13 Juni 2011

Mempercepat Buffering Video

Sapidol makin menggila. Kalo dulu bisa donlot sampai 100 kbps, sekarang seringkali mentok di angka 20. Ini jelas teramat menyakitkan untuk kaum fakir bandwith sepertiku, yang tontonan satu-satunya adalah video dari internet. Mau lihat clip sepanjang 1 menit saja buffering nya bisa sampai 5 menit. Mau didonlot dulu, menuh-menuhin hardisk. Padahal aku tak bermaksud untuk nonton berulang kali. Paling parah kalo buka di OS Windus. Di Ubuntu sih rada mendingan.

Trus ada temen kasih tahu untuk merubah sedikit setting system windus.
Buka dari Startmenu > Run dan ketik system.ini
Buka pakai notepad. Salin kode dibawah ini
Taruh di bawah tulisan [mci]

page buffer=1000000Tbps
load=1000000Tbps
download=1000000Tbps
save=1000000Tbps
back=1000000Tbps
search=1000000Tbps
sound=1000000Tbps
webcam=1000000Tbps
voice=1000000Tbps
faxmodemfast=1000000Tbps
update=1000000Tbps

Simpan lalu restart komputer. Coba buka video dari youtube misalnya. Aku coba di Windus 7 sih lumayan ada perubahan. Temen yang kasih info, pake cara ini di XP.

Kalo ternyata hasilnya sama saja
Berarti anda termasuk orang yang tidak beruntung.
Banyak-banyaklah beramal dan semoga komputer anda tidak meledak...

Read More

12 Juni 2011

Penjual Buku

Niat bolos dan bobo siang sepanjang hari setelah semalam lembur sampai tengah malam, terus-menerus terganggu. Hape dimatikan juga ga ngaruh, karena orang-orang pada nyamperin ke mess bawa kerjaan. Baru mau nulis pengumuman tidak terima kerjaan untuk ditempel di pintu, malah nongol 2 cewek cakep di depan pintu.

Pantesan rada seger dan beda dengan orang sini. Mereka mahasiswi dari Bandung yang lagi mengisi liburan dengan jualan buku. Manis dan ramah, itu kesan pertama yang aku tangkap. Soal buku yang ditawarkan, sama sekali aku ga mudeng. Yang mereka tawarkan buku tentang kesehatan dan masakan sehat. Trus kebanyakan harganya cukup mahal buat anak kos seperti aku. Makanya cuma aku ajak ngobrol ngalor ngidul saja sekalian numpang cuci mata lihat yang bening-bening.

Lama-lama mereka mendesak aku mau beli yang mana. Kasihan dengan perjuangannya berpanas-panas sampai kesini, apalagi katanya lagi cari tambahan bayar uang kuliah, aku ambil saja yang paling murah. Mereka rayu-rayu lagi untuk beli yang ratusan ribu, aku tetap ogah. Nah, setelah itu keramahannya kok mendadak merosot drastis. Apalagi setelah aku bilang terus terang, beli buku bukan karena butuh, tapi karena si mbaknya cakep. Eh dikomplen, "saya jual buku, bukan jualan cakep..."

Susah amat pengen belajar jujur.
Tar aku bilang jelek, dikira melecehkan.
Lagian bohong itu katanya dosa

Semoga sih bener, dia ngambek karena aku bilang cakep. Agak payah kalo ngambeknya karena aku beli buku paling murah. Berarti masih harus belajar marketing lebih banyak tuh, mbak. Tapi semoga sukses deh jualannya. Jangan sampai patah semangat. Karena jualan buku susah, trus jadi nawarin tampang cakepnya. Amit-amit dah...

Biar sedikit
Toh niatku beramal jariyah
Itung-itung balas budi sama si mbak
Yang sudah beramal gairah...

NB.
No pict ceweknya 
Biarin dibilang hoax juga...
Read More

10 Juni 2011

Indonesian Air Force One

Acara satu jam bersama google hari ini, kok mentok lagi di urusan pesawat. Nemu yang semacam ini di detik.

Tak lama lagi Indonesia akan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri. Pemerintah telah menemukan kata sepakat dalam penentuan harga pesawat dengan Boeing, produsen pesawat asal AS. Pesawat Boeing Business Jet 2 ini akan dibeli pemerintah dengan harga USD 58 juta. DPR sebelumnya sudah menyetujui pengadaan pesawat kepresidenan.

Saat ini, Sudi sudah membuat surat kepada Menteri Keuangan untuk pengadaan green aircraft. "Sudah ditandatangai persetujuannya 27 Desember 2010 yang lalu," kata Sudi. Dengan telah disepakatinya harga, maka pesawat ini akan mulai dirakit tahun 2012 dan diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2013.
Apa pada ga mikir, ekonomi rakyat saja masih babak belur kok ya tega buang duit sampe 500 M kayak gitu. Kebiasaan melihat rumput tetangga seringkali dilalap mentah-mentah tanpa mikir panjang. Wajar Amerika bikin Air Force One yang merupakan gedung putih kedua. Karena memang ekonomi mereka sudah sangat maju dan mereka memang doyan perang. Sehingga tak salah kalo nyiapin kantor kedua presiden yang salah satunya sebagai persiapan perang yang didesain canggih dan mampu terbang selama seminggu nonstop.

Kalo kita buka wikipedia, ada satu kalimat yang mengatakan, "however, any U.S. Air Force aircraft may carry the "Air Force One" call sign while the president is on board." Secara translit google, kira-kira artinya, semua pesawat AU Amerika dimana presiden berada akan disebut sebagai Air Force One. Berarti tidak harus pesawat khusus. Bisa pesawat biasa yang dilengkapi perangkat keamanan dan keselamatan setingkat dengan level presiden. Ahmadimejad saja merasa tak perlu membuat pesawat khusus dan selalu menggunakan pesawat komersial.

Lagian pejabat kita tuh punya kebiasaan ajaib. Setiap ganti pejabat, jarang yang mau menggunakan bekas pejabat lama. Pesawat selesai akhir 2013, sedangkan esbeye 2014 saja lengser. Setelah direyen esbeye setahun, apa presiden barunya masih mau pakai..? Yang ada malah jadi berburuk sangka, kalo pengadaan itu cuma sekedar cari proyek menjelang masa jabatan habis. Dapat 5% saja dari USD 58 juta, kayaknya cukup untuk pesangon pensiun. Lagian duit segitu kalo buat beli pesawat China MA-60, bisa dapat 15 biji tuh. Atau uangnya dikasihin ke Habibie biar proyek N2130 dilanjutkan. Apa malu pakai pesawat buatan sendiri..?

Biar informasinya ga sepihak, aku muter lagi di google dan nemu di kompas.
Pesawat kepresidenan yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia sebenarnya tak hanya alat transportasi yang harus aman, nyaman, dan menjamin keselamatan, tetapi juga menjadi simbol atau citra kenegaraan. Kecelakaan pesawat Presiden Polandia Lech Kaczynski baru-baru ini menjadi pelajaran bagi semua presiden dan wapres.


Untuk presiden yang pro rakyat mungkin bolehlah. Tapi untuk pejabat yang harus kejeduk dulu baru mau mengerti, kenapa engga dicoba pake MA-60 seperti punya Merpati. Siapa tahu kalo dah ngerasain gimana sensasinya naik pesawat jatuh, baru sadar bahwa keselamatan rakyat dalam penerbangan sangat minim. Sebagai simbol biar dikatakan negara maju atau makmur, kayaknya akan lebih pas bila dengan cara memakmurkan rakyatnya dulu.

Soal pesawat kepresidenan sebelumnya, diungkap kompas begini

Untuk menopang lawatannya ke mancanegara dan pelosok Indonesia, Soekarno memiliki tiga pesawat C-140 Jetstar. Sebelum tiga Jetstar itu, Soekarno juga menggunakan Ilyushin Il-14. Pesawat mesin ganda baling-baling buatan Uni Soviet tercatat sebagai pesawat kepresidenan pertama sebagai hadiah dari Rusia kepada Indonesia. Hebatnya, kala itu Presiden AS pun belum memiliki pesawat kepresidenan. Soekarno tercatat gonta-ganti pesawat dengan menyewa Boeing 707 dari Pan American Airways.

Soeharto lebih memilih jenis pesawat lain yang dikelola Garuda Indonesia. Untuk lawatan pertamanya ke luar negeri, ia memilih DC-8 Garuda Indonesia. Jika berkunjung ke daerah, Soeharto memakai C-130 Hercules TNI Angkatan Udara, Helikopter SA-330 Puma, atau SA 332 Super Puma TNI AU. Soeharto lalu membeli Fokker 28 yang dioperasionalkan Pelita Air Service (PAS). Tercatat juga Soeharto pernah membeli Avro RJ-185 PAS. Untuk kunjungan muhibah ke sejumlah negara, Soeharto pernah menyewa DC-10 Garuda Indonesia.

Presiden ketiga RI, BJ Habibie, tercatat tak pernah memakai pesawat kepresidenan.

Saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, ia memilih Boeing 707 yang dimodifikasi untuk lawatannya ke sejumlah negara. Gus Dur juga sering memakai Boeing Bussiness Jet (BBJ) 737-800. Pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, pesawat yang sering dipakai MD-11 dan RJ-85 PAS.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga meneruskan tradisi sebelumnya menyewa Garuda Indonesia. Jenis Airbus A330 dengan variannya sering dipakainya.

Kalo rakyat sudah makmur sih gapapa. Perusahaan yang bener saja memperhitungkan, bahwa biaya untuk operasional harian jatuhnya lebih ekonomis dengan menyewa mobil rental ketimbang beli. Masa negara malah menggunakan manajemen toko yang memilih beli daripada rental dengan asumsi keuntungannya lebih tinggi jangka pendek, walau secara jangka panjang lebih boros. Emangnya negara ini tidak dipersiapkan untuk jaya selamanya ya..?

Jaman orde baru dimana ekonomi Indonesia bisa dikatakan maju - walau mungkin semu - saja, presidennya nrimo naik Hercules. Pesawat yang sama dengan yang digunakan kopral TNI AU dengan resiko bisa jatuh sewaktu-waktu saking bobroknya. Lebih mengenaskan lagi Habibie. Beliau bisa bikin pesawat, tapi tak pernah kepikiran pesawat kepresidenan.

Setengah trilyun cuma buat jalan-jalan presiden kayaknya enggak banget deh. Itu belum termasuk biaya operasional. Pesawat mahal tidak akan menjamin aman, karena budaya kita yang parah. Senengnya bikin proyek pengadaan tapi perawatan terabaikan. Asal dapat amplop dari tender proyek, besok bobrok emang gua pikirin.

Alutsista TNI saja kekurangan dana. Aneh saja kalo pesawat mahal dan canggih dikawal pesawat tempur yang suku cadangnya hasil kanibal. Apa pesawat pengawalnya ga bakalan mencret-mencret saat harus nginthil di belakangnya. Kalo memang terlalu klise bilang duitnya untuk memberdayakan rakyat kecil, mending buat memperkuat TNI AU saja, biar negara ga dilecehin tetangga akibat pesawatnya rongsokan semua.

Kalo mau main gitar, di KRL juga bisa pak
Belum perlu ngimpi pengen ngamen di pesawat canggih
Kalo cuma mau mengejar Citra, datang saja ke Jogja
Uber tuh si Citra yang lagi demen-demennya lari-lari
Mumpung ibue lagi butuh tukang ngasuh...

NB.
Maap berita sumbernya dipotong-potong biar ga kepanjangan
Berita selengkapnya, klik saja link-link diatas




Read More

Asisten Rumah Tangga

Ibue Citra nelpon, katanya dah mulai kerepotan. Menginjak usia kehamilan 6 bulan, makin susah nguber-uber Citra yang makin suka kabur ke halaman rumah. Mandiin juga agak repot karena sudah susah jongkok. Pokoknya hampir ga bisa apa-apa kalo anaknya engga tidur.

Sementara tinggal dulu di kampung, katanya tidak betah. Mbahnya Citra disuruh ke Jogja, gabisa lama karena harus ngurus sawah. Cari asisten rumah tangga, susahnya minta ampun. Orang kampung sekarang lebih suka jadi TKW daripada ke kota. Sama-sama kerja di rumah tangga, tapi penghasilannya beda jauh banget.

Aku pernah usul cari baby sitter saja. Toh kerjaan di rumah sebenarnya ga terlalu banyak. Yang paling dibutuhin tuh ada orang yang bisa gantian mengasuh Citra, biar ibue bisa masak dan istirahat. Eh, malah manyun. Katanya bayarnya mahal, kerjanya cuma ngasuh anak doang. Masa nyonya rumah sibuk nyapu ngepel, pegawenya malah jalan-jalan ngasuh Citra sambil ngecengin mahasiswa sebelah rumah.

Cari PRT yang sudah berumur biar sabar dan ga neko-neko, kadang terlalu katrok. Diajarin pake alat-alat rumah tangga yang rada canggih susah. Mending kalo susah mudeng, lama-kelamaan pasti bisa menguasai. Repotnya kalo takut pake alat-alat yang serba elektronik. Pernah ambil yang masih muda dan yakin ga bakalan gaptek-gaptek amat. Malah lebih sering sibuk smsan dan telpon-telponan.

Susah cari orang dari kampung, ibue Citra ambil orang setempat. Ngirit tempat karena ga perlu nginep di rumah. Juga tahu kondisi medan kalo butuh apa-apa dan ga perlu ngasih tahu dimana pasar dimana toko ini itu. Punya anak kecil juga sehingga Citra ada teman bermain. Tapi, tetap saja belum bernasib baik. Merasa dekat lama-lama ndablek. Kadang-kadang sudah siang baru datang dan sering ijin pulang sebelum waktunya.

Kalo buat aku sih yang agak bermasalah dengan masakannya. Biarpun lama di Jogja, aku tetap belum sreg dengan masakan Jogja yang terlalu manis di lidah. Jadinya ibue Citra lebih sering ngalah masak sendiri kalo pas aku di rumah. Entah kalo tukang masaknya diganti Farah Quinn, kayaknya ibue Citra bisa damai ga perlu ke dapur lagi.

Sabar dulu yo, bu...
Tar kalo dah banyak duit
Cari PRT, tukang kebun, sopir, pengasuh anak
Dan pengasuh bapaknya sekalian juga boleh
Gausah yang neko-neko deh
Seperti Farah dah cukup...

Read More

09 Juni 2011

Kisah Dibalik Delay Airlines

Masih suntuk tentang pelayanan penerbangan, malah nemu artikel ini, Kisah dibalik delay.

KOMPAS.com — Pertumbuhan penumpang angkutan udara di Indonesia pada 2010 mencapai 22,39 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan dunia sebesar 8,20 persen. Jelaslah negara ini masih berada dalam fase euforia terbang. Kita belum tahu kapan euforia itu berhenti. Belum tahu di angka persentase berapakah pertumbuhan yang pas untuk 230 juta penduduk. Angkanya masih terus bergerak. Pesawat terus ditambah untuk menerbangkan lebih banyak penduduk.

Hebat dah...
Pertumbuhan penumpang Indonesia sampai 3 kali lipat pertumbuhan dunia. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi, atau ketertinggalannya yang keterlaluan sebelumnya. Apapun itu, terus terang salut deh...

Namun, di tengah upaya ”mengudarakan” lebih banyak orang, ada pengalaman tak nyaman seperti penundaan penerbangan. Manajemen Lion Air yang hari-hari ini kerap delay¯pun membuka wawasan kita bahwasanya delay adalah harga mahal pertumbuhan udara yang fantastis itu.

”Kalau mau aman, dapat saja di tiap rute disiapkan pesawat cadangan. Tapi cost-nya, biaya produksinya, terlalu tinggi sehingga pembebanannya ke tarif. Dengan tarif tinggi, tak semua orang mampu terbang. Tak ada itu, Jakarta-Surabaya cuma Rp 350.000,” kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait.

Sapa bilang Lion sekarang paling murah dibanding yang lain. Di beberapa rute, tarifnya melebihi tiket Garuda yang pelayanannya lebih baik. Walau tarifnya kadang murah, tapi liat dulu jumlah seat pesawatnya. Jarak antar kursi dibikin rempet bak kursi metromini biar muat penumpang lebih banyak. Kalo perumnas, mungkin masuk kategori RSSSSSS (rasanya sangat sempit sekali sampe susah selonjor...)

Banyaknya jumlah penumpang sekali angkut, pastinya berpengaruh ke kecepatan antrian penumpang, menemukan tempat duduk, mengatur bagasi kabin plus berbagai kegiatan di darat sebelum boarding. Harusnya diantisipasi dengan membuat jadwal penerbangannya diulur lebih panjang dong. Belum lagi masalah kelambatan mengurus penumpang transit dan carut marut soal pengelolaan bagasinya. Apalagi kalo ada penumpang yang sedikit udik dan butuh bantuan. Wong pejabat sekelas Roy Sukro saja naik pesawat masih beloon...

Keterlambatan Lion pun sebenarnya diawali migrasi sistem untuk pelayanan yang lebih baik saat jumlah pilot makin banyak. Kekacauan serupa juga pernah dialami Garuda Indonesia pada November 2010 akibat migrasi sistem. Lion, dengan 80 pesawat, kini memang merajai kepulauan ini dengan penguasaan 48 persen pasar. Kuncinya, pengoptimalan utilisasi pesawat dengan pengaturan terbang ke sejumlah kota. Namun, delay 10 menit di rute pertama, memicu delay 20 menit di rute kedua. Saling berentet.

Kekacauan parah Garuda perasaan hanya terjadi saat transisi sistem. Sebelum dan sesudahnya, adem ayem dan keterlambatan masih bisa dibilang wajar untuk kelas Indonesia Raya. Kalo melihat Garuda kacau saat transisi sistem, kenapa tidak belajar dari sana. Memangnya perusahaan sekelas Lion Air tak punya masterplan bisnis yang memperhitungkan kapan sistem berjalan akan overload, ketika jumlah armada bertambah. Pernyataan ini seolah-olah membeberkan kekatrokan manajemen yang tidak bisa mengantisipasi perkembangan bisnisnya.

Di brosur Lion tertulis Boeing 737-900ER total 178 units, 47 units in service dan 131 units on order. Kalo memang punya rencana menambah armada sampai sekian ratus unit, kenapa tidak dari awal disiapkan untuk sebanyak itu. Tidakkah pihak manajemen tak punya pengalaman bahwa mengganti atau mengobati setelah menjadi borok lebih sulit dibanding menyiapkan dari awal. Kalopun sembuh, masih perlu waktu untuk memuluskan kembali belang-belang bekas lukanya.

Akan tetapi, dalam banyak kasus lain, delay bukan monopoli kesalahan pilot atau manajemen. Ada banyak faktor penyebab delay. Mulai dari alasan klasik, seperti cuaca buruk hingga kerusakan pesawat tanpa dukungan pesawat cadangan. Di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, kini delay mulai dipicu keterlambatan awak pesawat. Akar masalahnya, lalu lintas kota yang sulit diprediksi, diperparah tak adanya transportasi massal yang ”bebas hambatan” menuju bandara.

Ini aneh. Sudah tahu kondisinya seperti itu, kenapa tidak diantisipasi dengan menjemput kru kabin lebih awal. Untuk penumpang saja tertulis di tiket, check in paling lambat 45 menit sebelum penerbangan. Kayaknya sudah umum, penumpang tiba di bandara 2 jam sebelum jadwal. Masa awak pesawat tidak bisa dan melempar kesalahan ke penumpang. Penumpang terlambat saja boleh kok ditinggal. Kenapa pilot terlambat ga boleh ditinggal...

Yang tak dipahami penumpang, terkadang delay akibat keterbatasan bandara. Landasan pacu, runway, yang hanya satu kerap menghambat pergerakan pesawat. Minimnya fasilitas terminal juga memperlambat penumpang naik-turun.
Bagaimana penumpang bisa memahami, wong dari maskapai tak pernah mau memberikan penjelasan yang memuaskan. Yang aku rasakan, penjelasan dari maskapai tak pernah berubah. Keterlambatan karena alasan operasional...

Apa itu alasan operasionalnya..?
Tak pernah ada jawaban yang menentramkan hati. Mencoba bertanya, seringkali dijawab sekenanya. Tanya lagi malah dijutekin. Kalo dikomplen, konsumen adalah raja. Malah dijawab, raja yang baik tidak suka rewel...

Malang bagi maskapai penerbangan, penumpang tak mau mengerti. Kompensasi makanan dituntut ada. Meski berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2008, kompensasi disediakan maskapai penerbangan hanya karena maskapai bersalah. Delay karena cuaca buruk mestinya tak membuahkan kompensasi.

Akibatnya, maskapai yang ketiban pulung. Sial. Lima pesawat saja delay, maskapai harus mencari 1.000 paket makanan. Bukan hal mudah. Belum lagi, harus mencari 1.000 kamar hotel. Mungkin penumpang menuding maskapai mencari 1.000 alasan ketika delay. Tapi, delay bukan urusan sederhana, Bung....

Tuh kan, penumpang lagi yang disalahin....
Dimana-mana bisnis tuh ga bisa untung terus. Kemungkinan merugi kan sudah diperhitungkan dari awal dan ditutup dengan subsidi silang. Yang nutup kerugiannya tetap saja kembali konsumen. Kalo soal kompensasi yang dipermasalahkan, terus terang aku tak pernah menginginkan adanya kompensasi. Bisa terbang tepat waktu buatku sudah cukup. Kalopun harus telat, aku mau ada penjelasan pasti disertai senyum manis. Sukur-sukur yang senyum mau nemenin ngobrol.

Aneh juga mempermasalahkan Kepmen tentang kompensasi. Sudah jelas diatas tertulis, tidak berlaku hanya untuk alasan cuaca. Padahal yang sering aku alami tuh delay karena alasan operasional tadi. Apakah alasan operasional itu bukan kesalahan perusahaan..? Apakah memberikan tarif murah juga bukan kesalahan perusahaan..? Apakah, apakah dan pasti akan banyak sekali apakah yang lain kalo bicara soal ini.

Dan ada satu lagi apakah yang paling penting.
Apakah tidak sebaiknya maskapai mengganti pengumumannya itu..?

Atengsiong pliss...
Penumpang Delay Airlines...
Pesawat dengan nomor penerbangan JT...
Sekali lagi JT... Alias Juragan Telat...
Terlambat karena anda bayarnya kurang...

Bayar murah kok mau slamet...

Read More

Babi Tidur

Begitu kembali ke Kalimantan, belum sekalipun aku datang di kantor. Order pekerjaan menumpuk di pelabuhan yang artinya tiap pagi sudah dijemput di mess untuk mengocok perut di jalanan remuk sejauh 40 kilo. Tidak hujan memang, sehingga tak perlu berkubang sepanjang jalan. Namun resikonya, harus menembus kepulan debu tebal selama 3 jam perjalanan.

Memang ada sepotong jalan alternatif melalui perkampungan. Lebih jauh namun bebas debu. Tapi disitu masalahnya lain lagi. Banyak sekali anjing dan babi hutan peliharaan berkeliaran di jalanan. Mereka suka cuek tiduran di tengah jalan dan tak takut mobil. Diklakson kadang cuma nyengir doang sambil menguap. Harus sabar menunggu sampai kesadarannya timbul dan mau menepi.

Menyenggol anjing, apalagi babi merupakan bencana tersendiri disini. Dendanya bisa sampai jutaan, walaupun harga babi di pasar sangat murah. Apalagi kalo yang tertabrak babi cewek. Pemiliknya akan menghitung kemungkinan beranakpinak sampai berapa ekor andai kata babi itu tidak celaka. Pokoknya babi tidur lebih efektif untuk mencegah orang ngebut daripada polisi tidur.

Kayaknya kalo disuruh milih
Daripada nyenggol babi cewek
Mendingan nyenggol cewek ABG dah
Paling-paling disuruh ngawinin
Plus bonus tanah 2 hektar...


Mobile Post via XPeria
Read More

08 Juni 2011

Paranoid

Seorang teman lama jaman sekolah tiba-tiba nyelonong di pesbuk. Lewat japri dia mengeluh mengidap paranoia dan minta pendapatku tentang caraku mengatasi kelainan itu. Sempat bingung juga, sampai dia ingetin kebiasaan lamaku yang menurutnya masuk kategori paranoid juga. Dia cerita apa yang dialami dan aku pun bisa menerangkan bahwa kasusnya dengan kasusku dulu berbeda.

Temanku bernasib baik, bisa sekolah dan bekerja di negaranya Obama. Sepuluh tahun disana, dia terpengaruh kondisi lingkungan dimana preman pengangguran setiap waktu bolak-balik sambil menenteng senjata api. Jadinya, dia kemana-mana selalu membawa senjata api genggam di balik bajunya untuk jaga diri. Di mobilnya, sepucuk senapan serbu tak pernah ketinggalan. Bergabung juga dengan club menembak sipil dan berlatih terus dia lakukan secara rutin.

Dia mengaku belum pernah bermasalah dengan orang lain menggunakan senjata. Namun seringnya terjadi baku tembak antar gang saat tawuran, membuat rasa ketakutannya makin lama makin menjadi. Sampai akhirnya dia putuskan untuk kembali ke tanah air. Tapi ternyata itu tak menyelesaikan masalah. Biasa membawa senjata kemana-mana, sementara disini merupakan hal terlarang menimbulkan masalah baru. Dia malah merasa tidak aman dengan kenyataan itu. Dan saat ini, dia sedang terapi ke psikiater untuk menghilangkan rasa takut yang berlebihannya itu.

Kalo kasusku dulu lain. Namanya anak STM yang suka tawuran, perasaan terancam suka aku rasakan saat berada di keramaian. Namun yang aku rasakan bukan ketakutan yang tidak pada tempatnya seperti yang temanku rasakan. Aku cuma merasa perlu meningkatkan kewaspadaan saat keluyuran terutama saat sendirian. Sebelum pergi kemana, aku perhitungkan kemungkinan ketemu gerombolan anak sekolah anu yang lagi musuhan dengan sekolahku.

Aku tak mau bawa senjata. Aku cuma memperhatikan sekeliling dan memanfaatkan apa yang ada untuk antisipasi apabila sewaktu-waktu kepepet. Misalnya pas jalan di pertokoan, aku ga perlu sampai celingukan seperti maling takut kepergok. Aku manfaatkan bayangan yang terpantul di kaca etalase untuk orientasi keadaan sekitar. Saat naik motor pun tak mau pakai yang tanpa spion. Rajin nengok spion menjadi kebiasaan, karena temen pernah jatuh dari motor dipukul dari belakang.

Yang masih suka kebawa sampai sekarang adalah kalo masuk warung makan misalnya. Jarang aku mau duduk di dekat pintu dan membelakanginya. Lebih sering cari tempat di pojokan yang leluasa mengawasi pintu dan seisi ruangan. Saat naik kendaraan atau pesawat pun, aku suka melakukan orientasi lingkungan tanpa sadar. Berapa jauh pintu darurat dari tempatku duduk, bagaimana cara mengaksesnya secara cepat. Berapa banyak anak-anak, orang tua atau perempuan yang mungkin butuh bantuan dan berapa banyak orang yang sekiranya bisa membantu saat kondisi darurat.

Semuanya mengalir apa adanya tanpa aku sadari plus tanpa ada rasa ketakutan yang berlebihan. Makanya aku bisa bilang, aku tidaklah paranoid. Melainkan terbiasa waspada dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Temanku menganggap aku paranoid, mungkin karena aku dulu sering mengajarkan kebiasaanku kepada teman-teman se gang. Semuanya aku lakukan karena tak ingin teman-temanku ada yang celaka, tapi jangan sampai melanggar hukum dengan membawa-bawa senjata ke sekolah. Cukup memperhatikan sekeliling, dimana ada batu, dimana ada kayu dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan untuk beladiri sewaktu-waktu kepepet harus berantem.

Untung aku bisa segera insyaf dan tak lagi hobi tawuran. Hanya saja, kebiasaan waspada itu telanjur melekat dan masih kebawa sampai tua. Bukan cuma aku, beberapa teman se gang juga pernah bilang, masih suka merasakan hal yang sama. Dan menurutku itu bukan masalah. Justru bagus agar tidak teledor yang bisa mencelakakan diri dan orang lain. Waspada bukanlah ketakutan.

Malah ada teman yang memuji. Kebetulan istrinya bekas anak buahku di gerombolan. Dia salut dengan ajaranku yang membuat istrinya jadi pemberani sampai sekarang.

"Jangankan ke orang lain, mas. Ke suami sendiri saja dia berani melawan..."

Haduuuh, no komeng deh...

Gambar nyomot dari google

Read More

07 Juni 2011

Tarif Murah

Awalnya aku suka bingung, kenapa kantor kalo kasih tiket pesawat selalu mepet-mepet ke waktu keberangkatan. Padahal dalam asumsiku, semakin jauh-jauh hari kita pesen, harga bisa dapat lebih murah. Setelah iseng-iseng ngecek ke websetnya maskapai, baru aku mudeng kalo aku tak menyadari adanya perubahan trik marketing mereka di beberapa rute agar bisa kasih harga tinggi.

Sekitar dua minggu lalu aku ngecek tiket Jogja Banjarmasin dan menemukan harganya di kisaran 800 ribuan. Tidak ada tarif promo yang biasanya selalu muncul untuk pemesanan jauh-jauh hari kedepan. Pagi-pagi pada hari keberangkatan, aku iseng lagi buka websetnya. Lha kok malah harganya turun plus ada tarif promonya.

Bisa jadi banyak penumpang yang segaptek aku dalam soal cari tiket. Telanjur berasumsi kalo mau murah jangan mendadak. Tiap mau ngeluyur dengan biaya pribadi, aku suka cepetan pesen takut keburu naik harganya.

Ini sama kasusnya dengan pemahamanku atas tarif telepon dulu. Sejak jaman Telkom berkuasa sampai awal-awal munculnya hape, aku selalu dicekoki kalo mau nelpon murah jangan siang hari. Makanya aku sering nunggu malam kalo mau ngobrol panjang. Mana aku tahu kalo ternyata polanya diubah, nelpon sore justru lebih mahal dibandingkan siang atau pagi hari.

Semua ini memang salahku yang gaptek dan jarang mau cari-cari info semacam itu secara rutin. Apalagi untuk tarif hape yang begitu njlimet, sering berubah, tidak transparan dan banyak pencekikan di balik promonya. Mau kasih murah saja harus kebanyakan aturan dan pake reg ini itu.

Sebuah resiko harus merugi karena kegaptekan diri. Tapi minimal aku jadi sadar, mungkin banyak hal yang telah berubah tanpa aku sadari. Seperti misalnya, selama ini aku berasumsi kalo orang lain selalu menganggap tampangku jelek...




Read More

Priyono Nyoto - Calon Artis Baru

Satu lagi, calon artis fenomenal muncul di kaskus dengan bantuan youtube. Walau dicacimaki, dia tak pernah membalas komentar pedas yang diterimanya. Kalo dibuat statistik, mungkin 90% kontra dengan kemunculannya dan sisanya mendukung, kasian atau salah obat. Demikian hebohnya, sampai-sampai pihak yang kontra membuat trit khusus dan membuat fanpage di pesbuk berjudul Anti Priyono Nyoto. Belum lagi editan-editan sotosop dari para kaskuser yang keki kepada id wongdeso tersebut.

Dengan tag Priyono Nyoto (Gaul Keren), dengan pedenya dia aplut lagi aplut lagi video di Youtube dan trit kaskus. Aku sendiri tak mau berkomentar banyak dengan kualitas suara atau tampangnya. Yang kepikir cuma dua kata, salut abis. Mental bajanya merupakan modal paling penting yang tak dimiliki oleh banyak orang. Termasuk para pengecamnya.

Apapun adanya, suer aku merasa terhibur banget dengan tritnya si Priyono Nyoto (Gaul Keren) ini. Minimal dengan membaca komen-komen yang masuk, aku bisa ngakak disaat otak suntuk berat. Pokoknya lihat sendiri deh tritnya calon artis kakus ini disini atau disini. Semoga terhibur. Hahahahhhh...

GW PRIYONO NYOTO (GAUL KEREN) MENYUKAI MNC DAN MENCINTAI SELURUH ANAK KASKUS
GW PRIYONO NYOTO (GAUL KEREN) INGIN TAMPIL DI TV
I LOVE KASKUS
I LOVE KASKUS
DAN I LOVE CEWEK KASKUS YANG CANTIK UNTUK MENDAPATKAN CINTA SEJATI
Read More

06 Juni 2011

Penjarah Bagasi Pesawat

Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan Lion Air, bila aku memiliki beberapa pengalaman tak mengenakan untuk urusan bagasi. Pernah dari Jakarta, orangnya tiba dengan selamat di Jogja, tapi bagasi mampir dulu ke Balikpapan. Pernah pula orangnya sudah tiba di Sukarno Hatta, bagasi masih tersimpan rapi di Adi Sucipto.

Kesal dengan pengalaman tak enak itu, aku beralih jadi pelanggan setia Mandala. Tak pernah ada keluhan tentang pengelolaan bagasinya plus lebih jarang delay dibanding Lion. Makanya aku cukup kecewa ketika Mandala harus gulung tikar yang artinya aku harus balik ke pelukan Lion. Memang banyak banyak maskapai lain, cuma sayangnya beberapa tujuan rutin seperti ke Banjarmasin dari Jogja hanya Lion yang melayani. Untuk keberangkatan dari Jakarta, sebenarnya banyak penerbangan lain. Tapi semenjak ada kebijakan dari kantor karyawan tidak boleh beli tiket sendiri, aku lebih sering dapat tiket Lion Air dibandingkan yang lain.

Semenjak itu, aku lebih hati-hati dengan barang bawaan dan mulai mengurangi barang berharga seperti laptop dari bagasi non kabin. Ransel yang tak bisa masuk kabin lebih banyak aku isi pakaian atau barang tak penting. Mungkin salahku sendiri, kenapa lebih suka pakai ransel daripada koper yang bisa dikunci. Walau ada pelayanan pembungkusan plastik wrap sebagai pengaman di setiap bandara, aku malas menggunakannya. Akibatnya aku pernah sekali kehilangan jaket yang aku masukan di ransel.

Selain jaket itu, aku memang belum pernah kehilangan yang lain. Namun beberapa kali aku mendapatkan tali pengikat ransel berubah simpulnya. Memang kebiasaanku menggunakan simpul tertentu ala pramuka saat mengikat ransel, sebelum menutup dengan pengaitnya. Makanya aku bisa menduga, simpul itu pernah dibuka orang sebelum tiba di tujuan. Pernah pula pengait ransel yang sengaja aku pasang terbalik, ketika sampai di tujuan jadi terpasang dengan benar.

Walau ada pengumuman di banyak tempat, tentang kehilangan barang di luar tanggung jawab maskapai, apakah itu bisa jadi pembenaran untuk membuka-buka tas orang tanpa hak. Bila memang dicurigai menyimpan sesuatu yang terlarang, bukankah itu bisa dilakukan di tempat pemeriksaan XRay didepan pemilik barang.

Yang aku tak mengerti, kenapa kebetulan itu selalu terjadi ketika aku menumpang Lion Air. Saat menumpang Garuda atau Mandala belum pernah aku mendapat pengalaman serupa. Maskapai lain juga belum pernah kejadian. Tapi tak bisa dijadikan tolok ukur karena aku baru sekali dua kali saja menjadi penumpangnya.

Dan suatu kebetulan juga, bila terjadi hal semacam itu, selalu salah satu origin atau destinasinya adalah Sukarno Hatta. Belum pernah terjadi bila salah satunya bukan bandara Jakarta. Jadi sumber penyakitnya di Lion Air atau pihak bandara, aku tak bisa mengambil kesimpulan.

Namun sekali lagi, soal kait mengkait dengan nama Lion Air dan Sukarno Hatta mungkin hanya kebetulan semata dan bukan kejadian nyata. Tapi kapan konsumen bisa memperjuangkan hak-haknya di negara ini. Selalu saja harus mengalah dan menerima segala aturan sepihak tanpa bisa berbuat banyak. Pasrah dan tawakal saja jadi obyek pelaku penderita. Padahal aku juga ga pengen balas dendam kok.

Misalnya saja kenyataan bisa dibalik
Maskapai menitipkan pramugarinya kepadaku
Aku berani jamin deh keselamatannya
Kalo kehormatannya...
Au ah lap...

Ada pengalaman lain..?

Read More

05 Juni 2011

Tambah 2 Kilo

Cuti dua minggu, lumayan bobot badan bisa naik 2 kilo. Pengennya sih kembali ke sebelum berangkat ke Kalimantan dulu, tapi kayaknya perlu cuti panjang. Atau selama cuti musti ke Kaliurang, masuk ke peternakan untuk ikut program penggemukan sapi.

Sebelum ke Borneo, berat badanku naik turun di kisaran 65 - 68. Sampai disini harus ikutan ritual pendatang baru yang katanya musti sakit dulu. Memang semua teman kiriman dari Jawa, di bulan pertama banyak yang masuk ke rumah sakit. Kena malaria, DB dan sebagainya. Aku sendiri kebagian tipes selama seminggu lebih yang melangsingkan badan ke angka 58.

Sembuh dari sakit, bukannya kembali naik, malah terus turun sampai ke angka 52 kilo dalam 4 bulan. Penyebabnya bisa jadi dari ransum di mess yang nasinya dari beras Banjar yang keras. Pernah aku komplen ke ibu dapur, minta agar nasinya sedikit dilembekin biar balakurawa cacing bisa menerima. Tapi katanya, orang sini kalo makan nasi lembek ga bikin kenyang. Jadinya aku yang mengalah dan tak bisa makan banyak. Susahnya lagi, disini kebanyakan orang suka daging babi. Sehingga bila ibu dapur kasih kode masak babi, aku terpaksa jadi anak kos pemakan mie. Mau cari warteg, mana ada di tengah hutan begini.

Dari segi kerjaan juga lumayan tinggi tingkat setresnya. Sementara pelepas ketegangan hanya bisa ditengok tiap 3 bulan sekali. Belum lagi jam kerja yang tidak menentu karena tambang memang beroperasi 24 jam. Apalagi setelah ketiban sampur untuk bikin tim pembangun sistem IT. Berkutat dengan script, aku makin jarang tidur sore nemenin temen-temen coding. Mendingan kalo temen programmer yang malem kerja siang tidur. Aku siang masih harus ke lapangan. Makin mantap saja program dietku.

Sebelum berangkat - Awal cuti - Akhir Cuti

Makanya pas pulang kemarin. Mau ga mau aku semakin bangga dengan kejujuran ibue Citra yang mengatakan, "ayah tambah jelek.."

Aku bela diri, "daripada tambah cakep, tar jadi kebanyakan penggemar..."
"Mana bisa jadi cakep. Tampang jelek dah ikhlas kok menerimanya. Tapi kalo kurus kan jadi ga mantabs..."

Maksudnya apa ya..?
Perasaan biar kurus
Jempolku masih gede...

Tau ah, makin gak nyambung...

Read More

04 Juni 2011

Berpisah lagi

Jadi inget lagu jadul punyanya Tommy J Pisa. Ketemu dan berpisah selalu di bandara. Senang dan sedih di bandara. Bahagia dan haru pun di bandara. Persis jaman sekolah dulu. Pacaran diangkot sampai wc terminal menjadi saksi.

Dua minggu teramat pendek dirasakan. Sudah saatnya meninggalkan peradaban dan kembali ke hutan sampai 3 bulan kedepan. Malam ini aku menuju ke Banjarmasin dan kemudian menunggu pagi untuk kemudian melanjutkan dengan 6 jam perjalanan darat.

Membayangkan perjalanan besok saja sudah sebal. Ini Lion belum juga insyap jadi si raja delay. Keburu-buru ninggalin Citra untuk check in, terasa jadi sia-sia dalam penantian yang sudah lewat sejam.

Kapan Jogja Banjarmasin ada kereta api
Biar bisa jadi bonek yang ga pernah mengeluh delay
Juga ga perlu mikirin bayar tiket

Siaran langsung dari Adi Sucipto sinambi leyeh-leyeh nunggu si raja singa telatdan...

Mobile Post via XPeria

Read More

Tanpa Perayaan

Beberapa teman bertanya, kenapa tidak ada cerita tentang perayaan ulang tahun Citra tanggal 3 kemarin. Bukannya tidak ada cerita, tapi memang tidak ada acara apa-apa. Di keluargaku, tak pernah ada prosesi ambal warsa yang dibuat istimewa. Karena pada prinsipnya, hari-hari yang dijalani tetaplah sama. Berharap tentang masa depan tak perlu harus menunggu setahun sekali. Sekedar makan-makan, rasanya tiap ada kesempatan selalu jalan dan makan di luar. Apalagi mempertahankan acara tiup lilin. Wah kayak ritual babi ngepet saja, hahah...

Ulang tahun, menurutku bukanlah makan dan hura-hura. Bukan pula sebuah syukuran bila tak disatukan dengan acara instropeksi. Ritual ambal warsa lebih tepat bila dijadikan tolok ukur pencapaian target hidup dan mengevaluasi apa yang telah dijalani selama satu tahun berjalan. Aneh saja bila apa yang terjadi selama setahun tidak diaudit, tapi langsung seneng-seneng ngadain slametan.

Untuk Citra yang baru menginjak usia setahun, tentu saja aku tak bisa bicara banyak. Apanya yang harus disampaikan wong dia saja belum mudeng tentang baik dan buruk. Sekedar berharap tentang masa depan, tentu saja selalu ada. Aku tak berharap banyak apalagi yang muluk-muluk. Terlalu klise menginginkan panjang umur, murah rejeki, enteng jodoh, cakep, pinter, taat beragama dll dll. Cukup kuharapkan Citra jadi orang yang senantiasa beruntung dunya wal akhirat saja.

Aku tak akan terlalu banyak aku mengatur jalan kehidupannya. Cukup memberikan gambaran tentang baik dan buruk menurut norma yang berlaku. Tak perlu memaksanya untuk menjadi baik menurut satu pemahaman. Cukup mengajarkan bahwa semua pilihan hidup selalu ada konsekuensinya. Tak boleh lupa akan karma yang selalu ada. Memaksa anak mengikuti pola pikir orang tua, buatku sama saja memaksa waktu berputar balik ke masa lalu. Untuk bisa maju, justru orang tua yang harus mengikuti pemikiran anak. Karena anak adalah masa depan. Aku tak mau jadikan mereka tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu orang tua.

Kutunggu saja Citra bisa belajar dewasa agar bisa memulai berpikir mandiri. Bisa memperhitungkan segala resiko atas semua pilihan hidupnya. Dan semua itu tak mungkin bisa didapat hanya dengan cara tiup lilin setiap tahun sekali.

Maafkan pemikiran ayah yang berbeda, nak
Kalopun harus ada ritual tiup lilin
Biar ibu saja yang nungguin
Sementara ayah dinas malam...

Read More

03 Juni 2011

Citra Ambal Warsa

Setahun usia Citra, sudah teramat banyak perkembangan yang terasa. Aku bisa melihat, bila Citra merupakan anak yang selalu ingin mencuri start. Umur 2 bulan dia sudah maksa tengkurep. Saat teman sebayanya baru belajar tengkurep, dia sudah mulai merangkak dan berdiri. Umur 10 bulan dia sudah bisa berlari dan belajar naik pagar. Di umur itupun dia sudah belajar bertoleransi kepada bapaknya dengan berhenti nenen.

Urusan makan dia juga tidak susah. Apa saja doyan, asal bukan makanan bayi. Dari gembus, tiwul, sate klatak sampai shabu-shabu dia embat tanpa masalah. Makan sendiri sudah pinter. Mau pakai tangan atau sendok, ok saja. Cuma pakai sumpit yang belum diajarkan takut "kloloden". Kalo makan sendiri, nasinya diberantakin di lantai lalu dicomotin satu persatu sampai bersih. Minum tidak mau pakai dot dan lebih suka pakai sedotan, langsung dari gelas atau nenggak botol. Air putih, susu, teh, kopi, bajigur semua bisa jalan.

Citra cukup akrab dengan alam bebas. Dia sudah biasa mandi hujan tanpa perlu demam. Belajar berkebun juga suka, sampai-sampai ibunya histeris karena pot bunga di depan rumah jungkir balik semua. Citra penyayang dan tak takut binatang. Bolak-balik dicakar kucing tak pernah membuatnya jera untuk kembali mengisengi kucing tetangga. Apalagi kalo lagi di tempat mbah, sudah biasa dia berbagi sepotong wortel dengan kelinci.

Sifat feminimnya memang belum kelihatan banget. Dia lebih suka mainan obeng dan timpukin letop bapaknya pake hardisk daripada main boneka. Lebih suka memanjat meja atau jendela daripada masak-masakan. Hobi isengnya sudah terlihat. Kalo mau jahilin orang lain, selalu celingukan sejenak sambil nyengir kuda. Namun kemampuan belajarnya lumayan juga. Sekali melihat apa, dia suka ikut-ikutan. Lihat aku suka bayar parkir, setiap masuk mobil dia akan ambil uang di dashboard dan dilempar keluar jendela. Lihat orang naik kuda di tipi, setiap lihat ibue tiduran, dia suka naik kuda-kudaan. Tapi kalo ibue tidurnya miring apa tengkurep, dia ga mau naik.

Hanya untuk urusan tidur yang agak ribet. AC harus setel pada posisi dingin maksimal. Dinaikan sedikit saja ke angka 20, tidurnya bakalan gelisah dan keringetnya persis abis kecebur got. Padahal di angka segitu, bapaknya sudah menggigil kedinginan. Wajar bila bapaknya ga pernah bisa lepas dari ibue sepanjang malam. Jadi kalo sampai kesundul adik baru, ya salah Citra sendiri.

Rambutnya yang kriwil semakin ajaib saja. Pokoknya kalo suhu dingin rambutnya lurus dan begitu panas akan berubah kriwil. Padahal kedua ortunya berambut lurus semua. Ga ada masalah sih. Cuman takut saja kalo pas jalan-jalan nanti ditangkep polisi. Soalnya dimana-mana cuma ada rambu-rambu lurus jalan terus. Yang kriwil tidak diakomodasi.

Biar baru setahun, tapi Citra sudah bisa mengerti cowok cakep. Lagi makan pun kalo melihat balita cowok yang imut, perhatiannya langsung beralih dan tanpa sungkan akan disamperin. Ke laki-laki dewasa yang cakep pun dia sok akrab. Tanpa rasa dosa dia nempel minta gendong walaupun belum kenal. Mungkin kesukaannya ke cowok cakep ini yang jadi alesan, kenapa dia sepertinya kurang suka kalo aku gendong.

Sugeng ambal warsa, nduk...

Cepet gede ya
Biar bisa bobo sendiri
Biar ga bikin kagok orang tua...
Read More

02 Juni 2011

Nonton Jathilan

Kedamaian selama dua minggu bersama keluarga, serasa tersentak saat masuk telpon dari kantor, "pak, nanti kode booking tiket saya smskan untuk penerbangan besok..."

Suer, dari kemarin ga pernah kepikiran kalo kebersamaan ini akan begitu singkat dan aku harus balik lagi ke hutan. Semangat jalan-jalan yang kemarin mulai surut seiring menipisnya dompet, mendadak bangkit lagi. Apalagi setelah ingat kemarin adalah tanggal satu.

Akibatnya rencana bobo sore kemarin malam langsung terlupakan. Jalan-jalan lagi muter-muter Jogja, cari tempat makan enak, sampai akhirnya parkir di depan benteng Vredebrug. Duduk di titik nol kilometer, di bawah sego pincuk ubruk sambil mengenang masa lalu yang pating sreset dalam kenangan.

Lelah disitu, Citra aku ajak masuk ke plasa Monumen Serangan Umum. Dalam rangka hari Pancasila kemarin, ada acara bertajuk Balija disitu, yang ternyata berasal dari kata barongsai, liong, jathilan. Acara bertema Pasar Keberagaman itu diawali oleh permainan angklung kontemporer dari kampung Jlagran. Dilanjut orasi seni oleh walikota Yogya.

Setelah itu, giliran anak-anak jalanan yang tergabung dalam Girlan Nusantara unjuk gigi. Lebih heboh ketika para pengamen itu direcoki pasukan banci dari kelompok Kebaya dalam dialog ngawur bergaya opera van waria. Acara berlanjut ke tawuran seni antara grup jathilan Surengpati melawan grup barongliong Isokuiki.



Diceritakan susah tapi bikin betah. Jogja memang tak pernah mati untuk urusan seni. Sayang urusan perut Citra membuatku harus bangkit berdiri sebelum acara usai. Tempat nongkrong pindah ke bakmi kadin menikmati hangatnya bajigur berkolaborasi dengan keroncong full akustik.

Sempat kegatelan juga pengen ikutan menyanyi. Apalagi suaraku sekarang sudah lebih mendingan dibanding dulu. Kata ibue Citra sih mendingan diem. Apalagi untuk lagu keroncong yang taunya cuma Bandar Jakarta doang.

Awan lembayung...
Sore kangkung...

Malah jadi pengen sego pecel..
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena