07 Desember 2009

Impian Calon PNS

Stafku cuti beberapa hari. Ternyata dia ikutan tes CPNS di daerahnya. Pas aku tanya, kenapa pengen jadi PNS, dia jawabnya gini.

"Gaji lumayan, kerjanya ga terlalu berat. Banyak waktu luang buat cari sampingan. Udah gitu dapat pensiun lagi..."

Kalau saja cuma dia yang berpikir seperti itu, mungkin aku masih bisa berbangga hati jadi warganegara Indonesia. Cuma bila melihat kenyataan di lapangan, mau ga mau sedih juga.

Bikin KK dan KTP saja prosesnya lama. Aku pikir, pegawai kelurahan itu super sibuk. Ternyata disamperin ke kelurahan, ada yang main catur, baca koran, isi TTS, dll dll

Udah gitu masih ada yang sempat berbaik hati, "kalo mau cepet, sini tak bantu, pak. Paling nambah berapa..."

Mungkin perlu diadakan survai independen tentang calon-calon PNS yang mendaftar. Berapa persen yang benar-benar ingin bekerja profesional melayani masyarakat, dan berapa persen yang cuma mau jadi parasit di negara ini.

Baru mau ikutan tes aja sudah begitu pola pikirnya, setelah diterima nanti mau jadi apa kira-kira..?

Wajar saja ketika ditanya pake nyogok apa engga, kelihatannya tidak terbebani. Niat awalnya saja sudah begitu.

Pelayanan masyarakat diswastakan juga nyatanya tidak efektif. Karena pada pelaksanaannya juga tidak ada idealisme yang fanatik sebagai abdi masyarakat. Mereka tetap saja abdinegara yang hanya mengabdi pada negara yang menggaji mereka. Padahal negara ini sudah bukan milik rakyat lagi. Melainkan milik segelintir orang yang merasa punya kekuasaan.

Mau dibawa kemana negaraku ini ya..?

Ilustrasi Her is my inspiration
Karya Anton Hadiyono
Tujuh Bintang Art Space
Read More

06 Desember 2009

Tidak Mengeluh, Tapi Teriak

Dalam sebulan ini entah berapa teman yang mengeluh tentang pekerjaannya dan meminta aku terima kerja di galeri. Walau sebenarnya butuh karyawan untuk di gudang dan sopir, aku merasa belum saatnya untuk menerima mereka. Apalagi ketertarikan mereka rata-rata seragam, "kayaknya enak kerja disini..."

Seringkali aku mengajak mereka bercerita tentang pekerjaan ini dari awal dulu sampai akhir ini. Dan setelah itu, selalu saja mereka salah menafsirkan tujuan dari ceritaku. Aku ingin menyampaikan bahwa aku bisa sampai di posisi ini butuh perjuangan yang teramat panjang. Semua posisi aku jalani dengan kerja keras dan tanpa mengeluh.

Maksudku itu, bukannya menyuruh mereka menderita terlebih dulu seperti yang aku jalani.

Padahal tanpa mengeluhku itu bukan berarti tak boleh berkeluh kesah. Aku mengeluh juga, bahkan tak jarang sampai berteriak ketika masalah datang. Cuma semua hujatan dan umpatan itu aku salurkan di blog. Begitu sampai di dunia kerja, aku kembali menjadi robot yang tak bisa berkata. Kerja tak kenal waktu atau kerja di tempat yang tidak semestinya tak pernah aku katakan tidak.

Aku tak mau mengeluhkan tempat kerja lamaku, apalagi ketika sedang wawancara di tempat yang baru. Atau ketika ditanya mengapa ingin pindah kerja, tak akan aku jawab di tempat lama berantem terus atau gajinya kurang, dll dll. Dan nyatanya beberapa kali aku pindah-pindah kerja tanpa pernah membuat surat lamaran. Yang ada malah tawaran kerja, sehingga aku bisa memilih posisi yang menurutku nyaman.

Dengan pengalaman semacam itu, haruskah aku terima karyawan walau itu teman, yang belum apa-apa sudah mengeluh, "tempat kerjaku sekarang begini begitu, tidak seenak disini..."

Andai saja salah satu dari mereka bilang, "gajiku sekarang kecil karena produktifitasku memang belum maksimal..."
Read More

05 Desember 2009

Darah Biru

Badan dalam kondisi njeglek.com memaksaku untuk menyerpiskan diri ke dokter, walau sebenarnya males. Bukan aku merasa diri menjadi superman, apalagi wonderwoman. Tapi rasa yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata yang jadi penyebabnya.

Dan benar tho...
Hasilnya pasti nyebelin. Kurang darah, hb rendah, trus sederet istilah yang aku ga mudeng muncul. Yang paling nyebelin tuh doktere bilang aku berdarah biru. Jadi ketauan kalo aku bangsawan walau bukan penyakit turunan.

Dulu, biar kata tidur menjelang subuh, pagi-pagi pasti dah bangun. Ada aja kerjaan sebelum berangkat ke kantor. Setelah punya istri, rasane kok adem ayem dan membuat aku susah bangun pagi. Tidak ada lagi pikiran cucian numpuk atau ribut cari sarapan ke warung. Bangun jam 9 pun masih keburu untuk berangkat ke kantor.

Jadi ya, trimak-trimakno dimasukin kalangan bangsa sing tangi awan. Asal jangan disebut bangsane kewan-kewan. Kaya pejabat Indonesia aja...
Read More

04 Desember 2009

Koin Untuk Prita

Makin lama kok aku makin gemes dengan hukum di negeri ini..? Hukum memang sudah berjalan sebagaimana mestinya dan tak kenal belas kasihan. Tapi kenapa ketika sudah berurusan dengan yang namanya duit, mendadak banyak banget acara.

Apalagi ketika menyimak berita tentang teman kita Prita, pengen rasanya aku belajar jadi dukun santet. Perut pejabat-pejabat yang doyan menjual hukum pengen aku isiin duit sekoper. Kopernya yang gede, duitnya koin aja sebiji.

Karena belum kesampean, mendingan koinnya dikumpulin aja yuk. Trus dikirim lewat paket pos ke alamat Markas Sehat Jl Taman Margasatwa No 60 Jatipadang, Jakarta Selatan. Atau WETIGA Jl. Langsat I/3A. Untuk informasi, hubungi 021-71284653 atau 0818769284 (Samsul).

Jangan ditransfer bank lho ya... Karena pembayaran denda Prita Mulyasari memang mau diberikan dalam bentuk koin.

Tetap semangat Prit...
Aku lebih parah kok kalo acara hujat menghujat.
Persetan deh hukum Indonesia Raya...

Info dari Kompas.

Read More

02 Desember 2009

Pindahan Kantor

Dari pagi kepala sudah terasa berat. Tapi karena masih banyak kerjaan awal bulan yang belum beres, aku maksa berangkat ke kantor walau agak kesiangan.

Sampai kantor aku lihat banyak senyum senyum manis awal bulan menyambutku. Tahu aku rada "njeglek", si Lenny berbaik hati mau beresin kerjaanku.

"Istirahat aja di mess, mas. Udah tak siapin kok kamarnya. Sarapannya juga udah disana..."

Walau masih kepikiran pekerjaan, aku nurut saja langsung ke belakang dengan sedikit terharu. Begitu buka pintu kamar, beneran dah rapi. AC dah dinyalain, teh anget dan gado-gado sudah terhidang di meja. Tidak lupa koran pagi terlipat rapi di situ.

Cuman...
Letopku kok sudah siap pakai juga di tempat tidur.

Ini nyuruh istirahat apa pindahan kantor sih..???
Read More

28 November 2009

Gambaran Hukum Indonesia

Di Gumelar, mencuri 3 biji kakao untuk bibit dihukum percobaan satu setengah bulan. Buat makan saja susah harus bolak-balik ke Purwokerto menghabiskan banyak biaya.

Di Kediri, mencuri satu semangka karena kehausan diancam hukuman 5 tahun penjara. Bonuse dua gigi patah dan babak belur bahkan diancam dengan senjata api padahal mereka tidak melawan.

Eh, di Jokja Polisi Polsek Umbulharjo ngambilin duren di rumah kosong sebelah galeriku tak laporin Reserse Poltabes, malah ngomel begini, "duren jik nom kok dipek. Sesuk wae nek wis tuwo..."

Di Madura, ada yang tertangkap basah berzina dengan istri orang ketika suaminya sedang kerja lembur. Tapi diintip dari jam satu malem, kok nggerebeknya nunggu jam enam pagi. Apa harus dibikin videonya dulu agar buktinya kuat..?

Di Sidareja lebih aneh lagi. Istri selingkuh kok yang dipanggil Polisi malah suaminya. Katanya karena mengancam selingkuhan istrinya...

Tanya kenapa...?

Ilustrasi Indonesian Corruption What..?
Karya Irawan Banuaji
Tujuh Bintang Art Space
Read More

Among-Among

Karena tidak pernah mengistimewakan yang namanya ulang tahun, aku tak punya rencana apa-apa hari ini. Bukan salah bunda mengandung, karena memang dari kecil cuma kenal among-among dan setelah itu tanggal kelahiran selalu lewat begitu saja.

Among-among sebenarnya bukan peringatan ulang tahun, karena dilakukan setiap selapan dina atau weton menurut hari pasaran, bukan kalender masehi. Acaranya cukup meriah walau cuma urab, krupuk, kedelai goreng dan telur rebus dibelah delapan yang ditaruh di atas tampah. Setelah berdoa bersama lalu makan bareng berebutan. Dan di bawah tampah biasanya ada rantang berisi air dan daun dadap. Mereka yang tengah berebut lalu diciprat-cipratin dengan air itu.

Setelah menginjak masa remaja, barulah acara ulang tahun akrab denganku. Cuma acaranya bukan lagi makan-makan urab, melainkan diguyur air. Terutama kalo pas kegiatan Pramuka atau PMR. Biasanya dikerjain dulu dengan berbagai masalah dan tahu-tahu byur....

Selepas sekolah, acara berganti lagi. Ulang tahun dirayakan dengan mendaki gunung bareng teman atau pacar. Tidak ada makan-makan, selain perenungan tentang perjalanan hidup setahun lewat dan harapan masa depan. Plus sun sayang dari sang pacar tentunya.

Setelah menikah, aku juga tidak membiasakan diri bikin acara rame-rame. Cukup berdua istri makan seadanya tapi sedikit istimewa. Tak perlulah buang-buang uang cuma untuk makan. Yang penting kan acara sesudah makan...

Begitu masuk dunia kerja, barulah aku akrab dengan acara makan makan setiap ada yang ulang tahun. Cuma kadang teman-teman tuh nyebelin juga. Siapa yang ulang tahun, siapa yang punya ide, kok tahu-tahu ada tagihan catering di mejaku. Hihihihi... gapapalah setahun sekali nyenengin karyawan.

Dan pagi ini yang sebenarnya aku mau diam-diam saja. Eh, tahu-tahu karyawan baris bawa kue. Seneng dan terharu juga sih mereka masih mau inget. Cuman, tagihannya kok sampai ke mejaku juga sih...?
Read More

Catatan Tahun Ini

Belum terlalu lama sebenarnya aku berjalan, tapi rasanya sudah panjang banget perjalanan ini. Dari jalanan mulus sampai tanjakan berbatu penuh debu sudah aku lewati.

Dari sekedar jadi karyawan sampai pengusaha sudah aku rasakan keindahannya. Kehancuran usaha sampai terusir dari rumah pun aku masih bisa menikmati. Hanya kesabaran dan rasa syukur serta harapan jagoanku yang membuatku mampu bertahan.

Namun ketika secara lahir aku mulai beranjak, justru di saat itu rasa syukurku kian menipis. Semakin lama semakin sulit untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan masih berpihak kepadaku.

Ketika usahaku dihancurkan, aku masih ikhlas menjalani hidup sebagai menjadi gelandangan. Bahkan aku bersyukur dengan jalan itu aku bisa menemukan jalan hidup yang lebih baik. Ketika keluargaku dibuat berantakan, akupun tak mengeluh karena itu menjadi jalan aku mendapat pendamping hidup yang lebih baik.

Tapi ketika aku melihat jagoanku hidup terkekang dalam tekanan fisik dan mental oleh orang sakit jiwa di kejauhan sana, aku tak lagi mampu untuk menerima. Tak pernah bisa kulupakan rengekan dan keinginan atas kebebasannya ketika mencuri-curi nelpon atau sms. 

Bagaimana aku bisa menikmati makan malam yang lezat, ketika aku ingat jagoanku makan hati setiap waktu. Bagaimana aku bisa nyenyak tidur bila ingat jagoanku sakit hanya karena dibilang ayahnya sudah mati. Jagoanku bukanlah komoditi yang dipertahankan hanya untuk dijadikan alat dan sasaran kebenciannya kepadaku.

Mungkin tidak semestinya aku berpikir seperti ini di hari ini. Tapi inilah yang aku dapatkan ketika merenung melewati pergantian malam tadi.

Sudah tak ada lagi nasehat yang bisa merubah hatiku yang membatu hanya untuk berteriak kepada Yang katanya Maha Adil. Kenapa KeadilanNya tak pernah mampu menyentuh jeritan seorang anak kecil teraniaya.

Dan di akhir melek malam itu, aku cuma bisa berharap setahun kedepan aku bisa dapatkan kembali rasa syukurku atau persetan dengan surga dan nerakaNya...

Read More

26 November 2009

Ngempeng


"Jadi, mereka memang akan merasakan suatu kepuasan kalau ada rangsangan di mulutnya. Rangsangan ini akan terasa apabila ia mengisap-isap atau menggigit-gigit. Nah, inilah yang akan didapat bila ia mengempeng." Jadi, kepuasan yang dicari bayi memang merupakan fase oral dari tahapan perkembangan anak menurut teori terkenal yang disampaikan Sigmund Freud, tokoh psikoanalisa.

Itu salah satu kutipan yang aku temukan dalam acara googling hari ini dengan tema empeng mengempeng. Dua jam mencari, aku belum menemukan tinjauan medis tentang itu. Jadi kemungkinannya masalah ngempeng semata-mata memang faktor psikologis semata.

Ketika belum bisa banyak merasakan nikmatnya dunia, apa yang dirasakan di mulut ketika menyusu ibu mampu membuat bayi merasa tenang dan nyaman. Makanya banyak ibu-ibu yang menyapih anaknya dengan mengalihkan perhatian ke dot atau empeng puting karet. Dan parahnya, banyak anak yang sampai berusia beberapa tahun belum juga bisa melepaskan ketergantungan terhadap empengnya itu.

Tapi kalo aku melihat keponakanku, dia tak butuh dot atau empeng karet. Boneka kain dapet beli dari Bringharjo jadi andalan. Tanpa itu dia tidak bakal mau tidur. Untung saja bonekanya kecil, sehingga tidak merepotkan ketika diajak bepergian. Soalnya ada temanku yang anaknya baru bisa tidur kalo ngelonin boneka beruang yang gedenya sama dengan ibunya.

Ada yang rada aneh. Pernah boneka kucel dan bau itu dicuci bersih oleh neneknya. Eh, malah ngamuk dan rewel sepanjang hari. Pokoknya tidak bau kecut, no way!

Trus kalo ingat pengalaman pribadi, kayaknya aku waktu kecil tuh senengnya mainin rambut ibu. Kalo belum nguwel-uwel rambut, jangan harap bobo tenang. Dan kayaknya itu kebawa sampai aku gede. Soalnya jaman pacaran dulu pernah ada yang komplen. "Mas, kok nyiumin rambut melulu sih..?"

Ga pede rambutnya banyak kutu apa pengen dicium yang lain aku ga sempat nanya tuh. Untung waktu kecil ga suka ngempeng yang bau kecut...

Read More

25 November 2009

Media Menyuburkan Peramal


Berita media yang acak adut makin simpang siur dengan makin banyaknya ramalan-ramalan orang yang katanya bisa melihat masa depan. Menurutku ramalan itu hanyalah pengulangan-pengulangan berita yang dicomot sana-sini lalu dibumbui oleh media.

Media massa lah yang harus bertanggungjawab dengan makin suburnya acara tebak-tebakan ini. Apalagi ketika sudah sudah memakai embel-embel reg spasi, media makin gencar mempromosikannya.

Seperti ketika Adam Air jatuh di Sulawesi dulu. Media sibuk mengaitkan dengan ramalan seseorang dengan inisial ML yang mengatakan tahun ini akan ada pesawat jatuh. Lalu media disibukan dengan ramalan akan ada artis yang cerai atau mati. Tapi media meributkannya setelah ada kejadian tertentu lalu disambungkan kalo ML di awal tahun pernah bilang begini. Kalo yang meleset, media tak pernah mau menyentuhnya. Atau memang merasa kurang sensasinya memberitakan ramalan yang meleset.

Seperti ketika diramalkan sebelum februari 2007 diramalkan banyak orang panik karena bencana besar di Jl Thamrin Jakarta. Dan nyatanya ga ada apa-apa kan..? Kalo sudah begini, media dengan mudah mengatakan, peramal juga manusia. Takdir adanya di tangan Tuhan...

Kayaknya aku ga perlu ML kalo cuma untuk berkata begitu. Setahun itu ada 365 hari. Dan selama itu ada ribuan jadwal penerbangan. Wajar bila ada salah satu pesawat yang jatuh atau sekedar terpeleset. Artis juga ketahuan banyak yang hidupnya ga beres, aku bisa gampang memperkirakan dalam setahun akan ada yang cerai.

Kecuali berani bilang pada tanggal sekian jam sekian pesawat dari maskapai anu jatuh di anu, baru itu peramal jempolan. Karena sudah berani melanggar kode etik peramal yang tidak boleh memberi penjelasan detil.

Jadi aku pikir, aku sama saja dengan para peramal itu. Cuma bedanya aku masih malu untuk membual di media massa dengan tebak-tebakan ga mutu semacam itu. Daripada meramal di tipi, mendingan aku melamar anak tetangga.

Maaf buat yang percaya terhadap peramal...
Read More

24 November 2009

Hindari Kata Kiamat


Hiruk pikuk film 2012 ternyata belum habis juga. Cuma aku kadang bingung dengan pendapat-pendapat yang mengemuka. Sebelum ngomong, sebenarnya mereka itu sudah mencari banyak bahan bacaan atau cuma dengar sekilas trus ikut meramaikan suasana saja.

Kalo saja kita mau baca filmografi dari sutradara 2012 - Roland Emerich -, kita akan bisa melihat bahwa Emerich memang hobi menjual kehancuran dunia lewat film-filmnya. Lihat saja film sebelumnya seperti Independence Day atau Day After Tomorrow. Keduanya juga bertema sama dengan 2012, yang menceritakan upaya manusia mempertahankan spesiesnya dari kehancuran.

Bila yang dipermasalahkan adalah numpang angetnya Emerich pada isu kalender Maya, kenapa film lain semacam 2012 Doomsday dan 2012 Supernova tidak ikut dikecam? Dan menurutku itu bukan masalah mendasar. Wajar orang mencari moment tertentu untuk meningkatkan strategi pemasaran produknya. Seperti halnya sinetron-sinetron di tipi kita yang berubah jadi sok agamis ketika bulan puasa tiba, walau temanya tetap sama menyebalkan. Kenapa tidak turut dikecam..?

Bila dianggap menyinggung umat muslim, aku melihat Emerich cukup jeli hanya dengan menayangkan kaum muslim berdoa bersama di Kabah. Pada tayangan penghancuran, simbol-simbol Islam tidak tersentuh. Padahal simbol agama lain dengan ringan Emerich menggambarkan penghancuran Vatikan dll.

Sebagai muslim aku selalu dijejali dengan tanda-tanda kiamat yang dimulai dengan kedatangan Imam Mahdi, Dajjal dan turunnya Isa Al Masih. Dan definisi kiamat yang aku tahu adalah kehancuran alam semesta dan seisinya secara total. Untuk agama lain mungkin diawali dengan munculnya Antichrist dan Jesus. Itu tidak disentuh sama sekali dalam filmnya.

Coba lihat ending film tersebut, apakah semacam itu yang disebut dengan kiamat..? Menurutku bukan. Film itu hanya menggambarkan bencana global yang menghancurkan kehidupan manusia tanpa menghancurkan bumi dan alam raya. Bahkan masih memberi kesempatan kepada manusia untuk bertahan hidup dengan mengadopsi teknologi Noah Ark (bahtera Nuh).

Kehancuran yang digambarkan dalam film tersebut tak memerlukan pandangan secara teologi yang semitis. Karena kejadian itu sangat rasional bila melihat bibit-bibit penghancuran dunia yang sudah mulai kita tanam sekarang. Pemanasan global, pergeseran lempeng tektonik, tsunami, konspirasi perang dan sebagainya.

Jadi ada baiknya kita pisahkan film ini dari kata kiamat. Karena kiamat merupakan hak milik suatu umat yang tidak bisa diusik. Lebih baik digunakan kata bencana global, sampai kita bisa berpikir lebih rasional bahwa film tak lebih dari sekedar hiburan semata.
Read More

23 November 2009

Redaksi Kompas Dipanggil Polisi


Mengutip dari VIVAnews

Markas Besar Polri telah memanggil redaksi harian Kompas. Pemanggilan ini terkait pemberitaan Kompas soal pemutaran rekaman percakapan pengusaha Anggodo Widjojo dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ini sepertinya konspirasi baru lagi. Karena menurutku yang dipermasalahkan Polri sebenarnya adalah berita lama tentang teknologi 2G yang sudah udzur dan diganti 3G. Seperti kita ketahui, 2G terlalu lemot dan ketinggalan jaman.

Tidak terima dengan pembritaan itu, Polisi lalu memulai kebiasaan lama mencari-cari cara untuk menjerat sasaran. Dan pemberitaan kasus Anggodolah yang dijadikan alat.

Kenapa Pimpinan Polri tidak terima..?
Bagaimana bisa terima Duaji (2G) diganti TigaJi (3G), kalo dinonaktifkan sementara saja sudah mencak-mencak sambil menangis.

Hihihi, mbuhlah...

Read More

Masalah di Nokia E90


Salah satu yang aku suka dari Communicator adalah fasilitas phonebook yang tidak terbatas dan enak buat kirim sms massal. Misalkan aku ingin sms ke kolektor saja, tinggal ketik kolektor lalu tekan Ctrl-A, kirim. Misalkan mau ke seluruh nomor yang ada ya tinggal select all, lalu kirim. Ditunggu sambil duduk manis sms terkirim semua.

Itulah kenapa aku begitu setia dengan Nokia jadul 9300i. Ketika hape itu mulai error akibat keseringan dipake masang paku di tembok, si bos menyarankan aku ganti Nokia E90 yang katanya lebih canggih.

Lebih asik memang, sudah 3G dan lebih mudah mengelola email kalo pas lagi mobile. Baru ketahuan belangnya pas mau event kemarin. Mau kirim sms undangan, kok tidak bisa langsung select all. Harus diklik satu persatu kontaknya.

Tak coba instal PC suite. Bisa diblok semua kontaknya lalu kirim smsnya. Baru terkirim beberapa sms, kok trus muncul pesan failed. Habis itu ga ada yang terkirim, failed semua. Trus hapenya nge-hang dan musti direstart.

Setelah restart, semua sms yang failed numpuk di outbox. Dan itu tidak bisa dikirim atau dihapus semua sekaligus. Harus dikirim satu persatu. Akhirnya ya kerja bakti sambil ngomel tuh. Sekitar 2000an sms harus klak klik satu persatu.

Ada yang punya pengalaman ga dengan sms masal Nokia E90..? Atau ada remondasi communicator lain, Sony Ericsson Xperia misalnya..?

Read More

22 November 2009

Mabok Kentut


Event kali ini acaranya cukup padat. Selain pameran lukisan, ada acara fashion show batik khas wonosobo dan musik anak jalanan segala. Persiapan event yang benar-benar memeras keringat sampai ambune breng-brengan.

Menjelang event, bos yang sejak pagi mengeluh mumet mendadak dilarikan ke UGD Bethesda. Sebenarnya aku siap mengambil alih posisi karena materi semua sudah tak kuasai. Cuma aku lupa ga bawa baju ganti. Untuk pulang dulu waktu sudah ga mengijinkan.

Cukup bermodal semprotan pengharum ruangan, pede aja aku membuka acara dengan pak Syakieb, juragan Indosat. Aku masih bisa jaga jarak aman agar beliau tidak pingsan.

Tapi ketika acara ramah tamah ngopi bareng di teras belakang, masalah baru muncul. Aku yang anti pedas lumayan kalangkabut ketika makan lumpia kok didalamnya ada cabe rawitnya. Perut mules pengen kentut aku tahan sampai setengah jam lebih. Kondisi tak memungkinkan aku meninggalkan beliau-beliau ke toilet. Mau kentut sembunyi-sembunyi sepertinya ga etis didepan rekan bisnis. Apalagi disitu ada Sekda dan ketua DPR Wonosobo segala.

Begitu ada kesempatan aku ngacir ke WC dan kentut sepuas-puasnya. Lega rasanya. Cuman habis itu kok aku langsung gleyengan ga karuan. Moso mambu entute dhewe bisa mabok yah..?

Read More

21 November 2009

Ayang Mulai Nakal


Carilah nama yang indah dan memiliki makna yang bagus. Mungkin itu petuah untuk orang tua yang akan memberi nama anaknya. Tapi tak selamanya nama yang indah tidak menyulitkan orang lain di kemudian hari.

Seperti seorang temanku yang punya nama Ayang. Tak usah tanya report body nya seperti apa, karena ini hanya membahasa nama. Mungkin dulu orang tuanya berharap agar anaknya disayang oleh siapapun. Ketika temanku itu nelpon, aku ga pernah berpikir yang tidak-tidak.

Begitu selesai nelpon, malah bosku yang komentar. "Kamu dah mulai nakal yo, Ko..?"

Agak lama tak pikir baru aku ingat. Walau bosku tahu aku suka bersayang-sayang dengan istri di telpon, tapi kan gaya bahasanya ga sok Jokja walaupun aku selalu "basa" ke istri. Ini ngomong "bandhek" plus bolak-balik nyebut "yang..."

"Kok mulai nakal sih, emang namanya Ayang kok, bos..." begitu doang aku berkilah.

Semoga sih bosku tidak tahu kalo aku nakalnya sudah lama...

Ilustrasi Aiswarya Rai Bukan Caddy Golf
Karya Anton Hadiono
Tujuh Bintang Art Space
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena