30 September 2010

Jegingger

Sebenarnya, sebelum pemenang lomba nulis ngapak diumumkan aku pengen kasih resensi terlebih dulu tentang novel Jegingger yang jadi hadiahnya. Tapi sejak aku pulang ke Jogja, novel itu langsung dikelonin istri ga bisa lepas. Lagi nenenin Citra saja sambil baca.

Novel Jegingger setebal 266 halaman ini berukuran 18x26 cm, diterbitkan oleh Yayasan Swara Hati Banyumas. Novel terbitan tahun 2010 ini merupakan versi bahasa Banyumasan dari Bekisar Merah yang sudah lebih dulu terkenal di dunia pernovelan menyusul Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Dicetak menggunakan kertas HVS dibungkus hardcover, novel ini dibuat terbatas hanya 2000 edisi. Makanya harga novel ini dibandrol 80ribu dan 60 ribu untuk edisi kertas koran, jauh lebih mahal dibanding versi bahasa Indonesia atau bahasa asingnya.
Read More

Standar Alat Kesehatan

Mengantar Citra imunisasi ke puskesmas, aku melihat ada ibu-ibu yang sedikit berdebat dengan petugas kesehatan. Sambil pura-pura cuek aku bisa menangkap topik obrolan mereka.

Katanya si ibu biasa menimbangkan anaknya di posyandu dan grafiknya terus meningkat setiap waktu. Karena tidak bisa ke posyandu, si ibu bawa anaknya kontrol ke puskesmas. Ternyata di timbangan puskesmas bobot badan anaknya turun. Petugas kesehatan menganggap penurunan itu bisa saja karena masalah kesehatan, sedangkan si ibu ngotot mengatakan anaknya sehat. Memang saat itu tidak terjadi perdebatan panjang lebar, karena keputusannya anak akan ditimbang ulang pakai timbangan posyandu.

Sepintas kelihatan sepele akibat dari kalibrasi timbangan yang tidak sama standarnya itu. Tapi bila itu saja bisa membuat orang salah analisa, kenapa belum ada orang yang berusaha mengangkat masalah itu ke permukaan. Dari timbangan saja sudah berakibat begitu, bagaimana bila yang dianalisa adalah penyakit yang berat. Masa kasus dokter salah obat harus terus terulang.

Layanan kesehatan yang kurang bagus di negeri ini memang sudah bukan rahasia lagi. Tapi apa salahnya sih kita mulai memperbaiki dari hal yang kecil dan mudah dulu. Seumur-umur kayaknya aku belum pernah dengar dinas metereologi mengadakan inspeksi alat ukur ke puskesmas. Apakah hanya karena timbangan kesehatan tidak digunakan untuk jual beli sehingga tidak disentuh. Padahal ini urusan manusia dan kesehatan yang nilainya kadang tidak bisa dibeli dengan uang.

Pinjem istilah di iklan tipi, mari kita perbaiki...

Siaran langsung dari Puskesmas Kotagede

Mobile Post via XPeria
Read More

29 September 2010

Bersama Ahmad Tohari

Setelah tertahan sehari di Purwokerto, baru sore ini aku bisa meluncur ke Jatilawang bersama Grontol dan Komplong. Tujuan utamaku menemui Ahmad Tohari adalah mengambil novel Jegingger untuk hadiah lomba nulis ngapak yang akan ditutup tanggal 30 besok. Selain itu aku pinjam juga novel Ronggeng Dukuh Paruk versi ngapak untuk diperbanyak dengan seijin beliau karena itu tinggal jimat satu-satunya yang tersisa. Kalo mau yang edisi bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Korea atau bahasa asing lainnya malah masih ada stok.

Yang menarik dari sosok Ahmad Tohari adalah semangatnya "nguri-uri" budaya daerah sampai go internasional. Aku cuma bisa terkagum-kagum dengan kemauannya menulis sejak tahun 1971 yang baru bisa dimuat di Kompas pada tahun 1979. Delapan tahun bukan waktu yang pendek. Aku saja yang ngeblog baru beberapa tahun sudah mulai ogah-ogahan.

Padahal kalo mau melihat hasil kegigihan beliau, kita bisa berdecak kagum. Royalti dari novel pertama yang terbit tahun 1981 sampai sekarang masih mengalir. Istilah beliau, dari anak lahir sampai lulus jadi dokter dibiayai novel itu. Berbagai tesis tentang tulisan beliau sudah overdosis. Sampai-sampai UGM menolak pengajuan tesis tentang RDP karena sudah terlalu banyak.

Karya-karya Ahmad Tohari benar-benar mampu menarik perhatian banyak orang. Sampai-sampai Yun Hyun Sook mahasiswi Korea universitas Yuhan jurusan bahasa Jepang putar haluan mempelajari bahasa Banyumasan. Marina dari Jepang pun jatuh cinta ke budaya Banyumas diawali oleh novel Ahmad Tohari. Bukti kecintaan gadis Jepang itu ditampilkan kemarin di pendapa Sipanji Purwokerto, menari lengger berkolaborasi dengan Rianto seniman asal Banyumas.

Keberanian Ahmad Tohari memunculkan tema PKI di tahun 1981 perlu mendapat acungan jempol. Namun sayang justru Kompas yang ketakutan dengan cerita itu sampai banyak scene yang disunat demi keamanan. Akhirnya versi kumplit cerita itu hanya muncul pada versi bahasa Inggris yang diterbitkan di Amerika. Kontradiksi antara isi novel dan informasi dari pemerintah dan media Indonesia membuat banyak pihak asing yang penasaran tentang fakta yang tersembunyi dibalik pembantaian PKI. Ahmad Tohari pun sampai 2 kali diundang ke California untuk menjelaskan kondisi sesungguhnya. Dan baru pada RDP terbitan tahun 2009, potongan cerita yang hilang bisa diterbitkan secara komplit dalam satu buku.

Ada banyak obrolan dengan beliau yang ingin aku tulis. Sayang ngetik di hape rasanya kok begini yah..? Dilanjut nanti deh kalo dah nyampe Jogja.

Siaran langsung dari Sampang sambil menunggu bus patas terakhir menuju Jogja.

Mobile Post via XPeria

Read More

Jl Kemesraan

Duapuluh tahun lalu, orang Purwokerto menyebut ruas jalan ini sebagai jalan kemesraan. Waktu itu kondisinya sepi nyenyet persis kuburan. Kanan kiri jalan hanya pesawahan yang gelap gulita bila malam tiba. Jangan harap ada angkringan atau cafe. Hanya jangkrik dan binatang malam yang ada menemani satu dua pasangan yang asik menyepi di sepanjang jalan ini.

Entah kenapa sepotong jalan ini seperti sesuatu yang tersisa. Padahal ujungnya bersambung ke Jl Dr Angka yang lumayan ramai dengan kolam renang Tirta Kembar, Banyumas Biliard Center dan Dinasty Hotel. Aku sendiri melewati jalan ini hanya sebagai alternatif ketika meluruk ke SMEA Negeri.

Setelah dibangun GOR Satria dan perkantoran oleh pemda setempat, geliat ekonomi sepanjang jalan ini mulai tampak. Satu persatu warung mulai tumbuh. Apalagi ketika setiap pagi dan sore mulai banyak orang datang untuk olah raga atau sekedar nongkrong cuci mata. Jalan sepi ini mulai susah untuk diam di tengah malam sekalipun.

Pemerataan kehidupan ekonomi memang perlu dipancing oleh pemerintah agar bisa menyebar dan tidak ngumpul di satu tempat sementara tempat lain kesepian. Walau itu tetap tak mudah karena masyarakat juga seringkali tak mau diarahkan. Lihat saja beberapa sarana pemancing pemerataan yang mangkrak karena tak diminati masyarakat.

Apalagi yang namanya pemindahan pasar dari tengah kota ke pinggiran. Tak cuma satu dua kali aku dengar kasus pasar lama kebakaran setelah para pedagangnya tidak mau pindah ke pasar baru. Kalo cuma sekali mungkin masih dibilang wajar, ini seringkali terdengar. Makanya aku suka bertanya-tanya, haruskah pemerataan pembangunan harus menggunakan cara-cara anarkis semacam itu. Sudah berulangkali terjadi, kenapa pemerintah tak cepat tanggap mencari dimana akar permasalahannya.

Kenapa tak belajar dari jalan kemesraan ini yang bisa mesra meratakan pembangunan ekonomi masyarakatnya.

Siaran langsung dari Kwarcab Banyumas di Purwokerto

Mobile Post via XPeria

Read More

28 September 2010

Kekanakan

"Selalu ada sisi kekanakan dalam diri kita..." Sebuah tag yang teramat tepat yang dimunculkan konia ketika menyematkan game ular-ularan dalam hape seri 5110 dulu.

Itu sebuah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri biarpun kita seringkali ngambek bila dikatakan kekanakan atau tidak dewasa. Contohnya ketika presiden Gusur mengatakan anggota hewan seperti anak TK, mereka langsung ngamuk dan dengan segala cara berusaha menggusur sang presiden dari kursinya. Aku sendiri walau kurang sreg dengan penggusuran itu, tetap saja tidak sependapat bila yang terhormat dikatakan bak anak TK. Wong di mataku seperti anak tidak sekolah kok.

Dibilang berpendidikan tinggi nyatanya banyak yang otaknya di dengkul. Matematika saja jeblok sampai tak bisa menghitung berapa uang sendiri dan berapa uang rakyat. Menjadi pejabat seharusnya mereka tahu kalo gajinya sudah tinggi. Kenapa baju, mobil, sampai jalan-jalan saja masih minta kepada rakyat. Perasaan anak TK saja sudah tahu kalo semakin besar pendapatan semakin besar pula kewajiban zakat dan sodakohnya kepada fakir miskin, bukannya malah makin semangat memorotin uang rakyat kecil.

Apalagi kalo melihat tingkah polah sebagian dari mereka yang bermuka mesum. Rasanya kok makin jauh dari kata dewasa. Anak kecil saja bisa ngebedain mana nenen pribadi dan jarang mau menjamah milik orang lain.

Aku saja suka malu kalo ada orang yang bilang aku begitu dewasa. Wong kenyataannya aku tak suka sinetron atau film dewasa. Hardisku malah penuh dengan film kartun anak-anak macam tom jerry atau sponge bob. Hahaha..

Entahlah...
Aku pribadi merasa lebih nyaman dalam situasi kekanakan. Semua beban hidup jadi tak terasa begitu berat. Sepusing apapun masalah seringkali langsung mencair ketika aku bergabung dengan anak-anak kecil.

Cuma kadang aku keterlaluan juga. Mentang-mentang lagi keranjingan the last airbender, Citra yang gundul suka aku anggap avatar. Hehehe yang penting hepi deh...

Siaran langsung dari bus efisiensi dalam perjalanan menuju Purwokerto...

Mobile Post via XPeria

Read More

27 September 2010

Selamat Ulang Tahun

Istriku kebangeten juga neh, masa ulang taun ga bilang-bilang. Untung aku ga jadi hari ini ke Denpasarnya. Jadinya masih bisa sekedar minta traktir di lesehan. Tadinya sih mau makan-makan di orchad road, tapi berhubung Citra masih terlalu kecil untuk bepergian jauh, jadi cukup ke angkringan saja.

Tidak perlu berpanjang kata keburu laper. Selamat ulang taun aja deh buat istriku sayang. Yang ke berapa tar aku tanya dulu deh. Ke 18 kali...

Dari lesehan lapang Kotagede

Mobile Post via XPeria

Read More

25 September 2010

Angin kencang menerpa Jogja

Mengendarai sepeda motor dari arah Malioboro tak tampak gejala apa-apa dengan cuaca yang panas. Tapi begitu masuk Semaki, angin kencang datang berputar-putar merontokan ranting pohon. Aku yang dah lumayan akrab dengan angin Jogja segera merapat bangunan dan menjauhi pepohonan.

Namun melihat langit mendadak hitam, mau ga mau aku harus segera pulang agar tidak kehujanan. Dalam kondisi angin kencang begini, kendarai motor pelan-pelan. Stang harus digenggam kuat karena sering angin muter datang tiba-tiba dan bisa mendorong motor ke samping. Mata juga harus jelalatan untuk antisipasi dahan patah dan terlempar ke jalan.

Pengguna jalan lain juga harus diperhatikan, karena dalam kondisi begini orang malah suka ngebut ingin cepat sampai rumah. Padahal bila angin datang, dijamin lalu lintas kacau karena lampu lalu lintas mati.

Seperti cewek yang sempat berteduh bareng di depan kecamatan Pakualaman. Aku dah bilang agar pelan-pelan. Dia malah memacu miawnya. Nyampe jl Kusumanegara menjelang Pamela pohon ambruk tepat ketika dia lewat. Masih beruntung dia larinya agak kekiri sehingga cuma kena ranting dan bukan batang pohon. Orangnya cuma lecet-lecet dikit, cuma kayaknya agak shock aja.

Ga bisa lewat, aku muter lewat Umbulharjo sambil sepanjang jalan dihujani ranting dan dedaunan, persis di last airbender lah pokoknya.

Masuk jl Gambiran hujan tambah deras. Trus ada pohon ambruk lagi. Aku masih agak jauh sih ketika pohonnya roboh. Tapi tuh pohon iseng banget nyamber kabel listrik dan telepon. Untung yang nyabet motorku kabel teleponnya jadi ga parah-parah amat. Abis itu si kabel masih nyempatin mampir ke angkringan nasi kucing sampe terdorong ke got. Pengendara motor di belakangku banting stang ke kiri. Dia sukses menghindari kabel, tapi malah kesambar papan nama yang terbang setelah penyangganya patah.

Pokoknya perjalanan penuh pejuangan neh. Makanya seneng banget ketika bisa nyampe rumah dengan selamat. Lebih seneng lagi di rumah, Citra dan ibunya sudah datang dari kampung. Bisa langsung kangen kangenan neh walau gelap-gelapan mati listrik.

Demikian siaran langsung dalam terpaan angin pentil kampak. Mau disebut puting beliung takut dikira membesar-besarkan berita. Semoga tidak ada korban jiwa...

Mobile Post via XPeria

Read More

PDAM Payah

Perusahaan ledeng kalo ga salah namanya PDAM alias Perusahaan Daerah Air Minum. Biarpun namanya perusahaan air minum, tapi aku ga yakin masih ada orang yang mau minum air ledeng. Jangankan untuk minum, mandi saja sebenarnya enggan melihat kualitas airnya.

Lihat saja di gambar. Untuk membuat saringan menghitam tak perlu menunggu waktu beberapa hari. Isi bak belum sampai setengah sudah bikin saringan coklat tua. Sudah pakai saringan pun, bak harus dikuras setiap hari. Kalau tidak, di dasar bak akan penuh endapan tanah. Kalau tidak pakai saringan, bukan cuma tanah, cacing pun ikut ikut bernyanyi melihat kita mandi.

Kualitas air tanah Jogja mungkin memang kurang baik. Ketika masih tinggal di Semaki aku kan tidak langganan ledeng. Air sumur memang jernih, tapi banyak banget cacing kecil-kecil. Berbagai macam obat seperti tawas, kaporit dan sejenisnya sudah aku ceburin tapi hasilnya nihil. Pernah juga aku masukin ikan beberapa biji ke sumur tetap tak mampu mengatasi. Tau kalo aku masukin ikannya satu kuintal plus racun tikus kayaknya baru mampus tuh cacing sumur.

Siapa yang ga sebel, mandi dengan air yang bau kaporitnya menyengat banget, kok cacingnya masih hidup ikutan ngupil. Masa setiap mau mandi musti pulang kampung dulu biar nemu air bersih yang seger dan bebas obat..?

Pernah aku nanya ke tukang ledeng yang lewat tentang kualitas airnya. Jawabannya tetap klise khas Indonesia Raya yang tak pernah berpihak ke konsumen. Apalagi ketika aku bilang, di luar negeri kok bisa air ledeng langsung diminum. Bukannya kasih pencerahan malah langsung berubah profesi jadi sales water purifier. Menyebalkan..

Dah ah, malah jadi ngomel-ngomel di kamar mandi...
Ehiya sebelumnya maap, kalo posting kali ini disambi ngebom. Abisnya kebiasaan kalo perut mules pasti nyamber hape untuk pesbukan. Selain di kamar mandi jarang aku buka pesbuk. Makanya kalo rajin komeng status, temen-temen bakal ngomong, "kamu sakit perut terus ya..?"

Siaran langsung dari kamar mandi...

Mobile Post via XPeria

Read More

24 September 2010

Penipuan Maning

Kemarin pagi, istri nelpon dari kampung. Katanya beli kopi instan ke warung terus di dalam sachetnya ada kupon hadiah langsung mobil. Karena disana internetnya lagi lelet, dia minta tolong aku bukain websetnya pabrik kopi kapal keruk untuk ngecek bener apa engganya hadiah itu.

Di websetnya, ada pengumuman bahwa telah beredar kupon palsu sebagai modus penipuan yang sudah dilaporkan oleh adpokat pabriknya ke Polda Metro Jaya per tanggal 18 Januari 2007. Sebuah pengumuman yang bermanfaat sekaligus bikin heran. Kenapa kasus yang sudah dilaporkan sejak 3 tahun lalu, sampai sekarang masih saja berjalan modus operandinya. Apakah dengan memasang pengumuman saja, mereka merasa sudah cukup untuk melindungi konsumen..? Kenapa ga sekalian dibongkar sampai ke akar-akarnya sih..?
Read More

22 September 2010

Kafir

Barusan baca sebuah tulisan yang berjudul Koruptor Itu Kafir. Sebenarnya ga ada yang aneh dalam tulisan itu, tapi aku kok jadi kepikiran dengan judulnya. Bukan aku menyetujui tindakan korupsinya, tapi aku meras kurang sreg dengan istilah kafirnya. Kenapa di jaman serba terbuka ini, orang masih saja begitu mudah mengobral kata kafir, yang menurutku sudah berada di luar ranah kemanusiaan lagi.

Kata kafir, sudah sejak lama dijadikan propaganda membodohi umat manusia agar mau saling serang dengan saudaranya. Gambaran jadul mungkin bisa dilihat di film Sang Pencerah. Upaya meluruskan arah kiblat yang keliru dianggap perbuatan kafir hanya karena perhitungannya mengandalkan peta buatan Belanda yang non muslim.
Read More

21 September 2010

Ngamen sih boleh

Niatnya cuma mau makan doang di lesehan lapang Karang lalu cepetan pulang. Eh, malah ada pengamen yang asik tenan. Suaranya bagus, main gitarnya top banget, udah gitu ga mau beranjak sebelum lagunya habis dinyanyikan, biarpun sudah diacungin duit. Merasa beneran terhibur, aku borong sepuluh ribu perak, dia ngasih lima lagu. Hehehe..

Memang sejak pindah rumah ke Kotagede, aku jadi jarang banget nongkrong di alun-alun. Soal jarak sih ga terlalu jadi masalah. Yang bikin males tuh pengamen dan pengemis yang terlalu banyak di sana. Tak jarang cuma jajan abis sepuluh ribu, buat yang ngamen habis tigapuluh ribu. Itu pun sudah dibikin ndableg alian ga semua dikasih.

Mending kalo beneran bisa menghibur. Rata-rata cuma gembrang-gembreng ga jelas asal dikasih duit trus ngabur. Kalo di alun-alun utara ada sih pengamen yang rombongan dan lumayan asik. Mana sopan lagi. Sebelum main musik selalu nanya dulu, boleh numpang ngamen apa engga. Kalo sama yang begini, ngasih uang rada banyakan juga ga kerasa kerampokan.

Coba kaya yang di alun-alun kidul kemarin. Udah nyanyinya ga jelas, dia tuh muterin alun-alun sampe ke tempatku lagi dan nyanyi lagi. Merasa udah ngasih duit, aku cuekin. Eh malah ndumal-dumil sambil ngacung-acungin kaleng duit.

Pengamen kayak gitu kadang mereka ga punya perasaan juga. Masa satu pengamen baru aja selesai tampil, langsung ada yang nyelonong kloter berikutnya. Ini ngamen apa audisi Indonesian mondol..?

Cari duit sih boleh-boleh aja bung...
Tapi jangan bikin orang merasa kegarong dong...

Siaran langsung dari lesehan lapang Karang Kotagede

Mobile Post via XPeria

Read More

Hujan

Orang Jawa bilang, "menawi jawah dados owah..." Artinya kalo hujan, segala sesuatu akan berubah. Dan itu bener banget. Dalam minggu ini saja, beberapa janji bisa batal atau telat hanya dengan alasan, "maap hujan..."

Biarpun jaman sudah berubah modern, pepatah lama itu masih saja relevan. Orang pintar sudah bersusah payah menciptakan payung, jas hujan bahkan mobil untuk mengantisipasi cucuran air agar tidak mengganggu aktifitas. Tapi karena kita tak mau minum tolak angin, tetap saja semua peralatan itu kadang tak berfungsi maksimal.
Read More

20 September 2010

Belalang Tempur

Masih tentang oleh-oleh dari kampung saat mudik kemarin. Kali ini tentang sepeda motor bersejarah yang teman-teman dan tetangga menyebutnya sebagai belalang tempur.

Sepeda motor atau masyarakat di kampungku dulu menyebutnya dengan nama honda ini dibeli ortu saat aku SMP. Honda bermerk Yamaha ini dipake bapak kerja, karena sepeda onthelnya aku sita buat ke sekolah yang jaraknya 20 kilo dari rumah. Sampai suatu saat aku kerja jadi teknisi telepon umum. Dari perusahaan ada penawaran untuk operasional mau pakai kendaraan kantor atau kendaraan pribadi dengan sistem sewa. Karena diitung-itung sewanya lumayan, aku ajukan proposal ke ortu agar sepeda motornya segera diwariskan.
Read More

Mbah Buyut

Umur memang rahasia alam yang absolut. Paling tidak dibuktikan dari keberadaan leluhurku dulu. Saat aku lahir sampai mulai besar, yang tersisa dari generasi mbah cuma tinggal satu, mbah putri dari ibu. Tapi untuk generasi mbah buyut, hanya eyang kakung dari bapak saja yang sudah tidak ada. Dan yang masih sehat sampai saat ini hanya tinggal satu dari garis ibu, dua yang lainnya meninggal saat aku SD.

Lebaran kemarin merupakan masa bertemunya mbah buyut yang tersisa dengan anak turunnya sampai generasi kelima. Nama lengkapnya aku tidak tahu, semua orang menyebutnya mbah atau Aki Dali. Usia pastinya pun tidak jelas berapa. Namun mbah buyut putri pernah cerita bahwa pada saat ada gunung ditengah lautan meletus dahsyat sampai hujan abu sehari tujuh kali, beliau sudah perawan. Gunung di tengah laut mungkin adalah Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Sebutan perawan untuk gadis jaman dulu diawali dengan mulainya haidh pertama, mungkin sekitar umur 12 atau 14 tahun.
Read More

Penunjuk Arah

Jalan-jalan seharian tanpa hasil kemarin.
Dapetnya hanya foto-foto ginian.

Tidak ada yang salah di kedua papan penunjuk jalan itu.
Cuma pengen merhatiin penggunaan satuan jaraknya saja.

Malioboro 0,5 km
Gabusan 4.500 m
Kenapa ga ditukar posisi
500 m dan 4,5 km
Atau pake milimeter sekalian..
Hehehe...

Mobile Post via XPeria
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena