17 Desember 2011

Konflik Lahan

Ramai berita bentrokan di Mesuji, aku sudah tak begitu kaget. Kasus semacam itu sudah teramat umum terjadi di daerah eksploitasi sumber daya alam khususnya di luar Jawa. Tapi yang mencuat ke permukaan hanya beberapa, sehingga lebih banyak kasus yang lepas dari sorotan publik secara nasional.

Selama aku disini, walau belum sampai ada korban jiwa, ancaman kekerasan bersenjata sudah jadi menu sehari-hari. Akar permasalahannya terlalu rumit sehingga sulit sekali untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang pasti semua itu berawal dari rusaknya harmoni alam akibat investasi yang hanya memikirkan soal uang semata.

Aturan negara yang ada kadang melupakan bahwa warga pribumi memiliki apa yang disebut hukum adat. Aturan yang sudah mengakomodasi kepentingan lokal, pelaksanaannya seringkali melenceng dan diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu yang tetap berujung pada urusan duit. Sayangnya ketika terjadi masalah dan terjadi kekerasan, yang jadi target korban tetap saja salah sasaran ke orang kecil.

Seperti misalnya soal pembebasan lahan. Disini bila seorang warga membuka hutan untuk dijadikan ladang, secara adat tanah tersebut menjadi milik keluarga tersebut. Tak heran bila satu keluarga bisa menguasai tanah sampai puluhan hektar karena untuk menjadikan tanah tersebut menjadi milik secara adat cukup bermodal ketapel. Tembakan saja biji-biji karet itu sejauh dia mampu. Saat biji itu tumbuh, tanah tersebut sudah menjadi miliknya.

Penguasaan tanah hutan negara secara adat itu tidak diakui pemerintah sebagai hak milik secara hukum dalam bentuk sertifikat. Pemerintah hanya menerbitkan surat kepemilikan tanah dalam bentuk hak guna pakai. Makanya pada saat tanah yang dikuasai masyarakat itu dilirik oleh pengusaha sawit atau tambang, pemerintah dengan mudah menyerahkan lahannya dengan alasan itu tanah negara.

Masyarakat tradisional yang awalnya damai dengan kearifan lokal mulai terusik dan tergiur dengan uang gampang. Mereka beramai-ramai menjual lahannya kepada investor yang masuk. Toh mereka mudah mencari lahan baru cukup dengan ketapel tanpa harus beli.

Sepintas itu teramat sederhana. Tapi kenyataan di lapangan seringkali berbeda. Gampang dapat duit tanpa harus berladang, sedikit demi sedikit merubah mental masyarakat menjadi komsumtif. Masalah mulai timbul ketika mereka kehabisan uang dan lahan barunya tidak bisa dijual karena tidak mengandung batubara misalnya. Tanpa bermodal skil mereka maksa pihak perusahaan untuk menerimanya menjadi karyawan. Ketika perusahaan menolak, mereka mengungkit-ungkit bekas lahan mereka dan tak jarang melarang aktifitas perusahaan di bekas tanahnya.

Kasus lain yang sering terjadi adalah warga yang tanahnya tak masuk area pembebasan, maksa perusahaan untuk membeli lahan mereka juga. Selain iri dengan tetangga yang bisa dapat duit gampang, mereka merasa dirugikan dengan aktifitas penambangan yang merusak jalan dan lingkungan sekitar. Program CSR atau comdev yang menjadi kewajiban perusahaan seringkali tidak menjangkau semua kalangan atau melenceng di lapangan. Demo dan demo banyak terjadi tanpa terekspos keluar. Dan ketika mandau terhunus, yang saling berhadapan tetap saja warga dengan karyawan kelas bawah yang tak pernah tahu urusan kebijakan manajemen.

Itu baru masalah lahan
Hanya sebagian kecil dari semua akar konflik yang terjadi
Entah siapa yang salah karena di lapangan semua selalu merasa benar

Yang bikin duit kali yang salah...


Read More

14 Desember 2011

Adat Pemalasan

Ada juga teman yang penasaran tentang denda 3 juta rupiah kalo nabrak anjing pada jurnal sebelumnya. Buat mereka yang di luar daerah mungkin menganggap itu mengada-ada. Tapi itulah kenyataan yang ada di kabupaten Barito Timur ini dimana sebagian wilayah dihuni oleh suku Dayak Maanyan.

Di sini anjing dan babi merupakan hewan peliharaan yang umum sebagaimana aku di Jawa memelihara ayam. Tak usah heran kalo disini banyak babi jalan-jalan santai di halaman rumah atau jalanan umum. Menabrak babi atau anjing merupakan musibah bagi sopir karena dendanya antara 3 - 5 juta tergantung nego. Yang paling susah tentu perusahaan hauling yang memang banyak mengoperasikan kendaraan berat. Beban muatan 30 ton di jalanan tanah yang licin tentu saja sangat susah untuk mengerem atau banting setir mendadak saat ada anjing pacaran di jalan tanpa resiko tronton terguling.

Asosiasi pengusaha tambang sampai mengusulkan ke DPRD agar dibuatkan perda yang mengatur masalah denda nabrak binatang ini. Takutnya ada yang berpikiran cemerlang daripada susah cari kerja trus beternak babi di sepanjang jalur angkutan batubara. Sebulan dapat 5 ekor ketubruk truk kayaknya sudah lebih dari cukup untuk hidup layak.

Tapi hasil ngobrol dengan tetua adat setempat, secara historis adat denda semacam itu sebenarnya tidak ada baik dalam budaya Maanyan ataupun agama Kaharingan. Yang ada adalah adat pemalasan yang merupakan tradisi tolak bala saat ada kejadian tertentu, seperti orang meninggal tidak wajar, wabah penyakit dan sebagainya. Adat pemalasan ini dilakukan dengan mengorbankan 2 ekor kerbau dengan cara ditusuk-tusuk pakai tombak oleh tokoh adat untuk kemudian kepalanya dikuburkan di tempat kejadian. Seperti ketika ada teman meninggal masuk crusher, kepala kerbau ditanam di dekat crusher sebagai penolak bala.

Adat pemalasan juga digunakan untuk menebus janji yang tak bisa ditepati. Seperti ketika perusahaan menjanjikan PLTU bisa operasional pertengahan Nopember kemarin ternyata meleset, perusahaan kena denda untuk membiayai upacara adat pemalasan ini. Adat yang sama juga dilakukan ketika ada karyawan kesurupan.

Yang sedikit melenceng dari adat pemalasan adalah acara judi. Dalam keyakinan Kaharingan judi yang dilakukan merupakan ritual sebagaimana pernah aku ceritakan di jurnal adat judi. Pada kenyataannya, judi ini sudah menjadi bisnis yang bersembunyi di balik adat. Dimana seharusnya judi hanya boleh diikuti oleh orang Kaharingan, sekarang orang darimanapun akan datang beramai-ramai bertaruh atau menyabung ayam tanpa takut digerebek polisi.

Mungkin karena faktor geografis, masyarakat sekitar pelabuhan yang mayoritas dihuni suku Banjar yang muslim pun ikut menggunakan adat tanam kepala kerbau ini. Bedanya di sana kerbau disembelih bukannya ditusuk-tusuk tombak sampai mati.

Aku sendiri tak pernah mau mengomentari adat tersebut dengan kacamataku sendiri. Bagaimanapun juga itu merupakan kearifan lokal yang harus aku sebagai pendatang hormati. Aku ambil positifnya saja dimana aku bisa sedikit berganti menu, sebulan sekali makan rendang kerbau tidak terus-terusan makan indosiar. Makanya kalo temen-temen di mess sudah mulai mengeluh tentang menu makan, selalu muncul keinginan agar ada karyawan yang kesurupan biar dipotongin kerbau.

Budaya Indonesia memang teramat kaya...

Read More

12 Desember 2011

Salah Persepsi

Ke desa terdekat untuk cari perbekalan ke lapangan, aku mampir ke warung dekat SD di pinggir hutan yang lagi istirahat. Saat keluar warung, ada anak SD yang mau jajan sambil bernyanyi-nyanyi gembira, "no gadis no gadis bos yuk..."

Engga tau kenapa aku jadi pengen nanya, "apaan no gadis..?"
Eh, tuh anak malah nyolot pakai aksen Dayak Maanyan, "haha rapuiii... gaul dong om..."
"Nobody tau... Bukan no gadis..."
"Biarin, yang penting hepi..."
"Seneng amat, lo..? Abis ketiban duren ya..?"
"Ya seneng lah. Aku baru jadian kemaren.."
"Hah..? Tuyul jadi-jadian maksudnya..?"
"Yaelah, jadian sama cewek kelas 3 om..."


Halah...
Anak sekarang baru kelas 4 SD dah mulai tahu kata "hamen hanyu" dan nyanyi lagu-lagu yang bikin orang lain bingung dan dia sendiri ga tahu. Ditanya lagu anak-anak malah diketawain katanya ga gaul.

Mungkin ini salah satu kesalahan persepsi umum dimana warga pedalaman yang terisolir sering dianggap terbelakang. Pengelolaan negara ini memang membuat mereka terasing dari dunia luar. Tapi segala keterbatasan itu justru membuat mereka menjadi lebih dibandingkan warga pulau Jawa yang segalanya tersedia.

Aku yang katanya orang Jogja saja mana pernah lihat tipi macam HBO, CNN atau MTV karena memang disana cukup pakai antena huhahep. Di tengah hutan seperti disini, yang namanya tipi satelit sudah jadi barang yang umum. Tak usah heran kalo ada rumah di sini yang di Jawa dikategorikan gubuk sawah, di belakang rumah terpasang parabola berbayar dan genset. Sesuatu yang masih dianggap mewah oleh sebagian masyarakat di pulau Jawa.

Kalo ibu-ibu di Jawa lagi ngumpul paling banter ngobrolin sinetron, disini sudah umum anak kecil pada cerita tentang film asing yang masih bisa dibilang baru dan belum sempat tayang di stasiun tipi lokal. Dari sisi pergaulan, abege disini sudah tak kalah dengan mereka yang di kota. Bedanya cuma disini masih banyak norma berlaku, jadinya tidak terlalu terbuka dipamerkan didepan umum.

Kasus kesalahan persepsi ini juga sama dengan sebagian orang luar Kalimantan yang sering mengganggap orang Dayak sebagai sosok yang menyeramkan, kejam dan sadis walau gadisnya cantik-cantik. Padahal kenyataannya tidak begitu. Orang Dayak sama saja dengan orang dari suku-suku lainnya dimana selalu ada orang baik dan ada juga yang jahat. Soal mereka kelihatan dominan, itu bukan masalah kesukuan atau pribadinya semata, melainkan karena budaya yang punya kawasan. Merasa yang punya wilayah, wajar kalo kadang ada yang sedikit arogan ke pendatang.

Yang semacam ini berlaku juga di seluruh dunia. Tak usahlah membedakan etnis. Masih satu suku saja, kalo misalkan ada cowo yang ngapelin cewek kampung lain, cowok-cowok setempat suka malakin yang ngapel. Contoh lainnya adalah ketika komendan security disini yang memang jawara diajak ke kantor Jakarta. Di hutan dia memang jagoan. Tapi begitu lihat preman-preman Jakarta, hilang juga taring dia. Yang ada malah dia bilang malas pulang, gara-gara malamnya aku ajak jalan-jalan ke seputaran Hayamwuruk.

Orang Dayak suka dianggap kasar, aku pikir cuma karena masalah kebiasaan bicara saja. Namanya di hutan mana bisa bicara sambil bisik-bisik seperti priyayi kraton Jogja. Tak bisa kita mengatakan seseorang menakutkan hanya karena gaya bicara tanpa melihat isi hatinya. Contohnya ada satu pengalaman yang mungkin pernah aku tulis di jurnal sebelumnya.

Saat balik dari pelabuhan hujan turun dan membuat jalan di tengah hutan hancur mumur seperti sawah. Padahal transmisi penggerak 4 roda mobilku lagi bermasalah. Mau ga mau aku muter lewat jalan kampung dengan resiko jarak tempuh lebih jauh. Karena mengejar waktu, aku agak ngebut sambil memikirkan resiko nabrak anjing atau babi yang bisa kena denda sampai 3 juta rupiah.

Menjelang tikungan, dari depan nongol sepeda motor yang agak ngebut juga. Karena jalanan sempit, pengendara motor sampai turun dari aspal dan melonjak-lonjak melewati tanah tidak rata di bahu jalan sambil teriak, "anjiiiiing...!!!"

Dikatain anjing, aku injak rem dan hampir ikut teriak. Belum sempat terucap, selepas tikungan ada 2 ekor anjing yang lagi bobo manis di tengah jalan. Aku pun banting setir dan nyungsep di selokan. Untung mobil sudah agak lambat dan selokannya dangkal sehingga tidak terjadi kerusakan yang berarti.

Sebelum melanjutkan perjalanan, tak urung aku terdiam sejenak memikirkan kejadian itu. Andai saja pengendara motor itu putri Solo yang lemah lembut dan penuh sopan santun, mungkin aku sudah dikeprukin penduduk dan harus bayar denda adat. Dengan itu aku jadi makin mengerti, bahwa yang kasar belum tentu jahat.

Nah kan...
Masih saja ngelantur kalo nulis
Dont judge book by the cover
Buku jangan dimasukin koper
Dibaca dong...




Read More

11 Desember 2011

Kabur

Hal yang membosankan saat big bos datang ke site adalah acara nonton meeting yang berkepanjangan. Awalnya sih beneran rapat yang baik dan benar. Tapi ada satu kebiasaan orang-orang disini yang jadi rajin setor muka walau sebelumnya jarang nongol di kantor. Padahal si bos punya kebiasaan kalo lihat seseorang trus inget sesuatu, pasti deh belok obrolannya.

Seperti misalnya aku lagi ngomongin soal aplikasi payroll. Butuh masukan dari staf ahlinya, beliau suruh aku panggil HRD, keuangan, pajak dan lainnya yang berkaitan. Pas aku nelponin mereka ada orang pelabuhan lewat. Inget sesuatu, dipanggil tuh orang dan terus saja ngobrolin proyek dermaga sampai lupa agenda sebelumnya. Sampai-sampai orang-orang yang aku panggil komplen lewat sms, "sialan lo, orang lagi sibuk malah disuruh nonton meeting..."

Ruang meeting yang bebas gangguan semacam itu sebenarnya ada di kantor. Engga tahu kenapa si bos lebih suka ngumpulin orang di ruang santai guesthouse yang memang bisa menampung banyak orang. Cuman disitu kan sedikit terbuka jadinya orang lalu lalang di sekitar juga gampang dilihat. Itu masalahnya kenapa kalo ada meeting aku pasti ikutan mumet walau ga jadi peserta. Soalnya mereka meeting tepat di depan pintu kamarku. Mana enak kalo harus bolak-balik keluar masuk kamar apalagi pake kolor doang.

Kalo pas di kamar trus kejebak di luar ada meeting sih gampang ngakalinnya. Aku perkirakan saja siapa pesertanya. Kalo orang-orang yang pasti bawa laptop dan butuh internet, aku remote saja router dan putusin saja koneksinya. Ga butuh waktu lama pasti aku dipanggil keluar dan bisa pura-pura utak atik lalu kabur keluar ruangan. Kalo pesertanya orang-orang gaptek, mau ga mau aku harus rada ekstrim ngonsletin listrik dari colokan. Soalnya biarpun bagian elektrikal ada disitu, kalo listrik mati pasti aku yang diteriakin sama si bos. Jadi ada alasan untuk ke ruang genset lalu ngabur.

Yang belum ketemu tuh trik untuk masuk kamar tanpa rasa sungkan lewat depan peserta rapat. Si bos tuh engga punya udel. Selalu siap dengan antrian orang dan masalah dari pagi sampe pagi lagi. Mumet kalo sudah jam mandi. Handuk sih ada di jemuran gampang diembat. Sabun bisa pinjem temen apa nyolong di dapur. Tapi pedalaman mana bisa pinjem punya ibu dapur.

Parahnya aku sering lupa waktu keluar kamar, letop apa hape tidak dibawa. Jadinya di luar cuma bisa manyun doang duduk di bawah pohon pinggir sungai sambil meremas-remas tisu...

Maap ya belum bisa bw
Masih pake colour neh...

Mobile Post via XPeria



Read More

10 Desember 2011

Rapat Yang Loyo

Bete abis kalo big bos datang ke site. Dari pagi sampe pagi lagi isinya cuma meeting dan meeting berkepanjangan. Pokoknya kaya PDIP lah. Rapat-rapat terus tapi ga pernah ada keputusan. Ini kebalikan saat bos lagi di Jakarta. Persis PKB yang tiap hari kirim keputusan melulu ke site tanpa ada rapat koordinasi.

Mau iseng-iseng online juga ga enak sama si bos. Apalagi kalo ngeblog apa buka pesbuk. Tar malah dikaplokin temen-temen ketauan bisa ngakses sementara yang lain diblokir ga bisa buka jejaring sosial. Saat bete sudah hampir mencapai puncaknya, ndilalah poto si Ncip mampir ke hape dapat ibue kirim. Lumayan bisa jadi rada semangat lihat tampang terbaru si anak gundul.

Bikin heran juga lihat si Ncip yang makin bulet sudah tengkurep. Aku jadi ingat si Adi yang baru tengkurep umur 4 bulan dan bisa jalan di umur 10 bulan. Ncit tengkurep umur 3 bulan dan 8 bulan sudah jalan. Si bungsu kayaknya ga mau kalah dengan kakak-kakaknya, makanya umur 2 bulan sudah tengkurep dia.

Aku ga tahu apa hubungannya usia ortu dengan kemampuan dan kondisi fisik anak. Aku tidak mengeneralisir, tapi cukup banyak terjadi di sekelilingku dimana anak kedua biasanya lebih dari yang pertama. Yang ketiga juga biasanya lebih dari yang kedua. Makanya sering banget muncul istilah "ayu adine..."

Dibanding saudara-saudaraku, aku bisa dibilang paling item kulitnya. Adikku lebih putih apalagi si bungsu. Makanya waktu kecil aku suka diledek katanya bukan anak ortu. Dapat nemu di galengan sawah makanya beda sendiri. Apa mungkin karena usia orang tua makin dewasa yang menyebabkan kebanyakan anak makin ke bawah makin baik. Atau karena anak pertama tuh terlalu getol dalam ngebikinnya jadinya berakibat hasilnya kurang bagus. Beda kali dengan adik-adiknya yang mungkin aja sudah tidak begitu semangat makanya tidak terlalu anyak adonan. Tapi sekali lagi ini bukan pembahasan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Sekedar utak atik gatuk ga jelas doang.

Kalo emang ada kaitannya dengan proses penyetekan bibitnya, aneh aja saat semangat sudah mulai berkurang hasilnya malah lebih bagus. Padahal dalam kenyataan sehari-hari, saat melihat yang bagus-bagus justru semangat makin menyala-nyala. Persis seperti kedatangan bos yang biasanya diiringi pasukan bening-bening dari kantor pusat, kali ini cuma diiringi bodigar yang boro-boro bisa dipake cuci mata oleh warga hutan.

Mau dibilang apa juga yang namanya makhluk manis tetap saja dibutuhkan sebagai penggembira. Buktinya tanpa keberadaan mereka, meeting-meeting kali ini rasanya banyak yang loyo ga seperti biasanya. Rapatnya sih sama kayak biasanya yang kayaknya tahu masuk otak tahu engga materinya. Tapi minimal pesertanya jadi betah duduk berlama-lama di ruangan dan jarang menguap.

Apa justru itu yang jadi penyebab kenapa kali ini tidak ada dharma wanita yang dibawa ke hutan. Bisa jadi kesalahan fungsional semacam ini pula yang jadi sebab kenapa kantor pos membatalkan rencana penerbitan perangko bergambar Julia Peres dan Sandra Dewi. Kayaknya mereka takut kaum lelaki akan menjilat di sisi yang salah saat mau nempelin perangkonya.

Yah sudah mulai ngelantur
Selamat beraktifitas saja deh
Tetap semangat jangan kaya aku ya...

Mobile Post via XPeria
Read More

08 Desember 2011

Tren Bapak Syahrintoisme

Sudah beberapa hari ini postingan juragan Pacul tak pernah lepas dari cerita tentang bapakmu. Entah lagi jatuh cinta lagi merangkap kangen sama bokapnya atau memang lagi kejar setoran tayangan kuiknot ga begitu jelas alasannya. Padahal kalo memang hobi ngoleksi bapakmu, apa salahnya yang komen tidak boleh nulis yang lain selain tentang bapakmu.

"Bapakmu buatan China ya..?"
"Lho kok tahu...?"
"Pantesan pas aku bilang cinta, kamu malah buang muka sambil bilang nexian delo..."
"Oooo kirain karena bapakku suaranya kenceng, dual sim, kiped qwerty, trackball..."
#podo wae pekoknya...


Sesuatu yang sedang menjadi tren memang sulit untuk dibendung. Suka tidak suka kita memang harus membiarkan semuanya mengalir dan tunggu sampai itu berlalu. Apalagi tren masa kini berputar begitu cepat dan instan sehingga orang pun segera bosan lalu melupakannya.

Seperti hape yang umumnya dulu segede bata. Orang berlomba-lomba untuk bisa memiliki hape yang paling mungil agar dibilang keren. Tak perlu waktu terlalu lama, tren kembali berbalik arah dimana makin besar hape makin besar pula tingkat gengsinya. Beberapa waktu lalu orang merasa keren bikin id online yang 4n3h". Seiring pengembangannya dari sekedar id menjadi sebuah bahasa yang disebut 4l4y, mereka yang dulu bangga dengan id nya mulai merubahya menjadi id yang bersahaja.

Hal yang sama pun akan terjadi dengan bahasa ajaib anak-anak baru gede itu. Yang merasa tak suka, tak perlulah terlalu banyak menghujat sejauh tidak merasa terganggu secara pribadi. Toh itu hanya sekedar tren yang sebentar lagi juga lenyap seperti bahasa gaul yang sempat sampai dibuatkan kamusnya oleh Deby Sahertian dulu. Memang bahasa gaul tak sepenuhnya punah, tapi penggunaannya semakin menyempit karena sekarang bahasa itu identik dengan bahasa kaum waria.

Yang tak mau mereka pergunakan mungkin cuma satu yaitu penggunaan gelar alm di belakang nama mereka. Secara umum alm diartikan almarhum untuk jenis laki-laki dan almarhumah untuk gender perempuan. Kaum transgender menolak pengartian alm di kalangan mereka sebagai alumunium, dengan alasan mereka itu banci bukannya panci.

Satu tren lain yang aku dengar banyak penganut dan penentangnya adalah bahasa bergaya Syahrintoisme. Banyak yang mencemooh pengguna Syahrintoisme sebagai kata yang tak jelas artinya. Namun banyak pula pengikut fanatik yang selalu menyisipkannya dalam setiap ucapan.

"Heh Syahrinto, kamu habis ditonjok orang ya..?"
"Alhamdulillah yach, cuman benjol dikit."
"Gimana rasaya ditonjok orang..?"
"Hmmm... sesuatu banget..."
#sambil mendesah...


Yang agak parah mungkin bila isme tersebut merasuk ke kalangan santri. Bisa-bisa pak kyai ngomel karena wirid sehabis shalat mendadak berubah jadi, "subhanallah, alhamdulillah, sesuatu... subhanallah, alhamdulillah, sesuatu..."

Pro dan kontra adalah hal yang sesuatu banget wajarnya. Sejauh tidak saling hujat atau saling tonjok, biarkan sajalah. Toh aku yang sejujurnya tak suka dengan gaya bersyukur ala Syahrini itu, kadang suka juga kalo ibue sudah menyanyikan lagunya Syahrono.

Aku tak biasa...
Aku tak biasa bila ku tidur tanpa...
Belalaimu...


#nunggu cuti bulan depan kok lama amat yach..?

Read More

07 Desember 2011

Tidak Mandi

Akhirnya dapat kendaraan untuk balik ke mess walau harus offroad menembus hutan dibawah guyuran hujan sampai 3 jam. Sepanjang perjalanan yang kepikiran cuma mandi, makan lalu bobo manis sambil rikues semoga mimpi indah. Tapi boro-boro bisa mimpi indah. Baru nyampe mess sudah disambut dengan hangat sama temen, "sekalian mandi hujan aja. Gada air disini..."

Gada air tuh bukan artinya kering kerontang. Di mess tengah hutan ini memang beda dengan yang di pelabuhan. Kalo musim hujan, air dari pompa pasti bercampur lumpur. Kalo ibu-ibu di kota suka mandi susu, aku disini mandi capuchino. Ga perlu luluran lagi kulit dijamin jadi mulus berdaki.

Kalo mikir soal mandi, jujur aku lebih betah di pelabuhan. Cuma masalahnya disana sinyal hape minta ampun susahnya. Jadinya rada susah kalo ibue sudah mulai membuatku teriris-iris lagu jadulnya Dewa 19. "semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya... huwoo huwoo..."

Padahal rindu itu tidak baik untuk kesehatan bisa menyebabkan impotensi dan gangguan kehamilan. Kelamaan dipiara tar jadi ga berdaya kemana mana tuh. Memang di pelabuhan ada jaringan internet ngebut yang bisa dipake cam to cam tanpa ngelag. Tapi ibue kan masih bertahan di kampung yang GPRSnya benar-benar leleted to you. Hape secanggih apapun disana cuma bisa buat nelpon dan sms doang.

Kembali ke soal mandi...
Daripada ga mandi, aku ambil air seember untuk dibiarkan dulu beberapa saat. Sambil menunggu lumpur mengendap, aku coba berorasi di depan warga mess yang lagi pada ngumpul di ruang tipi.

"Mandi itu biar apa, anak-anak..?"
"Biar bersih, pak guru..."
"Salah. Yang bener biar byur biar byur, begitulah bunyinya... Kakinya bertanduk, hewan apa namanya..."


Masih bergemblungria dengan warga mess, anak buah yang beberapa hari kemarin ikut ke pelabuhan kasih laporan.
"Pak, handuk kita kok ga ada di jemuran..."
"Kenapa..?"
"Ada yang nyolong lagi kali..."
"Emang handuk yang mana..?"
"Yang kita dapat ngembat di hotel waktu di Banjar kemaren.."
#pekok...


Hidup itu indah, teman
Kita bernyanyi saja lah
Tidak mandi sudah biasa...

Read More

06 Desember 2011

Salah Siapa

Si bos kasih instruksi aku pasang hotspot  di bakal pelabuhan tongkang baru biar awak tug boat bisa internetan dengan leluasa tanpa harus turun ke kantor. Sialnya beberapa hari diguyur hujan, tanah urugan menuju lokasi jadi super lembek. Mobil 4WD juga ga bakalan sanggup menuju kesana. Minta tolong operator alat berat ngantar malah ditunjukin excavator yang nyungsep terbenam lumpur tinggal kelihatan garukannya doang ngacung. Mau ga mau aku harus jalan kaki melihat lokasi dan mencatat koordinat untuk pemasangan towernya.

Dasar nasib lagi buruk, baru kelar ukur-ukur hujan turun lagi dengan lebatnya. Inget bekal kancut cuma tinggal yang dipake doang, langsung pontang-panting cari tempat berteduh. Alhamdulillah masih ada satu dua pohon yang belum digusur dan ada sinyal hape untuk teriak manggil sopir. Payahnya dikasih hujan begitu sopir ga berani mendekat dan nyuruh aku nyamperin ke tempat dia parkir di dekat rumah yang ada pohon asam besarnya.

Busettt
Jauh amat ke pohon asam besar dekat anak sungai
Aku bego-begoin masa ga berani lebih dekat lagi, dia tetep keukeuh ga mau ambil resiko nyungsep di kubangan. Sambil misuh-misuh aku nyebrang lautan lumpur menuju ujung perkampungan. Ada mungkin dua kilo berjalan terseok-seok sampai ke pohon asem dan jebul mobilnya ga ada. Lebih misuh-misuh lagi setelah aku telpon ulang, ternyata posisi dia cuma 500 meteran dari tempat aku nelpon pertama tadi. Dikomplen malah ngeyel dia, "bapak ga denger saya bilang pohon asam yang paling besar. Ngapain jauh-jauh ke pinggir sungai..?"

Sempat rame agak lama sampai akhirnya aku mudeng kalo dalam bahasa sini, yang dimaksud pohon asam adalah pohon mangga. Bilang dong dari tadi, manggaaa...

Hidup di daerah yang berbeda budaya memang sering bikin aku masuk jebakan betmen ga nyambung. Tak pernah jelas siapa yang salah dalam kasus-kasus semacam ini. Yang jelas budaya sabar dan besar hati harus jadi yang utama agar tidak sampai bonyok ditabokin orang.

Jangankan di Kalimantan. Awal datang ke Jogja yang sama-sama berbahasa Jawa saja aku pernah salah tingkah. Dalam kondisi dehidrasi berat aku masuk bangunan eksotik yang aku kira warung. Aku tanya ada jus mangga, es jeruk, kelapa muda dan semua yang seger-seger tidak satupun tersedia.

"Kalo mau air putih sih ada mas..."
"Pak, niat buka warung engga sih..?"
"Kok warung, mas. Ini rumah penduduk..."


Halah gedumbreng...
Mana aku tahu itu rumah penduduk
Wong didepannya ada papan bertuliskan "RM Karto Suwiryo.."
Tulis yang lengkap dong, Raden Mas Katrosontoloyo misalnya...

Read More

Ga Nyambung

Pagi-pagi sudah ada yang curhat
"Pak, kalo manusia sebenarnya kita dah cape banget ya..."
"Emang kita bukan manusia..?"
"Emang kita kerja nonstop gini manusiawi..?"


Aku cuma garuk-garuk kepala sambil bilang, 
"Untung aku bukan cewek.."
"Emang kenapa kalo cewek..?"
"Kalo pusing, ga bakalan bisa garuk-garuk kepala.."
"Apa susahnya garuk kepala..?"
"Bukannya susah. Tapi mana mau cewek merusak rambut..?"
"Kan ada shampo sunsikil yang bikin rambut rontok jauh berkurang..."
"Ya iyalah. Mana ada rambut rontok jadi bertambah...?"
"Jaka sembung naek motor dong, pak.."
"Apaan..?"
"Ngojek dong..."

Ga nyambung...
Mungkin itu sudah jadi karakterku di banyak hal. Terserah orang mau bilang apa. Yang pasti aku selalu bisa menggunakan kekurangan itu untuk menghibur pasukanku di saat moral mereka mulai melemah menghadapi pekerjaan yang bertubi-tubi. Bagaimanapun juga otak manusia mudah ditipu atau bahasa kerennya dihipnotis. Hipnotis sendiri menurutku bukan sebatas apa yang dilakukan si kuya saat ngamen di mol. Tapi juga pada upaya pembelokan fokus otak dari hal yang ga enak menjadi nyaman walau kenyataan yang dihadapi masih saja sama pahitnya.

Aku sendiri sebenarnya sebel dengan orang-orang yang begitu seneng menunda pekerjaan. Begitu dengar big bos mau datang ke site, langsung sibuk pengen pekerjaannya beres tanpa cela. Karyawan bagian infrastruktur yang akhirnya pontang-panting bak selebritis lagi kejar tayang.

Pusing juga kalo hape dah kebanjiran sms

Pak server error ya..?
Aplikasi di letopku ga jalan...
Kok ga ada sinyal pak..?
Ada virusnya nih


Sms apaan sih..?
Emangnya aku dukun yang bisa tahu segalanya..?
Apa susahnya kalo sms tuh kasih nama dan lokasi dimana. Syukur-syukur nelpon biar lebih jelas permasalahannya. Aku harus jawab apa saat terima sms tanpa identitas yang cuma berisi sebaris kalimat, "kapan selesainya, pak..?"

Sering dipaksa komunikasi dengan orang mumet itulah sebabnya kenapa aku lama-lama makin ga nyambung. Tapi sebuah kekurangan tidak selamanya harus menjadi kelemahan. Buktinya orang-orangku selalu bisa memanfaatkan ketidaknyambungan itu sebagai sebuah hiburan disaat lelah melanda.

Pokoknya segala hal harus dijadikan ajang untuk bersyukur
Punya duit bersyukur, ga punya duit juga tetap disyukurin
Sukurin kere lo...

Dah ah cape...
Kebelet pulang ke mess
Baju ganti dah habis kehujanan terus

Mobile Post via XPeria


Read More

04 Desember 2011

Pilem Donlotan

Mau mindahin data lumayan banyak, baru ketahuan kalo 2 hardisk eksternalku sudah kehabisan tempat penuh donlotan pilem. Aku memang rutin donlot setiap ada pilem baru nongol di bioskop. Biasanya malam hari saat internet di kantor lagi ga ada pemakai. Tinggalin tidur, pagi hari tinggal donlot teksnya dan siap tonton.

Cari donlotan pilem kita akan dikasih beberapa pilihan versi. Kalo pilem baru sehari rilis pasti dalam format cam, alias hasil todongan pake handycam di bioskop. Rada "riweuh" kalo yang ini. Kadang gambarnya miring-miring, ketutup orang lewat atau suara tepuk tangan penonton terekam. Trus buat yang oon bahasa inggris kaya aku, seringnya jadi nonton gambar doang karena teks bahasa Indonesia biasanya belum tersedia di tempat donlot subtitle.

Versi kedua adalah TS atau telesync. Video memang kualitas cam juga, tapi untuk audio sudah didubbing dengan audio aslinya sehingga lebih bagus dan tidak terganggu suara-suara aneh dari penonton bioskop. Versi yang lebih bagus adalah DVDRip, BRRip dsb yang merupakan hasil ripping dari DVD atu blueray makanya kualitasnya juga oke. Karena DVD selalu muncul setelah di bioskop sepi, jadinya untuk bisa donlot kualitas ini perlu bersabar sejenak.

Tidak ada standar kualitas untuk barang donlotan gratis baik itu cam, TS atau Rip karena memang ilegal. Paling enak agar tidak salah donlot, jangan donlot dari blog tapi forum. Di forum itu cari komen-komen mereka yang sudah donlot. Biasanya suka kasih keterangan kualitas misalnya A8/V9/M5. Ini artinya kualitas audionya 8, video 9 dan movie 5. Tapi ini juga sangat subyektif apalagi untuk penilaian M. Ada baiknya melihat beberapa komen tentang kualitas terlebih dulu agar bisa yakin. Yang paling aku suka dalam hal kualitas adalah hasil ripping AXXO. Coba saja cari donlotan pilem berlabel AXXO, bedakan dengan yang lain.

Tempat favoritku buat cari pilem atau game di thepiratebay.org. Bukan direct donlot tapi pakai torrent. Kalo yang belum paham torrent, bisa baca tulisan lama disini. Untuk cari teks film aku biasa di subscene.com. Search saja trus cari yang bahasa Indonesia. Kalo belum ada tunggu saja beberapa hari. Kalo mau maksa, cari saja yang bahasa Inggris lalu translit pake google. Jadi ancur memang, tapi lumayan lah daripada nonton gambar doang. Pilih-pilih dulu mana yang bahasanya sudah bener atau lihat komen-komen yang ada. Soalnya banyak teks yang mentah-mentah hasil translitan google jadinya nyebelin.

Format file teks pake ekstension srt, bisa dibuka pakai notepad kalo mau edit-edit. Urusan ngedit aku biasa pakai Gaupol yang memang khusus ngedit subtitle. Masalah yang paling sering aku temukan saat donlot teks adalah timingnya ga pas. Pemain pilemnya dah ngobrol, teksnya baru muncul besok atau sebaliknya. Itung saja pergeserannya berapa detik trus buka teks pake gaupol di menu shift. Tapi gaupol ini bawaan Ubuntu ya. Untuk versi windows aku ga tahu. Tapi pasti ada lah tool buat edit subtitle.

Balik ke soal hardisk penuh
Aku tuh jarang nonton pilem sendiri. Selesai donlot, aku biasanya nonton bareng ibue di rumah pakai proyektor biar berasa di bioskop. Habis itu file dihapus biar ga menuhin hardisk. Ini pulang 3 bulan sekali, donlot jalan terus tiap mau tidur. Mau nonton bareng temen-temen di mess rasanya ga enak, apalagi nonton sendiri. Pilem donlotan begini kan belum kena gunting LSF. Kalo pas ada adegan rada bikin tegang, bisa repot menurunkan tegangannya.

Nonton di bioskop aku kurang suka. Sejak jaman sekolah aku punya kebiasaan buruk suka ketiduran di gedung pilem. Makanya aku ga berani nonton sendiri takut ga ada yang ngebangunin. Eh, pernah ding sekali nonton di Ambarukmo plaza bareng ibue. Itupun karena penasaran katanya ada pilem rame yang katanya harus antri. Kebetulan stafku ada yang mau pesen tiket jadinya aku titip minta dipesenin juga. Karena pengen ngajak ibue mojok di bioskop, aku bilang, "beliin 2 di sudut. jangan lupa ya..."

Begitu tiket aku terima
Beneran di pojokan, tapi nomor A1 dan A25
Alias satu diujung paling kanan satunya ujung kiri...
#pekok...


Read More

03 Desember 2011

Begadang

Malem minggu di tanggal muda, mess menjadi sepi ditinggal warganya cari hiburan ke kota. Yang tersisa hanya kaum nocturnal yang memang lebih suka kerja di malam hari seperti pasukan programmerku. Buat mereka yang tak punya jam kerja reguler, malem minggu ataupun jumat kliwon emang ga pernah ada bedanya. Apalagi aku lagi punya banyak lemburan gara-gara internet mati kena petir kemarin.

Aku sendiri mungkin karena bawaan bayi, berkali-kali pindah kerja tetap saja tak bisa jauh dari kata begadang. Waktu di PLN bagian gangguan, malam hari merupakan jam sibuk ngurusin listrik mati. Jadi kenek bus Bandung Jakarta lebih banyak kebagian jalan malam. Masuk Telkom ditempatin di bagian service elektronik telepon umum yang juga lebih nyaman dikerjakan malam hari. Begitu dan begitu seterusnya sampai ketika usaha sendiri di rumahpun harus banyak-banyak kerja malam terutama ketika ngerjain desain grafis.

Mencoba beralih ke bagian lain yang bersifat non teknik agar bisa bobo malam dengan nyaman ternyata hanya sekedar harapan. Jadi marketing jualan baju sebentar doang di lapangan. Belum sebulan dah dipindah ke bagian pemasaran online melalui website. Bikin website di siang bolong mana enak. Loncat lagi dan dapat posisi di general affair. Eh, jebul sama saja karena banyak tamu perusahaan dari luar yang suka minta ditemani cari hiburan malam.

Pindah lagi kerja di galeri juga tak juga menyelesaikan masalah. Jam kerja mulai jam 10:00 sampai jam 20:00 cuma jadi teori diatas kertas doang. Cari seniman di siang bolong sama juga bohong. Nelpon mereka sebelum jam 12 siang, jangan harap akan selalu diangkat. Kalo nyarinya jam 2 pagi malah gampang ketemu.

Setelah punya istri, selalu pulang malam bukan alasan untuk langsung merem ketika tiba di rumah. Seharian urus kerjaan harus diimbangi urus istri juga. Apalagi ibue orangnya betah ngobrol. Jam 1 apa jam 2 baru kelar becanda sudah menjadi menu sehari-hari. Kecuali habis pergi keluar kota agak lama bisa tuh tidur sore, karena begitu anak tidur pasti ga sempat banyak ngobrol saking kangennya.

Mungkin memang sudah begini suratan takdirku. Berkali-kali berusaha merubahnya tetap saja belum ada hasil. Tapi aku tak pernah berkecil hati, karena tukang begadang itu termasuk orang yang disayang tuhan. Tuhan kan katanya ga pernah tidur. Berarti tuhan selalu menyertai kaum begadangers.

Hayo sapa yang suka melek malem..?

Mobile Post via XPeria

Read More

Karma

Pagi-pagi sudah sarapan ngurus teman yang ribut. Tidak sampai berantem sih. Cuma obrolan ringan antar teman yang lama kelamaan makin meruncing sampai ke status pesbuk. Mending kalo mereka rebutan nomer rekeningku mau balapan beramal. Ini mah ngebanding-bandingin agama. Sampai lebaran monyet juga ga bakalan ketemu. Katrok...

Kayak kurang kerjaan saja mikirin keyakinan orang lain. Agama mah urusan masing-masing sama tuhannya. Soal tuhannya apa terserah keyakinan pribadi tentang siapa yang dianggapnya maha kuasa. Toh kebanyakan orang pada ga konsisten dengan apa yang diucapinnya. Katanya tuhanku anu, tapi kenyataannya dia menuhankan duit. Gelar keagamaan tak pernah menjamin sikap seseorang bisa berjalan lurus. Contoh gampangnya ada di para pejabat kita. Banyak yang bertitel haji tapi korupsi ga pernah berhenti. Bolak-balik ke tanah suci bukannya jadi haji mabrur, malah jadi haji ngan tengik.

Setiap manusia perlu norma untuk mengatur hidupnya. Dan yang namanya norma bukan hanya yang berjudul agama. Terlalu banyak norma yang berbeda. Tapi sejauh tidak mengusik kehidupan kita untuk apa dibanding-bandingkan atau dipermasalahkan. Norma hanya bisa dipakai di lingkungan sendiri. Memaksa orang lain menggunakan norma yang kita anut merupakan sebuah kebiadaban. Seperti saat kita yakin dengan norma tentang aurat harus ditutup, tak bisa kita anggap penganut norma keterbukaan sebagai sesat. Lihat saja saudara kita di Papua yang normanya memang tidak mensyaratkan itu. Selama di sana tidak menjadi masalah, untuk apa kita yang cuma penonton meributkan.

Aku sendiri merasakan, janji-janji tentang akherat kadang tidak efektif untuk mengatur hidup sebagian orang. Itulah sebabnya aku menganggap agama adalah hubungan vertikal dengan tuhan semata. Untuk hubungan horisontal dengan sesama aku lebih suka mengelolanya dengan meyakini apa yang dinamakan karma. Karma selalu datang dibayar kontan tanpa harus menunggu aku mati terlebih dulu. Aku menjahati orang lain, maka aku akan dijahati orang lain juga walau orang yang aku jahati telah memaafkanku. Aku beramal jariyah berbaik hati ajak istri belanja ke mol, sampai rumah istri akan baik banget dan membalasnya dengan amal gairah.

Karma itu tak pernah salah alamat. Seperti ketika aku mengadakan uji kelayakan calon karyawan kemarin. Stafku yang melonco kandidat naik turun tower sambil hujan-hujanan besoknya kena flu berat. Aku bilang ke stafku agar tidak ngomel, karena itu karma habis ngerjain orang lain. Dibilangin begitu, dia malah jawab, "Kok aku yang kena. Aku kan cuma menjalankan perintah bapak..."

Aku cuma nyengir doang dan nyuruh dia istirahat di rumah. Habis itu dari pelabuhan laporan kalo internet disana mati. Aku pun meluncur kesana offroad menerobos hutan sejauh 2 jam perjalanan. Kirain cuma adaptor kebakar atau setingan error. Ternyata antena radio kena petir. Pasukan yang dibawa tidak ada yang berani naik dalam kondisi hujan. Daripada beresiko jatuh karena ga pede kerja di ketinggian 40 meter, mau ga mau aku manjat sendiri. Sudah besinya licin, ada aja masalah seperti alat jatuh dsb. Terpaksa naik turun beberapa kali sampai akhirnya internet kembali normal. Lega rasanya sudah bisa kembali ke mess. Tapi baru saja angkat junjung peralatan ke mobil, jegeeeer... petir kembali menyambar dan staf kantor nyamperin, "pak, internet mati lagi..."

Tapedeh...
Tapi paling tidak keyakinanku terbukti
Karma memang tidak bisa salah alamat...

Stop mikirin keyakinan orang lain yah...
Read More

02 Desember 2011

Indosiar

"Indosiarkah..?"

Sebuah ritual rutin yang dilakukan warga mess setiap kali jam makan tiba. Maksud dari pertanyaan itu adalah menanyakan menu yang ada di meja makan. Apabila menemukan lauk terhidang adalah ikan goreng mereka akan menyebutnya sebagai indosiar. Ikan memang baik dari sisi nilai gizi yang katanya lebih bagus daripada daging. Tapi kalo setiap hari nemunya ikan goreng terus, nafsu makan langsung melayang juga bagaikan ikan terbang stasiun tipi itu.

Kamp orang hutan yang jauh dari pasar dan ikan yang murah meriah disini menjadi sumber penyebabnya. Atau bisa jadi ikan merupakan salah satu makanan pokok penduduk setempat, sehingga tiada hari tanpa ikan. Bahkan di warung makan kota terdekat pun susah sekali mencari lauk sayur. Pernah waktu ngeluyur ke pasar ada bapak-bapak borong sayuran sampai menutupi stang motor bebeknya. Aku pikir dia punya warung yang menyediakan sayur. Pas aku tanya, jebul buat pakan babi. Siyal...

Benar-benar bikin kangen sama yang namanya warteg..

Mending yang pada punya gaji dan istri cuman dijatah sisanya. Dia bisa belanja stok makanan tambahan seminggu sekali. Kalo yang jatah jajannya mepet kaya aku, paling-paling beli ikan asin dan mie instan untuk acara "ngaliwet" di belakang mess kalo malem. Tak heran kalo badanku susut sampai 12 kilo dalam waktu hampir setahun.

Pernah nyoba refreshing menu di warung padang pas bisa turun ke kota. Beneran bisa makan dengan lahap. Tapi habis itu, sampe 2 hari napsu makan ga mau balik ketinggalan di warung padang. Setiap masuk ruang makan di mess, perut mendadak kenyang melihat potongan kepala indosiar nongol di panci. Makanya buatku, makan di warung padang sangat tidak baik untuk kesehatan. Bisa menyebabkan impotensi, gangguan jantung, kehamilan dan yang pasti dompet.

Komplen tinggal komplen, realisasinya ga pernah ada. Maksa turun ke kota terus bisa bikin perekonomian negara bangkrut. Apalagi harga-harga disini bisa dua tiga kalinya harga makanan angkringan di Jogja. Jadinya ya kembali ke selera asal. Ikan asin sama kecap yang lebih bisa merangsang selera.

Nasinya juga susah diterima bala kurawa cacing aku. Biasa beras Jawa yang pulen, susah juga menerima beras Banjar yang keras. Meminta ganti jenis beras, hambatannya tetap sama dengan indosiar. Orang sini kalo makan nasi yang lembek katanya ga kenyang. Mau ga mau karyawan pendatang harus menerima apa adanya. Yang punya kawasan kan lebih kuasa. Lagian mengalah kan bukan berarti menang dan selalu berefek positip. Buktinya dietku makin sukses.

Kalo mau enak pas di lidah memang harus pulang kampung. Di rumah yang aku bisa minta apa saja ke ibue asal duitnya ada. Dan kalo ngomongin soal ibue, aku jadi ingat pertanyaannya kenapa aku pengen segera menikah.

"Aku ingin menikah karena bosan makan sendiri, masak sendiri, nyuci sendiri dst dst. Repot..."
"Padahal aku malas buru-buru menikah juga karena alasan yang sama. Repot..."

Read More

01 Desember 2011

Penerimaan Karyawan

Beberapa waktu lalu aku mengajukan permintaan ke HRD membentuk tim baru untuk menambah pasukan yang ada. Tim yang lama memang sudah sangat solid. Namun aku merasa perlu untuk menyegarkan pasukan agar semangat bisa tetap 45. Dalam acara kaderisasi ini, aku tak begitu mementingkan masalah skil. Yang lebih aku utamakan adalah penanaman sikap kepemimpinan dan kekompakan tim. Kemampuan teknis gampang dipelajari, tapi bikin tim yang solid susahnya minta ampun.

Sebagai orang teknik, aku tak bisa mendidik orang menjadi romantis, puitis ataupun nylekuthis. Lebih banyak aku gunakan bahasa matematis yang kata orang bahasa paling universal. Aku tak peduli gaya bahasa itu jarang dipakai oleh para pemimpin bangsa ini. Yang jelas aku tak mau orang-orang didikanku bersikap seperti mereka, yang tak pernah mau belajar matematika sampai tuntas. Buktinya bisa dilihat, mereka begitu pintar dalam penambahan, pengurangan dan perkalian. Namun dalam hal pembagian mereka seringkali dapat nilai merah. Padahal prinsip kepemimpinan buatku lebih dominan di masalah bagi membagi ini. Paling tidak seorang pemimpin harus bisa membagi tugas, wewenang, kepercayaan dan juga dalam hal pendapatan.

Kemarin sudah ada kandidat karyawan yang akan dijadikan pasukanku. Seperti biasa setiap kali buka lowongan IT, walau aku bilang kebutuhanku adalah staf IT support untuk di lapangan, yang masuk kebanyakan minta jadi programmer. Payahnya ketika ditanya bisa program apa saja, rata-rata cuma mahir di visual basic dan kurang memahami php. Padahal sistem yang sedang aku bangun adalah aplikasi berbasis web.

Makanya banyak yang ngeper ketika tes pertama yang aku berikan adalah manjat tower radio link dan bertahan diatas barang 10 menit. Bukannya lagi nyiksa anak orang, tapi ini soal keselamatan kerja nantinya. Aku ga mau ketika mereka kerja nanti ada yang jatuh karena pusing kepala kerja di ketinggian. Kalo di tes ini lolos, baru aku uji kemampuan codingnya. Bukan apa-apa, aku memang lebih suka memiliki pasukan dari orang-orang lapangan walau nantinya dia kerja di ruangan. Pengalaman membuktikan kalo orang lapangan solidaritasnya lebih tinggi dibanding mereka yang sejak awal memang menyeting dirinya menjadi orang kantoran.

Selama tes itu, aku hanya menguji kemampuan teknis saja. Tes lain-lain aku serahkan ke HRD. Tes non teknis, terus terang aku kapok gara-gara jaman pramukaan dulu. Waktu ada pemilihan ketua dewan saka, aku ditugaskan untuk ngasih psikotest kepada 3 calon. Di salah satu tes ada satu tugas untuk membuat kata-kata yang dibolak-balik berarti sama.

Kandidat pertama menjawab "race car". Wokedeh, race car dibolak balik juga race car walau pemisahan katanya beda. Yang kedua menjawab "kasur ini rusak". Ok seep, dibaca dari kanan dan kiri sama. Parah yang terakhir, dia menulis "muka kamu rusak..."

"Jawabnya yang bener dong..."
"Itu bener banget, kakak. Dilihat dari kanan kiri atas bawah sama..."
"Sama dari hongkong...?"
"Coba kakak ngaca deh, ngacaaa, kak...."


)*(&^%$#@!^*%#...

Mobile Post via XPeria
Read More

Desember Optimis

Orang boleh bilang ada badai bulan Desember atau Desember kelabu atau ga enak Desember lainnya. Tapi bagiku setiap bulan adalah sama. Aku sudah kapok mengkait-kaitkan suasana hati dengan nama-nama bulan. Ingat jaman pacaran dulu aku pernah mencoba sok romantis berpuisi mengatasnamakan Desember.

Desember kelabu telah datang
Tanpa dirimu semuanya menjadi gelap
Angin berhembus kencang
Awan hitam berkumpul
Petir menyambar-nyambar
Hujan turun sehari-hari...


Deklamasi itu kemudian tak pernah bisa aku selesaikan karena keburu dipotong, "itu puisi apa ramalan cuaca, mas...? #pekok..."

Apapun bulannya, minumnya apa aja yang ada di dapur. Aku tak mau pusing lagi mikirin nama-nama bulan. Yang kadang mengganggu adalah arti Desember yang kata orang Jawa "gede-gedene sumber" alias banyak hujan. Sedih juga jauh dari rumah saat cuaca banyak ademnya seperti sekarang ini. Beda lagi kalo pas di rumah, masalah dengan bulan hanya ada pada saat bulan mendatangi istri saja. Ini kebalikan sama ibue yang malah pusing kalo sampai terlambat bulan. "Dah cukup jangan nambah lagi, cape ngurusnya anakmu bandel-bandel semua..."

Masuk awal bulan wajah teman-teman di tambang juga berubah total dari bentuknya seminggu terakhir kemarin. Orang-orang hutan punya jadwal tetap di hari minggu awal bulan untuk turun ke kota. Bilangnya sih cuma mau ambil gaji di ATM dan kirim ke rumah. Tapi yang aku dengar sepanjang perjalanan ke kota, jarang yang membicarakan anak istrinya. Rata-rata sibuk beradu pendapat dengan teman satu mobil tentang rumah makan atau tempat pijit yang enak. Kalo sudah begitu aku seringnya cuma bisa "ndlohom" karena gajiku langsung ke rekening istri dan perlu waktu sampai uang jajanku masuk rekeningku.

Egepe deh.
Toh aku punya kebahagiaan rutin tersendiri di pagi hari awal bulan
Yaitu ketika istri bilang, "gajian dah masuk yah. mmmmuaahhh..."
Sensasi rasanya berbanding terbalik dengan akhir bulan
Dimana saat aku towel-towel istri kadang jawab, "mmmmmooohhh...."

Selamat menjalani aktifitas di Desember optimis

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena