13 Agustus 2011

Tomboy

Mendengar cerita-cerita ibue tentang kebandelan Citra, aku beneran makin ngebet pengen pulang. Penasaran aja dengan tuh anak yang semakin mirip aku, walau dalam hal nakalnya. Begitu banyak harapan yang kutanam dalam diri kakaknya yang cowok, malah hadir dalam diri anakku yang cewek ini.

Tempat bermain dibatasin sampai pagar rumah dia sudah ga mau lagi. Kalo lepas pengawasan, dia sudah mulai belajar memanjat pagar. Saat dilepas di luaran pun dia jarang mau gaul dengan teman cewek sebayanya. Citra lebih suka main dengan anak-anak cowok yang lebih besar. Kalo digangguin bukannya nangis, malah balas nonjok. Mungkin itu sebabnya, kenapa dia cari temen yang lebih besar. Merasa ga level kali nonjok anak kecil. Hehe gawat...

Biarpun itu mungkin pembawaan sikapnya yang mandiri dan tak ingin gangguin ibunya yang sudah harus mikirin adiknya. Tapi tetap saja ibunya tak mungkin melepas anaknya bermain tanpa pengawasan. Apalagi hobinya manjat-manjat yang tak pernah mikirin bahaya. Sampai aku kadang merasa iba ke ibue saat bilang cape ngejar-ngejar Citra yang selalu berlarian kesana-kemari.

Anak cewe bukannya main boneka dengan manis di rumah, malah sukanya main layangan. Itu juga yang membuatku suka merasa bersalah mengisengi ibue sampai hamil sementara Citra masih butuh perhatian lebih. Bagaimanapun juga anak seumuran itu masih butuh bobo dalam pelukan ibu sambil nenen. Mungkin karena disapih terlalu dini inilah yang membuatnya jadi gemar main layangan.

Bagaimanapun juga nenen itu identik dengan layangan
Sama-sama diciptakan untuk anak-anak
Tapi orang dewasa suka juga

Halah...
Kok nyampe kesitu sih..?
Udah ah, error...


Read More

Kompak

Walau pihak HRD sudah meloloskan calon karyawan dan teman-teman sudah menyetujui kemampuan teknisnya, aku suka lakuin tes tambahan yang kadang ga nyambung sama sekali dengan skill. Untuk bagian lapangan biasanya aku minta kandidat yang bisa nyupir. Bukannya aku butuh sopir, tapi aku pikir kebiasaan seseorang saat nyupir bisa berkaitan dengan cara dia bekerja nantinya.

Suka ngebut atau tidak, tak aku pikirkan. Tapi cara dia ngebut, nginjak gas, rem atau oper gigi halus atau kasar itu poin penilaianku. Kebiasaan saat berhenti akan aku lihat, tertib apa tidak menetralkan gigi dan pasang rem tangan. Suka sebel dengan orang yang kalo berhenti gigi ga dinetralin padahal rem tangannya berfungsi. Lebih parah lagi kalo suka ninggalin kunci kontak tergantung di tempatnya saat di keluar mobil. Paling suka sama orang yang sebelum masuk mobil suka muterin mobil dulu untuk periksa kondisi ban dan situasi sekeliling.

Suka pengen ketawa kalo pas wawancara untuk bagian kantoran. Bagaimanapun juga programmer seringkali susah dipisahin dengan begadang dan rokok. Saat ditanya kebiasaan begadang, rata-rata ga masalah. Pas ditanya suka ngerokok apa engga, seringkali aku liat wajah bingung bertampang bego menjawab ragu. Padahal maksudku tanya itu, karena programmer utamaku seorang perokok berat. Aku ga mau karyawan baru itu terganggu oleh programmerku dan ga bisa konsentrasi kerja. Paling-paling akan aku lihat cara dia merokok dan kerjanya. Perokok beratpun, bila dia rajin membersihkan asbak aku anggap baik. Sebaliknya dia perokok ringan, tapi bila asbak sampai penuh dia santai-santai saja, suer aku kurang suka.

Aku suka menjajal calon karyawan sampai melenceng jauh dari pakem IT. Karena menurutku, meningkatkan kemampuan teknis itu lebih mudah dibanding merubah kebiasaan perilaku sehari-hari. Tidak terlalu pinter pun, kalo dia memang orangnya rapi, hasilnya bisa lebih baik dibandingkan orang pinter yang jorok. Yang jadi masalah dia akan menjadi parnerku. Segala yang terjadi dengan tim, aku yang harus tanggung jawab.

Biar ini Indonesia Raya. Dimana militernya pun jarang mau menyentuh komandan dan lebih suka mengkambinghitamkan prajurit saat ada masalah. Aku tetap berusaha untuk tidak seperti itu. Apapun adanya, aku harus bisa mengakomodasi segala kepentingan supaya tetap pada alur komandonya. Aku butuh tim yang kompak biar aku bisa menekan perusahaan saat terjadi ketidakadilan. Nyatanya selama ini, perusahaan selalu berpikir panjang saat aku bilang mau cabut. Karena seluruh timku pun selalu bilang akan ikut keluar. Hal semacam ini akan sulit diwujudkan bila ada anggota tim yang ga kompak dan pilih bertahan.

Pepatah mengatakan, belajarlah sampai ke negeri China. Makanya aku berusaha mengikuti jejak Mr Wong. Yang di salah satu kisahnya diceritakan, istrinya beranak hitam walau kedua ortunya putih. Mr. Wong tak menyalahkan siapa-siapa dan tetap mengakui itu sebagai anaknya yang tetap berhak menyandang nama keluarga.

Dan anaknya dia namakan
Sam Ting Wong...




Read More

11 Agustus 2011

Misuh

Bulan puasa ternyata tak bisa menghapus hobi misuhku. Sepertinya aku terlalu dalam menanamkan prinsip bahwa misuh lebih baik daripada meratapi nasib. Dengan misuh, semua beban terasa lepas saat itu juga. Daripada diempet hanya karena tak ingin kelihatan kasar di mata orang lain, tapi menjadi beban tersimpan yang suatu saat terakumulasi.

Memang sudah beberapa kali kebiasaan itu membuatku kena batunya. Namun aku tetap ga kapok untuk mengulangi lagi. Pepatah mengatakan, don't judge the book by the cover. Artinya kira-kira, jangan hukum buku dengan koper. Terserah orang mau ngomong apa, karena menilai orang tidak cukup dari ucapan atau fisiknya saja. Isi dompet kadang lebih berpengaruh terhadap segalanya.

Seperti ketika aku menyusup ke Bumi Borneo yang adatnya menurutku lumayan ajaib. Misalkan tentang anjing atau babi hutan peliharaan yang bila kita beli hidup-hidup harganya relatif murah. Tapi bila kita mencelakakan, misalnya menabrak dengan mobil, dendanya bisa sampai 3 juta. Apalagi bila binatang itu berkelamin betina, kemungkinan binatang itu beranakpinak masuk dalam hitungan ganti rugi.

Pernah pas aku turun dari tambang dan masuk jalanan kampung agak ngebut. Dari arah berlawanan ada sepeda motor yang lumayan kenceng juga. Karena jalanan sempit, motor sampai mepet hampir keluar jalan. Saat berpapasan, pengendaranya menoleh ke arahku dan berteriak, babiii...!!!

Karena hobi misuh, aku tak mau kalah berteriak, weduuuusss...!!!

Aku baru merasa bersalah memisuhi pengendara motor itu, setelah melewati tikungan yang ternyata ada serombongan babi kampung bobo manis di tengah jalan. Kepikiran denda adat bila nabrak babi, aku pilih banting supir ke selokan dan mengerem sepuasnya sambil berguman pelan. Wedus yang baik...

Dulu sebenarnya aku tidak suka misuh, karena aku termasuk anak yang baik berhati lembut. Segala masalah lebih suka aku simpan sendiri dan efeknya lumayan negatif untuk perkembangan otakku. Aku mulai belajar misuh setelah beberapa kali kena batunya dan dinasehati teman agar masalah lebih baik dikeluarkan seketika.

Gara-gara sifat lama itu aku pernah gagal pacaran dengan seorang cewek idaman. Karena suka memendam rasa aku jadi butuh waktu lama untuk pdkt tanpa berani langsung nembak. Akibatnya jadi ekonomi berbiaya tinggi dan aku suka uring-uringan tanpa ujung pangkal yang jelas. Sampai suatu waktu aku merasa sudah tak mampu lagi menahan rasa, walau ternyata berakhir tragis.

Cuma ada percakapan pendek waktu itu
"Neng, mau gak jadi pacar aku..?"
"Mmmm... tapi aku masih sekolah, mas.."
"Ooo yasudah. Kirain dah libur..."

Wassalam
Klepat...




Read More

10 Agustus 2011

Kantor Lesehan

Bila dengar kata server dan IT, biasanya yang kebayang adalah ruangan yang adem, bersih, terisolir dan isinya orang-orang serius yang gabisa bangkit dari depan komputer. Orang IT pun seringkali digeneralisir sebagai orang yang kurus kering, suka begadang, pengeluh sakit pinggang dan lebih payah lagi pengidap ejakulasi dini karena kebanyakan duduk.

Lain di kantoran sebenarnya, lain di site tengah hutan seperti di sini. Ruang server hanya kamar sederhana di rumah panggung kayu. Untuk pemantesnya hanya dinding berlapis gipsum dan terpasang AC 2 biji, ditambah 2 lemari untuk menyimpan arsip dan peralatan yang riskan. Ruang server yang sebenarnya merangkap kantor jarang dipergunakan oleh staf IT. Penghuninya lebih suka kerja di luar ruang itu karena programmerku termasuk anggota majelis suro, alias majelis suka rokok.

Untuk pasukan, sengaja aku bikin tempat kerja sekalian ruang switching di teras belakang dipasangin sekat. Tempat itu jauh lebih nyaman daripada di kantor yang bising terlalu banyak manusia. Karyawan lokal seringkali mudah terprovokasi dan terpancing membuat keributan di kantor. Secara internal juga seringkali ricuh oleh intrik antar keponakan mengingat ini perusahaan bermanajemen keluarga. Dengan berkantor di teras, minimal pasukanku bisa tenang bekerja. Apalagi pemandangan dari teras ke arah hutan, lumayan asik untuk menyejukan pikiran.

Namun pepatah mengatakan, the right man in the wrong place. Artinya kira-kira, jalan di sebelah kanan itu salah, harusnya di kiri. Menciptakan tempat nyaman untuk kerja, ternyata disalah artikan oleh orang lain tentang kenyamanannya itu. Makanya ruangan yang seharusnya aku pasang tulisan Kantor IT, malah lebih tepat ditulisin kantor BP. Tempat nongkrong, tempat curhat dan kadang tempat mendamaikan teman-teman yang lagi berantem.

Ruangan itu juga jadi warnet gratisan dimana penghuni mess tiap malam lesehan di sekitar situ. Banyak hotspot terpasang di sekitar site, namun mereka lebih suka wifi di lesehan IT. Alasannya bebas blokir dan bisa akses unlimited kemana saja. Aku juga sempat bingung, kenapa orang lain bisa ngerti password hotspotku. Pasukan IT aku interogasi, ga ada yang ngaku ngebocorin password.

Baru ketauan kemarin, saat aku salah ketik password di letop yang baru diinstal.
Ternyata si letop langsung ngasih tau password sebenarnya.
Your password is incorrect

Read More

08 Agustus 2011

Salah Bentuk

Seorang teman curhat tentang anak laki-lakinya yang begitu pendiam dan tak mau bersosialisasi dengan teman-temannya. Saat jam istirahat sekolah pun, dikala teman-temannya bermain di luar, anaknya tetap diam di kelas. Temenku itu sepertinya begitu terpukul dan selalu menyalahkan dirinya sebagai penyebab semua itu. Dibilang bapaknya juga punya andil dalam membentuk kepribadian anak, dia tetap ngeyel mengatakan dirinyalah yang telah gagal membentuk pribadi anak.

Tak tahu apa-apa soal psikologi. Aku cuma bisa cerita apa yang pernah aku alami dengan anak-anakku. Tak ada satupun anak yang aku arahkan bakat ataupun minatnya sesuai keinginanku. Semua aku biarkan mengalir sampai aku bisa melihat minat anak dalam hal bermain. Setelah itupun aku tak pernah memaksakan apa-apa selain sekedar melayani kebutuhan minat mereka, agar bakat itu bisa berkembang di masa mendatang.

Si Adi, sejak kecil sudah kelihatan lebih suka bermain-main kabel, mouse dan kibod daripada lainnya. Dikasih mobil-mobilan atau mainan lain, paling bertahan satu dua hari saja lalu kembali ke komputer bapaknya. Sampai aku sediakan komputer khusus buat dia, agar pilem-pilem rahasia bapaknya jangan sampai kebongkar. Sampai saat ini pun dia jarang keluar rumah dan lebih suka ngutak-atik mouse. Kalopun disuruh gaul dengan teman-teman sebaya, bukan dia yang ikut petak umpet, melainkan teman-temannya yang diboyong ke rumah. Ada yang mau pergi jalan-jalan kemanapun dia tak pernah merajuk minta ikut. Sampai aku ajak ke Jogja pun dia menolak dan pilih tinggal dengan mbahnya dengan syarat dikasih komputer hi spec.

Terbalik dengan Citra yang seharusnya lebih kalem dan lebih betah di rumah. Sejak baru belajar merangkak dia sudah akrab dengan kucing dan kelinci. Begitu bisa jalan, tak pernah mau diam bermain boneka di rumah. Apalagi kalo pas pulang kampung, bangun tidur sudah lari ke kebon bermain-main dengan ayam atau kambing piaraan mbahnya. Kasian juga kalo pas di Jogja yang tempat bermainnya terbatas sampai pagar teras. Yang bisa dilakukan hanya mengacak-acak pot bunga dan ngobrol dengan kucing tetangga. Saat bermain dengan teman-teman sebayanya, Citra malah jadi jagoan. Tak peduli temannya lebih besar, kalo gangguin pasti ditonjoknya.

Apapun pembawaan anak, semua aku terima dengan senang hati. Aku tak mau menyalahkan ibunya salah cetak apa salah mengarahkan anak. Apalagi secara genetis, pengaruh bapaknya lebih besar daripada ibunya. Makanya aku sempat heran, ketika ada teman yang menyalahkan istrinya dan maksa kawin lagi, karena anaknya cewek semua dan dia pengen anak cowok. Bagaimanapun juga, perempuan cuma punya kromosom XX dan XY adalah milik laki-laki. Mau jadi cowok atau cewek anaknya itu tergantung kromosom apa yang dia berikan kepada istrinya. Kalo dia berikan kromosom X, anaknya akan lahir cewek dan kalo dia kasih yang Y, anaknya bakalan cowok.

Yang sudah aku rasakan adalah cita-cita untuk perbaikan keturunan dulu. Merasa aku item jelek, sengaja aku cari istri yang putih mulus. Kalo ternyata Citra keluarnya item kriwil, berarti memang tinta yang aku masukin ke printer dulu kebanyakan itemnya. Bila diibaratkan kebun, sesubur apapun tanah tempat bercocok tanam, bila cara mencangkulnya kurang bagus, kadang hasilnya kurang bagus pula. Hasil bagus ketika cangkul penyok dapat tanah subur kemungkinannya fifti-fifti dan tak ada patokan yang pasti. Yang penting buatku adalah, jangan sampai sawah ga dicangkul tapi tanamannya bisa tumbuh. Itu saja...

Aku ga pernah mikirin apa kata orang tentang anakku. Buatku anak adalah fotokopian kedua orang tuanya. Pepatah mengatakan the truth is out there. Artinya kira-kira, yang bener boleh keluar. Maknanya, jangan pedulikan orang luar menilai kita jelek. Karena penilaian orang lain tak selamanya benar. Biarlah orang mengatakan kita jelek, karena siapa tahu sebenarnya kita lebih jelek lagi.

Ke anak aku cuma tanamkan prinsip, jadilah diri sendiri.
Seperti aku bersyukur terlahir jelek.
Karena kalo cakep, bisa jadi bakal banyak bikin dosa...

Tetap semangat, kawan...
Jangan salahkan diri terus
Anak itu hasil patungan
Bukan dapat ngocok arisan

Just bee your self deh
Sengatkan dirimu ke tawon
Paling-paling bengkak
 
Eh, bener gak sih..?
EGP...







Read More

Ibu Dapur

Masuk bulan puasa seperti ini, yang super sibuk adalah ibu-ibu dapur. Boleh dibilang mereka harus kerja 24 jam karena ketambahan masak buat sahur, sementara masak untuk pagi dan siang bagi yang ga puasa jalan terus. Di hari-hari biasa pun mereka baru bisa istirahat setelah beres-beres makan malam dan mulai sibuk lagi menjelang subuh menyiapkan sarapan. Itu kalo tidak ada karyawan yang rewel dan suka teriak-teriak bikin ini bikin itu sampai tengah malam.

Mereka semakin repot karena ada segelintir karyawan yang merasa punya jabatan dan menginginkan sesuatu yang ekslusif. Menu dibedakan dan makan pun diantar ke kamar. Alasan ruang makan sempit dan agak kumuh mungkin sebuah alasan yang bisa diterima. Namun masalah itu tak juga diatasi, itu yang membuatku susah untuk mengerti. Padahal dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka bisa bikin apa saja. Perbaiki fasilitasnya sesuai standar dia apa salahnya. Jangan malah ngungsi ke kamar tiap makan.

Ibu dapur yang tugas sebenarnya hanya urus makan itu pun seringkali direcoki dengan kerjaan lain seperti nyuci baju karyawan. Payahnya banyak karyawan yang ga tahu diri. Awalnya mesin cuci dekat dapur disediakan untuk karyawan yang mau nyuci baju sendiri alias tidak ke laundry. Karena aku tiap habis ke kota suka bawain jajan buat ibu-ibu dapur, tiap bulanpun aku berusaha berbagi dengan mereka barang 200 apa 300 ribu buat rame-rame, mereka melarang aku nyuci sendiri. Melihat aku dan beberapa teman yang suka berbagi, cuciannya dicucikan, lama-lama yang lain ga mau nyuci sendiri. Pakaian kotor main taruh saja diatas mesin cuci.

Mungkin ribet dengan dapur yang jadi penuh pakaian kotor, mereka mengalah nyuciin walau kelihatan ala kadarnya. Sudah begitupun, teman-teman masih banyak yang ga nyadar juga. Melihat pakaianku selalu disetrika, tega-teganya komplen ke ibu dapur, kenapa pakaian mereka hanya dilipat doang. Kadang aku ingetin temen untuk ngasih sedikit uang lelah, malah ada yang mencemooh. Katanya mereka kan sudah digaji, ngapain dikasih lagi..?

Dari semua kerepotan ibu dapur, jadi muncul pertanyaan yang mungkin sedikit rasialis. Kenapa orang-orang semacam itu, yang punya jabatan, yang gajinya gede, malah jarang yang mau berbagi dengan mereka. Aku yang gajinya pas-pasan juga ga pernah merasa kecopetan, kasih sekedar uang lelah ke mereka. Karena aku ngerti, kelebihan waktu kerja mereka ga bakal dibayar lembur. Kenapa harus kebanyakan nuntut, seperti ga bisa ngotak kalo manusia butuh waktu untuk istirahat. Manusiawi sedikit apa susahnya sih. Ga mungkin orang kerja all out bila gajinya all in mepet UMR.

Mungkin benar kata pepatah, No gain without pain.
Artinya kira-kira, ga dapat duit kalo ga sakit.
Emang kuda lumping..?

Dah ah...
Siang-siang misuh-misuh...


Read More

07 Agustus 2011

Kompakan

Sudah beberapa teman yang bertanya, aku kalo nulis tentang keluarga suka ceplas ceplos, emang ga takut ketauan istri..?

Selain blogger lama memang jarang yang tahu kalo istriku tukang ngeblog juga. Bahkan bisa ketemu dan menikah juga berkat jasa blog. Hanya saja, semenjak hamil Citra istriku suka puyeng kalo kelamaan di depan monitor. Jadinya dia jadi jarang nulis atau komen dan lebih suka baca-baca doang.

Ibue ga pernah mempermasalahkan aku nulis apapun, termasuk misalnya habis ketemuan sama cewek sekalipun. Karena apa yang aku tulis biasanya sudah diobrolkan lewat telpon. Aku dan ibue memang punya kebiasaan ngomongin apa saja yang terjadi sehari-hari tanpa pernah terbebani salah satunya akan ngambek atau tersinggung. Kalo pas di rumah, acara ngobrol ini biasa dilakukan saat menjelang tidur sekalian buat foreplay sebelum berangkat lembur. Saat terpisah begini, acara buka-bukaan itu dilakukan lewat telpon.

Belajar saling terbuka memang susah sekali dilakukan walau dengan teman sekasur sekalipun. Perlu waktu juga untuk belajar sampai akhirnya tiada beban lagi saat mau ngomong apa saja. Kadang ada pihak yang cemberut tapi cuma sesaat dan setelah itu adem lagi. Buat aku dan ibue, lebih baik suatu kejelekan diketahui dari mulut pertama daripada adem ayem tapi suatu waktu ada bocoran dari orang lain. Makanya saat ada orang ga seneng laporan ke ibue tentang perbuatan negatifku di luaran, beliau biasanya cuma nyengir doang dan bilang, "dah tauuu..."

Sama-sama terbuka, mungkin itu yang membuat rumah jadi damai tanpa ada pertengkaran berarti. Itu pula yang telah menyuburkan cinta kasih semakin mendalam, walau awal nikah rasa itu tidak ada, selain komitmen mau membangun rumah tangga semata. Ini teramat berbeda dengan sebelum ketemu ibue, dimana aku selalu mengawali hubungan dengan rasa terlebih dahulu. Keterbukaan tak bisa sepenuhnya sehingga jarang yang bisa langgeng sampai setahun. Beberapa bulan saja sudah mulai berantem.

Sayangnya kekompakan itu bukan cuma di masalah buka-bukaan doang. Koplaknya juga sama. Dan semua itu mengalir begitu saja tanpa disadari apalagi direncanakan. Seperti siang tadi, ibue sms, "setrikaan numpuk, bantuin dong, yah..." Aku cuma balas pendek, "maap, bu. disini lagi mati lampu..."

Biar casingku ancur, ibue tetap sayang aku sebagaimana dia menyayangi anaknya. Kan pepatah mengatakan, like son like father. Kalo suka anaknya, harus suka bapaknya juga. Toh orang sunda bilang, pada waktu anaknya menyayangi maknya, ga perlu liat tampang bapaknya. Sambil merem-merem katanya lebih nendang sensasinya daripada melototin muka.Pepatah juga yang mengatakan, love is blind. Mencintai itu harus seperti orang buta. Kalo sampe melek bisa gawat dan kehilangan selera. Karena cakep itu relatif, namun jelek adalah mutlak.

Buktinya, walau sudah bukan abg lagi, sms ibue masih romantis biarpun tanggal tua.

"I miss you, yah... GBU!"
"Apaan GBU..?"
"Gue butuh uang..."

Dah ah...
Mulai OOT neh...


Read More

06 Agustus 2011

Berkebun

Saat kembali ke Jogja beberapa hari lalu, Citra katanya sempat sensi berat. Kolokan dan suka ngambek ga jelas sampai ibue susah mau ngapa-ngapain. Namun sejak kemarin dia sudah kembali ceria seperti biasanya. Kegiatan barunya adalah berkebun di teras rumah dan mengacak-acak pot bunga. Kata ibue, Citra anteng banget kalo sudah mulai berkebun. Bisa jadi rewelnya kemarin, cuma kaget dengan perubahan kegiatannya sehari-hari. Biasa di kampung tiap hari berteman ayam, kelinci dan kambing mbahnya, begitu sampai Jogja dia merasa kehilangan teman-teman baiknya.

Agaknya Citra memang butuh aktualisasi yang lebih dari sekedar bergaul dengan teman-teman sebayanya. Bagaimanapun juga dia turunan orang kampung yang akrab dengan alam bebas. Apalagi kalo melihat basic ibue yang sekolahnya di pertanian walau kenyataannya sekarang males kalo disuruh ke sawah.

Aku juga melihat si Adi yang nurunin aku soal komputer dan internet. Sudah bermain seharian dengan teman-temannya saja, kalo belum buka komputer kayaknya belum puas dia. Sampai-sampai mbahnya suka bengong kalo dah ngobrol sama cucunya. Apalagi mbahnya, aku saja suka bingung dengan pertanyaan-pertanyaan dia. Pernah Adi nanya, kenapa tombol di kibod tulisannya enter. Bolak-balik cari refrensi di google yang bisa diterima oleh pola pikir balita aku ga nemu. Dan ternyata jawabannya teramat sederhana, "kalo tulisannya entar, nanti kelamaan, yah..."

Makanya aku merasa beruntung ibue Citra orang pertanian yang mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan Citra suatu saat nanti. Minimal aku ada asisten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai tanaman dan bercocok tanam. Bisa dibayangkan bila hobi anak bukan hal yang dikuasai oleh ortunya. Bagaimanapun juga anak sekarang lebih kritis dan perlu jawaban tepat. Tak bisa lagi kita menggunakan pendidikan gaya lama dimana setiap pertanyaan anak cukup dijawab sekenanya dan diakhiri dengan kata pamali atau ora ilok atau tabu.

Jangan sampai kaya temen yang terpaksa kursus bahasa Arab hanya karena mengadopsi bayi TKW yang hamil sepulang dari Saudi. Katanya takut ga bisa ngobrol dengan anak angkatnya kalo dia dah bisa bicara nanti....
Read More

Banyakin Tidur

Bulan puasa atau engga, pola kerjaku hampir tak ada perubahan. Malam begadang, bilangnya coding padahal ceting atau blogging sampe nungging. Subuh baru tidur dan siang baru bangun lalu berangkat ke lapangan untuk pindah tidur. 

Sudah dikasih tahu gitu masih ada yang suka nanya, kerjanya kapan. Ya memang kerjaannya begitu, begadang dan tidur siang. Sambilannya kadang-kadang naik tower, narik-narik kabel, bongkar-bongkar komputer tanpa bisa pasang atau bikin script engga jelas yang aku sendiri ga bisa bacanya.

Sedikit perubahan yang terjadi di bulan puasa adalah menambah porsi ibadah. Soal ibadah, besar kecilnya ga terlalu berpengaruh yang penting keikhlasannya. Ibadah juga tidak boleh dan tidak ada yang memberatkan. Semakin kita merasa ringan menjalankan ibadah, bisa diartikan semakin ikhlas kita dan semakin mudah diterima di sisi-Nya. Karena tidur siang itu termasuk ibadah, ringan, tidak memberatkan dan aku sangat ikhlas menjalaninya, makanya aku perbanyak tidur di siang hari selama puasa agar bertambah segala amal pahala.

Dalam undang undang dasar dan peraturan tentang ketenagakerjaan, masalah ibadah merupakan hak setiap karyawan. Perusahaan wajib mempermudah ibadah karyawan dan dilarang keras mengganggu urusan peribadahan. Jadi bila perusahaan menegur aku tidur siang, sama artinya telah melanggar undang-undang tentang kebebasan beribadah di tempat kerja. Lagian ramadhan itu bulan penuh ampunan, jadi tidak pada tempatnya bos marah tanpa ampun.

Okelah teman...
Banyak-banyaklah beribadah
Banyakin tidur
Kurangin nyusu..

Mobile Post via XPeria
Read More

05 Agustus 2011

Mandi di Hutan

Sudah dua hari ini, masalah air di mess kembali mengemuka. Air kran kembali berlumpur dan akhirnya mampet sama sekali. Kiriman air dari tangki PDAM tak mencukupi untuk kebutuhan seluruh warga. Kadang harus angkut galon dari dapur ke kamar mandi bila ingin buang air. Pihak general affair sampai mengerahkan beberapa kendaraan sarana untuk angkut karyawan ke kota dan booking hotel terdekat secara short time hanya untuk mandi.

Payahnya, pasukan IT tuh pola kerjanya terbalik. Kerjanya malah malem dan habis sahur baru beranjak tidur. Akibatnya bangun selalu kesiangan dan ga kebagian jatah mandi di kota. Mau ambil galon di dapur ga tega melihat ibu dapur kebingungan, kekurangan air buat masak. Jadinya aku pilih masuk hutan dan mandi di mata air.

Secara normal, mungkin kita akan males mandi di kubangan seperti itu. Tapi air kubangan justru lebih bersih daripada air di kamar mandi mess. Apalagi di tengah hutan begini, kayaknya masih murni dan bebas pencemaran. Yang bikin aku heran, di kubangan yang ga nyambung kemana-mana itu ada ikan-ikan kecil bersliweran. Ikan darimana susah aku pahami secara logika.

Ada satu lagi yang bikin aku tambah heran. Pas mau mandi, aku bisa foto-foto di sekitar situ tanpa ada masalah. Tapi ketika temen dah telanjang bulat, aplikasi kamera selalu error saat aku tekan tombol jepret. Berkali-kali aku coba tetap sama. Aku pikir hapenya yang bermasalah. Namun ketika aku foto ke pepohonan kok bisa berjalan normal. Termasuk saat teman sudah pakai baju lagi, kamera kembali berfungsi.

Ga boleh pose mesum kali ya...
Ada yang punya pengalaman lain..?
Read More

Mengenang Merapi

Oktober 2010...
Aku sedang mengerjakan proyek data center di Pusdatin Kemhan Pondok Labu ketika ibue Citra laporan Merapi meletus. Saat itu ibue Citra memintaku tetap tenang, karena Jogja tetap aman dan nyaman dari serbuan debu vulkanik Merapi. Namun pemberitaan di tipi yang kadang lebay membuatku tak mampu menahan diri untuk minta ijin pulang.

Hatiku makin empot-empotan ketika penerbanganku terus ditunda-tunda dengan alasan keamanan. Aku pun meluncur ke stasiun Jatinegara dan menumpang Fajar Utama menuju Jogja. Sampai Purwokerto, serangan debu vulkanik mulai masuk gerbong kereta. Masuk Kebumen, jarak pandang keluar jendela makin tertutup debu tebal. Perasaan makin tak jelas dan yang terpikir kaya apa Jogja bila di Kebumen saja sudah sedemikian parah. Bolak-balik ibue Citra telpon mengatakan Jogja tak apa-apa, aku anggap sebagai sebagai penghibur saja agar aku tak terlalu kawatir. Ternyata ibue memang benar. Sampai Wates debu menipis dan di Jogja dampak Merapi hampir tak terasa.

Mendengar aku pulang, Sopi, juragan Rifka Anisa menghubungiku untuk membantu di posko. Disana aku cuma orientasi sebentar lalu menghubungi teman-teman Jalin Merapi yang bergerak di garis depan. Dari beberapa pilihan, aku pilih bergabung di Magelang karena aku lihat Jogja sudah kelebihan relawan.

Seminggu kemudian ijin kerjaku habis sementara Merapi makin menjadi. Aku putuskan untuk keluar kerja dan tetap bergabung bersama teman-teman relawan. Hampir tiga bulan lebih aku di lereng Merapi sampai amukannya mereda. Begitu banyak cerita dari sana yang tertuang di jurnal blog sebagai pelampiasan segala unek-unek. Terutama kepada penguasa negeri yang pengelolaan bencananya begitu acak adut.

2011...
Anaz menghubungiku lewat japri dan minta ijin untuk mengambil beberapa tulisan untuk dibukukan dalam satu kompilasi amal. Buku bertajuk Relawan Merapi: Berbagi Jejak Kebersamaan untuk Anak Negeri, bisa terbit dengan cara gotong royong teman-teman blogger. 100% hasilnya akan disumbangkan untuk korban Merapi yang sampai saat ini belum juga tuntas. Anaz minta aku pilih tulisan yang akan dimuat. Namun karena aku seringkali melupakan apa yang pernah aku tulis, aku minta beliau untuk memilih sendiri mana yang pantas.

Aku sebenarnya ingin mengadakan semacam give away dengan hadiah buku ini. Namun apa daya, statusku sebagai manusia hutan Kalimantan yang terisolir dari peradaban membuatku susah bergerak. Sehingga aku cuma bisa pesan beberapa buah buku yang kemudian aku serahkan ke Anaz untuk acara give awaynya. Buat teman-teman yang berminat, silakan tunggu berita selanjutnya dari beliau di blogger, multiply, kompasiana ataupun pesbuk.

Yang tak sabar menunggu acara tersebut, sekaligus ingin berbagi dengan korban Merapi, bisa memiliki buku ini dengan biaya pengganti ongkos cetak Rp 37500,- belum termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi Mas Trie di nomor 0877 7166 6071 / 0813 2884 4443. Pembayaran bisa melalui transfer BCA atau Mandiri.

Ada sedikit review dari pak Odi yang bisa dibaca disini. Mohon maaf bila aku belum bisa memberikan review. Soalnya buku untukku Anaz kirim ke Jogja sehingga aku belum bisa baca. Yang selalu jadi pikiranku adalah, tulisan-tulisan saat itu isinya cuma misuh-misuh plus bahasa binatang segala. Semoga Anaz sempat mengeditnya sehingga bisa pantas untuk dibaca khalayak ramai. Terima kasih buat Anaz dan kawan kawan yang telah rela bersusah payah mengangkat jejak-jejak di lereng Merapi. Semoga amal ibadahmu diterima, Naz...

Semoga saat aku pulang cuti lebaran nanti
Buku itu masih utuh dan belum dipipisin
Karena kemarin ibue sempat cerita
Kalo Citra sudah mulai melahap sampulnya...



Read More

03 Agustus 2011

Keluyuran Malam

Paling males kalo malam-malam begini harus ngeluyur jalan kaki lewat hutan. Kalo sekedar kuntilanak sih ga pernah kepikiran. Kalopun ada, kayaknya lumayan buat temen ngobrol daripada sepi. Sukur-sukur bisa rikues biar penampakannya seperti si manis jembatan ancol atau minimal seperti sora aoi. Siapa tahu banyak ngobrol dengan kuntilanak, kita bisa dapat banyak filosofi tentang kehidupan. Bagaimanapun juga, kuntilanak merupakan suri tauladan yang bagus buat manusia. Biarpun tinggal sebatangkara di pohon dengan baju ga pernah ganti, mereka selalu tertawa.

Yang bikin aku sebel adalah babi hutan. Jangankan dalam gelap malam begini, siang hari bolong pun mereka begitu damai keluyuran di halaman mess. Mana ga tau sopan santun berlalulintas lagi. Mau motong jalan orang, boro-boro nglakson apa pasang lampu belok, tengak-tengok juga enggak.

Anak-anaknya juga sudah belagu. Diteriakin tetap saja cuek babi. Paling-paling menguik yang kalo ditranslit mungkin artinya, elo menggonggong, gue tetap berlalu. Pernah aku coba cari perhatian, nyambit mereka pake kayu. Eh, yang jatuh cinta malah induknya yang langsung nguber-uber sampe jatuh bangun. Aku panjat pohon, setia banget dia nungguin di bawah.

Kadang aku mikir, kenapa ga ditangkep saja barang sebiji. Lumayan tuh, dimodalin lilin doang bisa bikin kaya. Sayangnya cari lilin disini susah. Biar kata sering mati listrik, orang sini sepertinya cuek hidup dalam kegelapan. Jarang banget aku lihat orang nyalain sekedar lampu teplok saat lampu mati. Sudah terbiasa gelap-gelapan atau memang butuh alasan saat program KB gagal, aku ga ngerti.

Jangan-jangan mereka sudah keismean iklan kopi kapal keruk
Gelap lebih enaaaak....
Au ah lap...



Read More

02 Agustus 2011

Pengen Buka Bersama

Ibue nelpon katanya dah balik ke Jogja kemarin sore. Ditinggal pulang kampung sampai dua bulan, butuh tenaga ekstra untuk bersih-bersih. Sebenarya aku sudah bilang, kalo balik bawa orang untuk bantu-bantu. Jadi ga perlu cape sendiri mengingat kehamilannya sudah semakin besar dan perlu banyak istirahat. Beres-beres rumah dibantu Citra, sama juga bohong. Hobi berantakinnya semakin menjadi sampai kemarin katanya kerubuhan dispenser yang untung galonnya kosong.

Terasa juga sedikit kesedihan, saat ibue cerita harus sahur dan buka puasa sendiri. Apalagi kalo ingat puasa tahun lalu aku ga kemana-mana, karena hari pertama puasa aku keluar dari kerjaan. Ada keindahan tersendiri saat bersama-sama "ngabuburbeurit" menunggu waktu berbuka. Tak peduli puasa yang seharusnya jadi irit, pengeluaran malah membengkak.

Puasa di rumah memang lebih menyenangkan. Terutama bila dikaitkan dengan menu buka sahur yang bisa bervariasi. Disini menunya tak pernah berubah dari ikan gabus dan ayam dari waktu ke waktu. Kalopun ada perubahan, aku gabisa ikut makan karena hanya disajikan di ruang makan sebelah yang warganya boleh mengkonsumsi babi. Buah-buahan nyaris tak pernah aku temukan. Padahal selama di rumah, jus buah adalah menu sehari-hari.

Aku juga merasa dirugikan perusahaan saat puasa begini. Jatah makan 3 kali sehari di kontrak kerja cuma bisa aku dapatkan dua kali. Tidak ada konversi jatah makan yang hilang, paling tidak dalam bentuk cemilan atau buah untuk peningkatan gizi, mengingat pekerjaan disini sangat menguras energi.

Disini aku juga cuma bisa sahur dan buka doang.
Kalo di rumah kan dapat menu tambahan
Jadwalnya jadi sahur, buka dan buka bersama...

Tapi sudahlah...
Minimal disini aku agak santai
Ga harus mandi tiap menjelang imsyak...
Read More

Tanpa Beban

Masih saja ada yang menganggap puasa sebagai sebuah penderitaan. Sampai ada temen yang sibuk cari kegiatan buat ngelupain lapar katanya. Padahal yang aku tahu, semakin kita berusaha melupakan sesuatu, justru semakin sering kita mengingat hal tersebut. Seperti saat frustasi dan maksa melupakan sakitnya hati, semakin sulit kita melupakannya. Paling nyaman adalah membiarkan waktu mengalir dengan kegiatan rutin sebagaimana biasanya.

Menganggap pekerjaan sebagai beban membuat kita terjebak dalam rasa ga nyaman. Hanya perlu kreatifitas sederhana agar kita bisa merasa terhibur dengan pekerjaan. Teman-teman bagian bor yang lumayan berat kerjaannya saja seperti tak terganggu dengan hilangnya bekal makan minum di tas mereka. Keceriaan mereka yang persis anak TK bermain-main di atas mesin bor membuat waktu mengalir tanpa terasa.

Ada juga temen kantor yang berpikir nyleneh. Katanya enak jadi bagian lapangan. Kalo saatnya buka puasa bisa loncat ke perbatasan yang jamnya satu jam lebih cepat. Disini memang berada di perbatasan Waktu Indonesia Barat dan Tengah. Mereka ga mikir kalo yang masuk bagian tengah buka jam 18:30 sedangkan bagian barat jam 17:26. Biar kata bagian tengah satu jam lebih cepat, kenyataanya justru di bagian barat waktu buka 4 menit lebih cepat.

Enjoy ajalah dengan puasa dan pekerjaan
Mau shalat batal saja wudhu lagi
Puasa batal ya sahur lagi...
Read More

01 Agustus 2011

Disayang Tuhan

Pagi-pagi meluncur ke arah pelabuhan untuk periksa pekerjaan tower wireless yang tinggal finishing. Lagi-lagi harus sebel karena tidak kebagian kendaraan 4WD dan harus rela offroad pakai kijang. Saat berangkat kebetulan cuaca panas sehingga bisa bergerak cepat walau harus hati-hati karena jarak pandang terbatas oleh kepulan debu tebal.

Suasana puasa atau tidak memang tidak begitu terasa di tambang. Jumlah karyawan muslim dan non muslim sepertinya sengaja diseimbangkan oleh perusahaan. Aku baru tahu kesengajaan itu, ketika beberapa hari lalu merekomendasikan calon karyawan. Menurutku  skillnya memadai, namun ditolak oleh HRD karena dia non muslim. Tidak ada unsur sara disini karena juragan HRD juga non muslim. Alasan beliau menolak karena untuk posisi itu jumlah karyawan non muslim sudah terlalu banyak.

Menyeimbangkan porsi karyawan menurut agama ini alasan utamanya karena tambang harus beroperasi 24 jam. Sehingga saat karyawan muslim harus istirahat agak panjang pada hari jumat, karyawan non muslim bisa menggantikan. Sebaliknya pada hari minggu, pekerjaan bisa dijalankan oleh yang muslim. Libur bersama saat hari raya pun bisa diatasi dengan cara ini, sehingga aktifitas tambang tidak perlu berhenti.

Di tambang memang tidak ada fasilitas tempat ibadah sehingga karyawan harus turun gunung yang lumayan memakan waktu. Toleransi antar pekerja yang berbeda-beda keyakinan cukup tinggi dan tak pernah jadi masalah. Saat ramadhan begini, yang menjalankan ibadah puasa tak pernah merasa terganggu oleh mereka yang tidak puasa. Sebaliknya yang tidak puasa pun tak pernah merasa terganggu untuk ikut-ikutan puasa.

Namun puasa disini memang lumayan berat. Bekerja kasar di medan terbuka yang panasnya luar biasa dengan debu begitu tebal cukup dahsyat untuk merangsang dahaga. Pada hari-hari biasa pun, berbekal air kemasan ukuran 1,5 liter masih terasa kurang. Makanya siang tadi lumayan tersiksa saat harus naik turun tower. Mau pakai payung biar tidak kepanasan takut ditangkap petugas safety.

Tak aneh ketika matahari tepat di ubun-ubun, teman sudah bilang mau menyerah dan mengajak pulang ke kantor. Aku pun tak merasa berat untuk mengiyakan ajakan itu. Tak ada beban apapun dalam pikiranku selain berpikir bahwa tuhan tahu kondisi dan sayang kepadaku.

Kasih sayang tuhan itu terbukti ketika seperempat perjalanan menerobos hutan, hujan turun dengan lebatnya. Walau cuma beberapa menit, namun cukup untuk mengusir debu yang menyesakan dan panas menyengat.

Seperempat perjalanan berikutnya, aku sudah lupa rongrongan haus karena sibuk drifting dalam lumpur sampai amblas-amblas atau rodanya ngangkang gardannya kandas.

Setengah perjalanan selanjutnya, mobil malah mogok ga mau distarter. Sehingga acara selanjutnya adalah mandi keringat campur hujan campur lumpur karena harus berkali-kali mendorong mobil.

EGP dah...
Yang penting bisa nyampe mess makan minum sepuasnya
Walaupun saat itu jam sudah menunjukan pukul 19:00...
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena