14 Desember 2009

Pranata Salah Mangsa

Dalam budaya Jawa ada istilah yang dinamakan pranata mangsa. Ini merupakan perhitungan musim asli Jawa yang sudah ada sebelum kalender import muncul. Iklim yang berlaku di Pulau Jawa menurut pemahaman ini dibagi menjadi empat musim (mangsa) utama, yaitu musim hujan (rendheng), pancaroba akhir musim hujan (marèng), musim kemarau (ketigå) dan musim pancaroba menjelang hujan (labuh).

Musim-musim ini terutama dikaitkan dengan perilaku hewan serta tumbuhan (fenologi) dan dalam praktek amat berkaitan dengan kultur agraris. Bambu yang ditebang pada masa kanem akan awet dan bebas serangan bubuk. Nelayan menggunakannya sebagai pedoman untuk melakukan penangkapan ikan.

Karena perhitungan pranata mangsa ini mengikuti alur keseimbangan alam, pengelolaan pertanian menjadi efektif dan tidak boros biaya. Waktu awal tanam padi diselaraskan dengan munculnya bintang waluku (orion). Sehingga menjelang panen bersamaan dengan masanya ular dan burung pemakan serangga keluar sarang, sehingga serangan tikus dan wereng dapat dikurangi.

Sayangnya keserakahan manusia merubah keseimbangan alam. Pencemaran meningkat, burung dan ular ditangkap untuk dijual. Sehingga hama penyerang tanaman pertanian kehilangan predator alaminya. Untuk mengatasinya petani harus mengeluarkan dana ekstra untuk menyemprotkan anti hama. Padahal anti hama itu meracuni lingkungan. Bahan makanan kita ikut tercemar. Ikan-ikan dan binatang bermanfaat di sawah juga ikut mati.

Itu dalam lingkup kecil. Dalam skala besar mungkin itu yang dinamakan pemanasan global. Cuaca tidak menentu. Hujan datang di musim kemarau, sementara musim hujan malah kemarau panjang. Disini kekeringan, disana kebanjiran. Iklim makin tidak bersahabat, karena memang kita memusuhinya.

Dengan pranata mangsa, dalam setahun tanam padi memang hanya dijadwalkan sekali. Kemudian disambung dengan jagung atau palawija. Mungkin maksudnya agar unsur hara dalam tanah bisa terjaga dengan menggunakan sistem tanam gilir. Tapi manusia ingin setahun panen padi tiga kali. Irigasi dibangun, bibit transgenik dibuat, pupuk dan antihama sintetik digunakan. Kenyataannya menimbulkan biaya tinggi dan meninggalkan residu racun dalam tanah maupun hasil panen.

Kenapa sih kita maunya dapat banyak dan cepat panen. Sampai-sampai sekarang banyak yang baru tiga bulan menikah sudah beranak. Budaya instan sudah membudayakah..?

Read More

13 Desember 2009

Belajar Bahasa Inggris Online

Bukan salah bunda mengandung kalo aku ga lihai berbahasa Inggris. Bukan pula salah yang mainan burung aku dilahirkan menjadi orang Jawa yang gaptek bahasa. Mungkin itu salah leluhur kita yang menyombongkan diri dengan membangun menara babel, sehingga manusia dicerai-beraikan dalam berbagai bahasa.

Jaman SMP dulu, kemampuanku berbahasa Inggris sebenarnya sudah lumayan. Ini didukung oleh hobiku ke lagu-lagu barat. Dengan menghapal banyak lagu, ternyata kemampuan listening lumayan meningkat. Aku hanya cukup menambah pengetahuan tentang arti katanya dari kamus.

Setelah masuk STM hobiku beralih ke alam bebas. Apalagi setelah kerja, baru kali ini aku diharuskan berhubungan dengan orang asing. Untuk sekedar menjawab email atau chat di instant mesenger mungkin ga begitu bermasalah. Tapi ketika harus ngobrol secara lisan, mulai deh ketularan penyakit gagu dan banyak aa uu...

Kemampuan bahasa memang harus memadukan antara kekuatan otak menguasai kosa kata dan mencerna apa yang didengar telinga. Ketika bahan pengajaran hanya kamus semata tanpa ada lawan bicara, terasa banget kesulitannya. Sama seperti istriku yang lancar bahasa mandarin tapi celingukan ketika harus menulis pinyin. Kebalikannya adalah pelukis di galeriku, lancar nulis china tapi sama sekali tak bisa bicara ala Jackie Chan.

Jangankan aku yang kerjanya cuma ngurusin gambar. Stafku cewek yang ngebet banget pengen cari cowok bule saja, lebih jeblok bahasa Inggrisnya dari aku. Cuma pedenya yang aku salut banget. Padahal modal pede itu kalo diasah aku yakin hasilnya bagus. Tapi disuruh kursus susahnya minta ampun.

Aku sendiri kesulitan waktu kalo harus kursus rutin, aku berusaha mencari modul-modul pembelajaran di internet. Banyak website yang menyediakan kursus bahasa, tapi berbayar. Kalo mau gratis, tidak ada salahnya masuk ke websitenya radio Australia. Tidak selengkap yang bayar, tapi lumayan banget namanya juga gratisan. Ada banyak modul dalam format pdf. Untuk belajar mendengar, ada media audionya dalam format mp3. Yang berminat silakan klik disini.

Semoga cepet bisa lancar neh, termasuk stafku. Minimal tidak lagi ada obrolan ngaco seperti beberapa waktu lalu. Masa pas ada tamu bule nawarin rokok, stafku jawabnya, "sory, i'm not smoking area..."


Read More

12 Desember 2009

Kangen Baca Buku

Jalan-jalan di Gramedia, aku kok jadi inget kebiasaan lama. Dulu setiap minggu pasti belanjanya buku. Sampai-sampai kamar kos-kosan wujudnya persis loakan buku. Disebut perpus ga pantes, berantakan soalnya...

Dari dulu aku seneng nulis. Oleh karena itu aku seneng membaca. Buatku mempelajari sesuatu lebih mudah masuk otak dengan menulis daripada membaca.
Ketika menulis suatu masalah, aku harus membaca banyak refrensi. Sekaligus sebagai persiapan kalo-kalo ada sanggahan atas tulisanku, karena dulu aku suka menulis diktat atau bahan diskusi.

Ketika mulai mengenal komputer dan internet, kebiasaan menulis pindah ke blogspot. Lebih banyak topik bisa ditulis karena pembacanya lebih jamak. Bahan bacaan pun pindah dari buku cetak ke website. Karena lebih mudah untuk menempelkan link ketika merujuk sumber.

Ketika blogspot tempat diskusiku dihancur leburkan orang, aku ngungsi ke multiply. Banyak teman diskusi aku temukan disitu, walau debat kusir cuma pada awal komen dan pada akhirnya nyampah juga.

Ketika bencana pesbuk melanda, budaya nge-junk merambah Multiply juga. Sangat sulit untuk mencari teman diskusi sehingga aku pun ikut-ikutan buang sial semata.

Untung masih ada Kompasiana yang bisa sedikit mengobati kerinduanku akan diskusi kecil di blog. Tapi masalahnya justru pindah ke diriku. Kelamaan nyampah ternyata membuat otak jadi sampah juga. Sekarang sudah terasa sulit untuk menulis serius seperti dulu. Otak maunya diajak berceloteh doang.

Makanya aku mulai melirik buku-buku cetak lagi. Walau lebih boros dari segi anggaran, tapi kelihatannya lebih nyaman. Kangen juga seperti dulu, sambil nunggu bis, sambil naik becak, sambil beol, aku selalu ditemani buku bacaan.

Cuma susahnya, sekarang kalo baca biar cepet masuk aku harus sambil ngemil. Tapi cemilannya yang masuk, bacaannya tau kemana...

Ilustrasi Puisi Tangga
Karya Azhar Horo
Tujuh Bintang Art Space
Read More

11 Desember 2009

Teh Poci

Memang senang punya istri baik hati
Pulang kerja, mandi, makan, trus disuguh teh anget langsung dari poci
Sayang teman ngetehnya jiaaaaan....


Read More

Opera Mini Beta 2

Belum lama ini Opera kembali meluncurkan Opera Mini Beta 2. Mesin penjelajah web yang dirancang khusus untuk ponsel ini disebut-sebut sebagai hasil revisi dari versi pertama yang terdapat beberapa masalah pada aplikasinya.

Menurut informasi, pada Opera Mini 5 Beta 2 tidak terdapat perubahan ataupun penambahan fitur, hanya saja terdapat perbaikan-perbaikan kecil pada aplikasinya agar bisa berjalan lebih baik dari versi sebelumnya yang sudah diluncurkan sejak empat bulan lalu.

Opera menjanjikan tampilan-tampilan yang telah disempurnakan layaknya sebuah browser di komputer biasa dan juga peningkatan kecepatan browsing yang lebih cepat dari sebelumnya. Dan pada percobaan pertama, memang terasa lebih cepat dari versi 1. Tapi ini belum menjamin, karena susah sekali untuk mengetes kecepatan pada jaringan seluler kita yang terkenal edan eling.

Opera Mini 5 Beta 2 tetap dilengkapi dengan Tabbed Browser, Speed Dial dan juga Password Manager. Yang paling menarik adalah fasilitas download manager yang sebelumnya tidak ada. Pada versi sebelumnya, kalo kita donlot file, otomatis opera akan membuka browser bawaan hape untuk download. Dengan adanya download manager ini kita bisa mempause atau resume donlotan kita.

Lalu untuk pengguna keyboard qwerty, bila menggunakan fasilitas inline editing suka kesulitan bila menekan angka. Harus beberapa kali mencet baru nyampai ke angka tersebut tanpa adanya penunjuk. Pada versi 2 ini, walau masih harus menekan beberapa kali, tapi petunjuknya sudah ada. Sehingga kita bisa memperkirakan harus menekan berapa kali untuk mancapai angka atau simbol. Atau diakali dengan menekan tombolnya agak lama sampai angkanya muncul.

Kemudahan inline editing yang lain, sebelumnya kalo aku menekan tombol spasi kursor tidak akan jalan. Di versi 2 ini sudah ok.

Sayangnya, untuk tombol enter masih belum sesuai harapanku. Pada editor hape, bila enter ditekan, akan terbuka paragrap baru. Di opera bila enter ditekan, malah keluar dari editor, dianggapnya kita sudah selesai mengetik. Kayaknya ini yang masih perlu diperbaiki. Bagaimanapun dengan inline editing ini, acara ketik mengetik lebih nyaman daripada harus membuka editor bawaan hape.

Mungkin ada masukan dari yang lain neh. Baru nyoba satu jam soalnya. Ehya, aku nyobanya pakai Nokia E90. Dengan hape lain mungkin bisa berbeda hasilnya.
Sharing yah...

Penjelasan lengkapnya ada disini
Penjelasan versi sebelumnya disini
Yang mau donlot ke PC klik disini
Donlot langsung ke hape ketik m.opera.com/next

Read More

10 Desember 2009

Wisata Kuliner Jokja

Gara-gara si bos pernah tak ajak makan sate di Jejeran, kalo ada teman dari kantor Jakarta mau ke Jokja, permintaannya pasti, "antar ke sate klatak yah..."

Perkenalanku dengan sate kambing tanpa bumbu ini, awalnya dari si bos juga. Malem-malem bilang pengen makan yang aneh dan tidak ada di Jakarta. Kebetulan waktu itu ketemu raja kuliner Jokja, Butet dan Riri Riza. Meluncurlah ke selatan Jogja sekitar 4 atau 5 km dari terminal Giwangan.

Menurutku, untuk soal rasa tidak begitu istimewa. Keunikannya adalah sate disajikan tanpa bumbu kecap atau kacang, cuma garam saja. Satu porsi cuma 2 tusuk dan tusuknya menggunakan jeruji sepeda. Walau ukuran dagingnya besar-besar tapi tetap empuk. Cukup lezat dinikmati dengan sepiring nasi, tongseng dan minuman teh jahe anget yang dikasih gula batu.

Harganya relatif terjangkau dan cuma ada di Pasar Jejeran Imogiri Bantul. Katanya sudah ada sih di daerah lain, cuma rasanya beda. Warung satenya buka malam hari dan kalo musim liburan biasanya ngantri. Yang penting hati-hati ketika menyantap sate ini. Jangan sampai kegigit jeruji besi yang masih panas atau malah jeruji sepedanya ketelan.

Sebagai kota kuliner, Jokja memang gudangnya makanan khas. Oleh karena itu, mengandalkan menu dan rasa saja sepertinya tak cukup untuk menarik pembeli. Perlu ada sentuhan yang lain sehingga memancing rasa penasaran orang luar kota.

Seperti halnya gudeg pawon di daerah Warungboto. Aku pikir rasanya tak jauh beda dengan gudeg lainnya di Jokja. Bisa jadi pembelinya sampai ngantri hanya karena bukanya mulai jam 11 malam dan disajikan didepan tungku raksasa tempat gudeg itu dimasak.

Lalu ada sate kuda yang aku kenal dari Ade Rai. Dia kalo menyantap sate kuda di dekat jembatan Gondolayu bisa habis 100 tusuk tanpa nasi. Warung ini cukup laris hanya karena mempromosikan diri bisa menambah kejantanan laki-laki.

Kalo nasib lagi baik, kita bisa memesan sate torpedo alias alat kelamin kuda. Walau harganya lebih mahal daripada sate dagingnya, kita seringkali harus pesan terlebih dahulu agar tidak kehabisan.

Mungkin ini yang perlu dipikirkan kalo kita mau buka usaha kuliner di Jokja. Harus ada sentuhan yang lain daripada yang lain. Karena jual makanan di kota ini tidak cukup mengandalkan rasa saja. Lebih dominan unsur eksotisme untuk mendukung strategi marketingnya.

Itu untuk yang berniat mencari pasar wisatawan. Kalo pasarnya anak-anak mahasiswa atau karyawan yang mukim, asal enak dan murah pasti lancar usaha. Walau kadang ngganjel di hati juga. Makan nasi kucing di Pakualaman 2000 perak kenyang, tapi parkir motornya 1000, mobil 2000 perak.
Read More

09 Desember 2009

Kangen Wereng Coklat

Dapat undangan acara pramuka, aku kok jadi kangen masa-masa jadi wereng coklat dulu. Disini senang disana senang, dimana-mana hatiku senang. Tak pernah mikirin utang...

Yang paling asik tuh kayaknya kalo dah masuk acara jurit malam. Apalagi dulu kalo gojlokan, bukannya aku yang sebel, tapi seniorku yang setres. Mereka akan saling lempar kalo disuruh ngurusin aku.

Penyebabnya sih sepele. Sejak pendadaran pertama aku dah dicap bandel oleh senior. Sebagai anak STM yang hobinya tawuran, sifat ngeyelanku seringkali kumat. Yang lain disuruh ini itu nurut, cuma aku yang ngelawan terus.

Pas ada acara jalan di kuburan satu persatu, di tengah kuburan ada pocongan menghadang. Aku lemparin saja pake batu. Habis itu aku dihukum pus ap 100 kali. Baru aku tahu kalo seniorku ada yang bocor kepalanya kena lemparanku.

Akibatnya, setiap ada kegiatan aku selalu kebagian di kuburan. Sebagian ceritanya bisa dibaca disini atau disini.

Pokoknya banyak suka duka yang dialami. Apalagi aku masuk Saka Bhayangkara di Polres Banyumas yang terkenal keras dalam mendidik pasukan. Makanya tak heran kalo dulu banyak temanku yang begitu antipati. Tapi nyatanya banyak dasar-dasar pembinaan mental yang dulu tertanam tanpa tahu manfaatnya, baru terasa sekarang-sekarang ini.

Makanya heran kalo melihat anak sekarang lebih suka pesbukan daripada ikut kegiatan lapangan. Generasi-generasi ambeien siap mengemuka di masa depan kita. Mereka terlalu cerdas untuk urusan teori tanpa pernah merasakan praktek nyatanya di lapangan.

Anak sekarang serba tahu sih. Tapi kalo dikejar lebih jauh, mereka akan mudah menjawab, "informasi dari google..."

Kapan aku bisa kembali muda yah..?
Read More

Kejahatan Modus Baru

Aku sendiri ga tahu yang semalem tuh orang mau niat jahat apa engga. Tapi yang jelas ceritanya begini.

Pulang kantor jam 9 malem, menjelang bundaran UGM ada empat orang berboncengan 2 motor mepet dan bilang sedikit galak. Katanya aku nyenggol orang sampai jatuh di Kotabaru. Trus mereka menyuruhku menemui orang itu untuk menyelesaikan masalah baik-baik.

Antara iya dan tidak aku nurut aja dikawal mereka. Cuma aku mikir kok aku harus ke daerah Pengok yah..? Komplek bengkel kereta itu kan sepi dan gelap. Makanya di perempatan aku celingukan ke pos polisi. Sialan, kosong...

Tapi pas nyebrang perempatan aku liat ada polisi lagi pada ngobrol sekitar 50 meteran dari situ. Cari aman aku merepat kesana mau minta dikawal maksudnya. Begitu berhenti di trotoar, aku celingukan cari orang-orang itu. Karena niatnya jahat trus lihat aku berhenti dekat polisi kali, mereka jadi kabur.

Alhamdulillah....

Merasa situasi sudah aman. Motor ku stater lagi untuk melanjutkan pulang. Belum juga beranjak sudah ada yang menegur, "Selamat malam, bisa lihat surat-suratnya, pak.."

"Lho. Kenapa, pak..?"

"Bapak sudah menerobos verboden. Tidak boleh ke arah timur..."

Ealah...!!!

Ilustrasi Dilarang Mengawasi
Karya Arianto
Tujuh Bintang Art Space
Read More

08 Desember 2009

Ngambek Dengan Baik

Hari yang menyebalkan. Dari pagi sms isine orang ngamuk terus. Padahal cuma urusan duit sejuta, dan statusnya sumbangan sosial. Yang kalo mau instropeksi diri, salah siapa kirim proposalnya telat.

Walau aku juga manusia biasa yang punya amarah, tapi ada beberapa hal yang aku hindari. Salah satunya ngamuk di telepon atau sms. Aku kan tak pernah tahu orang yang akan aku marahi sedang apa dan dimana. Bagaimana kalo dia sedang dalam perjalanan, trus emosinya ikut naik. Kalo celaka, apa ya aku ga kebagian dosanya..?

Untuk hal yang satu itu aku belajar dari istriku. Ketika anyar menikah, aku mengajak istri ke galeri ketika ada even. Ada SPG yang ga tahu kalo itu istriku dan nglendot sambil bilang kangen. Istriku ga bereaksi, malah stafku yang njimprak-jimprak.

Sampai di rumah baru aku tanya, kenapa tadi diam saja. Beliau dengan arif menjawab begini, "Aku bisa marah, tapi aku kan ga bisa mempermalukan suami di depan umum. Lagi pula perjalanan pulang lumayan jauh. Kalo sambil emosi tar malah celaka.."

"Trus marahnya kapan dong..?"

"Bentar lagi nunggu capeknya ilang..."

"Boleh, tapi sambil kelon yaaa..."

Asiiik...

Marah dengan etika ternyata indah juga...

Ilustrasi Peace Maker
Karya Adjie Dharma
Tujuh Bintang Art Space

Read More

07 Desember 2009

Download Film Balibo..?

Mendengar kisruh film Balibo Five yang ga boleh diputar di Indonesia, cepetan aku cari link buat donlot film itu. Welahdalah, seminggu nyari kok belum nemu juga. Rupanya film besutan Australia itu tak secepat Hollywood masuk pasar gelap alias donlotan gratis.

Bukan aku sok heboh dengan barang baru, cuma aku pengen nonton sebelum pada akhirnya ikutan komen tentang film itu. Kan ga lucu kalo ikut ribut padahal belum pernah nonton...

Kayaknya sementara waktu aku harus puas hanya dengar cerita orang tentang sinopsis film itu. Dan katanya film itu menceritakan tentang 5 wartawan Australia yang tewas tahun 1975 di Timor Timur.

Aku jadi ingat film lama berjudul Missing. Yang menceritakan hilangnya seorang wartawan idealis Amerika di Chile ketika ada kudeta yang berbau militer pada tahun 1973. Beth Horman dan mertuanya Ed sibuk mencari tahu di tengah intrik kekuasaan yang berbahaya. Dan diakhir cerita diketahui bahwa kebohongan publik itu justru datang dari pemerintah Amerika, negaranya tercinta.

Kenapa waktu itu film itu tidak dicekal masuk Indonesia oleh Badan Sensor yang guntingnya teramat tajam di tangan Orde Baru. Padahal dalam film Missing kode misinya menggunakan kata Jakarta 65. Dengan kata lain, kekacauan politik itu disamakan dengan peristiwa G30S/PKI.

Kembali ke soal Balibo.
Kenapa masyarakat kita tak dibelajari untuk berpikir dewasa dengan main cekal semacam itu. Padahal dengan pencekalan itu, masyarakat justru malah penasaran dan mendongkrak popularitas film tersebut.

Kenapa pula kita dibuat sensitif hanya oleh hilangnya 5 orang wartawan asing, sedangkan ribuan TNI yang gugur dalam Operasi Seroja tak pernah diungkap. Apalagi setelah Timor Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Padahal mereka hanyalah korban dari ambisi penguasa waktu itu. Yang mau tidak mau kita harus memberikan titel pahlawan kepada mereka. Minimal pengorbanan pasukan TNI waktu itu sedikit dihargai dan tidak dianggap sia-sia...

Kalo ada yang punya link download gratis, bagi yah...
Terima kasih sebelumnya...


Read More

Impian Calon PNS

Stafku cuti beberapa hari. Ternyata dia ikutan tes CPNS di daerahnya. Pas aku tanya, kenapa pengen jadi PNS, dia jawabnya gini.

"Gaji lumayan, kerjanya ga terlalu berat. Banyak waktu luang buat cari sampingan. Udah gitu dapat pensiun lagi..."

Kalau saja cuma dia yang berpikir seperti itu, mungkin aku masih bisa berbangga hati jadi warganegara Indonesia. Cuma bila melihat kenyataan di lapangan, mau ga mau sedih juga.

Bikin KK dan KTP saja prosesnya lama. Aku pikir, pegawai kelurahan itu super sibuk. Ternyata disamperin ke kelurahan, ada yang main catur, baca koran, isi TTS, dll dll

Udah gitu masih ada yang sempat berbaik hati, "kalo mau cepet, sini tak bantu, pak. Paling nambah berapa..."

Mungkin perlu diadakan survai independen tentang calon-calon PNS yang mendaftar. Berapa persen yang benar-benar ingin bekerja profesional melayani masyarakat, dan berapa persen yang cuma mau jadi parasit di negara ini.

Baru mau ikutan tes aja sudah begitu pola pikirnya, setelah diterima nanti mau jadi apa kira-kira..?

Wajar saja ketika ditanya pake nyogok apa engga, kelihatannya tidak terbebani. Niat awalnya saja sudah begitu.

Pelayanan masyarakat diswastakan juga nyatanya tidak efektif. Karena pada pelaksanaannya juga tidak ada idealisme yang fanatik sebagai abdi masyarakat. Mereka tetap saja abdinegara yang hanya mengabdi pada negara yang menggaji mereka. Padahal negara ini sudah bukan milik rakyat lagi. Melainkan milik segelintir orang yang merasa punya kekuasaan.

Mau dibawa kemana negaraku ini ya..?

Ilustrasi Her is my inspiration
Karya Anton Hadiyono
Tujuh Bintang Art Space
Read More

06 Desember 2009

Tidak Mengeluh, Tapi Teriak

Dalam sebulan ini entah berapa teman yang mengeluh tentang pekerjaannya dan meminta aku terima kerja di galeri. Walau sebenarnya butuh karyawan untuk di gudang dan sopir, aku merasa belum saatnya untuk menerima mereka. Apalagi ketertarikan mereka rata-rata seragam, "kayaknya enak kerja disini..."

Seringkali aku mengajak mereka bercerita tentang pekerjaan ini dari awal dulu sampai akhir ini. Dan setelah itu, selalu saja mereka salah menafsirkan tujuan dari ceritaku. Aku ingin menyampaikan bahwa aku bisa sampai di posisi ini butuh perjuangan yang teramat panjang. Semua posisi aku jalani dengan kerja keras dan tanpa mengeluh.

Maksudku itu, bukannya menyuruh mereka menderita terlebih dulu seperti yang aku jalani.

Padahal tanpa mengeluhku itu bukan berarti tak boleh berkeluh kesah. Aku mengeluh juga, bahkan tak jarang sampai berteriak ketika masalah datang. Cuma semua hujatan dan umpatan itu aku salurkan di blog. Begitu sampai di dunia kerja, aku kembali menjadi robot yang tak bisa berkata. Kerja tak kenal waktu atau kerja di tempat yang tidak semestinya tak pernah aku katakan tidak.

Aku tak mau mengeluhkan tempat kerja lamaku, apalagi ketika sedang wawancara di tempat yang baru. Atau ketika ditanya mengapa ingin pindah kerja, tak akan aku jawab di tempat lama berantem terus atau gajinya kurang, dll dll. Dan nyatanya beberapa kali aku pindah-pindah kerja tanpa pernah membuat surat lamaran. Yang ada malah tawaran kerja, sehingga aku bisa memilih posisi yang menurutku nyaman.

Dengan pengalaman semacam itu, haruskah aku terima karyawan walau itu teman, yang belum apa-apa sudah mengeluh, "tempat kerjaku sekarang begini begitu, tidak seenak disini..."

Andai saja salah satu dari mereka bilang, "gajiku sekarang kecil karena produktifitasku memang belum maksimal..."
Read More

05 Desember 2009

Darah Biru

Badan dalam kondisi njeglek.com memaksaku untuk menyerpiskan diri ke dokter, walau sebenarnya males. Bukan aku merasa diri menjadi superman, apalagi wonderwoman. Tapi rasa yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata yang jadi penyebabnya.

Dan benar tho...
Hasilnya pasti nyebelin. Kurang darah, hb rendah, trus sederet istilah yang aku ga mudeng muncul. Yang paling nyebelin tuh doktere bilang aku berdarah biru. Jadi ketauan kalo aku bangsawan walau bukan penyakit turunan.

Dulu, biar kata tidur menjelang subuh, pagi-pagi pasti dah bangun. Ada aja kerjaan sebelum berangkat ke kantor. Setelah punya istri, rasane kok adem ayem dan membuat aku susah bangun pagi. Tidak ada lagi pikiran cucian numpuk atau ribut cari sarapan ke warung. Bangun jam 9 pun masih keburu untuk berangkat ke kantor.

Jadi ya, trimak-trimakno dimasukin kalangan bangsa sing tangi awan. Asal jangan disebut bangsane kewan-kewan. Kaya pejabat Indonesia aja...
Read More

04 Desember 2009

Koin Untuk Prita

Makin lama kok aku makin gemes dengan hukum di negeri ini..? Hukum memang sudah berjalan sebagaimana mestinya dan tak kenal belas kasihan. Tapi kenapa ketika sudah berurusan dengan yang namanya duit, mendadak banyak banget acara.

Apalagi ketika menyimak berita tentang teman kita Prita, pengen rasanya aku belajar jadi dukun santet. Perut pejabat-pejabat yang doyan menjual hukum pengen aku isiin duit sekoper. Kopernya yang gede, duitnya koin aja sebiji.

Karena belum kesampean, mendingan koinnya dikumpulin aja yuk. Trus dikirim lewat paket pos ke alamat Markas Sehat Jl Taman Margasatwa No 60 Jatipadang, Jakarta Selatan. Atau WETIGA Jl. Langsat I/3A. Untuk informasi, hubungi 021-71284653 atau 0818769284 (Samsul).

Jangan ditransfer bank lho ya... Karena pembayaran denda Prita Mulyasari memang mau diberikan dalam bentuk koin.

Tetap semangat Prit...
Aku lebih parah kok kalo acara hujat menghujat.
Persetan deh hukum Indonesia Raya...

Info dari Kompas.

Read More

02 Desember 2009

Pindahan Kantor

Dari pagi kepala sudah terasa berat. Tapi karena masih banyak kerjaan awal bulan yang belum beres, aku maksa berangkat ke kantor walau agak kesiangan.

Sampai kantor aku lihat banyak senyum senyum manis awal bulan menyambutku. Tahu aku rada "njeglek", si Lenny berbaik hati mau beresin kerjaanku.

"Istirahat aja di mess, mas. Udah tak siapin kok kamarnya. Sarapannya juga udah disana..."

Walau masih kepikiran pekerjaan, aku nurut saja langsung ke belakang dengan sedikit terharu. Begitu buka pintu kamar, beneran dah rapi. AC dah dinyalain, teh anget dan gado-gado sudah terhidang di meja. Tidak lupa koran pagi terlipat rapi di situ.

Cuman...
Letopku kok sudah siap pakai juga di tempat tidur.

Ini nyuruh istirahat apa pindahan kantor sih..???
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena