Masuk bulan puasa seperti ini, yang super sibuk adalah ibu-ibu dapur. Boleh dibilang mereka harus kerja 24 jam karena ketambahan masak buat sahur, sementara masak untuk pagi dan siang bagi yang ga puasa jalan terus. Di hari-hari biasa pun mereka baru bisa istirahat setelah beres-beres makan malam dan mulai sibuk lagi menjelang subuh menyiapkan sarapan. Itu kalo tidak ada karyawan yang rewel dan suka teriak-teriak bikin ini bikin itu sampai tengah malam.
Mereka semakin repot karena ada segelintir karyawan yang merasa punya jabatan dan menginginkan sesuatu yang ekslusif. Menu dibedakan dan makan pun diantar ke kamar. Alasan ruang makan sempit dan agak kumuh mungkin sebuah alasan yang bisa diterima. Namun masalah itu tak juga diatasi, itu yang membuatku susah untuk mengerti. Padahal dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka bisa bikin apa saja. Perbaiki fasilitasnya sesuai standar dia apa salahnya. Jangan malah ngungsi ke kamar tiap makan.
Ibu dapur yang tugas sebenarnya hanya urus makan itu pun seringkali direcoki dengan kerjaan lain seperti nyuci baju karyawan. Payahnya banyak karyawan yang ga tahu diri. Awalnya mesin cuci dekat dapur disediakan untuk karyawan yang mau nyuci baju sendiri alias tidak ke laundry. Karena aku tiap habis ke kota suka bawain jajan buat ibu-ibu dapur, tiap bulanpun aku berusaha berbagi dengan mereka barang 200 apa 300 ribu buat rame-rame, mereka melarang aku nyuci sendiri. Melihat aku dan beberapa teman yang suka berbagi, cuciannya dicucikan, lama-lama yang lain ga mau nyuci sendiri. Pakaian kotor main taruh saja diatas mesin cuci.
Mungkin ribet dengan dapur yang jadi penuh pakaian kotor, mereka mengalah nyuciin walau kelihatan ala kadarnya. Sudah begitupun, teman-teman masih banyak yang ga nyadar juga. Melihat pakaianku selalu disetrika, tega-teganya komplen ke ibu dapur, kenapa pakaian mereka hanya dilipat doang. Kadang aku ingetin temen untuk ngasih sedikit uang lelah, malah ada yang mencemooh. Katanya mereka kan sudah digaji, ngapain dikasih lagi..?
Dari semua kerepotan ibu dapur, jadi muncul pertanyaan yang mungkin sedikit rasialis. Kenapa orang-orang semacam itu, yang punya jabatan, yang gajinya gede, malah jarang yang mau berbagi dengan mereka. Aku yang gajinya pas-pasan juga ga pernah merasa kecopetan, kasih sekedar uang lelah ke mereka. Karena aku ngerti, kelebihan waktu kerja mereka ga bakal dibayar lembur. Kenapa harus kebanyakan nuntut, seperti ga bisa ngotak kalo manusia butuh waktu untuk istirahat. Manusiawi sedikit apa susahnya sih. Ga mungkin orang kerja all out bila gajinya all in mepet UMR.
Mungkin benar kata pepatah, No gain without pain.
Artinya kira-kira, ga dapat duit kalo ga sakit.
Emang kuda lumping..?
Dah ah...
Siang-siang misuh-misuh...
Mereka semakin repot karena ada segelintir karyawan yang merasa punya jabatan dan menginginkan sesuatu yang ekslusif. Menu dibedakan dan makan pun diantar ke kamar. Alasan ruang makan sempit dan agak kumuh mungkin sebuah alasan yang bisa diterima. Namun masalah itu tak juga diatasi, itu yang membuatku susah untuk mengerti. Padahal dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka bisa bikin apa saja. Perbaiki fasilitasnya sesuai standar dia apa salahnya. Jangan malah ngungsi ke kamar tiap makan.
Ibu dapur yang tugas sebenarnya hanya urus makan itu pun seringkali direcoki dengan kerjaan lain seperti nyuci baju karyawan. Payahnya banyak karyawan yang ga tahu diri. Awalnya mesin cuci dekat dapur disediakan untuk karyawan yang mau nyuci baju sendiri alias tidak ke laundry. Karena aku tiap habis ke kota suka bawain jajan buat ibu-ibu dapur, tiap bulanpun aku berusaha berbagi dengan mereka barang 200 apa 300 ribu buat rame-rame, mereka melarang aku nyuci sendiri. Melihat aku dan beberapa teman yang suka berbagi, cuciannya dicucikan, lama-lama yang lain ga mau nyuci sendiri. Pakaian kotor main taruh saja diatas mesin cuci.
Mungkin ribet dengan dapur yang jadi penuh pakaian kotor, mereka mengalah nyuciin walau kelihatan ala kadarnya. Sudah begitupun, teman-teman masih banyak yang ga nyadar juga. Melihat pakaianku selalu disetrika, tega-teganya komplen ke ibu dapur, kenapa pakaian mereka hanya dilipat doang. Kadang aku ingetin temen untuk ngasih sedikit uang lelah, malah ada yang mencemooh. Katanya mereka kan sudah digaji, ngapain dikasih lagi..?
Dari semua kerepotan ibu dapur, jadi muncul pertanyaan yang mungkin sedikit rasialis. Kenapa orang-orang semacam itu, yang punya jabatan, yang gajinya gede, malah jarang yang mau berbagi dengan mereka. Aku yang gajinya pas-pasan juga ga pernah merasa kecopetan, kasih sekedar uang lelah ke mereka. Karena aku ngerti, kelebihan waktu kerja mereka ga bakal dibayar lembur. Kenapa harus kebanyakan nuntut, seperti ga bisa ngotak kalo manusia butuh waktu untuk istirahat. Manusiawi sedikit apa susahnya sih. Ga mungkin orang kerja all out bila gajinya all in mepet UMR.
Mungkin benar kata pepatah, No gain without pain.
Artinya kira-kira, ga dapat duit kalo ga sakit.
Emang kuda lumping..?
Dah ah...
Siang-siang misuh-misuh...














