12 Mei 2010

Basic Instinct

Walau jaman selalu berubah, tapi yang namanya basic instinct manusia tetaplah sama. Seperti ketika ada ada yang pesen lukisan, permintaannya kebanyakan sama. "Jerawatnya jangan dilukis lho.." Atau kalo ibu-ibu yang big size, "dirampingin dikit ya, mas.."

Dan itu bersifat global. Seperti ketika ada pesanan melalui email dari Liechtenstein, tetap saja ada kata-kata begini, "Will heissen Laura ist schlanker." Jadi aku pikir soal penampilan, perempuan punya bawaan bayi yang sepanjang jaman tak berubah, tampil langsing.

Read More

11 Mei 2010

Efek Nasi Kucing

Beberapa hari kurang tidur, kemarin sore makan nasi kucing porsi jumbo. Lauknya sambel teri yang hasemmm pedes tapi bikin aku kekenyangan. Efeknya aku ngantuk berat dan mau sikat gigi atau cuci muka saja rasanya malas.

Tiba-tiba nongol cewek cakep ngajak ngobrol.

"Mas, masih bisa jatuh cinta..?"
"Sebagai manusia yang masih lurus tentu bisa. Tapi aku kan bukan ABG lagi, sudah punya anak istri..."
"Bisa mendua dong..?"
"Ga ah, kasihan. Tar cemburu trus bunuh diri.."
"Istrinya cemburuan ya..?"
"Ga juga. Malah yang lain yang suka cemburu ke istriku. Kamu juga ya.."
"Ke istrimu sih aku ga cemburu. Tapi penggemar-penggemarmu yang bikin frustasi..."

Read More

Jangan Panggil Aku Shahrul

Aku sedang mengamati poster pameran jangan panggil aku china, ketika seorang teman berteriak, "jangan panggil aku Shahrul..!"

Aku ajak dia duduk dan aku tanya apa maksudnya. Buatku ini aneh. Ini beda dengan kasusku dulu. Aku juga pernah menolak dan protes keras ketika aku dipanggil SBY. Karena aku lebih suka di panggil rawins.

"Ngapain sih kamu ributkan nama pemberian orang tuamu..?"

"Bukan orang tua... Ini nama pemberian seseorang yang pernah berarti buatku..."
Read More

10 Mei 2010

Belajar Kaya

Sore-sore, ketika si bos ngajak aku main ke pesantren di daerah Pleret, Bantul sana, aku sedikit ogah-ogahan sebenarnya. Tapi karena ada sedikit rasa greng dalam hati, aku ikut juga akhirnya. Walau ketika lewat mini market aku minta berhenti sebentar, si bos ngelarang. "Ga usah beli tolak angin, Ko..."

Si bos tahu kebiasaanku bawa tolak angin kalo diajak ke tempat-tempat seperti itu. Bukannya untuk obat perut kembung di perjalanan. Tapi aku perlukan ketika aku nanya ke pak kyai, "Pak kyai orang pinter bukan..?"

Kalo jawabnya bukan, aku pamit pulang setelah basa basi. Ngapain kalo sowan trus ga dapat apa-apa. Kalo dijawab, iya. Langsung tolak anginnya aku kasihin, lalu pulang juga. Malas bicara dengan orang yang pinter tapi pamer. Aku juga malas kalo harus terbungkuk-bungkuk mencium tangan segala. Toh dia juga manusia seperti aku. Aku cium tangan hanya kepada orang tua dan mertuaku saja. Ke istri pun aku tak pernah mau cium tangan. Mending cium yang lain deh...

Ternyata aku salah persepsi. Sampai sana, aku temukan kyai muda yang kontemporer. Wah asik neh kalo nemu yang kayak gini. Pas ada pengajian lagi jadinya bisa numpang makan nasi kebuli yang katanya menggunakan resep rahasia yang hanya diketahui oleh bani tertentu.

Aku dan si bos sempat jadi perhatian ratusan santri disitu ketika ngobrol bareng pak kyai. Aku kira karena aku paling ganteng walau cuma pakai sendal jepit. Ketika pulang ada santri tua yang numpang ikut mobil cerita, katanya dia saja 3 tahun nyantri baru bisa ngobrol banyak dengan pak kyai. Ini kok baru datang udah bisa duduk bareng ngomong ala preman. Hihihi... tiwas kegeeran...

Salah satu obrolan yang menarik adalah ketika aku mengatakan sekarang Islamku tunggal KTP doang. Kesehariannya aku malah lebih sering bicara tentang atheis. Jawabannya jauh dari apa yang aku bayangkan semula. "Orang yang mau bicara dirinya atheis, lebih baik daripada orang yang taat beragama tapi hanya warisan. Orang mau mengatakan dirinya atheis, itu berarti dia sudah banyak melakukan pencarian spiritual dan banyak mengusik tentang Tuhan. Ketika itu sudah ditemukan, kualitas religinya jauh lebih baik daripada yang beragama hanya karena orang tua atau lingkungannya beragama itu. Contohnya orang yang berantem, ketika menjadi sahabat dia akan lebih erat. Daripada orang yang memulainya dengan percintaan yang lebih mudah menjadi musuh ketika ada sedikit keretakan. Cuma masalahnya, bagaimana kita bisa bersahabat setelah saling bermusuhan..?"

Akupun bilang, "jangan suruh aku shalat sekarang-sekarang, pak kyai..."

Beliau menjawab, "Semua itu perlu proses. Rasululoh saja baru shalat ketika berumur 53 tahun. Ayat tentang pelarangan khamr pun turun ketika para sahabat sudah bosen dengan minuman keras. Kalo memang masih suka mabuk ya mabuk saja. Dipaksa juga percuma, di belakang nyolong-nyolong. Mau judi, main cewek, kalo memang masih belum ada kesadaran dari lubuk hati, jalani saja. Suatu saat kesadaran itu akan datang tapi harus dipancing. Yang penting kesadaran itu sudah ada sebelum kita mati. Mati dalam kondisi belum sadar, itu namanya konyol. Tapi ingat, kita tak pernah tahu kapan kita mati. Jadi lebih cepat lebih baik. Ga mau ibadah, mau mabuk, silakan saja dilakukan. Yang penting satu, jangan bohong kepada siapaun, termasuk diri sendiri..."

Pak kyai sempat nanya, apa keinginanku sekarang dan kenapa malas ibadah. Aku jawab saja, aku ingin banyak uang. Aku malas karena aku kecewa kepada Tuhan. Yang nyuruh aku kerja tuh siapa kalo bukan Tuhan. Aku sudah berusaha maksimal sampai pulang malam, kenapa hasilnya gini-gini saja. Percuma saja aku minta-minta diberi rejeki yang banyak, bila usaha kerasku berdasarkan kata "Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau mengusahakannya sendiri" hanya dijawab "rejeki, jodoh dan mati adalah urusanku..." Plis dong, Han... Jangan bohongi aku terus dengan kata-kata yang kadang saling bertolak belakang.

Jawab beliau, "Jangan sekali-kali berdoa minta rejeki, tapi mintalah kita mampu menjadi orang kaya. Manusia menjadi kaya itu bukan keharusan, melainkan kesemestian. Kalo keharusan, banyak uang hanya menjadi target yang kita kadang ragu-ragu bisa apa engga. Tapi bila sudah menjadi kesemestian, kita tuh yakin banget kita mampu menjadi orang kaya. Tuhan juga mikir dan pilih-pilih orang. Berikan sesuatu kepada ahlinya. Bila kita saja tak yakin kita bisa kaya apa engga, ya jangan harap Tuhan akan memberikan kekayaan. Soal rejeki, Tuhan tak pernah memandang manusia itu beragama atau tidak, melainkan dari keyakinan manusia itu sendiri, mampu apa tidak menjadi orang kaya."

"Aku tidak perlu berdoa dong..?"

"Perlu atau tidak itu relatif. Bagi sebagian orang, doa dan agama malah menjadi candu yang membius manusia hingga terbuai dalam kedustaan. Akibatnya banyak orang yang lupa bahwa manusia hidup di dua alam, dunia dan akherat. Seringkali kita selalu berpikir terlalu banyak dengan janji surga dan ancaman neraka, sehingga lupa bahwa di dunia itu kita harus berusaha mencari harta. Setelah itu tercukupi, walau cukup itu relatif, baru pikirkan kebutuhan spiritualnya. Memang lebih baik jika keduanya berjalan bersama. Tapi bila tak mampu, jalankan satu persatu. Dunia dulu baru akherat. Untuk ibadah saja kita butuh biaya kok. Kebiasaan berdoa sering membuat manusia lupa, baru berusaha sedikit sudah banyak berdoa agar diberi yang banyak. Ya ga nyambung dong. Sekarang mendingan fokus berusaha, urusan spiritual biar para kyai yang urus. Aku bantu deh..."

"Siyap, bos. Tapi aku malas lho kalo disuruh baca wirid ini itu biar katanya usaha lancar..."

"Tidak perlu. Yang perlu dilakukan cuma mampu menanamkan kesemestian menjadi kaya. Mampu ini dalam artian mau berusaha keras secara fisik dan perhitungan yang matang. Mampu menjadi kaya juga berarti yakin bahwa uang itu hanyalah alat dan bukan tujuan akhir. Tujuan dari kaya itu adalah agar bisa beribadah dan membantu orang lain yang tidak mampu secara ekonomi agar bisa beribadah."

Wokedeh, seep...
Baru kali ini aku tak bisa bicara banyak di depan kyai. Biasanya aku selalu dicap ngeyelan dan murtadun bila diskusi dengan orang-orang semacam itu. Pandangan kontemporer semacam ini malah bisa lebih membukakan hatiku tentang pemaknaan religi. Aku jadi sadar bila aku sedang berhadapan dengan seorang ulama yang berpandangan luas dan tak seuprit macam FPI yang katanya pejuang agama.

Yang paling aku ingat dari beliau adalah, "tidak salah orang menjadi atheis. Manusia kadang perlu pergi menjauh agar kerinduan dalam hatinya bisa tumbuh lebih dalam..."

Terima kasih, pak kyai. Insya Alloh aku akan lebih sering datang lagi untuk mengaji. Cuma satu keluhanku di pesantrenmu. Di tempat ngobrol ga ada toilet. Sehingga ngobrol jam-jaman aku harus nahan kebelet dan terpaksa pipis ngumpet di balik mobil di pinggir sawah.

Thanks berat buat Gusti Allah yang telah mempertemukan aku dengan ulama besar semacam itu. Ai lap yu pulll, Gus...



Read More

09 Mei 2010

War

Bosku memanggilnya pak buah, tapi aku tahu namanya War. Menurut anak-anak produksi, namanya Suwar. Lengkapnya suwargo nunut neraka katut...
#Pekok

Dia juragan duren yang buka lapak di seberang jalan depan galeri. Tapi yang jualan lebih sering istrinya, karena dia lebih suka nongkrong di gudang atau ruang produksi dengan anak-anak. Karena aku lihat dia lebih sering lontang-lantung, aku pernah jadikan dia sopir pick up ku untuk antar jemput lukisan. 

Sayang setiap musim duren tiba, dia minta keluar kerja. "Keuntungan jual duren sehari sama dengan gaji sebulan, pak. Nanti kalo dah ga musim aku kerja lagi..."
Read More

08 Mei 2010

Lele Lagi..?

Berurusan dengan orang baru memang harus lebih panjang rasa sabarnya. Kadang kita mau ngomel juga bingung. Semuanya mentok di jawaban, "maaf saya orang baru disini..."

Seperti OB baru yang pernah aku komplen tentang menu makanku yang begitu konsisten. Pagi lontong sayur, siang nasi padang dan malam pecel lele. Ketika aku bilang bosen pecel lele, dia balik bertanya pengen apa. Aku jawab, "sate kambing atau apa aja deh. Yang penting ganti..."
Read More

Yang Terdalam

Kau telah tinggalkan
Hati yang terdalam
Hingga tiada cinta
Yang tersisa di jiwa

Dahsyaaaat....

Andai saja aku seorang penyair, tentu tak akan sulit untuk menuliskan puisi seindah itu. Sayang aku cuma seorang penyiar yang tak tahu syi'ar. Jadinya cume bisa berceloteh tak karuan di blog. Memaksakan diri membuat puisi hanya membuat curahan rindu ini menjadi bahan tertawaan orang. Itu kangen apa kebelet, mas..?

Read More

07 Mei 2010

C L B K

Karena malemnya meeting sama si bos via skype sampai jam 11, baru paginya aku ngisi buku absensi ke juragan. Pengucapan laporannya dibuat sememelas mungkin dan sok sibuk agar ga ada kesempatan memotong kata-kataku. "Maap ya, sayang. Semalem aku sibuk banget si bos kasih kerjaan baru. Pembukaan galeri baru di Balikpapan saja belum dikerjain sudah harus ke Bali. Baru mau ancang-ancang, semalem dikasih tahu soal tender proyek BTS, bla bla bla...."

Biasanya, mungkin karena pusing mencerna kata-kata bak pelor senapan mesin dari mulutku, istriku paling cuma bilang, "Iya, hati-hati. Kerja yang bener tapi jangan lupa istirahat yang cukup. Cepet pulang ya..."

Kalo udah gitu, dalam hati aku teriak, "Yess..!!!"
Read More

05 Mei 2010

Serial Semar Jilid 2

Gambar Bercerita ini merupakan kelanjutan dari Gaber sebelumnya. Narasi cerita dan sebagainya silakan lihat disana.

Hak Cipta dilindungi Undang Undang
ndeyan...











Read More

Motor Gede

Baru beberapa hari belakangan ada yang melarangku naik sepeda motor apalagi sambil ngebut, kemarin sore ada yang datang ke galeri nawarin motor gede. Buka harga 200, trus tawar menawar sampai mentok 175. Deal deh, tapi bayarnya tar nunggu aku jual alun alun Jokja. Hehehe...

Banyak alasan aku kurang suka motor gede dan clubnya. Motor kecil pun aku selalu menolak ajakan masuk club atau kelompok tertentu. Selain aku jarang punya waktu, aku juga males dengan acara touring rame-rame.

Sudah jadi kebiasaan orang kita, kalo sudah ngumpul banyak orang apalagi di jalanan, jiwa arogannya selalu muncul paling depan. Paling sebel kalo pas jalan keluar kota ketemu kelompok semacam itu. Jalan raya seolah sudah jadi milik kakek moyangnya. Perasaan sudah mengalah mepet pinggiran aspal masih suka diacung-acungin kepalan.

Lebih apes kalo pas di traffic light, berhenti tepat di belakang rombongan pespa bosok.  Begitu lampu menyala hijau, pespanya malah mogok sampai lampu kembali merah. Sudah dongkol masih dipisuhi kendaraan lain di belakangku.

Alasan lainnya, aku ga begitu suka belepotan oli. Daripada mengutak atik mesin, mendingan utak atik yang lain yang lebih asik, walau sama-sama keringetan. Bagaimanapun juga motor tua lebih ribet dalam perawatannya. Mengendarainya juga susah. Stang kanan handel gas, stang kiri handel platina, kaki kanan rem, kaki kiri kopling dan tongkat persneling menempel di tangki bensin sebelah kiri. Belum lagi kalo menstater, kadang aku sampai mumbul dan perlu tenaga kuda beneran.

Motor besar semacam itu juga ngeri kalo aku pake pulang kampung. Ketika harus meniti galengan sawah dan terpaksa nyebur, apa aku kuat ngangkat sendirian. Jalan kampung yang ancur juga teramat ga nyaman buat motor gede yang tidak pake peredam kejut itu. Bisa-bisa sampai rumah badanku tinggal nyisa tulang sama kentut doang. Lainnya sudah berceceran di jalan.

Walau size doesn't matter. Buatku lebih nyaman cari tumpakan yang kecil aja deh. Soal penampilan dan kebanggaan dilihat orang lain aku ga begitu peduli. Yang penting empuk, aman, nyaman dan terkendali...




Read More

04 Mei 2010

Mencuri Start

Sore tadi, melihat skype si bos dah ga online, buruan aku kemas-kemas dan pulang ke rumah. Dua hari ga bisa pulang, aku sudah kehabisan baju ganti. Untung pedalaman belum sampai seperti kaset, side A dan side B.

Baru selesai cuci baju dan mandi, anak-anak di kantor nelpon, "Pak, ada tamu mau lihat lukisan."
"Ya disuruh lihat saja."
"Sudah, pak. Tapi katanya mau nanya-nanya."
"Ya dijawab dong. Katalog dan daftar harga kan ada di mejaku."
"Ga bisa ngomongnya, pak. Orang luar soalnya..."

Read More

Gosip Teman Curhat

Ada dua cerita pendek pengantar tidur malam ini. Keduanya berasal dari dua orang teman perempuan yang menggosip tentang teman curhatnya masing-masing. Sayangnya aku masih sibuk chat dengan si bos. Dan ketika urusan pekerjaan usai, aku sudah terlalu mengantuk untuk melayani obrolan mereka. Sehingga aku belum bisa mengambil kesimpulan dari masing-masing ceritanya. Cuma aku dengarkan sedikit lalu say good night sampai besok.

Read More

03 Mei 2010

RPM 10.000

Tak terasa sudah hampir setahun aku tak pernah keluar kota menggunakan sepeda motor. Biasanya, saat seperti itu adalah saatnya memaksa dapur pacu motorku lari ke rpm 10.000. Tapi karena kegiatan itu hanya keisengan sewaktu-waktu, aku tak pernah mengorek mesin ke stelan racing. Cukup standar pabrik distel-stel dikit injeksinya.

Hampir setahun tidak dipacu, baru terasa kalo kinerjanya mulai melorot. Apalagi aku salah perhitungan tentang bahan bakar. Sengaja aku ingin isi di perbatasan Wates, karena setelah itu harus melewati medan sepanjang pantai yang tidak ada SPBU. Ternyata, di pom bensin tersebut hanya tersedia premium dan solar. Daripada nantinya motorku pakai bensin campur dorong, terpaksa aku isi dengan BBM bersubsidi.

Read More

02 Mei 2010

Salah Paham

My mom said : "klo udah pny BB jgn lupa diri,ceting trs,byk istigfar jgn mau dibohongin ama teknologi,wktmu terbuang sia2." suatu hari di BBM : "mamaku cayank lg apa?" jwb : "lagi solat dhuha booo,eh BB mu udah onyx blm vi?" (sumpah baru tau solat boleh bawa hp!) busuuuuk!

Itu ocehan seorang teman di sebuah jejaring sosial...

Agaknya konflik antara anak dan orang tua memang tak akan ada habisnya. Selalu saja ada kesalahpahaman yang kadang berawal dari ketidakkonsistenan orang tua itu sendiri. Tak jarang akar masalahnya dari anak yang tak mau tahu kepentingan orang tua yang sebenarnya baik.

Read More

Potret Usang Oemar Bakery

Jadi guru jujur berbakti memang makan ati...

Kutipan lagu lama dari bang Iwan inilah yang mungkin turut mempengaruhi pikiran orang tuaku dulu. Walau keduanya sama-sama berprofesi guru, tapi tidak pernah sekalipun mendorong anak-anaknya untuk mengikuti jejak mereka.

Akronim guru sebagai digugu lan ditiru (diikuti ucapannya dan ditiru perbuatannya) berbanding terbalik dengan tingkat jaminan kesejahteraan yang diterima dari pemerintah. Keharusan menjadi tauladan di masyarakat juga membuatnya harus pasrah narimo ing pandhum. Meributkan masalah gaji seolah bukan hal yang pantas dilakukan oleh abdi negara bidang pendidikan itu.
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena