Sejak kecil aku punya hobi makan sambil jegang, alias duduk dengan satu kaki dengkulnya ke atas. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu aku lakukan. Yang jelas sejak mulai bisa mengingat-ingat, sudah ada tetangga yang berkomentar seperti itu. Bisa jadi karena aku lebih suka duduk nglemprak di tanah saat makan, makanya jadi jegang. Namun orang lain memvonisnya, "dasar cucnya mbah Muslih..."
Dianggap faktor keturunan mungkin juga bisa, karena di kampungku yang biasa makan sambil jegang cuma mbahku doang. Dibilang aku meniru perilaku simbah jelas ga mungkin, karena beliau sudah meninggal saat aku masih berusia 7 bulan dalam kandungan. Ortu sendiri tak pernah ada yang makan sambil jegang, karena perilaku itu sering dikaitkan dengan tata krama. Bagaimanapun juga profesi guru kampung jadul sangat rentan sorotan masyarakat bila sudah menyangkut masalah kesopanan.
Setelah agak gede dan pindah kampung yang dekat pesantren, beda lagi pandangan masyarakatnya. Disitu makan sambil jegang sepertinya sudah kewajiban. Sayang kalo aku tanya alasannya, cuma jawaban menyebalkan yang aku dapat. "itu perintah kanjeng nabi, gausah dibahas. TTK HBS...!!!"
Otak kecilku tak pernah mau menerima jawaban pekok semacam itu. Tidak kenal google waktu itu, yang bisa aku lakukan cuma pakai ajian utak-atik gathuk. Aku cuma coba kaitkan dengan perintah berhenti makan sebelum kenyang. Saat kita makan sambil duduk normal apalagi sambil berdiri, susah sekali untuk menentukan batasan rem sebelum kenyang. Dengan perut sudah terasa sesak pada posisi jegang, begitu duduk manis, perut terasa jadi agak longgar. Pada saat jegang, volume lambung mungkin jadi mengecil tertekan dengkul, sehingga diisi sedikit dibawah porsi sudah terasa penuh.
Hanya sebentar mengalami masa pembenaran makan sambil jegang, aku dah kabur lagi agak ke kota yang kembali menganggap itu sebagai penyimpangan tata krama. Makanya aku begitu sering merindukan suasana kampung halaman. Jegang sila tingkrang di gubuk tengah sawah. Menikmati semilir angin membawa aroma padi muda sambil makan balakecrakan. Halah, basane bisa gado-gado gini...
Dan terlepas dari masalah perintah kanjeng nabi, pelanggaran tata krama, terbawa lingkungan atau faktor keturunan. Yang jelas anak wedhok semata wayang kok yo ikut-ikutan kaya bapaknya.
Mbok yo rada feminim dikit
Kamu tuh cewek, nduk
Dasar anak ibue
Laikdis dah...
Dianggap faktor keturunan mungkin juga bisa, karena di kampungku yang biasa makan sambil jegang cuma mbahku doang. Dibilang aku meniru perilaku simbah jelas ga mungkin, karena beliau sudah meninggal saat aku masih berusia 7 bulan dalam kandungan. Ortu sendiri tak pernah ada yang makan sambil jegang, karena perilaku itu sering dikaitkan dengan tata krama. Bagaimanapun juga profesi guru kampung jadul sangat rentan sorotan masyarakat bila sudah menyangkut masalah kesopanan.
Setelah agak gede dan pindah kampung yang dekat pesantren, beda lagi pandangan masyarakatnya. Disitu makan sambil jegang sepertinya sudah kewajiban. Sayang kalo aku tanya alasannya, cuma jawaban menyebalkan yang aku dapat. "itu perintah kanjeng nabi, gausah dibahas. TTK HBS...!!!"
Otak kecilku tak pernah mau menerima jawaban pekok semacam itu. Tidak kenal google waktu itu, yang bisa aku lakukan cuma pakai ajian utak-atik gathuk. Aku cuma coba kaitkan dengan perintah berhenti makan sebelum kenyang. Saat kita makan sambil duduk normal apalagi sambil berdiri, susah sekali untuk menentukan batasan rem sebelum kenyang. Dengan perut sudah terasa sesak pada posisi jegang, begitu duduk manis, perut terasa jadi agak longgar. Pada saat jegang, volume lambung mungkin jadi mengecil tertekan dengkul, sehingga diisi sedikit dibawah porsi sudah terasa penuh.
Hanya sebentar mengalami masa pembenaran makan sambil jegang, aku dah kabur lagi agak ke kota yang kembali menganggap itu sebagai penyimpangan tata krama. Makanya aku begitu sering merindukan suasana kampung halaman. Jegang sila tingkrang di gubuk tengah sawah. Menikmati semilir angin membawa aroma padi muda sambil makan balakecrakan. Halah, basane bisa gado-gado gini...
Dan terlepas dari masalah perintah kanjeng nabi, pelanggaran tata krama, terbawa lingkungan atau faktor keturunan. Yang jelas anak wedhok semata wayang kok yo ikut-ikutan kaya bapaknya.
Mbok yo rada feminim dikit
Kamu tuh cewek, nduk
Dasar anak ibue
Laikdis dah...
wihiiiiii, tampilan baru nih.
BalasHapuskalo di Banjar sini kok malah banyak tho mas, makan dengan satu kaki jegang gitu, cewek pula...malah lebih tinggi jegangnya, kayak didekep.
kayak aku...hehehe.
BalasHapuscuma ama si ganteng suka dimarahin..
"duduk yang bener napa sih!" :D
bikinin template kayak gini :(
tapi nuansanya coklat atau merah.. pleaseeee...!
wah iya neh templetnya lebg elegant, meski di hp-homepage- terasa lebih berat di hape saya, tapi menuju halaman posting cukup ringan. dan nama judul blognyapun jadi celoteh rawins ya. Moga sukses mas dengan templet barunya.
BalasHapustentang duduk silanya kalo di saya keknya bahasanya njagong téngkréng Mas. Katanya memang nrocok bin mbajor kalo makan di kursi kakinya dinaikkan gitu. dan memang katanya sunnah kalo nglémprakan gitu, dan utak atik asal gathuknya saya setuju dan masuk akal.
Tentang Citranya...
Dasar Buyutè Mbah Muslih!
Hihihi..
jeng...
BalasHapustar kalo jadi aku mau ke banjar, kita tingkrang bareng ya...
cem...
lagi cobain pake html5, tapi belom bisa neh..
min...
iya neh masih agak berat
padahal ini dah lewat banyak proses sunatan massal script-scriptnya
template aslinya bujubuneng deh panjangnya
error dari w3c validator ada 200 lebih
tinggal dikit lagi errornya yg belom ilang
Menurut saya, orang duduk njegang itu karena faktor budaya, dan budaya itu dipengaruhi ekonomi. Orang duduk njegang karena sudah biasa duduk demikian sejak kecil. Sudah biasa karena sudah merasa nyaman. Merasa nyaman karena itu posisi paling enak kalau sedang duduk LESEHAN. Orang duduk lesehan karena kan TIDAK ADA KURSI.
BalasHapusSekarang orang sudah bisa beli kursi, jadi seyogyanya kaki nggak usah ikutan naik ke kursi jika sedang duduk. Saya rasa Kanjeng Nabi juga nggak akan naikin kaki ke kursi seandainya beliau masih hidup.
Perkara anak yang duduknya njegang, itu bisa dididik supaya perilaku demikian diperbaiki. Mumpung masih anak-anak. Kalo sudah dewasa, memperbaiki perilaku, pasti susah.
di warteg-warteg juga banyak saya lihat orang makan angkat kaki satu ke bangku, ini jangan-jangan sunah nabi.
BalasHapusoh itu namanya jegang...
BalasHapuswah jujur
aku juga seperti itu...
sering sekali seperti itu
dan sering juga gak tahan meski ada di restoran orang kaya2 itu pun...
hihihihi
^___^
kalau kata orang, kacang ora ninggalake lanjaran ha ha....
BalasHapusnama blog dan tampilannya baru nih. (:
BalasHapushahaha kayaknya emang turunan pak. :D\tuh anaknya aja gitu