13 April 2008

Kendala Pemasaran Online

Saya masih teringat teman saya di Belanda yang ngotot minta dikirim pete gara-gara saya posting gambar pete bakar di salah satu blog saya. Pete seharga 20 ribu itu oleh DHL dikenai ongkos kirim 1,4 juta. Weeeeh... untungnya kiriman ditolak dengan alasan harus masuk karantina. Kalau tidak, kebayang engga sih saat mereka makan pete seharga hampir 1,5 juta itu..?

Trus saya nemu tulisannya pak Nukman Luthfie tentang kesulitan memasarkan produk untuk kaum hawa secara online. Ini menarik karena tempat kerja saya juga memproduksi busana muslim yang didominasi produk busana muslimahnya dan sekarang sedang memulai pemasaran secara online melalui manetvision.com.

Menurut pak Nukman, hambatan utama dari pemasaran produk kaum hawa secara online adalah :

Pertama, statistik menunjukkan bahwa 80% pengungguna Internet adalah pria.
Di Amerika Serikat, prosentase pengguna internet perempuan sudah melampaui pria. Di Indonesia, sebaliknya. Pengguna perempuan hanya sekitar 20% total pengguna Internet. Tentu saja, dengan pangsa pasar yang relatif kecil ini, diperlukan usaha yang ekstra agar bisa berhasil menjual barang-barang yang dikhususkan untuk kaum Hawa. Cara-cara biasa tidak akan mempan.

Kedua, aksesoris perempuan bukan termasuk jenis barang yang mudah dibeli online.
Barang-barang yang laku dijual via Internet memiliki beberapa ciri khas: tidak perlu dicoba, tidak perlu disentuh, tidak perlu dibaui, dan tidak perlu disentuh. Cukup hanya dengan membaca keterangan dan melihat gambarnya pengguna internet dapat memutuskan untuk beli atau tidak. Barang-barang tersebut adalah:
1. Barang digital: lagu, ringtone, whitepaper, foto, hasil riset, dan sejenisnya.
2. Komputer, Handphone dan keluarganya
3. Buku dan barang-barang khusus berbasis hobi.

Aksesoris kaum hawa tidak masuk dalam daftar tersebut saat ini. Sepemahaman saya, perempuan cenderung mencoba barang berulang-ulang sebelum membeli. Dua hal di atas, tipisnya pangsa pasar serta jenis barangnya, mempersulit kesuksesan penjualan aksesoris perempuan.

Kendala yang lain, ya seperti kisah tentang pete itu. Dengan memasarkan secara online produk dapat dilihat di seluruh dunia. Ini tak menutup kemungkinan menarik minat pembeli dari luar negeri yang kadang terbentur dengan masalah ongkos kirim. Agaknya sedikit aneh bila produk senilai ratusan ribu harus dikenai biaya kurir sampai jutaan.

Salah satu pemecahannya antara lain dengan memilih segmen pasar yang bersifat menengah ke atas. Apalagi bila mengingat pengguna internet di Indonesia masih didominasi oleh golongan itu. Dan berita baik lainnya adalah kaum hawa golongan itu sudah mulai kekurangan waktu untuk belanja secara tradisional mengingat sejak pagi sampai sore hari lebih banyak berada di kantor dan duduk di depan komputer dengan internetnya.

Untuk itu produk harus diusahakan seunik mungkin dan selalu up to date. Soalnya pangsa pasar yang itu biasanya sangat kritis dengan masalah penampilan dan image individu. Penjajagan keinginan pasar sangat diperlukan, mengingat konsumen sekarang sudah tidak mau lagi digeneralisir dan menerima apa saja yang disodorkan produsen tanpa melihat profil pribadi dan melibatkan emosi mereka.

Strategi lainnya bisa diterapkan seperti telah berjalan di Manet Busana Muslim, dimana pemasaran online sepenuhnya didukung oleh jaringan pemasar offline. Penjualan online sistem grosir dapat membantu kendala timbulnya keengganan konsumen berbelanja karena beban ongkos kirim itu. Apalagi sebagian besar perusahaan jasa kurir menerapkan pembulatan ke atas berat barang perkilogram. 1,1 kg tetap dihitung 2 kg. Mungkin bisa saja dibuatkan batas pembelanjaan minimal, tapi apakah semua konsumen benar-benar perlu untuk belanja banyak?

Pembentukan jaringan-jaringan pemasar offline di daerah-daerah sangat membantu sistem online ini. Memang ini menekan nilai keuntungan dengan harus terbaginya margin laba dengan reseller. Tapi ini lebih baik daripada kita kehilangan banyak konsumen yang masih akrab dengan sistem tradisional.

Kendala lain yang lumayan berat adalah menjaga kualitas produk. Katalog atau barang yang dipajang di website selalu melalui proses retouch dengan software grafis yang seringkali benar-benar mampu menarik konsumen untuk membeli. Tapi setelah barang diterima, konsumen kecewa melihat kenyataan terlalu jauh perbedaannya denga tampilan di website. Ini sangat merugikan untuk kelangsungan hidup pemasaran kita. Mengingat efek domino yang bisa timbul akibat cerita tentang kekecewaan itu beredar dari milis ke milis dan dari blog ke blog.

Bagaimanapun juga konsumen tetap lebih percaya kepada teman dekat atau teman ngeblognya sebagai acuan referensi daripada iklan. Walaupun ini bisa berpengaruh positif terhadap penjualan bila kita benar-benar mampu menjaga kepercayaan konsumen. Cerita tentang kepuasan konsumen terhadap produk dan palayanan kita akan cepat menyebar ke seantero jagad maya.

Tapi jangan sampai merasa kalah sebelum berperang.
Berani mencoba dan selalu kreatif sepertinya kunci utamanya...

Arsip Angsakecil

Read More

12 April 2008

Kontroversi FITNA

Ribut-ribut soal film pendeknya Geert Wilders sudah lama saya dengar, dari sekedar protes, demo sampai Depkominfo memblokir beberapa website langsung dari backbone. Film itu pun sudah saya download sejak belum heboh seperti sekarang ini, tapi baru saja saya sempat putar beberapa menit yang lalu.

Awalnya saya cuek saja dan membiarkan film itu mengeram di folder download sampai bulukan, sampai saya chat dengan teman saya yang di Belanda. Dia menanyakan pendapat saya tentang film itu dan bagaimana pengaruhnya di Indonesia.

Bagi saya, walaupun film itu teramat menghina keyakinan saya, tapi saya berusaha menyadari. Mungkin memang itu salah satu dampak dari era internet. Kebebasan mengeluarkan apa saja yang kita mau tanpa bisa dibatasi oleh hambatan geografis membuat kita harus belajar menerima semuanya dengan kepala dingin. Namun di lain sisi kita juga harus bisa menahan diri dalam mengeluarkan pendapat kita. Masalahnya apakah semua orang bisa berpikir seperti ini..?

Film pendek yang dibuat oleh pemimpin partai Party for Freedom (PVV) di parlemen Belanda, yang memang sangat terkenal dengan pandangan kerasnya, berisi tentang pandangan sempitnya mengenai Islam dan Al Qur'an. Beberapa ayat di Al Qur'an dibelokkan olehnya menjadi suatu anggapan yang memotivasi ke arah terorisme dan penguniversalan Islam di dunia.

FITNA diluncurkan untuk pertama kalinya 27 Maret 2008 di situs video sharing Liveleak dalam versi bahasa Belanda dan Inggris. Versi bahasa Belanda dari film ini diklaim dilihat sekitar 1,6 juta kali dalam 2 jam sedangkan versi bahasa Inggris-nya dilihat 1,2 juta kali dalam 5 jam.

Wilders begitu berpikiran negatif terhadap Islam karena ia merasa bahwa Islam telah merusak kebebasan di Belanda yang begitu menjunjung tinggi Belanda sebagai sebuah negara demokrasi. Apalagi dia melihat begitu pesatnya perkembangan Islam di Belanda. Wilders melukiskan kitab suci umat Islam sebagai "buku fasis" yang menghasut orang untuk melakukan kekerasan.

Namun menurut saya ini hanyalah akal bulus Wilders untuk mencari keuntungan. Karena ia adalah pendukung Yahudi, isu semacam ini sangat penting untuk mendapatkan bantuan dana dari para jutawan Yahudi yang memang kebanyakan punya peran kuat di bidang ekonomi dan politik di negara Eropa dan Amerika Utara.

PM Belanda Jan Peter Balkenende begitu film itu diluncurkan langsung muncul di televisi untuk menjelaskan sikap pemerintah Belanda yang menyesalkan film itu. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, juga mengecam keras film itu, dan mengatakan bahwa sikap itu tidak bisa dibenarkan karena akan mengundang aksi kekerasan. Presiden UE yang kini dipegang oleh Slovenia menyebut film tersebut tidak membawa manfaat apapun selain hanya mengobarkan kebencian. Menlu Inggris, David Miliband, mengatakan hendaknya orang dapat menggabungkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kebebasan berpendapat dan sekaligus menghormati keberagaman rasial dan keagamaan. Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith mengatakan bahwa film itu "sangat menghina" dan "upaya nyata untuk menimbulkan perpecahan di antara masyarakat kepercayaan".

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melarang peredaran film FITNA masuk ke Indonesia. SBY juga meminta kepada pemimpin negara Islam lainnya untuk menolak peredaran film tersebut. Presiden telah meminta Menteri Hukum dan HAM untuk mencekal Geert Wilders jika ingin masuk ke Indonesia. SBY juga minta kepada seluruh umat Islam di Indonesia agar tidak terpancing dalam suasana permusuhan.

Mengapa harus ada permusuhan di dunia ini yak..?

Arsip Angsakecil
Read More

Merk. Harus Speakable dan Writable

Memilih merk, kriteria awal yang baik adalah S&W atau speakable dan writable. Mengingat yang paling sering berhubungan atau komunikasi merk adalah konsumen, bukan pemasar. 

Pihak internal hanyalah memasang iklan, memajang logo, menggelar pressrelease, mengerahkan salesforce dan sejenisnya. Pihak internal tak mungkin memikirkan merk setiap waktu. 

Lain dengan konsumen, mereka mengaktifkan komunikasi merk setiap saat dimanapun mereka berada. Dan merk itu pula yang dijadikan identitas saat mereka membicarakan suatu produk.

Kenapa merk harus mudah diucap dan ditulis..?

Karyawan, investor, supplier dan semua pihak yang berhubungan dengan bisnis kita biasanya mudah melafalkan sebuah merk serumit apapun itu. Tapi apakah konsumen akan sejeli itu..? Mungkin saja sekian persen dari pasar kita adalah pengidap dyslexia dan wordphobia.

Coba amati percakapan di telepon atau SMS atau fax. Kata-kata sering kabur, huruf disingkat-singkat dan cetakan samar. Konsumen harus langsung bisa ngeh bahwa yang dimaksud itu adalah merk kita walaupun tidak terdengar jelas, disingkat atau tercetak tidak jelas.

Merk yang bermasalah dari segi pengucapan dan penulisan seringkali bermasalah juga dalam hal pengingatan (memorabilitas). Bandingkan Rinso dengan surf atau attack. Mana yang lebih memorable dalam benak ibu rumah tangga dan PRT? Rinso kan..? Surf dan Attack cukup susah untuk dieja apalagi diingat. Orang pun akan lebih mudah mengingat Telkomsel dari pada Excelcomindo sampai akhirnya dibuat singkatan XL agar lebih memorable.

Walaupun banyak hal lain yang lebih berperan dalam kesuksesan usaha daripada sebuah merk, tapi setidaknya patuh pada S&W bisa membantu mempercepat akselerasi penerimaan nama produk di pasar. 

Memang ada pengecualian untuk itu. Ada perusahaan yang sukses besar dengan nama yang ajaib, seperti Pierre Cardin, TAG Heuer, Volkswagen atau Mithsubishi. Meski kurang speakable dan writable, nama Pierre Cardin sengaja dipakai agar terkesan berprestise. Volkswagen agar terkesan Jerman dan Mithsubishi agar terasa aroma Jepangnya.

Segmen-segmen tertentu memang meniscayakan pada nama yang sulit semacam itu. Namun sepertinya perlu untuk tidak mencampuradukan aturan umum dengan pengecualian.

Ada inspirasi..?

Arsip Angsakecil
Read More

11 April 2008

Ciuman Laki-laki Dungu

Aku masih saja termangu memikirkan kata-kata "fool in love" itu, ketika pesan di YM muncul dari seorang teman. Ternyata dia sudah nyasar sampai ke blog ini padahal aku harapkan ini tetap tersembunyi rapi hanya untuk aku dan seseorang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dia juga membahas tentang tulisan yang itu. Lebih parah dia mengatakan itu bukanlah kedunguan cinta tapi kebodohan seorang laki-laki.

Hmmm... aku makin dalam merenungkan semua itu. Benarkah aku begitu bodoh selama ini..?

Selama ini yang aku sebut kedunguan laki-laki adalah pengalaman ciuman pertamaku dengan seorang perempuan yang ada dalam hatiku. Aku hidup di jaman yang masih polos dimana pacaran hanya sekedar formalitas istilah dan tidak ada seremonial seperti layaknya saat ini. Dengan pacar pertama dan kedua aku hanya tau jalan bareng tanpa bergandengan tangan dan ngapel pun duduk bersebrangan meja. Aku baru menjamah bibir perempuan dengan pacar ketigaku ketika teman-teman se genk mengajak adu keberanian mendadu bibir dengan hadiah mendaki ke gunung Lawu gratis.

Aku ngapel dan berpamitan pulang dengan dag dig dug. Di depan kos-kosan cewekku, aku harus menjalani taruhan itu dengan beberapa pasang mata mengawasi dari kejauhan untuk menguji nyaliku. Dan aku berhasil mendapatkan bonus itu hanya dengan menempelkan bibir dengan kaku selama beberapa detik tanpa ada ekspresi atau sensasi selain seluruh tubuh mendadak panas dingin.

Tapi menurutku itu tidak sedungu temanku yang hidup di era kebebasan seksual seperti sekarang ini. Temanku seorang yang teramat jaim dan dia mau bergaul dengan gembel macam aku hanya karena dia sering butuh isi kepalaku saja. Dan dia begitu bangga menceritakan kepada setiap temannya ketika berhasil menggaet seorang perempuan indah yang memiliki jabatan lumayan di perusahaan.

Hanya sebulan setelah dia memamerkan itu, dia berkeluh kesah ketika aku sedang membongkar-bongkar server di kantornya. Mukanya tampak kusut ketika menceritakan kencan pertamanya begitu indah dan romantis sampai akhirnya bisa bergumul di sofa, tapi pulang dengan wajah yang acak-acakan.

"Kami bergumul dengan penuh gairah di sofa. Malam yang aku pikir akan begitu indah. Tapi tak peduli bagaimana usahaku mendekatinya hasilnya selalu sama. Setiap kali aku aku berharap di membuka sedikit bibirnya agar bisa kulumat lembut, dia akan membuka mulutnya seperti akan menelan separuh wajahku. Sampai akhirnya aku kehilangan gairahku dan hanya menelan kecewa."

Sepertinya ada kekecewaan yang lebih besar dalam kehidupan ini selain menemukan seseorang yang tepat, humoris, cantik, berpendidikan dan jabatan tinggi, memiliki bau yang harum dan tidak membuat kita malu saat jalan bareng, namun dungu dalam hal ciuman.

Kalau bicara soal ciuman yang sebenarnya, mungkin aku harus jujur bahwa aku belajar dari pacarku yang selanjutnya. Waktu itu aku masih lugu dengan pengalaman ciuman yang baru sekali seumur hidup dan tanpa kesan apa-apa. Aku dan dia berjalan-jalan di kebun kubis lereng gunung Slamet seusai mendaki. Kami duduk berdua bercerita tentang cita-cita. Sampai tiba-tiba dia memberikan sebuah ciuman yang lembut dan bertubi-tubi sebelum akhirnya memisahkan lidahnya yang basah dan hangat. Benar-benar membuatku mabuk kepayang dalam pusaran hasrat yang memberiku kepuasan untuk pertama kalinya.

Kesempatan kedua terjadi saat seharian berada di tempat kosku mengerjakan proposal kegiatan. Duduk bersama melepas kepenatan jari seharian ngetik telah membangkitkan keberanianku untuk menciumnya terlebih dahulu. Balasan yang teramat hangat telah membangkitkan gairahku sampai hampir mendekati puncaknya. Namun ketika tanganku mulai tergerak untuk beraksi, dengan lembut tapi tegas dia menghentikan aksiku tanpa melepas bibirnya dari bibirku.

Begitulah... Dia menghentikannya sebelum melewati garis merah. Sampai akhirnya kami berpisah dua tahun kemudian, dia tak pernah bisa aku jamah lebih jauh dari sebatas ciuman. Buat dia, ciuman bukanlah menu pembuka melainkan menu utamanya.

Ciuman tidak bisa berbohong. Ciuman adalah ungkapan cinta ketika kata-kata tak lagi cukup untuk mengungkapkannya. Dan sekaligus sebagai ujian apakah kita bisa membuktikan cinta itu benar-benar tulus dengan menghentikan semuanya saat menuntut lebih.

Benar-benar perempuan cerdas yang telah mengajarkan cinta yang cerdas dengan ciuman yang teramat cerdas.

Dan sepertinya bisa menarik nafas lega. Selama ini aku bisa. Berarti aku bukan laki-laki dungu.

Semoga...

angsa kecil yang dungu...
Read More

Analogi Angsa Kecilku

Tadi malam saya iseng googling untuk memeriksa apakah blog baru saya ini sudah terindeks oleh google apa belum. Dan memang belum. Tapi saya malah menemukan banyak hal-hal penting dan bagus berkaitan dengan pemilihan nama angsa kecil ini.

Sebenarnya nama itu tidak sengaja saya pakai. Beberapa nama yang saya masukan selalu ditolak blogger. Lalu saya ingat beberapa waktu lalu saya melihat ada seekor anak angsa yang jatuh ke dalam lubang. Induk angsa ikut turun ke lubang itu dengan maksud akan menolong anaknya. Tapi angsa bukanlah kucing yang bisa menggigit tengkuk anaknya untuk berpindah tempat. Lama saya perhatikan usaha induk angsa mengeluarkan anaknya dari lubang itu. Sampai akhirnya induknya menyerah lalu terbang meninggalkan angsa kecil itu sendirian.

Anak angsa awalnya kebingungan dan menurut saya berteriak-teriak minta tolong. Setelah agak lama dia berhenti menguik (eh, maaf. istilah tepatnya apa sih..?). Dia lalu berusaha mengepakkan sayapnya mencontoh gerakan induknya saat meninggalkan lubang tadi. Gagal dan selalu gagal, karena memang sayapnya belum berbulu. Sebenarnya saya kasihan dan ingin menolong angsa kecil itu. Sayang kemudian hujan turun dengan deras membuat saya malah beringsut masuk ke warung yang tak jauh dari situ. Dari dalam warung saya terus perhatikan makhluk lemah itu. Kasihan dia. Sudah jatuh ke lubang dalam, ditinggal induk dan teman-temannya, masih harus diterpa hujan teramat lebat.

Heeeh... ternyata dia tidak mengeluh. Terus saja dia mengepak-ngepakan sayap mungilnya. Saat air mulai membanjiri lubang itu, angsa kecil mulai berenang. Ketika lubang itu sudah penuh air, dia bisa keluar dan segera berlari mencari induk dan saudara-saudaranya mnerobos lebatnya hujan.

Hanya itu inspirasi saya tentang angsa kecil. Kegigihannya dan kemampuan mengubah penderitaan dibawah hujan menjadi sarana untuk keluar dari masalah terasa sekali mengena dalam hati saya.

Kemudian malam tadi saya menemukan analogi yang bagus hasil pencarian om google. Formasi angsa terbang. Yah.... angsa terbang di musim gugur untuk mencari udara panas di belahan bumi selatan. Mereka menggunakan formasi V. Ada angsa yang terbang paling depan dan di belakang angsa itu ada dua angsa dan di belakang masing-masing dari dua angsa tersebut ada satu ekor angsa dan terus sampai ke belakang. Biasanya jumlah angsa tersebut sampai 11 ekor dan membentuk huruf V.

Kepak sayap dari angsa yang di depan akan mengelevasi angsa yang di belakangnya. Begitu juga dengan angsa di baris kedua, walaupun mengepakkan sayap dengan tenaga yang lebih ringan tetap saja akan dapat mengelevasi angsa di baris berikutnya. Ini mengakibatkan angsa yang paling belakang sama sekali tidak perlu mengepakkan sayap. Dia hanya perlu merentangkan sayap selebar mungkin untuk mendapatkan daya elevasi dan sayapnya yang aerodinamis tadi akan tetap membuatnya terbang. Itu berarti semakin ke belakang maka akan semakin ringan beban untuk terbang.

Ketika angsa terdepan mulai mengalami kelelahan maka dia akan menurunkan ketinggian terbangnya Ketika itu pula salah satu dari dua angsa yang di belakangnya akan terbang lebih cepat untuk menjadi angsa terdepan. Barisan itu pun akan maju sehingga angsa yang terbang rendah tadi dapat masuk menjadi angsa paling belakang dari barisan itu. Dengan demikian mereka dapat terbang cukup lama tanpa harus beristirahat. Pernahkah Anda menyadari bagaimana bila mereka terbang sendiri? Mungkin mereka akan terlambat dan ketika salju mulai turun mereka belum sampai di selatan. Atau bahkan mereka sudah mati kelelahan karena tidak ada yang membantu.

Analogi yang indah untuk mencapai satu tujuan. Tepat untuk saya dengan kondisi saat ini. Sebagai orang jawa, analogi sapu lidi agaknya lebih pas. Orang Jawa bila tercerai-berai jarang yang bisa mencapai sebuah sasaran. Bersatu dari awal itulah kuncinya. Guyub rukun, gotong royong menjadi sebuah falsafah yang utama. Sampai ada istilah "mangan ora mangan asal kumpul".

Bila bersatu dari awal adalah kunci, bagaimana dengan saya yang sedang terbuang dan sebatangkara seperti ini..? Change..!!!

Lihatlah bila beberapa ekor angsa diikat. Akankah mereka terbang dengan kompak..? Tentu tidak. Berlarian saling seret dan saling menyakiti yang pasti. Lepaskan ikatan, biarkan mereka hidup sendiri-sendiri. Begitu terbang, mereka akan menjadi kompak dan saling bantu tanpa ada persetujuan atau ikatan apapun sebelumnya.

Semoga anak angsaku bisa segera memiliki sayap dan menemukan kawanan angsa lain untuk terbang bersama menuju cita-cita...

Arsip Angsakecil

Read More

Terbuang Dari Nusakambangan

Mungkin judul ini terlalu aneh buat orang lain, mengingat kebanyakan orang berpikir Nusakambangan justru pulau buangan untuk penjahat kelas kakap. Tapi entahlah. Di Alcatraz yang notabene tanah air sendiri saya justru dijahati dan akhirnya terbuang dari sana terlunta-lunta dari satu kota ke kota lain tanpa arah tujuan pada awalnya.

Setelah saya memiliki niat untuk hijrah dan mencari pelajaran-pelajaran baru tentang hidup dan cara mempertahankannya, masih sering terdengar selentingan berita tak sedap dari sana. Seperti sore kemarin saat YM saya aktif di HP. Sedih dan teramat nelangsa yang saya rasakan. Sudah saya ikhlaskan tubuh dan hati ini dicampakkan dari sana. Kenapa masih saja sisa-sisa kenangan yang tertinggal dilemparkan keluar bagaikan sampah yang teramat hina. Pedih, jendraaal... Mengapa yang seperti itu masih saja harus terjadi dan kenapa pula harus sampai ke depan mata dan telinga saya. Padahal saya sudah berusaha meminimalisir dan memutuskan jalur-jalur informasinya.

Mungkin inilah efek teknologi informasi yang telah membobol batasan-batasan wilayah hukum, ekonomi, geografis, kultural dan telah merambah ke hal-hal yang menyangkut masalah individual sampai mampu merubah emosi seseorang. Dunia yang begitu luas seolah tak bisa lagi dipergunakan untuk sembunyi, karena semuanya seperti sudah berada dalam genggaman tangan.

Kadang-kadang saya merasa berubah melankolis bagai pelantun balada ketika Ebiet G Ade mendendangkan "Aku Ingin Pulang" di speaker PC. Apalagi saat kerinduan-kerinduan akan keindahan surga pantai selatan itu mengusik ujung hati saya, keinginan untuk kembali teramat terasa. Namun selalu saya urung untuk membalik haluan. Saya tak boleh kalah oleh perasaan-perasaan sentimentil itu. Saya bertekad untuk pulang kesana dengan mengepakkan sayap, bukan lagi merangkak.

Ya... Saya harus terbang saat kembali ke Bumi Wijayakusuma. Seberat apapun halangan dan hambatannya saya harus terus belajar terbang dan tidak menjadi angsa kecil lagi. Harus..!!!

Saya akan selalu merindukanmu Nusakambanganku...

Read More

10 April 2008

Fool In Love

Pagi tadi menjelang subuh HPku bernyanyi. Ayu dari Praha yang nelpon ternyata.

"Hei, ngapain subuh-subuh nelpon?"
"Sori deh, mas. Baru jam 12 disini. Dah bobo yah..?"

Buset, udah tau disini subuh masih nanya sudah bobo apa belum? Percakapan pun berlanjut.

"Agustus aku pulang ke Indonesia, mas. Aku mau nikah."
"Jadi nikah sama si Ozi? Katanya bermasalah?"
"Engga, mas. Udah bubaran Februari kemarin"
"Heeeh," aku malah bengong. "Kamu bubaran Februari, sekarang udah bilang mau nikah. Cepet amat cari gantinya..?"

Si Ayu yang memang benar-benar ayu itu malah ngakak. "Kenapa sih, apa susahnya kalau memang kita sudah cocok. Jangan terbelenggu dalam fool in love, mas.."

Cukup panjang sih percakapan setelah itu. Tapi hanya satu yang terus nyantol di otakku sampai saat ini. Fool in Love... Fuiiih... belum berubah juga ucapan itu dari dulu.

Berjam-jam aku memikirkan itu di sela-sela kesibukan pekerjaan siang tadi. Aku juga ingat tulisanku sendiri tentang keinginanku untuk change!!! Haruskah aku juga ikut berubah dalam hal itu?

Selama ini aku memang terbenam dalam sebuah pemahaman yang aku sebut dedication to love. Walaupun lebih banyak orang yang berkata seperti temanku Ayu itu. Benarkah selama ini aku memang benar-benar tenggelam dalam sebuah kedunguan?

Setiap orang menuliskan tentang cinta. Tetapi pencarian itu tidak menghasilkan cinta. Pencarian itu kadang mampu membuat laki-laki melakukan hal-hal yang tidak biasa. Menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga dan pikirannya hanya untuk menarik perhatian seorang perempuan. Parahnya banyak laki-laki yang melakukan hal-hal yang diyakini akan berhasil hanya karena semua itu dilakukan juga oleh banyak laki-laki umumnya. Buatku, tidak ada yang lebih menyedihkan selain seorang laki-laki yang meminta saran orang lain hanya untuk menjadi dirinya sendiri.

Aku belajar banyak tentang cinta dengan mencoba untuk menenangkannya daripada untuk memenangkannya. Sampai akhirnya aku dapat menemukan hal-hal utama tentang cinta dan diriku sendiri. Aku pernah merasakan betapa indahnya saat jatuh cinta. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa pengejaran itu terasa lebih nikmat melebihi saat telah mendapatkannya. Mungkin ini yang membuat orang lebih suka mencari cinta daripada mempertahankan cinta.

Banyak orang yang melarikan diri ketika tertusuk duri mawar cinta, melupakan bagaimana mereka dulu berusaha sekuatnya untuk menjamah keindahannya. Dan setiap orang yang membiarkan tangannya berlumuran darah mempertahankan tangkai berduri itu akan dipandang sinis dengan sudut mata.

Terlalu banyak sisi-sisi cinta yang harus kita mengerti. Tapi terlalu sedikit yang mau menahan sakitnya. Sampai terlontar dari bibir mereka julukan "sang pecundang" daripada kiasan "pengabdian cinta"

Semoga aku bisa menemukan diriku dalam cinta.

Love is
...the human equation
...being tied by heartstrings

 
Read More

Teknologi untuk Marketing

Dulu orang memiliki ponsel hanya untuk sekedar melepon atau mengirim pesan penting saja. Orang pun menggunakan internet hanya untuk kepentingan bisnis semata. Namun sekarang semua itu sudah bergeser dari posisi awalnya.

Dengan SMS atau Instant Messenger semacam YM atau Google Talk orang merasa lebih "bebas" dalam mengekspresikan dirinya tanpa harus "berbicara". Mereka menjadi semakin emosional. SMS atau IM sudah menjadi milik semua orang. Orang yang paling pendiam pun bisa menjadi cerewet ketika fungsi mulut diambil alih oleh ujung jempolnya. Berbagai polling bahkan kampanye politik pun sudah memanfaatkan SMS sebagai salah satu andalannya.

Melihat kenyataan bahwa orang lebih sering duduk di depan komputer dan internet, plus ketika harus meninggalkan tempat yang namanya ponsel pasti tidak pernah lepas dari genggaman. Ini adalah sebuah peluang besar bagi pemasar untuk bisa memanfaatkannya secara maksimal. SMS yang dulu dianggap "tabu", kini malah menjadi tren yang justru semakin manusiawi dan emosional. Lihat saja Yahoo atau Sonyericsson yang memanjakan emosi pelanggannya dengan menciptakan fitur yang dinamakan emoticons. Kalau dulu orang harus bertemu untuk menyatakan perasaan marah, benci, sayang, cinta bahkan mencari jodoh sudah umum dilakukan lewat kedua media itu. Tak ayal bila Telkomsel memanfaatkan itu dijadikan tag salah satu produknya dengan ungkapan "mulutmu harimaumu. SMSan sajaaaa...."

Mengekspresikan perasaan merupakan kebutuhan alami manusia. Perasaan sedih, gembira, kangen atau puas kini bisa diungkapkan hanya dengan beberapa sentuhan pada tombol ponsel atau beberapa klik mouse saja. Manusia modern lebih menyukai penggunaan teknologi yang dalam pemasarannya menekankan sisi emosional dibanding hanya bermodal kecanggihan teknologinya saja.

Tentu kita semua ingat meledaknya market Nokia 5110 dulu sampai menyabet predikat ponsel sejuta umat. Ini ada kaitannya dengan desainnya yang merupakan ponsel pertama bisa kita ganti-ganti casing semudah memasang baterai atau SIMCard. Perasaan manusia tidak seragam dan setiap orang butuh mengekspresikan dirinya dalam banyak hal agar tidak terkesan pasaran. Ini juga terpengaruh oleh adanya content game dalam ponsel tersebut didukung iklan dan promosi gencar dengan tag "tetap ada unsur kekanakan dalam diri kita..." dan "teknologi yang mengerti anda...". Pengolahan emosi konsumen yang benar-benar mengena.

Teknologi informasi membuat pelanggan semakin emosional. Disinilah letak tantangan bagi pemasar untuk pandai meramu dan menggabungkan teknologi itu dengan "emosi" yang ada di dalamnya. Pengambilan keputusan konsumen semakin didasarkan pada mood dan feeling mereka dibandingkan mind.

Tapi ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Emosi itu bagai rollercoaster yang bisa naik turun dengan cepat. Mood konsumen perlu diperhatikan. Tidak mungkin kita bisa menawarkan produk saat konsumen tersebut dalam keadaan bad mood. Pengolahan mood management secara benar dan tepat sangatlah diperlukan. Pemasar tidak lagi bisa mengandalkan broadcasting dan mengirimkan pesan yang sama kepada seluruh pelanggannya. Pemasar harus menggunakan berbagai media untuk melakukan pointcasting untuk menyampaikan pesan yang bersifat personal.

Jadi intinya adalah, pelanggan tidak mau lagi digeneralisasi. Mereka butuh ekspresi dan aktualisasi diri agar menjadi ekslusif sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai jati diri. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, mereka justru butuh teknologi yang lebih "memanusiakan" mereka, bukan teknologi yang mengandalkan kecanggihannya sendiri.

Arsip Angsakecil

Read More

09 April 2008

Yang Kedua

Mendengar kata yang "kedua" orang seringkali menatap sinis. Semua orang ingin menjadi nomor satu. Bahkan sejak dulu pun kecap tidak ada yang bukan nomor satu. Seolah kedua itu adalah posisi yang tersisihkan.

Agaknya hanya Astrid yang berteriak lantang ingin dijadikan yang kedua tanpa kita bisa tahu apa tendensinya melawan arus isme masyarakat. Benar-benar dia ingin membuka wawasan semua orang atau hanya mencari sensasi agar bisa dijadikan alat pembenaran.

Aku sendiri tak pernah memikirkan tentang pertama atau yang kedua. Yang pasti aku merasa perjalanan keduaku ini justru terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Entahlah mengapa bisa begitu..? Padahal aku yakin tidak ada perubahan atau perbedaan yang berarti dari kebersamaan kedua ini dengan yang pertama. Atau mungkin benar apa yang pernah aku tuliskan di sebuah blog tentang arti kehadiran. Dimana segalanya kadang terasa indah setelah keindahan itu pergi...

Sebelum ada kepergian itu aku memang tak pernah tahu arti sesungguhnya dari kebersamaan yang pernah kujalani. Apalagi bila semua itu hanyalah ... a dream you do not want to wake up from. Terasa sekali ada sesuatu yang menggantung hanya karena aku menganggap perjalanan itu tak pernah ada arah tujuannya. Setelah semuanya berlalu, terasa sekali bahwa ada banyak sisi yang tak pernah tersentuh dan terasakan padahal itu lebih berarti daripada sebuah tujuan akhir perjalanan. 
 
Seolah aku melupakan bahwa rel kereta selalu sejajar mengantarkan segala beban harapan ke tujuan namun tak pernah berimpit menjadi satu. Tanpa aku harus tahu akhirnya akan bagaimana, ternyata banyak sekali pemandangan indah di sepanjang jalan yang bisa aku nikmati. Agaknya itu yang lebih penting, karena aku hanya bisa berusaha semata dan selanjutnya aku hanya bisa memasrahkan diri kepada takdir Illahi.

Apapun yang terjadi, aku tetap merasa perjalanan kedua ini terasa begitu indah. Aku tak peduli lagi orang akan mencibir atau berkata sinis. Banyak rasa yang dapat aku nikmati dan rasakan kini. Dan hidupku tidak terasa hambar lagi.

...what make each day special.



Read More

Mozaik

Saat malam telah melewati puncaknya sedang mata ini belum juga mampu terpejam. Tumpukan buku-buku tebal tak terasa menggiurkan. Bantal tipis pun turut merana di atas karpet kumal tanpa ada tanda-tanda gerakan hati untuk menjamahnya. Sebenarnya teramat lelah mata ini sepanjang waktu menatap pendaran fosfor di layar kaca, tapi entahlah. Kesunyian yang menyergap tak terusik untaian nada-nada sendu dari si pelantun balada.

"...having you beside me all the way." Sepotong tulisan yang belum juga usai justru menarik jemariku menggenggam tikus elektronik untuk mengarahkan panahnya ke tanda silang merah di sudut kanan atas. Saat lembaran itu menghilang, terbuka sebuah halaman yang mungkin teramat ingin aku dapatkan kali ini. "Senyum di dalam mimpi."

Ya... aku sudah menginginkan mimpi itu saat ini. Tapi sudut mata ini malah terus menelusur barisan kata-kata yang tersurat disitu sampai ujung akhirnya. Ada sesuatu yang menyergap didalam dada menelaah baris demi baris huruf-huruf yang penuh arti. Terasa ada keping-keping hati yang terserak di dalam sana. Tercerai berai berantakan sampai tak tahu rasa apa yang sebenarnya ada di antaranya. Dalam beberapa helaan nafas panjang, lembaran notepad terbuka dari tekanan tombol dari startmenu. Membawa ujung-ujung jari ini kembali menari-nari di atas papan ketik.

Entah apa yang akan tertuliskan tak pernah terpikirkan. Hanya ada satu harapan, kepingan-kepingan hati itu dapat ditaut-tautkan kembali menjadi sebuah mozaik kalau mungkin terlalu berat untuk dapat bersatu kembali utuh. Tak begitu indah memang bagai tempelan-tempelan puzle. Tapi paling tidak semuanya bisa tersusun dalam satu pola yang memiliki arti walau mungkin akan mudah terburai kembali bila puzle itu tergoncangkan.

Biarlah gambaran hati itu tetap menjadi kumpulan serpihan-serpihan retak. Anggap saja guratan-guratan pembatas itu menjadi hiasan yang mampu menambah keindahahan yang entah semu atau nyata.

"...helping keep his spirits up." Sebuah prioritas utama yang tak boleh tercampakkan lagi. Semoga mozaik ini akan berpaut erat diterpa hujan dan panas menjadi relief hidup yang teramat lekat dan bisa menjadi tempat berpijak menggapai asa.

Semoga...
Read More

Fungsi Merk dalam Marketing

Shakespeare pernah menyatakan "Apalah artinya sebuah nama?" Tapi orang Muslim menempatkan nama sebagai doa atau yang orang jawa mengatakan "asma kinarya japa". Lebih jauh orang jawa menegaskan jeneng dulu baru jenang. (Nama dulu baru makanan atau harta). Confucius mengatakan nama bisa mengubah hidup.
Dalam dunia marketing nama atau merk teramat berpengaruh. Dalam bukunya Are You an Enterpreneur? secara singkat dan padat Rodney Overton mengatakan "Dengan berbekal merk berarti anda telah mengumandangkan satu identitas yang unik kepada konsumen. Sehingga konsumen dapat mengurangi resiko, mudah mencari dan mampu membedakan produk anda dari pesaing."

Merk berimbas langsung terhadap penjualan, semakin greget merk anda semakin tokcer fungsi penjualan anda. Merk yang kuat akan memboyong manfaat yang tidak sedikit. Pertama, besarnya loyalitas dan margin. Kedua, kebalnya perusahaan terhadap persaingan dan krisis. Ketiga, solidnya dukungan orang tengah. Keempat, mulusnya proses komunikasi pemasaran. Kelima, terbukanya peluang lisensi dan perluasan merk.

Ujung-ujungnya merk yang kokoh tak ubahnya seperti magnet. Ia akan memikat stakeholder yang terbaik. Kira-kira profesional yang cemerlang akan tertarik berkarir dimana? Tentu pilihan akan jatuh ke perusahaan yang bermerk kuat dan mapan seperti Garuda, Nokia atau CitiBank daripada yang lainnya. Karyawan, pemasok, investor, partner, konsultan dan stakeholder yang lain juga cenderung mengincar merk yang tangguh. Ini jelas menguntungkan pemilik merk.

Mungkin tak berlebihan bila saya katakan "Shakespeare is wrong!" Zaman sekarang brand is neccesity. Merk adalah keniscayaan. Untuk itulah, merk adalah modal pertama.

Bersiap-siaplah untuk mencari inspirasi.

Arsip Angsakecil
Read More

Peran Emosi dalam Marketing

Peran Emosi dalam Marketing

Menurut Wikipedia. Emosi adalah adaptasi evolusi, karena meningkatkan kemampuan organisme untuk mengalami dan mengevaluasi lingkungannya dan kemudian menambah kemungkinan hidup dan bereproduksi, dengan mempersiapkan rencana sederhana untuk berbagai tingkah yang diperlukan, seperti mendekati atau menjauhi obyek yang (tidak) bisa dicerna, bersaing bersama organisme lain atau lari jika organisme itu terlalu kuat (kemarahan vs. ketakutan), dan membentuk atau kehilangan ikatan kooperatif berdasarkan pada altruisme berbalasan (kebanggaan vs. kesedihan) dengan organisme lain.

Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, 'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere 'bergerak'. "Motivasi" juga diturunkan dari movere.

Selain Emosi manusia juga memiliki pikiran atau rasio. Manakah yang lebih penting diantara keduanya? Manusia tanpa emosi adalah benda, manusia tanpa rasio adalah hewan. Sekarang yang menjadi masalah adalah seberapa besar kadar komposisi dari emosi dan rasio yang ada dalam diri tiap manusia. Emosi memiliki sifat yang positif maupun negatif. Emosi positif seperti cinta, kasih sayang, rasa, seni, dsb. Emosi negatif seperti marah, arogan, iri hati, benci, dendam, dsb.

Rasio adalah akal sehat yang memungkinkan manusia lebih dari mahluk hidup lainnya. Rasiopun ada yang positif dan bersifat membangun, dan rasio negatif bersifat merusak, baik untuk diri sendiri ataupun kepada orang lain atau lingkungan.

Sebagai manusia, maka komposisi manakah yang paling sesuai dengan diri kita?

1. Emosi > Rasio
Realitas sekarang dimana kita selalu mengutamakan emosi daripada nalar, apa bedanya dengan hewan? Karena hewan lebih mengutamakan emosi / naluri / insting. Bisakah kita belajar bijaksana kalau emosi > rasio ?
2. Emosi = Rasio
Pada tingkat ini terjadi keseimbangan antara emosi dan rasio. Mungkin kita akan menjadi manusia yang lebih manusiawi. Tetapi disini mungkin pula akan terjadi konflik batin karena kadar emosi dan rasio sama besar, sehingga masing-masing memiliki kepentingan yang sama.
3. Emosi <>
Inilah tingkat paling ideal bagi kita manusia. Pada tingkat ini kita dapat memegang kendali terhadap masalah yang timbul dari luar diri kita atau lingkungan. Disini kita akan banyak belajar untuk lebih matang, dewasa dan bijaksana.

Joseph LeDoux, seorang ahli saraf di Centre for Neural Science di New York University, melalui pemetaan otak yang sedang bekerja menemukan peran penting dari amigdala. Amigdala adalah sekelompok sel berbentuk seperti kacang almond yang bertumpu di batang otak, dan berfungsi memproses hal-hal yang berkaitan dengan emosi. Rasa sedih, marah, nafsu, kasih sayang, dan sebagainya bergantung pada amigdala ini. Peran amigdala bisa menjelaskan mengapa emosi bisa mengalahkan rasio. Hal ini terjadi, karena amigdala mampu mengambil alih kendali tindakan, sewaktu otak masih menyusun keputusan. Kemungkinan 'pembajakan' emosi ini lebih besar terjadi pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah.

Pengeksplorasian emosi oleh seorang marketer bisa dibilang sebagai suatu kejahatan yang tidak bisa dilarang dan halal. Dimana fokus utama seorang pemasar adalah bagaimana caranya konsumen itu berubah menjadi binatang yang lebih mengutamakan naluri dan mengabaikan rasio ketika kita tawarkan suatu produk. Perangsangan nafsu agar amigdala mempu memotong jalur informasi rasio di otak menjadi senjata utama dalam pencapaian target penjualan. Setelah emosi itu bisa menguasai pola pikir konsumen, tugas selanjutnya adalah bagaimana kondisi itu tidak berubah mengingat emosi adalah sesuatu yang sangat tidak stabil dan gampang sekali berubah.

Inilah pelajaran kedua buat saya yang lumayan terasa berat. Tapi demi kata, Change!!! Saya harus bisa belajar menjadi si raja tega. Tentu saja dalam porsi yang tepat dalam khazanah marketing, bukan dalam artian sewenang-wenang terhadap terhadap orang lain.

Harus dicoba...

Arsip Angsakecil
Read More

Emosi dan Teknologi

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menyimak Gelombang Ketiganya Alfin Toffler yang mencetuskan istilah 3M dalam perkembangan jaman, yaitu Muscle, Machine dan Mind. Ramalan tentang 3 gelombang perubahan memang telah menjadi kenyataan. Gelombang pertama (Muscle - otot) ialah lahirnya masyarakat pertanian, kedua (Machine - Mesin) yaitu tumbuhnya masyarakat industri, dan ketiga (Mind - Pikiran) yaitu munculnya masyarakat informasi yang kemudian disusul masyarakat yang berbasis pengetahuan knowledge based society.

Teknologi informasi memang memegang peranan penting saat ini, dimana orang mulai lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar komputer yang terkoneksi internet daripada bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Apalagi di kota-kota besar dimana gaya hidup metropolis mulai merebak menjadi sebuah tren masyarakat. Terasa sekali seperti saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Ibu kota. Seringkali saya menanyakan alamat seseorang yang sebenarnya masih di lingkungan itu tapi dijawab dengan kata tidak tahu. Sampai akhirnya saya justru mengandalkan Yahoo Messenger yang saya instal di HP untuk mencari panduan arah saat saya tersesat.

Dalam perkembangan lebih lanjut, semakin terasa bila sulit sekali untuk bisa hidup bermasyarakat seperti pada waktu saya masih di desa. Hubungan dengan orang lain lebih banyak melalui SMS, telpon ataupun Instan Messenger. Istilah curhat atau gendu-gendu rasa dengan teman-teman seide, sehati atau seperjuangan beralih menggunakan fasilitas blog daripada duduk bareng sambil menikmati secangkir kopi di lesehan Malioboro.

Ini menurut saya sudah mulai menggeser superioritas Mind Wave nya Futurolog Alfin Toffler. Dimana setelah 3M, kini muncul sebuah frasa lagi yaitu eM atau emotion, emosi.

Apa iya sih teknologi yang mengandalkan mesin yang jelas-jelas barang mati bisa memiliki emosi..? Selama ini bila kita mendengar kata iptek, yang terlintas dalam benak adalah sesuatu yang ruwet, njlimet, canggih dan serba digital. Sedangkan emosi adalah sesuatu yang manusiawi dan sangat analog.

Tapi coba lihatlah sekeliling kita, atau mungkin kita sendiri pernah mengalami. Saat kita sedang gembira dan penuh keceriaan tiba-tiba mendadak berubah menjadi sedih kadang sampai kehilangan semangat hidup, hanya karena menerima sepotong pesan pendek melalui SMS. Ini membuktikan bahwa SMS yang notabene merupakan teknologi yang paling sederhana dalam suatu sistem seluler telah mampu merubah emosi kita secara drastis.

Pergeseran kultural dari hubungan antar manusia yang telah begitu tergantung pada teknologi mau tidak mau diikuti dengan masuknya pengaruh-pengaruh iptek kedalam perasaan kita. Dan ini menurut saya merupakan peluang yang bagus buat seekor anak angsa yang tengah belajar marketing. Kenyataan membuktikan bahwa mitos emosi hanya milik perempuan dan pikiran itu milik laki-laki sudah tidak seluruhnya benar. Kini semua gender telah mengantungkan alur hidupnya ke arah emosi yang seringkali meninggalkan pikiran. Teman-teman laki-laki saya sudah mulai belanja kebutuhan pribadinya hanya karena merasa ada sesuatu yang bisa menyentuh emosinya dari suatu produk daripada memikirkan sebenarnya dia benar-benar membutuhkan barang itu atau tidak.

Cobalah untuk belajar melihat ke sekeliling kita. Emosi ada dimana-mana dan itu merupakan suatu peluang. Cobalah...

Arsip AngsaKecil

Read More

02 April 2008

PT Kapal Pecah Indonesia








Read More

Suntuk

Sudah beberapa hari kayaknya aku panen kata yang satu itu. Dari YM dari blog dari SMS dan banyak lagi yang lainnya. Aku coba kutip yak...

Dari Blog
Semalem habis begadang, jadi rada suntuk...
- 07:55 AM November 09, 2007.

Dari YM:
mamaz_eko999: kenapa?
ucriet_tea: suntuk mas. nganggur trus

Dari PPPG
Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca Kembar yang dibawakan oleh dalang Drs. Parjaya dari Widyaiswara Pedalangan P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta.

Dari Gesbuk MP:
Ihin kaeh sing suntuk.
Sukanya nyekeli bathuk...

Dari Kompas
"Iya nih suntuk," kata Menkeu yang bersama DPR akan membahas soal Rencana Anggaran Kementerian dan Lembaga RAKL dan APBNP 2008 di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu (19/3).

Trus...
Karena aku juga mulai terkontaminasi padahal ga mudeng maksudnya, aku buka deh Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI

1 sudah sampai pd batasnya (hingga tidak dapat maju, lanjut, atau naik lagi);
Ini cocok kali buat kutipan dari moodmill. Habis melek semaleman sampai ga kuat maju mundur atau naik turun lagi.

2 telah lampau atau habis (tt waktu): telah -- waktunya;
Tepat untuk kutipan YM. Udah habis waktu kerja jadi nganggur deh...

3 larut atau jauh (malam): sepanjang (hari, malam, dsb):;
Ini pas buat kutipan PPPG. Wayang emang suka sampai larut malam, kecuali dalangnya ketiduran.

4 (ttg akal, pikiran, dsb); singkat; picik: -- akal; -- pikiran; singkat; picik;
Ini klop sama yang dari gesbuk MP. Otaknya sudah hubung singkat jadinya picik dan mau lepas. Makanya dipegangin terus.

5 perihal suntuk; kehabisan; kekurangan: - uang, kehabisan (kekurangan) uang
Wah ini rada bingung nih. Masa Menteri Keuangan keabisan uang..? Kebanyakan korupsi kali yak..?
Trus..

Kalo menterinya aja udah bingung soal duit, apalagi yang pengangguran kayak aku...?

Hmmmm...
Jadi napsu pengen suntuk juga.
Ngesun bathuk...

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena