09 April 2013

Hape Keren


#Semua Umur

Jurnal kemarin dikomplen temen, "boong lo ga pake andruit, buktinya bisa wasap..."

Dibilangin whatsapp dari laptop  ga percaya. Padahal hari gini apa sih yang ga ada emulatornya di PC..?

Tapi masih mendingan dibanding komplen temen-temen khususnya dari kantor Jakarta yang suka cuek bila aku sms. Begitu ditelpon langsung ceramah, "ga gaul sih, lo. Karyawan tambang, beli blekberi aja ga mampu..."

Di rumah pun ibue Ncip pernah komentar, "dulu cuma jualan lukisan saja hapenya keren, sekarang malah nokiyem jadul..."


Antara pekerjaan dan tipe hape memang ada hubungannya. Namun bukan soal keren atau harganya, melainkan tentang fungsi. Dulu aku ga pernah bisa lepas dari Communicator karena memang kerjaanku sering keluyuran sementara email jadi media utama dengan pelanggan. Ngetik email panjang lebar pake kipet numerik atau virtual mana nyaman. Makanya Nokia E90 pake banderol 7,4 juta pun ga pake mikir panjang buat ngembatnya.

Begitu pindah ke hutan, situasinya berbeda. Semarpun yang boros baterai bukan pilihan terbaik saat aku sering jauh dari jaringan listrik. Sinyal pun susah, makanya buang banyak duit hanya untuk beli hape nganggur rasanya sayang. Kebutuhan onlen lebih nyaman pake laptop apalagi dengan jabatan sebagai penguasa benwit perusahaan.
#Plekkk...

Lebih jauh lagi, disini alat elektronika jarang yang awet. Adaptor kebakar akibat listrik turun naik bukan hal aneh. Kondisi lapangan pun begitu kotor penuh debu batubara yang mengandung sulfur. Semua itu menjadi alasan kenapa gadget murahan adalah pilihan terbaik.


Dan balik lagi ke temen dari kantor pusat tadi...
Awalnya ngotot bilang pake blekberi biar keren. Namun ketika aku tanya kenapa ga mau sms, dia jawab, "sms boros harus bayar lagi, pak. Kalo bbm kan isi pulsa 60 rebu cukup buat sebulan..."

Ah elah...
Kirain yang mereka defisinisikan keren itu berkaitan dengan gengsi akibat biaya tinggi yang harus dikeluarkan. Itu sih sama saja maksa beli Aphard tapi bensinnya pake premium. Mumpung lagi empet, sekalian aku bilang, "itu mah bukan keren, coy. Kere kali..."

Temen itu masih ngeyel. Biar ga kelamaan aku tanya pulsa bb dia ada berapa sambil nge-capture pulsa nokiyem 200 rebuanku buat aku kirimin ke dia. Selanjutnya hening...


Intinya
Itu salah satu keanehan manusia. 
Soal selera masing-masing kok diperdebatkan...



Read More

08 April 2013

Kegembiraan Sesaat


#Semua Umur

Kameraku rusak terjatuh waktu ngerjain proyek di pelabuhan beberapa waktu lalu. Ini kamera kedua yang rusak selama aku kerja di hutan. 

Ini yang menyebalkan dari perusahaan. Minta kamera inventaris susahnya minta ampun, sementara laporan harus dilampiri foto. Kalo didesak tentang permintaan itu selalu dapat jawaban, "kamera perusahaan sudah banyak silakan pinjam ke unit lain.." 

Lebih menyebalkan lagi ketika dijawab, "kan elu punya kamera..?"

Ah elah...
Biarpun cuma kamera saku murahan, tapi statusnya kan properti pribadi. Ini yang kemudian aku protes sambil bilang ga bakalan bikin laporan disertai foto lagi.

Kayaknya aku ngomong terlalu keras dan ada yang tersungging di kejauhan sana. Terbukti aku dapat jawaban rada ketus, "gua ganti kamera lu dengan yang lebih canggih..."


Awalnya aku anggap angin lalu. Sampai sebulan kemudian, anak buah laporan ada kiriman kamera dari Jakarta ditujukan untuk aku. Langsung mrenges kuda apalagi setelah dengar tipenya semi pro walau bukan DSLR.

Sayang kegembiraanku segera pupus begitu benda itu sampai di tangan. Langsung aku tunjukin ke teman-teman, "kamera pengganti dari Hongkong..? Nih dikasih label, berarti judulnya inventaris dong..?"
#Dodol...


Kegembiraan sesaat semacam ini sudah terjadi berulang kali. Salah satunya waktu iPhone 5 si bos error dan aku disuruh betulin. Boro-boro ipun, androit saja aku belum pernah punya. Jadilah aku sibuk mencari-cari menunya.

Kelamaan utak atik, si bos kayaknya ga sabar lalu komentar, "IT apaan, betulin hape saja kagak bisa.."

Melihat tampang si bos lagi sumringah, aku jadi berani ngeledek. "Aku kan belum pernah punya hape keren begini, bos. Harusnya aku dikasih pinjam beberapa bulan biar paham setiap sudutnya. Jadinya kalo hape bos ada masalah, ga perlu pake lama..."

Dijawab gitu, si bos bilang ke sekretarisnya. "Besok di Jakarta kamu beliin dia hape yang paling canggih biar ga malu-maluin..."

Siapa yang ga seneng dapat jawaban gitu...? 
Apalagi waktu sekretaris bos nyamperin, "kamu mau hape tipe apa..?"

Masih sibuk mikir dengan hati berbunga-bunga, udah ditanya lagi, "tar mau potong gaji berapa bulan..?"

Whooats..???
Kirain beneran mau ngasih..?
Jebulnya ketemu sama tukang kredit...

Ya sudahlah...



Intinya
Tak perlu ada kegembiraan yang berlebihan saat menemukan kebahagiaan, biar tidak terlalu sakit bila kenyataannya hanya numpang lewat doang...



Read More

Kesurupan


#Bimbingan Orang Tua

Beberapa hari lalu, salah satu kroni bos kembali ke site membawa beberapa anak muda dari kampungnya untuk dijadikan karyawan melalui jalur khusus. Selama ini aku tak pernah mau tahu walaupun suka mumet lihat orang datang pergi silih berganti. Di sini sudah umum karyawan baru cuma tahan beberapa hari atau minggu lalu kabur ga balik lagi.

Namun kali ini tidak
Ada satu orang yang mengusik perhatian. Di hari pertama dia datang, aku lihat lebih banyak diam seperti orang bingung dengan pandangan mata kosong kaya kena sawan. Aku bilang ke teman satu rombongannya agar dia jangan dibiarkan sendirian dan banyak diajak bicara.

Takutnya seperti kejadian beberapa tahun lalu di site sebelah. Ada karyawan yang seharian bengong begitu, malamnya histeris lari masuk hutan. Dan besoknya ditemukan mengambang di rawa dalam kondisi tak bernyawa.

Ternyata firasat itu beneran terjadi...
Malamnya tuh anak lari-lari di seputaran mess ga pake baju. Beruntung teman-temannya ada di tempat sehingga bisa diamankan dan dibawa ke rumah sakit.

Aku tanya temannya, "kesurupan kok dibawa ke rumah sakit..?"
"Bukan kesurupan. Dia memang rada kurang, pak.."

Ah elah...
Orang waras wal afiat saja masuk sini bisa gila, ini orang kurang sehat dibawa-bawa. Ngeri aja kalo sampai ada korban di seputaran mess. Dedemit di sini sudah terlalu banyak, ga perlu ditambahin lagi.

Iseng aku nelpon saudaranya bos menyampaikan itu.
Eh dijawab gini, "orang waras ga bakalan awet kerja di sini.."
"Maksudnya..?"
"Cuma orang gila yang betah kerja di hutan. Lu dah berapa tahun..?"
"Tiga tahun.."
"Nah bener kan, elu betah...?"
"Eh... $#@&!?"


Intinya
Kayaknya sih bener juga tuh aki-aki bilang...
Sialan amat ya..?


Read More

07 April 2013

Penipuan TelkomselPoin Semakin Rapi


#Semua Umur

Mohon maaf kalo jurnal kali ini panjang dan berat kebanyakan gambar.


Kalo dapat sms berhadiah biasanya aku cuek saja. Tapi kali ini jadi pengen komentar karena ada sedikit perbedaan dengan website yang tercantum. 

Awal-awal modus website muncul, biasanya mereka memanfaatkan hosting gratisan semacam wordpress, blogger, jimdo atau webscom.

Website dalam sms yang berdomain gebyar-telkomselpoin2013.com sudah menggunakan hosting berbayar. Tampilannya pun sudah rapi tak terkesan asal-asalan.


Perbandingan website penipuan dengan website Telkomsel yang asli bisa dilihat dalam skrinsut dibawah

Website GebyarPoin


Website Telkomsel


Di tab daftar pemenang, pin yang terkirim ke hapeku terpampang termasuk nomor telpon dengan akhiran xxx. Disebutkan pengundian dilakukan di TransTV pukul 23.00 WIB tanpa keterangan tanggal.

Sponsornya keren. Biasanya polisi yang rajin minta-minta sponsor


Di bagian tatacara pengambilan hadiah disebutkan bahwa pajak undian ditanggung Telkomsel, tapi ada pengenaan biaya pengurusan surat-surat kendaraan sebesar 50%. 

Hadiah akan dikirimkan menggunakan pesawat kargo Boeing 737 GX yang setelah aku cek di websitenya Boeing, seri GX itu tidak ada. Yang ada hanyalah seri Original, Classic, NG (Next Generation), ER (Extended Range), Bussiness Jet dan MAX.



Keterangan lain menyebutkan bahwa pengurusan hadiah hanya dilakukan di website tersebut dengan nomor khusus. Pihak cabang Telkomsel dikatakan tidak diberitahu untuk menghindari penipuan. Bahkan Call Center resmi Telkomsel pun tidak.




Konten website sebagian besar menyerupai web resmi Telkomsel kecuali bagian kontak dan ketentuan hadiah. Footer website yang biasanya berisi sitemap, yang aktif hanya link Copyright yang mengarah ke domain utama saja. Link lain termasuk Contact Us tidak jalan.



Aku coba cek whois.com menyatakan domain tersebut dipakai mulai tanggal 30 Maret 2013 dengan registar CV. JogjaCamp.



Segera aku cek ke jogjacamp.com dan menemukan CV. JogjaCamp merupakan perusahaan yang bergerak di bidang web development. Idwebhost, server yang mereka pake juga dikelola oleh JogjaCamp. 



Kalo yang berwenang memang punya niat melacak pelaku penipuan, sepertinya bisa ke JogjaCamp untuk cari tahu siapa pemesan website tersebut. Tapi terserah lah wong ini Indonesia Raya yang hukum cuma berlaku ke rakyat kecil. Doakan saja para penipu lagi jalan-jalan trus nabrak Kopasus...

Kira-kira begitu...


Intinya
Sekedar berbagi bahwa penipuan sekarang sudah semakin rapi dan tidak sama sekali bermaksud menyudutkan pihak lain seperti JogjaCamp ataupun penyelenggara kalo memang pembagian hadiah itu bukan penipuan dan benar-benar dari Telkomsel. 
Semoga teman-teman bisa tambah waspada.
Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan.
Terima kasih...

--- update
Telkomsel sudah tak mention lewat Twitter dan kasih respon nyuruh laporan via sms




Wegah ah...

Kemudian ada temen yang kirim pesan melalui pesbuk ke Humas Polda Metro Jaya
Beliau dapat jawaban dan kirim skrinsutnya sebagai berikut



No komeng dah...



Read More

06 April 2013

Kisruh Lagi


#Bimbingan Orang Tua

Sore-sore, pasukan dapur ribut meeting. Kirain mau bahas perbaikan menu karyawan. Ternyata cuma ngeributin hal yang sepele, yakni penghasilan tambahan dari cucian. Aku tahunya setelah hasil rapat dipampang di setiap pintu kamar yang isinya cucian dan tarifnya akan dikelola oleh GA, tidak boleh langsung ke personal.

Sebenarnya tidak ada fasilitas laundry untuk warga mess. Perusahaan hanya menyediakan mesin cuci saja. 

Selama ini sebagian warga suka minta tolong ibu dapur untuk mencucikan pakaian dengan imbalan sukarela. Karena sifatnya sukarela, masing-masing orang biasanya punya langganan sendiri-sendiri sesuai selera atau kecocokan masing-masing.

Ternyata ini menimbulkan kecemburuan sosial diantara ibu dapur. Mereka yang tak kebagian rejeki cucian jadi rese. Semestinya mereka instropeksi diri dan menurunkan kadar kejutekan, bukannya memusuhi teman sekerja yang nyata-nyata disukai warga mess.

Meeting mendadak itu juga dipicu dengan kembalinya Juragan Dapur yang sudah sekian bulan tak pernah kelihatan pasca warga mess komplen ke HRD. Gimana penghuni mess tidak protes bila lagi makan suka diceramahin dengan bawel. Mending kalo beliau hanya mengagulkan dirinya sendiri dengan bilang paling pinter masak, paling dekat bos dsb dsb. Ini mah suka ngegosip dan cenderung menjelekan orang yang tidak dia sukai. Efeknya baru makan sesuap perut langsung berasa kenyang.

Lagi rada bete mikirin makan bakal ga enak lagi, eh ada temen di mess yang sok akrab bilang, "wah si ibu kemana aja..? Cantik bener.."

Buruan aku samperin lalu berbisik, "jangan suka boong lu..."

Rupanya si ibu denger dan balik nanya, "ada apa..?"
"Engga bu. Dia suka bohong. Ga baik kan, bu..?" *nyengir
"Ya engga boleh. Apalagi ini perusahaan. Bisa dianggap korupsi..."
"Engga kok, bu. Bukan ke perusahaan..."
"Tetap ga boleh. Bohong ke siapa dia..?"
"Ke ibu, eh..."
#Semprul keceplosan..

Tegangannya meningkat. "Bohong itu dosa, apalagi ke orang tua. Bilang apa dia..?"
"Bilang... ibu cantik..."
"Haah..!!!"
"Eh..."
#Keceplosan maning...


Intinya
Sekedar berharap. Kembalinya juragan dapur bisa membawa perbaikan gizi ke arah yang lebih baik dan aku bisa belajar dari pengalaman itu perbedaan rejeki seringkali terjadi karena aku yang kurang instropeksi diri. Semoga...


Read More

Prawan Kalimantan


#Banyumasan

Jenenge Maryanto
Tapi nyong nyeluke Yanto. Deweke wong Jojok Kampung Laut, nang kene ngode dadi bagian elektrik pelabuhan tongkang.

Kaya umume wong Clacap, polah-polaeh persis Kaki Pacul. Apikan karo tangga tapi ndableg tur prangas-prenges.

Nggal sore isine mung reang njaluk bukakna blokiran yutub. Jarku anu arep ndeleng National Geographic apa CNN. Jebul mung arep dangdutan sinambi ngemut danggoreng. Lewih apes maning, favorite tembangane Didi Kempot sing judule Prawan Kalimantan.

Mulane nyong sok mikir, memper-mempere deweke lagi tergemblung-gemblung prawan kene. Soale kan cara ngomonge sok melu-melu kaya tembangan kuwe. Nyampur-nyampur basa Jawa kambi basa Banjar sing pancen mandan mirip-mirip. 

Wong Banjar nyebut nyong kuwe ulun, persis artine karo basa Jawa lawas. Kowe nangkene disebut piyan, ndeyan kang tembung sampeyan nang basa Jawa.

Si Kepribendotcom sering banget ngomong kaya kuwe. Jarku anu lagi dandan listrik. Jebule lagi ngaraih cacing sinambi ngalamun sing kanan-kanane apa kiri-kirine ndeyan mbayangna prawan Kalimantan sing kaya artise Monata.

Ulun menek piyan...
Ulun menek piyan...

Sekarepmu lik...
Dangdutan maning baen njuh lah...


Intine
Wong Clacap pancen eksotis
Mengdi paran wateke ora nganggo rubah
Merakyat, merakati, kadang merakatak...



Read More

Biru dan Pink


#Semua Umur

Sebagaimana umumnya pandangan masyarakat tentang warna dan anak-anak, ibue sering membeli pakaian atau perlengkapan anak dalam dua warna, merah muda dan biru muda. Pink untuk Citra dan biru untuk Cipta.

Banyak artikel di internet tentang pemahaman genderisasi warna ini berbeda di masa lalu. Dimana pink justru dianggap maskulin dan biru itu feminim. Konon kabarnya sebelum tahun 60 an anak laki-laki di Amerika kebanyakan dikasih pakaian warna pink dan biru untuk anak perempuan. Begitu lekatnya warna pink dengan maskulinitas sampai-sampai muncul mobil legendaris Pink Cadillac.

Perubahan asumsi warna ini mulai terjadi ketika aktivis Swedia Feminist Initiative dan aktivis Amerika Women for Peace menjadikan warna pink sebagai identitas mereka. Kemudian muncul pita pink sebagai simbol internasional kanker payudara dan dalam bahasa Inggris gaul, pink adalah sebutan untuk vagina.

Ada juga pemahaman berbeda ketika Nazi memisahkan tahanan homoseksual dalam sel dan pakaian berlogo segitiga pink. Di Rusia pun pink diasosiasikan kepada kaum lesbian.

Uraian tersebut diatas bisa dibaca lebih jelas di Wikipedia.

Lebih jauh lagi, pemilahan warna ini bisa jadi merupakan bawaan dari jaman purba. 

Di masa itu tugas laki-laki adalah berburu yang tentunya sangat dipengaruhi oleh cuaca. Kedekatannya pada warna biru berkaitan dengan warna langit yang dijadikan pertimbangan awal setiap kegiatan perburuan.

Tugas perempuan sebagai pengumpul buah-buahan membuatnya menyukai warna merah yang artinya buah sudah matang.

Perubahan genderisasi warna sebagaimana dijelaskan Wikipedia menurutku lebih banyak terpengaruh masalah tren. Sedangkan apa yang terjadi di masa purba, bisa aku anggap sebagai warisan naluri yang terbawa sebagai sifat dasar manusia.

Aku bilang begini karena melihat Citra yang perilakunya cenderung kecowok-cowokan dan tidak suka pakai yang pink. Ibunya mungkin sudah terpengaruh pemahaman masyarakat, namun untuk anak seumuran Ncit sepertinya masih bawaan naluri. Setiap kali ibunya bilang cewek pake yang pink, setiap kali pula Ncit ngeyel, "itu punya dede..."




Sedikit melenceng dari tema...
Upaya ibue mengubah Ncit biar lebih fenimim menggunakan warna gagal total. Ibue pun mencobanya dengan boneka. Mengingat selama ini boneka cenderung dianggap lekat dengan anak cewek. 

Sekali dua kali mau sih dia bermain boneka.
Tapi cerita akhirnya masih saja melenceng dari harapan
Tak perlu pake lama Ncit bakal teriak, "ayaaaah boneka mau nenen. Ayah gendong ya..."
Trus ngacir lagi ke gudang manjat lemari nyariin obeng buat mainan
Dan ibue pun cekikikan sambil pegang kamera
#Semmm...




Intinya
Sekedar berwacana warna dan jenis kelamin menurut analisa naluri dasar kemanusiaan. Benar atu tidak, aku bukan psikolog yang bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada pendapat lain..?





Read More

05 April 2013

Ngambeknya Citra


#Bimbingan Orang Tua

Keinginan menjauhkan anak-anak dari tipi didukung oleh isengnya si Ncip. Engga tau kenapa tuh anak usil banget. Mbaknya lagi asik liat tipi suka dimatiin atau dipindahin chanelnya. 

Kadang Citra mengalah ngungsi ke laptop nyari kartun di yutub. Tapi dasar Ncip bandel, tipinya ditinggalin terus nutup laptopnya sambil ngakak-ngakak.

Nonton di proyektor pun sama. Si Ncip suka matiin PC sampai akhirnya tombol power dilakban oleh ibue. Ga bisa mencet tombol di CPU, dia langsung matiin dari UPS. Efeknya si PC jadi sering jajan hardisk.


Sebenarnya Ncip tidak 100% usil. Kalo diputarin lagu anak-anak biasanya dia anteng menyimak. Semoga sih dia beneran menyukai musiknya. Tidak seperti bapaknya yang lebih suka liat biduan ketimbang dengerin lagunya. Terutama kalo nonton dangdut.

Sayangnya Ncit tak begitu suka musik dan lebih menggemari film bertema binatang atau lagu anak tentang binatang. Padahal lagu anak bertema binatang tidaklah banyak. Setiap waktu nyetel burung kakak tua atau anak kambing saya terus kan bosen.

Melihat kenyataan itu aku jadi kepikiran rikues ke production house untuk bikin video clip yang apapun lagunya, ilustrasinya pakai binatang. Atau lagunya dimodifikasi sedikit. Misalnya lagu bintang kecil, kan bisa dirubah jadi binatang kecil.

di langit yang kecil...
amat kecil menghiasi kecil...
aku ingin terbang dan mengecil...
#Kumats...




Kembali ke soal isengnya Ncip...
Sekali dua kali si Ncit biasanya masih sabar. Namun lama-lama juteknya bakalan kambuh dan akhir cerita belum juga berubah. Tonjok-tonjokan maning...

Biar ibue tidak terlalu repot anak-anak tiap hari berantem. Aku sering mengajak Citra bicara yang intinya meminta dia jangan suka main pukul. Kayaknya ini mulai ada hasilnya walau sedikit melenceng dari harapan.

Ncit sudah tak begitu sering nonjok adiknya. Tapi namanya emosi sepertinya tetap butuh penyaluran. Akhirnya setiap kali ngambek laptopnya ditutup mulu sama si Ncip, dia suka berdiri di atas laptop lalu lonjak-lonjak kaya main trampolin.

Biarpun boros laptop bolak balik rusak, aku masih bisa menahan diri. Rada repot kalo yang digangguin adalah acara nonton tipi. Endingnya aku hanya bisa menahan nafas...





Intinya
Aku lagi bingung bikin kesimpulan jurnal ini..
#Hiks..


Read More

04 April 2013

Tontonan Anak


#Bimbingan Orang Tua

Sering bilang menghindarkan anak dari tipi, ada yang nanya lewat GTalk, "beneran lu ga punya tipi..?"

Ada sih tipi jadul yang masih berfungsi normal, tapi emang jarang banget disetel. Paling banter sore hari di jam film kartun atau saat anak-anak tidur ibue nonton gosip.

Untungnya anak-anak nurut, ga pernah komplen tentang itu. Mungkin terbiasa nonton di tembok, lihat tipi yang layarnya kecil jadi males. Dengan begitu, paling tidak mata mereka aman dari radiasi monitor karena anak sekarang kayaknya ga bisa kalo liat sesuatu tidak ditodong di depan mata.

Pengaruh tontonan ke anak memang luar biasa. Liat iklan makanan atau mainan apa, langsung ribut minta dibelikan. Mendingan kalo dimakan habis. Ini mah diacak-acak doang trus jadi kegiatan ibue ngabisin sisa mereka. Pantesan ibu-ibu gampang naik bobot badan. Ternyata cemilannya memang tiada habisnya tanpa disadari. Alasannya, "mubazir kalo dibuang..."

Tontonan sudah diseleksi saja kadang masih bikin repot. Seperti si Ncit yang sondesip mania. Kalo sudah bermain bersama mbek, jangan harap bisa dialihkan perhatiannya ke hal lain. Makan atau minum susu pun terlupakan. Mengikuti kemauannya, tidur pun si mbeknya dibawa serta ke kamar.




Kegemarannya nonton spongebob bikin susah diajarin kasih nama yang benar. Lihat ibue masak kepiting, disuruh bilang kepiting mana mau. Tetap saja nyebut mitelklab. Masih mendingan si Ncip menyebutnya sebagai capit-capit.

Tapi bukan berarti si Ncip juga lepas dari masalah. Pernah suatu sore dia jongkok di pinggir sawah lalu teriak sambil nunjuk sesuatu, "jiyiii... jiyiii..."

Seperti biasa aku noleh ke translator. 
"Bekicot, ayah. Di spongebob kan namanya gary..."
#Ooo...




Merasa perlu meluruskan, aku samperin tuh anak lanang.
"Namanya bekicot, dede..."
"Jiyi, ayah.."

"Heee... Ikutin ya. Be..."
"Eee.."
"Ki..."
"Iii.."
"Cot..."
"Oot..."

"Bekicot.."
"Jiyiii..!!!"

Sakarepmulah...
#Mumet...


Intinya
Sepertinya memang sudah masanya anak-anak itu dibesarkan oleh media tontonan. Buktinya mereka lebih nurut ke tipi daripada orang tua sendiri. Apa bapaknya harus masuk tipi dulu ya..?


Read More

03 April 2013

Alergi Ambulance


#Bimbingan Orang Tua

Pulang dari pelabuhan kemarin, Ferrari kesayangan ngadat koplingnya ngeplos. Untungnya aku tidak sok tahu menghentikan mobil untuk ngecek kondisi. Kalo sampai mesin mati, kayaknya malam itu aku harus nginep di tengah hutan.

Untung lagi si kopling rusak saat gigi berada di posisi 3, sehingga masih bisa dipaksain jalan melintasi lumpur sampai perkampungan terdekat atau minimal ada sinyal hape agar aku bisa nelpon ke pangkalan untuk minta jemput sementara truk aku tinggalkan di hutan.

Paginya datang laporan internet tambang mati. Cek dari server, dapat kesimpulan baterai radio ngedrop.

Buruan lapor kepala kendaraan sarana. Aku pikir dengan rusaknya truk kesayangan, aku bakal dapat ganti Ford Ranger lagi seperti semula. Eladalah malah jawabnya, "silakan pakai ambulans saja, pak. Sayang itu mobil jarang yang pake..."

"Hee gua mau betulin internet bukan bawa orang sakit..."
"Ya sama sajalah, pak. Internetnya lagi sakit juga kan..?"
#Mules...

Bukan masalah kendaraannya...
Tapi pasukanku ada yang penakut tingkat kabupaten. Dia manjat tower puluhan meter ga pernah bilang takut, cuma disuruh naik ambulans bisa terkencing-kencing. Jawabannya begitu standar, "kemaren abis dipake angkut orang mati, pak..."
#Kaya ga bakal mati aja lu...




Secara pribadi, sudah sejak dahulu kala aku sebel dengan ambulans. Ini trauma lama waktu masih gabung jadi relawan SAR. 

Waktu itu ceritanya lagi pelatihan di Gunung Sindoro dan aku yang pura-pura jadi korban. Awalnya sih asik. Yang lain ngos-ngosan blusukan naik turun gunung, aku bisa damai bobo manis ditandu. Teman-teman yang ngegotong sampe misuh-misuh aku ledekin mulu sepanjang jalan.
#Jadi instruktur memang enak...

Sesuai skenario...
Begitu sampai posko, korban dimasukin ambulans. Entah faktor kebetulan atau memang dikerjain balik oleh teman-teman. Baru jalan beberapa ratus meter pintu ambulans terbuka. Dodolnya tandu tidak diikat makanya ndlosor keluar dan apesnya ada tali nyangkut di bemper.

Kebayang engga sih gimana rasanya wajah imutku ini terpajang rapi didepan knalpot sementara badanku terikat erat di tandu. Teriak-teriak ga kedengeran juga sama sopir. Memang ga pake ngebut karena jalannya jelek. Tapi kan ujung tandu ndelosor di jalan. Andai saja ada yang muter lagu anak, suer dah berasa naik odong-odong.

Nasib baik berpihak...
Tali yang nyangkut tiba-tiba putus. Tapi mbokyao lihat-lihat lokasi dong. Ini putusnya di tanjakan yang lumayan curam. Hasilnya tandu ndelosor lagi lalu nyangkut di pohon teh. 

Dan malamnya...
Semua peserta aku rendam di sungai sampai pagi...
#Modiyaaarrrr...


Intinya
Aku ga suka naik ambulans
Apalagi sambil berbaring di belakang...

Read More

Mengajak Mereka Bicara


#Semua Umur

Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar selalu aku lakukan setiap kali cuti. Aku suka mengajak anak-anak duduk berduaan saja dan mengajaknya bicara dari hati ke hati sebagaimana layaknya orang dewasa. 

Memang sekedarnya saja tak jauh dari kehidupan anak-anak. Paling banter aku bilang jangan nakal, nurut ke ibu, makan yang banyak dan sejenisnya. Aku sadar mereka belum bisa mengerti, namun tetap saja itu rutin aku lakukan seakan mereka sudah besar. Dan herannya mereka suka menanggapinya dengan mimik serius seolah memahami perkataanku sebagai suatu nasehat.

Cipta lebih banyak menunjukkan keseriusannya dengan tatapan mata yang penuh perhatian. Kebandelannya mendadak hilang dan sering di akhiri dengan memelukku erat. Ini yang membuatku sering terjangkit galau rindu saat mengenang ritual itu. Apalagi si Ncip tak pernah berkata lain setiap kali aku nelpon rumah selain, "ayah puyaaang..."

Citra yang satu tahun lebih tua bahkan suka curhat ketika bicara berduaan saja. Seperti kemarin saat aku bilang, "mbak ga boleh nakal, ya..."

Si Ncit sudah bisa jawab, "Tita engga nakal, ayah. Dede nakal..."
"Kalo dede nakal, mba harus ngalah. Jangan berantem..."
"Dede nakal. Dede dijewer, ayah..."
"Kalo mba yang nakal..?"
"Tita dicium, dede dijewer..."

Citra memang tidak pernah mau dibilang nakal. Kenyataannya aku bisa lihat dia suka mengalah ketika adiknya iseng. Sayang si Ncip sepertinya suka banget ngejahilin mbaknya. Jadinya tetap saja ceritanya berakhir sama, tonjok-tonjokan.

Sepertinya Citra berusaha mengerti apa kemauanku walau dalam pelaksanaannya justru bikin ibue uring-uringan. Mungkin dia bermaksud menuruti nasehatku untuk membantu ibu. Misalnya saat ibue nyuci mobil di halaman. Dia suka bantuin nyemprot sana sini dengan hasil akhir interior basah kuyup atau cat baret-baret digosok pake sikat besi.

Atau pagi-pagi pintu kulkas sudah terbuka dengan isi berantakan. Sayuran di lantai, telur pecah dan sebagainya sementara dia sudah nangkring di depan kompor. Kalo ibue ngomel dia akan ngeyel, "Tita bantu ibu masaaak..."




Ya begitulah...
Niat baik memang tak selamanya terlaksana baik. Namun karena ini tentang pendidikan, anggap saja semua itu adalah biaya sekolah yang harus jadi resiko demi masa depan anak-anak.



Intinya
Walau mereka baru berumur satu dan dua tahun, tapi tak bisa dianggap terlalu dini untuk mulai mengajaknya bicara secara dewasa. Dan yang aku rasakan, mereka lebih bisa mengerti ketimbang pake cara suruh dan larang. Implementasi yang melenceng dari keinginan, aku kira bukan masalah karena tujuan akhirnya bukan itu.
Kayaknya sih begitu...






Read More

02 April 2013

Ferrari Kandang Monyet


#Semua Umur

Ada satu kendaraan yang sekarang seolah jadi icon unit kerjaku. Judul aslinya sih Mithsubishi Fuso, namun orang sini lebih suka nyebut PS. Bisa lengket dengan IT sebenarnya lebih dominan unsur ejekan karena sejak truk bernomor lambung PRO-001 itu datang ke site jarang banget orang yang mau pake. Sebagaimana aku selalu menghibur pasukanku dengan menamakan truk itu sebagai Ferrari, orang lain nyebutnya kandang monyet.
#Semprul...

Awal ceritanya dimulai akhir tahun lalu ketika timku dapat proyek infrastruktur rada besar. Sebelumnya kendaraan saranaku kalo engga Ford Ranger ya Strada Triton. Karena dalam proyek itu aku harus mondar mandir bawa barang berat dalam jumlah banyak, aku pinjam truk itu selama sebulan lebih.

Setelah proyek selesai, sepertinya kepala sarana mendapat ide tidak senonoh daripada truk itu jadi besi tua di parkiran tambang. Ketahuan pasukan MekGeper jarang rewel tentang fasilitas sebagaimana karyawan lain, setiap aku minta kendaraan selalu dikasih Ferrari kandang monyet itu.

Secara fungsional aku sih ga masalah. Toh kendaraan itu masih tergolong baru dan tenaganya mantap. Tapi karena desainnya untuk bawa beban berat, suspensinya jelas tidak nyaman kalo cuma angkut dua atau tiga orang. Ini yang mengganggu kinerja pasukan ketika harus offroad jarak jauh. Karena begitu sampai tujuan, kerja saja belum badan sudah pegel semua.




Masih mending kalo jalan waktu hujan. Jalanan memang berlumpur tapi bebas debu. ACnya dodol bolak balik dibetulin ga normal juga memaksa penumpang mandi debu saat cuaca panas. Repotnya saat bawa penumpang lebih dari 3 orang. Apalagi sekarang ada anak sekolah magang yang menyertakan dua siswi. Mau tidak mau yang merasa cowok harus ikhlas berlumur debu di bak belakang atas nama kemanusiaan.

Telinga yang berwenang kayaknya kena katarak, aku ngomel juga tidak menyelesaikan masalah. Makanya aku akalin saja bawa kasur setiap jalan agak jauh. Untuk menghibur pasukan biar ga turun mental setiap waktu diejek karyawan lain, aku selalu bilang, "biar truk tapi kan ada pramugarinya..."
#Sakiiit...




Tapi truk tetaplah truk. Kalo ada yang butuh angkutan rada berat mereka pinjam Ferrari itu. Repotnya bila seperti kemarin dipinjam buat angkut kerbau untuk keperluan upacara adat pemalasan di tambang. IT yang selama ini kerjaannya tak menentu sebagaimana aku ceritakan di jurnal Multiprofesi, sekarang ketambahan titel lagi. "IT sekarang urus kebo juga ya..?
#Dodol...


Intinya
Enak ga enak tak ada yang perlu dibikin repot. Ambil positifnya saja dimana aku bisa menanamkan semangat korsa ke timku dan membuktikan bahwa dengan fasilitas apa adanya teman-teman mampu bekerja dengan baik tanpa harus rewel atau manja sebagaimana karyawan lain.
#aslinya sih ngenes...


Read More

01 April 2013

Generasi Pesbuker


#Semua Umur

Pengerjaan proyek sampe molor memang repot dan bikin rencana molor sore-sore batal. Padahal aku dapat deadline hari senin pagi pelabuhan sudah terkoneksi ke server di PLTU. Karena minggu sore pemasangan tower baru kelar, itu artinya aku harus kerjakan malam itu juga biar pagi sudah operasional. 

Teman-teman aku minta isi amunisi sebanyak mungkin biar bertenaga. Kalo perlu makan dua piring biar tahan sampai pagi, walau hasilnya malah ngantuk kekenyangan engap buat manjat.

Dengan kerjasama yang baik, sekitar pukul 11 malam pekerjaan sudah selesai. Uji koneksi juga berjalan lancar walaupun di awal pekerjaan teman-teman sempat ragu-ragu.

Lagi nyiapin peralatan kerja dan lampu sorot, cuaca mendadak berubah kurang bersahabat. Setelah sepanjang hari panasnya begitu terik, tiba-tiba mendung hitam bergayut tebal disertai angin kencang dan petir.

Mempertimbangkan unsur keselamatan, aku sempat berpikir untuk menunda pekerjaan sampai besok pagi. Kalo sampai orang kantor ngomel pekerjaanku molor, rasanya keterlaluan orang faktor alam yang menghambat.

Dasar pasukan dodol, anak buah ada yang komplen. Bukan target proyek yang dia pikirin. Tapi, "kalo ga dipasang sekarang, nanti malam ga bisa pesbukan dong, pak..?"

Daripada mengecewakan teman, aku manjat duluan untuk melihat situasi. Dari puncak tower kelihatan jarak hujan dari lokasiku masih lumayan jauh. Begitu pula dengan kilatan petirnya. Aku ambil jarak aman 5 kilometer sebagai batas pekerjaan harus dihentikan.




Setelah itu buruan aku minta temanku manjat
Eh malah jawab, "tapi aku belum kawin, pak..."
"Maksut loh nyuruh gua kerja sendiri, gitu..?"

Mrenges doang...
Tapi menyusul manjat juga
Kalo ga ngapel di pesbuk, dia pikir bakal batal kawin kali...


Intinya
Mewabahnya generasi pesbuker ternyata bisa juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja karyawan...


Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena