13 Mei 2011

JPK (Jaminan Pekok & Konyol)

Menjelang subuh aku sudah tiba kembali di mess. Inget kondisi Citra yang kena gejala DBD, aku segera hubungi ibunya dan katanya masih panas. Agar bisa lebih tenang, aku minta istri untuk membawa Citra ke RS PKU Kotagede yang cuma 500 meter dari rumah dan memang khusus kesehatan ibu dan anak (KIA).

Di kepesertaan Jamsostek, aku juga punya kartu jaminan pemeliharaan kesehatan. Namun aku tidak bisa memasukan Citra ke klinik yang tercantum dalam kartu JPK, karena ternyata anak dan istri tidak tercakup. Soal itu aku baru tahu pagi ini saat memeriksa kartu tersebut. Aku juga pekok saat menerima kartu langsung dimasukan ke dompet tanpa periksa ketentuan-ketentuan yang tercantum. Entah pihak jamsostek yang salah ketik, entah perusahaan yang pekok. Di kartu aku tertulis lajang.

Aku buka websitenya Jamsostek dan nemu ketentuan bahwa iuran JPK ini ditanggung perusahaan. Dibayar setiap bulan dengan besaran maksimal 30 ribu rupiah untuk lajang dan 60 ribu perak untuk yang berkeluarga. Dengan memalsukan status karyawan sebagai lajang, berarti perusahaan hanya berkewajiban membayar 30 ribu rupiah per karyawan per bulan. Sebuah penghematan yang menurutku kurang signifikan untuk perusahaan walau memiliki karyawan ratusan orang. Namun berbanding terbalik dengan hak keluarga karyawan atas jaminan pemeliharaan kesehatannya.

Aku sendiri sampai saat ini tak pernah tahu berapa potongan atas gaji yang aku terima. Karena statusku karyawan Jakarta, HRD di site tak memiliki data gajiku. Bila aku menanyakan slip gaji ke HRD pusat, selalu dijawab entar aja diambil kalo pas ke Jakarta. Nominal pasti gaji diterima berapa pun aku tak tahu, karena penerimaan gaji aku pakai rekening istri.
Memang iuran jamsostek yang dipotong dari gaji hanya 2% dari gaji pokok. Tapi iuran yang dibayar perusahaan juga masuk dalam kategori pendapatan kena pajak. Yang pasti ibue Citra selalu laporan, uang yang masuk rekening selalu terpotong hampir 700 ribu perak untuk jamsostek dan pajak penghasilan.

Kalo memang benar, pencantuman status lajang merupakan kesengajaan pihak perusahaan untuk ngirit pengeluaran, perlu dikomplen nih. Apa sih artinya uang 30 ribu per karyawan untuk perusahaan sebesar ini dibanding ketentraman kerja karyawan saat ada keluarga yang sakit.

Trus anehnya
Sudah tahu yang ditanggung kartu JPK itu cuma aku yang berada di pedalaman Kalimantan. Kenapa klinik yang ditunjuk kalo aku sakit adalah Poli PMI Cabang Yogyakarta. Padahal disitu tidak tercantum biaya tiket dan akomodasi juga ditanggung perusahaan. Ya aneh saja bila aku cuma mumet dikit yang ongkos berobatnya tak sampai 100 ribu, tapi harus menanggung biaya tiket ke Jogja pp berikut akomodasi sampai 1,5 juta dengan biaya pribadi.

Yang lebih parah lagi
Di kartu tercantum jenis kelaminku
Perempuan...

Semprulll...
Gimana donk..???

Read More

12 Mei 2011

Dalam Dilema

Acara belanja perangkat radio link untuk mengganti yang kena petir minggu lalu dah beres sejak siang tadi. Tapi mau balik ke Tamianglayang kok rasanya males banget. Apalagi suasana malam Banjarmasin begitu menggoda. Beda banget dengan siangnya yang panas.

Niat awalnya ingin jalan-jalan ke pasar terapung. Tapi malah nyasar ke daerah Batola. Sampai inget postingan Ajeng di belokcepot, bahwa pasar terapung hanya ada di pagi hari. Telanjur nyasar jauh sampai daerah Hanggul Bakti (tau salah tau bener nulisnya) dan perut lapar, aku putuskan untuk masuk ke warung makan berpanggung di atas sungai.

Begitu pesanan datang, cacing-cacing perut bersorak-sorai dengan gegap gempita. Namun mendadak senyap dan lenyap nafsu makan saat masuk sms dari rumah, Citra panasnya ga turun-turun. Habis tes darah dan sebaiknya dirawat karena ada gejala DBD...

Rasa enggan balik ke hutan makin terasa berat. Apalagi bila ingat harus menempuh perjalanan darat sampai 6 jam, sementara pesawat yang bisa mengantarku ke Jogja hanya 20 km dari tempatku duduk. Aku cuma bisa menarik nafas panjang agar dada tak terlalu sesak. Kuminta ibue Citra menghubungi mbahnya di kampung. Tak rela rasanya membayangkan ibue sibuk sendirian sementara adiknya Citra dalam kandungan sudah makin membesar.

Aku hanya bisa berharap agar pikiranku tak terlalu terganggu minimal sampai besok sore. Karena besok aku harus pasang radio link di PLTU dan Telkom. Tak nyaman rasanya membayangkan harus kerja di tower setinggi 40 meter dengan pikiran kalut. Yang pasti aku harus ambil cuti setelah internet kantor kembali berfungsi. Aku tak mau dengar lagi bermacam alasan dari orang kantor untuk menunda-nunda lagi cutiku yang sudah terlewatkan sebulan.

Semoga Citra dan ibue bisa tenang malam ini. Semoga aku juga bisa istirahat dalam perjalanan malam ini. Agar besok pagi aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku tanpa masalah.

Dan yang pasti
Aku ingin pulang...

Mobile Post via XPeria


Read More

Turun Gunung ke Banjarmasin

Turun gunung sampai ke kota besar seperti Banjarmasin merupakan hal yang langka untuk karyawan tambang. Makanya, bila ada perintah seperti sekarang, gipyaknya minta ampun. Perjalanan darat sampai 6 jam menuju kemari tak pernah terpikirkan sama sekali.

Sampai di tujuan, bukan pekerjaan yang jadi prioritas. Tapi wisata kuliner dulu cari makanan yang paling enak. Padahal makanan yang di kantin tambang paling bikin mualpun, disini mendadak nikmat luar binasa. Jadi sapa bilang lidah gabisa bohong. Nyatanya dengan suasana hati berbeda di tengah peradaban, rasa di lidah juga tak sama.

Jalan-jalan melemaskan otot kaki, sampai akhirnya terdampar di warung makan H Fauzan di bilangan Sultan Adam. Warung makan bergaya semi angkringan cukup nyaman untuk mengisi perut. Lumayan ramai juga pengunjungnya sampai tempat parkir mobilnya penuh sesak. Menunya cukup banyak, dari patin bakar sampai rujak juga ada. Dan yang lebih penting, bisa sekalian cuci mata lirik kanan kiri lihat yang alus-alus.

Cuma sayangnya jatah dari kantor cuma sehari plus naik angkutan umum. Jadinya acara jalan-jalan lebih banyak dilakukan dengan jalan kaki beneran.

Sempat dongkol juga dengan orang sini yang kadang tidak akurat kasih gambaran jarak. Seperti saat aku tanya lokasi ATM, dibilangnya jauh. Nyetop angkot, eh taksi, belum sempat ambil nafas panjang dah nyampe. Ada juga yang bilang jauh. Ketika ditanya lebih detil, dia jawab 300 meter.

Buset deh orang kota. Beda banget dengan orang kampung seperti ketika aku tanya jarak saat menerabas hutan. Bilangnya deket, dah 2 jam jalan kaki belom nyampe juga. Ada pula yang jawab deket, cuma satu tanjakan lagi. Tapi sapa yang ga dongkol sudah jalan 5 kilo lebih, jalan masih saja menanjak.

Malu bertanya sesat di jalan
Nanya di jalan malu-maluin
Plus suka nyebelin...

Mobile Post via XPeria

Read More

11 Mei 2011

Bakso AKAP

Makanan yang selama ini jarang banget pengen, sejak hidup di pedalaman gini, kadang jadi ngangenin banget. Salah satunya adalah bakso. Selama hidup di Jawa, aku jarang banget berinisiatif sengaja beli. Kalopun jajan bakso, lebih sering karena nemenin ibue Citra. Kan ga sopan kalo istri harus makan sendirian sementara aku cuman jadi tukang ojek yang nunggu penumpang.

Sejak beberapa bulan lalu, rasanya kepengen banget makan daging bulat itu. Karena jarang bisa turun gunung, terpaksa aku harus nungguin penjual yang lewat. Memang suka ada yang menjajakan. Tapi jangan anggap seperti tukang bakso di kota yang pakai dorongan dan selalu iseng mukulin mangkok pake sendok. Tukang bakso keliling disini sudah pakai sepeda motor. Sehingga kalo keliatan nongol di ujung jalan, aku selalu telat untuk menyuruhnya mampir. Selalu sudah bablas ngebut meninggalkan debu beterbangan.

Baru malam ini aku bisa menemukan makanan impian. Itupun karena ada tetangga yang beli dan aku bisa nimbrung. Ketika aku tanya, kenapa kalo lewat suka ngebut. Kata beliau, kalo mau nyetop memang harus tahu jamnya agar bisa stenbe di pinggir jalan. Karena trayeknya memang tidak pernah berubah agar pelanggan setianya tidak kecewa seperti aku. Saat aku tanya jualannya kemana saja, sempat kaget ketika beliau bilang dari Tanjung yang masuk ke wilayah Kalsel. Jarak tempuhnya menjajakan bakso, sehari bisa sampai 80 kiloan. Baru kali ini aku nemu tukang bakso ala bis patas. Antar kota antar propinsi...

Dia ngakunya orang Jombang dan mengatakan lebih betah jualan disini daripada di Jawa. Soal jarak tempuh yang begitu jauh, kayaknya tak terpikirkan lagi karena aku yakin hasilnya lumayan. Walau dia tak mau ngaku soal pendapatannya, tapi aku pernah ngobrol dengan tukang martabak yang datang dari Jawa juga. Dari sebuah angkringan kecil, dalam waktu 5 tahun dia sudah punya 5 lapak. Dan dengan bangganya beliau cerita sudah bisa bangun rumah di Jawa. Sempat keceplosan juga mengatakan lebaran tahun lalu bisa pulang membawa uang sampai 60 juta. Asik juga yah, kalo ga mikir persiapan mental dan keuletannya...

Soal pendapatan lumayan, aku bisa ngerti mengingat harga makanan disini cukup mahal untuk ukuran di Jawa. Padahal soal rasa, lidah kan gabisa bohong. Suer ga enak blas. Jauh banget kalo dibandingin bakso telkom depan balai kota Jogja. Cuma sayangnya, perut gampang dibohongin. Biar kata lidah bilang ga enak, nyatanya semangkok bakso begitu cepat ludes buat pakan cacing.

Jangankan makanan yang aneh. Mie rebus saja disini harganya edun. Seperti pas kelaparan di pelabuhan kemaren. Mie rebus pake telor 2 mangkok dan es teh 2 gelas, aku harus merogoh kocek 24 ribu perak. Sempat kelabakan ngutang temen juga, mengingat di kantong cuman ada duit 20 ribu. Mau ke ATM mana ada di tengah hutan begini. Dan payahnya, warung mie rebus itu ga mau terima kartu kredit.

Memang harganya segitu atau dipalak
Aku ga pengen berburuk sangka
Atau karena yang makan 4 orang ya..?
Read More

Tamu Wajib Lapor

Papan bertuliskan tamu harap lapor plus embel-embel 1x24 jam, sepertinya sudah tak asing lagi bagi kita. Hampir di tiap pojok kampung ada. Namun pelaksanaan di lapangan kayaknya teramat meragukan. Terungkap ketika ada kasus terorisme yang ternyata dilakukan oleh orang baru di lingkungan itu, ternyata ketua RT lebih sering mengatakan tidak tahu menahu.

Seperti di sekitar rumah di Jogja. Lapor ketua RT hanya dilakukan oleh orang yang memang akan menetap di situ. Misalnya orang yang ngontrak rumah atau anak kos. Kalo sekedar mau nginap beberapa hari, baik itu teman atau saudara, kayaknya belum pernah dengar. Ada lagi anak kos yang ngajak temennya nginep, mengatakan tak perlu lapor, hanya karena nginepnya semalem doang dan tidak sampai 24 jam.

Kebalikan dari prosedur tamu wajib lapor, kontrol dari perangkat pemerintah dan warga sekitar juga seringkali tidak berjalan. RT dan tetangga tuan rumah sepertinya jarang yang mau mempertanyakan ketika ada tamu atau orang baru yang kelihatan nginap di rumah kita.

Kecuekan kita terhadap peraturan yang tak pernah aku tahu undang-undangnya itu juga berlaku di lingkungan kontrakan yang jadi mess ku. Hampir sebulan aku dapat mess yang terletak di tengah perkampungan, tak pernah ada teguran atas keberadaanku disitu sudah laporan apa belum. Sempat aku tanya ke pemilik rumah, dimana rumah ketua RT, malah balik ditanya, "mau apa..?"

Kalo keberadaan papan peringatan di kampung sudah merupakan kewajaran termasuk pencuekannya, ada satu papan semacam yang menurutku agak aneh. Aku temukan di depan pos satpam kantor pelabuhan Telang Baru. Entah apa maksudnya tamu wajib lapor pakai acara 1x24 jam. Apakah yang melapor hanya tamu yang berkunjung lebih dari 24 jam. Harus laporan selama 24 jam di muka satpam. Atau prosedur pelaporannya perlu waktu 1x24 jam sampai disetujui kunjungannya, akau belum sempat mampir bertanya.

Bila kenyataanya di lapangan seperti itu
Masih perlukan di setiap sudut pasang basa basi seperti itu..?
Read More

Monumen Rimba Tersisa

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan hph berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…
Oh mengapa...


Sebuah lagu dari bang Iwan terlantun dari audio mobil saat jalan ke Telang kemarin. Terasa banget celoteh lagu itu dengan kondisi di jalan yang kutempuh. Apalagi mendengar cerita sopir yang menceritakan bahwa beberapa tahun lalu, daerah itu merupakan rimba yang penuh pohon-pohon raksasa.

Bukan hal aneh lagi dan mungkin memang sudah tak dirasakan aneh oleh orang Kalimantan. Kekayaan alam terus menerus diangkut keluar dan hanya menyisakan masalah untuk warga setempat. Pohon-pohon besar dibabat habis dengan reboisasi seadanya. Setelah penghuni permukaan tanah diamputasi menjadi gundul tak menawan, ganti isi perutnya dirobek untuk mengambil batu bara atau kandungan mineral lainnya. Setelah habis pun reklamasi tanahnya asal-asalan dan lebih banyak diserahkan kepada alam untuk disemakan lagi.

Setelah itupun penjarahan alam terus berlanjut. Semak-semak yang baru saja mulai bertunas sudah dibakar orang membuka lahan, untuk dijadikan ladang atau perkebunan. Ada yang benar berladang, ada juga yang cuma berniat menguasai lahan sebagai investasi. Ketika ada pengusaha yang akan membuka perkebunan sawit misalnya, mereka akan jual lahan tersebut dan kembali membakar hutan untuk memiliki lahan baru. Karena disini memang tidak perlu legalisasi negara bagi warga setempat untuk memiliki tanah hutan. Sebidang tanah secara adat akan dianggap milik seseorang atau keluarga hanya dengan syarat dia atau leluhurnya pernah berladang di lahan hutan tersebut.

Saat negara dan warganya sudah tak mampu lagi menjaga kelestarian hutan, kadang aku berpikir untuk menyerahkannya kepada setan. Bukan soal tahayul, tapi melihat kenyataan disini. Pohon yang katanya angker biasanya akan disisakan tidak ditebang. Makanya tak aneh bila kita melihat ada satu pohon tersisa di tengah lahan yang gundul. Mereka kayaknya lebih sayang setan daripada sayang anak cucu yang tentunya ingin diwarisi hutan lestari.

Tapi itu dulu...
Sekarang situasi pun mulai berubah. Hanya tersisa satu pohon untuk berlindung, sementara kuntilanak mungkin terus beranak-pinak. Lama-lama mereka tak betah dan mulai ngungsi jauh-jauh untuk cari perumnas yang layak untuk anak cucunya. Jadinya satu persatu pohon yang tersisa mulai ditebang juga, karena sudah tak angker lagi.

Sempat aku bertanya kepada warga setempat. Aku merasa sayang bila monumen sisa-sisa keperkasaan hutan di masa lalu harus dibabat juga. Kenapa sih musti ditebang..?

Dan ternyata jawaban beliau teramat sederhana, "kalo dicabut susah, pak..."
Read More

09 Mei 2011

Jegang Sila Tingkrang

Sejak kecil aku punya hobi makan sambil jegang, alias duduk dengan satu kaki dengkulnya ke atas. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu aku lakukan. Yang jelas sejak mulai bisa mengingat-ingat, sudah ada tetangga yang berkomentar seperti itu. Bisa jadi karena aku lebih suka duduk nglemprak di tanah saat makan, makanya jadi jegang. Namun orang lain memvonisnya, "dasar cucnya mbah Muslih..."

Dianggap faktor keturunan mungkin juga bisa, karena di kampungku yang biasa makan sambil jegang cuma mbahku doang. Dibilang aku meniru perilaku simbah jelas ga mungkin, karena beliau sudah meninggal saat aku masih berusia 7 bulan dalam kandungan. Ortu sendiri tak pernah ada yang makan sambil jegang, karena perilaku itu sering dikaitkan dengan tata krama. Bagaimanapun juga profesi guru kampung jadul sangat rentan sorotan masyarakat bila sudah menyangkut masalah kesopanan.

Setelah agak gede dan pindah kampung yang dekat pesantren, beda lagi pandangan masyarakatnya. Disitu makan sambil jegang sepertinya sudah kewajiban. Sayang kalo aku tanya alasannya, cuma jawaban menyebalkan yang aku dapat. "itu perintah kanjeng nabi, gausah dibahas. TTK HBS...!!!"

Otak kecilku tak pernah mau menerima jawaban pekok semacam itu. Tidak kenal google waktu itu, yang bisa aku lakukan cuma pakai ajian utak-atik gathuk. Aku cuma coba kaitkan dengan perintah berhenti makan sebelum kenyang. Saat kita makan sambil duduk normal apalagi sambil berdiri, susah sekali untuk menentukan batasan rem sebelum kenyang. Dengan perut sudah terasa sesak pada posisi jegang, begitu duduk manis, perut terasa jadi agak longgar. Pada saat jegang, volume lambung mungkin jadi mengecil tertekan dengkul, sehingga diisi sedikit dibawah porsi sudah terasa penuh.

Hanya sebentar mengalami masa pembenaran makan sambil jegang, aku dah kabur lagi agak ke kota yang kembali menganggap itu sebagai penyimpangan tata krama. Makanya aku begitu sering merindukan suasana kampung halaman. Jegang sila tingkrang di gubuk tengah sawah. Menikmati semilir angin membawa aroma padi muda sambil makan balakecrakan. Halah, basane bisa gado-gado gini...

Dan terlepas dari masalah perintah kanjeng nabi, pelanggaran tata krama, terbawa lingkungan atau faktor keturunan. Yang jelas anak wedhok semata wayang kok yo ikut-ikutan kaya bapaknya.

Mbok yo rada feminim dikit
Kamu tuh cewek, nduk
Dasar anak ibue
Laikdis dah...
Read More

07 Mei 2011

Pahit

Sejak di bumi Kalimantan, aku rutin minum air rendaman akar Pasak Bumi setiap pagi dan sore untuk mencegah keluhan sakit pinggang. Rupanya ada teman yang tertarik pengen mencoba.  Tapi begitu dia nyruput sedikit, langsung disemburkan lagi sambil berteriak, "anjrit, pait pisaaan..."

Andai saja Sang Pencipta mendesain lidah manusia dengan syaraf pengecap pahit berada di ujung lidah. Mungkin kita akan lebih mudah untuk mengakali kepahitan semacam itu. Misalnya dengan minum air pahit mempergunakan sedotan yang langsung ke pangkal lidah tanpa menyentuh bagian ujung. Tapi kenapa justru pengecap manis yang ada di ujung lidah dan pengecap pahit pada pangkalnya..?

Aku sedang tak ingin berfilosofi. Aku hanya ingin membaca itu sebagai sebagian dari tanda-tanda alam yang mengisyaratkan bahwa manusia memang paling mudah tertipu oleh rasa. Ketika menjulurkan lidah mencicipi sesuatu, hanya ujungnya saja yang bisa merasakan sehingga rasa pahit tak terdeteksi pada kesan pertama. Kecuali kita memang manusia yang inovatif, sehingga proses pencicipan rasa itu dilakukan di seluruh bagian lidah agar bisa tahu nilai komposisi rasa manis, pahit, asin dan asemnya. Namun pada kenyataannya, berapa banyak orang yang mau begitu. Lagipula menurutku itu bukanlah inovatif, malah terkesan sedikit lebay. Pernah lihat, orang mau minum apa, jarinya dicelupin dulu ke gelas lalu dioleskan ke segala penjuru lidah..?

Mungkin alam memang sedang mengajarkan kepada kita. Bahwa hidup memang seringkali diawali dengan yang manis-manis, dilanjutkan asin dan asem untuk kemudian diakhiri dengan kepahitan. Seperti ketika aku kenalan dengan cewek cakep dan seksi. Yang langsung terbayang hanya rasa indahnya bila bisa jadi pacar. Kemudian bisa jadi istri yang tak akan dilepaskan dari dekapan sepanjang malam. Padahal kenyataan manis seringkali hanya pada awal pacaran saja. Selanjutnya selalu saja rasa asin asem mengganggu dan tak jarang berakhir pahit. Tanpa kemauan kita mensiasati segala rasa yang ada, hidup bisa berasa tak menentu lagi. Apalagi kalo sudah jadi istri, jangankan kelon siang malam. Tidur saja sudah mulai beradu punggung. Tapi itu cuma contoh soal saja. Yang bisa merujak semua rasa menjadi nikmat juga banyak.

Kayaknya hanya sedikit orang yang mau membalik logika untuk mau mengawali dengan kepahitan agar bisa manis diakhirnya. Pada saat melihat orang sukses berlogika lidah terbalikpun, jarang kita mau melihat proses awalnya. Misalnya kita melihat teman yang sukses bisnis sapi, langsung ribut ikut jualan sapi. Bagaimana susah payahnya teman kita saat memulai bisnisnya tak pernah mau kita pelajari. Akhirnya kita hanya bisa menuai keberhasilan instan yang seringkali hanya tergantung pada kekuatan modal semata. Keuletan dan kemampuan menghadapi masalah bisnis, kita tak terlatih sama sekali. Sehingga wajar bila banyak yang berakhir tragis, kehilangan sapi berikut kandangnya...

Lebih parah lagi bila kita tak tahan godaan. Merasa gagal menjual sapi, dia mulai mulai berpikir untuk menjual harga diri. Modal aji mumpung, otak di dengkul dan email yahoo, bisa dapat uang banyak plus jalan-jalan gratis keluar negeri beserta anak istri.

Atau malah jualan daging mentah
Di sarkem misalnya
Atau taman lawang
Payah...
Read More

06 Mei 2011

Sharing Internet via Wifi Laptop

Berawal dari pemindahan pasukan ke kontrakan yang jauh dari kantor dan tanpa ada fasilitas internet, aku putuskan untuk pasang internet sendiri tanpa mikir mau diganti atau tidak uangnya oleh perusahaan. Kebetulan di depan kontrakan ada kabel telepon melambai-lambai. Dengan modal 600 ribu, bisa dah terpasang sapidi tanpa harus dipusingkan cari KTP dan segala pernak-perniknya.

Soal internet beres, tinggal bingung cari modal untuk membaginya ke 3 laptop yang ada. Port yang ada di modem cuma satu biji. Sebelumnya soal berbagi koneksi melalui wifi laptop tidak pernah terpikirkan, karena aku pikir cuma bisa terima saja tanpa bisa memancarkan sinyal sebagai access point. Sampai akhirnya inget pas temenku Priyo main ke rumah di Jogja yang sempat membagi internet melalui wifi laptop.

Utak-atik sebentar di Windows 7 dengan urutan sebagai berikut :


Klik icon koneksi internet di tray atau buka dari control panel dan klik Open Network and Sharing Center.


Setelah terbuka, klik Set up a new connection or network


Pilih Set up a wireless ad hoc (computer to computer) network, lalu klik Next Next


Pilih security options yang akan digunakan. Bikin nama jaringannya dan kasih password, kecuali mau dibikin open tanpa password


Klik Turn on Internet connection sharing dan setelah itu bisa diclose.


Coba koneksi dari laptop lain. Setelah nyambung, di laptop yang dijadikan host akan muncul seperti ini.

Semoga bermanfaat
Lumayan buat menghemat pengeluaran beli hub
Maaf kalo post kali ini bandwith killer
Untuk Sharing Internet Wifi Laptop di Ubuntu, next post deh ya...
Read More

Mess

Walau mess termasuk fasilitas standar buat karyawan penempatan, namun sekian bulan disini begitu banyak liku-liku yang aku alami. Dimulai ketika pertama kali datang ke site, ternyata tidak ada persiapan sama sekali dari HRD atau General Affairs setempat. Padahal rencana kedatanganku sudah diinformasikan oleh HRD Jakarta beberapa hari sebelumnya. Untungnya aku sudah terbiasa apa adanya dan kemana-mana matras selalu tergantung di ransel.

Seminggu tidur di ruang kantor beralas matras, akhirnya aku dapat kamar baru dengan kasur pegas dan berAC. Biar kamar mandinya di luar dan listriknya sering mati kalo AC dinyalakan, tapi buatku itu teramat istimewa untuk ukuran hidup di tengah hutan begini. Apalagi kamar itu aku pergunakan sendiri sementara kamar-kamar yang lain ditempati 4 orang.

Kemudian datang ibu wakil direktur baru dari Jakarta yang akan tinggal di site. Karena tak mungkin disatukan dengan karyawan lain yang semuanya bergagang, akhirnya kamarku yang digusur dan aku bergabung dengan yang lain. Itupun masih lumayan biarpun harus tidur pakai ekstra bed. Namun kedatangan si ibu terus diikuti oleh kiriman karyawan-karyawan lain sementara jumlah kamar tidak ditambah. Hasilnya karyawan harus tidur bertumpuk-tumpuk seperti jemuran ikan asin karena satu kamar dihuni sampai delapan orang.

Itupun masih ditambah dengan 2 orang lagi yang aku bawa dari Jakarta untuk memperkuat pasukan IT membangun sistem. Masih agak untung juga, karena timku terbiasa kerja malam daripada siang hari yang bising. Jadinya mereka harus membalik jam kerja bagaikan kalong yang baru bisa beranjak tidur ketika orang lain bangun. Sementara waktu memang bisa disiasati begitu walau lama-lama bete juga. Karena kalo jam 3 pagi sudah terasa ngantuk, tetap saja harus menunggu jam 5 apa jam 6 sampai ada yang bangun. Untuk kedua temanku yang kerjaannya full coding mungkin gak terlalu bermasalah. Buatku yang siang juga harus ke lapangan, efeknya terasa banget. Berat badan merosot drastis sampai ke angka 50 kilo dari sebelumnya 62. Bolak-balik aku ajukan permintaan mess di luar mess kantor tak juga didengar pihak manajemen.

Pertengahan bulan lalu datang informasi bahwa rombongan bos-bos dari Jakarta sebanyak 12 orang akan datang ke site dan tinggal di mess selama beberapa hari. Pihak penguasa lokal kalangkabut dan sekitar jam 8 malam aku dan pasukan diinstruksikan pindah ke rumah kontrakan. Seneng bercampur mangkel disuruh angkat kaki mendadak seperti itu. Apalagi setelah sampai di kontrakan, kondisinya tidak ada perabotan sama sekali plus bak mandi kosong dengan kran tidak mengalir. Dari kantor bilang aku bisa belanja pakai uang sendiri dulu dan nota-notanya akan diganti. Walau posisinya agak di kota, tetap saja toko sudah pada tutup karena sudah terlalu malam. Memang kontrakan itu sebelumnya dipakai oleh pejabat perusahaan. Tapi karena beliau harus pindah kontrakan, segala perabotan yang ada dibawa serta. Jadinya malam itu, kita bertiga tidur di lantai.

Paginya aku dan teman-teman melengkapi kebutuhan standar seperti piring gelas, dispenser dan sebagainya. Baru bisa bernafas lega punya tempat istirahat ekslusif plus tidak lagi di tengah hutan, datang ibu pemilik kontrakan nagih pembayaran. Alasanku hanya disuruh perusahaan dan baru datang semalam tidak bisa ditoleransi oleh pemilik rumah. Pokoknya kalo tidak dibayar saat itu, rumah akan dikunci. Karena saat itu sudah tanggal 15 sementara pembayaran seharusnya tanggal 5. Ndilalah nelpon pejabat-pejabat perusahaan tidak ada yang nyambung, mereka sedang ke lapangan semua mengikuti peninjauan big bos Jakarta beserta rombongan, sehingga tidak dapat sinyal.

Tak enak jadi tontonan warga sekitar bersitegang dengan pemilik rumah, aku putuskan untuk membayar sendiri dulu tagihan si ibu. Payahnya uang dalam dompet sudah demikian tipis setelah belanja perabotan. Kita bertiga harus iuran sampai ke uang recehan biar rumah tak jadi dikunci si ibu.

Sedang kebingungan uang ludes sementara dispenser belum terbeli galonnya, penguasa keuangan Jakarta nelpon dan ngomel-ngomel kenapa cari kontrakan tanpa acc pihak keuangan terlebih dulu. Si "kehed" bilang ga mau tahu segala pengeluaran uang pribadi kita dan pokoknya harus kembali ke mess PLTU. Aku nelpon ke pejabat yang semalam ngusir dan kasih perintah belanja, dia malah ambil langkah aman sendiri. Brengsek...

Jengkel bukan kepalang, dengan berat hati aku nelpon istri untuk menyiapkan 3 tiket pulang. Dari hp aku kirim email ke pihak manajemen, dengan senang hati saya dan tim tidak bisa meneruskan pekerjaan...

Kisah selanjutnya tetap seperti yang sudah-sudah. Bos yang lain datang dan menawarkan kebaikan agar aku tidak kabur dari Kalimantan. Saat itu soal mess memang bisa setengah terselesaikan. Tapi aku ga menjamin bulan selanjutnya tidak ada masalah lagi.

Ternyata begini rasanya kerja di perusahaan gede tapi pake manajemen toko. Karyawan pengen kerja tenang saja selalu dipersulit oleh masalah-masalah sepele dan yang tidak ada sangkutpautnya dengan pekerjaan. Tapi sudahlah. Aku harus bisa segera selesaikan misi agar bisa damai meninggalkan perusahaan ini. Anggap saja semua penganiayaan ini sebagai ujian sebelum bisa sukses di jalan lain.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit sakit nu keur ngajuru
Bersenang-senang nu keru kikituan...
*maap buat yang roaming...
Read More

04 Mei 2011

Jurnal 1000

Saat membuka posting terakhir di Multiply, saat itu aku melihat no urut di url jurnal sudah berada pada angka 999. Yang artinya posting kali ini merupakan jurnal ke 1000. Tidak ada yang istimewa dengan jumlah jurnal tersebut, mengingat post temen-temen banyak yang sudah jauh diatas itu. Apalagi apa yang tertulis di jurnal-jurnal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan dan tak lebih dari celoteh ngawur seorang rawin tentang hari-harinya.

Sejarah panjang tentang keakrabanku dengan dunia blog, dimulai ketika aku masih jadi teknisi komputer dulu. Banyak sekali aku temukan trik-trik yang tidak pernah ada teorinya. Semua itu aku tuliskan dalam catatan-catatan kecil di sebuah buku tulis. Sampai akhirnya buku tersebut menjadi tiada arti karena coretan tintanya terhapus saat tempat service yang aku kelola kebanjiran.

Sejak itu aku mulai menyimpan catatan-catatan tersebut secara online ke dalam email. Saat aku mengenal Blogspot, tempat semuanya aku pindahkan kesana. Namun tetap saja tidak ada tempat yang aman dari musibah. Melihat blogku berisi banyak catatan tentang komputer, ada seorang teman yang tak aku kenal menganggap aku seorang hacker yang perlu dijajal kesaktiannya. Dalam hitungan detik seluruh catatanku lenyap tanpa bekas dan hanya menyisakan kedukaan yang lumayan dalam.

Sejak kenal Blogspot, aku juga sudah mengenal Multiply. Tapi pada awalnya, tidak ada secuilpun tulisan disana karena Multiply hanya aku gunakan untuk mencari donlotan musik. Jangankan menulis, headshot pun tak pernah aku pedulikan dan dengan damai keluyuran di gudang musik itu dengan gambar kepala plontos.

Saat Blogspotku babakbelur, aku menemukan fasiltas crossposting di Multiply. Dengan fitur itu, dengan sekali klik, secara otomatis tulisan akan terposting di Blogspot dan Multiply. Aku pikir ini bisa menjadi solusi untuk mengantisipasi bila kejadian yang sama terulang kembali. Bila yang satu kembali dirusak orang, minimal aku masih punya satu cadangan.

Semenjak saat itulah aku mulai hidup di dua dunia dengan mempost satu tulisan yang sama di dua tempat. Cuma sayangnya, tak ada lagi tulisan bermutu tentang komputer dan tutorialnya. Rasa sakit hati yang membekas terlalu dalam membuatku hanya bisa misuh di blog. Ocehan-ocehan ga jelas, tulisan ngawur dan unek-unek memenuhi otak aku salurkan apa adanya. Makanya tak heran bila dalam satu jurnal, seringkali awal dan akhirnya ga nyambung blash.

Tak terasa 4 tahun sudah aku jadi penghuni Multiply, terhitung sejak saat aku mulai belajar mengisi jurnalnya. Bukan sejak pertama kali aku sign up setahun sebelumnya. Contact pertamaku ber ID ndrasen dan contact generasi pertama yang masih aktif sampai saat ini adalah bambangpriantono, srisariningdyah, aki2005, kiswasono dan ada kali yang lain yang ga kesebut.

Begitu sejarahnya kenapa aku mempublish satu tulisan yang sama di dua blog. Tak enak jurnal ke 1000 diisi misuh-misuh seperti biasanya, aku isi saja dengan catatan sejarah awal aku mengenal Blogspot dan Multiply. Semoga carut marut di Multiply saat ini tak membuat aku harus ngungsi mencari blog lain sebagai tempat menyimpan tulisan cadangan.


  
Read More

02 Mei 2011

Kapan Pulang..?

Sebuah pertanyaan pendek yang selalu bikin aku berubah sedih saat aku begitu bahagia kala nelpon ke rumah. Rasa kangen yang terasa indah mendadak terasa menusuk hati. Pengen rasanya segera berkemas dan pulang ke Jogja. Tapi apa daya pengajuan cutiku belum juga disetujui karena memang pekerjaanku belum juga kelar.

Memang ada yang aneh disini. Yang aku tahu, cuti adalah hak karyawan yang bersifat rutin sesuai dengan kontrak kerja. Untuk aku yang dapat roster 12 : 2, berarti setiap 12 minggu aku dapat jatah cuti 2 minggu. Namun tetap saja itu tak berjalan secara otomatis, karena aku juga harus mengajukan surat permohonan cuti. Dan anehnya di ujung blangko surat permohonan itu tertulis, semoga perusahaan mengabulkan permohonan cuti saya. Kok gitu ya..?

Setiap kali aku mempertanyakan kenapa cutiku ditunda-tunda, selalu jawabannya harus menunggu proyekku selesai. Bila aku desak lebih lanjut bahwa jatuh tempo cutiku dah lewat sebulan, orang HRD malah ngeledek. Katanya yang lain banyak yang jatah cutinya tiap 6 bulan juga pernah komplen. Lagian tiap bulan kalo pas aku meeting ke Jakarta, ga pernah langsung balik ke Kalimantan. Selalu bolos kabur dulu ke Jogja beberapa hari.

Iya juga sih.
Tapi tetap saja aku panas ati kalo di kantor liat ada yang ngajuin cuti dan langsung diteken HRD.

Yang sering bikin aku ga tahan adalah Citra. Setiap kali aku nelpon ibunya, dia dah pinter ngrebut telpon dan ngoceh. Suka cerita tentang cicak di dinding walau kedengarannya kocak. Sudah bisa manggil ayah walau aku susah membedakan katanya dengan ayam.

Ibunya suka kirim foto-fotonya melalui MMS, karena penyakit mumetnya bila didepan monitor kambuh lagi, yang artinya jadi libur ngeblog. Susah mengungkapkannya dengan kata-kata setiap ada MMS masuk. Apalagi bila ibunya cerita, Citra dah makin lincah. Sudah pinter bantuin ibu, sampe-sampe sepatu dan sandal jepit masuk ke mesin cuci semua. Sudah pinter mandi sendiri, tapi di bawah kran dispenser. Sudah mulai pinter buka kunci gerbang, makanya ibunya buruan beli gembok. Dan terakhir katanya dia lagi belajar naik pagar. Haduh, cewek banget dah...

Suer...
Aku pengen pulang
Kangen Ibu
Kangen Citra
Kangen adiknya juga

Aku sih orangnya sabar
Tapi adiknya sabar gak yah..?
Read More

01 Mei 2011

Hari Buruh

Melihat buruh teraniaya demo besar-besaran, aku jadi kasihan kuadrat. Kasihan pertama karena sudah teramat umum di negeri ini, perusahaan mencurangi hak-hak karyawannya. Kasihan kedua, jalan yang ditempuh untuk terlepas dari penganiayaan itu menurutku kadang sedikit keliru.

Aku tak ingin membicarakan demo yang terjadi di Jakarta hari ini. Aku hanya akan cerita tentang demo karyawan yang sering terjadi di tempat kerjaku. Cara karyawan disini menuntut hak atau perbaikan kesejahteraan secara garis besar ada dua tipe. Jenis pertama adalah demo yang sering dilakukan karyawan lokal dengan pola seperti yang terjadi di Jakarta hari ini.

Dengan mengatasnamakan buruh kecil, mereka mengajak, bahkan memaksa karyawan lain untuk mogok kerja. Menutup jalan hauling dan kadang sampai merusak properti perusahaan. Sepintas wajar bila orang teraniaya berusaha melawan ketidakadilan. Mereka telah dirugikan, sekali-kali gantian merugikan perusahaan apa salahnya. Namun mereka kadang tak sadar, bahwa perusahaan rugi sekian milyar akibat pemogokan itu seringkali tak berpengaruh banyak dengan keuangan perusahaan. Namun rakyat kecil lainnya yang ekonominya hampir sepenuhnya tergantung pada kegiatan hauling mereka lupakan. Misalnya para pemilik warung atau bengkel kecil sepanjang jalur hauling. Tanpa ada kegiatan penambangan, darimana mereka bisa mendapat pemasukan untuk makan keluarganya.

Belum lagi karyawan yang tidak berniat mogok. Mereka dipaksa mogok yang tak jarang diiringi intimidasi fisik. Bila kata demo dikatakan sebagai salah satu cabang demokrasi, bisakah pemaksaan kehendak itu dianggap sebagai bagian dari demokrasi. Lagipula yang aku lihat, mereka seringkali tidak konsisten dengan pendirian mereka. Merasa tidak cocok dengan perusahaan, tapi tak mau kehilangan pekerjaannya. Menuntut perbaikan kesejahteraan, tapi tak mau meningkatkan ketrampilan agar lebih berprestasi dalam pekerjaan. Berani anarkis, tapi tak bisa bicara banyak ketika dipanggil satu persatu untuk dialog. Itu jenis demo yang pertama. Paling banyak dilakukan dan paling banyak pesertanya. Juga paling sering tidak bisa mencapai apa yang jadi tujuannya.

Demo jenis kedua, biasanya dilakukan oleh karyawan kiriman dari Jawa dan memang tidak terlalu banyak pelakunya. Dilakukan secara perorangan atau dalam satu tim kecil dengan persiapan matang. Tak perlu massa yang banyak apalagi anarkis, namun seringkali efektif untuk menekan perusahaan bernegosiasi. Saat merasakan adanya kecurangan, pelaku demo jenis ini tidak akan serta merta mencak-mencak di depan kantor. Tapi dengan hati-hati mempelajari kondisi dan kebutuhan perusahaan atas skil yang mereka miliki. Mereka bahkan bersedia belajar lagi dan bekerja keras untuk menunjukan prestasi. Ketika mereka merasa perusahaan sudah mulai ketergantungan dengan kinerjanya, barulah mereka menuntut apa yang jadi keinginan mereka.

Tak jarang permintaan mereka ditolak mentah-mentah dalam negosiasi awal. Namun mereka tetap tak berubah beringas. Cukup memberikan senyum manis dilampiri selembar surat pengunduran diri. Protes secara damai ini yang jarang gagal. Perusahaan seringkali kelimpungan dengan metode demo mereka dan mengalah untuk memanggil mereka kembali. Kalo sudah begini, rasanya sudah tidak terlalu sulit. Tinggal tawar menawar, kalo harga pas, ya tancap gas...

Melihat kenyataan di lapangan ini, masih perlukah kita demo dengan mengerahkan masa yang sering berubah anarkis..?

Tapi itu untuk demo buruh ke perusahaan. Kalo demo warganegara ke penguasa pemerintahan, aku sendiri juga tak tahu harus bicara apa. Mungkin aku memang harus meninggalkan NKRI dan memilih menjadi warganegara Ngajogjokarto Hadiningrat. Semoga diterima dan tidak kebagian kapling di Gembiraloka. Kacaw...

Selamat Hari Buruh...
Ada pendapat lain..?

Read More

Keseimbangan

Ada seorang teman yang benar-benar berkarakter setia. Saking konsisten dengan prinsip hidupnya, sampai-sampai keluhan dia dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Mumet dengan problem rahasia, tapi tak mampu untuk berbuat apa-apa terkekang oleh aturan klise. Hanya dengan status teman, aku tak pernah bisa ikut campur dengan persoalan pribadinya. Namun karena status teman pula, aku berusaha menjadi pendengar setia yang hanya bisa mengajaknya bergurau agar bebannya bisa sedikit terlupakan.

Memendam masalah rahasia yang mungkin menyangkut aib pribadi atau seseorang memang bagus. Tak berani ngambek saat emosi memuncak dengan alasan dia seorang manusia santun juga perlu diacungkan jempol. Namun bagaimanapun juga, manusia terlahir dengan dua sisi yang berbeda. Selalu ada sisi terang dan gelap dalam dirinya yang takan pernah bisa hilang selama hayat dikandung badan. Adanya sisi gelap bukanlah sebuah kekurangan dari makhluk bernama manusia, melainkan pertanda bahwa manusia memang sempurna.

Dua sisi yang bertolakbelakang merupakan sarana agar hidup bisa berjalan seimbang. Manusia yang baik bukanlah manusia yang bisa menghapus bagian gelap dari dirinya, tapi yang mampu menyeimbangkan keduanya. Mampu menempatkan keduanya di tempatnya masing-masing secara tepat. Berusaha menghapus total sisi gelap hanya akan membuat keseimbangan terganggu dan wajar bila jalan kehidupannya lama-lama akan miring. Orang yang mengatakan dirinya 100% bersih menurutku hanya orang munafik yang tak mau jujur kepada diri sendiri.

Bagaimana bisa baik kalo kita memelihara keburukan..?
Sekali lagi bukan memelihara, tapi menempatkan di tempat yang tepat. Contoh mudahnya temanku itu. Dia seringkali merasa tak mampu menahan gejolak emosi, namun tak berani misuh hanya karena merasa dirinya orang santun. Buatku misuh merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Tak sopan mungkin benar bila kita misuh didepan orang tertentu. Namun siapa peduli bila kita berteriak di pantai atau tengah hutan. Masih adakah yang mengecap kita sebagai orang tak sopan..?

Menyimpan masalah rahasia memang baik sekali. Menceritakan rahasia diri kepada orang lain bisa dianggap tercela karena membuka bangkai  di luar kandang. Namun kapasitas memori manusia sangat terbatas untuk menampung semuanya. Bila otak itu diibaratkan bendungan yang diserang banjir bandang, pilihan kita hanya dua macam. Membiarkan bendungan itu runtuh total atau kita merusak sedikit pintu airnya agar banjir bisa mengalir dan beban berkurang. Tak perlulah terlalu idealis tak ingin orang lain tahu kejelekan kita. Karena toh semua manusia juga punya aib masing-masing walau berbeda kapasitas masalahnya.

Bagaimanapun juga segala hal butuh pelampiasan. Aliran air kehidupan tak boleh tersumbat. Apalagi saat mendapatkan banjir lahar dingin penuh material vulkanik. Berusaha bertahan dalam ego demi menjaga imej hanya akan membuat air keruh bertahan lebih lama. Kalau sudah begitu, kapan sungai kita bisa segera jernih dan ikan bisa kembali berenang-renang dengan damai..? Itupun kalo memang mampu bertahan. Kalo tidak..???

Selalu ada jalan untuk semua masalah. Ketika semua pilihan terasa buruk, disitulah kita harus berani berspekulasi dengan memperhitungan resiko paling minim di akhirnya. Sekali lagi, hasil akhirnya di masa depan secara jangka panjang. Bukan yang terasa dalam jangka pendek saat kita akan mengambil keputusan.

Disaat genting, meninggalkan norma bukanlah sebuah kesalahan. Agama yang katanya ketat aturan saja banyak pengecualiannya. Kita saja diijinkan makan barang haram bila sudah kepepet tak ada jalan lain. Hukum negara dalam KUHP saja tak bisa mempidanakan perbuatan melukai orang lain bila itu masuk kategori nodweer.

Namun ini hanya sebuah cerita tentang pendapat pribadi dan bukan sumbang saran. Karena kita tak pernah bisa membuatkan baju untuk orang lain dengan mengukurnya di badan sendiri. Pilihan tetap ada dalam dirimu. Mau bertahan dan mempertahankan kekeruhan hidup, atau merusak sedikit bagian hidup agar bisa segera jernih hati dan jalan pikiran.

Santai saja teman...
Aku yang ga sopan juga tetap punya banyak teman baik-baik dan jarang yang menjauh. Aku sering misuh atau ngomong jorok di blog ketika banyak masalah. Namun karena dengan itu aku bisa melonggarkan pikiran dan bisa merasa lebih baik di alam nyata, aku enjoy aja.

Seperti ketika sebuah masalah rutin datang mendesak
Daripada hidupku rusak secara besar-besaran
Aku pilih melanggar norma masyarakat
Di kamar mandi...



Kutulis ini untuk temanku...
Semut-semut kecil di belantara sana...
Manusia adalah sempurna dalam keseimbangan, teman...



Read More

30 April 2011

Tuan Tanah

Namanya Uweldi. Seorang petugas keamanan di kantor yang sebenarnya tak perlu sampai begitu. Waktu perusahaan tambang belum berdiri, beliaulah tuan tanah tempat kantor ini dibangun. Begitu luas kebun karet yang dia kelola. Namun tertarik memiliki uang hampir 300 juta secara instan, lahan usahanya itu berpindah tangan dengan nilai penggantian sekitar 15 juta per hektar.

Tak lagi memiliki usaha, dia melamar menjadi karyawan tambang. Kurangnya skil yang dia miliki membuatnya harus merelakan diri menjadi seorang satpam. Posisi itupun sebenarnya sedikit dipaksakan karena tidak ada dasar pengetahuan keamanan sama sekali, selain modal sebagai yang punya kawasan. Dia termasuk rajin dalam bekerja dan tak pernah aku lihat bolos. Namun dia memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan tak jarang main hajar saat terjadi salah komunikasi. Tak heran ketika latihan rutin, ada polisi instruktur yang digamparnya. Kadang diapun tak pernah merasa bersalah ketika ngantor sambil bertelanjang dada.

Di mataku, Uweldi adalah simbol budaya lokal yang jarang berpikir panjang tentang status. Bukan bermaksud rasialis, namun aku melihat begitu banyak perbedaan kebiasaan penduduk setempat dengan pendatang. Bila kita jalan-jalan di daerah Danau Salak yang didominasi pendatang dari Jawa, perkebunan karet rakyat begitu teratur dan terawat. Berbeda dengan perkebunan karet di seputaran tambang yang dikelola penduduk setempat, tanaman karet seperti tumbuh liar dan tak ubahnya hutan penuh belukar.

Padahal dengan dirawat teratur, satu hektar lahan karet bisa menghasilkan sekitar satu kuintal getah karet mentah perbulan dengan harga perkilonya saat ini mencapai 17 ribu perak di tempat. Tanpa perawatan yang baik, wajar bila menjual tanah dianggap lebih menghasilkan uang karena hasilnya tak seberapa. Seolah tak pernah ada rasa kehilangan atas tanahnya, karena setelah tak punya lahan dia bisa buka hutan untuk mendapatkan lahan baru. Mungkin itu sangat masuk logika ekonomi. Toh dia juga bisa maksa kerja di perusahaan yang membeli tanahnya daripada sekedar jadi pekebun. Bisa jadi dia berpikir jadi karyawan berseragam lebih terhormat daripada petani karet yang dekil. Melupakan bahwa dengan profesi petaninya itu dia berhak menyandang gelar sebagai seorang entrepreneur.

Walau pilihan hidup merupakan hak masing-masing orang, tetap saja aku merasa iba dengan pola pikir semacam itu. Kapan penduduk lokal bisa maju bila mereka lebih suka menjadi warga jajahan di tanah airnya sendiri. Sementara kekayaan alam dari perut buminya dikeruk habis-habisan dan uangnya diboyong ke Jawa atau bahkan keluar negeri hanya menyisakan sedikit saja di kantong penguasa setempat.

Kapan Uweldi dan Uweldi yang lain bisa diberdayakan agar mereka menjadi penguasa ekonomi di tanahnya sendiri..?
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena