03 April 2011

Adat Judi

Menyambung jurnal siang tadi...

Sebelum upacara pemugaran makam, diadakan perjudian yang dilakukan selama 7 hari 7 malam tanpa henti di tempat yang sudah disiapkan dalam bentuk lapak di lingkungan kuburan. Lapak judi disiapkan beberapa hari sebelumnya dengan membuka lahan dan memasang panggung beratap tenda, mengingat lokasi berada di tepi hutan.

Melihat nilai taruhan yang sampai jutaan, bisa diperkirakan peredaran uang disitu bisa sampai milyaran sehari. Tak hanya laki-laki, nenek-nenek sampai gadis ABG pun terlihat antusias mengikuti acara tersebut. Judi yang diselenggarakan bermacam-macam, mulai dari dadu sampai sabung ayam. Perputaran modal tak hanya terjadi di lapak. Di luar lapak pun terjadi transaksi ekonomi yang lumayan tinggi. Sekali parkir saja, untuk mobil dikenakan bayaran sebesar 50 ribu dan sepeda motor 10 ribu perak. Belum lagi warung-warung makanan dan minuman yang bertebaran disitu. Sepotong pisang goreng saja harganya 3 ribu perak.

Bagi orang luar sepertiku, kegiatan semacam ini mungkin terasa sedikit aneh. Karena yang aku tahu, selama ini perjudian selalu diberantas aparat negara karena dianggap menimbulkan keresahan di masyarakat. Namun komunitas adat selalu menolak tegas bila permainan ini dinilai menciptakan keresahan. Dalam alam pikiran mereka, ”permainan” ini tidak bisa dimaknai secara profan sebagai perjudian, melainkan juga menghadirkan aspek spiritual yang mencerminkan keyakinan religius mereka.

Asal usul keyakinan ini, berawal dari kepercayaan komunitas Dayak mengenai kisah para dewa yang bersepakat menyempurnakan semesta yang tak kunjung paripurna. Konon, dunia dulunya hanyalah berupa serpihan kecil yang bertebaran. Setiap serpihan kecil ini didiami oleh nayuk (dewa). Alkisah sepasang dewa-dewi bernama Inang Mekelayang dan Lolang Kurig menempati sebuah serpihan bumi yang begitu kecil, sehingga setiap hari ada saja anak kedua dewa-dewi yang meninggal akibat terjatuh dari hamparan bumi.

Mendengar ratapan dewa-dewi yang kehilangan anaknya ini, datangnya dewa-dewa lain membantu. Mereka menyatukan serpihan-serpihan untuk menyempurnakan bumi hingga seluas sekarang. Dalam sebuah musyawarah Nalit Taun Bulan atau Gugu Tahun, para dewa bersepakat akan berkumpul kembali membawa persembahan guna melengkapi isi bumi. Namun sayang, sampai tiba waktunya tak satu pun para dewa membawa persembahan. Perselisihan pun terjadi. Maka untuk menengahi perseteruan ini dibuatlah apa yang dikenal sekarang ini sebagai Botor Buyang. Siapa yang kalah dalam permainan ini, ia harus rela menjadi persembahan untuk menyempurnakan langit dan bumi. Jadi menang atau kalah merupakan bagian dari ritual yang harus bisa dipahami.

Kosmologi hidup macam inilah yang menyertai ritual rakyat komunitas Dayak. Sebuah kompleksitas ritual yang barangkali tak pernah lekat dalam nalar modern negara yang selalu ingin menyingkirkan apa yang dianggap tradisional, irasional dan di luar jangkauan nalar. Yang irasional harus dirasionalkan agar bisa dimengerti. Yang disfungsional harus direvitalisasi agar kembali berfungsi. Dan yang non-ekonomis harus diekonomisasikan agar punya tempat dalam roda pembangunan ekonomi negara. Karena dalam pandangan umum di luar komunitas Dayak khususnya pemerintah, perjudian merupakan penyakit masyarakat yang menyebabkan kegagalan fungsi ekonomi, ritual semacam ini menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah.

Apalagi cap sebagai sumber keresahan masyarakat selalu bisa ditepis oleh kepala adat. Memang bila melihat kenyataan di lapangan, semua peserta sepertinya sudah bisa menyadari resiko kalah menang dan tidak mempermasalahkan. Tidak ada keributan seperti yang sering terjadi di arena judi di luar komunitas ini. Apalagi bisa dikatakan semua anggota keluarga ikut berpartisipasi, sehingga tidak terjadi adanya KDRT akibat salah satu anggota keluarga kalah judi. Lalu bagaimana untuk pejudi yang statusnya orang luar, yang sebenarnya tidak berkepentingan dengan ritual ini. Kalo itu aku tidak bisa berkomentar.

Terlepas dari soal halal haram menurut agama, atau dianggap melanggar norma bagi komunitas lain, kita tidak bisa begitu saja menghakimi. Tentang asal usul ritual yang mungkin dianggap mitos dan di luar nalar, aku pikir tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Karena dalam agama pun banyak hal-hal yang di luar nalar dan hanya bisa kita terima dalam tanda kutip keimanan semata. Sebagaimana kita tidak bisa mengukur badan sendiri saat akan membuatkan baju orang lain, kita pun tak bisa mengatakan keimanan mereka sebagai salah atau benar sesuai keyakinan kita.

Yang aku tahu, norma itu diciptakan untuk menertibkan kehidupan bermasyarakat. Bila nyatanya sebuah komunitas bisa tertib dengan norma tersebut, apa hak kita untuk ikut campur. Bila kita mengatakan ritual orang lain sebagai suatu kebodohan, tidakkah kita berpikir orang lain pun bisa menganggap aneh ritual keyakinan kita. Seperti ritual Jawa yang mengharuskan perempuan mengenakan kemben terbuka, sementara faham lain mengatakan itu dosa karena memamerkan aurat. Seperti ketika pemerintah mengeluarkan UU Anti Pornoaksi, sementara saudara kita di Papua hanya mengenakan koteka. Selama norma aneh itu tidak merugikan kita, apakah kita perlu untuk mengecapnya dengan kata negatif.

Semoga Indonesia tetap damai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika
Tak perlu berubah menjadi Ineka Tunggal Ika
Hanya karena lupa pakai BH...
Read More

Kaharingan

Saat pulang dari tambang tengah malam kemarin, aku melihat ada keramaian di pinggir jalan tak begitu jauh dari tambang. Malam tadi aku samperin kesana dan ternyata itu adalah acara pemugaran makam secara adat Hindu Kaharingan. Kegiatan pokoknya sebenarnya hanya memugar makam tua yang mulai rusak nisannya. Tapi menjadi begitu ramai bak pasar malam karena berkaitan dengan itu, diadakan acara perjudian selama 7 hari 7 malam nonstop.

Penasaran dengan acara langka yang cuma bisa aku temukan di Kalimantan, aku sempatkan ngobrol dengan tetua setempat yang bernama pak Wanterlin. Dengan panjang lebar beliau cerita tentang Dayak Maanyan dan agama Kaharingan walau aku cuma bisa tangkap sepotong-sepotong, karena banyak istilah lokal yang susah aku pahami. Mungkin aku harus ngobrol lagi dengan beliau dengan membawa alat tulis atau alat perekam.

Ada yang menarik dengan kepercayaan Kaharingan ini yang aku lihat banyak benang merah dengan berbagai kepercayaan lainnya di muka bumi. Seperti proses penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki yang muncul dari tanah dan disusul seorang perempuan turun dari langit. Filosofi asal dari tanah identik dengan penciptaan Adam. Keyakinan bahwa manusia memiliki 4 saudara spiritual juga hampir mirip dengan falsafah Kejawen, sedulur papat kelimo pancer. Penjelasan tentang 4 unsur itu juga mirip dengan pola keseimbangan 4 elemen dalam budaya China sebagai penjaga keseimbangan yin yang.

Identiknya filosofi Kaharingan dengan Kejawen bisa dimengerti dengan adanya legenda yang menceritakan bahwa leluhur Suku Dayak berasal hasil perkawinan laki-laki pribumi Kalimantan dan perempuan dari Jawa. Sehingga wajar bila orang Dayak merasa memiliki pertalian spiritual yang kuat dengan orang Jawa. Bahasa Maanyan juga memiliki cukup banyak persamaan kosa kata dengan bahasa Jawa. Seperti berapa yang dalam bahasa Jawa disebut pira, dalam bahasa Maanyan dilafalkan pire. Lima menjadi lime, duapuluh lima diucapkan sama sebagai selawe.

Bila Kejawen disebut sebagai agama Jawa purba yang muncul sebelum agama-agama besar lainnya ada, Kaharingan pun dianggap begitu. Menurut orang Dayak, Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan sejak Ranying Hatalla Langit menciptakan alam semesta. Datangnya agama-agama impor ke tengah  orang Dayak menyebabkan Kaharingan dipandang sebagai agama Helo (agama lama),  agama Huran (agama kuno), agama Tato-hiang (agama nenek-moyang), bahkan ada yang mengatakan sebagai agama kafir.

Baru pada jaman Perang Dunia II, penguasa militer Jepang mengangkat kepercayaan Kaharingan ke tempat yang terhormat. Nama Kaharingan juga baru dimunculkan saat itu oleh Tjilik Riwut pada tahun 1944, saat beliau menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Untuk mencari dukungan dari orang-orang Dayak, penguasa militer Jepang menyatakan Agama Kaharingan ada kaitannya dengan Agama Shinto. Karena itu pada zaman Jepang,  untuk kali pertama agama suku ini diangkat dan diterima sebagai agama yang terpandang bahkan dijadikan partner serius pemerintah dalam menangani  kebudayaan.

Pada jaman Orde Baru, pemerintah Indonesia mewajibkan warganegaranya untuk menganut salah satu agama resmi yang diakui oleh negara. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan. Di satu pihak mereka harus memilih salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah. Sementara di pihak lain ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionaris dan penyebar agama tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Pada akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar dalam kehidupan spiritual di antara keduanya. Sejak saat itulah muncul istilah Hindu Kaharingan.

Ketika kekuasaan Orde Baru bangkrut, timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Sebagian dari mereka menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh pemerintah. Sebagian lagi menginginkan Hindu Kaharingan sebagai agama yang berdiri sendiri sejajar dengan agama lain. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di luar PHDI dengan nama Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) yang berpusat di Palangkaraya.

Saat ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam KTP. Suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Menurut Wikipedia, hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik mencatat penganut Kaharingan di Indonesia ada 223.349 orang. Kaharingan juga mempunyai tempat ibadah yang dinamakan Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Kitab agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain seperti Talatah Basarah (kumpulan doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras) dan sebagainya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Pangunraung yang sudah jarang dikenal oleh masyarakat awam. Ini merupakan versi halus dari bahasa Dayak yang mungkin bisa disamakan dengan bahasa halus dalam budaya Jawa yang digunakan dalam pedalangan.

Menarik sekali membicarakan budaya asli Nusantara ini. Cuma sayang aku belum bisa memberikan secara detil termasuk istilah-istilah yang digunakan karena aku tidak bawa alat tulis semalam. Bila ada kesempatan, aku coba ngobrol lagi deh dengan pak Wanterlin. Senang juga melihat kekayaan spiritual budaya bangsa sendiri yang beraneka ragam. Buat yang sok fanatik dan suka bikin keributan dengan perbedaan keyakinan, kelaut aja dah...

--- bersambung

Read More

01 April 2011

Perikebinatangan

Manusia memang makhluk yang paling tidak jelas dan suka mencari kucing hitam untuk sasaran lempar batu sembunyiin tetangga. Perbuatan bejad manusia yang katanya tidak berperikemanusiaan suka disebut "bak binatang." Padahal kalo dipikir-pikir, sejahat-jahatnya binatang masih batas. Seperti misalnya harimau membunuh rusa, hanya dilakukan pada saat lapar. Binatang buas masuk masuk kampung sebenarnya yang salah manusianya juga, telah melanggar batas wilayah yang menjadi habitat mereka.

Kayaknya bisa dibilang tidak ada kasus harimau makan manusia karena dia lagi iseng atau memang punya hobi bunuh orang. Binatang pun kayaknya konsisten dengan kodratnya. Seperti misalnya harimau suka makan rusa, dia ga bakalan coba-coba makan rumput yang jadi jatah si rusa. Kalopun ada yang keluar dari jalurnya, itupun biasanya karena dipaksa oleh manusia dan bukan naluri alami. Bandingkan dengan manusia yang doyan apa saja. Jangankan cuma daging, keringat rakyat kecil pun dia embat. Apalagi rumput tetangga, wah doyan banget dah...

Bicara soal perikebinatangan, aku sempat suntuk dengan banget dengan kucing yang ada di kantor. Ceritanya tuh kucingnya si bos Jakarta yang dia bawa ke kantor dapat nemu dari tambang. Sebenarnya kucing itu lucu juga, apalagi anak-anaknya. Tapi karena dia sok gaul, mau ga mau aku suka sebel. Kadang lagi enak-enak tidur, dengan damainya dia ikutan masuk selimut. Lagi kerja lesehan, ikutan nimbrung dia naik ke letop. Lebih sebel tuh kalo anak-anaknya sudah bermain-main di kolong meja dan bikin kusut kabel-kabel. Suka disumpahin pemilik komputernya tuh, kalo udah ngetik banyak belum disimpen, kabelnya kecabut.

Dan sore tadi si kucing bikin ulah. Mikir kerjaan yang bikin otak kusut saja belum kelar-kelar, eh kucingnya berisik minta ampun. Aku dibikin misuh-misuh tak ada habisnya sama tuh kucing. Sampai akhirnya aku sadar kalo anak-anaknya tidak kelihatan. Aku tanya ke ibu dapur,  dikemanain anak kucingnya. Katanya dikurung biar ga bikin berantakan dapur. Melihat kenyataan begitu, gantian aku mikir. Yang tidak berperikebinatangan tuh kucingnya apa orangnya. Gimana kucing ga berisik kalo anaknya dikurung begitu, apalagi dia masih menyusu ke induknya.

Daripada pusing, aku nelpon ke si bos di Jakarta. Minta ijin kucingnya dibuang jauh-jauh agar ga bikin masalah. Apalagi dia suka beol di dapur. Bisa-bisa aku tambah langsing gara-gara selera makan melayang lihat hidangan tambahan di kolong meja makan. Dilaporin kucing suka muntah di ruang makan, dengan damai si bos jawab. "Kalo ibu dapur jorok ga mau bersihin, keluarin aja. Ganti orang baru..!!!"

Haduh...
Kalo yang ini
Perikemanusiaan apa perikebinatangan ya..?
Read More

Sapidi Juga

Perjalanan ke Banjarmasin kemarin tujuannya adalah ke Telkom untuk mencari solusi jaringan internet yang handal di tambang. Telkom lokal dekat tambang payahnya minta ampun. Boro-boro bisa kasih pelayanan bagus untuk menarik pelanggan baru, menjaga pelanggan lama saja tidak becus. Apa mentang-mentang belum ada provider pesaing, sehingga karyawan setempat merasa nyaman makan gaji buta tanpa takut ditinggal kabur pelanggannya. Yang aku lihat, TLH malah lebih berperan dibanding karyawan yang gajinya besar.

Untungnya pelayanan di Telkom Banjarmasin sudah sangat swasta, sehingga aku tak merasa buang waktu jauh-jauh kesana. Negosiasi dengan Account Manager juga terasa akrab dan tidak kaku seperti yang aku dapatkan di STO. Semua yang aku butuhkan bisa didapatkan solusinya walau masih sekedar informasi dan belum aku coba implementasinya di lapangan. Peganganku sementara adalah jaminan kehandalan dan kompensasi atas gangguan yang terjadi. Salut deh atas pelayanan yang aku terima. Tapi kenapa ya, karyawan yang di pelayanan garis depan masih selemot Sapidi..?

Soal target ke Banjarmasin memang bisa aku katakan mission acomplished. Nah, masalahnya malah terjadi di proses perjalanan dinasnya. Di perusahaan ini, IT masih dianggap anak tiri. Sehingga permintaan kendaraan sarana untuk tugas-tugasku belum bisa diberikan secara ekslusif. Aku masih saja harus menunggu beberapa hari sampai ada "orang penting" ke Banjarmasin. Kebetulan kemarin ada beberapa orang yang akan meeting ke Jakarta. Jadilah aku dititipin ke rombongan yang akan diantar ke bandara Syamsudin Noor itu.

Pas mau berangkat, seperti biasa aku menghadap ke bagian keuangan untuk minta akomodasi. Oleh staf keuangan aku ga dikasih duit, karena juragan duitnya ikut dalam rombongan itu dan aku disuruh minta langsung saja. Sebagai karyawan yang berusaha menjadi baik dan patuh, aku nurut aja. Tapi ketika sampai bandara aku minta dana akomodasi ke juragan, beliau malah bilang, "pengajuannya ke kasir dong. Yang bisa keluarkan uang kan kantor..."

Buset deh...
Sapidi juga perusahaan ini. Lebih kacau beliau lagi ketika aku dalam perjalanan pulang, bagian duit di kantor sms, "pak, jangan lupa oleh-olehnya dari Banjar ya..."

Dikiranya aku jaelangkung apa yak..?
Berangkat ga dikasih ongkos...
Pulang dimintain oleh-oleh...
Read More

Salah Ketik

Editor media massa juga manusia...
Ini bukan April Mop...


Read More

31 Maret 2011

Disapih

Setelah Citra sehat, gantian ibunya demam. Makanya aku sarankan untuk pulang kampung agar ada yang jagain Citra dan istirahatnya bisa lebih banyak. Kebayang kalo bertahan di Jogja yang harus jagain sendiri Citra yang lagi aktif-aktifnya. Saat sehat saja capenya minta ampun, apalagi sedang tak enak badan. Walau memang agak susah membawa Citra ke kampung. Beberapa hari pertama pasti rewel. Apalagi tanpa AC dia susah tidur.

Aku bisa agak tenang setelah kemarin ibue Citra ngasih tahu, anaknya sudah mulai mau makan sendiri. Selama ini, soal susah makan memang jadi dilema tersendiri. Dulu aku maunya dia mendapat suplai ASI sampai umur 2 tahun. Tapi dengan usia kehamilan ibunya yang sekarang menginjak 3 bulan, mau tidak mau harus disapih. Tapi gimana mau nyapih kalo makan saja susah. Minum susu formula tidak mau, malah lebih suka minum teh poci jatah bapaknya.

Dipaksain hamil sambil menyusui takutnya berefek negatif ke perkembangan adiknya dalam kandungan. Takutnya begitu lahir, adiknya komplen. Sudah kakaknya nenen terus ngabis-abisin nutrisi jatahnya, bapaknya ga pernah nengokin nyuplai bahan bangunan. Semoga proses penyapihannya sukses deh.

Jadi pengen pulang
Kebelet nengok Citra dan adiknya...
Read More

30 Maret 2011

Cewek Kandangan

Setiap kali jalan ke arah Banjarmasin, ada yang menarik perhatian selain dodol dan ketupat Kandangan. Sepanjang jalan begitu banyak warung-warung sederhana yang setiap malam selalu dihuni oleh beberapa cewek. Aku tak bisa mengatakan mereka itu cantik atau tidak karena soal itu relatif. Apalagi kondisi malam hari dan wajah berbalut make up sedikit tebal, sehingga sulit untuk melihat wujud aslinya.

Awalnya aku selalu berpikir negatif dengan keberadaan cewek-cewek itu. Karena mereka bukanlah pelayan yang menyajikan minuman yang dipesan oleh para pelintas jalan raya yang mampir ngopi. Apalagi bila mendengar para sopir menyebut warung-warung itu sebagai warung jablay, komplit sudah pemikiran negatifku.

Aku memang lebih banyak jalan malam saat memiliki urusan ke Banjarmasin agar sampai sana pagi. Saat keperluan selesai sore harinya, aku harus menjadi pelintas malam lagi waktu kembali ke Tamianglayang. Beberapa kali mampir untuk menghilangkan kantuk yang menyerang sopir, aku mulai bisa melihat sisi yang berbeda dari para gadis malam itu.

Aku lihat mereka lebih berfungsi sebagai pajangan dan penarik konsumen agar mampir ke warung tersebut. Sekedar menemani ngobrol dan belum pernah aku lihat mereka dibawa pergi, yang bisa diasumsikan ada transaksi seksual diantara mereka. Kondisi warung yang sederhana tanpa ruangan khusus di bagian belakangnya juga kurang memungkinkan untuk melakukan perbuatan mesum. Tak ada aktifitas lain selain ngobrol dan tidur di bangku saat tidak ada tamu. Kalopun ada yang memberi uang, paling banter hanya sisa uang kembalian yang tak seberapa.

Sopir kantor aku lihat punya langganan masing-masing dan selalu mampir ke warung yang berbeda satu sama lainnya. Tadi sempat aku iseng bertanya, pernah ngebooking mereka apa engga. Katanya, mereka itu bukan cewek bookingan walau tidak menutup kemungkinan ada satu dua orang yang bocor. Itupun tidak bisa dilakukan disitu. Harus dibawa keluar saat mereka lepas dinas. Dan syarat utamanya harus sudah akrab atau kenal dekat.

Pas mampir ngopi tadi aku coba ajak ngobrol salah satunya untuk memupus rasa penasaran. Terungkap dari bibir mereka bahwa mereka memang dibayar perbulan 400 ribu oleh pemilik warung dan dan bekerja dari sore hingga pagi hari. Fungsinya sebagai penarik pengunjung itulah yang membuat mereka harus berdandan agak menor dan berpakaian rada seksi. Walau masih terlihat muda-muda, make up mereka tidak sepenuhnya mampu menutup garis-garis kekuyuan di sekitar mata karena harus begadang setiap malam. Pantas saja harga minuman dan jajanan disitu lumayan jauh diatas harga normal karena memang ada biaya ekstra untuk penglaris dagangannya.

Ok teman...
Terlepas dari bocor tidaknya dirimu, terus terang aku salut dengan perjuanganmu mencari rejeki. Kuharap tak selamanya mereka duduk disitu dengan segala pandangan kelam atas profesinya. Semoga kehidupan di sepanjang jalan Kandangan bisa segera jadi kenangan dan tak perlu terlalu lama bergandeng tangan dengan gelapnya malam.

Selamat malam gadis Kandangan...
Read More

29 Maret 2011

PLTU Jaweten

Perasaan aku sudah begitu terbuka dengan istri. Tapi kok bisa-bisanya ada yang kelewat sampai istri nanya aku sebenarnya kerja di tambang batubara atau di PLTU. Segera aku jelaskan bahwa tambang batubara tempatku kerja dengan PLTU merupakan perusahaan yang berbeda tapi masih berada di bawah satu grup. Yang sudah berjalan adalah tambangnya, sedangkan PLTU masih dalam tahap pembangunan.

Kantor tambang ada beberapa buah yang tersebar di beberapa lokasi. Bagian produksi di simpang Jaweten, kantor direksi di Tamianglayang, kantor pelabuhan di Telangbaru dan bagian administrasi berkantor di lingkungan bakal lokasi PLTU. Sehingga karyawan selalu menyebut mau ke PLTU bila dia akan berurusan dengan bagian administrasi.

Rencana pembangunan PLTU ini, menurut selentingan isu di masyarakat, juga berkaitan dengan pembukaan lahan tambang. Dengan alasan untuk menyuplai PLTU, maka tambang mendesak harus dibuka. Benar tidaknya aku tidak berani mempertanggungjawabkan. Namun yang pasti, kebutuhan suplai daya listrik di daerah ini memang sangat mendesak. Kalo di Jawa aku suka mengeluhkan pemadaman listrik setiap hari, disini yang setiap hari terjadi bukan pemadaman. Melainkan penyalaan, karena lebih sering padamnya daripada nyala. Kacaw...

Tanpa dibantu pembangunan PLTU, pemerataan pembangunan yang makin tergantung pada suplai listrik akan semakin sulit. Usaha kecil menengah yang tidak mampu membeli genset sudah pasti akan keteteran dan sulit untuk berkembang. Walau Kalimantan terkenal dengan sungai-sungai besarnya, namun pembangunan PLTA dianggap kurang efisien karena kontur medannya yang cenderung landai. Sementara batubara tersedia melimpah. Bahkan boleh dikatakan orang Borneo itu hidup diatas batubara.

Katanya sih bulan November tahun ini, PLTU Jaweten sudah beroperasi. Tapi melihat kenyataan di lapangan, belum terlihat adanya pembangunan yang berarti. Yang sudah berdiri baru bangunan untuk kantornya saja. Kuharap sih bisa cepat beroperasi karena kasihan dengan masyarakat sini yang lumayan terbelakang dibanding Jawa, sementara kekayaan di perut buminya selalu dikeruk dan sebagian besar hasilnya dikirim ke Jawa. Kalo memang fair, seharusnya harga jual listrik PLTU ini bisa semurah mungkin itung-itung sebagai bagian dari program CSR grup perusahaan ini.

Semoga sukses...

Read More

Kerja dan Ngeblog

Ngeblog dan kerja, dua hal yang sepertinya sulit untuk dipisahkan dari hidupku. Keduanya seperti sudah saling mengisi satu sama lainnya. Saat kerja, selalu saja ada kejadian yang asik untuk diceritakan di blog. Saat otak error oleh kerjaan, ngeblog bisa menjadi cara otak berejakulasi agar kembali segar dan siap kerja lagi.

Makanya saat kerjaan bejibun, aku malah jadi lebih sering nulis. Semakin banyak aku ngeblog, berarti semakin tinggi pula tingkat setres yang aku alami. Padahal kalo dipikir, gimana ga kerjaan numpuk kalo ditinggal ngeblog mulu. Tapi yang pasti ngeblog sangat penting buat mendukung produktifitasku. Sampai-sampai aku nyatakan kerjaan tidak boleh ganggu acara ngeblog.

Kebalikannya di saat santai seperti lagi cuti, aku jarang nulis. Selain tingkat setres berada dibawah batas minimal, kayaknya ada yang lebih asik buat dikerjakan di rumah. Daripada manthengin layar monitor terus, kan lebih asik mantheng yang laen.

Tapi tidak ada sesuatu yang sempurna. Tetap saja ada sisi negatifnya dari ngeblog ini. Urusan nyolong waktu dan internet kantor sih aku jagonya. Lagian siapa yang ngerti aku lagi ngetik jurnal. Orang lain tahunya aku lagi sibuk coding. Yang penting kalo ada orang, selalu pasang tampang serius walau lagi ngetik komen jorok.

Yang mulai terasa dari efek ngeblog adalah otak jadi mudah ngelantur. Kebiasaan ngeblog apa adanya di otak tanpa konsep dan edit membuat tulisanku di blog lebih mengalir walau endingnya suka melenceng dari prolognya. Nah itupun terasa saat menulis laporan kerja. Semua yang ada di otak mengalir begitu saja tanpa konsep dan tanpa edit langsung aku klik tombol kirim email. Jadinya seperti pagi tadi, saat aku laporan progres pembangunan sistem ke pihak manajemen di Jakarta. Ketika aku menyampaikan faktor-faktor yang membuat kerja tim kurang efektif, awalnya rapi terstruktur belakangnya ngelantur.

... Kondisi kantor yang bising membuat tim programmer tidak bisa bekerja maksimal. Akibatnya tim lebih banyak bekerja sejak sore sampai pagi hari. Mohon pihak manajemen mengupayakan penambahan asupan gizi atau suplemen untuk menjaga kesehatan dan stamina tim IT. Soalnya gini, pak. Selepas makan malam, meja makan tuh selalu dibersihkan dan akibatnya tiap malam kita kelaparan. Mending kalo deket kantor ada warteg, ini di tengah hutan, pak. Trus kita tidur kan seringnya jam 5 atau jam 6 pagi, sarapan belum siap. Begitu kita bangun, sarapan sudah habis. Bagaimana kita bisa kerja maksimal kalo sehari saja cuma makan dua kali. Mobil saja yang ganti oli sebulan sekali kalo kurang bensin tidak bisa ngebut dan mesin cepet rusak. Apalagi kita yang yang ganti olinya 3 bulan sekali. Bayangin aja deh kalo bapak yang jadi kita. Plis deh dst dst...

Aku baru nyadar ketika si bos balas email tidak sepanjang biasanya.
"Elo malah curhat sih..
Plis deh..."
Read More

28 Maret 2011

Jalan dan Bicara

Seharian sinyal Telekomsel lenyap dari peredaran. Kadang muncul beberapa detik kemudian dah hilang lagi. Pas sinyal nongol, hape langsung ribut oleh rombongan sms masuk tanpa bisa aku balas semuanya karena keburu mendelep lagi. Di salah satu barisan sms itu ada mms masuk dari ibue Citra. Susah payah mendonlot akhirnya kebuka kiriman foto Citra yang katanya sudah bisa jalan.

Bulan depan Citra sudah 10 bulan. Artinya dia tak mau kalah dengan kakaknya yang juga sudah bisa lari-lari saat berumur segitu. Namun walau 10 bulan sudah bisa nguber-uber ayam di halaman, kakaknya baru bisa bicara lancar setelah berumur dua tahun. Cuman dulu kakaknya memang cenderung pendiam dan jarang nangis apalagi ngoceh, biarpun begitu bisa ngomong cerewetnya minta ampun. Ini berbeda dengan Citra yang sejak beberapa bulan belakangan sudah hobi ngoceh pake bahasa bayi. Semoga saja dia bisa bicara lebih cepat tak harus menunggu usia 2 tahun.

Memang kata orang, antara jalan dan bicara selalu bergantian. Yang cepat jalan biasanya ngomongnya telat. Begitu juga sebaliknya yang ngoceh duluan jalannya belakangan. Cuma memang sedih juga kalo bicaranya yang telat. Terutama kalo pas anak rewel ada yang dirasakan tidak enak di badannya. Suka bingung tuh saat anak menangis dan cuma bisa menjawab ah uh saat kita tanya apa yang dirasakannya.

Kalo ibunya yang ah uh sih dah ga perlu lagi ditanya apa yang dia rasakan...
Jadi pengen pulang neh...


Read More

Multiprofesi

Menjadi doktor alias mondok di kantor memang banyak suka dukanya. Eh, sebenarnya bukan tidur di kantor, tapi kebagian mess yang nempel di kantor. Akibatnya aku jadi kerja multitasking yang apa aja diembat. Bukan serakah ngurusin kerjaan orang, tapi memang suka ada yang minta tolong. Sepanjang aku sedang tidak sibuk, apa salahnya aku membantu. Namun mengingat banyak orang disini trus yang datang dan pergi juga banyak, akibatnya profesiku bagaikan gajah dalam pikiran tiga orang buta.

Orang Jakarta tahunya aku sebagai staf IT yang akan membangun sistem komputerisasi tambang. Sampai di Kalimantan aku ditempatkan di kantor PLTU. Karena disitu banyak komputer rusak aku suka iseng-iseng memperbaikinya. Sampai sekarang karyawan PLTU menyebutku tukang serpis komputer.

Beda di kantor PLTU beda di tambang. Di tambang, setiap ada komputer rusak mereka akan memperbaiki di toko komputer terdekat. Tak pernah sekalipun minta tolong aku, walau hampir setiap hari aku kesana. Aku baru tahu sebabnya saat aku dimintai tanda tangan di surat permintaan barang dari workshop tambang yang akan diajukan ke bagian keuangan. Disitu tertera jabatanku, tukang absen. Gara-garanya di tambang aku lebih sering kelihatan mengurus mesin sidik jari untuk absensi karyawan dibanding kerjaan lainnya.

Trus beberapa waktu lalu ada orang baru kiriman dari Jakarta. Karena datang tengah malam dan yang belum tidur hanya aku, si bos minta tolong aku jemput dia di simpang. Pagi-paginya orang itu nyamperin dan menyerahkan bungkusan berisi makanan ringan sambil mengucap, "Maaf, semalam ngerepotin. Terima kasih bantuannya ya, pak sopir..."

Dan kemarin sore, satpam laporan ke juragan kalo solar genset hampir habis. Kebetulan banget sopir masih tugas luar semua dan juragan minta tolong ambilkan solar di pengecer terdekat, takut keburu gensetnya mati bila menunggu mobil sarana datang. Karena langganan, aku tuh cuma ambil doang dan pembayaran biasanya diambil oleh penjualnya ke kantor secara periodik.

Saat aku sarapan di dapur tadi pagi, aku dengar ribut-ribut di luar dekat ruang genset. Kedengaran sampai ke dalam bahwa ada orang mencari tukang genset untuk mengambil jeriken minyak yang diambil kemarin sore. Aku cuma menarik nafas perlahan mendengar aku punya jabatan baru, tukang genset.

Karena ibu dapur sepertinya bingung tidak tahu siapa yang dimaksud tukang genset, aku keluar nyamperin mereka. Melihat aku datang, tukang jual solar segera menunjukku. "Nah, ini dia tukang gensetnya.."

Diluar dugaan, si ibu dapur malah menukas lantang, "kok tukang genset sih..? Bapak ini kan tukang betulin kulkas..?"

Aku cuma bisa diam...
*Keselek...
Read More

Timbang Mumet

Gak ada angin gak ada ujan tiba tiba di Hpnya si B muncul sms dr nomer yang gak dikenal....
(bukan nama sebenarnya, lagian tega amat kalo ada orangtua yang ngasih nama anaknya "Be")

A = Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

B = Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh. Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja.... Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya?

A = Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

B = Yaiyalah panjang.... Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo.... Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

A = Huft ...Plz dund...bkn t3mb3m cmu4, tp emb3m c@iank cMuana W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch......fufufuuu

B = Yeeee mana gw apal. Adek kelas gw kan ada banyak. Bayangin misal sekelas ada 25 murid cewe. Dikali 9 kelas. Nah, itung ndiri dah tuh ada berapa! Itu belom dari sekolah2 laen. Mereka kan gw anggep adek kelas gw semua walopun mereka ga nganggep gw. Coba? Masa iya gw apalin atu2. Lu kira gw petugas sensus! Eh itu sebenernya huruf mau lo ganti apasih? Jadi angka 4 apa a keong (@)? Satu aja ribet apalagi dua gw bacanya. Plin-plan lo ah


A = Ea muuph kag.... Abzn udh kbi@s44n kag. Jng mrh dund... hix... hix... Oh ea y.. Kn ad bnyk ea... muv dh muv.. Eh kag, w inged loh qt dlu prNh kut xkul PeNcak sLt bReng jG.

B= Jorok lo ah

A = Pencak SILAT kak!!!

B = Ooohhh.... Nah itu bisa nulis bener

A = Tp w kluwar paz 5aBuk quNink. Gag kwt. Uji4nna bRad bGd

B = Gw ga pernah ikut pencak silat. Gw ikut cheers. Yang dipaling atas formasi piramida kan gw. Lagi pula kalo gw ikut pencak silat, sabuknya ga muat.

A = Iyh yng bn3r kag? Bc4nd@ aj dh wkwkwkwkwkwkwkwkwk! !!

B = Etdah lo ketawanya serem amat kayak burung gagak.

A = Eh kag BTW n0m3r hpx kog ckep amad ch? Ky orangx

B = Nama gw bukan betawi.

A = Mksd w by the way

B = Kenapa emang JALANnya?

A = OMONG-OMONG! !!!

B = Oh... ga tau nih.. Beruntung aja dapet nomer bgini

A = Dpt dri m4n4 kag?

B = Hadiah es orson. Penting amat

A = Kag kuq fesbukx lum d k0nfr1m?

B = Confirm! Bukan Kon-frim! Oh yang foto profilnya dari atas sambil manyun2 itu lo ya? Gw kira fanpage-nya Suneo. Belom-belom. Ntar deh kalo angel foto lo udah bener. Eh, unyeng2 lo ada 5 ya? Ampe keliatan. Banyak amat. Situ pake ekstensen unyeng2?

A = Iyh ka2g bC@nd4 aj@ dh. 1tukan age ngetrend kag futu dri @ta5. Mak1n gaG kli4t@n mukax, makin keyenz!

B = Yaiyalah. Gimana mau keren kalo muka lo keliatan. Coba dong sekali-sekali foto profilnya diganti pake fotokopi. Burem, perkecil, bolak-balik. gitu.

A = Mangx uj14n!

B = Biar ga keliatan muke lu. Katanya makin ga keliatan makin kerennn... Gw yakin asli lo ga sebagus di foto kan? Nih udah gw confirm. Eh, itu foto2 lo banyak banget yang jari tangan angka satu dimulut. Lagi ngelonin orok sapa lo? ya ampun.. Lo ga juling foto dari atas semua?

A = Gag. Udh b1aza k0g. Eh, kag mang gi onlen ea? Onlen d kul ap dihumz?

B = Eh kalo bahasa alaynya onlen di WC SPBU apaan? Salah semua tuh option lo

A = Ih... kakak joyokkkk...

B = Kadir ga diajak?

A = Itu Doyok kaaaggg.... Yah, w lgi gaG onlen niyh kag. Cb klo qt sm onlen, kn bs chat b4r3ng

B = Kita? Lo aja kali ama kawan2 lo. Lagian yang minta lo biar onlen sapeh?!

A = Hix..Hix...Jahad  Kag kug lum bubu siyh? Kn udh mlm. Mang lum ngantug ea?

B = Gw ga pernah ikut MLM deh

A = MalemKag maksudx....

B = Udah gede ini. Lagian sembari ngelembur ngerjain tugas nih.

A= Cemangadh!

B = Hdagnamec

A = Paan tuch Kag???

B = Tulisan lo gw balik. Bingung gw nanggepin bahasa lo. Eh tulisan lo bisa di normalin dikit ga? Sedikiiit aja demi gw

A = Oh ea deh kag..

B = Eh, ko gw baca status-status lo semuanya ngambil dari lirik-lirik lagu ya??? Keabisan ide lo? Mana udah di Like-in sendiri, trus ga ada yang comment pula.

A = Eaaa... Abisan w suka bgd kag sm lgu it. Co cweet bgd dech. It jga da lgu knangan sm mantan w dlu

B = egp.

A = Ohiya kag! Bsk lusa jm 9 pgi d tv nntn w ya!

B = Itu kan acara live musik itu kan?! Yang penontonnya satu panggung sama artis bandnya. Trus sambil nari2 kompak banget dibelakangnya. Lo jadi artis toh sekarang? Grup band lo apa namanya? Salut gw. Pasti lo jadi vokalisnya ya? Apa lo soloist?

A = Bukan kag, gw jadi penontonx.

B = Huh?!!!!!!! (Keselek)

A = Ea, yng pnting msk tv kag! Gw ma rombongan udh nyiapin tarianx lho kag. Biar kompak nnti narix. Nama tarianx. Tau dund kag ky gmana. Gag ngaruh deh mw bandx apa aliranx apa.

B = Trus kalo bandnya metal gimana??? Masa lo mau tetep joget ?

A = Ya gag ap kag. Lgan band metal mah gag mgkin d hadirin kag. Kyk ga tau aja kag..

B = Yaudah deh, selamat joget ya. Kakak mo tidur dulu. Oia, besok lusa, pagi2 kakak ga bisa nonton situ joget . Soalnya kakak sibuk mau bikin anyam2an sedotan. Babay!

A = Bye... Met bubu kag. Eh kag, ntr jm2 bolax pa?

B = Hah?! Lo suka nonton bola pagi2 juga?

A = Yaelah bgadang nntn bola wajar x kag

B = Lo cowo apa cewe sih?!

A = Cow. Mang np?

B = Lah itu foto2 difesbuk?!

A = Itu mantan w kag. Fto w d album Juzt Me

B = ............ ......... ......... .......

A = Kag?

B = Eh iya sori. Udahan dulu ya. Gw baru ngeliat UFO nih. Bye!
Read More

Atheis Kontemporer

Sebelum melanjutkan membaca jurnal ini, sebaiknya baca dulu ketentuan yang tercantum di jurnal sebelumnya atau klik close sekarang. Terima kasih...

---------


Karena kebetulan otak lagi adem, aku layani terus obrolan kacaw dengan temen gelapku itu. Dalam pandangannya, kebenaran adalah mutlak dan harus ditegakkan apapun caranya. Padahal menurutku, kebenaran hakiki itu hanya milik Tuhan dan tidak ada dalam diri manusia. Yang manusia miliki hanyalah kebetulan semata. Seperti dikatakan kebenaran selalu menang melawan kejahatan. Menurutku yang selalu menang adalah kebetulan, baik menang melawan kejahatan maupun kebenaran. Kebetulan saja bernasib baik, sehingga walau salah pun tetap dianggap benar.

Bagiku, agama adalah dosa warisan. Sehingga tidak pada tempatnya kita mengganggap keyakinan kita paling benar dan memusuhi orang lain yang berbeda prinsip merupakan amar ma'ruf nahi munkar. Seperti saat kita merasa benar memerangi Ahmadiyah yang dianggap sesat. Tidakkah kita berpikir andai saja kita terlahir dari orang tua yang menganut Ahmadiyah. Akankah kita tetap merasa sesat dan boleh diperangi orang lain padahal kita tak mengusik keyakinan orang..?

Coba lihat ke sekeliling kita. Berapa banyak orang memilih suatu agama dengan melalui proses pencarian. Aku berani mengatakan sebagian besar kita memeluk suatu agama karena kita lahir dari orang tua dan hidup di lingkungan agama tertentu. Berusaha mencari-cari keyakinan yang berbeda dengan yang diwariskan justru dianggap sesat, padahal agama adalah adalah hak asasi yang bersifat vertikal yang tidak boleh dipengaruhi oleh manusia lain. Bagaimana mungkin kita bisa tahu mana yang paling benar bila kita tak punya pembanding, walau dalam hal ini agama tidak boleh dibanding-bandingkan satu sama lain. Sebelum memutuskan untuk menjadikan istri saja kita seringkali mencoba-coba dengan mengamati banyak perempuan. Kenapa kita harus dengan sengaja membutakan mata untuk urusan mencari Tuhan..?

Sudah aku duga, penggunaan istilah mencari Tuhan akan menuai kecaman dari temanku dan bertanya apa sebenarnya agamaku. Dengan mantap aku jawab, Atheis kontemporer. Heheh...

Kenapa aku bilang atheis dan kenapa pakai embel-embel kontemporer, karena memang aku bukanlah manusia tak bertuhan. Segenap jiwa raga aku mengakui adanya Tuhan dengan segala kuasaNya. Namun kenyataan mengungkapkan dengan segala keterbatasanku sebagai manusia biasa, aku belum bisa menjalani semua yang menjadi kata Tuhan. Aku tak bisa begitu saja menerima kebenaran yang bersifat warisan tanpa aku meyakini sepenuh hati akan kebenaran itu. Sifat wujud Tuhan yang seringkali dibuat fana oleh pengikut setianya itu yang membuat aku masih saja berkeliaran di alam pencarian.

Aku masih saja butuh waktu untuk mencari makna Sangkan paraning dumadi yang secara sederhana merupakan the origin and the destination of all creatures alias tempat berasal dan kembalinya segala makhluk. Ini merujuk  pada sosok Tuhan sebagai pencipta (alias asal) dan pemilik (alias tujuan) segala makhlukNya yang identik dengan konsep Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Tak perlu kita menganggap bahwa manusia bertuhan adalah manusia yang menganut agama yang diakui oleh negara. Mengingat prinsip Tuhan sebagai asal dan tujuan, aku berani mengatakan bahwa di dunia tidak ada manusia yang tidak beragama. Kita tinggal melihat apa yang dituhankan, maka kita akan bisa melihat apa agamanya. Tak perlulah kita melihat di KTP kita beragama apa. Bila kenyataannya asal dan tujuan hidup kita adalah uang, berarti tuhan kita adalah uang. Coba tanya ke diri masing-masing, dalam sehari berapa banyak kita mengingat Tuhan yang tercantum di KTP dan berapa banyak kita mengingat uang. Yang paling banyak itulah jawabannya.

Begitu jahatkah orang yang belum beragama, sampai-sampai setiap ada perbuatan keji seringkali dikecam sebagai perbuatan orang yang tak beragama. Tidakkah kita melihat Fidel Castro yang begitu dicintai rakyatnya atau Voltaire yang begitu humanis. Sebaliknya lihatlah seperti apa perbuatan Mr Bush yang agamis, membantai jutaan manusia di berbagai belahan dunia atau rejim HM Soeharto yang memusnahkan rakyatnya sendiri yang tak berdosa hanya karena namanya tercatat sebagai anggota ormas PKI. Aku tak melihat adanya kaitan perbuatan manusia dengan agama. Malah kalo boleh dikatakan 99% kejahatan dilakukan oleh orang yang beragama. Paling gampang silakan dihitung sendiri, berapa persen koruptor yang bertitel haji dan berapa persen yang mengaku belum bertuhan..?

Namun bukan berarti orang beragama itu buruk. Banyak sekali temanku yang benar-benar bisa menerjemahkan jalan Tuhan dalam kehidupannya bersama sesama manusia tanpa melihat keyakinan atau prinsip hidupnya. Seperti seorang temanku penganut salafiyah yang begitu kuat menerapkan aturan agama pada dirinya sendiri namun tak pernah mau mengusik perbuatan orang lain yang tak sesuai dengan prinsipnya. Egoiskah dia..? Di mataku tidak. Justru itulah dakwah yang terbaik. Tanpa menebar permusuhan dia bisa menarik banyak teman untuk mengikuti madzabnya. Dia berbeda dengan ulama bedebah yang memanfaatkan fanatisme bodoh umatnya untuk menebar kebencian kepada orang lain yang seagama hanya karena berbeda bendera partainya.

Aku merasa masih hidup di dunia yang artinya kita hidup dengan isi alam dan sesama manusia. Selama aku tidak membuat kerusakan dan permusuhan di dunia, bagiku sudah cukup. Tak perlulah kita mengatasnamakan Tuhan untuk menjadi pembenaran atas perbuatan-perbuatan buruk kita. Jadikanlah Tuhan yang maha rahman dan rahim sebagai motivasi kita menebar kebaikan. Tidakkah Tuhan akan menangis melihat ciptaanNya saling bermusuhan dan semuanya mengatasnamakan perintahNya. Apakah Tuhan juga maha cuek sehingga dia lebih suka bermain dadu dengan Einstein daripada mendamaikan manusia-manusia ciptaanNya..? Atau malah Tuhan sebenarnya sudah tidak ada dibunuh Nietzsche..?

Sampai disini, sudah tak ada lagi obrolan lanjutannya. Entah dia bosen apa malah setres dengan celotehku, aku tak tahu. Yang pasti aku tak pernah bosan mencari. Orang-orang pakar agama dari berbagai keyakinan dari ujung barat Banten sampai Situbondo di ujung timur, dari Cirebon di pantai utara sampai Nusakambangan di pantai selatan Jawa sudah pernah aku sambangi. Namun jawaban yang aku cari belum juga aku temukan. Entah sampai kapan, hanya Tuhan yang maha tahu.

Mungkin sebuah obrolan pendek dari masa lalu bisa jadi penutup.
"Berdosakah bila aku melakukan hal yang aku tak tahu itu melanggar firman Tuhan..?"
"Tentu tidak kalau kamu memang tidak tahu..."
"Kalau begitu, kenapa pak kyai ngasih tahu aku..???"

Mohon maaf bila kurang sependapat.
Wassalam...



Read More

27 Maret 2011

Mengencingi Kitab Suci

Sebelumnya aku mohon perhatian narablog...

Bahwa jurnal kali ini merupakan bahasan yang sedikit sensitif. Untuk mereka yang merasa tidak bisa berpikir terbuka atau merasa tak mampu untuk menjadi dewasa dalam membahas keagamaan, silakan close jurnal ini dari sekarang. Silakan berwacana, asal tetap pada tempatnya.
Terima kasih

---------------

Beberapa teman sempat nagih dengan apa yang aku tulis di jurnal Beda Keyakinan, bahwa aku akan menulis tentang obrolanku dengan seorang penghujat gelap yang tak mau membuka identitasnya sedikitpun. Sebenarnya teman gelapku itu bukan mencaci maki, melainkan menceramahiku karena aku dianggap mendekati kesesatan, berteman dengan orang yang memiliki keyakinan yang bertolak belakang dengan agamanya. Jurnalku yang sebenarnya membahas tentang keinginan sekelompok teman mengungkap budaya bangsa sendiri ditanggapi dengan melenceng dari tema. Sebagai orang yang ingin bertanggung jawab dengan apa yang telah aku tulis, aku layani dengan baik walau permintaanku menuliskan itu di kolom komentar tidak pernah dituruti.

Ketika kata-katanya sudah semakin keras dan mulai mengeluarkan dalil-dalil sampai ke soal jihad, aku sampaikan terus terang bahwa aku tak menguasai itu. Dan aku cuma jawab dengan cerita tentang anakku Citra sebagai analogi.

Citra kalo boleh dibilang, dibuat diatas canvas dengan palet, kuas, berlumur cat. Saat masih dalam kandungan, ibunya sempat nyidam kue sagon jahenya Nasirun, seorang pelukis Jogja asal Cilacap. Saat lahir, lukisan Totok Buchori, patung kayu Katirin dan celoteh gilanya Hadi Soesanto menjadi hadiah penyambutnya. Dia pun dibesarkan di sebuah galeri sehingga bisa dikatakan seni lukis merupakan dunia yang tak bisa dipisahkan dari hidupnya. Tapi dia begitu santainya merobek-robek katalog karya-karya dari maestro seni Indonesia. Pipis diatas lukisan Budi Ubruk pun dia lakukan tanpa rasa dosa.

Ceritaku dijawab dengan kata, hanya orang bodoh menyamakan mujahid dengan anak kecil.

Tidak ada yang menyamakan, aku cuma menggambarkan. Seorang anak yang seharusnya fanatik dengan dunia seni sampai ngompol di atas mahakarya seniman terkenal belum bisa dikatakan salah, karena memang dia belum mengerti dengan perbuatannya. Tapi seorang dewasa yang telah begitu menguasai ilmu agama, kenapa masih bisa mengencingi kitab suci dan memberaki tuhannya.

Karena yang aku tahu, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk agresif menyerang orang lain yang tidak mengusiknya. Perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk mengkafirkan orang lain, apalagi untuk menyerangnya secara fisik sampai menghilangkan nyawa manusia. Keyakinan buatku adalah habluminallah. Sejauh secara habluminanas kita tidak diganggu, kenapa kita harus memusuhinya seperti banyak terjadi di sekitar kita.

Kata beliau, walau belum masuk kategori kafir, aku sudah mendekati kekufuran. Itu adalah dosa besar.

Aku tak pernah mau tahu urusan dosa perdosaan. Karena itu merupakan hak prerogatif Tuhan yang tak bisa disentuh manusia. Tidak pada tempatnya kita mengatakan orang lain sebagai pendosa. Sejauh aku tidak berbuat jahat secara norma, aku tak perlu merasa berdosa. Agama mengajarkan untuk menjaga silaturahmi dengan siapapun, kenapa umatnya harus mengkotak-kotakkan diri. Jihad buatku bukanlah perang suci. Melainkan ijtihad yang memaksaku untuk selalu berpikir terbuka dengan segala perbedaan. Perintah pertama untuk iqra, buatku bukanlah sekedar membaca buku yang bertitel kitab suci. Tapi membaca alam semesta termasuk perbedaan-perbedaan yang ada diantara manusia.

Tidak ada alasan untukku membatasi pergaulan dengan sesama. Tak perlu ada rasa takut aku menjadi penjahat hanya karena berteman dengan preman. Aku yakin bisa seperti ikan laut yang dagingnya tetap tawar walau selalu hidup di air asin. Dan semua itu sudah terbukti. Walau aku sering gaul dengan kyai dan menyambangi pondok pesantren, tetap saja aku masih belum terpengaruh untuk rajin shalat...

--- bersambung.
Mau lanjutin coding dulu---

Read More

Damai Itu...

Hidup di lingkungan yang keras, kadang membuat kita menjadi serba salah. Apalagi kalo status kita disitu adalah pendatang. Kebiasaan memposisikan diri sebagai "yang punya kawasan", menjadikan kita merasa punya pembenaran untuk sesuatu yang sebenarnya tidak dibenarkan. Hukum rimba jadi acuan dan yang secara hukum seharusnya punya kekuasaan cenderung bingung.

Seperti pekerjaanku merancang sistem komputerisasi online untuk perusahaan ini. Ketidakjelasan standar operasional prosedur karena berlakunya hukum rimba di kalangan bawah membuat tugasku mentok di penyusunan logika absensi dan penggajian. Terlalu banyak standar jam kerja yang semau gue menjadikan script coding semakin kusut. Penyeragaman struktur wajib dilakukan agar aku bisa bergerak cepat. Namun pihak pelaksana manajemen seringkali ketakutan akan terjadi gejolak saat sistem itu diberlakukan karena pasti ada perlawanan dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya disunat.

Melihat latar belakang sebagian karyawan yang ada, aku memang bisa mengerti kenapa ini terjadi. Pemilik lahan mau melepaskan tanahnya ke perusahaan dengan syarat anak atau saudaranya dijadikan karyawan. Orang yang tak lagi punya kebun karena dibebaskan untuk tambang, menuntut mereka dijadikan karyawan. Banyak karyawan diterima tanpa memperhatikan kemampuan pribadi dan kebutuhan perusahaan. Ketika kerjanya tidak beres dan mendapat teguran, budaya penguasa kawasan keluar. Bawa pasukan dan mencabut mandau sepertinya sudah menjadi wabah.

Untuk mengatasi kondisi tak jelas ini, sebenarnya aku sudah tawarkan untuk menyusun sistem yang sesuai standar perundang-undangan. Aku yakin ini bisa, karena untuk perusahaan-perusahaan tambang besar juga nyatanya bisa. Manajemen menolak dengan alasan tak mau terjadi gejolak yang pada akhirnya menghentikan proses produksi. Aku sudah coba untuk memberi jalan tengah. Sebelum sistem standar kerja ini diberlakukan, kesejahteraan karyawan ditingkatkan dulu. Masa sih karyawan tidak mau kesejahteraannya naik walau dengan syarat sistemnya dipatuhi.

Perusahaan menolak dengan alasan biaya gaji akan membengkak. Padahal aku sudah bilang, bila sistem komputerisasi diterapkan, pola kerja karyawan akan lebih efektif. Rekap absensi yang selama ini dikerjakan oleh 5 orang, cukup dikerjakan satu orang. Empat orang sisanya bisa dimutasi ke bagian lain yang membutuhkan tanpa perlu mengadakan rekrutmen baru sampai semua memperoleh posisi sesuai skillnya. Mengapa harus bertahan menggaji 5 staf masing-masing 2 juta, bila dengan 1 orang bergaji 5 juta pekerjaan bisa selesai. Padahal kalo dipikir, dikelola dengan acak-acakan saja tambang sudah menguntungkan. Apalagi bila dikelola dengan baik. Lagian aku juga butuh penyesuaian itu agar gajiku juga ikut naik. Heheh..

Makanya aku sempat kepikiran, jangan-jangan aku juga harus cabut golok agar ideku bisa diterima perusahaan. Terbukti setiap upaya dengan jalan damai selalu mentok dan tidak diperhatikan perusahaan.

Begitu mahalkah perdamaian disini..?
Rasanya tidak juga.
Di jalanan saja damai diobral murah
Duapuluh ribu perak cukup sudah...
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena