21 Januari 2013

Pertamax Habis




Read More

Mumetologi Grenade

#Bimbingan Orang Tua

Sebagaimana biasa...
Ketika pikiran mulai melayang ke Jogja, perasaan galaw pasti menerpa. Biar rada dapet penghayatannya, aku buka yutub cari lagunya Nat King Coli
I love you for your sentimental reason...
#Asoooy...

Tapi namanya Megalawman kan ga pantas kalo mendayu-dayu. Jadilah aku nyari yang aransemennya rada rame. Nemu tapi sayang cuma sepotong di audisi X Factor Indonesia. Rada kacaw namun kocak karena nyanyinya pake dialek Sunda.

Ai ting op yu eperi morning
Drim op yu eperi nait
Darling, Ayem neper loneli
Weneper yu ar in sait...
#Anjrittt...

Beneran galaw yang indah...
Karena habis itu langsung nemu pernyataan menarik tentang galaw-menggalaw. Masih dari audisi X Factor. Ada cewek pake seragam SMA bawain Grenade nya Bruno Mars dengan malu-malu asik...




Lirik awalnya begitu nendang
Terjemahan bebasnya kira-kira begini

Datang dan pergi
Itulah bagaimana kamu menjalani hidup
Ambil dan ambil semua
Tapi jangan pernah menyerah

Cocok tenaaan...
Hidup memang begitu. Galaw boleh datang dan pergi. Namun intinya jangan pernah menyerah. Jadi kalo galawnya ilang, cari lagi sampai dapat.
#Pekok...

Kenyataan...
Kita seringkali tergalaw-galaw akan sesuatu, sampai seolah-olah tiada lagi harapan

Matipun rela...
Asal jangan kau hina...

Eh, itu mah dangdut ding
Maksudnya jangan lupa potongan lirik Grenade berikutnya

Yes, I would die for ya baby
But you won’t do the same

Seringkali kita merasa rela bergalawria untuk sesuatu atau mungkin seseorang. Padahal sebaliknya belum tentu. Trus apa artinya pengorbanan galaw ini kalo bertepuk sebelah dengkul..?

Beneran pelajaran yang menarik buat kaum Megalawman dan Megalawati. Pokoknya harus mewarisi semangat juang 45. Kibarkan semboyan, mendua atau mati..!


Inti jurnal
Lagi mumet ga perlu ditanggapi
Anggap saja jurnal ini tak pernah ada...
Nyambung gak nyambung yang penting semangat dah...





Read More

20 Januari 2013

Bahasa Daerah


#Semua Umur

Masih saja ada yang mempertanyakan kenapa aku suka bikin jurnal pakai bahasa Jawa. Dibilang roaming lah, tidak nasionalis lah dll dll. Pertanyaan itu pernah juga diajukan oleh teman yang juga orang Jawa. Kenapa aku pilih bahasa Banyumasan yang katanya kasar dan ndeso.
#Vyek...

Aku sudah melakukan ini sejak 5 tahun lalu dalam blog terpisah. Berhubung cape loncat kesana kemari makanya aku menyatukan semuanya dalam blog ini.

Bukan aku tidak nasionalis atau sok kedaerahan. Namun jujur aku prihatin dengan bahasa daerah yang semakin lama semakin berkurang penuturnya. Sepertinya sudah jarang banget orang tua yang mengajarkan bahasa ibu ke anak-anaknya. Sejak bayi ceprot sudah dicekokin bahasa Indonesia. Gede sedikit diajari bahasa Inggris atau Arab dan anehnya itu begitu dibanggakan.

Lebih jauh lagi, Tempo pernah menulis bahwa 700 bahasa daerah sudah diambang kepunahan. Jawa Pos juga mengatakan kalo banyak bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari 10 orang saja. Padahal kita tahu, bahwa data semacam itu hanyalah gunung es yang tampak di permukaan. Secara fakta, kayaknya lebih banyak lagi bahasa yang telah lenyap sama sekali dari muka bumi.

Pemerintah pun kayaknya sudah mengambil tindakan pencegahan. Namun kulihat kurang efektif dan sebatas seremonial semata. Mungkin masih ada yang ingat Kongres Bahasa Jawa beberapa tahun lalu yang dikomplen peserta dari Suriname. "Konggres bahasa Jawa kok pengantarnya pakai bahasa Indonesia..?"
#Mantap...

Aku rasa, daripada berkoar menuntut perhatian pemerintah, akan lebih efektif bila aku memulainya dari diri sendiri. Biarlah tak terdengar gaungnya yang penting sudah melangkah dan bukan hanya omong doang. 

Tak perlu terlalu sering
Aku merasa cukup membuat jurnal dalam bahasa Jawa seminggu sekali. Sengaja aku taruh di hari minggu, karena dari statistik blogger minggu itu paling sedikit orang berkunjung. Ketauan kalo blogger rata-rata memanfaatkan jam dan internet kantor.
#Hhahah...

Selain itu
Untuk mengantisipasi yang komplen roaming, setelah aku posting jurnal bahasa Jawa langsung aku susulin jurnal sebagaimana biasanya. Biar yang peduli bahasa Jawa saja yang kesana. Dan yang ga mudeng, bisa nyamperin ke jurnal susulannya.

Semoga tidak dianggap sok idealis
Kalopun dibilang nyleneh biarin aja dah
Toh kalo bikin jurnal gak nyleneh malah dikomplen orang...


Intinya
Susah ga sih, bikin jurnal dalam bahasa daerah masing-masing seminggu atau sebulan sekali..?




Read More

Aja Jail


#Roaming

Dina minggu udan ra leren-leren. Sidane mlungker nang kamer sedina med ngasi jeleh. Arep ngeblog ora kepenak ngetik kambi turon. Nonton pilem mblenger ora duwe stok anyar. Macani brita pada baen, isine mung banjir mbi banjir...

Arep nulis soal banjir, anu cuaca adem kaya kiye mbok malah menggok. Apa maning rung tau ngalami dewek dadi korban banjir. Meksa crita mesti penghayatane kurang. Kecuali kon crita banjir lokal lah mesti bukete pol.

Nek mung rekasa gara-gara banjir sih sering. Jaman dadi tukang serpis keliling, adoh-adoh marani konsumen jebul ra teyeng liwat. Bali tanggung rung olih duit, ora bali arep ngapa. Sing lewih ngesuih nek lagi ngiyub nang perko malah ana mobil ngebut. Ya muncrat gejebur kabeh.

Tau saking kesueh mobile tek uber. Keton mobile mandeg nang prapatan bangjo, langsung nyiapna idoh seakeh-akeeh. Mandeg nang sandinge trus nothok jendela. Bareng jendelane dibukak, tek idoih nganggo energi sing kayane ora kalah kambi semprotan sanyo simitsu.

Dasar anu jail kuwe ora maen
Bar kuwe nyong malah dadi misuh-misuh dewek. Mbecir meng pinggir dalan gagean mbukak helm. Idoh sekabupaten dikumpulna kabeh go bales dendam, malah klalen helm cakile ora dibukak.
#Ndaskulah...


Intine
Arep kondisi kaya ngapa baen, aja cokan jail methakil
Kecuali kepepet...


gambar nyolong kan gugel



Read More

18 Januari 2013

Melawan Kesenjangan


#Semua Umur

Hampir putus asa dengan usaha menyesuaikan gaji anak buah yang entah kapan ada realisasinya, aku ambil satu jalan tengah yang entah benar entah tidak. "Saat perusahaan semena-mena ke karyawan, sebaliknya pun boleh dilakukan. Tapi karena kalian masih gajian, jangan sampai bolos atau kerja ga bener ya..."

"Maksudnya, pak..?"
"Selama ini kan kita saling bantu antar unit agar kerjaan cepat selesai. Sampai ada penyesuaian gaji, cukup kerjakan tugas pokoknya saja. Bagian administrasi jadi admin saja, bagian lapangan main bola saja, programmer ga usah ikut ke lapangan. Kalo ga ada kerjaan, ya sudah duduk manis saja..."

"Kalo pak bos nyuruh gimana..?"
"Suruh nelpon saya, biar saya bisa tagih janjinya soal gaji..."

Jujur aku mumet soal itu...
Itu pula salah satu alasan kenapa aku males balik lagi ke hutan. Tak nyaman rasanya aku harus ngatur dan nyuruh-nyuruh anak buah sementara kesejahteraan mereka aku ga bisa memperjuangkan.

Aku sering jadi kuli dan berada di posisi seperti mereka. Makanya apa yang mereka rasakan saat janji perusahaan tak kunjung dipenuhi aku tahu persis. Apalagi disini overlaping pekerjaan adalah suatu hal yang umum.

Misalnya ikut ngurus genset yang semestinya kerjaan orang electric. Daripada serverku tewas karena listrik mati terlalu lama, pasukan aku kerahkan membantu. Namun ketika kondisinya begini, aku harus merelakan server error saat orang electric keteteran. Terlalu kejam rasanya menugaskan pasukan berlari sementara gaji hanya cukup untuk berjalan pelan.

Setelah beberapa hari, aku coba cek jangan-jangan masih ada yang bantuin kerjaan orang. Pertama nanya bagian programmer, "ga disuruh ke lapangan kan..?"

"Engga. Kemarin cuma disuruh bikin program..."
"Program apaan..?"
"Program kerja IT tiga bulan ke depan..."
"Whaaaat...?"


Intinya
Aku yang bego apa managerku yang pinter ya..?






Read More

17 Januari 2013

Sungkem


#Dewasa

Salah satu masalah yang tak teratasi selama aku tinggalin sebulan adalah jaringan 5,8 GHz ke pelabuhan yang ngadat. Radio sudah diganti baru oleh teman-teman tetap tak mau nyambung. Begitu nyampe ke site aku ganti lagi tapi tetap saja ga ngefek.

Karena sudah sore, niatnya aku mau ganti kabelnya besok. Malamnya, seperti biasa aku nyamperin ke temen-temen penghuni pohon dekat tower bakarin dupa sambil bilang, "jangan gangguin dong..."

Paginya aku siapin peralatan tempur dan kontak temen di pelabuhan untuk singkronisasi antena. Baru saja manjat, yang dari bawah sudah teriak lewat radio, "kata orang pelabuhan 5,8 GHZ nya dah jalan, pak..."

Selalu saja terjadi hal semacam itu. Setiap kali tindakan teknis sudah aku kerjakan dan tiada hasil, ber say hello dengan penghuni hutan bisa menyelesaikan masalah. Tak pernah ada ritual khusus tapi sering aku lakuin. Mungkin ga masuk logika. Namun setelah aku sungkem, tanpa diapa-apain jaringan bagus dengan sendirinya.

Di mataku, mereka adalah warga asli hutan ini dan aku hanyalah pendatang yang numpang cari rejeki. Berbaikan dengan pribumi bukan hal yang salah walau mereka tak bisa aku lihat. 

Aku ga peduli ada komentar miring dari beberapa teman yang berpikiran sempit. Mereka bilang musyrik, sirik dan sejenisnya bisa aku maklumi karena mereka melihat pake kacamata sendiri. Andai saja mereka mau pelajari dari dekat, pasti tak akan bilang nyembah pohon atau demit.

Dalam pandangan umum, kata menyembah selalu dikonotasikan sebagai perilaku ibadah kepada Tuhan. Padahal sembah itu sendiri bermakna penghormatan. Dalam tradisi Jawa, perilaku menyembah itu ada 3 macam.



Sembah jenis pertama adalah menangkupkan telapak tangan di depan dada. Ini bermakna penghormatan ke sesama atau berlevel sejajar misalnya ke teman. Lihat saja kebiasaan perempuan Sunda kalo bersalaman. Cuma menempelkan ujung jari lalu menangkupkan tangan di depan dada. Contoh lainnya muslimah yang tak mau bersalaman dengan lawan jenis, mereka suka melakukan perilaku sembah yang sama.

Tipe kedua ditujukan kepada orang yang dihormati atau berlevel di atas kita. Posisi telapak tangan diletakkan di depan wajah. Contohnya bisa dilihat di keraton.

Jenis terakhir, tangan diletakkan di atas kepala. Perilaku sembah ini lah yang merupakan penghormatan kepada Yang Kuasa.

Jadi jangan kasih vonis musyrik dulu ketika melihat abdi dalem menyembah Sultan. Karena sekali lagi, sembah itu hanyalah satu cara memberi hormat sebagaimana halnya kita hormat bendera. Lihat dulu sikap sikepnya baru ngomong.

Kembali ke masalahku di hutan
Apa yang aku dan beberapa teman lakukan adalah penghormatan kepada mereka yang punya kawasan. Minta mereka jangan ganggu pekerjaanku, apa bedanya aku minta tolong ke teman sekantor agar jangan usil.

Tidak sependapat ga masalah
Yang penting jangan karena mengikuti tradisi mancanegara lalu memusuhi orang lain yang masih mengikuti kearifan lokal asli Nusantara. Sejauh tidak nonjokin orang, untuk apa kita mempermasalahkan..?


Intinya
Jangan ambil kesimpulan dengan cara melihat dari luar jendela. Masuklah dulu dan lihatlah filosofi sebenarnya, baru berkomentar.

Analoginya begini
Kalo lagi ibadah malam, ibue suka banget liatin wajahku dan aku bisa merasakan keindahan tersendiri dari tatapannya. Masih bisakah aku merasakan hal yang sama bila ibue ngeliatinnya dari luar jendela..?



Read More

Kenapa Pake Ubuntu


#Semua Umur

Masih saja ada yang nanya, apa sih enaknya pake Ubuntu..?

Suer ini pertanyaan yang relatif susah buat dijawab. Karena menyangkut minat dan kebiasaan masing-masing orang.





Mau dibilang Linux itu gausah ngebajak dan halalan toyibah, tar dimusuhin teman yang nyantri. Gemar berbagi dalil di pesbuk tentang halal haram, tapi diajak pake sopwer halal untuk cari rejeki katanya ga enak. Jadi poin ini dicoret saja dari wacana...

Aplikasinya enteng, mungkin lebih tepat untuk Ubuntu jadul. Ubuntu 12 pernah aku coba bandingin ternyata lebih berat ketimbang Windows 8. Makanya aku kembali ke Ubuntu 10.10

Bebas virus mungkin wacana paling menarik dari linux. Sebagai inspirator Jokowi yang gemar blusukan, virus merupakan masalah utama. Apalagi kalo sudah kluyuran ke Deep Web yang merupakan sejatinya internet, lagaknya sudah seperti orang mau perang.

Tapi semua itu cuma efek samping...
Sejujurnya aku mulai menyukai linux karena aku orangnya minimalis dan pelit. Tak suka tampilan yang ramai bukan hanya di blog saja. Tampilan desktop bersih dan folder data yang tertata menurut klasifikasinya itu yang aku suka.

Jaman dulu kan belum banyak yang punya komputer. Asal lihat komputer nganggur yang pinjam pasti berebut. Pinjamnya sih gapapa, tapi kondisi saat balik itu yang seringkali mengenaskan. Donlotan bertebaran dimana-mana, desktop penuh icon dan file entah apa seperti skrinsut dibawah ini. 




Sudah dirapihin besoknya berantakan lagi. Kenapa ga sekalian diancurin seperti ini..?




Berawal dari kebetean itu, aku kenalan dengan Ubuntu. Jujur pertama kali lihat aku mumet dan wegah pegang lagi. Tapi kepikiran orang suka mumet kalo nemu yang beda dari biasanya, aku jadi tertarik mempelajarinya. 

Ternyata ga susah-susah amat
Hanya soal kebiasaan seperti halnya aku sempat celingukan waktu hapeku diseting bahasa Indonesia dari sebelumnya bahasa Inggris. Padahal hape yang sama...

Hasilnya mantap...
Jarang banget orang mau pinjam PC aku. 

Setelah jaman berubah dan hampir semua orang punya laptop, aku sempat kepikiran pake windus lagi. Eh, baru dua hari nyobain, ada cewek pinjem dan pulangnya jadi kayak gini...




Timbang H2C tapi malu nanya
Mending balik ke Ubuntu lagi saja dah...


Intinya
Pengguna Linux tak harus orang idealis. Bisa juga karena alasan sederhana. Bukan pula untuk orang pinter. Karena linux pun sama saja dengan OS lain yang bisa dipelajari. Tidak ada kata susah, yang ada hanya kata tidak biasa...




Read More

16 Januari 2013

Rambut Jagung


#Semua Umur

Liat rambut si Ncip yang tipis dan merah, aku jadi ingat masa lalu.

Dulu yang dianggap baik dan benar adalah rambut hitam. Tak heran orang yang rambutnya kaya si Ncip sering diejek teman-teman dengan sebutan rambut jagung. Macem-macem cara dilakuin dari mulai keramas pakai rendaman merang dibakar sampai dicukur plonthos setelah berbagai upaya gagal.

Kemudian jaman berubah...
Kearifan lokal mulai ditinggalkan. Banyak hal pindah kiblat ke barat termasuk urusan rambut. Pirang ala bule mulai menjadi tren. Fase selanjutnya malah lebih keren. Orang tak lagi merasa aneh punya rambut berwarna merah kuning hijau seperti balonku. Entah berapa corak lagi yang akan tampil sebelum akhirnya kembali ke rambut hitam.

Aku yang ga pernah mikirin penampilan sempat juga kebagian sial. Saat pulang cuti dikomentarin teman-teman, "nah itu baru anak gaul... Ngecet rambut dimana, dab..?"

Ngecet rambut gundulmu...
Orang tiga bulan kepanasan di lapangan dan jarang kramas...


Intinya
Roda dunia selalu berputar dan akan kembali ke titik semula. 
Kita ikuti perputaran itu atau kah menunggu sampai dia kembali lagi..?
...future always the past



Read More

Anak Iseng


#Semua Umur

Baru sehari kembali ke hutan, ibue laporan kalo PC di rumah tidak bisa booting. Malemnya gantian Citra ribut, "ayah, etop tita eyoy..."

Selalu saja seperti itu
Kalo aku di rumah, jarang ada masalah. Begitu ditinggalin, ada saja yang bikin repot ibue. Ban kempes, listrik konslet, genteng bocor dan sekarang komputer error dua-duanya. Padahal komputer rusak sama artinya dengan si Ncit rewel dan tidak bisa disambi ngerjain yang lain.

Biang keroknya siapa lagi kalo bukan si tukang iseng Ncip. Kalo mbaknya lagi nonton mbek di proyektor, dia suka jahil matiin PC. Payahnya dengan cara main pencet tombol power. Wajar kalo lama-lama hardisknya ngadat. Laptop malah lebih parah. Bukan cuma main pencet power saja. Kadang didudukin atau diseret-seret di lantai.

Tuh anak kayaknya seneng kalo lihat si Ncit nangis. Sering ditonjok sama mbaknya tak pernah membuatnya kapok. Makin digalakin makin iseng dia. 

Ke orang lain juga sama. Lagi asik duduk-duduk sama ibue, tahu-tahu nyamperin lalu neplak. Begitu diliatin langsung nyengir sambil bilang, "nyamuuuk..."

Barang-barang kecil macam hape atau remote ilang bukan hal aneh lagi. Suka banget dia ngumpetin di kolong, bawah kasur atau dilempar keluar pagar rumah. Kalo ditanya remote dimana, tetap pake nyengir akan jawab, "ilaaang..."

Apa saja yang tidak keliatan akan dibilang ilang. Sama saat aku lagi di hutan gini Ncip ditanya ayah dimana, jawabannya juga, "ilaaang..."

Kadang jengkel juga. Tapi ga pernah bisa marah kalo sudah liat senyum jahilnya.

Terserah kamu deh, le...
Yang pasti aku ga pengen komplen atas segala keisengannya. Apalagi kalo ada mbahnya. Paling banter cuma dikomentarin, "anak kan potokopian bapaknya..."



Kesimpulannya
Waktu aku kecil, lihat orang tua melirik saja sudah ga berani berkutik. Anak sekarang kalo dimarahin malah kaya disuruh. Jaman memang sudah berubah. Berarti cara mendidik mereka juga tak bisa sama dengan apa yang aku terima dulu dari orang tua...




Read More

15 Januari 2013

Suatu Hari di AM Sangaji #2


#Semua Umur

Matahari Jakarta meredup...

Masih di ruang HRD yang mulai memanas...
"Pak manager. Staf IT di site cuma 4 orang, apa perlu ada tambahan supervisor..?"
"Yang bilang dia supervisor site siapa, orang buat di Jakarta kok..."
"Berarti struktur IT Jakarta mantap dong, bos..."
"Kenapa..?"
"Enggak..."

#Baru tahu kalo ada struktur satu manager, satu superintendent, satu supervisor dan satu staf...


"Pak, saya sudah dapat tiket ke Kalimantan. Kenapa pengajuan akomodasi saya dicoret..?"
"Waktu kamu mau pulang kan sudah dapat akomodasi pp dari site..."
"Setahu saya pp itu 2 trip. Saya kan ke Jakarta dulu.."
"Pokoknya ga bisa, kamu sudah dapat akomodasi pp..."
"Tar saya beliin kalkulator deh..."
"Kenapa..?"
"Enggak..."

#Baru tahu kalo Banjarmasin - Jogja - Jakarta - Banjarmasin itu 2 trip...


Sepertinya percakapan masih akan diperpanjang.
Tapi aku sudah cape ngomong pelan, "dah ah, gak nyambung..!!!"

Eh, ada komisaris perusahaan lewat di depan pintu dan menarikku ke lobi lantai bawah. Menyuruhku duduk di hadapan beliau lalu menunjuk hidungku, "kamu jangan sekali-kali lagi ngomong kayak gitu..!!"

Perasaanku jadi gak enak, "kenapa, pak..?"

Beliau menunjuk kepalanya sendiri. "Dia itu ga ada otaknya. Kamu ngomong apa saja ga bakalan nyambung. Saya saja diajak ribut..."

Hmmm...
"Emang yang merekomendasikan beliau jadi manager HRD siapa, pak..?"

Si bos malah melotot...
"Pertanyaanmu itu membuat saya sakit hati dua kali, tahu..?"
"Enggak..."

#Baru tahu kalo beliau akhirnya sadar sudah salah masukin orang...

...dan matahari pun menghilang ditelan hujan


Intinya
Sama dengan jurnal seri #1...


Read More

Suatu Hari di AM Sangaji #1


#Semua Umur

Cuaca Jakarta siang itu begitu terik...

Di ruang HRD yang adem...
"Selamat siang, pak manager..."
"Heee, kenapa kamu disini..?"
"Dipanggil pak bos..."
"Kenapa saya ga tau. Setiap orang mau kemana harus bikin surat tertulis dulu ke saya. Tau aturan gak kamu..?"
"Jangan tanya saya dong, orang cuma disuruh tau-tau dikirim tiket"
"Mana bisa. Tiket kamu tidak sah..!"
"Emang yang kasih persetujuan tiket saya siapa..?"
"Kemarin banyak yang ajuin tiket, ga sempat dibaca satu satu..."
"Oooo..."


"Bos, anak buah saya kan sudah 8 bulan di site. Kenapa gajinya masih 2 juta. Katanya percobaan cuma 3 bulan..?"
"Kata orang disana, anak buahmu malas. Suka tidur di jam kerja..."
"Emang sejak kapan IT site pake jam kerja seperti head office..? Orang disana kudu stand by 24 jam. Gangguan tengah malem dikerjain siang, pengen digaplokin orang..?"
"Mana boleh kerja 24 jam. Maksimal 8 jam selebihnya diitung lembur."
"Kenapa teman-teman saya ga dikasih lembur..?"
"Lho dia kan all in, mana bisa minta lembur..? Jangan bikin aturan sendiri."
"Harus 8 jam, tidak ada lembur, gangguan ga boleh ditunda, boleh tambah orang biar bisa sift kah..?"
"Ga bisa. IT sudah kebanyakan orang..."
"Oooo..."


"Kalo memang perusahaan ga mampu bayar lebih, kenapa kemarin saya dikirim orang baru dengan gaji 6 juta..?"
"Lihat dulu jabatannya dong. Temanmu cuma staf, yang kemarin saya kirim supervisor.."
"Nyupervisorin apa, pak..? Saya tes di lapangan ga bisa apa-apa..?"
"Yang harus menguasai lapangan kan kamu, supervisor itu tidak harus pinter..."
"Ooo..."


Staf harus pinter
Supervisor tidak harus pinter 
Berarti manager itu... au ah lap..?

...dan matahari pun meredup malu


Intinya
Semoga cerita diatas hanya sekedar fiksi...


Read More

14 Januari 2013

Cemungudh Eaaa


#Semua Umur

Parameter sukses dalam pekerjaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang menargetkan jabatan, gaji dan ada juga yang ikhlas berstatus rendahan asal sabetannya banyak. 

Aku sendiri menggunakan kekompakan tim sebagai ukuran. Sesulit apapun pekerjaan tetaplah bersifat teknis yang pasti ada saja jalan keluarnya. Beda dengan membentuk tim yang solid. Suer teramat sulit karena harus bisa menyatukan banyak persepsi dan isi kepala yang berbeda.

Dengan tim yang kompak, pekerjaan seberat apapun terasa ringan. Kasarnya, seorang karateka level dan3 pun akan mikir panjang kalo mau ngajak berantem dengan yang levelnya dan kawan kawan.

Tapi namanya di dunia ga selamanya kudu enak termasuk urusan tim ini. Saat aku mulai jenuh dan pengen cabut dari kerjaan seperti sekarang ini, proses mengingat, menimbang dan memperhatikannya jadi teramat panjang sebelum sampai posisi memutuskan. Kalo digambarkan dengan musik mungkin harus nyanyiin lagu antara cinta dan dilema.

Satu sisi aku pengen kembali ke Jogja dan berkumpul dengan keluarga. Di sisi lain, teman-teman terus memintaku bertahan. Ikatan emosional yang terlalu kuat kadang menendang logika sampai keluar pernyataan, "kalo bapak keluar kerja, aku juga ikut keluar..."

Walau kerjaan itu urusan masing-masing, tetap saja aku tak bisa bilang sebodo amat. Aku pun masih terikat batin dan tak ingin terjadi masalah susulan.

Aku bisa cerita, karena kasus begini sudah beberapa kali terjadi. Anak buah kuminta bertahan, tetap ngotot ikut keluar. Begitu nganggur ribut nelpon-nelpon minta carikan pekerjaan. Efek lainnya, hubunganku dengan mantan bos jadi buruk. Dikiranya aku memprovokasi pasukan keluar kerja bareng-bareng.

Ini masalah yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Aku mengulur waktu agak panjang untuk berpikir, bukannya nemu jalan keluar malah jadi tambah mumet berlarut-larut. Jadi, kayaknya memang harus aku putuskan hari ini.

Ok deh...
Hari ini harus ada keputusan...
Berangkat enggak berangkat enggak...
*ngitung bulu ketek...


Intinya
Hubungan emosional kadang mengalahkan logika. Berpikirpun jadi sulit karena perasaan sudah jalan di depan. Namun menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. 

Semangat, bro...
Jangan cemungudh...
Karena kita bukan alay eaa...


Read More

13 Januari 2013

Balada Pengangguran


#Semua Umur

Kemarin...

Pagi-pagi waktu nongkrong di depan rumah, ada ibu-ibu yang mengaku dari kampung sebelah nyamperin. Beliau nanya aku butuh asisten rumah tangga apa engga. Karena ibue Ncip lagi ke warung, aku suruh datang lagi nanti rada siangan. Sebelum beranjak, si ibu sempat cerita kalo dia masih kerja jadi PRT. Pengen pindah kerja karena gajinya sebulan hanya 250 ribu dan ga naik-naik.

Lagi nemenin si Ncit nonton Pingu pengantar bobo siang, ada sms masuk dari teman sekampung. Dia nanya bisa ikut aku kerja di Kalimantan apa engga. Alasannya, dia sudah cape kerja di Jakarta dan gajinya selalu di angka 2 jutaan. Tak pernah lebih...

Malemnya ada telpon masuk dari teman yang dulu pernah bareng di tambang, ngajak aku cari proyek dan investor biar bisa dapat duit banyak. Dia mengaku mumet dengan keuangannya. Padahal yang aku tahu dia pindah kerja ke Manado, karena dapat penawaran gaji 20 juta.

Menjelang tidur, aku sempat diam termangu memikirkan mereka. Dalam satu hari ada tiga orang yang mengeluh dengan penghasilan yang masing-masing berbeda hampir 10 kali lipat. Apa artinya semua ini, bila yang sedikit dan yang banyak sama-sama mengeluh kurang.
Suatu kebetulan yang luar biasa...

Dan yang lebih luar biasa lagi...
Mereka mengeluh kepada pengangguran yang sudah hampir dua bulan bengong di rumah...
Mantap, coy...


Inti jurnal 
Sungguh aku tidak mengerti dan tidak bisa mengambil kesimpulan dari jurnal kali ini... 


Read More

12 Januari 2013

Tafsir Mimpi


#Bimbingan Orang Tua


Mimpi itu universal dan bisa dikatakan semua mengalami. Ada apa dengan mimpi itu pun terserah masing-masing, sabodo teuing inyong ora melu-melu. 


Dan memang ada temen yang seneng banget mikirin dengan serius. Sampai cengar-cengir diriku melihatnya tiap pagi sibuk dengan kertas dan pensil untuk belajar matematika mimpi. Ga tau rumus pitagoras atau pita purnamasari yang dia pake. Yang pasti dia jadi sering melihat spesies baru yang aneh sampai teriak histeris, "asu buntute kewalik..!!!"
#jabang bayi...

Tipe terbanyak adalah yang menafsirkan mimpi sebagai pertanda. Seharusnya aku sih cuek bebek dengan kepercayaan orang lain. Namun kadang ikut komentar juga melihat mereka sering tidak konsisten. Kalo ngimpi yang menurut tafsir umum pertanda baik, langsung sumringah percaya setengah mati.
#semoga gak mimpi 2 kali...

Payahnya kalo mimpinya dianggap firasat buruk dia bilang ga percaya. Bila ditanya kenapa ga bahas mimpi semalem, tanpa rasa dosa dia akan bilang, "cuma mimpi, ngapain dipikirin..."
#pekok...

Aku ga percaya sama firasat mimpi ya gara-gara ketidakkonsistenan para aktifis mimpi. Waktu jaman bujangan dulu aku pernah nyoba nanya-nanya ke pakarnya, "eh bro, semalem aku mimpi kawin sama cewek cakep. Sampai berulang 3 kali mimpi yang sama, kira-kira apa ya artinya..?"

Sambil tengadah merem melek, "menurut primbon mbah jembrong itu pertanda bagus. Jodoh lo mau dateng dan bentar lagi elo nikah sama cewek itu. Buruan dikawin jangan dilama-lamain.  Inget gak siapa ceweknya..?"

"Gitu ya..? Herannya kenapa aku ngimpi sama cewek ente ya, bro..?"
"Ooo... kalo itu artinya elo mau disampluk pake panci. Ngehe loo...!!!"
#srampang srandal...

Tapi ya tidak 100% aku menolak keyakinan tersebut
Karena ada satu mimpiku yang firasatnya tak pernah meleset
Kalo dapat mimpi basah, yakin itu pertanda aku harus buruan pulang...
#kecuali ngimpi kejebur got


Intinya
Karena mimpi tidak bisa pesen, berarti penafsirannya merupakan hak hidup yang harus dikembalikan ke pribadi masing-masing


Read More

11 Januari 2013

Terus Terang Saja


#Bimbingan Orang Tua

Masih nyambung obrolan dengan teman kemarin sebagaimana aku tulis dalam jurnal Komen Ga Enak

Temanku itu juga cerita kalo dia pernah ngobrol dengan seseorang yang katanya tak suka dengan gayaku. Dia nanya, kenapa aku masih saja komen di blognya padahal jarang dikomen balik atau komenku dijawab ketus. 

Ini dia kejelekanku...
Orang aku nulis suka-suka saja. Tak pernah mikir kasih komen itu karena mupeng dikomenin balik. Dan aku pun seringkali ga mikirin kalo ada yang komen itu artinya aku harus nyamperin balik. 
Folbek ga folbek ga patheken dah...
#biadap...

Aku ngeblog cuma buat hiburan, makanya aku jarang serius menanggapi sesuatu. Kalo ga penting banget, aku lebih suka bercanda dalam komen. Makanya aku ikhlas betul kalo ada orang yang menganggap aku pengacau. Aku memang kurang peka terhadap gaya bahasa tersurat. Karena isi kepalaku becanda mulu, ketika dijawab ketus pun aku berpikir itu candaan juga. 
#payah...

Mbokyao...
Kalo memang ga suka mendingan terus terang. Jadinya sama-sama nyaman dan ga jadi ganjelan. Toh aku menyadari kalo setiap orang punya minat yang berbeda dan tidak bisa saling memaksakan. Tidak suka atas pola pikir orang lain itu hak setiap orang. Tapi bukan berarti kudu memusuhinya secara kemanusiaan kan..?

Suer aku ga bakalan ngambek...
Aku bisa membedakan antara dunia yang satu dengan yang lainnya. Seperti waktu di multiply. Aku tuh sering banget ribut dengan Sopi juragan LSM Rifka Anissa khususnya kalo lagi bahas KDRT. Banyak teman MPers yang bilang aku musuh bebuyutan beliau. Namun faktanya itu cuma ada di blog doang. Ketemu di darat, boro-boro sampai jambak-jambakan. Yang ada malah cekikikan sambil makan-makan mulu.

Contoh lain...
Beberapa teman mungkin ada yang ingat ketika Anaz bikin jurnal Kang Rawin Dilarang Komen di Lapak Saya. Aku bisa ngerti kalo gaya komenku ga cocok dengan blog beliau yang sangat bermutu. Sebagai orang yang lagi belajar kebebasan pendapat, aku hargai keinginannya dan tak lagi komen disana.

Apakah setelah itu aku jadi benci Anaz..?
Sama sekali tidak. Larangan itu kan hanya berlaku di blog. Di pesbuk dan media lainnya aku masih tetap haha hihi dengannya. Terus terang aku malah suka banget punya teman jujur seperti Anaz. 
Jarang-jarang loh...
#sumpah...


Intinya
Karena manusia itu kompleks, aku lagi belajar memahami bahwa sikap terhadap pola pikir dan manusianya itu harus dipisahkan. Tidak suka salah satu gaya seseorang bukan berarti harus memusuhi orangnya. Karena pasti ada gaya lain yang kita suka dan bisa jadi sarana untuk mempererat silaturahmi. 
Seperti saat aku mendadak manyun ketika ibue minta tambahan nafkah lahir di tanggal tua, tidak berarti aku tetap manyun waktu beliau minta tambahan nafkah batin...
#cuma contoh



Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena