24 Juli 2013

Bahasa Hanyurueh

#Bimbingan Orang Tua

Bahasa itu selalu berkembang...
Pembakuan bahasa memang ada, namun hanya berlaku untuk bahasa resmi kenegaraan. Masuk kehidupan sehari-hari, kosa kata baru terus saja bermunculan. Sampai ada yang sempat mengumpulkannya dalam bentuk kamus bahasa gaul.

Pengembangan bahasa resmi umumnya mudah dipahami karena memang serapan dari bahasa asing atau daerah dengan arti identik. Seperti dalam bahasa Indonesia yang hanya punya kata kakak tanpa membedakan kelamin, kemudian menyerap kata mas dan mbak dari bahasa Jawa yang artinya sama dengan aslinya.

Rada rumit kalo sudah sampai ke bahasa gaul atau prokem. Penyerapannya asal dan seringkali tak dimengerti oleh mereka yang dari luar komunitas.

Seperti di tempat kerja
Kalo ada orang yang nyebelin suka disebut sebagai hanyurueh. Jangankan orang luar daerah, orang Dayak Maanyan yang tidak kerja di tambang pun mumet. Padahal istilah itu berasal dari kosa kata Maanyan yang bila diartikan secara harfiah memang membingungkan karena hanyu itu kamu dan rueh itu dua. Apa itu kamu dua..?

Awal mulanya sih sepele. Waktu pembagian seragam, ada karyawan yang ambil 2 stel. Ini dikomplen teman dengan kata hanyu rueh yang maksudnya kenapa kamu ambil dua..? Entah gimana ceritanya, semenjak itu kata hanyurueh dipake untuk ngatain orang rese.




Kosa kata ajaib lain yang berkembang di sini adalah modol. Banyak yang menggunakan tanpa tahu bahwa kata asal bahasa Sunda ini berarti aktifitas throw big water alias boker. Namun disini, kata modol digunakan ketika menemukan hal yang menyebalkan. 

Contohnya kaya gambar pertama. Dikasih tugas yang ga jelas di whiteboard sama atasan, langsung ditulisin modol.

Untuk yang ini, sejarahnya dimulai saat ada pekerjaan pengeboran grounding. Karyawan bagian safety ternyata rada error waktu ngasih titiknya. Mata bor baru masuk paling-paling 2 meter, orang-orang bubar pasar disertai bau aduhai menyebar kemana-mana.

Septic tank dibor, ya muncrat lah...
#Dodol...

Cerita dodol tentang modol bisa dibaca di jurnal Modol

Ada pengalaman lain tentang asal muasal bahasa prokem..?


Intinya
Perkembangan bahasa tak akan pernah berhenti. Selalu saja muncul kosa kata baru berbanding lurus dengan hilangnya kosa kata lainya. Tak heran bila beberapa bahasa daerah dikatakan sudah punah karena tidak ada penuturnya lagi. 

Peduli dengan kelestarian bahasa ibu..?
Cobalah untuk membuat jurnal berbahasa daerah secara berkala
Tak perlu takut dibilang tidak nasionalis orang ini tentang kebudayaan kok...


Read More

Menilai Ujian

#Dewasa

Pada jaman dahulu kala...
Konon kabarnya nenek moyang kita gemar bertapa untuk meningkatkan kualitas hidup. Semakin tinggi derajat yang ingin didapat, semakin lama proses bertapanya. Pun akan semakin berat godaan yang diterima sebagai syarat kelulusannya. Dari sekedar penampakan makanan enak, harta benda, binatang buas sampai perempuan cantik akan datang silih berganti agar puasanya gagal.

Kearifan lokal itu masih dipakai oleh mereka yang belajar melukis. Mereka harus mampu melukis model perempuan telanjang didepan mata. Hanya yang bermental kuat dan mampu menganggap obyek bugil itu sebagai keindahan seni yang bakal lulus. Yang otaknya mesum akan sulit menyelesaikan tugasnya. Bagaimana bisa melukis dengan baik kalo tangan dan lain-lainnya gemetaran..?

Pemahaman ini pula yang aku gunakan untuk menilai kekuatan spiritual diri. Dimana nilai ibadah tak hanya dilihat dari kepatuhannya saja, namun mempertimbangkan faktor pengganggunya juga. Semakin besar godaan yang mampu aku atasi, semakin tinggi pula nilai yang bakal aku terima.

Penilaian ibadah memang hak prerogatif Tuhan. Namun aku yakin Tuhan akan membedakan nilai dari dua orang yang melakukan ibadah yang sama, namun yang satu di pesantren dan satunya lagi di komplek pelacuran misalnya. Maha Adil itu bukan berarti pukul rata kan..?

Dengan pemikiranku yang nyleneh ini, aku jadi merasa aneh ketika Habib Rese dan gerombolan Front Preman Indonesia selalu bikin rusuh menjual kata amar ma'ruf nahi munkar. Ramadhan yang katanya bulan panen pahala, kenapa kita tak boleh melipatgandakan nilai ibadah dengan cara menerima godaan lebih banyak..?

Bayi bisa lebih kebal penyakit setelah diimunisasi dengan cara menyuntikan kuman atau virus. Bandingkan dengan bayi yang tak pernah diijinkan bermain tanah. Kena debu sedikit saja sudah rewel dia...




Katanya ibadah itu urusan masing-masing orang dengan Tuhan yang tak ada sangkutpautnya dengan orang lain. Lalu mengapa kita minta diistimewakan hanya karena kita sedang ibadah..? Logikanya kalo mau puasanya dihormati, ya hormati juga yang tidak puasa.

Kenapa pula musti meributkan ibadah orang lain sementara diri sendiri belum tentu baik menurut Tuhan. Apa yang mereka bilang maksiat, emang bisa hilang dari muka bumi..? Jaman nabi saja yang seperti itu selalu ada. Anak nabi yang durhaka pun ada. Nabi saja tidak mampu merubah segala isi dunia, apalagi kita..?

Wis ah...
Ini cuma efek eneg liat TL di tuiter semalem...


Intinya
Sepertinya akan lebih baik kita menertibkan diri pribadi saja ketimbang ngurusin orang lain. Walau kenyataannya nunjuk orang itu lebih mudah daripada nunjuk diri sendiri.


Tapi ini pendapat pribadi
Opini orang lain sebodo amat...
Urusan puasa, Pacul dan Jogja tetap paling asik...


Read More

23 Juli 2013

Resiko Orang Tua

#Bimbingan Orang Tua

Kembali mengutip ucapan Heraclitus, "yang tak pernah berubah hanyalah perubahan itu sendiri..."

Beberapa bulan terakhir ini aku pun merasakan perubahan yang terjadi pada anak-anak. Kalo dulu Citra begitu dekat dengan bapaknya dan Cipta lengket bener dengan ibunya.

Semenjak masuk sekolah, Ncit jarang banget mau ngobrol denganku. Dipanggil-panggil saat aku nelpon ke rumah, seringnya dijawab pendek, "Tita lagi mainan mbek, ayah..."

Perubahan sikap Citra bikin aku ingat orang tua di kampung sana. Dulu bentar-bentar nyamperin minta duit. Bilang buat beli buku, bayar iuran ini itu di sekolahan, padahal sebagian lari ke warung atau buat ongkos naik gunung.

Setelah punya penghasilan sendiri, kayaknya jarang banget kirim ke orang tua. Duitnya lebih banyak habis dipake pacaran. Sudah begitu, waktu mau menikah masih saja minta sumbangan ke mereka. 

Sampai punya anak pun sama saja. Sengaja nelpon nanya kabar di kampung bisa sebulan sekali. Lebih sering mereka yang nelpon atau kirim-kirim sesuatu walau alasannya buat cucu.




Si Ncit jarang mau ngobrol, untung ada si Ncip penggantinya. Anak ini malah getol banget nelpon tak kenal waktu. 

Rada repot setelah punya tablet. Nelpon disambi main game dengan volume suara pol. Tak cuma berisik suara game saja. Kalo bingung dia bakal teriak, "ayah tolongin aku ini pencet apa...?"

Ga bisa disuruh nanya ibue atau jawab ga tau. 
Komentarnya bakalan ga enak dan ga jauh dari, "ayah oon ah..."

Ya sudahlah
Resiko jadi orang tua...
*walaupun masih muda...

Iya, kan..?


Intinya
Kayaknya memang seperti itu siklus hidup manusia. Sejak lahir dibesarkan dengan susah payah, setelah dewasa malah sibuk ngurusin anak orang. Sepertinya memang enak. Namun setidaknya aku jadi sadar bahwa suatu saat nanti aku pun akan merasakan hal sama dari anak-anak.

Selamat Hari Anak Nasional
entah yang keberapa...



Read More

22 Juli 2013

Penanda

#Dewasa

Santai sore aku manfaatkan untuk ngecek komen, takut ada yang belum dibales. Aku memang utamakan bales komen masuk ketimbang blogwalking. Kesannya kurang ajar bener ada tamu datang kita cuekin. Disuguhin kagak malah ditinggal kelayapan.

Perhatian rada khusus aku berikan ke jurnal-jurnal lama. Kalo ada tulisan jadul masih ada yang komenin, kebanyakan berstatus urgent dan bukan kunjungan basa-basi sekedar balas kunjungan.

Dan pemeriksaan pasukan kali ini aku sempat tertegun ketika nemu komen berbunyi begini




Disinggung soal hak cipta, aku langsung ingat komentar seorang teman beberapa hari lalu, "tumben foto-fotonya dikasih tulisan rwn..?"

Sejak dulu aku biasa menandai foto yang diaplut. Cukup kasih goresan dikit di sotosop atau gimp, tak perlu pake tulisan mencolok. Aku ga begitu suka publikasi makanya penanda itu cukup aku saja yang tahu. 

Sekarang-sekarang saja aku pake tulisan rwn. Itupun berusaha aku sesuaikan komposisi dan opacity-nya biar tidak menganggu foto. Sebagai pembanding enak ga enaknya, coba perhatikan foto dibawah..




Cukup inisial saja. Orang ga ngerti apa itu rwn ga penting buatku. Sama ga pentingnya dengan uring-uringan saat foto atau tulisan dipake orang lain ga pake ngomong. 

Aku sudah sadar sesadar-sadarnya. Saat mau angkat sesuatu ke internet, itu sama dengan naruh barang pribadi di pinggir jalan. Mau dikasih peringatan hak cipta, hak citra apa hak sepatu sekalipun tidak ada yang bisa jamin ga ada yang colong.

Ga percaya, coba saja tulis peringatan yang lebih mengerikan. Misalnya, "dilarang nyolong, aku memang ga tau tapi tuhan pasti tau..!!!"

Ga bakalan ngaruh. Yang ada malah pengen jedotin kepala ke tembok kalo ada yang balas begini, "tuhan emang tau, tapi ga bakalan kan bilang ke elu...?"
#Modiyarrr...




Eh maap malah kemana-mana...
Balik ke komen tadi. Sejujurnya aku akui kalo beliau yang tanpa identitas jelas itu memang benar wejangannya. Pemilik foto harus dihargai walau hanya pake link. 

Tapi...
Ada tapinya nih...

Andai kata, teman-teman jadi aku
Apa kata pertama yang terucap setelah tahu yang dikomplen adalah foto yang mau ditandain mau engga ga bakal ada bedanya. Aku saja sampe teriak di twitter, "komentator picek...!!"

Mau tau..?
Komen itu ada di jurnal Aku Mesum Juga


Intinya
Tulisanku tak ada penanda khusus. Aku sudah yakin gayaku tak ada duanya di dunia. Tau di akherat. Untuk foto kasusnya beda. Tapi aku usahakan penanda itu tidak menganggu pemandangan yang dari sononya memang sudah jelek. 
Ada satu lagi, yang aku tandain adalah foto pribadi atau jepretan sendiri. Foto comot di internet aku ga berani pasang label...


Read More

Untrusted Connection

#Semua Umur

Pagi yang cerah namun males mandi...

Baru nawaitu tidur lagi, sudah ada yang laporan, "email saya ga jalan, pak..."

"Si Imel emang ga pernah mau diajak jalan-jalan, mending ajak si Amel saja lah..."
#Sampluk letop 


Buruan bangun cek masalah...
Ternyata browsernya ga mau buka akun email dengan alasan This Connection is Untrusted alias koneksi tidak dapat dipercaya. Outlook pun ngadat kasih laporan Security Certificate that cannot be verified yang artinya kira-kira serfitikat keamanannya tidak dapat dipercaya. Gmail, yahoo mail dan email perusahaan sama tidak bisa dibuka.

Biasanya biang kerok masalah ini hanya di seting waktu saja. Untuk pengguna Windows, tinggal cek jam di sudut kanan bawah dan periksa tanggal waktu tertera seperti ini.




Bila waktunya ngaco, tinggal balikin saja ke tanggal dan waktu saat ini. Kalo sering nyambung ke internet, paling mudah aktifkan saja sinkronisasi waktu laptop agar secara berkala disamakan dengan server NTP (Network Time Protocol). Jadinya tanggal dan jam laptop selalu tepat ga pake telat.




Repotnya, masalah kali ini bukan di situ. Belum kelar yang satu itu, hape sudah kebanjiran laporan gangguan yang sama. Bisa dibilang seluruh user di jaringanku emailnya ngadat. Ga mungkin kan, ratusan laptop tanggalnya error semua..?

Cek router dan server kali aja ada yang waktunya ngaco. Semua normal-normal saja. VPN, proxy, mail dan semua server aku matikan sementara masih saja bermasalah.

Kesimpulanku, satu-satunya penyebab gangguan adalah penyusup. Ada aktifitas ilegal berupa sniffing atau spoffing dari dalam. Berarti judulnya siap-siap bermumet ria berburu penyusup.


Intinya
Uraian di atas hanya pelengkap cerita yang ga penting. 
Yang paling penting adalah rencana bobo lagi musti ditunda. 
Eh mandi dulu gak yah..?


Read More

21 Juli 2013

Belum Minat Insap

#Bimbingan Orang Tua

Ada yang komplen lewat japri, "kalo komen kasih rem dikit kenapa, bulan puasa tau..?"

Emang ada apa dengan bulan puasa..?
Disebut bulan istimewa memang ada benarnya. Bulan dimana kita katanya bisa melatih diri untuk menjalani hidup lebih baik. Namun ketika perubahan itu hanya bersifat euforia sesaat, kayaknya aku belum berminat tuh.

Aku belum melihat keuntungannya berubah menjadi baik selama ramadhan untuk kemudian kembali ke posisi semula saat ramadhan lewat. 

Memang bisa dianggap latihan. Tak lulus pun kalo rajin latihan akan lebih baik dibanding yang tak mau berlatih. 

Tapi apa bener sih begitu..? 
Kenyataan di lapangan, hanya segelintir orang yang beneran menganggap ramadhan sebagai bulan penggemblengan. Kayaknya lebih banyak yang ikut-ikutan doang untuk jaga imej agar dibilang insan takwa. Padahal katanya takwa itu kan cuma Tuhan yang bisa menilai. Kalo ingin dinilai orang lain, apakah itu masih masuk kategori lillahita'ala..?

Sebulan dalam setahun berbuat baik apa salahnya sih..?

Tak ada yang salah. Kehidupan manusia memang selalu berubah. Sejak dua ribu tahun lalu Heraclitus sudah mengatakan, "yang tak pernah berubah di dunia hanyalah perubahan itu sendiri..."

Namun buatku, yang disebut perubahan kualitas hidup itu harus dinamis dan selalu meningkat. Kadang jatuh bangun itu wajar sejauh kondisi yang memaksa. Kalo baik sebentar, nanti kembali lagi, baik lagi, balik lagi, itu sih monoton namanya.

Aku tak peduli apa kata orang. Ketika aku rasa belum mampu untuk naik kelas, aku ga mau maksain diri ikut ujian. Sebaliknya ketika aku beneran ingin naik kelas, tak perlu menunggu orang lain atau momen tertentu aku akan berusaha untuk belajar keras sepenuh hati.

Jadi mohon maaf kalo ada yang kurang nyaman dengan ketidakmampuanku mengikuti kebanyakan orang dalam menjalani euforia ramadhan ini. Yang tidak berkenan, tulis aja komen atau pesan melalui japri, "jangan komen di lapak saya..."

Aku ga bakalan tersinggung atau merasa dimusuhi kok. Malah aku hargai itu sebagai satu kejujuran dari orang yang katanya lagi melatih diri di bulan puasa ini.

Sementara ini kalo ditanya tentang puasa, aku ikut apa kata juragan Pacul saja deh. "Sekarang ya puasa, kalo bulan depan namanya syawal..."

Don't try at home...



Intinya
Begitu banyak yang bilang, semoga ramadhanku kali ini lebih baik dibanding ramadhan tahun lalu. Tapi belum pernah aku dengar yang ngomong, semoga selepas lebaran nanti ibadahku akan lebih baik dibanding ramadhan kali ini...


Sekali lagi
Ini prinsipku pribadi
Untuk orang lain, egepe dah...



Read More

Ora Akur

#Banyumasan

Sore-sore dipanggil ibu deputy direktur, ditakoni kenang apa nyong ora akur karo menejere.

Tek omongna bae apa anane. Nyong ora cocog karo carane sing segeleme dewek. Nek gawe proyek ora nganggo ngobrol dimin karo bagian lapangan. Ngerti-ngerti kirim alat kon dipasang padahal sing paham kebutuhan karo kondisi lapangan kan nyong. Mawi ngirime mesti alat sing larang-larang.

Timbang nggrundel nyong aluwung terus terang ora melu-melu. Ndilalah bocahan ya pada kurang ajar melu-melu ngomong bebeh. Sidane nyong mung bisa ngomong meng pak menejer, "ngonoh garap dewek karo vendore..."

Jujur nyong wis kapok kambi menejer sedurunge. Polaeh pada bae seneng gawe proyek larang. Boro-boro bagi-bagi jatah kan vendor go bocahan, ngomong spek alat be ora tau. Gilirane alat ora cocog bola bali rusak, sing bagian lapangan sing disalahna.

Disemauri kaya kuwe, bu deputy malah semaur, "iya nyong be janjane mumet karo bosmu. Pecat bae apa yah..?"

Lha kuwe sing ora penak...
Wis olih proyek akeh terus minggat kan gawean. Nyong karo bocahan maning sing kudu kerja bakti ngrampungna proyeke. Buntut-buntute ora bakal adoh kang biasane. Nek kumpulan karo direksi mesti metu maning tembung, "divisimu teyenge mung ngentek-ngentekna duit tapi ora ana hasile..."

Pegawean koh nyewoki proyeke tanggane terus
Sapa sing ora wareg jal..?

Ana tapine...
Senajan ora akur nang gawean, urusan kekancan nyong tetep apik. Nek ketemu ya ngobrol ngopi cekakakan bareng. Tapi nek wis nyremped urusan proyeke deweke, gagean nyong angkat tangan. Nek deweke meksa nyong kudu nggarap, malah sisan gawe angkat kaki.

Ora apik pancen
Tapi genah kaya kuwe kenyataane koh...


Pokoke
Akur ora akur tetep tek lakoni nang jalure. Ora akur nang gawean, ora berarti mungsuhan sekabehe. Urusan kekancan kudu tetep apik. Arep kepriwe-kepriwe, menungsa ora ana sing sempurna. Sesue peribahasa, tak ada gading yang tak klethak...


Read More

20 Juli 2013

Cita-Cita

#Bimbingan Orang Tua

Laporan pandangan mata terkini dari ibue tentang anak-anak, si mbak sudah mau minum susu pake gelas lagi kalo di sekolahan dan si dede mulai ga bisa lepas dari tabletnya.

Dua hal yang wajar dari anak-anak namun sebenarnya sesuatu yang sedikit terpeleset dari keinginan.

Dari awal aku tak ingin anak-anak minum pake dot. Cita-cita yang sempat tercapai. Sejak berhenti nenen Citra sudah minum pake gelas. Sayangnya takdir bicara lain dan ibue perlu menitipkan si Ncit ke mbahnya dulu.

Aku tak bisa komplen saat jemput ke tempat mbahnya si Ncit sudah kenal dot. Bagaimanapun juga aku harus sadar simbah pasti repot ngurus 5 cucu yang semuanya masih balita. Apalagi sepupu-sepupu yang diurus mbahnya semuanya ngedot.


Sama halnya dengan kasus si Ncip. Sejak awal aku pengen anak-anak aktif di luar ruangan dan tidak terlalu akrab dengan gadget. Tapi aku musti memahami kalo kerjaan perempuan di rumah itu tidak ada habisnya. Saat aku cuti saja sering kerepotan ngurus dua anak bandel itu, apalagi saat ibue sendiri.

Kadang aku bilang ke ibue untuk banyak-banyak salurin bakat anak di alam bebas. Lepas mereka di alun-alun atau di selokan biar banyak bergerak. Tapi aku musti bilang apa ketika ibue jawab, "kalo tiap hari ngasuh ke sawah, tar jadi gosong dong. Istri kan wajib tetap cantik untuk nyenengin suami..."
#Terharu...

Aku juga punya andil bikin repot ibue yang ternyata alternatif pemecahan masalahnya dengan cara kenalin anak ke gadget. Lagian jaman sudah berubah katanya makin modern. Rasanya tak terlalu salah bila anak ikut mencicipi teknologi.

Tapi mbokyao jangan terlalu keranjingan, nak...
Sekedar tidur kelonin tablet sih masih wajar lah
Namun bagaimana kalo sudah sampai kaya begini..?





Tunggu ayah pulang ya, nak...
Kita jalan-jalan ke Merapi lagi nanti...


Intinya
Seringkali kita punya tujuan hidup yang sekuat tenaga kita upayakan, namun terkadang harus kita relakan itu tak tercapai hanya karena situasinya berubah. Itu sebabnya kenapa aku tak mau terlalu idealis...


Read More

19 Juli 2013

Surat Cinta

#Semua Umur

Hari ini aku terima 3 surat cinta...

Pertama dari Masterweb, tempat aku daftarkan domain rawins.com. Surat ini berkaitan dengan sejak pagi aku ga bisa mengakses blog, web termasuk spanelnya. Mungkin masalah ini pula yang membuat beberapa teman sempat mengeluh kesulitan membuka blog ini.

Katanya ada masalah dengan DNS Speedy. Walau aku pakai koneksi AstiNet, tetap saja itu produk Telkom. Kuharap masalah ini segera selesai dan tidak menganggu aktifitas blogging selanjutnya. Bagaimanapun juga, kerjaan tidak boleh mengganggu ngeblog.




Surat cinta kedua datang dari HRD. Ini berita gembira sekaligus menyebalkan. Gembira karena tahun ini aku tak perlu lebaran di hutan lagi biarpun harus pulang pada hari H, kecuali lebarannya diundur tanggal 9 Agustus. Aku bilang menyebalkan, karena dapat penerbangan jam 6 sore sementara semua travel dari Tamianglayang tiba di Banjarmasin jam 4 pagi.

Ini artinya aku harus bengong di bandara dari subuh sampai maghrib. Berangkat pagi pake bus bukan alternatif. Karena di sini bus bisa 2 jam sekali. Kemungkinan dapat tempat juga sangat kecil karena posisiku di tengah jalan, dalam artian bukan dari pool pemberangkatan awal.





Surat cinta ketiga cukup datang dari rumah melalui sms. 
Isinya cukup padat, singkat dan bikin alis mendadak njengat. 
"Limit kartu kredit masih banyak ga, yah..?"

Untuk yang ini, aku no komen deh...


Intinya
Perbedaan antara syukurin dan sukurin ternyata sangat tipis...



Read More

18 Juli 2013

Tempat Bermain

#Semua Umur

Kembali ke hutan disambut hujan dan teman-teman yang mengeluh sudah seminggu aktifitas tambang berhenti efek hujan sepanjang hari.

Buat sebagian orang di luar sana hujan memang dinanti, namun di sini hujan tiada henti berarti musibah bagi banyak orang yang hidupnya tergantung pada kegiatan tambang. 

Bahkan warung-warung pinggir jalan pun turut mengeluh. Memang konsumen jadi rame karena dump truck banyak yang parkir. Namun tidak adanya pemasukan membuat sopir truk lebih banyak ngutang daripada bayarnya.

Ada juga sih yang bersorak sorai ketika hujan datang. Anak-anak selalu menyambutnya dengan riang gembira. Hujan memberi mereka kesempatan bermain lebih banyak.

Kegiatan tambang memang sering meminggirkan mereka. Melupakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Tapi bagaimana mereka bebas bermain bila setiap waktu debu beterbangan. Tempat bermain juga sempit sebagian besar tanah mereka dikuasai aktifitas alat berat. Saat alat berat harus istirahat itulah waktunya mereka memuaskan hasrat alami sebagai anak-anak.

Tak hanya pihak perusahaan, orang tua mereka sendiri sepertinya melupakan kebutuhan anak-anaknya. Program CSR atau community development jarang menyentuh dunia mereka. Usulan program dari masyarakat lebih banyak diarahkan ke peningkatan ekonomi keluarga.




Iba melihat mereka jadi kreatif mencari sarana bermain sendiri. Kubangan bekas galian bukan tempat bermain yang aman walau mereka merasa nyaman. Apalagi air limbah batubara itu kadar ph nya sangat tinggi.

Saat mereka terkena penyakit kulit, tuntutan orang tua ke perusahaan kembali ke masalah uang. Sekedar menuntut biaya berobat dan ganti rugi sejenisnya. Sementara tempat mereka bermain yang jadi sumber penyakit tetap tidak terpikirkan.

Miris...
Tapi itulah realita...



Intinya
Sepertinya kita semua setuju dengan slogan anak adalah masa depan. Namun ketika sudah bicara uang, sepertinya hanya segelintir orang saja yang masih mengingatnya...



Read More

15 Juli 2013

Tidurku

#Bimbingan Orang Tua

Kenyang bener malam ini
Habis makan sore langsung ketiduran bangun dah jam 6 pagi.

Dan bicara soal tidur, aku sendiri suka merasa aneh dengan kebiasaanku. Orang bilang aku kuat begadang. 

Di kerjaan sering aku tidur cuma satu dua jam sehari. Kalo ada emergency, kadang bisa 2 atau 3 hari melek terus tanpa keluhan. Kalo nguap-nguap dikit wajar lah. Namun sampai drop sih belum pernah karena memang harus dihindari mengingat pekerjaanku masuk kategori high risk yang butuh konsentrasi.

Kebiasaan ini nurun ke Citra. Sejak bayi sudah kelihatan bakat kuat meleknya. Asal ada sesuatu yang menurut dia asik, jam tidur ala bayi bisa bablas ga diikutin. Makanya menyenangkan sekali kalo begadang atau harus nyupir sepanjang hari ada si Ncit. Ada teman ngobrol sementara ibue dan adiknya merem.

Di lain sisi, ibue bilang aku kalo tidur kaya gedebok pisang. Begitu merem patung saja kalah anteng. Ga peduli tetangga sebelah sudah tampil sekseh kode minta jatah. Dicolak-colek juga lebih banyak cueknya dan tetap mengikuti jalan hidup sebagai bangsawan. Bangsa sing tangine awan...

Makanya bila ada yang penting, biasanya ibue nyuruh si Ncit atau Ncip. Di tangan dan kaki mereka berdua, dewa tidur ga bakalan mampu bertahan. Awalnya sih iya cuma peluk cium dan bisik mesra nyuruh bangun. Tapi lama-lama bisa kemoceng masuk lubang hidung atau lonjak-lonjak di atas perut.

Kalo yang ini nurun ke Cipta. Tuh anak beneran jago tidur yang disiplin. Tak peduli tempat dan situasi, jamnya tidur ya tidur. Makanya rada repot kalo diajak kemana-mana bertepatan dengan jadwal dia merem. Dipaksa-paksa melek sebentar lagi sampai rumah ga bakalan bisa.




Si Ncip tak perlu mikir tempat. Orang lagi main ayunan juga tau-tau merem tanpa berubah posisi. Lagi jalan-jalan pun sama. Sesaat aku masih lihat dia lari-lari bareng mbaknya di alun-alun. Beberapa waktu kemudian aku temukan dia merem bersandar di pohon atau tiang listrik.

Digoyang-goyang atau diteriakin ga akan ngaruh. Paling buka mata dikit trus merem lagi. Kerennya, tidur sambil berdiri pun ga pake roboh tuh anak. Mungkin karena dia cowok kali. Jadinya pepatah "tidurku digigit nyamuk" dalam bahasa Jawa tak pernah ada dalam hidupnya...


Intinya
Itulah sebabnya kenapa aku lebih betah di rumah ketimbang di hutan. Tidurku lebih teratur. Selalu ada ibue yang mampu menidurkan aku sepulas-pulasnya dan ada anak-anak untuk program pembangunannya. Eh, ibue juga pinter ding walaupun lebih fokus ke proyek pembangunan si ganteng dari gua hantu...


Read More

14 Juli 2013

Ga Ada Insyafnya

#Dewasa

Dikomplen lewat japri. "Lu ga ada insyaf nya deh. Bulan puasa nulis tentang agama kek, jangan ngaco mulu..."

Aku nyengir doang karena aku memang tidak menyadari semua itu. Mungkin ini salah Tuhan waktu menempatkan isi kepala dan pantatku sehingga posisinya kebalik.

Bukan aku tak mau menulis tentang agama. Yang jelas aku ga mau menulis tentang apa yang aku ga ngerti. Ini tentang tanggung jawab akan apa yang aku tulis. Saat tulisan itu memunculkan respon, aku harus siap dengan segala jawaban faktanya. Akan aneh kalo aku nulis tentang pantai Kuta misalnya, sementara di blog temen aku komentar, "belum pernah ke Bali..."

Apalagi tentang agama...
Buatku itu adalah sebuah keyakinan spesial dengan yang maha segala dan tak ada hubungannya dengan orang lain. Aku merasa bebas untuk menuliskan segala hal termasuk di luar keyakinanku sejauh aku memang mengerti isinya tanpa perlu takut keyakinanku goyah.

Kalopun harus mengutip suatu dalil, itu sekedar pendukung dan bukan poin pentingnya. Yang utama adalah pengalamanku yang berkaitan dengan dalil itu. Cuma pasang ayat mentah-mentah, apa bedanya dengan jurnal copasan yang sulit untuk dijadikan bahan obrolan. Paling-paling komen standar doang,"abot..."

Ketika bicara agama, aku pun lebih suka berdiri di posisi netral. Karena aku sadar, aku menuliskan itu di hadapan banyak orang dari berbagai keyakinan. Itu sebabnya kenapa aku jarang masuk ke tahapan syariat, tarikat, hakikat apalagi makrifat. Biarlah aku bermain di pondasi dari segala tahapan itu, yaitu level kemanusiaan.

Agama memang tentang cara bertuhan. Namun Tuhan bukanlah agama. Begitu banyak dosa agama terhadap kemanusiaan yang melanggar asas ketuhanan. Biarpun Tuhan harus ada dalam setiap tarikan nafas, namun tak berarti kita harus selalu membawanya secara ritual. 


Contohnya begini...
Dulu aku pernah dapat tenaga bantuan sementara untuk suatu kerjaan yang bersifat gawat darurat. Di situ ada prosedur operasional standar tentang komunikasi radio dimana kita musti mengulang perintah yang diberikan untuk menghindari salah informasi. Resikonya nyawa soalnya.

Misalkan aku kasih perintah "masukan switch 3..!" maka penerima perintah harus mengucapkan hal yang sama untuk meyakinkan kalo perintahku diterima dengan baik. Sudah yakin, baru aku bilang "laksanakan" yang juga musti diucapkan ulang sebelum perintah dieksekusi.




Nah, tenaga bantuan yang berstatus trainee itu orangnya agamis bener sampai aku bilang lebay. 

Aku panggil, "kutu satu, kutu kupret panggil..."
Ada yang teriak di radio, "assalamualaikum, pak..."
"Woii siapa ini..?"
"Saya pak kutu satu, ada perintah apa? Tapi salam saya dijawab dulu, pak. Nanti dosa loh.."
"Walikumsalam dah. Coba lu cek beban di trafo 2. Kalo normal, feeder 1 ditutup.."
"Insya alloh saya kerjakan..."
"Jawab yang bener, hoiii..."
"Iya, pak insya alloh.."
"Waduh kacaw. Semua unit istirahat dulu deh. Briefing ulang..!!!"
"Alhamdulilaaah..."


Intinya
Aku cuma ingin beragama pada tempatnya. Toh meninggalkan tatacara beragama di beberapa kesempatan, bukan berarti kita melupakan Tuhan. Karena Tuhan tidak butuh agama untuk menunjukkan eksistensinya...

Namun sekali lagi, ini prinsipku pribadi
Tentang keyakinan orang lain, egepe dah...


Read More

Bolot Mewabah

#Bimbingan Orang Tua

Wabah bolot kayaknya mulai merajalela di kantor...

Kemarin...
Staf di site laporan server email error. Akun imel bisa dibuka lewat web, tapi ga bisa ngetik apa-apa. Aku pikir itu bukan dari server, melainkan browser. 

Aku pun bilang, "coba buka dari browser lain. Di laptop lu ada browser apa saja..."
"Ada mozilla dan firefox, pak..."
#Whaaaats...?

Kemarinnya lagi...
Masih di site. Stafku nanyain realisasi surat permintaan barang. 
Aku jawab, "belum diteken bos. Ibu deputy masih di Thailand..."
"Kok kemarin bilangnya mau ke Bangkok, pak..."
#Hening...

Hari ini di Jakarta...
Lagi urus penambahan bandwidth untuk di site. Hasil nego ke Telkom aku sampaikan ke bagian pembelian untuk ditindaklanjuti. Trus temen nanya, "CP nya mana..?"

"Kan udah aku bilang hubungi ibu Anna..."
"Iya tau. Tapi CP nya mana biar bisa langsung saya hendel..."
"CP apaan sih..?"
"Cell phone, pak cell phone. No hapenya bu Anna mana..?"
"Ooooh..."
#Mendadak bego...


Intinya
Aku jadi nyesel kenapa dulu sekolah ga bener sampe STM aja ga lulus. Ternyata jadi orang bloon itu ga enak saat ketemu orang pinter...



Read More

Jaman Semana

#Banyumasan

Kanca-kanca lawas lagi pada seneng masangi poto jadul nang pesbuk. Mayan bisa go ngumpulna kanca sing puluhan taun ora ketemu. 

Tapi ya kuwe, kelingan jaman semana apa sing ora dadi kebayang maning. Apa maning nek pasang poto pramukaan sing gabungan karo sekolahan lia. Ngerti dewek STM pasukane batangan kabeh. Ngumpul bocah SMEA SMKK sing isine wadon tok, judule tumbu nemu tutup. 

Nek acara gojlogan, wis kuwe kesempatan go golet yunior sing madan kena desawang. Ket sore wis mulai ngincer sasaran trus pada rembugan si anu nyekel regu kae, nyong nggawa regu sing kiye. Pokoke persis anggota hewan rebutan proyek.

Tau pas kegiatan nang SMEA. Upacara pembukaan wis keton bocah wadon sing marekna gedeblug tresna nang injenan pertama. Bengine kaya biasa bocahan kon pada turu, lampune depateni trus digedor-gedor kon ngumpul nang lapangan. Wujude werna-werna. Ana sing ora sepatuan, kaos kakine mung sebelah apa klambine kewalik.

Pas pemeriksaan pasukan, bocah sing tek incer mbuh kepriwe sepatune tengen kabeh. Langsung mrenges nyong persis pulisi olih tilangan. Sing kepikiran, gari milih koweh pus ap ngasi elek apa damai ngesuk malem minggu tek apeli.

Tek prentah ganti sepatu sing bener, malah semaur, "wedi mas peteng. Kancani ya..."

Naah, kesempatan mbok..?
Rejeki pancen ora bakal salah alamat. Tapi ya tetep kon pus ap dimin nembe tek jujugna. Ora penak karo panitia liane, makane mung tek kancani tekan latar tok. Bocaeh kon mlebu kelas dewek.

Tek nteni mandan suwe koh ora metu-metu kan kelas. Kewatir mbok semaput gara-gara keweden, gagean tek tiliki. Jebul bocaeh lagi nglemprak nang tegel karo nyawang longan meja.

"Kon ganti sepatu malah ndomblong kaya tulup dikethek..?"
"Kiye nyong kudu kepriwe sih lha eh..?" *pasang tampang inosen...
"Apane sing kepriwe..? Kuwe nang longan sepatune sapa..? Nune kancane ya men dinggo bae asal medeng..."
"Genah bingung, mamase aja galak-galak ya..."
"Wong sepatuan tengen kabeh, ya diukum lah. Wis gagean dinggo, mbalik meng lapangan..."
"Kuwe masalaeh, mas. Sepatu sing nang longan kiwe kabeh. Nek tek nggo mengko diukum maning..."
#Klamite jabang bayi ora patia kaget...

Mbalek meng lapangan
Nyong langsung marani kanca sing mau uga ngincer bocah kuwe. "Ijolan regu lah, ndol..."
#Apes...



Intine
Kelingan jaman biyen, sok dadi pengin nom maning. 
Apa enggane kudu ngaji ula men teyeng nlungsumi..?


Read More

13 Juli 2013

Isengin Anak

#Bimbingan Orang Tua

Posting foto si Ncip dikuncir, ada juga yang komplen bilang bapaknya setres...



Padahal suer itu kelakuan ibue kalo lagi mbuh. Gemes kali lihat anak gondrong ga mau potong rambut. Si Ncip kalo diajakin ke tukan cukur atau disiapin gunting, ada aja cara untuk melarikan diri. Paling nyebelin kalo ditanya kenapa ga mau dipotong, damai bener tuh anak jawab, "dede gagah, ayah..."

Kelakuan semacam itu bukan cuma sekali dua kali. Dari pasar habis beli kerudung buat mbaknya, si Ncip yang jadi bahan eksperimen karena si Ncit lebih suka pake topi saya bundar.




Dan itu terjadi bukan sekarang-sekarang saja. Waktu Citra masih bayi juga sering diisengin. Contohnya waktu ibue keranjingan serial Avatar Last Airbender




Bisa juga karena anaknya memang susah diatur. Mau makan dipakein celemek ga mau. Atau ngompol mulu ogah pake pempers. Akhirnya ya beginilah...





Aku ga mau menyalahkan karena aku sadar bahwa sifat kekanakan itu selalu ada dalam diri manusia. Biar kata sudah bisa bikin anak, tetap saja ada masanya ingin kembali jadi anak-anak. Tiada boneka, anak pun jadi...

Sifat kekanakan bapaknya malah kayaknya lebih akut. Buktinya sampai disapih ke pedalaman Kalimantan sampai berbulan-bulan dan tetap tidak bisa sembuh...


Intinya
Berkumpul bersama keluarga memang indah. Begitu banyak hal sepele yang bisa kita manfaatkan untuk melepas kepenatan hidup...


Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena