12 November 2010

Light On

Di tengah bencana debu vulkanik begini, bukan cuma kesadaran penggunaan masker yang kurang di kalangan warga. Anjuran untuk menyalakan lampu kendaraan juga banyak yang tidak mengindahkan. Tidak hanya warga, relawan atau petugas pun masih banyak yang ndablek. Yang paling rajin mungkin kendaraan patwal yang membuka jalan untuk para pejabat yang wisata bencana. Tak cuma lampu depan berikut lampu rotator, sirenenya pun selalu dibunyikan seolah-olah sedang dalam perjalanan gawat darurat.

Untuk daerah Magelang, korban jiwa atau luka langsung akibat erupsi Merapi boleh dikatakan sedikit sekali. Tapi korban kecelakaan lalu lintas lumayan banyak. Relawan di poskoku saja sudah ada 4 orang yang terluka akibat jatuh dari motor atau tubrukan di jalanan.

Jalan berpasir yang licin dan jarak pandang minim membuat kita sulit memprediksi keadaan didepan. Aku saja sering kaget ketika tahu-tahu ada kendaraan berhenti di depan mata. Mengerem mendadak pun penuh resiko. Bisa tertubruk kendaraan di belakang kita atau ban tergelincir karena roda terkunci rem.

Di perkampungan, pandangan memang lumayan leluasa. Apalagi sudah dua hari ini cuaca cerah dan tidak turun hujan. Tapi jangan tanya di jalan utama Jogja Magelang. Jarak pandang seringkali kurang dari 5 meter. Sudah begitupun, masih banyak yang maksa ngebut dan salip kanan kiri, terutama pengendara sepeda motor.

Diingatkan agar pelan-pelanpun kadang susah. Dengan dalih terburu-buru atau emergensi, mereka merasa memiliki pembenaran untuk memacu kendaraannya lebih cepat. Entah mana yang harus mengalah, karena masing-masing selalu menganggap dirinya benar dengan misinya masing-masing.

Semoga kita segera sadar dan bisa menahan diri. Karena prinsipnya, sebelum menyelamatkan orang lain, amankan dulu diri sendiri. Dan itu bukan egois, melainkan kode etik rescue...

Mobile Post via XPeria

Read More

11 November 2010

Bersyukurlah Citra

Mendrop logistik di TPS Dukuh, aku mendengar tangisan bayi di sudut ruangan kotor berdebu, sebuah masjid yang belum selesai dibangun. Bayi kumal berusia 4 bulan yang tangisnya sering terpotong batuk-batuk itu tergeletak di selembar kardus ditunggui oleh ibu dan neneknya. Menurut ibunya, dia rewel karena semenjak di pengungsian ASI nya tidak lancar. Bantuan MPASI pun tak selalu didapat, sehingga lebih sering disuapin nasi jatah pengungsi yang diencerkan dengan air.

Kelangkaan air bersih dan MCK yang mengandalkan selokan kecil di belakang TPS membuat semua pengungsi kesulitan untuk bisa mempertahankan kebersihan. Memang ada toilet bantuan sederhana yang hampir selesai dibangun, tapi instalasi air bersihnya belum ada kepastian kapan bisa ada. Listrik PLN belum menyala sedangkan jumlah pengungsi yang hanya sekitar 50 jiwa tak mungkin bisa berharap dapat bantuan genset.

Tiba-tiba aku ingat Citra. Aku gendong bayi itu dan entah kenapa tangisnya berhenti. Dia bahkan tertawa-tawa ketika aku mengajaknya ngobrol. Cukup lama aku bermain-main dengannya sampai aku merasa sedih ketika harus menyerahkannya kembali ke ibunya, saat aku harus ke lokasi berikutnya.

Kepanikan massa saat evakuasi mendadak tanpa komando membuat masyarakat tak bisa berpikir panjang. Yang mereka tahu hanya menyelamatkan diri dan mencari tumpangan apa saja yang bisa menjauhkan mereka dari bencana. Hasilnya banyak keluarga yang tercerai berai karena kendaraan yang mereka tumpangi juga tak punya tujuan pasti. Mereka yang asal pergi itu semua dilanda kebingungan sampai ada warga berbaik hati menawarkan tempat berlindung entah itu di perumahan, masjid, sekolah atau apa saja asal bisa berteduh.

Tak heran bila bayi itu hanya bisa bareng ibu dan neneknya saja. Bapak dan kakaknya entah berlindung dimana. Apalagi dari hasil penelusuran relawan, pengungsi dari kecamatan Dukun ternyata tidak hanya tersebar di Magelang saja. Banyak yang lari jauh sampai ke Purworejo dan Kulonprogo. Satu persatu mulai bisa dipersatukan walau tak bisa cepat karena keterbatasan kemampuan relawan. Pemda yang seharusnya bisa koordinasi antar wilayah tak begitu jelas kiprahnya apa. Mungkin kerinduan si bayi ke bapaknya itu yang membuatnya tertawa ketika aku gendong.

Dan kembali ke Citra...
Bersyukurlah, nak. Walau Jogja juga masuk kawasan waspada bencana, tapi kamu masih bisa mendapatkan ASI melimpah dan pakaian yang bersih. Tidurpun masih bisa di kasur empuk di kamar ber AC bebas dari serbuan debu vulkanik.

Bersabarlah, nak. Nasibmu masih lebih baik dibanding teman-temanmu di pengungsian. Buat ayah bangga seperti ayah membanggakan ibumu yang tak pernah mengeluh harus menjagamu siang dan malam sendirian sementara ayah pergi. Sungguh aku bahagia memiliki kalian, pahlawan hatiku...

Walau terpisah jauh karena ayah harus jadi relawan, tapi minimal beberapa hari sekali kita masih bisa bercanda saat ayah pulang untuk setor buntut....

Lapyupul sayangku...

Mobile Post via XPeria

Read More

10 November 2010

Relawan Juga Pengungsi

Dua orang polisi yang diperbantukan menangani bencana Merapi sempat curhat ketika bertemu di lapangan. Mereka sedikit mengeluh tentang gudang yang kecamatan penuh logistik, tapi untuk minum saja mereka kesulitan. Kunci gudang dipegang pejabat yang tak selalu ada di tempat. Untuk petugas lokal mungkin tak terlalu bermasalah. Tapi untuk yang dari luar daerah tentu bikin pusing juga.

Bukan masalah menyalahgunakan barang sumbangan untuk kepentingan pribadi, tapi bagaimanapun juga, petugas dan relawan adalah pengungsi juga. Mereka meninggalkan rumah sampai berhari-hari menuju daerah bencana. Wajar bila mereka ikut memanfaatkan sedikit makanan atau minuman yang ada di gudang. Apalagi di lapangan setiap waktu diterpa hujan air campur lumpur. Padahal kondisi tidak memungkinkan untuk mencuci baju. Salahkah bila mengambil satu dua kaos bantuan untuk ganti..?

Mendengar cerita aparat itu, rasa mangkelku ke pejabat berwenang penanggulangan bencana makin menjadi. Berarti pelitnya mereka menimbun logistik bukan cuma ke pengungsi, tapi ke petugas negara garis depan juga. Pantas saja bila pengungsi lebih suka mengeluh ke posko relawan swasta.

Sampe bosen rasanya mendengar keluhan pengungsi tentang sulitnya birokrasi minta bantuan ke posko pemerintah. Jangankan meminta, kita mau menyuplai bantuan ke TPS yang dikelola pemerintah saja tidak boleh langsung ke pengungsi. Harus masuk gudang kelurahan atau kecamatan terlebih dulu. Sampai-sampai relawan Jalin Merapi membuat slogan sebagai relawan anti birokrat.

Kapan pemerintah kita mau memulai untuk memupuk kepercayaan dari rakyat. Bila nyatanya mereka lebih suka mengucurkan dana lebih besar untuk menyambut barack obama daripada memperbaiki kelayakan barak pengungsian..?

Mbuhlah...
Yang jelas relawan juga sama dengan pengungsi. Sama-sama kekurangan akomodasi di tengah bencana. Tapi walaupun begitu, aku tetap ga tega pake kancut sumbangan walaupun berstatus layak pakai...

Mobile Post via XPeria

Read More

Mainan Anak

Setiap berkeliling ke lokasi pengungsian yang tersebar di lereng barat Merapi, perhatianku selalu tertuju ke anak-anak. Sedih juga melihat cara mereka memelihara keceriaan di tengah bencana. Tapi terus terang kreatifitas mereka mencari alat bermain dengan apa yang ada cukup mengagumkan.

Masa anak-anak yang merupakan masa terindah memang tak boleh terganggu oleh apapun. Sayangnya bantuan logistik berupa mainan anak masih teramat kurang. Bila bicara soal sumbangan bencana, otak kita masih saja berkutat di sekitar makanan instan, air minum kemasan dan pakaian layak pakai. Yang menyumbangkan mainan anak masih sangat terbatas.

Memang sudah ada relawan yang fokus di pendampingan anak atas trauma bencana. Namun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Mungkin bisa dipikirkan untuk kedepannya, agar relawan yang bisa menemani anak-anak bermain diperbanyak dan berintegrasi dengan relawan bidang lainnya.

Di beberapa lokasi pengungsian yang sempat aku datangi, beberapa TPS yang dikelola Muhammadiyah mungkin paling baik. Dalam artian di setiap lokasi dukungan logistik dan relawannya lengkap. Tidak hanya relawan medis, relawan pembimbing rohani dan anak-anak ada semua. Tidak terlalu banyak relawan tapi bisa berjalan efektif karena pengungsi juga dilibatkan, seperti dapur umum diserahkan kepada ibu-ibu dan kaum remajanya dikasih tugas di logistik dan mengelola anak-anak.

Sepertinya sudah masanya kita tanamkan jiwa sosial kepada anak-anak kita untuk bisa menyumbangkan sebagian mainan kesayangannya untuk teman-teman mereka di pengungsian. Bagaimanapun anak-anak harus tetap ceria apapun kondisinya. Ayo kita sumbangkan mainan anak layak pakai untuk mereka.

Kalo untuk aku sih, yang mendesak kayaknya perempuan layak pakai. Biar ada yang ngadem-ademin otak kalo dah pada ribut di lapangan. Hihihi...

Mobile Post via XPeria

Read More

Dilarang Mandi

Salah satu pertanyaan rutin istri setiap nelpon atau sms selain sudah makan adalah sudah mandi apa belum. Istriku memang paling mengerti kalo aku orangnya "resikan" kecuali kepepet. Dan istriku juga paling tahu kalo aku juga hobi mepet kalo memang tidak ada kesempatan untuk kepepet.

Padahal di posko pengungsian, air bersih merupakan barang langka. Sehingga mandi adalah salah satu pemborosan yang sedikit diharamkan. Malah kalo boleh dihitung, stok air minum kemasan di gudang logistik lebih melimpah daripada di bak mandi.

Apalagi setelah satu-satunya genset di posko semalem rusak dan entah kapan dapat bantuan genset pengganti. Mau beol saja harus masuk ke logistik untuk minta air kemasan gelas. Kalo pipis malah dianjurkan pindah ke pojok lapangan di bawah pohon pisang. Yang maksa mau cebok, silakan tayamum dengan debu vulkanik yang bertebaran.

Bagaimanapun juga, kita harus mementingkan pengungsi daripada kepentingan pribadi. Maksa mandi sementara pengungsi kekurangan air juga termasuk sebuah kekejaman. Katanya orang baik adalah yang enak paling akhir tapi susah paling awal. Emangnya pak beye yang ngakunya ingin menghayati penderitaan rakyatnya, tapi cuma dikiaskan dengan mencicipi sesendok nasi bungkus. Ga perlu basa-basi deh, pak. Yang penting birokrasi penanganan pengungsi saja dipangkas, itu yang kayaknya lebih berarti buat kami.

Salam wedus...

Mobile Post via XPeria

Read More

Detik Detik Serbuan Awan Panas

Awan panas menerpa Pakem Sleman DIY tanggal 1 November 2010 sekitar pukul 10:00 WIB. Mohon maaf kalo videonya goyang dombret di bagian akhirnya karena diambil dari bak belakang pick up sambil kabur diuber wedus gembel. Semoga bisa diambil hikmahnya. Minimal untuk para relawan nekat ini...

Read More

09 November 2010

Relawan vs Birokrat

Membaca komentar bu dokter (srhida.multiply.com) tentang lebih percayanya beliau ke website swasta merapi.combine.or.id untuk info Merapi daripada website pemerintah, aku jadi ingat kenyataan di lapangan bahwa masyarakat pun lebih percaya ke relawan daripada aparat. Ini bisa dimaklumi melihat kenyataan di daerah terpencil seperti kec. Dukun dimana relawan non gajian sudah bisa mensurvai ke pelosok daerah sejak awal bencana. Sementara dari pemda baru sampai ke TPS seminggu setelah bencana.

TPS Gontor di km 10 dari puncak, lewat 2 minggu masa bencana, katanya baru sekali didrop bantuan oleh petugas negara yang notabene punya segalanya. Padahal relawan Jaring Merapi sudah bolak-balik masuk kesana menerobos medan yang lumayan berat dengan sarana seadanya. Aku sendiri heran kenapa pemerintah begitu sibuk berteriak-teriak untuk evakuasi kota Muntilan yang jaraknya 19 km dari puncak, sementara di km 8 masih ada banyak nyawa manusia dengan pelindungan apa adanya.

Sempat merasa aneh juga ketika Polsek Dukun tahu-tahu ditutup dan dievakuasi ke bawah sementara masyarakat masih dilanda kebingungan. Justru pasukan relawan lah yang keliling kampung menenangkan masyarakat. Termasuk ketika awan panas meluncur ke arah barat. Masyarakat panik saling berebutan turun gunung, saling memacu kendaraan di jalanan licin, tidak ada satupun aparat keamanan mengatur lalu lintas yang kacau. Lagi-lagi pasukan relawan yang berperan menenangkan masyarakat agar tidak terjadi bencana tambahan dalam bentuk kecelakaan lalu lintas.

Mungkin saja para pejabat bisa berkilah, jumlah personil negara tak sebanyak relawan. Omong kosong pejabat busuk..! Kalo memang kekurangan orang, kenapa tidak merangkul relawan dan potensi lokal yang ada. Aku pikir dana negara yang tak terbatas digabungkan dengan pasukan sukarela yang ada adalah sinergi terbaik dalam masalah ini. Tapi kenyataan di lapangan, relawan jarang mau berurusan dengan posko bencana pemerintah.

Sudah jelas banyak balita kekurangan makanan dan pakaian di pelosok, ketika kita coba masuk ke posko pemerintah menawarkan tenaga untuk menyuplai bantuan malah diminta data pengungsi plus surat pengantar dari kepala desa. Kecurigaan pemerintah takut bantuan diselewengkan relawan melebihi kepentingan menyelamatkan warganegara yang selalu setia membayar pajak. Apakah para pejabat lebih suka menimbun bantuan untuk dibagi-bagi sebagai uang saku setelah bencana berakhir dibanding menyelamatkan lebih banyak jiwa rakyatnya..? Wedussss...!!!

Di jalanan Muntilan begitu banyak tentara mengeruk debu yang membalut aspal agar tidak licin. Tapi silakan dilihat, banyakan mana yang pegang pacul dengan yang berdiri mengatur lalu lintas atau sekedar merokok sambil ngobrol. Kenapa para pemakan gaji buta itu tidak ditugaskan turun ke TPS terpencil saja. Toh kayaknya mereka lebih terlatih menghadapi medan berat dibanding aku dan teman-teman.

Terus terang aku mangkel dengan para pejabat pusat yang sliwar sliwer ke pengungsian, tapi cuma yang aksesnya mudah saja. Mau nengok pengungsi saja harus pakai forwarder yang menyuruh pengguna jalan untuk minggir seolah rakyat tidak punya kepentingan lebih besar dari mereka. Ngapain pura pura soksial kalo hanya untuk pamer arogansi di jalanan. Pak beye ga perlu lah keluyuran ke Merapi. Itung sendiri saja kalo memang mengaku cerdas, berapa biaya yang dihabiskan untuk wisata bencana pejabat. Lebih bermanfaat mana bila dibandingkan dengan dana itu dikucurkan kepada pengungsi agar bisa memperoleh akomodasi yang lebih layak.

Pikirkanlah bapak ibu yang berwenang. Perlukah kami tetap diwajibkan mengajukan proposal dengan keribetan birokrasi hanya untuk minta selimut dan makanan bayi? Tidak bisakah anak-anak kami yang kedinginan bisa segera dibantu tanpa harus minta tanda tangan kesana kemari?

Makin skeptis saja dengan pengelola negeri ini...

Mobile Post via XPeria

Read More

08 November 2010

Mendadak Misyu

Jalan-jalan ke lokasi pengungsian, yang paling menarik perhatianku adalah anak-anak dan balita. Setiap kali tiba di satu TPS, ketika teman-teman sibuk menurunkan barang bantuan, aku justru lebih suka nyamperin anak-anak dan mengajak mereka bermain. Ada rasa tak rela bila bencana ini sampai merampas keceriaan mereka yang sebenarnya belum boleh tahu bahwa hidup ini sesungguhnya getir.

Seharian nyupir di jalanan berkelak-kelok super licin dan tak jarang berubah menjadi medan berat ketika diguyur hujan lumpur, seketika lenyap letih lelahku ketika aku bersama anak-anak pengungsian. Seringkali terasa berat buatku ketika teman-teman sudah berteriak, "pak supir, ayo cabuuut..."

Setelah kembali ke posko dan duduk menyendiri di teras depan sambil menatap gerimis kecil bercampur abu, tiba-tiba aku teringat Citra di rumah. Hampir sebulan aku tinggalkan dia ke Jakarta dalam kondisi waspada bencana, ketika aku pulang ke Jogja, aku hanya semalam bersama Citra. Itupun terbagi waktunya dengan ibunya. Besoknya aku sudah ngabur ke posko Merapi untuk bergabung dengan relawan lain.

Senyum Citra dan kemanjaannya ketika aku pulang kemarin, mungkin merupakan pengungkapan rasa rindunya sekian lama aku tinggal ke Jakarta. Kenapa kemarin aku tak banyak memikirkan itu dan baru saat ini terasakan bahwa aku juga rindu anakku. Apalagi setelah seharian banyak bermain dengan anak-anak di pengungsian. Rasa kangen itu terasa menyesakan juga.

Sabar ya, nak. Nanti ayah sempatkan agak lama di rumah. Rasa ini mungkin tak cuma milikku. Setiap orang tua kayaknya akan merasakan yang sama. Jadi wajar kalo melihat anak-anak akan langsung teringat ke anak semata wayangnya.

Cuma satu yang bikin bingung. Kenapa kalo aku melihat cewek cakep ga inget ibunya ya..? Hahaha biadab..

Siaran langsung dibawah gerimis Posko Jalin Merapi 1 Muntilan.

Mobile Post via XPeria

Read More

Mereka Bukan Korban

Beberapa suara tak sedap aku dengar ketika Merapi menelan korban. Banyak teman kita yang seolah menyalahkan mengapa ada pengungsi harus kembali ke desanya ketika kondisi masih belum menentu.

Aku pikir mereka tak sepenuhnya salah. Seharusnya kita bisa berpikir bahwa tak semua pengungsi bisa kita anggap korban sebagaimana di Mentawai. Disana kondisinya teramat parah sehingga pengungsi tak lagi memiliki apapun untuk hidup lebih baik. Di Merapi, lebih banyak pengungsi yang pergi dari desanya hanya untuk menghindari bahaya, sementara mereka masih punya segalanya.

Pengungsi jenis ini aku kira yang terbanyak di Merapi. Bagaimana mungkin mereka bisa tenang di pengungsian sementara harta benda dan ternak mereka masih ada di desa. Lagipula untuk masyarakat pedesaan yang tak betah nganggur pasti akan jenuh ketika mereka tak punya kegiatan di pengungsian.

Alangkah baiknya bila penanganan mereka mencontoh pada apa yang sering dilakukan kepada anak-anak. Diberi mainan dan diajak bermain untuk mengurangi trauma atas bencana. Tak ada salahnya bila mereka tak lagi diberi ransum siap makan. Dapur umum disiapkan tapi pelaksanaannya diserahkan kepada pengungsi perempuan secara bergiliran agar mereka punya kegiatan.

Pengungsi laki-laki pun bisa diberi kegiatan kerja bakti atau diikutsertakan bersama relawan menjaga desanya secara terjadwal sehingga mereka tidak pergi sendiri-sendiri yang pada akhirnya sulit untuk menjaga keselamatannya.

Mungkin itu terkesan kejam. Orang lagi kesusahan kok dikerjain. Tapi itu kan pandangan kita sebagai penonton yang tentunya kasihan dan ingin melayani mereka secara total. Namun kenyataannya mereka suka mengeluh jenuh setiap hari hanya makan tidur sementara ternak mereka telantar.

Untuk tempat pengungsian besar macam stadion Maguwoharjo mungkin itu sulit. Namun aku melihat di beberapa TPS kecil di Magelang cara itu bisa efektif. Para pengungsi kelihatan lebih suka dilibatkan dalam kegiatan relawan. Apalagi dilibatkannya di kegiatan daerahnya sendiri.

Tapi itu sekedar sumbang saran saja. Jangan angap mereka korban semata. Jadikanlah mereka mitra agar penanganan bencana ini bisa lebih terintegrasi. Bagaimanapun juga penduduk lokal lebih mengerti apa yang menjadi kebutuhannya dibanding kita yang notabene adalah pendatang.

Mobile Post via XPeria

Ilustrasi di TPS Gadingsari km 8 dari puncak Merapi

Read More

Bertahan di Jogja

Rencana utama pulang ke Jogja kemarin adalah mengungsikan Citra dan ibunya ke kampung seiring peningkatan wilayah bahaya Merapi menjadi 20 km. Apalagi ibunya Citra bilang gemuruh Merapi terdengar sampai ke rumah.

Tapi setelah melihat situasi di rumah, aku malah berpikir lain. Serbuan debu halus begitu mudah masuk kedalam rumah melalui ventilasi atau celah di bawah pintu. Kondisi yang sama juga terjadi di kampung. Satu-satunya ruangan yang aman untuk berlindung dari debu adalah kamar yang ber AC. Tanpa ventilasi dan apabila ada debu yang maksa masuk bisa dibuang keluar. Hanya saja kegiatan membersihkan filter indoor dan outdoor AC harus dilakukan lebih sering. Sehingga keputusannya adalah tetap bertahan di Jogja demi kesehatan.

Apalagi bila melihat kesiapan tim penanggulangan bencana di Jogja yang luar biasa sigap. Persiapan pasukan dan logistik bisa dikatakan berlebih. Jadinya aku pikir, meninggalkan Citra dan ibunya di Jogja lebih aman termasuk bila bahaya mencapai kota.

Terlalu banyaknya relawan dan cadangan logistik di Jogja pula yang membuatku memilih untuk tidak ikut ngepos di Jogja. Bisa dikatakan setiap relawan dan bantuan datang ditujukan ke Jogja. Termasuk pemberitaan di tipi, sebagian besar porsinya dihabiskan di wilayah Jogja. Tak heran bila di beberapa pos di daerah, kondisinya kadang kurang bagus.

Seperti yang di pos Dukun Muntilan tempat aku bergabung dengan Jalin Merapi. Logistik sebenarnya tidak terlalu kekurangan. Tapi sarana distribusi hanya mengandalkan satu mobil pick up butut. Alternatifnya adalah menggunakan sepeda motor. Padahal jalanan tanah berdebu vulkanik dan berlempung di banyak tempat begitu licin terutama ketika kena air hujan. Vixy ku saja saja sudah mulai ngadat-ngadat kelistrikan dan injeksinya. Filter injeksi dan saklar-saklar sudah penuh debu mungkin.

PLN yang padam dan genset hanya ada satu buah harus dipantheng 24 jam. Alhasil kemarin sore mulai ngadat-ngadat. Sarana komunikasi melalui radio sebenarnya sudah memadai. Ada sebuah pesawat RIG di posko dan beberapa handy talky untuk yang di lapangan. Sayang ada saja orang iseng yang nge jamm frekuensi darurat itu. Syukur setelah tim ORARI dan MetroTV mengadakan hunting fox, gangguan sinyal itu bisa diatasi.

Sarana komunikasi online ada 2 buah letop. Sayang koneksi internet menggunakan modem smart harus puas dengan kecepatan 1X dan tanpa EVDO. Alternatifnya adalah menggunakan jaringan Telkomsel yang tarifnya amit amit jabang bayi. Sudah begitupun, facebook dan website yang digunakan untuk berbagi informasi dihack orang. asru...!!!

Untuk relawan sendiri, kalo cuma urusan makan tidak perlu takut kekurangan, bantuan logistik dalam bentuk makanan banyak banget sampai kadang mubazir karena tidak terdistribusi akibat kurang sarana. Yang perlu dibantu sepertinya untuk bensin dan pulsa. Mengingat segalanya merupakan dana pribadi, kegiatan sudah seminggu lebih mulai membuat mereka mengeluh kantong menipis. Beberapa orang relawan sudah mulai pulang. Dan pagi ini 3 orang dari Bandung juga pamit pulang dengan alasan kehabisan bekal.

Wokedeh, sementara segitu dulu. Aku mau ke bangkel dulu neh meriksain si Vixy sebelum makin parah. Mohon doanya saja, teman. Agar pasukan di lapangan tetap semangat walau sarana serba minim. Buat teman-teman di Jogja, titip Citra yaaa...

 
Read More

07 November 2010

Masker

Masker adalah barang kini naik daun di wilayah Jogja dan sekitarnya seiring peningkatan aktivitas Merapi. Di beberapa apotek Jogja harganya melambung sampai 5000 perak. Padahal di pedagang asongan pinggir jalan bisa dibeli dengan uang 2000 rupiah. Masker gratis yang dibagi-bagikan oleh relawan jumlahnya tak mencukupi. Itupun lebih banyak dibagikan kepada pengungsi, sehingga untuk masyarakat umum tetap harus mencari sendiri.

Namun yang terlihat di Jogja dan sekitarnya, termasuk di daerah bencana yang notabene dibagikan gratis, kesadaran masyarakat untuk mengenakan masker bisa dikatakan kurang. Masih banyak yang lalu lalang di bawah hembusan debu tanpa masker. Apalagi anak-anak muda, ngetan ngulon pakai sepeda motor dengan damainya. Malah tak jarang yang sambil merokok. Peracunan paru-paru dobel pokoknya.

Bicara soal masker, aku malah ingat waktu di kereta kemarin. Mulai masuk Kebumen, debu begitu tebal sampai masuk ke dalam gerbong. Saat itu ada anak kecil mengenakan masker membagi-bagikan amplop bertuliskan tangan minta sumbangan untuk korban Merapi. Aku sebenarnya tak ingin mempermasalahkan peminta-minta cilik itu. Cuma salut saja dengan kecerdasannya mengangkat tema Merapi sebagai alat pemancing belas kasihan penumpang. Hanya sayangnya, kenapa harus membagikan amplop di kereta yang sama dengan ketika dia membagikan amplop bertuliskan minta sumbangan untuk biaya sekolah, ketika kereta berada di sekitar Cirebon. Tanpa mengenakan masker tentunya.

Yang agak heboh mungkin dengan dua orang pengamen banci ewer-ewer di sekitar Kutoarjo. Mereka begitu genit setengah memaksa penumpang memberikan uang. Karena nyanyiannya ga jelas, aku pun berkomentar, "Nyanyi kok nganggo masker. Ra cetho, om.."

Mungkin demi menyenangkan pelanggan, mereka membuka masker dan mulai menyanyi lagi. Belum ada satu menit mangap-mangap dengan semangat 45, debu beterbangan menyerbu dan membuat mereka tersedak. Akhirnya akupun diancam pilih digelitikin sampe Jogja atau bayar 3 kali lipat. Seribu bayar ngamen, seribu hukuman atas saran membuka masker dan seribu perak lagi denda karena aku menyebut mereka om...

Dasar...
Read More

06 November 2010

Kelas Bisnis

Baru kali ini aku naik kereta kelas bisnis. Awalnya aku pikir kondisinya cukup nyaman seperti kelas diatasnya minus pengatur udara saja. Tapi kenyataannya beda banget dengan bayanganku semula.

Asap rokok dan pedagang tetap saja mengganggu kenyamanan. Baru saat ini aku ngeh kalo yang dimaksud kelas bisnis tuh memang kelasnya orang- orang yang mau bisnis. Dari sekedar minta-minta, maen kecrekan, jualan kopi sampai penumpang perokok pun berotak bisnis juga. Tetangga sebelah yang aku tegur soal asap rokok, dengan lantang menjawab, "rokok gua beli ga minta elu. Mau bayar berape lu..?"

Buset deh. Orang salah sekarang galak-galak amat ya. Untung aku dah ga muda lagi, jadinya ga aku jawab, elu jual gua beli. Pagi-pagi dah ngajak ribut lu tung...

Ada lagi anak kecil bagi-bagi angpao. Aku tanya buat apa, katanya buat makan. Tapi ketika aku tawarin makanan dia menggeleng dan bilang duit aja pak. Jadi tambah pengetahuan neh, kalo di kereta bisnis, anak kecil makannya duit dan ga doyan nasi atau kue.

Laporan ke petugas kereta juga ga ada gunanya. Mereka menegur sambil lalu saja. Setelah itu semua kembali ke kondisi semula yang menyebalkan. Ketika dikomplen ulang, malah jawabanya, "naik eksekutip aja, pak."

Eksekutip mbahmu.! Legislatip sekalian aku naikin kalo memang memungkinkan buat seorang rakyat kecil yang ingin selalu dibohongin pejabat.

Kapan bisa dapat transportasi murah yang nyaman dan bebas asap rokok..?

Siaran langsung dari Fajar Utama Jogja selepas Stasiun Pasirbungur

Mobile Post via XPeria

Read More

Di Jatinegara...

Hanya sehari setelah aku berangkat ke Jakarta, Merapi mulai batuk-batuk. Sejak awal aku sudah memberikan opsi mengungsi, namun ibu'e Citra bersikeras bertahan di Jogja dengan alasan situasi landai landai saja. Sudah tenang sebenarnya dengan info itu, walau simbah penjaga sudah pergi dari sana. Tapi dua hari terakhir ini, laporan pandangan mata mengatakan hujan abu dari pagi nonstop sampai sore. Tumpukan abu di teras sudah setebal 5 cm. Dan kemarin katanya suara gemuruh Merapi terdengar sampai ke Jogja.

Kesimpulan terakhirnya adalah aku harus pulang. Soal kerjaan gimana nanti. Ora urusan ora urunan ora duwe duit, pokoke nyong bali. Langsung pesen tiket tapi sorenya ditelpon agen katanya tiket cancel karena Adi Sucipto dan Adi Sumarno ditutup. Kecuali mau turun di Adipala silakan, tapi turunnya loncat dari pesawat...

Naik bis males, aku pilih kereta. Kereta pagi dari Gambir jam 8. Aku pesimis untuk bisa mengejarnya dari Cipinang mengingat sifatku yang sok bangsawan, alias bangsa sing tangine awan. Alternatifnya adalah dari stasiun Jatinegara yang katanya bisa dijangkau dalam 30 menit asal ga macet.

Masuk stasiun jam 5:30 padahal jadwal jam 5:57. Antrian di loket buset panjangnya. Antri sambil dagdigdug sampai-sampai ada cewek manis ngajak ngobrol tak bisa aku layani dengan tenang. Sebentar-sebentar ngintip jam sembari berharap kereta terlambat dua jam cerita lama...

Jam 6 lewat dikit kereta belum nongol dan aku sudah sampai di depan loket. Lega juga tak perlu ketinggalan kereta. Hanya saja perutku langsung mules ketika petugas loket menjawab, "fajar utama jogja loket sebrang, pak. Disini untuk ekonomi ke Kroya..."

Wedussss...
Sebel banget ngantri lama tapi salah loket. Lebih sebel lagi setelah liat loket kereta bisnis kosong melompong ga ada antrian. Dan paling sebel adalah ketika melihat jam keberangkatan kereta yang tertera di tiket, 06:57. Masih penasaran kalo-kalo salah ketik, aku nanya petugas. Ternyata beneran aku harus nunggu sejam lagi.

Masuk peron ketemu lagi cewek yang tadi ngajak ngobrol. Wokedeh, Tuhan memang Maha Adil. Di tengah kegondokan ini masih mau ngasih obat penawar sebel. Tapi baru ngobrol dua keclap, si mbaknya dah bilang, "aku duluan mas, keretanya dah datang tuh.."

Belum juga nanya nama atau minta hape, dia dah nyanyi kroncong, di Jatinegara kita kan berpisah...

Tuhan memang benar-benar adil. Ga rela aku ngelupain mamake tepleng walau cuma untuk mengisi waktu sebentar saja.

Wokedeh...
Mamake...
Aku pulang...
Misyupul deh dong yah...

Siaran langsung dari Stasiun Jatinegara

Mobile Post via XPeria

Read More

05 November 2010

Macul

Setelah beberapa hari praktek infrastruktur kelistrikan di ruang data center, pelajaran selanjutnya adalah pasang kabel feeder power dari gardu ke server. Karena dua lokasi itu berada di gedung yang berbeda, berarti judul pekerjaannya adalah menggali tanah dan aspal.

Lumayan mengasyikan juga untuk memegelkan badan. Biasanya macul sawah setekem aja sebentar dah loyo, ini beberapa hari nonstop menggali aspal berikut batu pondasinya dibawah cuaca ga menentu antara panas dan hujan. Bukan melepuh kulit telapak tangannya yang aku permasalahkan. Tapi rada was was kalo berita aku belajar maculnya sampai ke kampung.

Sejak awal mertua sangat tidak menganjurkan aku membawa pergi anaknya dari kampung. Makan ga makan asal kumpul. Soal kerjaan ga perlu bingung. Asal mau belepotan lumpur setahun bisa panen padi 3 kali. Namun aku selalu menolak dengan alasan ga bisa macul. Kalo sekarang aku lulus ujian macul dengan predikat cum laude dan ketauan ortu, bisa-bisa didaulat balik kampung neh. Heheh...

Tapi lumayan lah bisa nambah skill. Siapa tahu suatu saat profesi tukang gali kubur banyak dicari. Kan bisa banting stir tuh.

Ayo, siapa mau jadi pemesan pertama. Bonus pijit deh...
Pake pacul tapinya...

Mobile Post via XPeria
Read More

04 November 2010

Akhirnya ke lapangan

Beberapa hari otak senut-senut belajar program C yang mentok di fungsi for untuk program pengulangan. Aku bolak balik buku panduan, cari refrensi di internet, tetap saja program tidak bereaksi ketika aku tekan tombol run. Dibela-belain 2 minggu ga ngeblog agar pembelajaran cepat tuntas tetap saja tidak membantu.

Ketika akhirnya diberi kesempatan ke lapangan, wah terasa bagai bucat bisul neh. Hampir sebulan di Jakarta bisa dikatakan tak pernah kena sinar matahari. Hanya diem di ruangan ngutak-atik letop.
Memang butuh sedikit waktu untuk mengenali semua pekerjaan yang ada. Karena walau alat-alatnya aku ga asing, tapi aku dulu di maintenance bukan instalasi.
Lumayan pegel dan memeras keringat memang. Tapi menurutku itu lebih asik daripada utak atik program dalam ruangan. Sama-sama otak cape, tapi di lapangan badan ikut cape, sehingga makan tidur pun jadi enak. Di ruangan hanya otak yang lelah, badan engga. Efeknya malah bikin susah tidur.

Dan terbukti ketika di lapangan, masalah program yang ga jalan itu baru kepikir. C adalah bahasa jadul jaman komputer masih pake prosesor 386. Ketika digunakan di letop berprosesor dualcore, jalannya program terlalu lambat dibanding kecepatan prosesornya. Ketika pengulangannya aku bikin lebih panjang, jalan deh tuh program.

Alhamdulillah satu masalah teratasi. Tapi efeknya aku jadi males balik ke ruangan dan betah di lapangan. Lumayan bisa cuci mata godain cewek lewat. Hahaaay...
Siaran langsung dari Pusdatin Kemhan Pondok Labu

Mobile Post via XPeria
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena