibu-ibu kalo sekolah anaknya bayarnya mahal.
Intinya
Aku tak ingin memaksakan anak jadi pintar dengan sekolah sebelum waktunya. Cukup buatku mengajak anak-anak bermain di alam bebas agar dia ulet, jeli, bisa belajar cepat dan tanggap terhadap lingkungan. Toh banyak bukti dari teman-temanku yang bisa sukses tanpa kuliah, sementara yang sarjana masih begitu-begitu saja hidupnya hanya karena kreatifitas yang tidak terasah.



































