08 Agustus 2011

Ibu Dapur

Masuk bulan puasa seperti ini, yang super sibuk adalah ibu-ibu dapur. Boleh dibilang mereka harus kerja 24 jam karena ketambahan masak buat sahur, sementara masak untuk pagi dan siang bagi yang ga puasa jalan terus. Di hari-hari biasa pun mereka baru bisa istirahat setelah beres-beres makan malam dan mulai sibuk lagi menjelang subuh menyiapkan sarapan. Itu kalo tidak ada karyawan yang rewel dan suka teriak-teriak bikin ini bikin itu sampai tengah malam.

Mereka semakin repot karena ada segelintir karyawan yang merasa punya jabatan dan menginginkan sesuatu yang ekslusif. Menu dibedakan dan makan pun diantar ke kamar. Alasan ruang makan sempit dan agak kumuh mungkin sebuah alasan yang bisa diterima. Namun masalah itu tak juga diatasi, itu yang membuatku susah untuk mengerti. Padahal dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka bisa bikin apa saja. Perbaiki fasilitasnya sesuai standar dia apa salahnya. Jangan malah ngungsi ke kamar tiap makan.

Ibu dapur yang tugas sebenarnya hanya urus makan itu pun seringkali direcoki dengan kerjaan lain seperti nyuci baju karyawan. Payahnya banyak karyawan yang ga tahu diri. Awalnya mesin cuci dekat dapur disediakan untuk karyawan yang mau nyuci baju sendiri alias tidak ke laundry. Karena aku tiap habis ke kota suka bawain jajan buat ibu-ibu dapur, tiap bulanpun aku berusaha berbagi dengan mereka barang 200 apa 300 ribu buat rame-rame, mereka melarang aku nyuci sendiri. Melihat aku dan beberapa teman yang suka berbagi, cuciannya dicucikan, lama-lama yang lain ga mau nyuci sendiri. Pakaian kotor main taruh saja diatas mesin cuci.

Mungkin ribet dengan dapur yang jadi penuh pakaian kotor, mereka mengalah nyuciin walau kelihatan ala kadarnya. Sudah begitupun, teman-teman masih banyak yang ga nyadar juga. Melihat pakaianku selalu disetrika, tega-teganya komplen ke ibu dapur, kenapa pakaian mereka hanya dilipat doang. Kadang aku ingetin temen untuk ngasih sedikit uang lelah, malah ada yang mencemooh. Katanya mereka kan sudah digaji, ngapain dikasih lagi..?

Dari semua kerepotan ibu dapur, jadi muncul pertanyaan yang mungkin sedikit rasialis. Kenapa orang-orang semacam itu, yang punya jabatan, yang gajinya gede, malah jarang yang mau berbagi dengan mereka. Aku yang gajinya pas-pasan juga ga pernah merasa kecopetan, kasih sekedar uang lelah ke mereka. Karena aku ngerti, kelebihan waktu kerja mereka ga bakal dibayar lembur. Kenapa harus kebanyakan nuntut, seperti ga bisa ngotak kalo manusia butuh waktu untuk istirahat. Manusiawi sedikit apa susahnya sih. Ga mungkin orang kerja all out bila gajinya all in mepet UMR.

Mungkin benar kata pepatah, No gain without pain.
Artinya kira-kira, ga dapat duit kalo ga sakit.
Emang kuda lumping..?

Dah ah...
Siang-siang misuh-misuh...


Read More

07 Agustus 2011

Kompakan

Sudah beberapa teman yang bertanya, aku kalo nulis tentang keluarga suka ceplas ceplos, emang ga takut ketauan istri..?

Selain blogger lama memang jarang yang tahu kalo istriku tukang ngeblog juga. Bahkan bisa ketemu dan menikah juga berkat jasa blog. Hanya saja, semenjak hamil Citra istriku suka puyeng kalo kelamaan di depan monitor. Jadinya dia jadi jarang nulis atau komen dan lebih suka baca-baca doang.

Ibue ga pernah mempermasalahkan aku nulis apapun, termasuk misalnya habis ketemuan sama cewek sekalipun. Karena apa yang aku tulis biasanya sudah diobrolkan lewat telpon. Aku dan ibue memang punya kebiasaan ngomongin apa saja yang terjadi sehari-hari tanpa pernah terbebani salah satunya akan ngambek atau tersinggung. Kalo pas di rumah, acara ngobrol ini biasa dilakukan saat menjelang tidur sekalian buat foreplay sebelum berangkat lembur. Saat terpisah begini, acara buka-bukaan itu dilakukan lewat telpon.

Belajar saling terbuka memang susah sekali dilakukan walau dengan teman sekasur sekalipun. Perlu waktu juga untuk belajar sampai akhirnya tiada beban lagi saat mau ngomong apa saja. Kadang ada pihak yang cemberut tapi cuma sesaat dan setelah itu adem lagi. Buat aku dan ibue, lebih baik suatu kejelekan diketahui dari mulut pertama daripada adem ayem tapi suatu waktu ada bocoran dari orang lain. Makanya saat ada orang ga seneng laporan ke ibue tentang perbuatan negatifku di luaran, beliau biasanya cuma nyengir doang dan bilang, "dah tauuu..."

Sama-sama terbuka, mungkin itu yang membuat rumah jadi damai tanpa ada pertengkaran berarti. Itu pula yang telah menyuburkan cinta kasih semakin mendalam, walau awal nikah rasa itu tidak ada, selain komitmen mau membangun rumah tangga semata. Ini teramat berbeda dengan sebelum ketemu ibue, dimana aku selalu mengawali hubungan dengan rasa terlebih dahulu. Keterbukaan tak bisa sepenuhnya sehingga jarang yang bisa langgeng sampai setahun. Beberapa bulan saja sudah mulai berantem.

Sayangnya kekompakan itu bukan cuma di masalah buka-bukaan doang. Koplaknya juga sama. Dan semua itu mengalir begitu saja tanpa disadari apalagi direncanakan. Seperti siang tadi, ibue sms, "setrikaan numpuk, bantuin dong, yah..." Aku cuma balas pendek, "maap, bu. disini lagi mati lampu..."

Biar casingku ancur, ibue tetap sayang aku sebagaimana dia menyayangi anaknya. Kan pepatah mengatakan, like son like father. Kalo suka anaknya, harus suka bapaknya juga. Toh orang sunda bilang, pada waktu anaknya menyayangi maknya, ga perlu liat tampang bapaknya. Sambil merem-merem katanya lebih nendang sensasinya daripada melototin muka.Pepatah juga yang mengatakan, love is blind. Mencintai itu harus seperti orang buta. Kalo sampe melek bisa gawat dan kehilangan selera. Karena cakep itu relatif, namun jelek adalah mutlak.

Buktinya, walau sudah bukan abg lagi, sms ibue masih romantis biarpun tanggal tua.

"I miss you, yah... GBU!"
"Apaan GBU..?"
"Gue butuh uang..."

Dah ah...
Mulai OOT neh...


Read More

06 Agustus 2011

Berkebun

Saat kembali ke Jogja beberapa hari lalu, Citra katanya sempat sensi berat. Kolokan dan suka ngambek ga jelas sampai ibue susah mau ngapa-ngapain. Namun sejak kemarin dia sudah kembali ceria seperti biasanya. Kegiatan barunya adalah berkebun di teras rumah dan mengacak-acak pot bunga. Kata ibue, Citra anteng banget kalo sudah mulai berkebun. Bisa jadi rewelnya kemarin, cuma kaget dengan perubahan kegiatannya sehari-hari. Biasa di kampung tiap hari berteman ayam, kelinci dan kambing mbahnya, begitu sampai Jogja dia merasa kehilangan teman-teman baiknya.

Agaknya Citra memang butuh aktualisasi yang lebih dari sekedar bergaul dengan teman-teman sebayanya. Bagaimanapun juga dia turunan orang kampung yang akrab dengan alam bebas. Apalagi kalo melihat basic ibue yang sekolahnya di pertanian walau kenyataannya sekarang males kalo disuruh ke sawah.

Aku juga melihat si Adi yang nurunin aku soal komputer dan internet. Sudah bermain seharian dengan teman-temannya saja, kalo belum buka komputer kayaknya belum puas dia. Sampai-sampai mbahnya suka bengong kalo dah ngobrol sama cucunya. Apalagi mbahnya, aku saja suka bingung dengan pertanyaan-pertanyaan dia. Pernah Adi nanya, kenapa tombol di kibod tulisannya enter. Bolak-balik cari refrensi di google yang bisa diterima oleh pola pikir balita aku ga nemu. Dan ternyata jawabannya teramat sederhana, "kalo tulisannya entar, nanti kelamaan, yah..."

Makanya aku merasa beruntung ibue Citra orang pertanian yang mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan Citra suatu saat nanti. Minimal aku ada asisten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai tanaman dan bercocok tanam. Bisa dibayangkan bila hobi anak bukan hal yang dikuasai oleh ortunya. Bagaimanapun juga anak sekarang lebih kritis dan perlu jawaban tepat. Tak bisa lagi kita menggunakan pendidikan gaya lama dimana setiap pertanyaan anak cukup dijawab sekenanya dan diakhiri dengan kata pamali atau ora ilok atau tabu.

Jangan sampai kaya temen yang terpaksa kursus bahasa Arab hanya karena mengadopsi bayi TKW yang hamil sepulang dari Saudi. Katanya takut ga bisa ngobrol dengan anak angkatnya kalo dia dah bisa bicara nanti....
Read More

Banyakin Tidur

Bulan puasa atau engga, pola kerjaku hampir tak ada perubahan. Malam begadang, bilangnya coding padahal ceting atau blogging sampe nungging. Subuh baru tidur dan siang baru bangun lalu berangkat ke lapangan untuk pindah tidur. 

Sudah dikasih tahu gitu masih ada yang suka nanya, kerjanya kapan. Ya memang kerjaannya begitu, begadang dan tidur siang. Sambilannya kadang-kadang naik tower, narik-narik kabel, bongkar-bongkar komputer tanpa bisa pasang atau bikin script engga jelas yang aku sendiri ga bisa bacanya.

Sedikit perubahan yang terjadi di bulan puasa adalah menambah porsi ibadah. Soal ibadah, besar kecilnya ga terlalu berpengaruh yang penting keikhlasannya. Ibadah juga tidak boleh dan tidak ada yang memberatkan. Semakin kita merasa ringan menjalankan ibadah, bisa diartikan semakin ikhlas kita dan semakin mudah diterima di sisi-Nya. Karena tidur siang itu termasuk ibadah, ringan, tidak memberatkan dan aku sangat ikhlas menjalaninya, makanya aku perbanyak tidur di siang hari selama puasa agar bertambah segala amal pahala.

Dalam undang undang dasar dan peraturan tentang ketenagakerjaan, masalah ibadah merupakan hak setiap karyawan. Perusahaan wajib mempermudah ibadah karyawan dan dilarang keras mengganggu urusan peribadahan. Jadi bila perusahaan menegur aku tidur siang, sama artinya telah melanggar undang-undang tentang kebebasan beribadah di tempat kerja. Lagian ramadhan itu bulan penuh ampunan, jadi tidak pada tempatnya bos marah tanpa ampun.

Okelah teman...
Banyak-banyaklah beribadah
Banyakin tidur
Kurangin nyusu..

Mobile Post via XPeria
Read More

05 Agustus 2011

Mandi di Hutan

Sudah dua hari ini, masalah air di mess kembali mengemuka. Air kran kembali berlumpur dan akhirnya mampet sama sekali. Kiriman air dari tangki PDAM tak mencukupi untuk kebutuhan seluruh warga. Kadang harus angkut galon dari dapur ke kamar mandi bila ingin buang air. Pihak general affair sampai mengerahkan beberapa kendaraan sarana untuk angkut karyawan ke kota dan booking hotel terdekat secara short time hanya untuk mandi.

Payahnya, pasukan IT tuh pola kerjanya terbalik. Kerjanya malah malem dan habis sahur baru beranjak tidur. Akibatnya bangun selalu kesiangan dan ga kebagian jatah mandi di kota. Mau ambil galon di dapur ga tega melihat ibu dapur kebingungan, kekurangan air buat masak. Jadinya aku pilih masuk hutan dan mandi di mata air.

Secara normal, mungkin kita akan males mandi di kubangan seperti itu. Tapi air kubangan justru lebih bersih daripada air di kamar mandi mess. Apalagi di tengah hutan begini, kayaknya masih murni dan bebas pencemaran. Yang bikin aku heran, di kubangan yang ga nyambung kemana-mana itu ada ikan-ikan kecil bersliweran. Ikan darimana susah aku pahami secara logika.

Ada satu lagi yang bikin aku tambah heran. Pas mau mandi, aku bisa foto-foto di sekitar situ tanpa ada masalah. Tapi ketika temen dah telanjang bulat, aplikasi kamera selalu error saat aku tekan tombol jepret. Berkali-kali aku coba tetap sama. Aku pikir hapenya yang bermasalah. Namun ketika aku foto ke pepohonan kok bisa berjalan normal. Termasuk saat teman sudah pakai baju lagi, kamera kembali berfungsi.

Ga boleh pose mesum kali ya...
Ada yang punya pengalaman lain..?
Read More

Mengenang Merapi

Oktober 2010...
Aku sedang mengerjakan proyek data center di Pusdatin Kemhan Pondok Labu ketika ibue Citra laporan Merapi meletus. Saat itu ibue Citra memintaku tetap tenang, karena Jogja tetap aman dan nyaman dari serbuan debu vulkanik Merapi. Namun pemberitaan di tipi yang kadang lebay membuatku tak mampu menahan diri untuk minta ijin pulang.

Hatiku makin empot-empotan ketika penerbanganku terus ditunda-tunda dengan alasan keamanan. Aku pun meluncur ke stasiun Jatinegara dan menumpang Fajar Utama menuju Jogja. Sampai Purwokerto, serangan debu vulkanik mulai masuk gerbong kereta. Masuk Kebumen, jarak pandang keluar jendela makin tertutup debu tebal. Perasaan makin tak jelas dan yang terpikir kaya apa Jogja bila di Kebumen saja sudah sedemikian parah. Bolak-balik ibue Citra telpon mengatakan Jogja tak apa-apa, aku anggap sebagai sebagai penghibur saja agar aku tak terlalu kawatir. Ternyata ibue memang benar. Sampai Wates debu menipis dan di Jogja dampak Merapi hampir tak terasa.

Mendengar aku pulang, Sopi, juragan Rifka Anisa menghubungiku untuk membantu di posko. Disana aku cuma orientasi sebentar lalu menghubungi teman-teman Jalin Merapi yang bergerak di garis depan. Dari beberapa pilihan, aku pilih bergabung di Magelang karena aku lihat Jogja sudah kelebihan relawan.

Seminggu kemudian ijin kerjaku habis sementara Merapi makin menjadi. Aku putuskan untuk keluar kerja dan tetap bergabung bersama teman-teman relawan. Hampir tiga bulan lebih aku di lereng Merapi sampai amukannya mereda. Begitu banyak cerita dari sana yang tertuang di jurnal blog sebagai pelampiasan segala unek-unek. Terutama kepada penguasa negeri yang pengelolaan bencananya begitu acak adut.

2011...
Anaz menghubungiku lewat japri dan minta ijin untuk mengambil beberapa tulisan untuk dibukukan dalam satu kompilasi amal. Buku bertajuk Relawan Merapi: Berbagi Jejak Kebersamaan untuk Anak Negeri, bisa terbit dengan cara gotong royong teman-teman blogger. 100% hasilnya akan disumbangkan untuk korban Merapi yang sampai saat ini belum juga tuntas. Anaz minta aku pilih tulisan yang akan dimuat. Namun karena aku seringkali melupakan apa yang pernah aku tulis, aku minta beliau untuk memilih sendiri mana yang pantas.

Aku sebenarnya ingin mengadakan semacam give away dengan hadiah buku ini. Namun apa daya, statusku sebagai manusia hutan Kalimantan yang terisolir dari peradaban membuatku susah bergerak. Sehingga aku cuma bisa pesan beberapa buah buku yang kemudian aku serahkan ke Anaz untuk acara give awaynya. Buat teman-teman yang berminat, silakan tunggu berita selanjutnya dari beliau di blogger, multiply, kompasiana ataupun pesbuk.

Yang tak sabar menunggu acara tersebut, sekaligus ingin berbagi dengan korban Merapi, bisa memiliki buku ini dengan biaya pengganti ongkos cetak Rp 37500,- belum termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi Mas Trie di nomor 0877 7166 6071 / 0813 2884 4443. Pembayaran bisa melalui transfer BCA atau Mandiri.

Ada sedikit review dari pak Odi yang bisa dibaca disini. Mohon maaf bila aku belum bisa memberikan review. Soalnya buku untukku Anaz kirim ke Jogja sehingga aku belum bisa baca. Yang selalu jadi pikiranku adalah, tulisan-tulisan saat itu isinya cuma misuh-misuh plus bahasa binatang segala. Semoga Anaz sempat mengeditnya sehingga bisa pantas untuk dibaca khalayak ramai. Terima kasih buat Anaz dan kawan kawan yang telah rela bersusah payah mengangkat jejak-jejak di lereng Merapi. Semoga amal ibadahmu diterima, Naz...

Semoga saat aku pulang cuti lebaran nanti
Buku itu masih utuh dan belum dipipisin
Karena kemarin ibue sempat cerita
Kalo Citra sudah mulai melahap sampulnya...



Read More

03 Agustus 2011

Keluyuran Malam

Paling males kalo malam-malam begini harus ngeluyur jalan kaki lewat hutan. Kalo sekedar kuntilanak sih ga pernah kepikiran. Kalopun ada, kayaknya lumayan buat temen ngobrol daripada sepi. Sukur-sukur bisa rikues biar penampakannya seperti si manis jembatan ancol atau minimal seperti sora aoi. Siapa tahu banyak ngobrol dengan kuntilanak, kita bisa dapat banyak filosofi tentang kehidupan. Bagaimanapun juga, kuntilanak merupakan suri tauladan yang bagus buat manusia. Biarpun tinggal sebatangkara di pohon dengan baju ga pernah ganti, mereka selalu tertawa.

Yang bikin aku sebel adalah babi hutan. Jangankan dalam gelap malam begini, siang hari bolong pun mereka begitu damai keluyuran di halaman mess. Mana ga tau sopan santun berlalulintas lagi. Mau motong jalan orang, boro-boro nglakson apa pasang lampu belok, tengak-tengok juga enggak.

Anak-anaknya juga sudah belagu. Diteriakin tetap saja cuek babi. Paling-paling menguik yang kalo ditranslit mungkin artinya, elo menggonggong, gue tetap berlalu. Pernah aku coba cari perhatian, nyambit mereka pake kayu. Eh, yang jatuh cinta malah induknya yang langsung nguber-uber sampe jatuh bangun. Aku panjat pohon, setia banget dia nungguin di bawah.

Kadang aku mikir, kenapa ga ditangkep saja barang sebiji. Lumayan tuh, dimodalin lilin doang bisa bikin kaya. Sayangnya cari lilin disini susah. Biar kata sering mati listrik, orang sini sepertinya cuek hidup dalam kegelapan. Jarang banget aku lihat orang nyalain sekedar lampu teplok saat lampu mati. Sudah terbiasa gelap-gelapan atau memang butuh alasan saat program KB gagal, aku ga ngerti.

Jangan-jangan mereka sudah keismean iklan kopi kapal keruk
Gelap lebih enaaaak....
Au ah lap...



Read More

02 Agustus 2011

Pengen Buka Bersama

Ibue nelpon katanya dah balik ke Jogja kemarin sore. Ditinggal pulang kampung sampai dua bulan, butuh tenaga ekstra untuk bersih-bersih. Sebenarya aku sudah bilang, kalo balik bawa orang untuk bantu-bantu. Jadi ga perlu cape sendiri mengingat kehamilannya sudah semakin besar dan perlu banyak istirahat. Beres-beres rumah dibantu Citra, sama juga bohong. Hobi berantakinnya semakin menjadi sampai kemarin katanya kerubuhan dispenser yang untung galonnya kosong.

Terasa juga sedikit kesedihan, saat ibue cerita harus sahur dan buka puasa sendiri. Apalagi kalo ingat puasa tahun lalu aku ga kemana-mana, karena hari pertama puasa aku keluar dari kerjaan. Ada keindahan tersendiri saat bersama-sama "ngabuburbeurit" menunggu waktu berbuka. Tak peduli puasa yang seharusnya jadi irit, pengeluaran malah membengkak.

Puasa di rumah memang lebih menyenangkan. Terutama bila dikaitkan dengan menu buka sahur yang bisa bervariasi. Disini menunya tak pernah berubah dari ikan gabus dan ayam dari waktu ke waktu. Kalopun ada perubahan, aku gabisa ikut makan karena hanya disajikan di ruang makan sebelah yang warganya boleh mengkonsumsi babi. Buah-buahan nyaris tak pernah aku temukan. Padahal selama di rumah, jus buah adalah menu sehari-hari.

Aku juga merasa dirugikan perusahaan saat puasa begini. Jatah makan 3 kali sehari di kontrak kerja cuma bisa aku dapatkan dua kali. Tidak ada konversi jatah makan yang hilang, paling tidak dalam bentuk cemilan atau buah untuk peningkatan gizi, mengingat pekerjaan disini sangat menguras energi.

Disini aku juga cuma bisa sahur dan buka doang.
Kalo di rumah kan dapat menu tambahan
Jadwalnya jadi sahur, buka dan buka bersama...

Tapi sudahlah...
Minimal disini aku agak santai
Ga harus mandi tiap menjelang imsyak...
Read More

Tanpa Beban

Masih saja ada yang menganggap puasa sebagai sebuah penderitaan. Sampai ada temen yang sibuk cari kegiatan buat ngelupain lapar katanya. Padahal yang aku tahu, semakin kita berusaha melupakan sesuatu, justru semakin sering kita mengingat hal tersebut. Seperti saat frustasi dan maksa melupakan sakitnya hati, semakin sulit kita melupakannya. Paling nyaman adalah membiarkan waktu mengalir dengan kegiatan rutin sebagaimana biasanya.

Menganggap pekerjaan sebagai beban membuat kita terjebak dalam rasa ga nyaman. Hanya perlu kreatifitas sederhana agar kita bisa merasa terhibur dengan pekerjaan. Teman-teman bagian bor yang lumayan berat kerjaannya saja seperti tak terganggu dengan hilangnya bekal makan minum di tas mereka. Keceriaan mereka yang persis anak TK bermain-main di atas mesin bor membuat waktu mengalir tanpa terasa.

Ada juga temen kantor yang berpikir nyleneh. Katanya enak jadi bagian lapangan. Kalo saatnya buka puasa bisa loncat ke perbatasan yang jamnya satu jam lebih cepat. Disini memang berada di perbatasan Waktu Indonesia Barat dan Tengah. Mereka ga mikir kalo yang masuk bagian tengah buka jam 18:30 sedangkan bagian barat jam 17:26. Biar kata bagian tengah satu jam lebih cepat, kenyataanya justru di bagian barat waktu buka 4 menit lebih cepat.

Enjoy ajalah dengan puasa dan pekerjaan
Mau shalat batal saja wudhu lagi
Puasa batal ya sahur lagi...
Read More

01 Agustus 2011

Disayang Tuhan

Pagi-pagi meluncur ke arah pelabuhan untuk periksa pekerjaan tower wireless yang tinggal finishing. Lagi-lagi harus sebel karena tidak kebagian kendaraan 4WD dan harus rela offroad pakai kijang. Saat berangkat kebetulan cuaca panas sehingga bisa bergerak cepat walau harus hati-hati karena jarak pandang terbatas oleh kepulan debu tebal.

Suasana puasa atau tidak memang tidak begitu terasa di tambang. Jumlah karyawan muslim dan non muslim sepertinya sengaja diseimbangkan oleh perusahaan. Aku baru tahu kesengajaan itu, ketika beberapa hari lalu merekomendasikan calon karyawan. Menurutku  skillnya memadai, namun ditolak oleh HRD karena dia non muslim. Tidak ada unsur sara disini karena juragan HRD juga non muslim. Alasan beliau menolak karena untuk posisi itu jumlah karyawan non muslim sudah terlalu banyak.

Menyeimbangkan porsi karyawan menurut agama ini alasan utamanya karena tambang harus beroperasi 24 jam. Sehingga saat karyawan muslim harus istirahat agak panjang pada hari jumat, karyawan non muslim bisa menggantikan. Sebaliknya pada hari minggu, pekerjaan bisa dijalankan oleh yang muslim. Libur bersama saat hari raya pun bisa diatasi dengan cara ini, sehingga aktifitas tambang tidak perlu berhenti.

Di tambang memang tidak ada fasilitas tempat ibadah sehingga karyawan harus turun gunung yang lumayan memakan waktu. Toleransi antar pekerja yang berbeda-beda keyakinan cukup tinggi dan tak pernah jadi masalah. Saat ramadhan begini, yang menjalankan ibadah puasa tak pernah merasa terganggu oleh mereka yang tidak puasa. Sebaliknya yang tidak puasa pun tak pernah merasa terganggu untuk ikut-ikutan puasa.

Namun puasa disini memang lumayan berat. Bekerja kasar di medan terbuka yang panasnya luar biasa dengan debu begitu tebal cukup dahsyat untuk merangsang dahaga. Pada hari-hari biasa pun, berbekal air kemasan ukuran 1,5 liter masih terasa kurang. Makanya siang tadi lumayan tersiksa saat harus naik turun tower. Mau pakai payung biar tidak kepanasan takut ditangkap petugas safety.

Tak aneh ketika matahari tepat di ubun-ubun, teman sudah bilang mau menyerah dan mengajak pulang ke kantor. Aku pun tak merasa berat untuk mengiyakan ajakan itu. Tak ada beban apapun dalam pikiranku selain berpikir bahwa tuhan tahu kondisi dan sayang kepadaku.

Kasih sayang tuhan itu terbukti ketika seperempat perjalanan menerobos hutan, hujan turun dengan lebatnya. Walau cuma beberapa menit, namun cukup untuk mengusir debu yang menyesakan dan panas menyengat.

Seperempat perjalanan berikutnya, aku sudah lupa rongrongan haus karena sibuk drifting dalam lumpur sampai amblas-amblas atau rodanya ngangkang gardannya kandas.

Setengah perjalanan selanjutnya, mobil malah mogok ga mau distarter. Sehingga acara selanjutnya adalah mandi keringat campur hujan campur lumpur karena harus berkali-kali mendorong mobil.

EGP dah...
Yang penting bisa nyampe mess makan minum sepuasnya
Walaupun saat itu jam sudah menunjukan pukul 19:00...
Read More

31 Juli 2011

Kejar Setoran

Kantor pusat kasih deadline, pekerjaanku membangun infrastruktur IT selesai tanggal 15 Agustus. Rencanaku, pekerjaan jaringan di lapangan bisa selesai hari ini, agar masuk puasa aku tinggal kerjain server di ruangan. Walau pekerjaan bukanlah alasan sebagaimana musafir atau masalah kesehatan, tetap saja aku tak yakin bisa bertahan naik turun tower di bawah panas yang menyengat. Iklim yang tak menentu bisa membuat cuaca berubah-ubah cepat dalam waktu pendek antara panas terik dan hujan lebat.

Kondisi jalan antar site yang lebih pantas disebut kubangan sangat menghambat mobilitas. Jarak sekitar 35 kilo dalam kondisi normal harus ditempuh dalam waktu 2 - 3 jam. Bila hujan turun, bisa setengah hari aku drifting ala fast furius di atas lumpur. Apalagi kalo dikasih bonus tergelincir ke selokan, harus nginep sambil nonton kuntilanak hutan ngeceng pun tak bisa aku hindari. Lebih parah lagi, minggu-minggu terakhir ini banyak kendaraan 4WD yang masuk bengkel. Sehingga aku harus ikhlas menguatkan hati untuk offroad bermodal kijang. Pas dengan callsign di radio, "kijang satu, kijang dua kejang-kejang..."

Hambatan kedua, tenaga bantuan skill IT yang aku dapat dari Jakarta hanya untuk programmer dan analis. Untuk networking dan IT support di lapangan menggunakan tenaga lokal yang hanya bisa bantu optimal di pekerjaan instalasi saja. Setting-setting perangkat tetap saja harus turun tangan sendiri. Akibatnya harus mondar mandir ke masing-masing site setiap kali ada masalah saat sinkronisasi perangkat. Menugaskan helper untuk setting client lebih banyak menimbulkan masalah baru daripada menyelesaikan masalah.

Lebih susahnya lagi, sinyal hape di site susah banget sehingga kesulitan untuk membimbing mereka lewat telpon. Nebeng radio tambang juga susah, karena repeater selalu sibuk dan susah untuk dipinjam jalurnya terlalu lama. Baru ngomong sebentar, sudah ada sopir dump truck yang teriak-teriak susah diatur. Bagaimana bisa menang, cuma modal HT ditubruk pakai RIG. Yang ada malah jadi ngedumel di radio. "Kutu satu, kutu kupret memanggil..."

Melihat kondisi lapangan seperti ini, aku jadi kurang optimis bisa mengejar target waktu. Teman-teman bagian software sudah aku minta bersabar sampai server siap. Toh mereka chatting seharian juga ga akan ada yang negur. Bilang saja lagi coding. Aku rada kasihan ke pasukan di lapangan yang selalu nanya, bisa engga masuk bulan puasa tanpa berpanas-panas di tambang. Aku cuma bisa menjawab pendek.

"Ada berita baik dan buruk, mau tahu yang mana dulu..?"
"Kabar buruknya dulu deh..."
"Buruknya, sampai saat ini kita belum punya kabar baik..."

Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan...

Read More

30 Juli 2011

Bau Mudik

Puasa saja baru mau akan menjelang. Orang sudah mulai hiruk pikuk mempersiapkan lebaran. Tak terkecuali pekerja tambang yang banyak perantau dari Jawanya. Kasak kusuk dengan HRD agar bisa menggeser cuti disambung libur lebaran, tanya THR, cari tiket dan segala yang berbau mudik. Soal keseharian disini yang tak pernah dengar yang namanya adzan kayaknya tidak terpengaruh. Persis iklan minuman pokoknya. Apapun keyakinannya, yang penting lebaran harus pulang kampung...

Mudik lebaran memang bukan lagi soal lebaran apalagi puasa. Tak bisa lagi mengatakan mudik itu berkaitan dengan ibadah walau alasannya demi idul fitri. Bagaimana mungkin kita bisa merayakan kemenangan, bila saat mudik saja kita tak merasa salah makan minum di pinggir jalan siang hari. Apanya yang menang kalo dah begitu..?

Sepertinya mudik lebih lekat dengan budaya Jawa yang berprinsip, makan ga makan asal kumpul. Sehingga menjadi semacam keharusan kumpul keluarga saat lebaran. Yang bikin parah adalah mitos bahwa pemudik adalah orang yang sukses di rantau. Makanya saat pulang kampung, kita harus keliatan ngejreng, baju bagus, hape bagus dan sebagainya. Tak peduli di kota jadi gelandangan, pokoknya waktu mudik bisa bagi-bagi ke sanak saudara. Saat mau berangkat lagi, mulai deh tawarin hape kesana kemari atau nodong ke ortu minta ongkos buat balik.

Tak terlalu salah bila dikatakan orang Jawa perantau lebih sulit untuk sukses dibidang ekonomi. Mereka berbeda dengan suku lain yang tak pernah mikirin lebaran harus pulang. Padahal filosofinya sama, perantau itu harus sukses. Disini banyak teman dari suku lain yang bertahun-tahun tidak mau pulang kampung karena merasa belum berhasil. Kalo orang Jawa, sukses apa engga ga terlalu peduli. Yang penting lebaran bisa pulang dan kelihatan gaya saat kumpul keluarga. Makanya ada satu pemeo di kalangan perantau Jawa yang mengatakan, kerja setahun penuh duitnya habis saat mudik.

Aku tak ikut ribut cari tiket, karena karyawan penempatan dari Jakarta memang diurus kantor segala sesuatunya. Semoga saja sih orang HRD sigap dan tak ada yang tidak kebagian tiket saat mudik nanti. Aku cuma bolak balik ingetin kalo tiketku ke Jogja. Soalnya mereka kadang teledor kasih aku tiket ke Jakarta. Bisa kacaw tar dari Jakarta ke Jogjanya.

Bias ritual tahunan itu memang tidak bisa digeneralisir. Namun secara umum aku pikir begitu, termasuk ibue Citra. Tiap nelpon yang dibicarakan hanya mudik lebaran dan aku pulang kampung. Siapa yang ga empot-empotan hati, lama ga ketemu ditelpon bilang gini.

"Tar kalo mudik lebaran, kita coba posisi baru yuk? Kan ada mbahnya yang ngasuh Citra. Jadi agak bebas gituh.."
"Siyaaaap...!!! Emang ibu pengen posisi yang kayak gimana..??"
"Ibu selonjoran sambil nonton TV. Ayah yang nyuci ama nyetrika...!"
"Hmmmm @@#$%^&*...."
Read More

28 Juli 2011

Tidak Mandi

Setelah beberapa hari berkubang di lapangan, balik ke mess niatnya mau puas-puasin mandi. Eh, nyampe mess kran air dah mampet lagi. Struktur tanah disini memang lumayan menyebalkan untuk urusan pengairan. Bukannya tidak ada air. Bagaimanapun juga Kalimantan adalah bumi berair. Masalahnya ada di filter pompa yang selalu mampet oleh lumpur. Berkali-kali bor ulang menambah kedalaman pipa air, tetap saja mampet.

Suplai air menggunakan truk tangki tak pernah mencukupi untuk semua kebutuhan, walaupun bolak-balik kirim air tiada henti. Air yang diambil pun air sungai yang tidak bisa dijelaskan secara teknis tingkat kebersihannya. Sudah gitu, perilaku sebagian penghuni susah sekali ditertibkan. Kran seringkali dibiarkan terbuka sampai luber kemana-mana.

Mandi di kubangan atau sungai bisa menjadi alternatif. Namun tak boleh kita asal nyebur tanpa survai sebelumnya. Minimal nanya ke penduduk sekitar tentang keadaan sungai tersebut. Dalam atau tidak, banyak biawak apa tidak, itu memang tempat mandi atau khusus beol. Tak boleh lupa menanyakan disitu banyak cewek mandi apa engga. Kali aja mau sambil menyelam ngintip cewek mandi.

Bertanya ke penduduk setempat juga harus detil interogasinya. Pertanyaan sepotong-sepotong juga akan dapat jawaban setengah-setengah. Jangan sampai kita langsung nyebur walau orang situ sudah bilang disitu tidak ada ularnya. Perlu dikejar lagi kenapa tidak ada ular. Jangan-jangan semua ular menyingkir karena takut disantap buaya-buaya penghuni sungai itu...

Kembali ke kamar mandi mess
Masalahnya tak cuma soal kran. Ada sebagian orang yang belum bisa merubah kebiasaan mandi. Sudah tahu air harus dihemat, masih saja banyak yang mandinya gebyar gebyur tak cukup air satu bak. Sial bagi yang dapat nomor urut terakhir. Sudah kelamaan nunggu, tapi ga kebagian air. Suka heran juga dengan teman yang mandinya ga cukup setengah jam. Ngapain aja berlama-lama di kamar mandi.

Soalnya teman-teman satu mess katanya cowok tulen. Kalo cewek sih aku bisa mengerti, karena memang banyak lekak-lekuk yang harus dibersihkan. Cewek kan beda dengan cowok yang katanya selalu mengedepankan pikiran. Kalo cewek, karena perasaan sering diposisikan dominan, untuk urusan mandi pun wajar bila dirasakan segala sensasinya. Tak bisa panjangnya waktu cewek di kamar mandi itu dikatakan sebagai kelemotan.

Di banyak hal aku sudah merasakan hal itu
Seperti jaman nembak cewek dulu
Cuma ditanya, mau ga jadi pacar aku
Mau jawab saja harus pakai banyak acara

Mau... enggak... mau... enggak... mau...

Sambil ngitung rambut...
*jambak...
Read More

27 Juli 2011

Ibu dan Anak

Secara umum, kedekatan ibu dengan anak tak bisa disangsikan lagi. Sedekat apapun seorang bapak dengan anak, jarang yang bisa memberikan perhatian melebihi kasih sayang seorang ibu. Namun ini bukanlah sebuah kesalahan, karena secara naluriah manusia memang diciptakan seperti itu. Sejak jaman purba dimana kehidupan masih berjalan secara nomaden, tugas utama bapak adalah berburu untuk makan keluarga. Sedangkan tugas ibu adalah menjaga rumah dan anak-anak dari gangguan serangga atau binatang liar yang nyamperin ke rumah. Mungkin itu sebab kenapa laki-laki cenderung menyerang (ofensif) dan perempuan cenderung bertahan (defensif). Tapi bukan berarti bahwa perempuan itu lebih lemah dari laki-laki. Karena survai membuktikan, belum pernah aku dengar perempuan minum obat kuat...

Begitu lekatnya anak dengan ibu, sampai-sampai banyak hal yang berkaitan dengan anak selalu digandengkan dengan ibu. Layanan kesehatan saja menyediakan rumah sakit khusus ibu dan anak, namun tak ada rumah sakit khusus bapak. Di dunia maya, yang pernah aku rasakan saat aku pasang headshot atau foto profil anak-anak. Banyak orang yang belum kenal memanggilku mbak, teh, bu atau bun. Sampai aku tanya, bun apaan..? Penggemar sabun maksudnya..?

Pemahaman tentang kedekatan ini kadang disalahartikan oleh sebagian suami yang kebetulan bisa bersama keluarga sehari-hari. Beberapa teman pernah cerita, kalo suaminya jarang mau bantu-bantu mengurus anak. Aku sendiri tak tahu kenapa cape seharian bekerja digunakan sebagai dalih. Padahal istri pun pasti lelah setelah seharian ngurus anak dan rumah. Memang pekerjaan perempuan itu tidak pernah tampak bekasnya, namun aku bisa mengerti bila capenya bisa melebihi pekerjaan laki-laki. Makanya aku tak ingin melepaskan istri sendirian. Gantian bertugas sebenarnya cukup indah juga dijalani. Aku tak boleh malas mengganti celana Citra saat pipis. Orang saat aku kepingin "pipis" saja, ibue juga suka ngebukain celanaku...

Indahnya kebersamaan mengurus anak, itu yang kadang membuatku sedih saat harus kerja jauh seperti ini. Mau tidak mau aku harus kagum dengan ketegaran ibue Citra menyelesaikan semua kewajibannya tanpa bantuanku. Kalo ditanya apa pandanganku tentang ibue Citra, bisa panjang banget ceritanya. Padahal aku di mata ibue cukup sederhana. ABCD, katanya.

"Apaan ABCD..?"
"Asik, Baik, Cute & D'bestlah..."
"Segitu doang..?"
"EFGH juga..."
"Apalagi tuh..?"
"Elegant, Famous, Good person & Hebat banget pokoknya..."
"Trus apa lagi...?"
"IJKL, yah..."
"Maksudnya..?"
"I'm Just Kidding Lho..."

 
Read More

Berkubang

Tiap pulang cuti, ibue Citra suka komplen. Katanya kerja di tambang yang terjamin akomodasi, tapi malah tambah kurus dan dekil.

Kalo di mess memang iya. Makan 3 kali boleh nambah sekuatnya perut. Tidur di kamar berAC yang adem asal genset tidak lagi ngadat. Nyuci ga perlu mikirin, tinggal taruh di keranjang besoknya sudah tersetrika rapi. Mandi juga bebas selama kran tidak mampet karena filter pompanya tersumbat lumpur gambut.

Sayangnya aku tuh tidak kerja di mess. Melainkan harus ke lapangan yang panas berdebu saat kemarau dan penuh lumpur saat hujan. Saat di lapangan itulah, kadang aku tak bisa kembali ke mess. Baik karena kerjaan belum beres atau kendaraan sarana terhambat medan tidak bisa jemput.

Waktu ga bisa pulang itu, kalo makan sih ga bingung karena dikirim nasi bungkus. Yang agak susah tuh soal mandi dan buang air. Kehidupanku hanya tertumpu pada kubangan atau bekas galian alat berat.

Bagaimana aku tidak dekil bila cuci muka saja di genangan bekas minum babi hutan. Makanya suka mangkel kalo ada teman habis buang air trus ceboknya dengan cara mencelupkan pantatnya ke air.

Paling seneng itu kalo nemu sungai berair jernih. Bisa puas-puasin mandi disitu biarpun ga bisa nyabun. Yang penting tau tata caranya biar tidak terjadi masalah apa-apa. Berdoa itu wajib, minimal permisi dulu pada penghuni hutan. Saat masuk air bebas saja ga harus sambil menghadap kiblat. Tapi selama mandi kita harus menghadap ke batu tempat kita menaruh baju.

Bukan soal kualat atau apa
Takut pas mandi bajunya ilang aja
Tar dikira monyet aneh buntutnya didepan...

Mobile Post via XPeria

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena