18 September 2011

Pencemaran Nama Baik

Lima tahun malang melintang di dunia percurhatan bernama blog, entah berapa kali aku mendapat kecaman dengan judul pencemaran nama baik. Ada satu dua yang masuk lewat komentar dan lebih banyak lagi melalui japri.

Aku sendiri tak pernah tahu definisi dan batasan-batasan istilah pencemaran nama baik itu secara gamblang. Karena berita dari lapangan teramat simpang siur dan membuat kabur arti pasal 310 KUHP dan teman-temannya. Kalo boleh aku kutip sedikit, isinya adalah sebagai berikut :
 
  1. Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
  2. Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
  3. Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.
 
Pengertian menyerang kehormatan ini yang seringkali dengan sengaja dikaburkan. Terutama ketika ada kepentingan tertentu yang merasa dirugikan walau apa yang dituduhkan merupakan fakta. Sudah menjadi sifat manusia, saat dia benar maupun salah, dia akan tetap merasa dirinya benar. Padahal sudah teramat jelas bahwa kebenaran dalam kehidupan sehari-hari itu teramat subyektif. Termasuk ketika sudah masuk ke ranah hukum. Aturan dalam pasal-pasalnya bagaikan membuat sebuah garis di atas pasir yang mudah bergeser atau hilang disapu angin. Yang ada bukan lagi kebenaran yang hakiki, melainkan adu kekuatan untuk mengendalikan angin.
 
Padahal pasal 28 UUD 45 menyatakan bahwa, setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Dalam pasal yang sama, kontitusi negara menjamin kemerdekaan setiap orang untuk menyebarluaskan dan memperoleh informasi serta berkomunikasi melalui segala jenis saluran yang tersedia.
 
Isu pencemaran nama baik ini seringkali dijadikan senjata ketika seseorang yang melakukan tindak pidana mulai terbongkar kebusukannya. Dengan bermodal kekuatan, tirani minoritas pun akan mampu membelokkan segalanya. Sehingga tak aneh bila logika kebenaran menjadi terbalik-balik. Seorang koruptor bisa menekan publik agar ketakutan membuka kasusnya dengan kedok pencemaran nama baik. Sebaliknya seorang Prita yang mengeluh dirugikan justru dijadikan korban demi unjuk arogansi. Seolah-olah mengeluh itu merupakan sebuah kejahatan berat.
 
Senjata pencemaran nama baik ini tak hanya digunakan oleh perseorangan saja. Institusi atau perusahaan pelayanan publik pun merasa punya alat untuk membungkam agar kekurangan pelayanannya tidak diungkap kepada publik. Apalagi di jaman internet dimana keterbukaan semakin menglobal, ajang curhat di blog-blog pribadi pun mulai diincar melalui pasal-pasal karet UU ITE.
 
Terlepas dari baik atau buruknya pelayanan suatu institusi, curhat konsumen tidaklah dianggap sebagai masukan untuk instropeksi demi perbaikan pelayanan. Melainkan dianggap penyerangan agar bisa dipaksakan dijerat dengan pasal KUHP di atas. Padahal dalam pemahamanku, yang dinamakan penyerangan adalah memulai suatu tindakan yang memang sengaja dilakukan untuk merugikan orang lain. Dalam kasus curhat seperti Prita, tak bisa dianggap menyerang karena tindakan itu merupakan akibat yang disebabkan oleh perbuatan RS Omni. Bila definisi menyerang adalah pada sebab dan bukan akibat, sebenarnya yang menyerang adalah pihak RS Omni, karena dia merupakan penyebab dan tindakan Prita adalah akibat. Padahal bila kita kembalikan ke pasal diatas pada ayat 3, tindakan akibat diserang bisa dianggap sebagai membela diri yang masuk kedalam kategori pengecualian. 
 
Kenapa Prita bisa menjadi bulan-bulanan bila sebenarnya dia itu korban..? Itu semua kembali ke masalah kekuatan yang dimiliki untuk mengendalikan angin tadi. Kalo saja yang dirugikan misalnya SBY, aku yakin kondisinya akan terbalik.
 
Aku sendiri tak pernah tahu, kapan publik bisa benar-benar menikmati kebebasan bersuara atas kekurangan pelayanan yang diterimanya. Sepertinya sudah menjadi jamak di Indonesia raya ini dimana konsumen tak pernah bisa memiliki hak sepenuhnya atas uang yang telah dibayarkannya. Wajar bila kita pada akhirnya cuma bisa curhat di area pribadi semacam blog. Karena saluran penyampai keluhan dan aspirasi seringkali mampet di tengah jalan.
 
Jangankan hanya mengeluh kepada pelayan level terbawah, saat melalui saluran yang benar semacam customer service saja seringkali hanya dijawab secara klise dan standar tanpa ada perbaikan yang jelas. Seperti banyak keluhanku tentang layanan Lion Air kepada petugasnya di bandara. Aku yakin jarang bisa sampai kepada pihak yang berkepentingan dan cuma dianggap angin lalu saja. Terbukti sampai saat ini, pelayanan Lion Air tetap saja seperti itu walau aku percaya yang ngoceh bukan cuma aku saja.
 
Aku suka heran, kenapa pihak pelayan lebih suka memamerkan arogansinya dengan mengatasnamakan pencemaran nama baik untuk melindungi kepentingannya. Padahal bila mereka mau instropeksi diri, banyak cara yang lebih baik untuk memperbaiki agar namanya tidak terus menerus "dicemarkan". Misalnya, ketika ada konsumen curhat di blog tentang pelayanan hotel. Kayaknya akan lebih efektif bila apa yang dikeluhkan konsumen segera diperbaiki. Lalu undang konsumen untuk menginap di hotelnya secara gratis agar bisa melihat segala perbaikan itu. Masa sih konsumen itu terus cuek bebek dan tak membuat update atas keluhannya itu. Apalagi dalam filosofi Jawa, manusia itu ibarat huruf hanacaraka. Dipepet, disuku, ditaling apalagi taling tarung, dia pasti akan berbunyi dan baru mati saat dipangku.
 
Sepertinya cara pendekatan semacam itu lebih tepat sasaran dan tak membutuhkan biaya banyak. Dibanding dibikin ramai seperti kasus Prita dulu. Percaya atau tidak, RS Omni harus keluar biaya yang cukup besar untuk menyelesaikan semua itu. Belum lagi bila kerugian non material seperti kepercayaan masyarakat yang pasti turun ikut dihitung. Dengan bertindak seperti itu, menurutku justru RS Omni yang telah mencemarkan nama baiknya sendiri plus menyebarluaskan itu kepada publik secara terang-terangan.
 
Prinsip-prinsip perlindungan konsumen semacam itu harus lebih kita berdayakan agar publik tak selalu jadi korban. Penyelesaian secara hukum yang kenyataannya carut marut hanya membuat rakyat semakin tak percaya kepada aturan yang berjudul hukum. Padahal secara kultural, bangsa ini memiliki kearifan lokal yang lebih bisa menyelesaikan segala keluhan tanpa berebut kemenangan secara semu. 
 
Semua pihak sudah seharusnya menyadari bila jaman telah berubah. Dimana internet merupakan media yang paling digemari untuk melepas unek-unek yang mengganjal di otak. Pihak pelayan publik tak lagi cukup pasang kotak saran yang sudah tak lagi dipercaya konsumen untuk menyampaikan keluhan. Menjelajah blog-blog pribadi mencari keluhan atas pelayanan sudah semestinya mereka lakukan. Tapi untuk mencari bahan masukan demi perbaikan. Bukannya untuk mengajak ribut dengan mengatasnamakan pencemaran nama baik.
 
Cukup banyak gugatan melalui japri yang aku terima atas curhatku dan kebanyakan anonim. Tapi itu tak akan merubah kebiasaanku menulis apa yang aku rasakan. Aku tak peduli orang mau bilang apa, karena kebebasan berbicara seharusnya dijamin undang-undang. Dan sebuah kewajaran bila setiap orang memiliki emosi dan kadang bisa khilaf. Dengan kesadaran itu, bila memang terbukti ada kekeliruan, aku tak segan kok untuk menulis ulang sebuah update atas tulisan lama.
 
Bagaimanapun juga aku merasa hidup di negara bebas. Bila kenyataannya, kebebasan di negeri ini banyak ditindas oleh politik kepentingan, kapan kita bisa bebas dari penindasan itu bila kita tidak memulainya dari sekarang. Sudah masanya kita gunakan otak dan hati nurani saat menemukan sesuatu di layar monitor kita. Agar kita bisa selalu mendapatkan hasil positif dari segala yang mungkin terasa negatif.
 
Ada pendapat lain..?
 
gambar nemu di google

Read More

Kebun Buah Mangunan

Menjelang balik ke Kalimantan kemarin, ibue Citra minta diantar ke Kebun Buah Mangunan. Ibue tahu informasi itu dari temennya yang kirim pete ke rumah. Katanya bukan beli, tapi dapat metik di Mangunan. Disana pengunjung bebas mau metik buah apa saja yang ada. Pikirku, mungkin semacam Taman Buah Mekarsari kalo di Jakarta.

Dari Jogja ga terlalu jauh, sekitar satu jam perjalanan. Paling enak ambil arah dari simpang depan terminal bus Giwangan. Lurus saja ke selatan menuju ke makam raja di Imogiri. Dekat-dekat Jogja memang tidak ada rambu penunjuk ke arah kebun buah, jadi ikuti saja papan penunjuk arah ke Imogiri. Mentok di pertigaan pasar Imogiri, ambil kiri masih ke arah makam. Di pertigaan dekat makam, terus saja lurus dan beberapa ratus meter akan nemu rambu penunjuk ke arah kebun buah. Selanjutnya, ikuti saja rambu-rambu yang ada di setiap persimpangan.

Jalanan setelah makam beraspal mulus dan pemandangannya sangat mengasikan. Tapi itu khusus buat penumpang. Karena sopir ga boleh ikut menikmati suasana pegunungan tanpa menghentikan kendaraan. Jalanan berkelak kelok naik turun kadang berbatas tebing dan jurang yang dalam. Hati-hati sekitar satu kilometer menjelang kebun buah, jalanan agak rusak dan menurun curam.

Tiket masuknya relatip murah, cuma 5 ribu per orang tanpa harus bayar parkir. Karena kemarin bukan hari libur, jadinya agak sepi. Cuma ada pengunjung beberapa biji,  didominasi anak-anak muda saling berpasangan. Suasananya lumayan asik. Cuma memang pengelolaannya masih apa adanya. Jangan berpikir kondisinya seperti di Mekarsari. Walau menurut aku, bentuk dari kontur wilayahnya, kalo dikelola dengan baik ga kalah dengan Selecta Batu di Malang sana. Kalo di Kaliurang kita disuguhi view ke arah kota Jogja, di Mangunan kita bisa melihat suasana pegunungan yang masih asli dan asri.

Dari tempat parkir utama, kita bisa bawa kendaraan masuk sampai ke kolam renang dan tempat bermain anak-anak. Sayangnya saat itu lagi musim kering dan cuaca sangat panas. Sehingga aku ga tega melepas Citra di playground. Kalo saja lingkungan sekitar situ dibuat lebih rimbun, tentu akan lebih seep lagi.

Di tempat parkir playground, petugasnya kadang ngasih tahu kalo ke mau naik ke puncak, kendaraan bisa dibawa. Kalo pake sepeda motor sih ga masalah, daripada jalan kaki mendaki. Tapi kalo pake mobil, cek dulu nyali masing-masing. Karena jalannya sempit, cuma cukup untuk satu mobil dan sangat curam. Selalu antisipasi kalo-kalo ada kendaraan dari arah berlawanan, karena dijamin bakal kesulitan bila salah satu harus mundur. Ga cuma sopir, penumpangnya juga harus ditanya kadar adrenalinnya. Jangan sampe kaya aku kemarin. Sopirnya santai, penumpangnya yang ribut teriak-teriak.

Sampai di puncak, mobil di parkir saja di samping pendopo. Disitu memang ada tulisan pake papan bertulis "parkir" berikut tanda panah ke arah gardu pandang. Karena ternyata, disitu untuk parkir motor doang di sela-sela pepohonan. Kalo nekat bawa mobil kesana, bakal kecele susah baliknya.

Cuma sayang, yang berbuah saat itu cuma jambu air doang. Padahal sepanjang jalan ibue sudah membayangkan bakal pesta duren. Payahnya, jambu airnya kecut dan sepet. Jadinya cuma bisa jalan-jalan doang sambil berharap suatu saat bisa kemari lagi saat penuh buah-buahan. Walau katanya cuma boleh makan sepuasnya dan ga boleh dibawa pulang.

Tapi kalo bener harus dimakan disitu
Waktu panen pete apa jengkol
Harus bawa sambel dong..?

Read More

17 September 2011

Ngiklan

Paling ga ngarti dengan iklan di tipi yang konon biayanya paling mahal, padahal paling dibenci oleh pemirsa. Aku memang bukan orang advertising yang paham seluk beluk periklanan. Tapi aku melihat kenyataan di sekitarku, dimana teman-teman suka ngomel saat film lagi seru-serunya tiba-tiba dipotong iklan. Biasanya mereka langsung sibuk mencari remot untuk memindah chanel. Jarang banget aku lihat orang sengaja mencari-cari iklan saat nonton tipi. Kalo ada yang hobi, paling banter cari di koran terutama iklan obat kuat atau lowongan kerja.

Biarpun aku ga begitu suka nonton tipi, tetep saja aku suka sebel dengan yang namanya iklan. Bukan soal acara yang kepotongnya. Melainkan buntut dari tayangan pendek itu. Suasana rumah yang damai bisa mendadak ribut ketika ibu dan anak mulai rebutan remot. Yang satu pengen mindahin chanel yang ga lagi iklan, yang satunya malah sibuk cari iklan. Dampak terakhirnya justru akan menimpaku yang gabisa onlen karena letop pasti disita untuk mengalihkan perhatian Citra ke youtube.

Aku sendiri juga bingung, kenapa anak sekarang begitu suka nonton iklan. Atau iklan tipi memang sengaja didesain agar disukai anak-anak? Karena bagaimanapun juga, jiwa anak-anak memang universal. Selalu ada sifat kekanak-kanakan dalam diri manusia dewasa, namun tidak untuk sebaliknya. Dengan menyentuh sisi yang selalu ada itu, ketertarikan orang dewasa terhadap produk yang diiklankan mungkin bisa mencapai sasaran.

Cuma sayang, pembuat iklan kadang kurang kontrol terhadap materinya. Mencoba memaksakan suatu imej ke dalam benak konsumen dengan mengabaikan banyak sisi, sehingga tanpa disadari unsur kurang mendidik terbawa serta. Terasa berlebihan namun selalu dilakukan. Mungkin prinsipnya, makin nyleneh makin menarik perhatian. Sepertinya mereka lupa, bahwa iklan itu lebih menarik untuk anak-anak yang masih polos apa adanya.

Rasanya ga enak banget kalo inget jagoanku dulu tiba-tiba berteriak mengikuti iklan minyak angin, "bikin anak kok coba-coba..." Ketika aku luruskan bahwa yang bener itu "buat anak" bukan "bikin anak". Dengan enteng dia jawab, "bikin dan buat kan sama, yah..?"

Jangankan anak-anak. Orang dewasa pun kadang kurang mampu menerjemahkan materi iklan. Seperti teman-teman penggemar iklan lowongan kerja di sini. Ada yang berteriak gembira saat menemukan kalimat, dibutuhkan tenaga muda, pengalaman tidak mutlak. Padahal menurutku, itu artinya calon karyawan harus siap digaji dibawah standar. Atau, dapat bekerja dalam tim. Itu artinya harus siap mengajari orang lain yang belum mengerti tentang pekerjaan itu. Berwawasan luas, artinya bidang pekerjaan yang ditawarkan tidak spesifik. Harus siap jadi tukang apa aja atau seksi sibuk sekali.

Yang agak payah kalo syaratnya, wanita, single, menarik. Siap-siap saja jadi pajangan. Bisa jadi kerjanya enteng, ga perlu banyak mikir dan penghasilannya lumayan asal ga mikir moral. Memang ga semuanya begitu. Tapi paling tidak itu bisa membuktikan bahwa iklan kadang tidak mencapai sasaran secara efektif.

Seperti misalnya saat menyaksikan iklan obat gatal
Melihat yang akting cakep dan pamer bodi aduhai
Bukannya tertarik pada produk obat gatalnya
Tapi malah jadi sibuk garuk-garuk kepala
Gatal pengen kawin lagi...

Bisa gak sih bikin iklan tanpa efek samping buat anak-anak..?


Read More

Nyleneh

Hidup nyleneh dari orang kebanyakan ya seperti ini. Ga pernah bisa mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan orang lain termasuk urusan malem minggu. Saat di hutan begini, mau malem minggu mau jumat kliwon tak pernah ada bedanya. Setiap waktu cuma kerjaan mulu yang dipikirin.

Bales dendamnya ketika cuti. Ga mikir akhir pekan apa engga, pokoknya jalan-jalan setiap hari. Menjelang cuti memang selalu membayangkan. Saat cuti nanti mau bobo siang banyak-banyak, itung-itung menggemukan badan. Begitu nyampe rumah, kenyataan bicara lain. Cuti 2 minggu, diam di rumah paling banter cuma 3 apa 4 hari doang. Juragan besar dan kecil maunya keliling terus. Tapi mau komplen ga tega, kepikiran selama 3 bulan ga pernah ngurusin.

Kalo saja kondisi ibue Citra tidak seribet sekarang, aku mungkin bisa agak tenang pergi jauh seperti ini. Sendirian di rumah dalam kondisi hamil tua saja sudah jadi pikiran. Ini masih harus urus si kriwil yang bandelnya minta ampun. Anak cewek tapi ga betah di rumah, senengnya lari-lari di lapangan.

Waktu pamitan akan balik ke Kalimantan kemarin, sempat sedih juga waktu ibue bilang, "gada supir lagi, deh..." Aku cuma menghibur dikit, kalo kangen kan bisa nelpon apa ceting. Eh, ibue "keukeuh" kembali ke soal supir. Aku baru ngeh, ketika ibue duduk di belakang setir. Kalo kursinya dimundurin, kakinya ga nyampe ke pedal gas. Kalo dimajuin, setirnya susah muter kena perut yang memang lebih monyong dibanding saat hamil Citra dulu.

Punya anak aktif seperti Citra memang sedikit serba salah. Dikekang dalam rumah atau sebatas pagar teras rasanya kok kejam sekali. Makanya diputuskan untuk melahirkan di kampung, biar Citra ga terlalu menjadi beban. Walau memang untuk urusan fasilitas medis, Jogja jauh lebih lengkap dan nyaman. Tapi kalo mau bertahan di Jogja, kayaknya harus ngontrak kraton biar anaknya punya alun-alun buat tempat lari-lari.

Aku sering ngajak ngobrol Citra agar jangan terlalu merepotkan ibunya. Kalo mau lari-lari ya jangan terlalu jauh atau mendekati tempat bahaya, biar ibue ga perlu pecicilan nguber-uber. Tapi namanya anak baru umur setahun, dibilangin apa aja boro-boro nanggepin. Ngerti aja kayaknya engga.

Eh, tapi engga juga ding...
Citra suka menatapku dalam-dalam seperti ingin ngomong apa
Bisa jadi dia mau bilang kalo dia sebenarnya ga pengen seperti itu
Atau malah komplen, "tau ibu repot, bukannya bantuin malah sibuk motoin..."

Maapin ayah ya, nak...
Read More

16 September 2011

Kucing Citra

Baru seminggu di Kalimantan
Dah mulai kangen tingkah polah si Kriwil...

Mobile Post via XPeria






Read More

15 September 2011

Balon

Satu hal yang tak boleh dilupakan saat melepas Citra di tempat keramaian lapang adalah balon. Aku sendiri ga tahu kenapa dia suka banget nyamperin tukang balon. Mending kalo dia memang suka dan merasa cukup setelah dibelikan satu. Ini mah cuma mau iseng doang, ngacak-acak dan ngelepas-lepasin balon dagangan orang. Makanya pengawasan harus super ketat kalo dah nemu mainan yang satu itu.

Mau komplen juga susah. Karena waktu aku kecil dulu juga suka mainan balon. Tapi beneran buat mainan dan cukup satu biji tanpa ada niat isengin orang. Biasanya balon aku ikat pakai benang yang panjang dan diterbangkan tinggi-tinggi seperti orang main layangan. Bisa jadi ini merupakan pelampiasan akibat aku ga pernah bisa menerbangkan layangan dengan baik dan benar.

Suer. Waktu kecil aku gabisa main layangan. Untuk menerbangkan aku harus lari-lari sepanjang lapangan dan layangan langsung terjun bebas setelah aku berhenti berlari. Mungkin ngiri dengan mereka yang pintar main layangan bahkan pakai acara sangkut-sangkutan, jadinya aku pindah haluan ke balon.

Tapi jangan salah. Dulu aku pernah diselamatkan balon sehingga aku bisa berumur panjang sampai sekarang. Waktu itu aku belum sekolah dan lagi silaturahmi ke rumah pakde di bilangan Plumpang Jakarta. Karena dekat dengan bandara Kemayoran, disitu pesawat terbang hilir mudik setiap waktu.

Dasar orang kampung yang jarang melihat pesawat terbang serendah itu, setiap ada pesawat lewat aku pasti lari ke halaman. Kebetulan di halaman rumah pakde ada sumur milik rame-rame yang gorong-gorong pembatasnya hanya setinggi setengah meter. Lari-lari dengan kepala terus tengadah melihat pesawat lewat, aku ga melihat sumur itu dan langsung kecebur.

Untung aku anak kampung yang tiap hari main di sungai, jadinya aku ga sampai tenggelam. Tapi siapa sih orangnya yang akan tahu, kalo ada anak kecil yang lagi berendam dalam sumur. Sementara di jam-jam segitu, jarang banget orang berkepentingan ke sumur. Untung saja aku sedang mainan balon kesayangan dan tak dilepas walau aku berada dalam sumur. Jadinya balon itu terlihat orang lewat dan aku dapat pertolongan saat mulai kelelahan berenang-renang.

Sejak saat itu aku makin fanatik dengan balon dan tetap tak bisa menerbangkan layang-layang. Setelah agak besar, dimana teman-teman beradu kreasi membuat layang-layang dengan berbagai model. Aku bikinnya balon raksasa pakai plastik besar dan dikasih lampu minyak tanah untuk menerbangkannya. Baru kapok bermain balon udara panas ketika balonku hampir membakar rumah tetangga gara-gara mendarat di atap sebelum apinya padam.

Makanya melihat Citra suka balon, aku anggap itu sebagai potokopian dari masa kecilku dulu. Cuma sayangnya, hobi Citra ga cuma dalam hal isengin tukang balon doang. Saat jalan-jalan, sepanjang perjalanan yang diputar di audio mobil ga bakalan jauh dari lagu balonku.

Gimana ga bikin suntuk bila berjam-jam harus dengerin lagu balonku
Dan sepanjang waktu harus selalu teriak dooorrr...!!!


Read More

Sulion Pancen Oye

Bolak-balik aku misuh-misuh tentang pelayanan Lion Air yang katrok dan jagoan delay, tapi setiap kali terbang pakenya itu-itu juga. Sudah diejek, tapi diembat juga. Atau kalo orang sunda bilang, "dipoyok dilebok..."

Kalo dulu, urusan tiket bisa cari sendiri sesuai budget akomodasi dari kantor. Sekarang semuanya diurus kantor dan karyawan tinggal terima beres. Payahnya, setiap kali terbang selalu dikasih tiket sulion entah apa pertimbangannya. Kalo dibilang murah, aku rasa engga. Karena di beberapa rute, Lion lebih mahal dibanding beberapa maskapai lain. Belum lagi kalo melihat kualitas pelayanannya.

Dalam seminggu ini saja aku 3 kali dibikin mangkel oleh si sulion ini. Ketika harus ke Jakarta kemarin, situasi di bandara Adi Sucipto luarbiasa penuhnya. Saat diumumkan ada penundaan selama tigapuluh menit, sebenarnya aku sudah ga terlalu peduli. Aku cuma ngikut saja antri di depan gate setengah jam setelah itu. Tapi sapa yang engga kesal. Tanpa ada pengumuman penambahan waktu tunda, gate baru dibuka satu jam setengah kemudian. Padahal ruang tunggu sudah kelebihan manusia sampai berjejalan. Kasihan ibu-ibu dan orang tua yang sudah telanjur berdiri di antrian, tak bisa duduk kembali karena jumlah kursi tunggu tak mencukupi.

Saat balik ke Jogja dua hari berikutnya, kasusnya beda lagi. Baru saja check in, petugasnya sudah menyuruhku buru-buru boarding. Aku sempat "ngahuleung" sesaat, mengingat penerbanganku masih setengah jam lagi. Ini diluar kebiasaan sulion yang jagonya telat. Apalagi di boarding pass aku harus nunggu di gate A2, tapi disuruh masuk ke gate A7. Sempat nanya apa bener penerbangan 564 tujuan Jogja, dijawab iya dan di beberapa petugas pemeriksaan aku selalu lolos. Di atas pesawat baru nemu masalah. Ada yang nomor kursinya sama dengan aku. Sebelum ngotot ala roy sukro, lihat dulu boarding pass penumpang lainnya. Dan jebulnya itu penerbangan 554, bukan 564...

Mangkel dengan kejadian beruntun itu, pas ke Jakarta lagi aku pilih naik kereta. Payahnya kereta api Jakarta Banjarmasin tidak ada, jadinya aku harus berurusan dengan sulion lagi. Kali ini beneran delaynya sesuai pengumuman. Diumumkan satu jam, pas enampuluh menit tet sudah disuruh boarding.

Segala tata urutan upacara beres, eh ga jalan-jalan juga tuh pesawat. Yang ada malah pilot kasih pengumuman kalo penerbangan ditunda sejam lagi. Memang ada sih hiburan daripada bengong. Karena kebetulan aku duduk di pintu darurat, dimana pramugari duduk manis di hadapanku. Tapi aku kan ga mau melanggar pesan ibue Citra yang meminta aku tidak nakal selama di pesawat.

Jadinya aku cuma bisa berdoa
Agar pesawatnya segera terbang
Atau pramugarinya mau nakalin aku...
Read More

10 September 2011

Mainan Anak

Bicara soal mainan anak...
Kayaknya sudah umum banget kalo anak sekarang punya sifat bosenan dan jarang sampai menyayang mainannya dalam jangka waktu panjang. Beda banget dengan jaman aku kecil dulu, dimana mainan merupakan barang langka yang pasti diawet-awet jangan sampai rusak. Jarang banget orang tua membelikan mainan. Anak-anak jadul harus lebih kreatif membuat mainan sendiri dengan barang bekas, tanah liat, pelepah pisang atau kulit jeruk bali. Bisa jadi karena anak sekarang tidak mikir harus bikin sendiri, di toko pun mainan tinggal pilih, jadinya rasa sayang dalam diri mereka teramat kurang.

Tendang bolanya dong, neng. Jangan sepatunya...

Memang ada satu dua pengecualian, seperti keponakanku Raya. Dia punya boneka Dora yang sudah super kucel dan bau. Biar begitu, tak bakalan mau dia berpisah dengan Doranya itu. Diganti baru atau sekedar dicuci pun dia akan ngamuk. Makanya ibue tak pernah kepikiran untuk sekedar menghilangkan bau kecutnya itu. Namun tetap saja hanya satu boneka yang dia perlakukan begitu. Mainan yang lain, sama bosenannya.

Jagoanku juga lumayan boros. Mainan apapun paling banter cuma bertahan dua tiga hari sebelum dia ambil obeng atau tang untuk mengoperasinya. Kalo dinasehatin agar tidak main bongkar, jawaban dia tak pernah berubah, biar kaya ayah...
Dasar anak tukang serpis...

Dibanding kakaknya, Citra lebih parah lagi. Mainan dia cuma mampu bertahan dalam hitungan menit sebelum dilempar. Sifat bosenannya ini aku lihat agak berbeda dengan saudara-saudaranya. Karena Citra tak pernah terpaku pada barang yang diidentifikasi sebagai "mainan". Semua benda, termasuk makhluk hidup, asal bisa membuatnya senang, selalu dia anggap mainan.

Kalo nangkep bola, jangan dibawa ke dalam gawang dong...

Mandi di dispenser, makan sama ayam, renang di kolam ikan mbahnya, naik letop bapaknya, berantakin meja makan, asal dia lakukan sambil tertawa, itulah mainannya. Dilarang hanya akan membuatnya ngambek dan terus mengulang-ulang perbuatannya itu. Makanya aku ga pernah melarang dan cuma sekedar menjaga agar tidak jadi bahaya. Karena aku tahu dia tak akan berlama-lama dengan yang dilakukannya itu. Asal melihat sesuatu yang baru yang bisa dimainkan, Citra pasti akan pindah haluan.

Ibue kadang mengeluhkan juga kelakuan anak ceweknya itu. Namun aku ga pernah berpikir macam-macam dan tetap menganggap itu wajar dalam proses pembelajaran. Citra super aktif bukan sebuah kelainan yang perlu dikawatirkan. Menurutku itu merupakan ciri bahwa dia sebenarnya kreatif dan mampu mengemas sesuatu yang menurut orang lain tak mungkin menjadi mungkin buat dia.

Aku tak tahu penjelasan medisnya. Tapi mungkin ada kaitannya dengan kepalanya yang selalu berkeringat. Apa karena otaknya bekerja terlalu giat, sehingga yang paling cepat berkeringat adalah kepala dibanding anggota tubuh lainnya. Ini bedanya dengan kakaknya, dimana telapak tangannya yang paling cepat berkeringat, apapun kegiatan yang dia lakukan.

Ayo tendang lagi, nduk...

Dari sekian banyak hal yang dijadikan mainan, yang paling sering Citra mainkan adalah bola. Soal ini aku juga ga tahu motivasi atau hubungan medis psikisnya. Secara keturunan pun ga ada garisnya. Bapaknya boro-boro seneng bola, ngerti aja engga. Apalagi ibue. Paling-paling cuma tahu urusan bola sodok doang...

Terserah kamu deh, nduk...
Mau jadi pemain, wasit apa penonton bola
Yang penting jangan jadi tiang gawang saja
Karena kamu lebih pantes jadi tiang estri...

Read More

Ke Dieng via Banjarnegara

Jalan-jalan ke Dieng, kalo kita menghitung jarak dari jalan besar lintas tengah tentunya akan lebih dekat dari Wonosobo. Tapi karena kemarin aku menginap di Banjarnegara dan setelah dari Dieng akan menuju ke Jogja, aku pilih naiknya dari Banjarnegara saja. Pertimbangannya biar perjalanan berangkat dan pulangnya tidak monoton melalui jalur yang sama.

Perjalanan dimulai dari alun-alun Banjarnegara ke arah utara. Tak perlu takut tersesat karena cukup banyak rambu penunjuk jalan yang menunjukan arah Dieng. Secara garis besar, rutenya adalah Banjarnegara - Banjarmangu - Wanayasa - Batur - Dieng. Jarak yang pasti tak begitu jelas, karena petunjuk km di beberapa rambu terpasang berbeda-beda. Yang jelas dengan perjalanan santai, butuh waktu satu setengah jam untuk sampai disana.

Jalan melalui rute Banjarnegara memang tak semulus rute Wonosobo. Di beberapa bagian ada kerusakan kecil, namun jalannya lebih lebar. Tempat agak lapang di pinggir jalan juga lebih banyak. Sehingga kita lebih leluasa untuk mencari tempat berhenti, sekedar menikmati pemandangan pegunungan di sela-sela kebun sayur penduduk.

Teramat banyak obyek wisata di Dieng yang lokasinya tersebar namun jaraknya tak terlalu jauh. Pilihan jadi banyak namun jadi boros juga di pengeluaran tiket masuk dan parkir kalo semua mau dikunjungi. Tiket masuk masing-masing obyek relatif murah, harganya antara 5 - 10 ribu saja. Kalo bingung dengan banyaknya obyek, pertama kali mendingan menuju ke komplek Candi Gatotkaca saja. Disitu kita bisa minta peta obyek di museum Kaliasa yang terletak di seberang candi. Dari situ kita tinggal pilih mana yang mau dikunjungi mengikuti rute pada peta. Dan yang jelas, di komplek itu kita cukup sekali parkir untuk ke beberapa obyek sekaligus karena di seputaran situ memang ada beberapa obyek yang ngumpul.

Dieng memang cukup nyaman untuk jalan-jalan. Selain wisata budaya dan supranatural, kita juga disuguhi pemandangan alam yang indah dan sejuk. Kesejukan udara ini yang bikin aku merasa nyaman disana. Walau matahari bersinar terik, udara tetap saja sejuk. Makanya aku merasa aman melepas Citra berlarian kesana kemari tanpa takut kulitnya gosong. Efek dari kesejukan udara itu kelihatan banget pada rambut Citra. Kalo di Dieng banyak fenomena anak-anak berambut gimbal, disini rambut Citra yang biasanya kriwil malah jadi agak lurus.


Kalo Korea punya ginseng, Kalimantan punya pasak bumi, Dieng punya juga yang namanya purwaceng. Tanaman asli yang hanya tumbuh disana yang konon berkasiat untuk masalah vitalitas kaum pria. Aku sebenarnya tertarik pengen cari tanaman hidupnya biar aku campur di botol minuman bareng dengan pasak bumi. Tapi yang ditawarkan di kios-kios itu kebanyakan sudah dalam bentuk serbuk kopi atau teh purwaceng. Jadinya batal deh aku cari oleh-oleh khas itu.

Lagian sempat mikir panjang juga waktu mau belinya.
Gandeng istri yang lagi hamil 8 bulan
Gendong bayi umur satu tahun
Kok beli obat kuat...

Apa kata dunia..?

Read More

09 September 2011

Hotel Sokanandi Banjarnegara

Saat akan kembali ke Jogja, ibue Citra milih untuk lewat jalur tengah. Pertimbangannya lebih adem dan rada bosen lewat jalur pantai selatan. Jadinya dari Cilacap langsung menuju Purwokerto lalu naik ke Baturaden. Niat semula mau masuk ke obyek wisatanya. Tapi melihat manusia begitu menyemut di pintu masuk, aku banting setir ke arah bumi perkemahan. Itu pun tidak masuk buper dan cukup gelar matras di pinggir jalan di atas peternakan sapi perah.

Puas ngadem disitu, perut mulai terasa lapar. Jalan lagi ke arah Sokaraja untuk mencari soto melalui jalan pedesaan tanpa masuk kota Purwokerto. Kenyang makan soto, mampir sejenak ke rumah kang Klawer di Kalibagor untuk nebeng buang air. Dari situ jalan lagi ke arah Banyumas dan berhenti lagi di alun-alun Banjarnegara.

Di Banjarnegara, sebenarnya aku pengen dawet ayu jalan Dipayuda yang katanya dawet ayu asli yang menjadi cikal bakal dawet khas daerah itu. Sayang sudah terlalu sore dan kurang asik buat minum dawet. Jadinya cuma melepas Citra untuk lari-lari di alun-alun dan makan sate gule kambing pak Tego yang berada di sebelah barat alun-alun. Lumayan enak, mantap dan layak dicoba bila pas singgah di Banjarnegara.

Selepas maghrib, aku jalan lagi dengan tujuan Wonosobo untuk cari penginapan. Tapi baru saja keluar dari kota, dalam mobil tercium aroma yang aduhai. Aku cuma bisa pegang hidung sementara ibue sigap mengintip ke balik celana Citra. Melihat ada kue menggunduk dalam diapers, ibue kasih kode untuk cari penginepan di Banjarnegara saja. Kasihan juga kalo harus nunggu sejam lagi sampai tiba di Wonosobo.

Sekitar km 5 dari kota, tampak papan di sebelah kanan jalan tertulis Hotel Sokanandi Banjarnegara. Dari depan kelihatannya cukup bersih dan enak. Tempat parkirnya juga luas. Entah tarif standar, entah tarif tuslah lebaran, untuk kamar AC dikasih harga 300 ribu pas. Begitu masuk kamar, sempat bengong melihat banyak semut di lantai. Di pojokan malah menempel hiasan dinding kamitetep yang mengingih.

Karena terdesak Citra harus segera cebok dan mandi, masalah itu sementara terlupakan. Waktu masuk kamar mandi, aku malah bingung. Katanya ada air panas, tapi kran showernya cuma satu tanpa bak dan hanya ada ember plastik di samping closet. Udah gitu, pas krannya dibuka malah copot puterannya. Komplen ke resepsionis, akhirnya dipindah ke kamar sebelah.

Kamar baru ini, kamar mandinya lebih oke. Walaupun kebersihannya sama saja dengan yang tadi. Ada beberapa lampu panjer buat tidur di situ. Tapi boro-boro nyala, bolamnya saja tidak ada semua. Malah yang dekat tempat tidur, kabelnya putus dan ngelawer begitu saja. Payahnya, lampu kamar terangnya minta ampun. Jadinya serba salah waktu tidur. Lampu dinyalain, silau. Kalo dimatiin, gelap gulita karena lampu remang-remangnya ga nyala.

Pelayanan Hotel Sokanandi Banjarnegara sebenarnya cepat. Tak lama setelah masuk kamar, teko air putih dan teh sudah diantar. Tak masalah kalo bakinya rada error. Mungkin memang sengaja dicoak biar berseni. Sarapan paginya juga lumayan, ada sop dan sate walau sedikit keasinan. Waktu aku minta air panas buat bikin susu Citra, juga tak butuh waktu lama. Cuma sayangnya, pas aku naik turun ke kamar di lantai 2 bawa 2 koper dan tas dari mobil, dua resepsionis yang disitu kok cuek-cuek saja. Boro-boro nawarin bantuan angkatin koper.

Jadi kesimpulannya, Hotel Sokanandi Banjarnegara sangat tidak direkomendasikan untuk menginap. Fasilitas serba pas-pasan dan kurang dalam hal kebersihan. Buat yang tak terlalu memikirkan fasilitas, tetap saja sayang merogoh kocek terlalu dalam. Di daerah Baturaden saja, losmen seharga 100 ribu, kebersihannya lebih terjamin walau tanpa AC dan air panas.

Padahal aku tuh paling males kalo harus komplen saat menjalani liburan.
"Mas, kamarnya kok banyak semutnya sih..?"
"300 ribu kok pengen bersih..? cari hotel bintang dong.."
"Bukan gitu. Kalo di Gembiraloka, cuma bayar 10 ribu ga cuman dapat semut doang. Ada gajah, jerapah, monyet..."

Kalo ga kepaksa banget Citra ngendog di jalan
Ga bakalan deh aku kesitu lagi.
Kapok...
Read More

Musik All In One

Berjalan-jalan bersama keluarga merupakan suatu keindahan yang tiada taranya. Apalagi untuk aku yang hanya bisa bareng mereka tiap 3 bulan sekali. Bayangan bisa bobo manis dan istirahat saat cuti langsung lenyap dari benak ketika sudah kembali ke peradaban.

Cuti selama dua minggu, bisa dikatakan aku diam di rumah cuma 3 atau 4 hari saja. Selebihnya selalu jalan-jalan bersama Citra dan ibue kemana yang saat itu kepikiran. Jarang bikin perencanaan atau konsep terlebih dulu. Benar-benar mengikuti kemana arah angin. Tak jarang niatnya kemana, tapi di tengah jalan kepikiran apa, trus jadinya belok entah kemana lagi.

Saat berangkat dan di tujuan, kegembiraan memang terasa. Namun saat perjalanan pulang, disitu terasa dukanya menjadi seorang sopir. Setelah cape keliling-keliling, perut kenyang keluar masuk warung makan, begitu tahu mobil mengarah pulang, acara selanjutnya adalah kontes ngorok. Yang masih bernyawa lengkap tinggalah sopir seorang diri.

Kalo sudah begitu, hanya musik dari audio mobil saja yang menjadi teman sepanjang perjalanan. Cuma sayangnya, penumpang lain termasuk yang tidur pun selalu ikut berkepentingan dengan musik ini. Aku suka musik yang agak rame biar ga ngantuk, eh ibue sukanya musik pop. Biar ga bermasalah dalam hal perebutan kekuasaan soal musik ini, sebelum jalan kemarin aku donlot lagu-lagu pop yang dikoploin dari grup-grup dangdut Jawa Timuran. Jadinya adil, popnya dapet, ramenya dapet.

Agak mumet ketika Citra juga ga mau kalah. Sebelum jalan dia acak-acak koleksi CD lagu anak-anaknya biar bisa jadi hiburan sepanjang perjalanannya. Biarpun paling kecil, kalo di DPR hak suara dia tuh 6 biji sementara yang lain cuma punya 1. Trus dia juga yang punya hak veto termasuk untuk urusan musik. Ganti lagu anak-anak, apa duduk didepan ngelonin persneling. Dah gitu doang ancaman yang bikin orang lain nyerah. Kalo dicuekin, bisa-bisa malah jadi tawuran, jambak-jambakan sama ibue.

Bukan aku ga mau ngalah ke anak. Cuma lama-lama kenyang juga, sepanjang jalan cuma dengar lagu balonku apa lihat kebunku. Cari-cari lagu kolaborasi biar bisa mengakomodasi semua aspirasi cuma nemu sebiji. Ada yang punya ga, link donlot lagu seperti yang ini. 

Bukan apa-apa...
Saat nemu jalanan rusak
Duduk lonjak-lonjak sambil denger lagu anak-anak
Kok berasa naik odong-odong yah..?




Read More

08 September 2011

Wisata Kuliner

Yang namanya acara jalan, kemanapun tujuannya, aku jarang banget mikirin obyeknya. Yang ada dalam otak cuma satu, makanan apa yang unik dan enak disitu. Kalo dengar yang aneh-aneh pengen nyobain. Enak syukur, engga enak itung-itung buat pengalaman besok-besok ga nyobain lagi.

Tapi itu berlaku untuk wisata kota atau ke pegunungan. Untuk wisata pantai, aku jarang mencari-cari menu khas setempat. Asal daerahnya berbau sifut, aku pesennya kepiting diasam pedas. Kalo ibue lebih seneng nyari lobster.

Obyek wisatanya baru diperhatikan kalo lagi mikirin Citra. Anak itu ga bakalan betah bermain di ruang terbatas. Mau ga mau aku harus carikan area terbuka yang aman dan adem. Karena Citra memang tak pernah peduli panas apa hujan, asal nemu lapang pasti langsung lari. Susahnya lagi, dia belum kenal bahaya dan ga tau yang namanya takut. Jatuh dari tebing atau manjat pager berduri cuma bisa membuatnya menangis beberapa detik. Makanya mumet kalo melihat kulit wajah, tangan dan kakinya penuh baret-baret bekas tergores. Ga keliatan kecewekannya blash.

Soal kuliner, Citra tak pernah pilih-pilih makanan. Mungkin dia ngerti ga bakalan dipesenin makanan khusus dan cukup berbagi dengan pesanan ibue. Namun dia punya kebiasaan yang keren juga untuk urusan kuliner. Tak puas dapet menu nebeng, dia suka racik sendiri makanannya menjadi menu terunik yang pernah ada. Misalnya saat di Cilacap kemarin, dia bikin kelapa muda saus tiram plus ca kangkung.

Resep terakhir bikinannya kemarin, kobokan rasa lemon tea, pake kecap manis, tambah es batu campur tisu yang dicacah kasar. Menu bikinan Citra bukan cuma lezat di lidah, tapi bagus juga untuk perawatan rambut. Terbukti, sampai di rumah rambutnya langsung kaku bagai injuk plus dikerubut semut...

Punya pengalaman kuliner keren..?

Mobile Post via XPeria

Read More

07 September 2011

Teluk Penyu

Sebuah rutinitas yang tak pernah berubah. Saat mau berangkat dari Jogja, bilangnya kangen keluarga di kampung. Tapi baru sebentar di rumah, pasti terus ngelayap ke tempat keramaian.

Tempat wisata bahari terdekat adalah pantai Teluk Penyu di ujung kota Cilacap. Pantainya sendiri kurang asik karena gabisa renang. Ombak terlalu tinggi karena sudah melewati ujung Nusakambangan sebagai pelindung Cilacap dari ganasnya laut selatan. Kalo mau, paling-paling naik perahu ke pasir putih di pesisir Nusakambangan. Yang suka basah-basahan bisa naik jet ski atau banana boat. Yang males berpanasan bisa masuk ke benteng pendem yang satu komplek dengan kilang pertamina. Atau nongkrong di warung-warung yang bertebaran di sepanjang pantai.

Sempat kepikiran mau ke Pangandaran, yang obyek wisata terusannya lumayan banyak. Sayang jalan kesana katanya rusak berat karena dipakai truk angkutan pasir besi berlalu lalang. Buat aku, ke pantai cuma buat ngumbar si Citra yang memang seneng banget berlarian di alam terbuka. Yang penting adalah makan kepiting segar diasam pedas. Haaah....

Sekilas pandang dari Teluk Penyu kemarin kira-kira begini :

Menari di pantai

Haduuuh panas...


Berani kotor kan baik yah...

Engga mau pulaaang....
Read More

06 September 2011

Keponakan

Saat kumpul keluarga sesanak saudara di kampung, tiada tema cerita yang lebih menarik selain tentang anak. Orang tua pun kelihatan begitu bahagia ketika nimbrung bercerita tentang cucunya. Tingkah laku anak yang kadang menurut orang tuanya menyebalkan, buat kakek neneknya malah dianggap menyenangkan.

Salah satunya adalah Raya, anak adikku yang cewek. Umurnya hampir 3 tahun, namun kata-katanya masih susah dipahami. Dia suka membolak balik kata seenak udelnya sendiri. Seperti kalo lihat layangan terbang, dia mengatakannya sebagai "bang yangan." Dia juga gemar menyingkat kata dengan caranya sendiri. Mending kalo kata-kata kumplit yang dia singkat. Payahnya dia suka juga menyingkat kata-kata hasil singkatan saudaranya. Seperti mbah putri yang cerewet, sepupunya memanggil beliau mbah ewed, Raya panggilnya mbaed. Mbah kakung, yang lain manggilnya mbah aung, dia cukup mbaung.

Yang bermasalah kayaknya cuma di pengucapan kata doang, sedangkan otaknya berjalan lancar. Buktinya saat disuruh ini itu, Raya bisa memahami tanpa masalah. Seperti saat lebaran kemarin, orang lain sempat bingung mentranslit kata "ai aku idung ude". Setelah ibunya datang baru jelas bahwa dia cuma ngomong, hari aku idul budhe. Dari situ bisa keliatan kalo dia mudeng bila namanya Raya dan punya budhe bernama Fitri.

Yang agak menyebalkan adalah ketika orang tua mulai mengait-ngaitkan perilaku cucunya dengan tingkah kita di waktu kecil. Seperti si Adi, fisik dan tingkah lakunya dikatakan lebih mirip dengan ibue Raya dibanding aku. Kalo Citra dikatakan lebih pantas jadi anak adikku yang cowok. Sama-sama gemar binatang dan suka keluyuran ke kebun. Yang mirip bapaknya cuma pecicilannya doang.

Kayaknya nyaman banget ortu buka kartu masa lalu hanya untuk membanggakan cucunya. Misalnya saat Raya susah mandi dan kalo dipaksa malah guling-guling di halaman sambil telanjang. Dengan damai mbahnya berceloteh didepan umum, "persis pakdenya waktu kecil tuh..."

Halah...






Read More

05 September 2011

Maap Instan

Seminggu hidup di jalanan, seminggu tak menyentuh blog, sebanyak itu pula tumpukan cerita yang bisa dijadikan kilas balik selama lebaran yang baru saja lewat. Yang pasti, lebaran tak lagi sepenuhnya menjadi Idul Fitri yang katanya penyempurna ibadah puasa. Silaturahmi berjalan ala kadarnya dan mulai pilih-pilih bulu. Hanya tetangga sebelah rumah dan orang tua yang dihormati saja yang disungkemin. 

Budaya gaul instan online sudah merambah ke kampung dan berlaku global termasuk ke sanak saudara. Saudara yang sebenarnya dekat namun rumahnya agak jauh saja mulai males mengunjungi. Cuma beda RW saja merasa cukup bermaafan melalui pesbuk atau dengan berkirim sms. Mendingan kalo sms itu dibuat secara ekslusif untuk orang per orang. Bagaimana bisa dikatakan menghargai, kalo pengirimannya dilakukan secara broadcast. Bikin satu sms lalu klik send all. Bak robot tanpa emosi sama sekali.

Sejak sms broadcast semacam itu merebak di masyarakat, aku tak pernah sekalipun terbawa arus. Buatku kata maaf itu bukan pada ucapan puitisnya, melainkan ungkapan sanubari yang tentunya tak bisa dilakukan borongan. Mungkin ini terlalu kejam. Tapi kenyataannya memang begitu. Sms broadcast masuk jarang aku hiraukan.

Aku lebih suka mengetik sms pendek ga puitis blas tapi memang sengaja aku buat untuk seseorang, daripada aku kirim ulang sebuah sms indah yang masuk untuk banyak orang. Kebiasaan semacam ini sudah aku lakukan sejak jaman kartu pos dulu. Aku lebih suka menggunting karton dan mencorat-coretnya pake spidol warna atau ditempelin rumput kering yang sederhana daripada beli hadiah atau kartu yang keren. Dalam rasaku, upaya bersusah payah lebih mencerminkan penghargaan kita kepada seseorang daripada dikonversi dengan nilai uang.

Tapi itu buat aku saja. Terserah orang mau anggap aneh atau tak bisa mengikuti jaman yang mana segalanya dinilai dengan uang. Biarpun kita selalu melihat kemasan dalam memilih sesuatu, namun buatku don't judge book by the cover tetap berlaku. Makanya kalo menerima sesuatu, aku selalu berusaha untuk melihatlah nilainya, bukan barangnya.

Lagian...
Kalo lihat barangnya yang ngasih
Bisa ditabok ibue tar...

 

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena