09 November 2010

Relawan vs Birokrat

Membaca komentar bu dokter (srhida.multiply.com) tentang lebih percayanya beliau ke website swasta merapi.combine.or.id untuk info Merapi daripada website pemerintah, aku jadi ingat kenyataan di lapangan bahwa masyarakat pun lebih percaya ke relawan daripada aparat. Ini bisa dimaklumi melihat kenyataan di daerah terpencil seperti kec. Dukun dimana relawan non gajian sudah bisa mensurvai ke pelosok daerah sejak awal bencana. Sementara dari pemda baru sampai ke TPS seminggu setelah bencana.

TPS Gontor di km 10 dari puncak, lewat 2 minggu masa bencana, katanya baru sekali didrop bantuan oleh petugas negara yang notabene punya segalanya. Padahal relawan Jaring Merapi sudah bolak-balik masuk kesana menerobos medan yang lumayan berat dengan sarana seadanya. Aku sendiri heran kenapa pemerintah begitu sibuk berteriak-teriak untuk evakuasi kota Muntilan yang jaraknya 19 km dari puncak, sementara di km 8 masih ada banyak nyawa manusia dengan pelindungan apa adanya.

Sempat merasa aneh juga ketika Polsek Dukun tahu-tahu ditutup dan dievakuasi ke bawah sementara masyarakat masih dilanda kebingungan. Justru pasukan relawan lah yang keliling kampung menenangkan masyarakat. Termasuk ketika awan panas meluncur ke arah barat. Masyarakat panik saling berebutan turun gunung, saling memacu kendaraan di jalanan licin, tidak ada satupun aparat keamanan mengatur lalu lintas yang kacau. Lagi-lagi pasukan relawan yang berperan menenangkan masyarakat agar tidak terjadi bencana tambahan dalam bentuk kecelakaan lalu lintas.

Mungkin saja para pejabat bisa berkilah, jumlah personil negara tak sebanyak relawan. Omong kosong pejabat busuk..! Kalo memang kekurangan orang, kenapa tidak merangkul relawan dan potensi lokal yang ada. Aku pikir dana negara yang tak terbatas digabungkan dengan pasukan sukarela yang ada adalah sinergi terbaik dalam masalah ini. Tapi kenyataan di lapangan, relawan jarang mau berurusan dengan posko bencana pemerintah.

Sudah jelas banyak balita kekurangan makanan dan pakaian di pelosok, ketika kita coba masuk ke posko pemerintah menawarkan tenaga untuk menyuplai bantuan malah diminta data pengungsi plus surat pengantar dari kepala desa. Kecurigaan pemerintah takut bantuan diselewengkan relawan melebihi kepentingan menyelamatkan warganegara yang selalu setia membayar pajak. Apakah para pejabat lebih suka menimbun bantuan untuk dibagi-bagi sebagai uang saku setelah bencana berakhir dibanding menyelamatkan lebih banyak jiwa rakyatnya..? Wedussss...!!!

Di jalanan Muntilan begitu banyak tentara mengeruk debu yang membalut aspal agar tidak licin. Tapi silakan dilihat, banyakan mana yang pegang pacul dengan yang berdiri mengatur lalu lintas atau sekedar merokok sambil ngobrol. Kenapa para pemakan gaji buta itu tidak ditugaskan turun ke TPS terpencil saja. Toh kayaknya mereka lebih terlatih menghadapi medan berat dibanding aku dan teman-teman.

Terus terang aku mangkel dengan para pejabat pusat yang sliwar sliwer ke pengungsian, tapi cuma yang aksesnya mudah saja. Mau nengok pengungsi saja harus pakai forwarder yang menyuruh pengguna jalan untuk minggir seolah rakyat tidak punya kepentingan lebih besar dari mereka. Ngapain pura pura soksial kalo hanya untuk pamer arogansi di jalanan. Pak beye ga perlu lah keluyuran ke Merapi. Itung sendiri saja kalo memang mengaku cerdas, berapa biaya yang dihabiskan untuk wisata bencana pejabat. Lebih bermanfaat mana bila dibandingkan dengan dana itu dikucurkan kepada pengungsi agar bisa memperoleh akomodasi yang lebih layak.

Pikirkanlah bapak ibu yang berwenang. Perlukah kami tetap diwajibkan mengajukan proposal dengan keribetan birokrasi hanya untuk minta selimut dan makanan bayi? Tidak bisakah anak-anak kami yang kedinginan bisa segera dibantu tanpa harus minta tanda tangan kesana kemari?

Makin skeptis saja dengan pengelola negeri ini...

Mobile Post via XPeria

Read More

08 November 2010

Mendadak Misyu

Jalan-jalan ke lokasi pengungsian, yang paling menarik perhatianku adalah anak-anak dan balita. Setiap kali tiba di satu TPS, ketika teman-teman sibuk menurunkan barang bantuan, aku justru lebih suka nyamperin anak-anak dan mengajak mereka bermain. Ada rasa tak rela bila bencana ini sampai merampas keceriaan mereka yang sebenarnya belum boleh tahu bahwa hidup ini sesungguhnya getir.

Seharian nyupir di jalanan berkelak-kelok super licin dan tak jarang berubah menjadi medan berat ketika diguyur hujan lumpur, seketika lenyap letih lelahku ketika aku bersama anak-anak pengungsian. Seringkali terasa berat buatku ketika teman-teman sudah berteriak, "pak supir, ayo cabuuut..."

Setelah kembali ke posko dan duduk menyendiri di teras depan sambil menatap gerimis kecil bercampur abu, tiba-tiba aku teringat Citra di rumah. Hampir sebulan aku tinggalkan dia ke Jakarta dalam kondisi waspada bencana, ketika aku pulang ke Jogja, aku hanya semalam bersama Citra. Itupun terbagi waktunya dengan ibunya. Besoknya aku sudah ngabur ke posko Merapi untuk bergabung dengan relawan lain.

Senyum Citra dan kemanjaannya ketika aku pulang kemarin, mungkin merupakan pengungkapan rasa rindunya sekian lama aku tinggal ke Jakarta. Kenapa kemarin aku tak banyak memikirkan itu dan baru saat ini terasakan bahwa aku juga rindu anakku. Apalagi setelah seharian banyak bermain dengan anak-anak di pengungsian. Rasa kangen itu terasa menyesakan juga.

Sabar ya, nak. Nanti ayah sempatkan agak lama di rumah. Rasa ini mungkin tak cuma milikku. Setiap orang tua kayaknya akan merasakan yang sama. Jadi wajar kalo melihat anak-anak akan langsung teringat ke anak semata wayangnya.

Cuma satu yang bikin bingung. Kenapa kalo aku melihat cewek cakep ga inget ibunya ya..? Hahaha biadab..

Siaran langsung dibawah gerimis Posko Jalin Merapi 1 Muntilan.

Mobile Post via XPeria

Read More

Mereka Bukan Korban

Beberapa suara tak sedap aku dengar ketika Merapi menelan korban. Banyak teman kita yang seolah menyalahkan mengapa ada pengungsi harus kembali ke desanya ketika kondisi masih belum menentu.

Aku pikir mereka tak sepenuhnya salah. Seharusnya kita bisa berpikir bahwa tak semua pengungsi bisa kita anggap korban sebagaimana di Mentawai. Disana kondisinya teramat parah sehingga pengungsi tak lagi memiliki apapun untuk hidup lebih baik. Di Merapi, lebih banyak pengungsi yang pergi dari desanya hanya untuk menghindari bahaya, sementara mereka masih punya segalanya.

Pengungsi jenis ini aku kira yang terbanyak di Merapi. Bagaimana mungkin mereka bisa tenang di pengungsian sementara harta benda dan ternak mereka masih ada di desa. Lagipula untuk masyarakat pedesaan yang tak betah nganggur pasti akan jenuh ketika mereka tak punya kegiatan di pengungsian.

Alangkah baiknya bila penanganan mereka mencontoh pada apa yang sering dilakukan kepada anak-anak. Diberi mainan dan diajak bermain untuk mengurangi trauma atas bencana. Tak ada salahnya bila mereka tak lagi diberi ransum siap makan. Dapur umum disiapkan tapi pelaksanaannya diserahkan kepada pengungsi perempuan secara bergiliran agar mereka punya kegiatan.

Pengungsi laki-laki pun bisa diberi kegiatan kerja bakti atau diikutsertakan bersama relawan menjaga desanya secara terjadwal sehingga mereka tidak pergi sendiri-sendiri yang pada akhirnya sulit untuk menjaga keselamatannya.

Mungkin itu terkesan kejam. Orang lagi kesusahan kok dikerjain. Tapi itu kan pandangan kita sebagai penonton yang tentunya kasihan dan ingin melayani mereka secara total. Namun kenyataannya mereka suka mengeluh jenuh setiap hari hanya makan tidur sementara ternak mereka telantar.

Untuk tempat pengungsian besar macam stadion Maguwoharjo mungkin itu sulit. Namun aku melihat di beberapa TPS kecil di Magelang cara itu bisa efektif. Para pengungsi kelihatan lebih suka dilibatkan dalam kegiatan relawan. Apalagi dilibatkannya di kegiatan daerahnya sendiri.

Tapi itu sekedar sumbang saran saja. Jangan angap mereka korban semata. Jadikanlah mereka mitra agar penanganan bencana ini bisa lebih terintegrasi. Bagaimanapun juga penduduk lokal lebih mengerti apa yang menjadi kebutuhannya dibanding kita yang notabene adalah pendatang.

Mobile Post via XPeria

Ilustrasi di TPS Gadingsari km 8 dari puncak Merapi

Read More

Bertahan di Jogja

Rencana utama pulang ke Jogja kemarin adalah mengungsikan Citra dan ibunya ke kampung seiring peningkatan wilayah bahaya Merapi menjadi 20 km. Apalagi ibunya Citra bilang gemuruh Merapi terdengar sampai ke rumah.

Tapi setelah melihat situasi di rumah, aku malah berpikir lain. Serbuan debu halus begitu mudah masuk kedalam rumah melalui ventilasi atau celah di bawah pintu. Kondisi yang sama juga terjadi di kampung. Satu-satunya ruangan yang aman untuk berlindung dari debu adalah kamar yang ber AC. Tanpa ventilasi dan apabila ada debu yang maksa masuk bisa dibuang keluar. Hanya saja kegiatan membersihkan filter indoor dan outdoor AC harus dilakukan lebih sering. Sehingga keputusannya adalah tetap bertahan di Jogja demi kesehatan.

Apalagi bila melihat kesiapan tim penanggulangan bencana di Jogja yang luar biasa sigap. Persiapan pasukan dan logistik bisa dikatakan berlebih. Jadinya aku pikir, meninggalkan Citra dan ibunya di Jogja lebih aman termasuk bila bahaya mencapai kota.

Terlalu banyaknya relawan dan cadangan logistik di Jogja pula yang membuatku memilih untuk tidak ikut ngepos di Jogja. Bisa dikatakan setiap relawan dan bantuan datang ditujukan ke Jogja. Termasuk pemberitaan di tipi, sebagian besar porsinya dihabiskan di wilayah Jogja. Tak heran bila di beberapa pos di daerah, kondisinya kadang kurang bagus.

Seperti yang di pos Dukun Muntilan tempat aku bergabung dengan Jalin Merapi. Logistik sebenarnya tidak terlalu kekurangan. Tapi sarana distribusi hanya mengandalkan satu mobil pick up butut. Alternatifnya adalah menggunakan sepeda motor. Padahal jalanan tanah berdebu vulkanik dan berlempung di banyak tempat begitu licin terutama ketika kena air hujan. Vixy ku saja saja sudah mulai ngadat-ngadat kelistrikan dan injeksinya. Filter injeksi dan saklar-saklar sudah penuh debu mungkin.

PLN yang padam dan genset hanya ada satu buah harus dipantheng 24 jam. Alhasil kemarin sore mulai ngadat-ngadat. Sarana komunikasi melalui radio sebenarnya sudah memadai. Ada sebuah pesawat RIG di posko dan beberapa handy talky untuk yang di lapangan. Sayang ada saja orang iseng yang nge jamm frekuensi darurat itu. Syukur setelah tim ORARI dan MetroTV mengadakan hunting fox, gangguan sinyal itu bisa diatasi.

Sarana komunikasi online ada 2 buah letop. Sayang koneksi internet menggunakan modem smart harus puas dengan kecepatan 1X dan tanpa EVDO. Alternatifnya adalah menggunakan jaringan Telkomsel yang tarifnya amit amit jabang bayi. Sudah begitupun, facebook dan website yang digunakan untuk berbagi informasi dihack orang. asru...!!!

Untuk relawan sendiri, kalo cuma urusan makan tidak perlu takut kekurangan, bantuan logistik dalam bentuk makanan banyak banget sampai kadang mubazir karena tidak terdistribusi akibat kurang sarana. Yang perlu dibantu sepertinya untuk bensin dan pulsa. Mengingat segalanya merupakan dana pribadi, kegiatan sudah seminggu lebih mulai membuat mereka mengeluh kantong menipis. Beberapa orang relawan sudah mulai pulang. Dan pagi ini 3 orang dari Bandung juga pamit pulang dengan alasan kehabisan bekal.

Wokedeh, sementara segitu dulu. Aku mau ke bangkel dulu neh meriksain si Vixy sebelum makin parah. Mohon doanya saja, teman. Agar pasukan di lapangan tetap semangat walau sarana serba minim. Buat teman-teman di Jogja, titip Citra yaaa...

 
Read More

07 November 2010

Masker

Masker adalah barang kini naik daun di wilayah Jogja dan sekitarnya seiring peningkatan aktivitas Merapi. Di beberapa apotek Jogja harganya melambung sampai 5000 perak. Padahal di pedagang asongan pinggir jalan bisa dibeli dengan uang 2000 rupiah. Masker gratis yang dibagi-bagikan oleh relawan jumlahnya tak mencukupi. Itupun lebih banyak dibagikan kepada pengungsi, sehingga untuk masyarakat umum tetap harus mencari sendiri.

Namun yang terlihat di Jogja dan sekitarnya, termasuk di daerah bencana yang notabene dibagikan gratis, kesadaran masyarakat untuk mengenakan masker bisa dikatakan kurang. Masih banyak yang lalu lalang di bawah hembusan debu tanpa masker. Apalagi anak-anak muda, ngetan ngulon pakai sepeda motor dengan damainya. Malah tak jarang yang sambil merokok. Peracunan paru-paru dobel pokoknya.

Bicara soal masker, aku malah ingat waktu di kereta kemarin. Mulai masuk Kebumen, debu begitu tebal sampai masuk ke dalam gerbong. Saat itu ada anak kecil mengenakan masker membagi-bagikan amplop bertuliskan tangan minta sumbangan untuk korban Merapi. Aku sebenarnya tak ingin mempermasalahkan peminta-minta cilik itu. Cuma salut saja dengan kecerdasannya mengangkat tema Merapi sebagai alat pemancing belas kasihan penumpang. Hanya sayangnya, kenapa harus membagikan amplop di kereta yang sama dengan ketika dia membagikan amplop bertuliskan minta sumbangan untuk biaya sekolah, ketika kereta berada di sekitar Cirebon. Tanpa mengenakan masker tentunya.

Yang agak heboh mungkin dengan dua orang pengamen banci ewer-ewer di sekitar Kutoarjo. Mereka begitu genit setengah memaksa penumpang memberikan uang. Karena nyanyiannya ga jelas, aku pun berkomentar, "Nyanyi kok nganggo masker. Ra cetho, om.."

Mungkin demi menyenangkan pelanggan, mereka membuka masker dan mulai menyanyi lagi. Belum ada satu menit mangap-mangap dengan semangat 45, debu beterbangan menyerbu dan membuat mereka tersedak. Akhirnya akupun diancam pilih digelitikin sampe Jogja atau bayar 3 kali lipat. Seribu bayar ngamen, seribu hukuman atas saran membuka masker dan seribu perak lagi denda karena aku menyebut mereka om...

Dasar...
Read More

06 November 2010

Kelas Bisnis

Baru kali ini aku naik kereta kelas bisnis. Awalnya aku pikir kondisinya cukup nyaman seperti kelas diatasnya minus pengatur udara saja. Tapi kenyataannya beda banget dengan bayanganku semula.

Asap rokok dan pedagang tetap saja mengganggu kenyamanan. Baru saat ini aku ngeh kalo yang dimaksud kelas bisnis tuh memang kelasnya orang- orang yang mau bisnis. Dari sekedar minta-minta, maen kecrekan, jualan kopi sampai penumpang perokok pun berotak bisnis juga. Tetangga sebelah yang aku tegur soal asap rokok, dengan lantang menjawab, "rokok gua beli ga minta elu. Mau bayar berape lu..?"

Buset deh. Orang salah sekarang galak-galak amat ya. Untung aku dah ga muda lagi, jadinya ga aku jawab, elu jual gua beli. Pagi-pagi dah ngajak ribut lu tung...

Ada lagi anak kecil bagi-bagi angpao. Aku tanya buat apa, katanya buat makan. Tapi ketika aku tawarin makanan dia menggeleng dan bilang duit aja pak. Jadi tambah pengetahuan neh, kalo di kereta bisnis, anak kecil makannya duit dan ga doyan nasi atau kue.

Laporan ke petugas kereta juga ga ada gunanya. Mereka menegur sambil lalu saja. Setelah itu semua kembali ke kondisi semula yang menyebalkan. Ketika dikomplen ulang, malah jawabanya, "naik eksekutip aja, pak."

Eksekutip mbahmu.! Legislatip sekalian aku naikin kalo memang memungkinkan buat seorang rakyat kecil yang ingin selalu dibohongin pejabat.

Kapan bisa dapat transportasi murah yang nyaman dan bebas asap rokok..?

Siaran langsung dari Fajar Utama Jogja selepas Stasiun Pasirbungur

Mobile Post via XPeria

Read More

Di Jatinegara...

Hanya sehari setelah aku berangkat ke Jakarta, Merapi mulai batuk-batuk. Sejak awal aku sudah memberikan opsi mengungsi, namun ibu'e Citra bersikeras bertahan di Jogja dengan alasan situasi landai landai saja. Sudah tenang sebenarnya dengan info itu, walau simbah penjaga sudah pergi dari sana. Tapi dua hari terakhir ini, laporan pandangan mata mengatakan hujan abu dari pagi nonstop sampai sore. Tumpukan abu di teras sudah setebal 5 cm. Dan kemarin katanya suara gemuruh Merapi terdengar sampai ke Jogja.

Kesimpulan terakhirnya adalah aku harus pulang. Soal kerjaan gimana nanti. Ora urusan ora urunan ora duwe duit, pokoke nyong bali. Langsung pesen tiket tapi sorenya ditelpon agen katanya tiket cancel karena Adi Sucipto dan Adi Sumarno ditutup. Kecuali mau turun di Adipala silakan, tapi turunnya loncat dari pesawat...

Naik bis males, aku pilih kereta. Kereta pagi dari Gambir jam 8. Aku pesimis untuk bisa mengejarnya dari Cipinang mengingat sifatku yang sok bangsawan, alias bangsa sing tangine awan. Alternatifnya adalah dari stasiun Jatinegara yang katanya bisa dijangkau dalam 30 menit asal ga macet.

Masuk stasiun jam 5:30 padahal jadwal jam 5:57. Antrian di loket buset panjangnya. Antri sambil dagdigdug sampai-sampai ada cewek manis ngajak ngobrol tak bisa aku layani dengan tenang. Sebentar-sebentar ngintip jam sembari berharap kereta terlambat dua jam cerita lama...

Jam 6 lewat dikit kereta belum nongol dan aku sudah sampai di depan loket. Lega juga tak perlu ketinggalan kereta. Hanya saja perutku langsung mules ketika petugas loket menjawab, "fajar utama jogja loket sebrang, pak. Disini untuk ekonomi ke Kroya..."

Wedussss...
Sebel banget ngantri lama tapi salah loket. Lebih sebel lagi setelah liat loket kereta bisnis kosong melompong ga ada antrian. Dan paling sebel adalah ketika melihat jam keberangkatan kereta yang tertera di tiket, 06:57. Masih penasaran kalo-kalo salah ketik, aku nanya petugas. Ternyata beneran aku harus nunggu sejam lagi.

Masuk peron ketemu lagi cewek yang tadi ngajak ngobrol. Wokedeh, Tuhan memang Maha Adil. Di tengah kegondokan ini masih mau ngasih obat penawar sebel. Tapi baru ngobrol dua keclap, si mbaknya dah bilang, "aku duluan mas, keretanya dah datang tuh.."

Belum juga nanya nama atau minta hape, dia dah nyanyi kroncong, di Jatinegara kita kan berpisah...

Tuhan memang benar-benar adil. Ga rela aku ngelupain mamake tepleng walau cuma untuk mengisi waktu sebentar saja.

Wokedeh...
Mamake...
Aku pulang...
Misyupul deh dong yah...

Siaran langsung dari Stasiun Jatinegara

Mobile Post via XPeria

Read More

05 November 2010

Macul

Setelah beberapa hari praktek infrastruktur kelistrikan di ruang data center, pelajaran selanjutnya adalah pasang kabel feeder power dari gardu ke server. Karena dua lokasi itu berada di gedung yang berbeda, berarti judul pekerjaannya adalah menggali tanah dan aspal.

Lumayan mengasyikan juga untuk memegelkan badan. Biasanya macul sawah setekem aja sebentar dah loyo, ini beberapa hari nonstop menggali aspal berikut batu pondasinya dibawah cuaca ga menentu antara panas dan hujan. Bukan melepuh kulit telapak tangannya yang aku permasalahkan. Tapi rada was was kalo berita aku belajar maculnya sampai ke kampung.

Sejak awal mertua sangat tidak menganjurkan aku membawa pergi anaknya dari kampung. Makan ga makan asal kumpul. Soal kerjaan ga perlu bingung. Asal mau belepotan lumpur setahun bisa panen padi 3 kali. Namun aku selalu menolak dengan alasan ga bisa macul. Kalo sekarang aku lulus ujian macul dengan predikat cum laude dan ketauan ortu, bisa-bisa didaulat balik kampung neh. Heheh...

Tapi lumayan lah bisa nambah skill. Siapa tahu suatu saat profesi tukang gali kubur banyak dicari. Kan bisa banting stir tuh.

Ayo, siapa mau jadi pemesan pertama. Bonus pijit deh...
Pake pacul tapinya...

Mobile Post via XPeria
Read More

04 November 2010

Akhirnya ke lapangan

Beberapa hari otak senut-senut belajar program C yang mentok di fungsi for untuk program pengulangan. Aku bolak balik buku panduan, cari refrensi di internet, tetap saja program tidak bereaksi ketika aku tekan tombol run. Dibela-belain 2 minggu ga ngeblog agar pembelajaran cepat tuntas tetap saja tidak membantu.

Ketika akhirnya diberi kesempatan ke lapangan, wah terasa bagai bucat bisul neh. Hampir sebulan di Jakarta bisa dikatakan tak pernah kena sinar matahari. Hanya diem di ruangan ngutak-atik letop.
Memang butuh sedikit waktu untuk mengenali semua pekerjaan yang ada. Karena walau alat-alatnya aku ga asing, tapi aku dulu di maintenance bukan instalasi.
Lumayan pegel dan memeras keringat memang. Tapi menurutku itu lebih asik daripada utak atik program dalam ruangan. Sama-sama otak cape, tapi di lapangan badan ikut cape, sehingga makan tidur pun jadi enak. Di ruangan hanya otak yang lelah, badan engga. Efeknya malah bikin susah tidur.

Dan terbukti ketika di lapangan, masalah program yang ga jalan itu baru kepikir. C adalah bahasa jadul jaman komputer masih pake prosesor 386. Ketika digunakan di letop berprosesor dualcore, jalannya program terlalu lambat dibanding kecepatan prosesornya. Ketika pengulangannya aku bikin lebih panjang, jalan deh tuh program.

Alhamdulillah satu masalah teratasi. Tapi efeknya aku jadi males balik ke ruangan dan betah di lapangan. Lumayan bisa cuci mata godain cewek lewat. Hahaaay...
Siaran langsung dari Pusdatin Kemhan Pondok Labu

Mobile Post via XPeria
Read More

20 Oktober 2010

Nyebelin flights

Perjalanan kali ini, pergi pulang kok nyebelin banget yah. Berangkat pake Lion si jagoan delay masih belum juga insyaf dan belajar tepat waktu. Pas ambil bagasi, jaket kenangan dari Yayang yang aku iket di ransel entah ngabur kemana. Untung isi ransel berikut letop masih utuh.

Awalnya sih aku ga begitu mikirin soal jaket, toh Jakarta tuh panas. Tapi, ketika tiba-tiba aku kena flu masal dan badan panas dingin tanpa jaket, mau ga mau sempat ngilang juga keikhlasanku. Engga sih kalo sampe bilang Lion jiancuk. Saru kata simbah...

Karena aku memang ga pernah ke dokter. Jaket dan obat satu-satunya ada di Jogja, pagi ini aku putuskan mudik dulu beberapa hari sampai kembali sehat. Tiket dah pesen dan seperti biasa katanya mau dikirim lewat sms. Masuk tol menuju bandara, sms dari agen tiket masuk. Tapi isine kok begini, "maaf pak, tiketnya cancel, karena bla bla bla..."

Hihihi menyebalkan memang. Untung aku selalu ngutang kalo pesen tiket, jadi ga harus ngurus pengembalian pembayaran. Tapi karena nanggung dah hampir nyampe, aku langsung saja beli tiket di tempat. Oonnya aku kok langsung masuk ruang tunggu padahal dapet penerbangannya jam 12:30

Badan meriyang tanpa jaket harus bertahan hampir 3 jam di ruang tunggu yang adem ternyata teramat menyiksa. Minta ijin berjemur di luar ga boleh sama mbak-mbak yang nungguin pintu. Cakep cakep tapi kok tegaan ya. Harusnya kalo ga ngijinin aku jemur diri di tempat yang hangat, mbokyao ngasih kehangatan yang lain. Kopi anget misalnya..

Yoweslah...
Mungkin memang harus mengikuti pepatah sunda agar bisa sukses. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit nu keur ngajuru, bersenang-senang nu keur kikituan. Hahaha gelo. Maap buat yang roaming...

Siaran langsung dari Terminal 3 bandara Soetta sambil menggigil kedinginan...

Mobile Post via XPeria
Read More

19 Oktober 2010

Pilek

Namanya juga numpang tidur di proyek, ada tiker atau karpet juga udah untung banget. Jangan harap nemu bantal, apalagi guling yang bisa kentut.

Tapi nasib baik masih mau berpihak. Di tengah cuaca panas, ndilalah nemu rongsokan kipas yang masih bisa muter. Sayangnya ada fasilitas tambahan bukannya bikin nyaman, malah jadi biang masalah semua orang.

Tidur di lantai tanpa baju plus kipas cuma bisa sedikit banget mengurangi kadar kesumukan. Udah gitu setiap jam pasti bangun karena arah kipas pasti sudah berubah. Karena kipas butut itu memang dah gabisa tengak tengok, jadi kalo pengen adem, harus celingukan dulu ke tetangga sebelah. Kalo dah yakin ngorok dalem, baru geserin kipas ke arah kita.

Waktu sore kejadiannya begitu. Menjelang pagi acara berubah total. Setiap jam pasti bangun karena kedinginan. Lalu tengok kanan kiri liat tetangga. Kalo dirasa aman, tuh kipas yang ngadep ke kita digeser ngadep tetangga. Tak lama kemudian pasti terbangun lagi karena kipas dah kembali mengarah ke kita.

Begitu dan begitu terus kejadiannya sepanjang malam. Aku sendiri juga bingung kenapa jadi bego cuma njejekin kipas agar berubah arah. Padahal kalo mau bangun bentar trus pencet tombol off, kan habis perkara. Makanya jangan heran kalo pagi-pagi idungnya pada meler semua. Lebih parahnya lagi seharian tadi kerjaan motongin plat untuk panel. Yaudah, hidung makin dahsyat didera debu dan serbuk besi.

Semoga sih beneran pilek karena kena kipas. Bukannya pilek karena kurang penyaluran selama seminggu terakhir ini. Mana presentasi ke Solonya diundur tanggal 28 plus harus nyopir. Jadinya batal deh pulang ke Jogja jumat besok. Dan arti dari semua itu adalah harus nyuci karena stok pedaleman sudah menipis. Masa harus side a side b..?

PS.
Suer dah kangen banget onlen di PC biar bisa BW...

Mobile Post via XPeria




Read More

Pintu Canggih

Di jaman canggih ini, kunci pintu konvensional sudah mulai ditinggalkan orang, terutama di gedung-gedung penting baik milik swasta maupun negara. Penggunaan kartu ID berikut pin untuk membuka pintu sudah menjadi standar keamanan.

Dengan menggunakan ID, pintu tidak perlu ditungguin setiap waktu oleh petugas khusus. Karena hanya orang-orang yang memiliki kartu ID saja yang bisa membuka pintu. Pemegang kartu pun bisa dibatasi aksesnya ke pintu tertentu tergantung wewenangnya. Selain itu siapa masuk kemana jam berapa bisa dipantau dan tercatat dalam sistem keamanan.

Namun ketika keluyuran ke Pusat Data & Informasi Kementrian Pertahanan, aku sempat bengong. Ternyata Indonesia Raya masih saja begini. Pintu boleh saja dipasang kontrol akses yang canggih. Tapi kalo disitu digantungin kartu, trus fungsinya apa..?

Uang negara dihamburkan untuk proyek keamanan di instansi yang menjadi pusat data pertahanan negara hanya untuk disia-siakan. Untuk mencuri data orang tak perlu menjadi peretas canggih seperti kalo kita ingin membobol Pentagon. Nyelonong boy aja kita ga ada kesulitan kok.

Itu kan cuma pintu masuk ruang yang ga penting, mungkin bisa berkilah begitu. Tapi itulah Indonesia Raya yang begitu mudah menyepelekan hal kecil. Padahal selama ini kita lebih sering tertusuk duri yang kecil daripada linggis. Kita juga lebih mungkin tersandung kerikil daripada kerbau. Walau sebuah pintu kecil di sudut kemegahan Pusdatin Kemhan, tidak layak menurutku untuk mengatakan itu hal sepele. Untuk hal yang kecil saja kita tak mampu, apalagi yang besar..?

Beda banget dengan keamanan gedung-gedung swasta yang kontrolnya lumayan ketat. Baru masuk saja harus ninggalin KTP di satpam lobi. Kemana-mana dikawal petugas buat ngebukain pintu ke ruang-ruang tertentu. Padahal aku cuma masuk ke ruang server data center sebuah perusahaan swasta yang tidak ada apa-apanya bila dibanding urusan negara. Haruskah kita serahkan urusan hankam ke pihak swasta agar pengelolaannya lebih baik..?

Kira-kira begitu pemikiran sepele dari otak kecilku yang awam dengan urusan pertahanan negara...

Mobile Post via XPeria
Read More

16 Oktober 2010

Pagi yang sendiri

Ada yang berubah beberapa hari ini. Bila biasanya mau tidur atau bangun harus ada yang bangunin dan nidurin, sekarang harus berdangdutria. Makan makan sendiri, ngopi bikin sendiri, nyuci harus ke londri, dst dst...

Selalu ada rasa kangen segera pulang ke Jogja untuk menemukan kehangatan dalam keluarga. Tapi itu tak mungkin sebelum misiku ini acomplished. Apa yang aku pelajari disini sebenarnya tak ada yang aneh, karena pernah aku kerjakan beberapa tahun silam. Tapi perkembangan teknologi yang pesat membuatku harus banyak buka buku baru mengejar ketinggalanku.

Ada sih yang masih jadul. Aku harus bikin program pengendalian instrumen dengan bahasa C. Dan yang digunakan bukannya Java atau C++, melainkan Turbo C peninggalan jaman Jepang. Masalahnya bukan di Turbo C nya. Biarpun jadul, jaman sekolah aku ga akrab dengan bahasa itu, karena dulu aku lebih suka bahasa Turbo Basic.

Harus banyak begadang dan bangun pagi neh agar cepet tamat. Makanya dari awal langsung aku sugesti diri terus bahwa bahasa C itu mudah dan sederhana. Jauh lebih mudah daripada C++ atau pijat ++.

Okelah, kulalui dulu hari-hari sendiri tanpa dirimu oh istriku. Untung ga pernah ngegombal bilang tak bisa hidup tanpamu. Jadinya ga merasa wajib untuk bunuh diri neh. Tak masalah bila sementara harus makan, minum, mandi atau gathengan sendiri. Aku tak mau mission failed...

Siaran langsung dari atap kantor Smartdata sambil ngopi

Mobile Post via XPeria

Read More

15 Oktober 2010

Nemu Duit

Hari ini presentasi lagi di Energy Building di seputaran SCBD. Kebetulan sampai nglewatin jam makan siang yang memaksaku turun ke kantin di basement. Nah, pas lagi menikmati makan sambil larak lirik banyak pemandangan indah, aku melihat ada uang yang jatuh dari saku ibu-ibu yang lagi bayar makanannya.

Karena jaraknya agak jauh aku rada ga enak mau teriak ngasih tahu, apalagi dalam kondisi banyak banget orang. Aku pikir nanti saja bila si ibu lewat ke arahku aku kasih taunya. Soalnya tadi datangnya juga dari arah aku duduk. Eh, ternyata dia malah pergi ke arah berlawanan.

Akhirnya selembar uang yang terjatuh itu tetap diam di lantai. Sesekali aku perhatikan nasibnya dengan sudut mata. Tapi ada kali setengah jam, uang telantar itu tetap tidak ada yang menyambar. Saat itu langsung deh aku bikin kesimpulan bahwa aku duduk di kantin kawasan elit yang isinya manusia beneran elit semua. Bukannya elit sepertiku yang berarti ekonomi sulit.

Kemungkinannya adalah orang-orang disitu sudah kebanyakan duit sehingga merasa tak butuh untuk mengambil uang jatuh. Mental borjuis menjadi sifat dasar mereka sehingga pantang berjalan nunduk. Pokoknya harus tegak membusungkan dada sampai rejeki nomplok di depan mata kaki pun tak terdeteksi. Jangankan yang jajan dengan penampilan perlente, pelayan kantinnya pun sama tak pedulinya dengan nasib si uang jatuh.

Apalagi ketika aku melihat ada anak muda keren yang menengok ke bawah lalu menginjaknya. Haduh, beneran deh, Jakarta memang bukan lawanku. Udah gitu, tuh orang masih nyempatin nengok ke belakang. Mungkin dia penasaran kalo-kalo si duit ga lecek dengan injekannya itu.

Tapi setelah itu, duitnya kok ga keliatan lagi. Pas orang itu lewat di sebelahku, aku sempatin perhatiin lebih teliti. Keliatan duitnya nempel di sepatu. Secepat kilat aku cabut hape untuk ambil gambarnya buat bahan posting. Tapi ga keuber keburu orangnya belok ke toilet.

Langsung deh kesimpulanku banting supir. Ternyata dimana-mana sama saja doyan duit. Cuma bedanya disini kegedean gengsi untuk membungkukan badan dan lebih suka nempelin permen karet di sepatu.

Hasem...
Tau gitu aku ambil sendiri dari tadi...

Mobile Post via XPeria

PS.
Maap masih onlen di hape, belom bisa BW...
Read More

Senioritas

Jaman masih suka gabung di organisasi dulu, apalagi yang berbau-bau militer, ada sebuah lagu wajib untuk setiap calon anggota yang baru bergabung. Salah satu petikan bait lagu itu berbunyi, "we following the senior, always following the senior" dan ditutup dengan kalimat "senior can do no wrong..."

Kalo pejabat atau aparat sekarang tak pernah merasa salah hanya karena merasa sudah senior, mungkin tak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena sejak mereka baru mau akan dididik saja sudah ditanamkan doktrin semacam itu. Tapi kalo di level bawah juga ikutan terbawa idealisme senioritas itu, agaknya budaya itu sudah harus mulai dikikis sejak tahap pendidikan usia dini.

Sudah menjadi satu ketentuan setiap kali masuk ke habitat baru, aku harus lebih banyak diam dan menyimak apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Setuju atau tidak setuju pokoknya "mending manut timbang benjut..."

Contoh kasusnya adalah ketika melihat pekerjaan kurang memenuhi standar yang dilakukan oleh senior, memberi masukan tata kerja yang lebih baik bukanlah ide baik. Secara teori memang harus bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan. Mending kasih tau cara yang benar urusan diterima atau tidak urusan belakang. Namun di lapangan hal semacam itu susah dijalankan. Apalagi bila seniorisme cukup kuat melekat. Pendatang baru banyak usul bisa bikin hidup terasing ke planet Pluto.

Lagipula siapa yang menjamin orang yang berwenang disitu akan mendukung usul kebaikan kita. Misalnya ada yang membuka baud tanpa kunci pas dan masih menggunakan tang. Bisa saja kesalahkaprahan itu masih dianggap dalam batas toleransi di perusahaan. Makanya aku lebih suka diam dan paling banter minta ijin ikut mengerjakan dan aku lakukan dengan cara yang lebih baik. Biarkan saja pejabat berwenang yang menilai sendiri secara alami tanpa harus aku sodor-sodorkan pekerjaanku. Bila memang pimpinan peka dengan kualitas harusnya bisa mempertanyakan kenapa sebagian baut utuh dan sebagian lecet-lecet untuk kemudian dievaluasi. Mungkin hanya sebatas itu berbagi kebaikan yang bisa aku lakukan. Jadi untung-untungan doang. Karena bila pimpinan tak peka, semua yang kulakukan kan tidak ada artinya.

Mungkin ini juga yang bisa aku lakukan dengan besarnya rasa skeptisku ke para pengelola negara ini. Mereka merasa senior yang tak pernah salah. Sehingga bila aku terlalu keras bicara hanya dianggap mengusik kesenioran mereka. Aku berteriak cukup di blog saja kayaknya. Di dunia nyata, cukup aku lakukan sebatas berbuat tanpa harus aku asong-asongkan.

Bisa bermanfaat syukur alhamdulillah. Kalo pun tidak, minimal aku sudah belajar berbuat baik. Minimal baik menurut diriku sendiri. Buat orang lain ga baik, emang gua pikirin. Kalo lagu dangdut bilang, "aku tak peduli kau milik siapa..."
Hahaha biadab...

Mobile Post via XPeria

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena