08 Agustus 2013

Oleh-oleh

#Bimbingan Orang Tua

Setiap pulang bareng teman, pertanyaan yang sering diajukan adalah, "bawa oleh-oleh apa buat yang di rumah..?"

Nyengir doang...
Karena itu salah satu kejelekanku sejak dulu kala. Pergi kemana pun jarang banget pulangnya bawa oleh-oleh. Pembenarannya sih banyak, namun pada intinya aku males terlalu banyak barang bawaan. 

Apalagi kalo naik pesawat. Paling wegah kalo ada barang yang harus masuk bagasi. Maksimal aku bawa koper kecil yang bisa masuk kabin dan tas laptop. Seringnya malah ransel doang isi laptop, alat mandi dan stok kancut.

Kecuali keluarga atau tetangga pesan sesuatu yang di Jogja tidak ada -misalnya akar pasak bumi- baru aku bawain. Ngapain aku beli jauh-jauh kalo mintanya cuma dangkin donat atau malah gudeg.

Tentang ini, tetangga sebelah malah lebih keren. Dia sama malesnya dengan aku tentang bawaan di pesawat. Namun tak mau kalo pulang ga bawa oleh-oleh. Makanya begitu keluar bandara, pasti mampir toko kue dulu sekedar beli bakpia atau bolu gulung. Dibilang kurang kerjaan, dia kasih alasan, "kata istriku bolu gulung yang aku bawa lebih enak ketimbang yang dia beli sendiri..."

Padahal dia belinya di toko yang sama dengan istrinya biasa beli. Makanya aku suka komentar, "istri lu bukan komentarin bolu gulung yang elu beli kali..? Tapi bolu karatan yang dah 3 bulan nganggur..."
#sambit panci...

Tau kebiasaanku, ibue ga pernah komplen. Satu-satunya yang beliau suka minta hanya madu untuk anak-anak. Katanya lebih yakin keasliannya ketimbang beli di toko. Madu hutan ini bentuknya lebih kental dan rasanya sedikit pahit.

Aku beli dari penduduk, minta tolong teman bagian surveyor yang sering ketemu para pencari madu saat masuk hutan. Umumnya mereka kasih harga 100 ribu perliter.

Makanya...
Pertanyaanku ke ibue Ncip selalu, "mau madu gak..?"
Tak pernah kepikiran nanya yang lain-lain
Apalagi nanya, "mau dimadu gak..?"


Intinya
Aku tak pernah tahu kenapa aku malas bawa oleh-oleh selain alasan bagasi. Untung yang di rumah mau mengerti dan tak perlu terjadi seperti tetangga sebelah yang ngambek kalo suaminya pulang bepergian dengan tangan kosong...


Read More

Akhirnya Pulang Juga

#Semua Umur

Lebaran jauh dari keluarga rasanya sudah biasa. Begitu pula ibue Ncip yang tak merasa aneh berlebaran bareng anak-anak doang.

Tapi kali ini cerita ibue membuatku merasa beda. Bukan tentang lebarannya, melainkan dari perasaan dampak pindahan rumah beberapa bulan lalu.

Waktu masih di Kotagede
Perum Winong merupakan perumahan jadul yang sebagian besar penghuninya kakek nenek. Saat lebaran tiba, anak cucunya berdatangan sampe jalanan komplek sering macet oleh kendaraan plat luar kota. Lingkungan perumahan jadi rame. Ncit dan Ncip pun senang banyak teman baru.

Berbeda dengan Graha Banguntapan yang saat ini ditempati. Perumahan baru yang isinya pasangan muda semua. Perantau pun banyak. Sehingga beberapa hari menjelang lebaran suasananya sepi nyenyet. Sejak hari minggu kemarin masjid sudah tutup tidak ada yang tarawehan lagi. Ibue Ncip sampe bilang, "horror kaya kuburan..."

Kasihan anak-anak...
Biasanya jalanan komplek tak pernah sepi dari suara ribut anak-anak bermain. Sekarang hening sepanjang waktu. Tinggal Ncit dan Ncip saja yang katanya suka celingukan mungkin mencari keajaiban siapa tahu teman-temannya tiba-tiba datang lagi.

Ga tau kenapa aku mendadak sedih mendengar cerita ibue itu. Anak-anak itu terlalu lincah kalo harus menjalani hari-hari sepi seperti bapaknya di hutan sini. Jadi merasa bersalah bila aku tak segera pulang membawa kegembiraan untuk mereka.

Maafkan ayah ya, nak
Bentar lagi ayah pulang
Kita ke rumah mbah, kah..?

Atau mau sekalian ke Bandung nengok eyang Lembu..?


Intinya
Selama ini aku merasa punya hati yang sekeras batu
Ternyata lumer juga bila berhadapan dengan anak-anak


>>mobile post by defy at syamsudin noor airport---


Read More

07 Agustus 2013

Aplikasi Isbat Online Mungkinkah..?

#Dewasa

Di hutan tidak pernah dengar suara takbir, aku buka yahoo cari berita tentang lebaran siapa tahu diundur minggu depan. Eh, nemunya malah berita kayak gini...

Pemerintah mengaku banyak mendapatkan masukan dari organisasi massa (Ormas) Islam untuk memaksa Muhammadiyah mengikuti sidang Isbat baik penentuan awal Ramadan dan penentuan 1 Syawal.

"Mereka mendukung pemerintah. Mereka mendorong pemerintah dapat mengambil tindakan yang sifatnya memaksa," kata Menteri Agama Suryadharma Ali usai membuka sidang pra Isbat, Jakarta, Rabu (7/8/2013).

Emang begini ya agama yang katanya rahmatan lil alamin..?
Begini pula ya yang disebut negara demokrasi..?

Aku tidak berpihak ke Muhammadiyah. Namun aku menghargai tindakan PP Muhammadiyah yang tidak berangkat sidang isbat. Pilih diam ketika merasa selama ini suaranya tak pernah diakomodasi pemerintah menurutku sebuah tindakan sportif. Jauh lebih beradab ketimbang ormas songong yang suka memaksakan kehendak dengan kekerasan ketika pendapatnya tak didengar.

Aku bisa mengerti alasan Din Syamsudin yang menganggap sidang isbat adalah pemborosan. Uang rakyat 9 ember dihabiskan hanya untuk sidang beberapa jam. Biarpun untuk sidang isbat idul Fitri ini pak menteri bilang biayanya cuma 163 juta, tapi di mataku itu masih terlalu besar. Memang benar demi kemaslahatan umat. Namun mengapa harus sebesar itu..?


Kalo ada yang punya akses ke Menteri Agama...
Sok bilangin aku mau bikinin aplikasi web base gratis untuk keperluan itu. Domain dan hosting biar aku yang bayar orang paling-paling 500 ribu setahun. Kalo mau nebeng di rawins.com juga boleh...

Konsep kasarku begini
Tiap kabupaten kan ada masjid besar. Minta imamnya ngamatin hilal lalu login ke website untuk melaporkan bagaimana hasilnya. Tak perlu pengadaan infrastruktur orang hape bisa internet sekarang sudah merakyat. Laporan dari masing-masing daerah tampilkan secara realtime sehingga masyarakat umum bisa mengikuti.

Kalo imam masjidnya minta bayaran, pasang pengumuman penerimaan relawan, masa sih ga ada yang mau. Pengamat hilal musti disumpah hakim, umumin juga cari relawan hakim yang mau nyumpahin orang.

Pak menteri butuh ngobrol dengan semua pejabat ormas, tinggal pasang aplikasi chatting atau voip di webnya. Setelah kelihatan hasil dari masing-masing daerah, kasak kusuk kesana kemari, tinggal putuskan kapan awal puasa atau lebarannya. Beres kan..?

Tak perlu buang duit banyak. Pak menteri pun bisa pimpin sidang dengan santai. Cukup pake kolor di rumah bahkan disambi boker juga bisa. Jaman makin maju, masa sidang harus ketemu muka mulu biar dianggap sah. Ijtihad dong, pak...

Kira-kira begitu...
Namun kayaknya cuma mimpi basah di siang terik

Jujur aku jadi inget teman yang mengajakku jadi tim sukses partai beberapa tahun lalu. Aku sempat tanya, kenapa jadi dukung partai itu padahal dulu benci banget.

Ternyata jawabnya, "aku memang kurang suka partainya. Tapi aku suka uangnya..."

Tahu gak apa yang nancep terus dalam otakku..?
Cuma tiga kata itu saja, Aku Suka Uangnya...
Hooo jebul kalo disingkat jadi ASU...


Intinya
Aku cuma berandai-andai saja dengan jurnal ini
Dan aku tak menjamin aplikasiku bebas error kalo beneran dipake
Haha semprul banget kan..?

Mumpung mau lebaran
Maapin aku ya, pak menteri
Kali aja nyeramahin ulama sekaligus ulil amri itu dosa besar...
Sok tau ya ga ngerti gimana susahnya mikirin umat senegara..?

sumber beritanya --> disini



Read More

06 Agustus 2013

Lebaran Modern

#Semua Umur

Ramadhan belum lagi usai, sisa-sisanya hampir tak lagi terasa. Bisa dibilang dimana-mana orang sudah bicara lebaran, termasuk di blog dan jejaring sosial.

Kemajuan teknologi yang katanya mempermudah hidup juga merubah perilaku lebaran kebanyakan orang. Dulu permintaan maaf itu disampaikan secara ekslusif ke masing-masing orang. Tak bisa sungkem secara fisik, kartu lebaran jadi gantinya.

Kini justru terbalik...
Orang yang akan kita mintakan maafnya cukup ditandai di jejaring sosial, agar nyamperin sendiri melihat seberapa tulus permintaan maaf kita. Praktis, walau rasanya agak aneh...

Ada yang masih mau sedikit berusaha mengirimkannya melalui sms. Sayang masih saja ada yang mengedepankan unsur kepraktisan. Bikin satu sms, lalu klik send all ke semua nomor tersimpan di hape.

Sayangnya lagi, kita seringkali terjebak faktor verbal sampai melupakan tujuan utamanya. Permintaan maaf yang sebenarnya bisa dibuat secara bersahaja dianggap kurang afdol. Copas ucapan indah dari internet jadi tren. 

Dampaknya...
Ucapan yang semestinya dirasakan istimewa jadi terasa biasa ketika kita menerima kalimat yang sama persis dari beberapa orang berbeda.

Namun tak perlu diambil hati
Jalani saja apa yang jadi tren masa kini. Toh untuk itulah manusia menciptakan teknologi.


Mohon maaf lahir batin untuk semuanya
Dan Selamat Hari Raya Idul Fitri buat yang merayakannya
*tapi suer aku lupa yang keberapa...


Intinya
Apapun adanya itulah fakta dari lebaran modern
Tak perlu dianggap sekedar basa basi biarpun tak sampai menancap di hati...


*Gambar nyomot di path-nya Bebek tanpa ijin


Read More

Waspadai Pencurian Account

#Semua Umur

Pernah dikasih capcay oleh google..?

Saat cari sesuatu di google, tahu-tahu muncul verifikasi kata seperti gambar disamping. Biasanya muncul saat online menggunakan koneksi yang sifatnya berbagi pakai seperti di kantor, warnet atau hotspot gratisan.

Secara umum kemunculan capthcha itu dipicu oleh virus atau worm yang menjangkiti salah satu user. Bisa juga efek dari penggunaan proxy atau SEO tools yang meningkatkan lalu lintas data. Ketika google menganggap traffic itu sudah di luar kewajaran, capcay disuguhkan untuk meyakinkan bahwa permintaan pencarian yang kita lakukan bukanlah aktifitas robot.

Sepele namun merepotkan...
Apalagi untuk admin jaringan yang kudu kerja keras mencari dimana sumber penyakitnya. Worm berkeliaran di jaringan adalah ancaman serius untuk server data perusahaan. Resikonya data bisa rusak atau dicuri orang.

Gangguan sudah masuk stadium lanjut ketika yang muncul adalah permintaan maaf. Google menganggap tingkat ancamannya tinggi sampai-sampai kita tak boleh menggunakan mesin pencarinya. Gmail pun tak akan bisa dibuka sebelum penyebab gangguan bisa dihilangkan.





Itu kan buat perusahaan. Kalo user personal ga ngaruh kali..?

Kedua gejala di atas tak boleh dianggap sepele. Kasus pencurian akun saat ini makin marak terjadi. Apalagi setelah hotspot gratisan bertebaran di mana-mana dan banyak penggemarnya. Isenger itu memang lebih suka bermain di layanan wifi publik yang sistem keamanannya cenderung lemah.

Yang sederhana contohnya tool bernama Cain Abel atau Wiresharks. Sebenarnya itu alat bagi admin untuk memeriksa perilaku jaringannya. Tapi namanya manusia, alat yang sebenarnya bermanfaat pada akhirnya jadi pisau bermata dua. Satu dua orang merasa asik memainkannya untuk ngintip privasi tetangga.


Di android pun ada aplikasi bernama Droidsheep. Fungsinya sama sebagai tool man in the middle. Memonitor seluruh lalu lintas data antara user dan hotspot atau router secara ilegal.

Dengan aplikasi-aplikasi di atas, password bukanlah sesuatu yang rahasia lagi. Dengan Droidsheep di android atau Seassonthieft di PC, kita tinggal klik sesi yang ingin diisengin, akan terbuka browser dengan status login sama dengan korban. Usiler bisa lakukan apa saja disitu atas nama korban dan yang paling repot bila sampai mengganti password.

Untuk yang suka onlen pake hape android di hotspot gratisan, tak ada salahnya menginstal DroidsheepGuard untuk mengantisipasi adanya pengintai yang siap mengendus akun kita. Pasti tak enak rasa bila tahu-tahu akun kita aplut gambar jorok padahal di mata masyarakat kita dianggap alim ulama.
#alim ka masjid kalo aku mah...



Intinya
Sekedar gambaran bahwa kita semestinya waspada dan menyadari bila internet itu bukan dunia yang aman walaupun kelihatannya nyaman...


Read More

05 Agustus 2013

Kita Belum Siap

#Bimbingan Orang Tua

Dunia makin terbuka...
Orang-orang kian mudah menyuarakan pendapatnya di muka umum. Sayangnya tidak diimbangi dengan kemauan untuk mendengar sementara kemampuan menyaring informasi kadang masih kurang. Sehingga generasi ngeyel yang sulit dikoreksi jadi mewabah. Tak mau instropeksi malah menganggap permintaan konfirmasi sebagai tindakan kontra demokrasi yang melanggar hak asasi.

Seperti kemarin pagi stafku laporan ada yang ngotot minta blokir pesbuk dibuka. Temanku bilang itu tak mungkin karena masih jam kerja, justru dibalas dengan ceramah panjang lebar tentang aspirasi karyawan.

Sorenya aku kena tegur ibu deputy direktur, "ngapain sih lu bikin-bikin pesbuk segala. Bikin repot tau..?"

Ternyata yang pagi-pagi maksa minta pesbuk dibuka, cuma mau bikin status bernada komplen ke perusahaan. Kacaunya, status yang membuat karyawan heboh itu cuma ocehan tak jelas berdasarkan kabar burung. Mamake deputy sampai ikut ngomel, karena kejadian semacam itu sering terjadi.

Aku tak menyalahkan orang berceloteh di jejaring sosial. Asalkan itu sudah dikonfirmasi kebenarannya, sudah disampaikan kepada pihak berwenang namun tidak ada tanggapan. Kalo prosedur standar saja belum dicoba sudah berkicau didepan umum, aku juga empet dengarnya.

Makanya aku sering berpikir, kita itu belum siap dengan demokrasi. Di semua eselon kebanyakan masih gagap kebebasan. Yang di bawah merasa bebas ngomong apa saja, yang di atas belum siap dengan cara seperti itu. Akibatnya kebebasan salah tempat jadi ngetren dan cenderung ke arah oon berjamaah...

Budaya asbun semacam itu tak cuma milik orang hutan saja. Di kota yang katanya tingkat pendidikan lebih memadai, kasusnya bahkan lebih banyak. Paling mudah dilihat kayaknya di pesbuk

Sebagai contoh, aku repost saja dari jurnal lama. 
Lihatlah bagaimana generasi muda kita memanfaatkan kemudahan bersuara secara membabi buta. Ini aku capture dari fans page nya grup rock asal Jerman. Ada bebek aka cemutz komen disitu juga loh...








Manteplah...
Semoga Ibu Pertiwi tak lagi berduka dengan carut-marut pengelolaan negeri ini dan bisa ngakak guling-guling melihat teman-teman ajaib kita itu...



Intinya
Kebebasan yang lepas kontrol. Fenomena keren yang menjangkiti sebagian saudara kita tanpa memandang usia, pendidikan dan ipoleksosbudhankam. Mengharukan, namun begitulah kenyataanya. Jadi, nikmati sajalah tanpa perlu menganggap mempermalukan bangsa...
#kaya punya malu aja...


Read More

04 Agustus 2013

Mind Game

#Semua Umur

Ibue komplen, "kalo Ncip nelpon buruan diangkat. Berisik teriak-teriak ayah mana ayah mana mulu..."

Si Ncip memang rajin banget nelpon. Cuman ya gitu deh. Kalo ngobrol disambi main game dengan volume suara pol. Pake nanya ini gimana itu gimana seolah-olah bapaknya ada nemenin di situ lalu lama-lama cuek keasyikan sama game nya.

Komplen balik ke ibue soal nelpon sambil nge-game ga berani. Jawabannya sudah pasti, "hobi main game saja diturun-turunin ke anak..."


Tak cuma ibue...
Di kantor pun HRD suka komentar, "kerja yang bener, jangan main game mulu..?"
Jarang diperpanjang karena jawabanku tak pernah berubah, "main game saja masih lu gaji banyak. Kalo kerja bener, perusahaan kuat bayarnya ga..?"

Cuma becanda...
Karena mereka tahu aku tak punya jam kerja. Pokoknya stand by 24 jam tanpa batasan waktu ngantor, ketentuan seragam, apalagi kewajiban mandi. 

Parameternya hanya server dan jaringan bekerja normal. Mau tidur seharian pun tak ada masalah. Namun jangan tanya kalo ada gangguan. Mau tengah malam hujan kaya apa musti turun. 

Beberapa tahun lalu malah pernah aku ke tambang malam-malam sambil dipapah sopir perbaiki mesin absensi. Badan panas dingin kena tipes, staf lain tidak ada padahal hari itu tutup buku, data kehadiran musti dikirim ke Jakarta.
#dinamika profesi...


Kembali ke soal game...
Sejak dulu aku suka game perang bertipe first person shooter. Game strategi tidak. Game online juga aku hindari.




Kalo buang mumet, ngoceh di blog merupakan obat paling manjur. Game ini aku pake untuk ngetes kadar stresnya. Tingkat kesulitan aku setel ke posisi tertinggi. Untuk bisa bertahan di difficulty level ini butuh konsentrasi dan kesabaran. Tak bisa aku selonong boy tanpa mikir sebelum melangkah atau menembak. 

Ketika bentar-bentar aku tertembak, berarti kadar stres masih tinggi. Tandanya aku musti refreshing dulu sebelum dites ulang dengan game yang sama. Saat mampu bertahan dan bisa menghabisi musuh satu persatu, aku bisa katakan otakku sudah kembali adem dan siap bekerja dengan jernih, sabar dan hati-hati.

Mungkin ini aneh untuk kebanyakan orang
Juragan Pacul saja pernah bilang, kebiasaan yang tidak umum
Makanya sekarang aku umumkan di sini
Kira-kira begitu...


Intinya
Sekedar menghibur hati membuat pembenaran atas hobi yang kurang bermanfaat...


Read More

Bocah Sregep

#Banyumasan

Setu sore bocahan takon akeh tugas apa ora
Gawean sih ana terus. Tapi kelingan malem minggu tanggal nom, nyong wis mudeng karepe. Makane mung semaur, "ya nganah mbok arep pada meng kota..."

Asline sih ora ana prei. Mung sok melas nek ora diwei kesempatan represing. Paling-paling klinthung meng pasar ngecengi prawan liwat apa nginum-nginum  nanggone kanca ikih. Ora go pedinan, paling-paling nek tanggal nom thok. Tur bocahan ya ora tau gawe masalah, apa maning nganti mabok nang kantor. 

Kadang-kadang tek kancani nongkrong ora ketang mung nyruput bir thok. Paling ora nyong dadi ngerti nek bocahan termasuk tertib. Nginum nangumah sinambi gitaran. Nek krasa mumet pada turu. Ora petantang-petenteng nang pinggir dalan malaki wong liwat.

Tapi bengine nyong malah pecicilan dewek nang kantor. Letop sing go ngremot server ora nana. Wedi mbok ilang gagean nelpun pasukan. Jebul digawa alesane, "melas rika mbok arep turu sore. Men nyong bae sing garap pak, disambi jagongan..."

Kanca kerja teladan pancen...
Lagi nyantai esih kelingan nyangking kerjaan
Dadine malem minggu nyong teyeng menjalankan tugas
#turu gasik...


Minggu awan, bocahan pating pethungul nang mess
Kelingan server, nyong takon wis rampung apa urung kerjaane

Ngakune sih wis beres
Tapi kon mbukakna arep tek cek koh suwene ora etung gole ngutak-atik. Sidane tek parani takon ana apa

"Nyetinge sih wis rampung, pak. Tapi deneng nyong klalen paswote mau bengi apa yah..?"

Hoalah klamite jabang bayi ora patia kaget...
Mulane nongkrong nongkrong bae rausah sok mikir gawean barang...
#mondol...


Intine
Wong mabok pancen angel dilawan...



Read More

03 Agustus 2013

Pergeseran Tradisi

#Bimbingan Orang Tua

Pertanyaan, "hamian mudi, hanyu..?"
Atau, "pian kada bulik, kah..?"
Kayaknya sudah jadi menu sehari-hari di sini...

Satu persatu warga mulai angkat koper. Tak cuma yang punya idul fitri saja, yang non muslim pun ikut sibuk pulang kampung. Makanya kian hari mess kian terasa sepi.

Tak cuma di sini...
Ibue Ncip juga laporan kalo sekitar rumah sudah sepi. Anak-anak konvoi bangunin saur sudah tidak ada lagi. Bahkan masjid komplek kasih pengumuman, kegiatan ramadhan di masjid hanya sampai tanggal 4 saja. Efek kehabisan warga...


Mudik memang luar biasa
Salah satu dampak kegiatan keagamaan orang Jawa yang kini sudah jadi ritual nasional. Menjadi hajat negara yang setiap musimnya menelan dana luar biasa besar dan selalu memakan ratusan korban baik jiwa maupun luka.

Keinginan berkumpul keluarga adalah segalanya. Bermacam pengorbanan sudah tak lagi terpikirkan, termasuk mengorbankan puasa.  Memang pak kyai suka bilang lebaran itu hanya milik orang yang puasanya tamat. Namun ini tak perlu diperdebatkan. Apalagi sampai nyuruh hompimpah untuk menentukan siapa yang benar.

Mudik bukan lagi tentang ibadah...
Merayakan kemenangan mungkin benar. Namun bukan lagi kemenangan atas puasa, melainkan menang dari perjuangan panjang menuju kampung halaman. 

Nilai silaturahmi bukan lagi tujuan dominan...
Cukup banyak yang menganggap pulang kampung itu ajang menunjukkan kesuksesan hidup di rantau orang. Tak ayal bila ada satu dua teman yang tiap mudik begitu royal berbagi hadiah, pakai kostum ngejreng atau nenteng gadget keren. 

Namun ketika mau berangkat musti nyamperin konter, nawarin hape katanya buat ongkos balik. Tak kurang-kurang yang sambil curhat, "sebenarnya kita kerja keras setahun penuh hanya untuk lebaran saja..."

Tak salah kalo orang Jawa bilang lebaran itu riyaya dan selamat lebaran itu sugeng riyadi. Bisa jadi lebaran emang masanya untuk berbuat riya atau pamer...

Aku pun sama saja...
Cuma kebetulan aku dapat keistimewaan dari tuhan
Mau bener mau engga selama ramadhan, begitu lebaran aku pasti kembali ke Fitri
Tak pernah kembali ke Selly, Asty apalagi si Udin...
#mau disuapin opor sekalian pancinya..?


Intinya
Begitu banyak pergeseran budaya dari tradisi mudik sampai ada yang bilang itu tidak semestinya. Namun karena itu faktanya, ya jalani saja lah... 


Read More

Lebaran di Rantau

#Semua Umur

Lebaran di rantau...
Seolah istimewa sampai jadi acara khusus di tipi

Mungkin hanya aku yang menganggap lebaran jauh dari keluarga itu biasa saja. Karena bisa dibilang, aku lebaran di rumah hanya beberapa kali saja ketika masih kerja di Jogja.

Sejak masa sekolah aku lebih sering lebaran di jalanan. Gara-gara ikut pramukaan di Polres, setiap masuk musim mudik aku jadi warga pos simpatik operasi ketupat Polri. Membantu menangani ruwetnya lalu lintas dan ngurus korban kecelakaan.

Dari situ aku bisa melihat betapa beratnya perjuangan mudik. Orang sampai rela berdarah-darah meregang nyawa hanya untuk berlebaran di kampung halaman. Bertahun-tahun itu aku jalani, tak terhitung berapa banyak manusia tanpa nyawa atau terluka aku angkat dari jalanan.

Pernah sekali aku berlebaran di lereng Sindoro. Mencari orang yang katanya lagi menjalani ritual khusus di puncak Sindoro sebanyak 7 kali selama bulan puasa. Di ritual terakhirnya dia dinyatakan hilang. Beberapa hari pencarian, orang itu ditemukan dalam kondisi kritis dan menghembuskan nafas terakhir hanya satu kilometer menjelang batas desa.

Di dunia kerja pun sama. Kebetulan aku sering ditempatkan di unit emergency. Piket di hari lebaran bukan hal aneh lagi. 

Seperti waktu kerja di PLN
Orang lain saling berkunjung dalam rangka silaturahmi, aku malah mondar mandir angkat junjung tangga. Hari penuh maaf tidak menjamin orang mau memaafkan PLN saat listrik padam. Begitu mengetuk pintu bukan ucapan taqoballahu minawaminkum yang didapat. Lebih banyak yang ngomel, "kumaha deuih, lebaran kalah pareum listrik..?"




Situasi berbeda aku rasakan waktu jadi kernet bus Harum jurusan Bandung - Jakarta. Lebaran tetap aku lakukan di jalanan namun dengan motivasi berbeda. Bukan lagi mengedepankan faktor sosial agar orang lain berlebaran aman dan nyaman. Melainkan aji mumpung banyak orang bepergian dan tarif bus dapat tuslah.

Lebaran di hutan juga tak jauh beda
Namun terasa hambar karena lebih banyak duduk sepanjang hari. Sekedar nungguin server dan jaringan siapa tahu ada gangguan tanpa ada tugas kemanusiaan yang penuh tantangan.

Jadi...
Jalani saja deh...



Intinya
Lebaran jauh dari keluarga, rasa haru selalu ada. Namun bisa terasa beda bila kita jalaninya demi orang lain bisa bersukaria bersama keluarga. Melihat lebaran dari sisi kemanusiaan kadang terasa lebih indah ketimbang melihatnya dari sisi keagamaan...
Itu yang aku rasa...


Read More

02 Agustus 2013

Logo HUT RI

#Semua Umur

Sekali-kali pengen nasionalis, aku sempatin cek websitenya Sekretariat Negara untuk melihat logo HUT RI tahun 2013. 

Eladalah
Ga kreatif blash...
Logonya seperti gambar di samping. Masih sama dengan logo yang dulu-dulu cuma dirubah sedikit posisi benderanya. Andai aku esbeye mungkin akan bilang, "saya prihatin..."


Kalo ditelusur ke belakang, logo dengan tipe itu mulai muncul saat perayaan 50 Tahun Indonesia Merdeka dulu. Sempat menghilang agak lama dan kembali nongol sekitar tahun 2000an dengan sedikit modifikasi pada angka tahun dan jumlah benderanya. 

Aku ga tau syarat jadi staf sekretariat negara itu harus lulusan apa. Pantesan urusan negara banyak yang katrok orang bikin logo saja tak mau mikir. Semoga sih karena mereka sibuk mikirin rakyat, bukan karena organ tubuh yang buat mikir tidak ada di tempatnya.




Kalo memang tak sempat, kenapa pula tidak mengerahkan seluruh rakyat buat kerja bakti bikin logo. Ga kudu dibayar juga banyak yang mau kok. 

Contohnya dari KDRI
Sebuah komunitas yang menyatakan diri sebagai Kementrian Desain Republik Indonesia. Setiap tahun mereka mengadakan lomba desain logo HUT RI gaul yang bisa dipakai secara cuma-cuma oleh seluruh rakyat.




Aneh kalo sudah dibikinin bagus dan gratis, negara ga mau pake juga. Atau karena gratis makanya tak mau. Rupanya sudah mulai sedikit bermoral juga mereka. Malu mengajukan anggaran desain logo untuk barang gratisan.

Terasa katrok ketika Google juga rutin berpartisipasi dengan doodle khusus tiap 17 agustus. Orang luar saja peduli dan mau kreatif bikin logo keren, kenapa pemerintah yang punya hajat malah kaya aku yang tak pernah mau sibuk dengan perayaan kemerdekaan negara..?




Ya sudahlah...


Intinya
Kuharap kekurangpedulian ini hanya pada seremonial pengelola negaranya saja. Penghayatan nilai-nilai perjuangan menegakkan kemerdekaan dulu masih tetap melekat kuat dalam sanubari bangsa ini...
Semoga...

gambar comot sana sini di google


Read More

Kurang Kerjaan

#Dewasa

Kurang kerjaan..?
Kayaknya lik Zach yang akan bersorak gembira mendengar kalimat itu. Namun ku akui memang begitulah adanya...

Aku seringkali malas mikirin hal besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti politik ekonomi dan sejenisnya. Tapi kadang suka mengutak-atik hal sepele yang mungkin tak berguna bagi kemanusiaan, seperti misalnya fenomena alam...

Contoh kasus yang sejak lama mengusik pikiranku di waktu senggang adalah atmosfir. Seperti kita tahu, makin tinggi posisi dari permukaan laut semakin dingin suhunya. Padahal sesuai logika, makin ke atas itu makin mendekati matahari sebagai sumber panas.

Trus waktu SD...
Di pelajaran IPA ada penjelasan tentang udara panas akan naik dan udara dingin bergerak turun. Dasar teori ini dalam prakteknya dibuktikan dengan balon udara yang bisa mengapung setelah diisi udara panas.

Pertanyaannya kembali ke pernyataan pertama tadi. Kenapa di atmosfir, udara panas justru di permukaan bumi dan yang dingin malah diatas..? Mengapa tidak nyambung dengan teori balon udara tadi..?

Menurutku ini unik...
Beda dengan fenomena lain yang sama anehnya tapi tak sampai menganjal pikiran. Misalnya, saat kedinginan secara teori manusia akan menghangatkan diri dengan membungkus tubuh pakai selimut atau pakaian tebal. Kenyataannya setiap pulang cuti aku malah suka melakukan hal sebaliknya saat mencari kehangatan...
#sampluk panci...

Kira-kira begitu kegiatanku membuang-buang energi untuk hal tak berguna

Tapi suer
Itu asik buatku
#ketimbang ngalamun saru...


Intinya
Begitulah contoh kasus dari kekurangkerjaanku. Dan aku terlalu goblok tak mau menutup masalah dengan kata kuasa Tuhan atau wallahu'alam...


Read More

01 Agustus 2013

Kebetulan

#Semua Umur

Semalam aku mendadak terkekeh-kekeh sendiri gara-gara nonton twitter...

Sepele saja sih...
Sebagai blogger asongan setiap kali posting jurnal kan suka pasang iklan dimana-mana. Waktu membagikan jurnal Jurnal Ngapak ke twitter, saat itu juga nongol tuit Juragan Pacul dengan judul tak sama tapi hampir kembar siam. 

Pokoknya pas dengan peribahasa bagai pinang dibelah kampak. Dua-duanya ancur...

Kejadian yang mirip-mirip ini sering aku temukan di berbagai media online, dimana notifikasi yang muncul atas bawah sering bertema senada padahal yang bikin terpisah jauh jarak dan pola pikirnya.

Sering aku capture karena buatku ini unik. Sayang nyimpennya suka sembarangan. Alhasil waktu butuh buat ilustrasi jurnal seperti sekarang, banyak yang tak terlacak jejaknya...


Kompakan di inbox Multiply

Kompakan status di pesbuk


Selain bertema sama dalam posisi berurutan, ada pula yang seolah tanya jawab atau lagi ikutan kuis sambung kalimat.


Dua curhater dan satu motivator


Baru bismillah sudah hamdallah


Kuis kata berkait


Sebuah ketidaksengajaan yang asik dibanding yang gak nyambung seperti ini...

No komen ah...




Intinya
Biarpun sepele, kebetulan dan ketidaksengajaan itu keren
Minimal buatku yang kurang kerjaan...


Read More

Kebenaran Itu Tidak Ada

#Dewasa

Ga tau kenapa, aku sok empet kalo sudah ada orang yang ngafir-ngafirin orang lain...

Kebenaran yang katanya cuma milik Tuhan, kenapa pula ada manusia yang merasa paling benar menyalahkan orang lain mengatasnamakan Tuhan.

Aku pikir di dunia ini, kebenaran hakiki itu tidak ada. Yang ada hanyalah kebetulan. Tidak pada tempatnya kita mengorbankan sisi kemanusiaan hanya karena faktor kebetulan semata.

Mungkin ini suatu kesalahan fatal. 
Tapi aku meyakini seyakin-yakinnya atas pemikiran itu.

Contoh soalnya gini...
Habib Rese suka teriak, "Islam agama paling benar di muka bumi, yang lain kafir..."

Buatku itu bukan kebenaran dan tetap suatu kebetulan. Kepikir engga sih, andai kata kebetulan dia tidak lahir di keluarga muslim, apakah akan tetap ngomong seperti itu..?

Bila kebetulan dia jadi anaknya DN Aidit misalnya. 99% aku yakin dia akan teriak-teriak kabir kalo ketemu orang NU atau Masyumi yang waktu itu jadi rival politik PKI.

Kebenaran hakiki di dunia tetaplah faktor kebetulan. 
Tak perlu terlalu jauh ngomong ketuhanan. Di hukum negara khususnya Indonesia Raya, faktor itu pun dominan berlaku.

Ambil saja contoh pada kasus kecelakaan lalu lintas.
Karena kebetulan namanya Afriyani Susanti, dia langsung jadi tersangka pada hari yang sama dia celaka. Pasti akan beda bila kebetulan namanya Afriyani Bangsat Rajasa misalnya. Tak perlu masuk penjara malah bisa keluyuran keluar negeri.

Trus kalo kebenaran tidak ada, bagaimana bisa menghindari kesalahan..?
Tak masalah kita meyakini sebuah kebenaran asal itu untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan ke orang lain. Benar salah ketika berselisih paham dengan yang lain, serahkan saja kepada hakim yang sebenar-benarnya. Tak perlu jadi hakim sendiri, apalagi rame-rame...

Seperti keyakinan kalo aku ganteng, tak pernah aku paksakan ibue untuk mengakui itu. Soal kenapa dia mau diajakin menikah, bisa saja karena kebetulan waktu ketemu lagi sakit mata. 
Atau kebetulan dia kasihan juga bisa...
Kasihan orang ganteng kok jomblo
#sampluk panci...



Intinya
Ketika orang sudah mulai menghakimi orang lain dengan mengatasnamakan Tuhan, saat itulah agama menjadi sumber bencana kemanusiaan terbesar dan tak lagi jadi rahmatan lil alamin....

Tapi itu prinsip pribadi
Orang lain mau ngomong apa juga monggo...

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena