19 November 2011

Download Call of Duty Modern Warfare 3

Sehari semalam laptop tidak istirahat. Mumpung lagi dapat koneksi rada ngebut, aku sempatin donlot game yang sudah aku tunggu sejak awal tahun, Call of Duty Modern Warfare 3. Kayaknya akan banyak perubahan besar dalam CoD seri ke 8 ini mengingat ukuran file instalernya yang mencapai 13. Lumayan mpot-mpotan nungguin donlotnya kelar. Apalagi tangan kegatelan saat nemu link Battlefield 3 menari-nari minta disedot juga. Alhasil laptop harus kerja keras donlot file hampir 28 GB.

Urusan ngegame, aku memang susah banget untuk ninggalin hobi yang sudah berakar itu. Cuman aku memang membatasi hanya main game offline doang. Game multiplayer online sebisa mungkin aku hindari. Pernah nyobain sekali dan ternyata susah banget untuk berhentinya. Apalagi kalo main game bertipe RPG. Mau klik pause sebentar saja rasanya sayang, karena pasti akan ketinggalan banyak.

Game singleplayer offline yang bisa berhenti dan mulai lagi kapan kita mau saja kadang berat untuk beranjak. Sampe-sampe ibue di rumah suka bawain nasi dan lauknya ke depan PC biar aku ga telat makan. Yang bisa menghentikan secara langsung kayaknya cuma Citra yang tanpa dosa suka mencet tombol power di CPU. Kalo main di letop malah lebih parah lagi, suka dia dudukin atau jongkok kayak lagi toilet training.

Kegemaranku ke game first person shooter sudah pasti banyak efek negatifnya. Detail grafis game makin lama makin halus menuntut spesifikasi hardware yang tinggi. Yang langsung terasa adalah kantong jadi cepet bolong, kecuali bisa ngakalin kantor agar kasih letopnya yang berspek tinggi. Alasannya sih buat desain grafis atau buka autocad kelas berat. Padahal kalo orang kantor mau mikir, harusnya bertanya-tanya apa hubungannya pekerjaanku manjat tower dengan masalah grafis atau cad.

Kejelekan lain aku jadi lupa waktu. Terutama kalo dapat game baru dan belum mampu menyelesaikan semua misi. Rasa penasaran akan memaksa diri untuk terus bertempur sampai jadi pemenang. Untung aku batasi hanya main game singleplayer. Sehingga saat campaign habis, biasanya sudah mulai gampang disuruh berhenti karena cuma mengulang-ulang peperangan yang sudah dilakukan tanpa ada tantangan baru. Jadi untuk efek yang ini ga terlalu perlu dipermasalahkan.

Yang paling penting dari kejelekan ngegame ini adalah aku jadi belajar nyolong. Harga game asli yang mahal membuatku lebih suka cari donlotan game bajakan. Lagian salah yang bajak juga sih. Tahu ilegal, sehari setelah game rilis, kreknya sudah muncul di internet.

Ada kejelekan tentu saja ada kebaikannya. Secara umum orang main game adalah untuk refreshing, walau di banyak kasus main game malah bikin pusing. Untuk game pada level tertentu tingkat stresnya kadang lumayan tinggi. Tapi ada pepatah yang mengatakan, senjata terbaik melawan musuh adalah dengan musuh yang lainnya. Mengatasi stres dengan stres bisa dianalogikan saat kita makan habis pete. Biar mulut ga bau pete, bukankah sebaiknya kita makan jengkol..?

Mungkin ini sebuah kelainan psikis. Tapi aku sering menjadikan game sebagai pelampiasan. Kalo lagi ngambek, daripada mukulin orang beneran, mending nembakin musuh sampe puas di game. Yang paling terasa manfaatnya, aku bisa mengukur tingkat kestresan otak dengan game perang kesukaan. Mainkan pada level hard dan atasi hujan peluru yang tiada habisnya. Kalo lagi marah atau otak mumet, pasti sebentar-sebentar mati karena tidak fokus. Bagaimanapun juga perlu ketenangan dan kehati-hatian tinggi untuk bisa bertahan hidup di level tersebut. Makanya kalo sudah tidak mati-mati lagi, aku bisa menarik nafas panjang. Stresku sudah berkurang.

Haduh dasar jaka sembung...
Bukannya bahas gamenya malah ngocol gak karuan. Tar deh kalo dah tamat aku bikinin reviewnya. Ini baru aja mau instal. Yang mau coba, donlot saja di thepiratebay.org pakai torrent. Dan secara umum info gamenya adalah sebagai berikut :

Call of Duty: Modern Warfare 3 (c) Activision
11/2011 :..... RELEASE.DATE .. PROTECTION .......: Steam
2 :.......... DISC(S) .. GAME.TYPE ........: Shooter

Modern Warfare is back. On November 8th, the best-selling first person action series of all-time returns with the epic sequel to the multiple Game of the Year award winner Call of Duty: Modern Warfare 2.

System Requirements:
OS: Windows XP/ Windows Vista / Windows 7
Processor: Intel Core2Duo E6600 or AMD Phenom X3 8750 processor or better
Memory: 2 GB RAM
Graphics: Shader 3.0 or better 256 MB NVIDIA GeForce 8600GT / ATI Radeon X1950 or better
DirectX: DirectX 9.0c or later
Hard Drive: 16 GB free hard drive space
Sound: DirectX 9.0c or later
Internet: Broadband connection and service required for Multiplayer Connectivity. Internet connection required for activation.

Read More

Kartu Kredit

Masih kilas balik saat bolos ke Jogja kemarin. Setibanya di rumah, ibue menyodorkan amplop tebal yang ternyata isinya Kartu Kredit Gold dari CIMB Niaga. Sempat bingung juga karena aku tak pernah merasa apply kartu kredit ke bank manapun. Sempat kepikiran untuk menggunting atau mengembalikan kartu tersebut ke bank yang bersangkutan. Tapi setelah mikir agak panjang, aku rasa ada baiknya kartu itu aku simpan saja di dompet. Bagaimanapun juga aku lagi sering bepergian jauh menyebrang lautan.

Walau hutang bukanlah sesuatu yang mengenakan pada saat jatuh tempo pembayaran, tetap saja kita harus mempersiapkan diri agar suatu saat bisa dapat dana pinjaman secara mudah terutama dalam kondisi darurat. Secara pasti, aku sudah mempersiapkan ini sejak 3 tahun lalu sebagaimana pernah aku tulis di jurnal Pengen Punya Rumah.

Dimulai dari trik pada jurnal diatas untuk meraih kepercayaan bank, aku melanjutkan aksi tipu-tipu ke pihak leasing. Waktu itu, kantor memberikan bonus kepada karyawan berupa kendaraan yang dibayar secara kredit selama satu atau dua tahun. Aku yang waktu itu pegang General Affair mempunyai wewenang untuk mengatur semuanya. Dengan persetujuan kantor dan karyawan yang dapat motor, semua kredit mereka dibuat atas namaku dan hanya STNK nya saja yang atas nama pemilik. Aku berani ambil resiko itu karena pembayaran cicilannya dilakukan oleh kantor yang yakin banget ga bakalan macet.

Beberapa kali ngredit motor dengan cicilan lancar, aku tak pernah kesulitan lagi bila berurusan dengan leasing. Cukup nelpon atau sms, pihak leasing langsung mengatakan "beres bos" dan tak pernah bikin acara macam-macam. Dengan modal itu aku tak menemukan kesulitan ketika mencoba ngredit mobil. Malah kadang-kadang jadi menyebalkan. Motor atau mobil satu saja belum habis, sudah ditelponin lagi, "kapan ambil lagi, pak..?"

Mungkin hal yang sama berlaku untuk kartu kredit yang baru aku terima itu. Jaman masih getol belajar bisnis online, sampe mencret pengen kartu kredit kelas paling rendah untuk bikin paypal tidak ada satupun yang approved. Berbagai dalih gaji dan segala persyaratan sudah memenuhi syarat, tetap saja belum ada hasil. Termasuk mencoba setiap SPG yang nawarin kartu kredit di mall-mall, semua berakhir dengan pernyataan sama, "aplikasi anda ditolak." Setelah menggunakan trik ngerjain leasing dan bank selama 2 tahun, tanpa perlu nyodor-nyodorin aplikasi, berbagai kartu berdatangan ke rumah entah dapat data darimana. Rada sialan memang untuk urusan kebocoran data keuangan pribadi ini. Tapi gimana lagi, namanya juga Indonesia Raya.

Selama ini semua kartu tak diundang itu selalu aku tolak, karena niatku memang bukan itu. Aku tak mau terjebak konsumerisme dan jadi penggemar hutang. Aku butuh kepercayaan untuk bisa hutang dengan mudah hanya sebagai persiapan kalo nemu keadaan darurat saja. Makanya kartu kredit hanya aku gunakan untuk beli keperluan yang memang duitnya sudah ada. Aku tak mau memaksakan diri untuk membeli barang secara cicilan dengan kartu kredit.

Kebetulan di kantor ini, segala kebutuhan IT dikelola sendiri tidak melalui bagian purchasing. Sehingga kalo ada kebutuhan barang, duitnya aku masukin rekening dan bayar pake kartu kredit. Kata teman yang kerja di bank, kalo pembayaran lancar dan nilai transaksinya besar, aku bisa naik limit atau naik kelas jadi platinum dan pembebasan iuran tahunan seumur hidup. Aku pikir lumayan juga buat cari kepercayaan bank dan nambah point reward.

Semoga aku bisa bertahan dengan prinsip itu dan tidak terbawa arus dimana kartu kredit dianggap sebagai simbol status sosial. Pokoknya kartu kredit hanya digunakan untuk menunda pembayaran dan bukan alat untuk menambah beban hutang yang bisa mengacaukan cash flow pribadi.

Bebannya memang seringkali terasa berat. Kalo pas jalan lihat banner gadget menarik dengan embel-embel bunga 0%, gatal banget rasanya tangan pengen main gesek. Tapi aku harus bisa belajar ke pengalaman beberapa teman yang sampai jual mobil hanya karena tak mampu menahan diri. Karena tak merasa keluar uang dan bisa dapat barang, orang kadang ga bisa berpikir lebih panjang. Mungkin benar kata teman yang di bank, bahwa keuntungan terbesar dari provider kartu kredit adalah dari nasabah golongan menengah ke bawah. Tangan mereka lebih gatal dan merasa cukup membayar tagihan minimum barang bisa dibawa pulang. Padahal keuntungan bank justru dari pembayaran semacam itu dimana nasabah akan dibebani bunga berbunga. Untuk nasabah kelas atas, kartu kredit hanya dijadikan pengganti uang tunai saja sehingga penggunaannya dianggap sebagai kemudahan tambahan dari bank. Jadinya keuntungan yang didapat bank relatif lebih kecil karena pembayarannya cenderung tepat waktu.

Ada yang punya pengalaman lain dengan kartu kredit..?






Read More

18 November 2011

Argo Pecel

Buat yang bertanya-tanya tentang Argo Pecel di jurnal sebelumnya, itu merupakan sebutan masyarakat di sekitar rel terhadap kereta ekonomi di jalur selatan. Banyaknya pedagang pecel di kereta api membuat nama itu kemudian melekat setelah kereta generasi Argo lahir.

Pecel yang menjadi ciri khas daerah selatan bisa dibedakan dengan adanya combrang atau honje, sehingga sering disebut dengan nama pecel combrang. Di daerah Kroya dan sekitarnya, pedagang pecel sering menawarkan dalam bentuk paket yang disebut pecel rangkulan. Maksudnya pecel ditambah urang (rempeyek udang), sekul (nasi) dan kelan (sayur). Tak aneh bila kita naik kereta dan singgah di stasiun Kroya, akan banyak pedagang asongan yang berteriak "rangkulan, mas.."
Nawarin pecel itu, bukannya ngajak berangkulan.

Maraknya bisnis pecel di stasiun Kroya yang masuk wilayah Cilacap Jawa Tengah itu, tak bisa lepas dari kiprah pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan kereta api menjadi tulang punggung transportasi wilayah Jawa bagian selatan, bersamaan dengan pengembangan jalur utara dengan Jalan Daendelsnya. Kroya dijadikan titik pusat jalur kereta karena pemerintah Hindia Belanda memang menyukai etos kerja masyarakat Cilacap Kebumen untuk dijadikan pekerja. Dari Kroya lah ribuan buruh dikirim ke berbagai onderneming perkebunan atau pabrik gula di seluruh wilayah jajahan. Ramainya lalu lintas manusia di jalur Kroya itulah yang kemudian dilirik oleh usahawan pecel sebagai peluang emas.

Saat PJKA mulai membagi-bagi kelas kereta menjadi ekonomi, bisnis dan eksekutif, lingkup kerja para entreperenur pecel dibatasi hanya pada kereta ekonomi. Untuk kereta kelas Argo, kiprah mereka digantikan oleh pramugari-pramugari yang cantik, bersih dan wangi. Karena simbok pramugari pecel hanya ada di kereta ekonomi, nama Argo Pecel lama kelamaan melekat pada kereta rakyat itu.

Memang ada keasyikan tersendiri saat menumpang Argo Pecel. Interaksi antar penumpang dan para pedagang asongan terlihat akrab walau di beberapa kesempatan kadang menyebalkan. Mereka merupakan pejuang ekonomi yang tangguh. Tak peduli kereta penuh sesak, tetap saja bisa lewat sambil menyunggi dagangan di atas kepala. Soal kebersihan dan lain-lain ga perlu dipikirkan lah, namanya juga kereta rakyat. Tak jarang simbok pecel habis "nyusur" atau mengunyah sirih kemudian main comot sayuran sana sini saat melayani pembeli tanpa perlu cuci tangan dan merasa cukup mengelap tangannya dengan jarit atau kain yang dipakainya.

Not recomended kah..?
Tentu saja tidak. Karena untuk masyarakat kalangan bawah, kondisi semacam itu bukan alasan untuk tidak menikmati kuliner khas yang nikmat. Bertahun-tahun aku pernah akrab dengan makanan rakyat itu, tak pernah dapat keluhan sakit perut kecuali sesak nafas kekenyangan. Itulah sebabnya kenapa aku kadang merindukan Argo Pecel dan segala hiruk pikuknya.

Pokoknya hari kamis makan pecel
I miss you girl...

Yang masih penasaran bisa baca ulasannya di Kompas.



Read More

Jendela Kereta

Saat mau balik ke Jakarta dari kampung kemarin, mendadak aku pengen naik kereta api. Lama banget aku ga naik kereta rakyat yang murah meriah dengan jumlah pramugari kadang lebih banyak daripada penumpangnya. Ada keasyikan tersendiri saat menumpang kereta ekonomi yang suka aku sebut Argo Pecel. Begitu banyak interaksi yang terjadi dan bisa dijadikan bahan cerita dibandingkan saat aku naik kereta eksekutif yang lebih banyak diisi patung-patung cuek dan hanya peduli dengan gadget di tangannya.

Sampai stasiun aku mendadak bengong melihat papan pengumuman tiket ekonomi sampai bulan depan sudah habis. Dari petugas stasiun didapat informasi bahwa mulai Oktober kemarin, setiap kereta termasuk ekonomi dibatasi jumlah penumpangnya. Berita menarik walau resikonya kapasitas angkut jadi berkurang. Harga tiket 20 ribu perak untuk perjalanan selama 8 jam benar-benar pro rakyat. Apalagi kalo jumlah penumpang sudah dibatasi seperti ini, makin top deh kereta api kita. Sayang aku tak bisa mencoba aturan baru tersebut, sehingga tidak bisa merasakan implementasinya di lapangan.

Soal pedagang asongan yang bejibun, kayaknya juga harus dibatasi dengan aturan tersendiri. Kalo dilarang sama sekali aku ga setuju. Bagaimanapun mereka juga butuh makan sementara pemerintah kita masih belum mampu menyiapkan lapangan kerja untuk semua warganya. Hal lain yang perlu perbaikan adalah soal toilet. Air di toilet kereta ekonomi seringkali menjadi barang langka. Dengan pembatasan jumlah penumpang, kayaknya orang yang menduduki toilet sudah tidak ada lagi.

Aku tak bisa memungkiri bila toilet memang jadi tempat favorit untuk penumpang gelap. Seperti yang sering aku lakukan jaman sekolah dulu. Tiga apa empat orang beli tiketnya satu doang. Pas ada pemeriksaan tiket oleh kondektur, semuanya masuk toilet. Begitu kondektur mengetuk pintu toilet, cukup buka pintu sedikit dan tiket dijulurkan keluar. Selalu sukses karena kondektur ga pernah memaksa masuk untuk melihat ada berapa orang di dalamnya.

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah ketepatan waktu. Untuk yang ini, tidak bisa sepenuhnya kita menyalahkan PT KA. Rumah ortu kebetulan dekat rel kereta dan kalo malem aku suka ngobrol dengan petugas pemeriksa rel atau banghuwer atau bansekower. Siang malam mereka harus jalan kaki menelusuri rel dengan teliti, karena selalu ada saja kerusakan atau pencurian peralatan sinyal atau sekedar baud bantalan rel. Bagaimanapun juga keselamatan penumpang harus diutamakan. Sebelum ada kepastian jalur aman, kepala stasiun tidak berani memberikan sinyal hijau kepada masinis. Atau keterlambatan ini terjadi gara-gara Iwan Fals yang menyatakan kereta terlambat 2 jam sudah biasa. Padahal yang mulanya biasa saja, lama-lama bakal jadi kebiasaan.

Selain pencurian, kebiasaan buruk masyarakat kita adalah soal pelemparan kereta api. Coba saja periksa setiap gerbong kereta, pasti selalu ada jendela yang retak bekas lemparan batu. Kalo pencurian sudah jelas motivasinya ekonomi. Untuk kasus pelemparan ini entah apa maksudnya. Makanya kalo naik kereta malam hari dan kebagian duduk dekat jendela, gorden selalu aku tutup. Minimal bila terjadi pelemparan ada sedikit penghalang agar batu atau pecahan kaca tidak langsung mengenai badan. Kan ga lucu kalo lagi tidur pulas, tahu-tahu bangun dalam posisi ngemut batu koral. Amit amit dah...

Kembali ke soal kereta ekonomi. Aku ikut senang ketika PTKA mulai meluncurkan kereta ekonomi AC Gajah Wong. Semoga kedepannya semua kereta bisa berubah lebih nyaman walau harga tiketnya murah. Kesenjangan sosial antara kereta ekonomi dan eksekutif saat ini memang teramat jauh. Berbanding lurus dengan tiketnya yang cuma 20 ribuan sementara kelas Argo 300 ribuan.

Kalo ini bisa terwujud, orang buta harus bertanya-tanya untuk bisa tahu kereta yang didepannya kelas apa. Selama ini mereka mengetahuinya cukup dengan meraba jendelanya doang. Kalo jendelanya rapat, berarti gerbong eksekutif. Kalo ada celahnya berarti kelas bisnis. Kalo jendelanya ga ada kacanya berarti kereta ekonomi. Miris...

Semoga kereta api semakin maju dengan logo barunya
Dan masyarakat pun bisa memperbaiki isi otaknya
Agar jendela kereta tidak lagi ada yang retak

Read More

17 November 2011

Berubahan

Seorang teman nelpon nanya lowongan kerja di tempatku. Katanya usaha percetakannya tak mampu bertahan dan terpaksa harus gulung tikar. Mau buka usaha lain sudah telanjur kehabisan modal. Aku sempat tanyakan, kalo memang masalahnya cuma modal, kenapa tidak mencoba cari pinjaman ke bank.

Dia pun cerita panjang lebar bahwa kemunduran usahanya bukan sekedar soal itu. Tapi karena perilaku masyarakat yang memang sudah berubah. Kalo dulu, masuk musim kawin dia kebanjiran order cetak undangan sampai kewalahan. Sekarang orang hajatan paling cetak 100 lembar. Undangan cukup disampaikan melalui sms atau jejaring sosial. Payahnya dia kesulitan untuk mengikuti segala perubahan karena dalam benaknya telanjur tertanam bahwa ketrampilannya hanya di bidang itu doang. Berupaya alih profesi tanpa kepedean yang cukup, malah membuat semuanya makin berantakan.

Masalah semacam ini kayaknya umum terjadi. Manusia selalu berubah mengikuti perkembangan jaman. Tapi tetap saja ada satu dua orang yang tak mampu bertahan dan harus tersisih oleh seleksi alam. Padahal aku yakin kalo kita sebenarnya punya sifat dasar untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan.

Aku contohkan saja perubahan yang terjadi pada Citra. Saat masih di Jogja, setiap waktu dia hanya bermain dengan bapaknya. Kalopun keluar rumah, yang dia temukan hanya anak-anak cowok yang lebih besar. Bergaul dengan laki-laki membuatnya jadi tomboy dan pecicilan abis. Naik meja, naik pager sampe main bola adalah kegemarannya. Selalu bertemu orang-orang lebih besar membuat Citra jadi manja, karena semuanya pasti mengalah pada kemauannya.

Ketika ditinggal di rumah mbahnya selama hampir sebulan, begitu banyak perubahan yang terjadi. Si mbah punya cucu 7 yang hampir sebaya umurnya dan lebih suka ngumpul di rumah mbah daripada rumah ortunya sendiri. Berada di lingkungan teman-teman seumuran, Citra jadi mulai tahu apa yang dinamakan persaingan. Sifat manjanya mulai terkikis karena tak semua keinginannya akan dipenuhi. Minta gendong mbah kakung saja harus berebut dulu dengan sepupu-sepupunya. Apalagi kalo sudah rebutan mainan atau makanan, berisiknya minta ampun tak ada yang mau kalah. Mbahnya harus mati-matian mengajarkan kata toleransi agar suasana rumah menjadi damai.

Ada saudara sepupu cewek juga berpengaruh ke sifat Citra. Biarpun masih tetap tomboy, tapi dia sudah mulai belajar menjadi cewek. Semenjak tinggal di rumah mbahnya, dia mulai kenal yang namanya jepit rambut. Setiap habis mandi selalu sibuk cari jepit atau karet untuk mengikat rambutnya sambil berteriak "tatik.. tatik..." Sempat ga mudeng juga apa itu tatik. Sampai ibue ngasih tau kalo itu artinya dia pengen dikuncir biar cantik.
Alhamdulillah anakku mulai jadi cewek...

Dalam kehidupan saat ini, perubahan-perubahan semacam inilah yang harus selalu kita antisipasi. Mengikuti 100% memang tidak karena tak semua perubahan itu cocok dengan kita. Tapi antisipasi harus agar kita tak tereliminasi seperti apa yang dirasakan temanku tadi. Salah satu pertanyaan yang harus kita tegaskan lagi ke diri sendiri adalah, kita sebenarnya sedang cari kerja atau cari uang..?

Banyak teman pinter yang mengeluh nganggur hanya karena dia terfokus pada pemikiran cari kerja yang sesuai dengan pendidikannya. Buatku, pendidikan formal itu hanya formalitas belaka. Belajar ke perubahan itu yang terbaik untuk bertahan. Biar ga lulus, pendidikanku STM jurusan listrik arus kuat. Tapi kalo ditelusur jalan kehidupan profesi, sudah ga jelas banget dari sekedar kuli bangunan, tukang gali kabel, kenek bus, serpis komputer, instalatir, jual lukisan dan sekarang terdampar di IT tambang. Besok harus kemana lagi, aku sendiri ga pernah tahu.

Satu lagi yang harus kita pertanyakan kepada diri sendiri adalah cara kita mencari dan mengelola rejeki yang sudah didapatkan. Banyak orang yang mengajarkan untuk menekan pengeluaran agar selalu dibawah pendapatan. Adalagi yang mengajarkan agar selalu mencari penghasilan diatas pengeluaran. Silakan dipikir baik-baik dan pilih mana yang mau dijalani.

Prinsip hidup yang teguh juga harus dibungkus karet fleksibel kalo memang ingin bertahan hidup. Cape harus selalu belajar dan belajar bidang yang baru lagi, itu memang sudah jadi resiko yang tak bisa ditawar. Analoginya mungkin bisa dibaca dari pepatah Jawa lama.

Success is like pregnant
Everybody congratulates you
But no one know how many time you were fucked...



Read More

Gotong Royong

Saat masih di kampung kemarin, pagi-pagi dikejutkan oleh suara kenthongan dan teriakan kebakaran. Ga sempat mikir panjang, hanya pakai kolor dan singlet aku lari keluar berbaur dengan tetangga yang berlarian. Rumah yang kebakaran memang agak jauh dari rumah ortu, tapi hanya berselang beberapa rumah yang berjejer rapat itu ada rumah adikku.

Beruntunglah jadi orang desa yang sudah terbiasa gotong royong dalam segala hal. Sehingga setiap ada kejadian semacam ini, semua bisa bergerak ambil posisi masing-masing tanpa harus briefing. Yang merasa pemberani langsung ke garis depan. Yang badannya kuat tapi kurang berani jadi bagian mondar-mandir angkut air. Ada yang atur lalu lintas, ada yang angkut dan mengamankan barang-barang rumah sebelahnya dan sebagainya.

Posisi garis belakang yang tak kalah pentingnya adalah bagian mengurus anak-anak dan orang-orang histeris. Massa yang panik ini kadang malah lebih berbahaya dari kebakaran itu sendiri. Bukan hal yang aneh ada ibu-ibu lari keluar rumah sambil memeluk bantal sementara bayinya masih ada di tempat tidur. Hal yang sepele seperti membuka pintu pun kadang jadi sulit dalam kondisi seperti itu. Kunci sudah ditangan, tapi tak juga bisa memasukannya ke lubang kunci. Pernah pula aku temukan kejadian ada orang lari sambil bugil entah habis ngapain sebelumnya.

Walau sudah terbiasa kerja tim dalam situasi darurat, kekacauan tetap saja tak bisa hilang. Salah satunya dalam hal penyampaian informasi. Bisa dibilang setiap orang desa hafal kode-kode kenthongan yang suka dijadikan lagu dalam lomba tek tek tiap agustusan. Siji siji rojopati... loro loro ono maling... dst dst

Tapi setiap ada kejadian, jarang aku dengar kode itu mereka gunakan. Yang ada hanya kenthong titir alias dipukul bertalu-talu secara cepat. Payahnya bila ada yang dengar suara titir itu, setiap orang yang berada dekat masjid atau pos ronda akan melakukan hal yang sama. Jadinya warga seringkali bingung kejadiannya dimana karena suara kenthongan terdengar di seluruh pelosok negeri.

Begitu api berhasil dipadamkan, warga kembali berkumpul di lokasi untuk kerja bakti untuk membangun kembali rumah korban. Warga yang punya kayu atau genteng bekas di rumahnya secara sukarela dibawa serta. Bahan bangunan lain yang harus dibeli dibayar menggunakan kas RT atau desa. Ala kadarnya memang. Tapi minimal korban punya rumah darurat untuk berteduh dan mengamankan harta benda tersisa.

Dalam hati aku bersyukur. Di jaman global yang serba mbuh ini, sifat gotong royong masih tersisa walau hanya ada di pinggiran. Di kota, ada tetangga hajatan atau bahkan meninggal, kalo ga kenal-kenal amat, masih banyak orang yang cuek bebek. Boro-boro turun tangan membantu, masih mau nengok saja sudah untung. Dan sikap seperti ini, kayaknya makin lama semakin mewabah di antara kita.

Kita makin cuek dengan sesama
Bisa jadi karena kekeluargaan itu memang ibarat kentut
Kita yang melakukan tapi hanya orang lain yang merasakan
Baunya...

Read More

16 November 2011

Kuat Nenen

Saat pulang kemarin, yang bikin aku kaget adalah si Encip. Saat aku tinggal umur seminggu, dia benar-benar masih bayi mungil yang tiada berdaya. Hanya selang tiga minggu kemudian, yang aku temukan adalah bayi gundul, bulet dan pinter ngoceh. Aku ga habis pikir dalam waktu sebulan bobot badannya bisa naik 2,8 kg.

Lain Cipta lain juga Citra yang justru turun satu kilo karena susah makan gara-gara tumbuh gigi lagi. Kalo badannya sih sama-sama kenceng, karena memang dua-duanya ga pernah mau diem. Jangankan dalam kondisi melek, lagi tidurpun keduanya bisa muter-muter ga karuan di tempat tidur. Waktu mau tidur sih semua berbaris rapi persis hansip mau upacara. Pas bangun tidur posisinya sudah ga jelas lagi. Makanya ibue harus benar-benar jaga posisi agar mereka tidak ada yang pindah tidur ke kolong menyusul bantal dan guling.

Kasus yang sama juga terjadi pada ibu bapaknya. Mungkin karena Cipta nenennya kuat banget, ibue bawaannya makan mulu. Cuman karena super sibuk ngurus dua anak bandel, jadinya kenaikan bobot badannya ga terlalu drastis. Biasa kan ibu-ibu. Ga cuma kenaikan harga cabe yang bikin heboh, berat badan naik sedikit saja ributnya sudah kaya ayam mau bertelor. Udah gitu suka komplen lagi kalo melihat aku yang makin lama makin langsing ini.

Aku makin langsing wajar. Itu resiko jadi pekerja di tengah hutan yang kadang telat ransum. Air bersih saja disini susahnya minta ampun. Kaos-kaos putih yang aku bawa dari rumah sekarang sudah mulai berubah coklat, apalagi orangnya. Belum lagi urusan perawatan tubuh lainnya, pasti sangat tidak memungkinkan. Sepeda motor saja harus diservis sebulan sekali. Ini kerja keras tiap hari, baru bisa servis setiap tiga bulan doang. Itupun kalo nasib lagi ga apes. Kalo pas pulang cuti yang di rumah palang merah...?

Makanya kalo ibue sudah mulai komplen tentang dietku, paling banter aku kasih contoh anak-anak. Cipta bisa gemuk karena nenennya susah berenti. Aku kan kaya Citra yang susah makan lagi tumbuh gigi. Bisa jadi waktu aku rada gemukan dulu juga karena rajin nenen. Kalo sekarang aku gemuk, tar malah dicurigain.

Hihihi mbuh ah
Malah jadi pengen pulang neh...



 
Read More

Ngupil

Dua minggu yang melelahkan. Beragam masalah dan musibah datang silih berganti. Dimulai dari undangan ke Jakarta untuk meeting yang ternyata salah orang. Sampe bengong ketika nyampe ruang meeting ditodong permasalahan tentang genset di site yang sering mati. Tapi gapapa juga, karena bisa bolos kabur ke Jogja 4 hari ketemu keluarga.

Kembali ke Jakarta datang berita, site dilanda angin ribut yang merobohkan workshop dan bikin tower radio link internetku miring karena angkurnya kecabut. Minta tiket balik ke Kalimantan tidak bisa segera dipenuhi kantor dengan alasan tiket hari-hari itu lagi mahal abis. Akhirnya cuma bisa kasih instruksi per telepon kepada staf yang ada di site untuk menangani segala permasalahan secara darurat.

Ketika bisa dapat tiket, salah seorang teman telat nyampe bandara dan mau ga mau ditinggal. Terpaksa bertahan di Banjarmasin 3 hari dengan akomodasi rogoh kocek sendiri untuk nunggu teman yang tertinggal. Masih posisi di Banjarmasin, datang lagi berita dari site, kalo tindakan darurat atasi internet malah berujung pada koneksi mati total. Hape sampe gabisa istirahat kebanjiran telpon dan sms komplen dari site maupun kantor pusat atas kematian internet.

Buru-buru balik ke site untuk membantu staf lokal yang sudah angkat tangan. Sampe keringetan memeriksa semua peralatan dan setingan, tidak juga ketemu apa masalahnya. Dua hari kemudian baru ketahuan kalo invoice tagihan internet ga nyampe ke kantor dan jebulnya internet memang diblokir Telkom karena belum dibayar. Semprull...

Belum juga reda menangkis komplen-komplen yang masuk dengan melempar kesalahan ke pihak keuangan, berita duka datang dari stockpile. Ada temen yang terpeleset dan masuk ke crusher yang digunakan untuk meremuk batu bara. Tak perlu dibayangkan batu saja hancur masuk ke crusher, apalagi cuma tulang dan daging.

Musibah terbesar adalah ketika big bos tahu-tahu datang ke site. Yang ini lebih bikin cape dari semua masalah yang ada. Terutama cape hati. Pagi sampai pagi lagi, isinya cuma meeting dan meeting berkepanjangan yang kadang ga jelas ujung pangkalnya. Bisa dimaklumi memang, kalo diinget ini perusahaan keluarga bermanajemen toko. Tapi yang namanya cape hati kan ga cukup diatasi dengan kata harap maklum. Jatuh bangun juga ngikutin apa yang bos mau.

Mungkin si bos ga tau kalo kekayaan itu ibarat upil
Makin dicari makin banyak dapatnya
Tapi kalo terlalu bernafsu
Bisa lecet tuh idung

*Maaf kelamaan ngilang gabisa bertandang...

Read More

09 November 2011

Troly Syamsudin

Kembali ke bumi Dayak setelah beberapa hari meeting boong-boongan di Jakarta yang berakhir bolos pulang ke Jogja. Menyapa lagi Banjarmasin yang mengucap selamat datang dengan gerimis kecilnya di bandara Syamsudin Noor.

Tidak ada yang aneh dengan bandara yang berada di Banjarbaru. Tempat parkir pesawat yang jauh dari terminal disaranain dengan bus yang cukup menyegarkan badan saat harus berlari kecil menghindari tetesan air menuju bus. Ini yang kadang bikin masalah karena bagasi juga klebus basah kuyup.

Bila tak bawa banyak bagasi, memang tak terlau bermasalah. Soalnya di bandara Syamsudin Noor yang paling menyebalkan adalah urusan troli. Jangan harap ada troli tersedia di dekat conveyer tempat ambil bagasi, kecuali kita memang mau bayar portir. Troli harus ambil sendiri di luar bahkan kadang sampai ke tempat parkir.

Entah kenapa pihak bandara tak mau peduli menyiapkan petugas untuk ngebalikin troli ke tempat bagage claim. Paling ribet itu di pintu keluar, karena orang yang baru ambil troli di luar juga harus masuk kembali di pintu yang sama. Kalo pas bandara lagi padat, pintu keluar terminal kedatangan merupakan sumber kemacetan lalu lintas orang hanya karena urusan troli.

Kapan soal troli ini bisa segera diperbaiki..?

Mobile Post via XPeria
Read More

08 November 2011

Berangkat Lagi

Empat hari bersama mereka rasanya begitu singkat. Berat juga rasanya harus melangkah pergi biarpun kejadian seperti ini sudah begitu rutin terjadi. Belum juga pergi, yang kepikir adalah saat bisa pulang lagi di awal Januari nanti.

Padahal selalu ada kesempatan tak terduga di sela-sela jadwalku 12 minggu kerja 2 minggu cuti ini. Seperti kepulanganku kali ini bisa terjadi hanya 3 minggu sejak cutiku yang terakhir habis. Acara meeting di Jakarta bisa dimanfaatkan untuk bolos beberapa hari karena memang koordinasi antar bagian khususnya HRD sebagai pengurus tiket masih suka katrok.

Tapi tak juga selalu bisa kabur begini. Seperti pertengahan tahun aku harus kerja penuh 12 minggu tanpa ada acara meeting ke kantor pusat. Itupun cutinya masih harus diundur 5 minggu lagi atas permintaanku biar pas dengan acara lebaran. Baru sekali sih ada kejadian seperti ini. Namun tetap saja membuatku hanya bisa menjawab belum pasti, ketika ibue nanya kapan aku pulang lagi.

Gausah bersedih ya...
Doakan saja sering dapat undangan ke Jakarta plus kesempatan bolos beberapa hari tanpa ketauan. Biar kesedihan itu aku saja yang merasakan. Kenapa saat bisa pulang saat ini, ibue belum 40 hari turun mesin...

Met bobo, nak...
Ayah berangkat dulu cari rejeki
Jaga ibumu dan jangan nakal ya...

*Menanti kereta yang masih saja terlambat di stasiun Sidareja

Mobile Post via XPeria
Read More

02 November 2011

Naar Djokja

Bertahan dua hari di Jakarta dengan kantong pas-pasan, sementara otak lagi kena sindrom turun gunung ternyata menyiksa juga. Setiap lihat warung makan cacing perut langsung berontak minta jatah. Apalagi setelah tadi seharian ngeluyur di JCC nonton pameran Indocomtech. Tambah mumet kepalaku melihat SPG bergentayangan.

Daripada terjadi sesuatu yang sesuatu banget, aku pikir mendingan pulang ke Jogja untuk serangan oemoem. Bolos meeting udah biasa inih aku lakuin. Kalo ketauan paling-paling disemprot si bos. Dipecat juga biarin lah asal dikasih pesangon 12 kali gaji. Lumayan bisa buat nganggur setahun.

Acara selanjutnya adalah mencari tiket. Dan menemukan kenyataan kalo penerbangan malam ini tiketnya berada di harga 600an. Daripada duit kurang dan bayar tiket pake KTP, aku meluncur ke stasiun Gambir. Rencananya naik kereta Taksaka yang agak murahan. Ikutan antri yang panjangnya kaya kereta, begitu 2 langkah lagi dari loket dipasang pengumuman tiket habis. Telanjur antri, akhirnya aku teriak, "apa saja mas, yang penting nyampe Jogja..."

Dapet Argo Lawu yang tiketnya mahal tapi berenti-berenti mulu tanpa ada yang bilang atengsiong plis. Masa berangkat dari Gambir jam 8, jam 9 baru nyampe Klender. Alamat nyampe Jogjanya besok neh...

Lama ga naik kereta, aku sampe lupa kalo nantinya ada kondektur yang memeriksa tiket. Kebiasaan kalo dah duduk ga pernah merhatiin boarding pass disimpen dimana, pas kondektur nanya tiket aku pecicilan nyariin tiket. Untung ketemu di kantong keresek tampat aku ngumpulin sampah bekas bungkus cemilan.

Yang sedikit menghibur adalah, di bawah meja kecil deket jendela terpasang stop kontak alias colokan listrik. Terakhir naik Argo beberapa tahun lalu, fasilitas kayak gitu belum ada. Jadinya hape dan letopku yang baterainya dah payah bisa jadi hiburan sepanjang perjalanan. Ide keren dari PT KAI. Semoga dalam waktu dekat ditambah dengan fasilitas wifi atau hotspot gratisan. Biar para penumpangnya betah di kereta, sampe pada lupa turun.

Namun adanya colokan di tiap kursi ada juga efek negatifnya. Padahal kali ini pramugarinya cakep dan enak diajakin ngobrol. Biasanya kalo nemu yang begini, aku suka nongkrong berlama-lama di kereta makan. Alesannya sih numpang ngecas hape, padahal niat aslinya mau minta nomer hape.

Kalo di kereta semacam ini aku berani minta nomer hape apalagi ke pramugari. Kredibilitasnya sudah jelas. Kalo di KRL engga banget dah. Kapok tralala inget pengalaman jaman dulu di kereta jurusan Bogor. Ada cewek manis banget, pokoknya sedap dipandang mata dari sudut manapun. Diajakin ngobrol juga asik. Merasa dah banyak ngobrol, keluar jurus aslinya, "neng, bagi nomer hape dong..?"

"Mau yang apa bang..?"
"Maksudnya..?"
"Abang mau yang sempati, mintarti, engsel, pleki...."
"Stop stop, komplit amat neng. Yang telek omsel aja deh.."
"Silakang bang, tinggal pilih mau nomor yang mana. Cuman 5 ribuan kok. Sekalian isi pulsa tronik juga bisa..." jawab si eneng sambil ngeluarin segepok kartu perdana dari tasnya...

Mobile Post via XPeria
Read More

Sindrom Saba Kota

Kemarin bersama beberapa orang teman merapat ke kantor Jakarta untuk keperluan meeting. Namanya orang hutan pergi ke kota apalagi di tanggal muda, materi meeting kayaknya sudah ga begitu kepikiran. Maunya buru-buru sore biar bisa ngeluyur berwisata kuliner memuaskan hasrat sindrom keluar hutan.

Makanya begitu si bos bilang meeting dilanjut besok pagi, kalo anak SD mungkin sudah berteriak surako surak hore sambil jungkir balik. Ga mikir mandi apa ganti baju, masuk mess cuman naruh letop langsung nyetop mikrolet cari tempat makan yang asik. Walau bareng 3 orang teman yang semuanya orang kota, kelamaan di hutan membuat sindrom si Kabayan saba kota turut menghinggapi. Keluar kantor jam 6 sore, nyampe 9 masih saja muter-muter gonta ganti angkot sambil terus berdebat bego mau kemana makannya apa.

Keburu laper, akhirnya hinggap jalan Sabang. Beneran sindrom yang parah. Kebiasaan tiap hari di mess lauknya indosiar alias ikan terbang mulu, melihat makanan berderet-deret rasanya enak-enak semua. Baru pesen minuman saja sudah hampir memenuhi meja. Empat orang yang duduk, gelas di meja ada kali 12 biji. Beneran persis onta deh.

Indah bener menikmati makan kaya orang kota. Pengamen, pengemis sampai SPG nawarin rokok serasa bukan pengganggu. Setiap abis ngasih recehan ke pengamen, tak lupa kasih pesan supaya temennya suruh datang lagi. Ke SPG yang hilir mudik juga pesennya sama, tapi dikasih embel-embel ada pin BB ga..? Wes, pokoknya kena sindrom belagu abis juga sampe lupa kalo aku ga punya blekberi.

Belum puas lidah tapi tangki sudah melebihi kapasitas, baru kepikiran siapa yang bayar duluan. Soalnya di perusahaan ini memang rada diskriminatif. Yang pake rekening BCA atau Mandiri, tanggal 1 gaji sudah masuk. Karena di kota deket site cuma ada BRI, karyawan tambang yang gajiannya tanggal 5 juga harus lewat BRI. Katroknya, karyawan dari Jakarta yang pakai BRI juga jadi ikutan tanggal 5 gajinya dikirim.

Ternyata yang 2 orang pakenya BRI. Jadinya mereka melirik ke aku dan si Mamang. Si Mamang emang pake BCA tapi ATMnya dipegang istrinya. Kalo aku gajian memang langsung masuk ke rekening istri biar ga ribet dan yakin banget kalo tanggal segini ibue pasti belum transfer uang jajanku.

Untung uang akomodasi ke Jakarta masih ada sisa jadinya ga harus ninggalin KTP. Soal ongkos balik ke Kalimantannya gimana besok. Memang kalo cuma mikir ongkos, akomodasi itu lebih dari cukup. Tapi setiap mau balik ke Jawa, selalu saja borong oleh-oleh dan disisain pas seongkosan pulang.

Aku sendiri kalo untuk urusan ongkos dan jajan, selalu merasa ga enak kalo harus minta ke ibue. Buatku gaji itu 100% hak buat yang di rumah. Apalagi ibue pernah bilang, gaji itu ibarat menstruasi. Datang setiap bulan, namun hanya bertahan seminggu lalu pergi sampai dia datang lagi.

Kalo sudah begini, memang suka kepikiran untuk menambah nominal anggaran nakal. Tapi aku tuh paling susah kalo ditanya ibue punya duit apa engga trus bilang engga padahal abis dapat sabetan dari luar. Jaman masih kerja di Jogja dulu pernah dikasih amplop sama seniman yang lukisannya laku. Aku simpen amplopnya di laci di bawah tumpukan kertas sebagai cadangan kalo-kalo butuh sesuatu. Pas ibue beres-beres mejaku yang berantakan, dia nanya, "yang di laci duit apa, yah..?"

"Emmm uang sial, bu.."
"Kok uang sial..?"
"Emang sial. Udah diumpetin masih ketauan juga..."

Dah dulu ah...
Dah mulai ngelantur dari awal cerita
Selamat menikmati tanggal muda, teman...

Mobile Post via XPeria

 
Read More

31 Oktober 2011

Persahabatan

Tak terasa sudah sampai lagi ke penghujung Oktober. Dan di bulan ini, sudah dua teman lagi yang pergi dari site karena tak tahan dengan kondisi manajemen toko yang acakadut. Sedih juga setiap bulan harus kehilangan teman-teman becanda melepas segala kepenatan di tengah hutan seperti ini. Lebih sedih lagi kalo ingat mereka yang pergi adalah orang-orang yang selalu memintaku bertahan.

Sudah dua orang manajer HRD yang ngerjain aku agar tidak pergi. Pertama saat aku kabur bulan Maret lalu dan sudah santai di rumah hampir sebulan. Beliau nelpon memintaku kembali dengan berbagai penawaran baru. Tak sampai sebulan aku balik, malah dianya yang duluan cabut.

Sekitar pertengahan tahun ini aku ribut dengan bos dan langsung mengemasi ransel. Tahu aku mau kabur, pasukanku bersumpah setia bilang ikut keluar dari pekerjaan. Juragan HRD yang baru langsung sibuk merayu-rayu agar aku bertahan. Katanya sih dia butuh banget bantuanku di site. Dasar orang tak tegaan, aku pun menyabarkan hati dan batal pergi hanya demi kata persahabatan. Makanya aku empet banget ketika pertengahan bulan ini malah dia yang mengundurkan diri. Lebih enek lagi ketika aku komplen tentang kepergiannya, dia cuman bilang, "elo mau cabut sebenarnya ga begitu gua pikirin. Tapi jangan satu batalyon dibawa semua. Gua yang pusing cari gantinya tau..."

Persahabatan memang ibarat kencing di celana. Semua orang dapat melihatnya, tapi hanya kita sendiri yang dapat merasakan kehangatannya. Dan inilah yang seringkali menjadi dilema. Mudah saja aku berlenggang kangkung pergi dari sini. Tapi kesetiaan beberapa teman membuatku harus berpikir panjang. Apalagi beberapa orang yang aku bawa kesini, sebelumnya mereka dalam posisi kerja. Apakah etis aku tinggalkan mereka, padahal mereka pun bilang akan ikut keluar bila aku mengundurkan diri. Makanya aku jadi pilih-pilih banget kepada beberapa penawaran pekerjaan yang masuk. Yang aku pikirkan bukan cuma soal kerjaan dan gaji saja. Tapi juga kepastian untuk aku membawa serta beberapa teman setia walau mungkin bertahap.

Lagi pula pekerjaanku belum selesai. Aku tak terbiasa meninggalkan pekerjaan setengah jalan. Aku ingin sistem yang kubangun segera tuntas dan bisa implementasi. Sehingga saat aku pergi, minimal aku punya bahan cerita bahwa di perusahaan anu aku bikin anu. Ada kebanggaan tersendiri yang sulit diungkapkan saat aku dengar sesuatu yang aku buat masih dipakai setelah lama aku meninggalkannya.

Atas nama persahabatan dan ambisi itulah yang bisa bikin aku bersabar dengan kenyataan pekerjaanku banyak dihambat. Cuma kadang sebel juga ketika ada teman yang sudah lama cabut menghubungi lewat telpon atau chat. Sudah pasti mereka akan mempertanyakan kenapa aku masih bertahan. Kalo sudah begitu, paling banter aku cuma bilang, "target pekerjaanku kelar kan setahun..."

Menyebalkan dan bikin bete memang. Tapi itulah resiko hidup yang kadang tak bisa kita jalani sekehendak hati. Tak boleh aku menolak saat perputaran roda berada di bawah. Makanya segala kesusahan ini sering aku anggap sebuah pemerkosaan. Saat aku tak mampu melawan, kenapa pula tak mencoba untuk menikmatinya...

Selamat berpulang, teman
Semoga damai telah tega mendahului kita...
Read More

30 Oktober 2011

Tumbal

Suratan tangan di hari minggu tanggal tua. Orang lebih suka ngobrol di mess karena jarang yang ngeluyur ke kota. Namanya dompet lagi kempes-kempesnya, obrolannya lama kelamaan ngaco dan lebih banyak menghayal yang bukan-bukan. Namun ada satu cerita dari karyawan penduduk setempat yang lumayan menarik, yaitu tentang tumbal pesugihan.

Terlepas dari masalah agama atau tahayul, hal-hal klenik semacam itu kirain cuma ada di Jawa yang identik dengan Nyi Blorong atau Nyi Roro Kidul. Ternyata disini pun ada orang yang memuja setan demi kekayaan instan. Teman itu cerita tentang satu keluarga besar yang kaya raya. Dari delapan bersaudara itu yang hartanya berlimpah hanya satu orang. Ketujuh saudaranya hanya lontang-lantung dan semua kebutuhan hidupnya ditanggung oleh si sukses itu. Semua diberikan rumah dan mobil termasuk anak-anaknya.

Aku sempat menepis cerita, karena menurutku membantu saudara yang kurang beruntung itu sesuatu yang wajar. Tapi teman tadi tetap keukeuh dengan gosip yang beredar di masyarakat. Katanya, pada waktu masih sama-sama miskin, semua keluarganya itu sehat wal afiat. Begitu dia mulai kaya mendadak, satu persatu saudaranya mulai bertingkah seperti orang stres sampai sekarang. Katanya mereka memang dibuat setengah gila sebagai tumbal atau kompensasi atas kekayaan yang berlimpah itu.

Jadi ingat waktu aku beberapa tahun tinggal di pedalaman Jawa Barat. Mencari kekayaan dengan cara sesat semacam itu sudah menjadi rahasia umum dan bukan lagi dianggap aib. Tak heran bila sebuah kampung kecil yang terpencil kehidupannya lumayan mewah. Memang tidak semuanya begitu. Yang masih berada di jalan yang benar juga banyak. Kompensasi yang berlaku di pemujaan kampung itu adalah tidak punya keturunan. Makanya disana banyak orang kaya raya tapi tidak punya anak. Setelah orang itu meninggal, ya habislah semua harta kekayaannya itu.

Cerita yang lain aku temukan di daerah pesisir selatan masih di Jawa Barat juga. Ini agak aneh dan susah dimengerti tapi kisahnya memang begitu. Yang berlaku adalah kontrak umur. Misalkan dia teken kontrak selama 10 tahun, dalam jangka waktu segitu dia mendadak kaya raya. Setelah 10 tahun berlalu, dia akan meninggal dan seluruh hartanya juga habis dalam waktu singkat kena berbagai musibah. Mitosnya, sebenarnya dia itu belum mati. Tapi pindah ke alam ghaib jadi kacung di keraton dedemit yang dipujanya sampai batas waktu umur yang sebenarnya. Misalkan dia mati dimakan demit di umur 50 tahun, sedangkan takdirnya mati di umur 60, berarti selama 10 tahun dia berada di alam antah berantah.

Karena sudah umum, kasus-kasus semacam itu sudah tidak ada lagi tetangga yang mempergunjingkan. Toh mereka tidak merugikan orang lain sebagaimana halnya pemelihara tuyul atau babi ngepet. Malah tetangga sebelah kos-kosan pernah mengaku kalo diapun ikutan menggadaikan umur ke setan. Aku sempat tak percaya melihat kehidupannya yang biasa-biasa saja tak seperti orang lain yang wah.

Entah bagaimana awal mulanya, tetangga itu malah jadi curhat tentang prinsip hidupnya. Dia merasa orang bodoh dan miskin, tapi tak ingin anak-anaknya bernasib sama. Karena kondisi ekonominya yang tak memungkinkan, sedangkan dia merasa punya tanggung jawab atas masa depan anak, diapun nekat melakukan itu.

Alasannya kenapa hidupnya tidak dibikin mewah, katanya takut anak-anaknya jadi manja. Dia didik anak-anaknya dengan baik agar menjadi orang yang ulet dan mandiri. Bagaimanapun juga dia tau resikonya. Ketika kontraknya habis, semua kekayaannya akan kembali lenyap. Sebelum saat itu tiba, semuanya disekolahkan setinggi mungkin. Menurut pemikiran dia, hartanya memang akan hilang, tapi apa yang sudah masuk dalam otak anak-anaknya tak akan hilang. Sayang aku hanya setahun di sana dan tak tahu kelanjutan cerita setelah si bapak itu meninggal. Apakah hanya hartanya saja yang musnah atau anak-anaknya juga ikut berubah jadi bego.

Percaya atau tidak, itulah sebuah realita tentang kehidupan manusia yang kadang aneh-aneh di mata manusia lainnya. Aku tak mau menyangkutpautkan cerita ini dengan masalah religi karena pasti akan berbenturan. Mungkin memang banyak cerita lain tentang tumbal pesugihan semacam ini. Namun hanya kisah diatas yang aku lihat dan dengar dengan mata kepala sendiri di lingkunganku. Soal tumbal darah perawan, bayi, tuyul, ngepet dan semacamnya sampai sekarang aku belum pernah temukan apalagi nyobain. Amit-amit dah...

Tumbal pesugihan yang aku lakukan bukannya ngepet, tapi ngempet. Demi menafkahi anak istri, aku harus ngempet si otong karena cuma punya cuti 3 bulan sekali. Pesugihan semacam ini perlu mempersembahkan korban juga. Paling sering tuh korban perasaan. Sekian lama menanti cuti, pas pulang yang rumah palang merah.
Nasibmu sudah menjadi bubur cendol, tong...
Sabar...

#Gambar dari google



Read More

29 Oktober 2011

Latar Belakang

Kerja bersama banyak orang dari berbagai latar belakang memang menyenangkan. Apalagi bila orang-orang itu tidak pelit untuk berbagi isi kepala kepada teman yang lain. Aku yang kemampuannya pas-pasan jadi bisa belajar banyak dari mereka. Namun sebelum kita menyerap ilmu dari teman, ada baiknya kita ketahui latar belakang atau cara mereka memperoleh keahlian. Karena kalo diperhatikan dengan seksama, akan terlihat perbedaan dari cara mereka menyampaikan isi otaknya.

Paling bagus adalah orang lulusan sekolah tinggi dengan nilai baik dan punya pengalaman lapangan lumayan banyak. Tipe ini kerjanya cepat, tepat dan terarah. Kalo hanya  pinter dari sekolahan doang, biasanya cenderung njelimet dengan berbagai teori. Sebelum bertindak saat ada masalah, mereka suka sekali membuat banyak oret-oretan dengan berbagai rumus yang dikuasainya. Memang persiapan pekerjaan jadi lama, namun pekerjaan jadi lebih terarah. Hanya saja, mereka kadang lupa bahwa keadaan di lapangan seringkali berbeda dengan apa yang didapat di bangku kuliah.

Teman tipe ini juga bisa dilihat dari gaya bahasanya yang senang sekali mempergunakan istilah-istilah asing. Pengucapannya pun benar sesuai kaidah bahasa. Tapi buat yang bego kaya, aku kadang perlu waktu agak lama untuk mencernanya.

Jenis kedua adalah mereka yang belajar secara autodidak. Tidak makan bangku sekolahan tapi punya pengalaman kerja lapangan yang cukup banyak. Mereka jarang banget menggunakan perhitungan rumus dengan detail dan kadang hanya menggunakan perasaan atas kebiasaan sebelumnya. Mereka bisa menyelesaikan pekerjaan secara cepat. Namun kalo ditanya kenapa tindakan begini bisa berakibat begitu, kadang mereka tidak tahu dasarnya. Pokoknya kalo mesin ngadat, tendang saja kuat-kuat pasti akan jalan lagi. Kenapa ditendang jadi kembali berfungsi, emang gue pikirin.

Teman tipe ini kadang maksa pakai bahasa asing yang benar secara pengucapan, namun ketika menulis di papan banyak salahnya. Misalnya vendor ditulis fandor, fast moving ditulis vash mooving, dll dll

Jenis selanjutnya adalah tipeku. Orang yang ga makan sekolahan dan juga ga punya pengalaman. Apa yang aku tahu hanya modal baca dari google setiap butuh pencerahan. Akibatnya kalo mau kerja pasti lama karena harus buka-buka browser dan paling parah kalo tidak nemu internet. Kalopun internet dan laptop sudah di tangan, seringkali masih nyempatin ngeblog atau ceting dulu. Makanya pekerja golongan ini suka menuntut gaji gede karena kerjanya makan waktu lama. Juga selalu menuntut fasilitas laptop dan internet walau kerjaannya cuma macul galian kabel.

Dalam penggunaan bahasa asing kondisinya lebih katrok lagi. Karena hanya modal baca, kalo disuruh menulis perkata pasti tepat. Namun dalam hal pengucapan seringkali jadi berantakan. Contoh sederhana adalah ketika aku disuruh belanja server merk ecpi. Setengah mati aku mikirnya karena merasa belum pernah baca ada pabrik komputer bermerk itu. Sampai akhirnya aku nekat ke Mangga Dua dan tanya ke toko komputer. Baru saat itu aku mudeng, kalo ecpi itu adalah hp alias hewlett packard.

"Bilang dong dari tadi. Hape, bos. Hapeee..."
"Buset dah. Punya karyawan pada bego semua..."
"Emang kenapa bos..?"
"Kemaren gua bilang hape, temen elo malah beli henpon..."
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena